• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Mengenai SUN Homeschooling

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Mengenai SUN Homeschooling

Yayasan Sumbangsih Untuk Negri (Yayasan SUN) adalah yayasan yang membawahi SUN Homeschooling. Yayasan SUN mempunyai berbagai kegiatan,

seperti majlis ta’lim, pelatihan bagi guru-guru PAUD, homeschooling dan penyelenggaraan ujian kesetaraan paket A, paket B dan paket C.

Yayasan SUN berdiri pada tahun 2007, sedangkan SUN homeschooling berdiri pada tahun 2009 bulan Mei. SUN Homeschooling awalnya berdiri di pinggir jalan Kalimalang, Jakarta Timur, yang juga menjadi cabang asah pena daerah Jakarta Timur. Karena jumlah murid yang terus berkembang, maka SUN Homeschooling pindah lokasi di Cipinang Indah, Jakarta Timur. Yayasan SUN homeschooling di dirkan oleh Dhanang Sasongko, SE, S. Psi. SUN homeschooling di Jakarta Timur di dirikan karena banyak orang yang bertanya mengenai homeschooling di bilangan Jakarta Timur.

Disamping sebagai pemilik SUN Homeschooling, Pak Dhanang Sasongko juga menjabat sebagai kepala sekolah SUN Homeschooling. Beliau juga merupakan salahsatu pendiri Homeschooling Kak Seto (HSKS). Beliau bekerja di HSKS selama 4 bulan dari mulai mendirikan homeschooling hingga men-setting bagaimana HSKS berjalan. Hingga saat ini, Dhanang Sansongko masih menjabat sebagai sekertaris di ASAH PENA Jakarta yang di ketuai oleh Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto). SUN Homeschooling juga merupakan cabang ASAH PENA wilayah Jakarta Timur.

ASAH PENA adalah sebuah asosiasi yang mewadahi homeschooling yang berada di seluruh Indoneisa. Hingga saat ini ASAH PENA sudah memiliki cabang yang tersebar dihampir penjuru Indonesia. ASAH PENA tidak hanya mewadahi SUN Homescholing dan HSKS, ASAH PENA mewadahi semua jenis homeschooling yang ada di Indonesia, baik tunggal, majemuk maupun komunitas. Adapun beberapa homeschooling lain yang dinaungi oleh ASAH PENA adalah homeschooling berkemas, Homeschooling Kandank Jurank (milik Dik Doank), Hughes Homeschooling dan lain sebagianya.

SUN Homeschooling terletak di dalam perumahan di kawasan Cipinang sehingga suasana belajar menjadi nyaman bagi homeschooler dalam mengikuti proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar). Begitu juga dengan ASAH PENA yang terrletak agak kedalam sehingga memudahkan untuk para homeschooler yang melakukan proses kegiatan belajar mengajar agar tidak terdengar suara-suara bising dari kendaraan di jalan raya.

Adapun visi dan misi SUN Homeschooling adalah sebagai berikut Visi : Memperluas akses pendidikan bagi anak indoneisa

Misi : Menyelenggarakan komunitas pembelajaran yang menitik beratkan pada pengembangan minat, potensi dan bakat serta menyelenggarakan komunitas pembelajaran yang mudah dijangkau

Menurut penulis hingga saat ini perluasan akses pendidikan bagi anak Indonesia masih belum terlaksana jika dilihat dari segi sarana dan prasarana yang ada pada SUN Homeschooling. Penyelenggaraan komunitas yang bertujuan untuk menitik beratkan pada pengembangan minat, potensi dan bakat anak bias dikatakan telah tercapai walaupun belum sepenuhnya tercapai. Dalam pengembangan bakat, minat dan potensi anak, dirasa dapat terpenuhi karena waktu bagi anak untuk belajar tidak sepadat yang ada disekolah formal. Jika disekolah formal sekolah dilaksanakan selama lima hari dalam satu minggu, maka dikomunitas homeschooling siswa diwajibkan datang dua kali dalam semingu. Sehingga banyak waktu yang terseda untuk memenuhi dan mengembangkan bakat, minat dan potensi anak.

Berdirinya SUN Homeschooling bertujan untuk mengembangkan model pendidikan informal, karena ketidak nyamanan pendidikan di sekolah formal, serta untuk memenuhi kebutuhan anak.

Ketidak nyamanan pendidikan di sekolah formal antara lain adalah adanya bullying, biaya pendidikan yang semakin tinggi, dan kejenuhan terhadap mata pelajaran serta penumpukan pekerjaan rumah.

Latar belakang SUN homeschooling berdiri adalah untuk memberikan pelayanan pada anak-anak yang merasa tidak nyaman belajar dalam sekolah formal, anak-anak yang tidak mau sekolah, keterbatasan sosialisasi, karena

kesehatan, komunikasi yang tidak baik seperti pemalu dan minder. Anak yang terlalu pintar, anak yang tidak dapat fokus pada satu hal seperti musik, seni dan olahragawan. Anak-anak seperti itu memerlukan suatu lembaga atau wadah untuk memberikan pelayanan pada mereka. Dalam ber-homeschooling, anak belajar sesuai dengan bakat, minat dan kemauan si anak dengan begitu dalam belajar anak tidak merasa dipaksa dan terbebani.

Bagi anak yang tidak mampu, ia akan merasa teringgal disaat gurunya telah melewati materi yang dikuasai sebagian besar teman-temannya. Sebaliknya bagi anak-anak yang terlalu pandai, ia akan merasa jenuh jika diminta untuk menunggu teman-temannya yang belum dapat menguasai materi yang sudah ia kuasai. Begitu juga dengan seorang anak yang lebih menyukai suatu mata pelajaran saja, mereka akan merasa terpaksa dan terbebani dengan mata pelajaran yang tidak disukainya.

Pada awal berdirinya, SUN homeschooling hanya memiliki tiga orang murid yang merupakan kakak-adik. Tiga murid ini didapatkan saat SUN Homeschooling mengadakan seminar pertama mereka di salah satu festival. Pada seminar itu di sampaikan mengenai homeschooling; apa itu homeschooling dan bagaimana proses homeschooling itu. Seminar yang dihadiri tidak lebih dari 20 orang ini membuahkan seorang orang tua murid yang beranggapan bahwa homeschooling adalah cara bersekolah yang nyaman dan cocok buat anak-anaknya.

Tentunya tidak semua orang tua dapat mempercayai dan meyakini sistem yang ditawarkan oleh homeschooling. Untuk meyakinkan mereka, orang tua diberi pengarahan dan pengetahuan mengenai homeschooling. Biasanya orang tua yang datang ke homeschooling adalah orang tua yang anaknya memiliki masalah disekolah, seperti membolos, malas kesekolah dan tidak ada minat untuk pergi kesekolah dan belajar.

Sistem homeschooling yang mulai diperkenalkan kepada publik awalnya tidak sepenuhnya dapat dipercayai. Walaupun sistem ini telah berkembang jauh sebelum adanya pendidikan formal, tetapi tidak banyak masyarakat yang

mengetahui dan paham mengenai homeschooling. Sangat sedikit sekali masyarakat yang tahu bahkan paham mengenai homeschooling.

Homeschooling yang perlahan mulai dikenalkan pada masyarkat, tidak semua orang dapat memahami mengenai homeschooling, ada yang berpendapat bahwa homeschooling itu hanyalah untuk orang-orang kaya saja, seperti anak pejabat, anak pengusaha, artis dan atlet. Bakhan ada juga yang berpendapat bahwa homeschooling hanya untuk anak-anak pemalas.

Tidak sedikit orang tua murid yang meragukan apakah anaknya dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau tidak, jika saatnya bekerja apakah anak mendapatkan kemudahan atau kesulitan. Disini orang tua akan diyakinkan oleh undang-undang sisdiknas yang mengatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terbagi dalam tiga jalur; pendidikan formal, non formal dan informal, ketiga-tiganya sama. Artinya, sekolah tidak hanya dilakukan di bangku sekolah. Tetapi skeolah dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Apapun dapat menjadi sumber belajar bagi anak. Misalnya si anak menyukai boneka Barbie, dari sebuah boneka Barbie si anak bisa mendapatkan ilmu pengetahuan. Siapa pembuat Barbie, dari mana asal boneka Barbie, terletak dimana negaranya, dibenua apa, benderanya bagaimana, bahasanya seperti apa, jumlah penduduknya berapa, bagaimana iklim dinegara tersebut dan sebagainya yang secara tidak sadar anak juga akan belajar dari apa yang disukainya.

Minimnya pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki orang tua murid menimbulkan keraguan apakah anak akan dapat melanjutkan sekolahnya kejenjang yang lebih tinggi seperti saat anak berada di sekolah formal. Apakah anaknya akan mendapatkan pekerjaan dengan mudah atau malah dipersulit. Dengan adanya undang-undang sisdiknas maka orang tua murid akan diberi pengarahan mengenai jalur pendidikan yang ada di Indonesia. Orang tua juga akan diberi pemahaman mengenai homeschooling.

SUN Homeschooling berkembang melalui berbagai cara seperti seminar-seminar, dari mulut ke mulut, melalui brosur, melalui guru-guru PAUD, pertemuan dengan orang tua siswa, kasus-kasus yang terjadi di sekolah formal, bahkan melalui media dan kegitaan yang melibatkan masyarakat sekitar. Perlahan

tapi pasti, akhirnya jumlah siswa di SUN Homeschooling kian bertambah, dari tiga orang menjadi belasan bahkan menjadi puluhan siswa yang terdaftar.

Siswa yang terdaftar di homeschooling tidak semuanya murid yang mempunyai masalah di sekolah, ada juga murid yang memang dari awal orang tuanya ingin anaknya melakukan homeschooling. Di samping itu terdapat juga murid yang berkebutuhan khusus seperti murid yang terkena dawn sindrom, autism dan sebagainya. Siswa di homeschooling, khususnya di SUN Homeschooling berasal dari beragam latar belakang. Ada juga siswa yang memeiliki pengetahuan melebihi teman-teman dikelasnya, sehingga saat guru menerangkan pelajaran untuk teman-temannya maka murid tersebut akan menjadi bosan dan akhirnya menjadi malas untuk pergi ke sekolah.

Pada homeschooling anak akan diajarkan sesuai dengan kurikulum kurikulum diknas, mereka akan diberikan waktu yang lebih untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Di sini guru dituntut untuk menjadi lebih sabar dalam mengahadapi para homeschooler. Dengan kesabaran dan ketulusan dari sang guru, anak merasa nyaman dan senang dalam belajar.

Biaya yang dikeluarkan oleh homeschooler bisa lebih mahal dari pada sekolah formal bisa juga lebih murah dari pada sekolah sekolah formal. Biaya untuk komunitas homeschooling tidak semuanya mahal. SUN homeschooling dan homeschooling Berkemas merupkan salah satu contoh dari homeschooling yang tidak mengeluarkan biaya lebih dari sekolah formal. Adapun homeschooling Kak Seto (HSKS) dan Hughes homeschooling adalah contoh homeschooling yang biayanya melebihi sekolah formal. Tetapi fasilitas yang diberikan pada anak juga sesuai seperti misalnya si anak menyukai photography, maka biaya yang dikeluarkan untuk sekolah photography tidaklah sedikit. Juga para olahragawan yang memfokuskan pada kegitaan olahraga yang diminatinya. Homeschooling Kandank Jurang adalah salah satu contoh homeschooling yang oleh pemerintah diberi bantuan berupa dana bantuan sekolah (BOP-Bantuan Operasional Pendidikan) bagi para homeschooler.

Biaya yang dikeluarkan untuk melakukan homeschooling dikomunitas tentu akan berbeda denga biaya yang dikeluarkan homeschooling tunggal. Pada

homeschooling komunitas, orang tua akan diminta biaya untuk gaji para guru dan biaya untuk melengkapi sarana prasana. Tetapi pada homeschooling tunggal orang tua tidak perlu membayar gaji guru atau biaya sarana dan prasarana. Besar kecilnya pengeluaran akan tergantung bagaimana orang tua dapat menyiasatinya. Jika anak setiap minggu atau setiap bulan melakukan field trip maka biaya homeschooling tunggal akan lebih mahal dibanding dengan homeschooling komunitas. Jika pada komunitas orangtua hanya membayar satu kali untuk guru mata pelajaran, sedangkan homeschooling tunggal akan membiayai beberapa guru untuk beberapa mata pelajaran jika pendidiknya bukan orangtua, yaitu anak dimasukkan dalam les-les/ kursus-kursus.

Keunggulan sekolah formal dibanding dengan homeschooling adalah kurangnya perhatian pemerintah pada homeschooling. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya bantuan yang dikerahkan untuk homeschooler. Bahkan nasib anak untuk mengikuti ujian nasional saja tergantung pada siapa pejabat dinas pendidikan di sekolah. Jika pejabatnya paham dengan homeschooling, maka ujian tidak akan dipersulit. Sebaliknya jika pemerintahnya tidak paham mengenai homeschooling maka ujian untuk homeschooler akan dipersulit. Dari sisi sarana dan prasarana serta administratif untuk homeschooling juga kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Dari segi kemampuan, anak-anak yang melakukan homeschooling tidak kalah dengan anak-anak sekolah formal. Hal ini tergantung dari cara belajar mereka yang efektif atau tidak. Bahkan ada homeschooler yang menjadi asisten dosen dan memiliki kios sendiri di Tanah Abang.

Sosialisasi di sekolah formal sangat terbatas. Anak hanya bergaul dengan orang-orang yang sama setiap harinya. Tetapi pada homeschooling anak dapat bergaul dengan siapa saja setiap harinya, bahkan mereka bergaul dengan orang yang usianya lebih tua atau lebih muda dari mereka dan dari profesi apapun.

Sosialisasi anak tergantung olah lingkungan dan orang tua. Pada kenyataannya dewasa ini banyak anak-anak yang bersekolah formal yang pergaulannya tidak hanya dengan yang itu-itu saja. Anak yang sekolah formal juga bergaul dengan orang yang usianya lebih tua atau lebih muda dari mereka.

Bahkan ada homeschooler yang bergaul hanya dengan sesama teman-teman homeschooler.

Dokumen terkait