HASIL PENELITIAN
C. Profil Siswa
Siswa di homeschooling dari mulai usia sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Anak-anak yang melakuan homeschooling tidak hanya berlatar belakang anak yang berkebutuhan khusus seperti autis maupun yang memiiki penyakit yang tidak memungkinkan untuk pergi ke sekolah formal, seperti anak yang memiliki kemampuan melebihi temannya atau sebaliknya. Anak yang memiliki masalah dengan sekolah formal seperti adanya bullying, kekerasan dalam sekolah dan biaya yang terus menerus melambung tinggi.
Siswa di homeschooling juga berlatar belakang anak pejabat, artis dan penyanyi. Anak yang membutukhan perhatian lebih serta anak yang memiliki bakat dan minat yang tidak bisa di kembangkan dibangku sekolah seperti seorang anak yang suka bermusik, bermain seni atan peran, bahkan anak yang lebih suka pada suatu pelajaran tertentu.
Jumlah keseluruhan siswa di SUN Homeschooling mencapai 71 siswa. Dengan jumlah SD yang mencapai 22 siswa, tingkat SMP mencapai 18 siswa dan tingkat SMA mencapai 31 orang dengan penjurusan IPA dan IPS.
Tabel jumlah homeschoolers pada SUN Homeschooling
Jenjang Pendidikan Jumlah Homeschoolers
SD 22 homeschoolers
SMP 18 homeschoolers
SMA 31 homeschoolers
Jumlah 71 homeschoolers
Latar belakang orang tua homeschoolers beragam, ada yang mampu dan tidak mampu. Di SUN Homeschooling sendiri mayoritas orang tua siswa berlatarbelakang memiliki ekonomi cukup, seperti anak dari seorang dokter, anak pejabat, artis yang kurang lebihnya sekitar 60%. Sisanya berlatar belakang ekonomi tidak cukup seperti anak tukang becak, anak yang orang tuanya mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti raskin, dsb.
Untuk mengatasi biaya, pihak SUN melakukan subsidi silang biaya pendidikan. Jika pada anak yang mampu membayar biaya pendidikan dengan tarif normal, tetapi bagi yang tidak mampu membayar biaya sebisanya atau tidak menbayar sama sekali. Jika ada siswa yang misalnya bulan ini tidak mampu membayar tetapi pada bulan berikutnya dapat berpartisipasi itu tidaklah menjadi masalah. Karena SUN Homeshooling tidak ingin membebankan orang tua murid dengan biaya-biaya yang memberatkan orang tua yang menyebabkan anaknya jadi
tidak semangat untuk belajar. Pihak SUN tidak ingin masalah yang dihadapi di sekolah formal juga terjadi pada homeschooling, karena orang tua tidak ada biaya maka anak menjadi terhambat dalam belajar. Pada dasarnya komunitas homeschooling hanyalah memfasilitasi pembelajaran pada anak. Belajar dapat dilakukan di rumah. Tetapi dengan bergabung dengan komunitas, maka orang tua akan mudah mengakses informasi mengenai pendidikan dan para orang tua dapat saling bertukar informasi dengan orang tua murid lainnya.
D.Program
Program yang disuguhkan oleh komunitas homeschooling tidaklah jauh berbeda dengan sekolah formal. Program di komunitas seperti tatap muka yang dilakuakn setiap senin dan rabu jam 09.00 hingga jam 12.00 untuk tingka SD dan SMP, jam 13.00 hingga jam 15.00 untuk tingkat SMA. Praktek untuk mata pelajaran eksakta di laboratorium di UI atau sekolah-sekolah lain yang bekerjasama dengan SUN Homeschooling, diskusi, tanya jawab dan mengadakan field trip ke TIM, museum-museum, dan lain-lain serta out bound (yang juga menjadi ajang pertemuan para orang tua homeschooler). Sedangkan program untuk di rumah, siswa diminta unutk belajar lebih mendalam mengenai materi yang telah di berikan di komunitas. Selain itu siswa di beri kesempatan untuk sms atau bertemu dengan guru untuk membahas materi yang belum di pahami oleh anak. Dengan pembelajaran yang flexible, maka anak akan memiliki waktu yang cukup untuk mengembangkan bakat dan minat mereka.
Materi yang disampaikan di SUN Homeschooling yang paling utama adalah mata pelajaran yang akan diikutkan dalam ujian Negara (UAN) disamping mata pelajaran yang lain dan mata pelajaran yang lebih diminati oleh homeschooler. Mata pelajaran yang tidak di UAN kan sistem pembelajarannya dengan cara meminta siswa mengerjakan tuga-tugas dan jika siswa tidak paham maka akan dibahas oleh guru tutor, selain itu juga diadakan diskusi dan tanya jawab. Sedangkan secara non akademis adalah untuk membangun jiwa entrepreneur anak dari sisi membangun strategi, penghematan biaya rumah tangga serta pembangunan emosi yang pada akhirnya secara tidak langsung anak akan
belajar mengenai pendidikan karakter. Pada SUN Homeschooling, sejak awal anak diajarkan mengenai kewirausahaan dengan mengajarkan anak cara mengatur uang seperti pengematan biaya-biaya kehidupan untuk bekal masa depan mereka.
Tabel aktifitas homeschooler dikomunitas
Hari Jam Kegiatan Keterangan
Senin dan Rabu
09.00-12.00 Tatap muka, membahas materi-materi yang tidak dipahami siswa, diskusi, tanya jawab serta pengembangan bakat
dan minat
homeschooler.
SD dan SMP
13.00-15.00 Tatap muka, membahas materi-materi yang tidak dipahami siswa, diskusi, tanya jawab serta pengembangan bakat
dan minat
homeschooler.
SMA
Kamis 10.00-12.00 Pelajaran agama Tidak diwajibkan hadir
Pada mata pelajaran agama homeschooler tidak diwajibkan hadir karena ada siswa yang beragama non muslim. Mata pelajaran agama yang disuguhkan pada SUN Homeschooling adalah mata pelajaran agama Islam seperti sejarah Nabi SAW, membaca Al-Qur’an, cara shalat dan berwudhu. Disamping itu,
sang anak di minta untuk mengikuti TPA (taman pendidikan Al-Qur’an). Adapun tujuan yang dicapai secara akademis adalah untuk memenuhi standar kelulusan, memenuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar, dan untuk menghadapi ujian akhir nasional serta untuk mengukur bakat serta minat anak.
50
BAB V
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Dari hasil penelitian penulis di SUN Homeschooling, penulis mendapatkan pengetahuan yang sangat bermanfaat dan dapat mengetahui secara langsung bagaimana perbedaan sistem pembelajaran antara homeschooling dan sekolah formal. Penulis juga telah membuktikan bahwa homeschooler dapat menjadi seklah alternatif bagi anak-anak. Homeschooling tidak berbeda dengan sekolah formal dari segi akademis dan non akademis serta sosialisasi mereka terhadap teman sebaya maupun orang yang lebih tua maupun orang yang lebih muda dari usia mereka.
Dari pembahasan yang penulis kemukakan dapat disimpulkan bahwa
‘Alasan sebagian orang tua memilih homeschooling sebagai sekolah alternatif
bagi anaknya’ karena pada homeschooling lebih mengedepankan pembelajaran mengenai moral, etika, estetika dan keagamaan. Ruang kreativitas dan bakat serta minat anak tidak dibatasi, bahkan anak diberi kebebasan untuk mengembangkan bakat dan minatnya sesuai dengan kemampuan mereka.
Jika pada sekolah formal jam pembelajarannya dibatasi oleh ruang dan waktu maka di homeschooling jam pembelajarannya lebih fleksibel dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Selain waktu yang lebih fleksibel, anak akan mendapatkan perhatian yang khusus dari pendidiknya. Anak juga akan memperoleh materi akademis yang lebih baik dengan suasana belajar yang nyaman.
Dalam masalah sosialisasi, homeschooler dapat bergaul dengan siapa saja tanpa batasan usia, dan siapun dapat menjadi sumber belajar. Anak juga dapat terhindar dari penyakit sosial seperti pergaulan bebas, tawuran dan narkoba.
Dari segi biaya, homeschooling tidak membebani orang tua homeschooler. Besaran biaya antara homeschooling tunggal dan komunitas juga berbeda tergantung bagaimana orang tua menyiasatinya. Homeschooling tunggal bisa
menjadi lebih mahal daripada homeschooling komunitas jika orang tua tidak dapat mengaturnya. Untuk mengikuti ujian negara, biaya yang dikeluarkan homeschooling tunggal lebih mahal dibanding homeschooling komunitas karena seluruh biayanya ditanggung sendiri.
Dengan homeschooling kemungkinan anak berbuat nakal sangatlah tipis karena anak diberi pengetahuan mengenai etika, moral, etstetika dan keagamaan. Walaupun ada siswa sekolah publik yang tidak berbuat nakal.
Sekolah formal dibatasi oleh waktu dan ilmu jadi tidak semua ilmu dapat tersampaikan, anak lebih dituntut menguasai satu materi dalam waktu tertentu, jika tidak bisa maka anak akan tertinggal dalam pelajaran.
Disamping alasan-alasan yang dikemukakan oleh para orang tua, homeschooling belum mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
B.SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini ada beberapa saran yang penulis akan kemukakan:
Untuk orang tua dalam memilih homeschooling jangan ragu terhadap apapun alasan yang anda kemukakan untuk memilih homeschooling sebagai jalur pendidikan bagi anaknya.
Untuk SUN Homeschooling, sebagai jalur pendidikan nonformal, maka diharapkan dapat menambah fasilitas-fasilitas yang dapat membantu dan mempermudah proses pembelajaran bagi homeschooler.
Untuk pemerintah agar lebih memperhatikan lagi homeschooling yang mulai menjadi jalur pendidikan alternatif bagi masyarakat. Perhatian yang diberikan diharapkan dapat mempermudah homeschooler dalam mengikuti ujian-ujian yang diselenggarakan oleh pemerintah, bantuan fasilitas-fasilitas dan bantuan lain yang dibutuhkan oleh homeschooling demi kelancaran dan kenyamanan kegiatan pembelajaran.
52
pada 7 November 2008, Di akses pada October 22, 2011
http://percikankehidupan.wordpress.com/2008/11/07/homeschooling
-di-indonesia-dan-problematikanya/
Indosiar.com, Homeschooling: Sekolah Rumah atau Rumah Sekolah, Jakarta
http://indosiar.com/ragam/60082/homeschooling--sekolah-rumah-atau-rumah-sekolah, Di Akses pada tanggal 22 Oktober 2011
---, Homeschooling: Sekolah Rumah atau Rumah Sekolah:
Penerapan Homeschooling,
http://indosiar.com/ragam/60082/homeschooling
--sekolah-rumah-atau-rumah-sekolah
---, Homeschooling: Sekolah Rumah atau Rumah Sekolah: Model
Pengembangan Sistem Pendidikan,
http://indosiar.com/ragam/60082/homeschooling
--sekolah-rumah-atau-rumah-sekolah
---, Homeschooling: Sekolah Rumah atau Rumah Sekolah: Tantangan Homeschooling, http://indosiar.com/ragam/60082/homeschooling
--sekolah-rumah-atau-rumah-sekolah
Kompas.com, Sekolah Rumah Mulai Jadi Pilihan,
http://edukasi.kompas.com/read/2010/10/16/15553775/Sekolah.Rumah.M ulai.Jadi.Pilihan
Komariah, Yayah, Homeschooling Tren Baru Sekolah Alternatif, (Jakarta: Sakura Publishing, 2007)
Kinza Accademy, What Is Home-education?
http://www.ahomeeducation.co.uk/what-home-schooling.html Di akses
pada tanggal 21 Maret 2011
Kho, Loy, Homeschooling Untuk Anak, Mengapa Tidak? Yogyakarta: Pustaka Familia, Penerbit Kanisius, 2007 Cet. 5
Lips, Dan and Evan Feinberg, Homeschooling: A Growing Option in American Education, Washington DC: The Heritage Foundation, 2008 No. 2122
Lloyd, Janice, Homeschooling Grows, USA Today, Update January 5, 2009 at 5:23pm, http://www.usatoday.com/community/tags/reporter.aspx?=id264, Di akses pada tanggal 14 Oktober 2011
Moeleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kuantitatif, Bandung: Rosdakarya, 2010, Cet. 27
Munandar, Iwan, Ketika Homeschooling Jadi Pilihan, Di akses pada tanggal 22 Oktober 2011, http://indosiar.com/ragam/68434/ketika-homeschooling-jadi-pilihan
Perry John and Kathy, The Complete Guide to Homeschooling, Lowell House, Los Angeles: 2000
Rachman, Arief, Homeschooling Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku, Jakarta: KOMPAS
Shaleh, Abdul Rachman, Madrasah Dan Pendidikan Anak Bangsa Visi, Misi dan Aksi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005
Tri Puji, Siwi, Homeschooling: Ketika Rumah Berubah Jadi Sekolah, Harian Republika edisi senin, 30 Januari 2012
Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional
Usman, Husaini, Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Peneiltian Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 2003
Zubaidah, Nenenng, Pacu Rata-rata Lama Sekolah, Seputar Indonesia, Senin 19 Desember 2011
Zurinal, Ilmu Pendidikan Islam: Pengantar & Dasar-dasar Pelaksanaan Pendidikan, Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006
Rumah di Campus Universitas Multimedia Nusantara pada tanggal 22 Desember 2011