BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Dilihat dari portal resmi Kota Makassar (Makassarkota.go.id), Pada awalnya kota Makassar disebut kota dan bandar Makassar. Terletak di muara Sungai Tallo dengan pelabuhan niaga kecil yang ada diwilayah tersebut pada masa akhir abad XV.
Pada akhir abad ke-18,
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengganti kompeni perdagangan VOC yang bangkrut. Kemudian pada tahun 1846, Makassar kembali dihidupkan dengan menjadikannya pelabuhan bebas. Pada tahun-tahun selanjutnya, terjadi kenaikan volume perdagangan yang pesat, dan hal ini menjadikan Makassar kembali sebagai bandar Internasional. Pada Abad ke-19, Makassar dijuluki sebagai “kota kecil terindah di seluruh HIndia- Belanda”
(Joseph Conrad, seorang penulis Inggris-Polandia terkenal), dan menjadi salah satu port of call utama bagi para pelaut dan pedagang dalam memburu hasil hutan yang sangat diminati dunia saat itu. Pada awal abad ke-20, daerah-daerah yang independen di Sulawesi dapat ditaklukkan kolonial Belanda dan menjadikan Makassar sebagai pusat pemerintahan kolonial Gambar 4.1 Logo Kota Makassar
44
Belanda di Indonesia Timur. Pada masa itu, ekonomi Makassar berkembang pesat akibat tidak terjadinya perang. Pada tahun 1906, Makassar dideklarasikan sebagai Kota Madya, dan pada tahun 1920-an menjadi kota besar kedua di luar jawa, dengan berbagai kemajuannya.
Pada saat perang dunia kedua dan pendirian Republik Indonesia, tahun 1949 sebagian besar warga asing mulai kembali ke negaranya dan akhir tahun 1950an terjadi nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, sehingga hal-hal ini menjadikan Makassar kembali menjadi sebuah kota provinsi. Antara tahun 1930- 1961, jumlah penduduk meningkat dari kurang lebih 90.000 yang sebagian besar merupakan pendatang baru dari wilayah luar kota yang berusaha menyelamatkan diri akibat berbagai pargejolakan pada saat itu. Akibat dari sebagian besar warga merupakan pendatang baru, beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1971, terjadi pergantian nama kota menjadi Ujung Pandang yang berasal dari “Jumpandang” yang merupakan julukan yang menandai Kota Makassar bagi orang pedalaman selama berabad-abad.
Pada 13 oktober 1999, Ujung Pandang kembali berubah ke nama sebelumnya, yaitu Makassar. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 1999 Nama Ujung Pandang dikembalikan menjadi Kota Makassar. Serta sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang kemudian diganti dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, dengan luas wilayah Kota Makassar ditambah kurang lebih 4 mil kearah laut, atau setara dengan 10.000 Ha dan menjadikan luas daratan dan lautan seluruhnya seluas kurang lebih 27.577Ha.
Sumber: Web Pemerintah kota Makassar (makassarkota.go.id) b. Kondisi Geografis
Secara astronomis Kota Makassar terletak antara 119º24’17’38”
Bujur Timur dan 5º8’6’19” Lintang Selatan yang berbatasan sebelah utara dan timur, sebelah selatan terdapat Kabupaten Gowa dan sebelah barat merupakan Selat Makassar. Kota Makassar memiliki topografi dengan tingkat kemiringan lahan 0-2 (datar) dan kemiringan lahan 3-15
(bergelombang). Tercatat, Kota Makassar
memiliki luas sebesar 175,77 km persegi. Memiliki kondisi iklim sedang sampai tropis dan memiliki suhu udara yang rata-rata berkisar antara 26C sampai dengan 29C.
Kota Makassar merupakan sebuah kota yang terletak dekat dengan pantai yang membentang sepanjang koridor barat dan utara, yang juga dikenal dengan sebutan “Waterfront City” yang didalamnya mengalir beberapa sungai, diantaranya yaitu Sungai Tallo, Sungai Jeneberang dan Sungai Pampang), semuanya bermuara ke dalam kota. Kota Makassar merupakan hamparan daratan rendah yang berada di ketinggian antara 1–25 meter dari permukaan laut, kondisi ini yang menyebabkan Kota Makassar sering terdapat genangan air pada saat musim hujan, terutama pada saat bersamaan naiknya air pasang.
Secara administrasi, Kota Makassar terdiri dari 15 Kecamatan dengan 153 Kelurahan. Secara umum, topografi Kota Makassar Gambar 4.2 Peta Kota Makassar
46
dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu:
a) Pada bagian barat ke arah utara relatif lebih rendah berdekatan dengan pesisir pantai.
b) Pada bagian timur demgham keadaan topografi berbukit seperti di kelurahan Antang, kecamatan Panakkukang.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Makassar, jumlah Penduduk Kota Makassar berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 sebanyak 1.423.877 jiwa. Dibandingkan dengan hasil dari sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Kota Makassar mengalami pertumbuhan sebesar 0,60 persen.
c. Visi dan Misi Pemerintah Kota Makassar
Adapun visi yang diusung oleh Pemerintah Daerah Kota Makassar adalah “Percepatan Mewujudkan Makassar Kota Dunia yang Sombere &
Smart City dengan Imunitas Kuat untuk semua” dengan misi sebagai berikut:
1) Revolusi SDM dan Percepatan Reformasi Birokrasi menuju SDM Kota yang unggul dengan pelayanan public kelas dunia bersih dari indikasi korupsi.
2) Rekonstruksi Kesehatan, ekonomi, social dan budaya menuju masyarakat sejahtera dengan imunitas ekonomi dan kesehatan yang kuat untuk semua.
3) Restorasi ruang kota yang inklusif menuju kota nyaman kelas dunia yang “Sombere’ & Smart” city untuk semua.
d. Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar
Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Makassar merupakan
satuan kerja perangkat daerah (SKPD) Kota Makassar yang mempunyai tugas untuk membantu walikota dalam melaksanakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang keuangan yang menjadi kewenangan daerah, hal ini tertuang dalam Peraturan Walikota Makassar Nomor 110 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah.
Adapun uraian tugas dan fungsi dari Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar menurut Peraturan Walikota Makassar Nomor 110 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Pendapatan Daerah, yakni sebagai berikut:
1) Fungsi Bapenda Kota Makassar
a) Perumusan kebijakan penyelenggaraan urusan pemerintahan bidang keuangan.
b) Pelaksanaan kebijakan urusan pemerintahan bidang keuangan.
c) Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan urusan pemerintahan bidang keuangan.
d) Pelaksanaan administrasi badan urusan pemerintahan bidang keuangan.
e) Pembinaan, pengkoordinasian, pengelolaan, pengendalian dan pengawasan program dan kegiatan bidang keuangan.
f) Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh walikota terkait dengan tugas dan fungsinya.
2) Tugas Bapenda Kota Makassar
a) Merumuskan dan melaksanakan kebijakan dibidang pendapatan daerah.
48
b) Merumuskan dan melaksanakan Visi dan Misi badan.
c) Merumuskan dan mengendalikan pelaksanaan program dan kegiatan sekretariat dan bidang pendaftaran dan pendataan, bidang pajak I dan retribusi daerah, bidang pajak daerah II dan bidang koordinasi, pengawasan dan perencanaan.
d) Merumuskan Rencana Strategis (RENSTRA) dan Rencana Kerja (RENJA), Indikator Kinerja Utama (IKU), Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)/RKPA, Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)/DPPA dan Perjanjian Kinerja (PK) badan.
e) Mengoordinasikan dan merumuskan bahan penyiapan penyusunan Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD), Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)/
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) kota dan segala bentuk pelaporan lainnya sesuai bidang tugasnya.
f) Merumuskan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP)/Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) badan.
g) Merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Standar Pelayanan (SP) badan.
h) Mengkoordinasikan pembinaan dan pengembangan kapasitas organisasi dan tata laksana.
i) Menyelenggarakan pembinaan, pemeriksaan, pengawasan, pengendalian, dan penindakan terhadap pengelolaan pendapatan daerah yang bersumber dari pemungutan pajak
daerah, retribusi daerah, deviden Badan Usaha Milik Daerah dan penerimaan daerah lainnya.
j) Menyelenggarakan pelayanan administrasi pengelolaan dan pemungutan pajak hotel, pajak hiburan, pajak restoran, pajak parkir, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak pengambilan dan pengolahan mineral bukan logam, pajak air bawah tanah, pajak sarang burung walet, pajak bumi dan bangunan, bea perolehan hak atas tanah bangunan, serta pajak/pendapatan daerah dan retribusi daerah lainnya.
k) Melaksanakan perencanaan dan pengendalian teknis operasional pengelolaan keuangan, kepegawaian dan pengurusan barang milik Daerah yang berada dalam penguasaannya.
l) Melaksanaan tugas pembantuan dari pemerintah Provinsi ke pemerintah Kota sesuai dengan bidang tugasnya.
m) Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan menginventarisasi permasalahan di lingkup tugasnya serta mencari alternatif pemecahannya.
n) Mempelajari, memahami dan melaksanakan peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan lingkup tugasnya sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas.
o) Memberikan saran dan pertimbangan teknis kepada pimpinan p) Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait lainnya sesuai
dengan lingkup tugasnya.
q) Membina, membagi tugas, memberi petunjuk, menilai dan
50
mengevaluasi hasil kerja bawahan agar pelaksanaan tugas dapat berjalan lancar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
r) Melaksanakan pembinaan jabatan fungsional.
s) Melaksanakan pembinaan unit pelaksana teknis,
t) Menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tugas kepada walikota melalui sekretaris Daerah.
u) Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan oleh walikota.
Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar memiliki susunan organisasi sebagai berikut:
1) Kepala badan
2) Sekretariat, terdapat:
a) Subbagian perencanaan dan pelaporan.
b) Subbagian keuangan.
c) Subbagian umum dan kepegawaian.
3) Bidang pendaftaran dan pendataan, terdiri dari:
a) Subbidang pendataan wilayah I.
b) Subbudang pendataan wilayah II.
c) Subbidang pengelolaan data dan informasi.
4) Bidang pajak I dan retribusi daerah, terdiri dari:
a) Subbidang restoran, minerba dan burung walet.
b) Subbidang reklame, parkir dan retribusi daerah.
c) Subbidang penetapan, pembukuan dan pelaporan pajak dan retribusi daerah.
5) Bidang pajak daerah II, terdiri dari:
a) Subbidang hotel dan air bawah tanah.
b) Subbidang hiburan dan pajak penerangan jalan.
c) Subbidang penetapan, pembukuan dan pelaporan pajak.
6) Bidang koordinasi, pengawasan dan perencanaan, terdiri dari:
a) Subbidang koordinasi, perencanaan dan regulasi.
b) Subbidang penagihan pajak daerah dan retribusi daerah.
c) Subbidang pembinaan, pengawasan dan penindakan.
7) Kelompok Jabatan Fungsional.
8) Unit Pelaksana Teknis (UPT).
Struktur organisasi Badan Pendapatan Daerah Kota Makassar akan dilampirkan.
Adapun Jumlah objek pajak restoran di Kota Makassar yang terdaftar pada Bada Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.1 Jumlah Objek Pajak Restoran di Kota Makassar Tahun 2016- 2020
Jenis
Tahun
2016 2017 2018 2019 2020
Restoran 160 199 246 300 330
Rumah Makan 476 715 834 914 968
Kafetaria 256 369 437 490 534
Warung 190 360 426 474 534
Jasa Boga/Katering 19 29 52 167 217
Jumlah 1101 1672 1995 2345 2583
Sumber: Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kota Makassar
52