OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian
Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu Propinsi yang ada di Pulau Jawa, terletak pada 50 40′ dan 80 30′ Lintang Selatan dan antara 1080 30′ dan 1110 30′ Bujur Timur. Propinsi ini diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Secara administratif, Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 kabupaten dan 6 kota. Kabupaten tersebut antara lain adalah Kabupaten Cilacap, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo
Gambar 4.1
Kondisi Geografis Propinsi Jawa Tengah
61
Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen, Kabupaten Grobogan, Kabupaten Blora, Kabupaten Rembang, Kabupaten Pati, Kabupaten Kudus, Kabupaten Jepara, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kendal, Kabupaten Batang, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes serta 6 Kota di Jawa Tengah antara lain adalah Kota Magelang, Kota Surakarta, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Pekalongan, dan Kota Tegal. Propinsi Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Kota Semarang secara administratif berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Laut Jawa Sebelah Timur : Jawa Timur Sebelah Selatan : Samudra Hindia Sebelah Barat : Jawa Barat
Secara umum kondisi perekonomian di Propinsi Jawa Tengah dilihat salah satunya melalui laju pertumbuhan PDRB dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan PDRB dihitung dalam persen dengan menghitung nilai PDRB tanpa migas atas dasar harga Konstan 2000. Dihitung atas dasar harga konstan 2000 karena pertumbuhan PDRB atas dasar harga konstan lebih bisa menggambarkan pertumbuhan yang sebenarnya jika dibandingkan dengan pertumbuhan PDRB atas dasar harga berlaku. PDRB atas dasar harga konstan
62
menggunakan harga tetap dari tahun ke tahun sehingga perubahan harga tidak berpengaruh terhadap perhitungan. Menurut uraian dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2011 sektor industri pengolahan memberikan sumbangan tertinggi terhadap ekonomi di Propinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 33 persen. Selanjutnya sektor yang memberikan kontribusi terbesar kedua adalah sektor Perdagangan, Hotel dan Restaurant sebesar 22 persen. Sektor pertanian memberikan kontribusi terhadap PDRB di Jawa Tengah sebesar 18 persen yang menempatkannya pada posisi ketiga dalam kontribusi terhadap PDRB di Propinsi Jawa Tengah.
Gambar 4.2
Distribusi Presentase PDRB Propinsi Jawa Tengah Menurut Lapangan Usaha
Atas Dasar Harga Konstan 2000
Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka 2011
18% 1% 33% 1% 6% 22% 5% 4% 10% Pertanian
Pertambangan dan Galian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air Bersih
Bangunan
Perdagangan, Hotel dan Restaurant
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
63
Berdasarkan Angka Sementara Sensus Penduduk (SP) 2010, jumlah penduduk Jawa Tengah pada tahun 2011 tercatat sebesar 33,27 juta jiwa atau sekitar 13,52 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini menempatkan Jawa Tengah sebagai propinsi ketiga di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Ini ditunjukkan dengan rasio jenis kelamin (rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan) sebesar 98,34 persen.
Penduduk Jawa Tengah belum menyebar secara merata di seluruh wilayah jawa Tengah. Umumnya penduduk banyak menumpuk di daerah kota dibandingkan kabupaten. Secara rata-rata kepadatan penduduk Jawa Tengah tahun 2012 tercatat sebesar 1022 jiwa setiap kilometer persegi, dan wilayah terpadat adalah Kota Surakarta dengan tingkat kepadatan lebih dari 11 ribu orang setiap kilometer persegi. (Jawa Tengah Dalam Angka 2012)
Tenaga Kerja yang terampil merupakan potensi sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dalam proses pembangunan menyongsong era globalisasi. BPS merujuk pada konsep/definisi ketenagakerjaan yang direkomendasikan oleh International Labour Organization (ILO). Penduduk usia kerja didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 15 tahun ke atas, dan dibedakan sebagai Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Pertumbuhan penduduk tiap tahun akan berpengaruh pada pertumbuhan angkatan kerja. Gambar dibawah ini menunjukkan pengelompokan penduduk berdasarkan
64
usia di Propinsi Jawa Tengah tahun 2011. Dalam gambar tersebut dijelaskan bahwa Propinsi Jawa Tengah didominasi oleh penduduk dengan usia 15-64 tahun sebesar 67 persen, dimana kelompok umur tersebur merupakan kelompok umur yang masuk ke dalam kategori tenaga kerja. Selanjutnya didominasi oleh kelompok umur 0-14 tahun sebesar 25 persen dan yang terakhir sebesar 7 persen merupakan kelompok umur 65 tahun keatas.
Gambar 4.3
Penduduk Jawa Tengah Berdasarkan Usia Tahun 2011
Sumber : BPS Jawa Tengah (diolah)
Berdasarkan hasil Sakernas, angkatan kerja di Jawa Tengah tahun 2012 mencapai 17,10 juta orang atau naik sebesar 1,04 persen dibanding tahun sebelumnya. Tingkat partisipasi angkatan kerja penduduk Jawa Tengah tercatat sebesar 71,43 persen. Sedangkan angka pengangguran terbuka di Jawa Tengah sebesar 5,63 persen. Bila dibedakan menurut status pekerjaannya, buruh/karyawan sebesar 30,63 persen. Status pekerjaan ini
26% 67% 7% 0% Usia 0-14 Usia 15-64 Usia 65+
65
lebih besar dibanding status pekerjaan lain. Sedangkan berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain, berusaha dibantu buruh tidak tetap, berusaha sendiri dibantu buruh tetap dan pekerja lainnya masing-masing tercatat sebesar 16,46 persen, 19,51 persen, 3,23 persen dan 30,17 persen. Sektor pertanian menyerap sekitar 31,39 persen pekerja dan merupakan sektor terbanyak menyerap tenaga kerja. Hal ini dikarenakan sektor tersebut tidak memerlukan pendidikan khusus. Sektor berikutnya yaitu sektor perdagangan dan sektor industri, masing-masing menyerap tenaga kerja sebesar 31,27 persen dan 20,44 persen. (BPS Jawa Tengah 2012)
Gambar 4.4
Angkatan Kerja DI Jawa Tengah Menurut Status Pekerjaannya Tahun 2011
Sumber : BPS Jawa Tengah
Menurut uraian dari BPS Jawa Tengah pembangunan sektor industri merupakan prioritas utama pembangunan ekonomi tanpa mengabaikan pembangunan sektor lain. Sektor industri dibedakan menjadi industri besar
31% 16% 20% 3% 30% Buruh/Karyawan Berusaha Sendiri
Berusaha dibantu buruh tidak tetap
Berusaha dibantu buruh tetap
66
dan sedang serta industri kecil dan rumah tangga. Definisi yang digunakan BPS, industri besar adalah perusahaan yang mempunyai tenaga kerja 100 orang atau lebih, industri sedang adalah perusahaan dengan tenaga kerja 20 orang sampai 99 orang, industri kecil dan rumah tangga adalah perusahaan dengan tenaga kerja 5 sampai 19 orang, dan industri rumah tangga adalah perusahaan dengan tenaga kerja 1-4 orang.
Selanjutnya, perusahaan industri besar dan sedang di Jawa Tengah pada tahun 2011 tercatat sebesar 3.850 unit perusahaan dengan 73203 ribu orang tenaga kerja. Berarti dari tahun sebelumnya jumlah perusahaan industri besar dan sedang turun 0,95 persen dan jumlah tenaga kerja turun sebesar 0,39 persen. Pada tahun yang sama, nilai output industri sedang dan besar mencapai 165 triliyun rupiah, lebih tinggi 9,48 persen dari nilai total output tahun 2010. Menurut Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Tengah, terdapat 645 ribu industri kecil dan menengah pada tahun 2012 atau naik relatif kecil (0,10 persen) dibandingkan jumlah perusahaan tahun sebelumnya dan jumlah tenaga kerja yang diserap sebanyak 2,85 juta orang.