• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian

Secara Historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau Bursa Efek Indonesia telah hadir sejak jaman Kolonia Belanda dan tepatnya pada tahun 1912di Btavia. Pasar modal ketika itu didirikanoleh pemerintahan Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintahan Kolonial dan VOC.

Meskipun pasar modal sudah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke 1 dan ke 2, perpindahan kekuasan dari pemerintah kolonial kepada pemerintahan Republik Indonesia, dan berbagi kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat dijalankan sebagai mana mestinya.

Secara singkat, tonggak perkembangan pasar modal di Indonesia dapat dilihat sebagai berikut :

1. 14 Desember 1912 : Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintahan Hindia Belanda.

3. 1925 – 1942 : Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan Bursa Efek di Semarang dan Surabaya.

4. Awal tahun 1939 : Karena isu politik (perang dunia II) Bursa Efek di Semaran dan Surabaya ditutup.

5. 1942 – 1952 : Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama perang dunia ke II.

6. 1952 : Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar Modal1952, yang dikeluarkan Oleh Menteri Kehakiman (Lukman Wiranata) dan Menteri Keuangan (Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo). Intrumen yang diperdagangkan adalah ObligaSI Pemerintahan RI (1950). 7. 1952 : Program Nasionalisme perusahaan Belanda. Bursa Efek Semakin

tidak aktif.

8. 1956 – 1977 : perdagangan di Bursa Efek Vakum.

9. 10 Agustus 1977 : Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto.

10. 1977 – 1987 : Perdagangan di Bursa Efk sangat lesu. Umlah emiten higga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan intrumen pasar modal.

11. 1987 : Ditandatangani dengan Hadirnya Paket Desember 1987 yang memeberikan kemudahan bagi perusahaan melakukan penawaran umum dan investor asing menanam modal di Indonesia.

12. 1988 – 1990 : Paket deregulasi dibidang perbankan dan pasar modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas Bursa Terlihat

13. 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelolah ole perusahaan perdagangan uang dan efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer.

14. Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk gi public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal. 15. 16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya mulai beroperasi dan dikelolah oleh

Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT. Bursa Efek Surabaya.

16. 13 Juli 1992 : Swastanisasi BRJ. BAPEPAM berubah menjadi badan pengawasan pasar modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ. 17. 22 Mei 1995 : Sistem otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan

computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).

18. 10 November1995 : Pemerintahan Mengeluarkan Undang – Undang No 8 Tahun 1995 tentang pasar modal. Undang – Undang ini mulai diberlakukan mulai januari 1996.

19. 1995 : Buesa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya. 20. 2000 : Sistem perdaganagan tanpa warkat (scripless tranding) mulai

diaplikasikan di pasar modal Indonesia.

21. 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote tranding).

22. 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya ke Bursa Efek Jakarta dan berubah nama Menjadi Bursa Efek Indinesia.

Maksud dan tujuan Bursa Efek Indonesia yaitu :

1. Menunjang kebijaksanaan pemerintahan dalam bidang pengembangan pasar modal sebagai alternative sumber pembiayaan untuk mendukung dunia usaha dalam rangka pembangunan nasional.

2. Memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat untuk ikut memiliki berbagai macam efek (saham) disamping memberikan kesempatan yang lebih luas bagi usaha untuk menarik dana dengan cara menawarkan efek kepada masyarakat.

3. Menyelenggarakan perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efisien. 4.1.1.2Gambaran Umum Per usahaan

perusahaan BUMN yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia sampai dengan 2011 sebanyak 19 perusahaan. Dari 19 perusahaan yang diambil sampel sebanyak 11 perusahaan yang memenuhi kriteria pengambilan sampel yaitu membagikan datanya secara terus menerusdari tahun 2008 – 2011. Berikut ini adalah gambaran umum perusahaan yang dijadikan sampel penelitian :

1. PT. Adhi Karya (Per ser o) Tbk

Nama Adhi Karya untuk pertama kalinya tercantum dalam Surat Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Kerja pada tanggal 11 Maret 1960. Kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 65 tahun 1961 Adhi Karya ditetapkan menjadi Perseroan Negara Adhi Karya. Pada tahun itu juga, berdasarkan PP yang sama Perseroan Bengunan bekas milik Belanda yang telah dinasionalisasikan, yaitu Associate NV, dilebur

PT Adhi Karya (Persero) Tbk. didirikan pada tahun 1974. Selanjutnya pada tanggal 1 Juni 1974, bentuk hukum Perseroan menjadi Perseoran Terbatas berdasarkan Akta No. 1 tanggal 1 Juni 1974 juncto Akta perubahan No. 2 tanggal 3 Desember 1974, keduanya dibuat dihadapan Notaris Kartini Mulyadi, SH, Notaris di Jakarta. Perseroan berkedudukan di Jl. Raya Pasar Minggu Km, 18, Jakarta 12510. Akta Pendirian ini telah memperoleh pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia daengan Surat Keputusan No. Y.A.5/5/13 tanggal 17 Januari 1975 dan didaftarkan dalam buku register pada Kantor Pengadilan Negeri Jakarta di bawah No. 129 tanggal 15 Januari 1975, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 85 tanggal 24 Oktober 1975. Tambahan No. 600.

Ruang Lingkup Usaha Bidang usaha meliputi:

Pekerjaan pelaksanaan konstruksi yang meliputi; pekerjaan sipil (untuk seluruh sector pembangunan), pekerjaan gedung, mekanikal elektrikal termasuk jaringan, radio telekomunikasi dan instrumentasi dan perbaikan/pemeliharaan/renovasi pada pekerjaan konstruksi tersebut.

Perencanaan dan pengawasan pelaksanaan konstruksi, yang meliputi; pekerjaan sipil, gedung, mekanikal elektrikal. Pengukuran, penggambaran, perhitungan dan penetapan biaya konstruksi yang meliputi; pekerjaan sipil, gedung, mekanikal dan elektrikal (Quantity Surveyor) layanan jasa. Konsultasi manajemen dan rekayasa industry. Perdagangan Umum. Industri pabrikasi yang meliputi; pabrikasi bahan dan komponen jadi pelengkap konstruksi, mekanikal dan kelistrikan

untuk bangunan industry dan gedung elektronik dan komunikasi. Pabrikasi komponen dan peralatan konstruksi. Penyewaan peralatan konstruksi. Melakukan usahan pemasok, jasa keagenan, jasa handling impor dan ekspor dan jasa ekspedisi / angkutan darat. Investasi dan/atau pengelolaan usaha di bidang prasarana dan sarana dasar (infrastruktur) dan industry. Ekspor dan impor. Building management. Jasa perdagangan bahan bangunan serta peralatan konstruksi. Pengelolaan Kawasan. System development. Usaha dalam jasa dan bidang teknologi informasi. Layanan jasa peningkatan kemampuan di bidang konstruksi. Pengembang usaha property dan realty. Melaksanakan usaha di bidang agro industry.

Sampai saat ini kegiatan operasional meliputi: Pekerjaan pelaksanaan konstruksi yang meliputi; pekerjaan sipil (untuk seluruh sector pembangunan), pekerjaan gedung, mekanikal elektrikal termasuk jaringan, radio telekomunikasi dan instrumentasi dan perbaikan / pemeliharaan / renovasi pada pekerjaan konstruksi tersebut.

Perencanaan dan pengawasan pelaksanaan konstruksi, yang meliputi; pekerjaan sipil, gedung, mekanikal elektrikal. Pengukuran, penggambaran, perhitungan dan penetapan biaya konstruksi yang meliputi; pekerjaan sipil, gedung, mekanikal dan elektrikal (Quantity Surveyor) layanan jasa. Investasi dan/atau pengelolaan usaha di bidang prasarana dan sarana dasar (infrastruktur) dan industry. Jasa Perdanganan bahan bangunan serta peralatan konstruksi.

2. PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk

PT Antam Tbk adalah sebuah perusahaan pertambangan yang merupakan satusatunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi mineral logam di Indonesia. Saham terbesar dimiliki oleh Negara, yaitu 65 persen dan 35 persennya dimiliki oleh Public. Salah satu komoditas Andalan PT Antam Tbk adalah emas. Proses produksi dan pengolahan emas terletak di Cikotok, Jawa Barat dan di Gunung Pongkor Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Namun dikarenakan cadangan emas di Cikotok telah habis, kini Cikotok dijadikan tempat pengolahan bijih emas saja dan kini PT Antam Tbk lebih memfokuskan proses produksi dan pengolahan emas di Gunung Pongkor. Tambang Emas Pongkor ini adalah tambang emas kedua setelah Cikotok yang dimiliki oleh PT Antam Tbk.

Tambang Emas Pongkor adalah satu-satunya tambang Bangsa Indonesia yang diketemukan oleh putra-putra terbaik bangsa Indonesia dan dikelola oleh putra-putri bangsa Indonesia. Proyek PT Antam Tbk UBPE Pongkor mulai dibuka tahun 1991- 1992 dan mulai produksi pada tahun 1994. Wilayah kuasa pertambangan PT Antam UBPE Pongkor dikelola sesuai SK Menteri Pertambangan N0. 375. K/7401/078/2000, tanggal satu Agustus 2000 dan berlaku sampai dengan tahun 2020, dengan luas wilayah eksplorasi 6.047 Hektar, yang di dalamnya terdapat kawasan ; Taman Nasional seluas 1.995 Hektar atau 32,99 persen, Perhutani seluas 2.025 Hektar atau 33,48 persen.

3. Bank Negar a Indonesia ( Per sero) Tbk

PT. Bank Negara Indonesia didirikan pada tanggal 5 Juli 1946 berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No.2 tahun 1946 dengan nama Bank Indonesia yang berfungsi sebagai bank sentral. Setelah terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1998, serta melihat situasi dan kondisi yang terjadi, banyak bank-bank yang di likuidasi, sedangkan bank syariah tetap berdiri kokoh dengan prinsip syariah yang dipakai. Oleh karena itu, dunia perbankan mulai tertarik untuk mempelajari dan menerapkannya. Dalam upaya untuk memperluas segmen pasar BNI maka manajemen BNI telah memutuskan untuk menggarap pasar Bank Syariah sebagai satu diantara beberapa upaya untuk memperkuat bisnis BNI.

PT. Bank Negara Indonesia (persero) Tbk. Kantor Cabang Syariah dibentuk secara mandiri melalui Tim Proyek Internal tanpa bantuan konsultan. Pola yang di gunakan perusahaan untuk masuk dalam pasar perbankan syariah adalah Dual Sistem Bank yakni menyediakan layanan perbankan umum dan syariah sekaligus. Hal ini sesuai dengan UU No. 10 Tahun 1998 yang memungkinkan bank-bank umum untuk membuka layanan syariah. Setelah dikeluarkannya UU No. 10 Tahun 1998 yang memperbolehkan Bank Konvensional untuk membuka layanan syariah, kemudian pada tahun 1999 terbentuklah Tim Proyek Cabang Syariah. Pada tanggal 29 April 2000, dilakukan pembentukan lima cabang pertama yaitu di Pekalongan, Jepara, Yogyakarta,Malang dan Banjarmasin.

4. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau "Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto", suatu lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Lembaga tersebut berdiri tanggal 16 Desember 1895, yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.

Pada periode setelah kemerdekaan RI, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu melalui PERPU No. 41 tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI, Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM). Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 tahun 1965, BKTN diintegrasikan ke dalam Bank Indonesia dengan nama Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan.

5. Bank Mandir i (Per ser o) Tbk

Pada akhir bulan Februari 1998, Pemerintah Republik Indonesia telah mengumumkan rencana untuk melakukan restrukturisasi BBD, BDN, BankExim, Bapindo sebagai bagian dari kebijakan dan rencana Pemerintah RI untuk melakukan restrukturisasi dan rekapitalisasi sektor perbankan Indonesia. Untuk itu maka didirikan Bank Mandiri yang akan menerima merger ke-4 bank yang selanjutnya diharapkan akan menjadi pilar perbankan Indonesia. Sebagai bagian dari proses, terlebih dahulu dilakukan restrukturisasi terhadap ke-4 bank yang secara garis besar proses restrukturisasi hingga merger secara hukum adalah sebagai berikut:

a. Restrukturisasi kredit yang diberikan yang tercermin pada pengalihan

kredit kepada Asset Management Unit (AMU) dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan kepada Bank Mandiri.

b. Retrukturisasi asset bukan kredit yang tercermin pada pengalihan aset

tersebut kepada Bank Mandiri.

c. Integrasi kebijakan dan pelaksanaan operasi bank termasuk rasionalisasi

kantor-kantor dalam dan luar negeri.

d. Rasionalisasi sumber daya manusia yang dilaksanakan secara sukarela

dan disertai dengan proses seleksi.

e. Merger secara hukum yang berakibat ke-4 bank akan bubar demi hukum

tanpa didahului likuidasi dan Bank Mandiri merupakan bank hasil merger yang akan menerima hak (termasuk kredit kecil dan menengah), kewajiban (termasuk deposito, giro, tabungan, dan kewajiban bukan simpanan serta ekuitas ke-4 bank).

6. J asa Marga (Per ser o) Tbk

Untuk mendukung gerak pertumbuhan ekonomi, Indonesia membutuhkan jaringan jalan yang handal. Melalui Peraturan Pemerintah No. 04 Tahun 1978, pada tanggal 01 Maret 1978 Pemerintah mendirikan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Tugas utama Jasa Marga adalah merencanakan, membangun, mengoperasikan dan memelihara jalan tol serta sarana kelengkapannya agar jalan tol dapat berfungsi sebagai jalan bebas hambatan yang memberikan manfaat lebih tinggi daripada jalan umum bukan tol.

Pada awal berdirinya, Perseroan berperan tidak hanya sebagai operator tetapi memikul tanggung jawab sebagai otoritas jalan tol di Indonesia. Hingga tahun 1987 Jasa Marga adalah satu-satunya penyelenggara jalan tol di Indonesia yang pengembangannya dibiayai Pemerintah dengan dana berasal dari pinjaman luar negeri serta penerbitan obligasi Jasa Marga dan sebagai jalan tol pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh Perseroan, Jalan Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi) merupakan tonggak sejarah bagi perkembangan industri jalan tol di Tanah Air yang mulai dioperasikan sejak tahun 1978.

Pada akhir dasawarsa tahun 80-an Pemerintah Indonesia mulai mengikutsertakan pihak swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan jalan tol melalui mekanisme Build, Operate and Transfer (BOT). Pada dasawarsa tahun 1990-an Perseroan lebih berperan sebagai lembaga otoritas yang memfasilitasi investor-investor swasta yang sebagian besar

ternyata gagal mewujudkan proyeknya. Beberapa jalan tol yang diambil alih Perseroan antara lain adalah JORR dan Cipularang.

Dengan terbitnya Undang Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan yang menggantikan Undang Undang No. 13 tahun 1980 serta terbitnya Peraturan Pemerintah No. 15 yang mengatur lebih spesifik tentang jalan tol terjadi perubahan mekanisme bisnis jalan tol diantaranya adalah dibentuknya Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) sebagai regulator industri jalan tol di Indonesia, serta penetapan tarif tol oleh Menteri Pekerjaan Umum dengan penyesuaian setiap dua tahun. Dengan demikian peran otorisator dikembalikan dari Perseroan kepada Pemerintah. Sebagai konsekuensinya, Perseroan menjalankan fungsi sepenuhnya sebagai sebuah perusahaan pengembang dan operator jalan tol yang akan mendapatkan ijin penyelenggaraan tol dari Pemerintah.

2008 – Jalan Tol Bogor Ring Road dioperasikan oleh PT Marga Sarana Jabar, anak perusahaan Jasa Marga

2009 – Jembatan Tol Suramadu dioperasikan oleh Jasa Marga cabang Surabaya-Gempol

2011 – Jalan Tol Surabaya-Mojokerto Seksi IA, dioperasikan oleh PT Marga Nujyasumo Agung, anak perusahaan Jasa Marga

2011 – Jalan Tol Semarang-Solo Tahap I, Ruas Semarang-Ungaran, dioperasikan oleh PT Trans Marga Jateng, anak perusahaan Jasa Marga. 7. Kimia Farma (Per sero) Tbk

farmasi menjadi PNF Bhineka Kimia Farma. Kimia Farma merupakan perintis dalam industri farmasi Indonesia. Dimana pendiri perusahaan dapat ditelusuri kembali ke tahun 1917, pada saat pertama kali perusahaan farmasi didirikan di Hindia Timur. Selanjutnya pada pada tanggal 16 Agustus 1971 nama badannya diubah menjadi Perseroan Terbatas, menjadi PT. Kimia Farma (Persero). Sejak tanggal 4 Juli 2001. Kimia Farma tercatat sebagai perusahaan umum di Bursa Efek Jakarta.

Pada tanggal 28 juni 2001 PT. Kimia Farma (Persero) menjadi Perusahaan Terbuka (Tbk) dengan nama PT. Kimia Farma (Persero) Tbk dimana untuk privatisasi tahap I saham yang lepas adalah sebanyak 9% dengan rincian 3% untuk program Kepemilikan Saham Karyawan dan Manajemen (KSKM) PT. Kimia Farma, dan sebanyak 6% untuk masyarakat umum.

Pada tanggal 4 januari 2003 PT. Kimia Farma membentuk 2 anak perusahaan yaitu :

1. PT. Kimia Farma Health & Care

2. PT. Kimia Farma Trading & Distribution

Sedangkan pabrik sebagai Holding Company Berbekal tradisi industri yang panjang selama lebih dari 187 tahun dan nama yang memperhatikan mutu, saat ini Kimia Farma telah berkembang menjadi salah satu perusahaan pelayanan kesehatan utama di Indonesia yang semakin meningkatkan peranan penting dalam pengembangan dan pembangunan bangsa dan masyarakat.

8. Perusahaan Gas Negara ( Per sero) Tbk

Sebagian besar mahasiswa kelas Pasar Modal telah menyaksikan sendiri mekanisme perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan mendapatkan penjelasan lebih lanjut oleh Bapak Dedy Priadi selaku Corporate Secretary dari BEI beserta Bapak Taufik pada Senin, 4 Agustus 2008 kemarin. Selain melihat trade floor dan gallery foto di sana, mahasiswa juga berkesempatan langsung untuk melihat simulasi calon investor yang akan menginvestasikan kekayaannya dengan membeli sejumlah instrumen misalnya saham, baik pada pasar tunai maupun pasar reguler. Dengan melihat sistem tersebutlah, maka saya akan melakukan tinjauan terhadap salah satu perusahaan publik yang tercatat sebagai emiten di BEI yaitu PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Sekilas profil perusahaan PGAS (trading code-nya) ini adalah bahwa bidang utama bisnis perusahaan ini adalah distribusi dan transmisi gasi bumi dengan sektor bidang usaha infrastruktur, utilities, dan transportasi dan sub-sektornya yaitu energi. PGAS masuk dan tercatat sebagai emiten sejak 15 Desember 2003. PGAS berkedudukan hukum di Jalan K.H. Zainul Arifin No. 24, Jakarta 11140. Sebenarnya PGAS ini adlah salah satu BUMN yang telah diprivatisasi dengan komposisi kepemilikan saham sebagai berikut: Negara RI sebesar 54, 577%, MS+CO Int Ltd Client AC sebesar 5,910%, dan BONY II sebesar 5,139%. Presiden Komisaris adalah Tengku Nathan Machmud dan Presiden Direksi adalah Hendi Prio Santoso.

Perkembangan terakhir perusahaan ini adalah bahwa harga sahamnya di bursa melesat 6,74% menjadi Rp 2.375,00 pada penutupan perdagangan sesi I hari Rabu, 6 Agustus 2008 siang tadi. Harga saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melesat tertinggi dalam empat bulan terakhir setelah JPMorgan Chase & Co menyatakan target harga yang diberikannya sudah mencerminkan keterlambataan penyambungan pipa. Memang sebelumnya PGAS sedang bermasalah akibat keterlambatan penyambungan pipanya seperti ke pembangkit listrik Muara Tawar, Jawa Barat.

Namun, apabila kita mundur sedikit menuju setahun yang lalu, perusahaan ini pernah terjangkit kasus hukum yaitu terkait dengan tindak pidana di pasar modal. Kasus dugaan insider trading PGAS menguak ke permukaan pada Januari 2007 lalu. Dugaan muncul akibat penundaaan proyek pipanisasi gas Sumsel-Jabar (SSWJ) yang tidak segera dilaporkan manajemen ke publik. Akibatnya harga saham pada 12 Januari 2007 terjungkal 23,32 persen menjadi Rp7.400 per saham. Tidak dilaporkannya penundaan proyek tersebut diduga terkait dengan kepentingan divestasi saham PGAS 5,32% pada 15 Desember 2006 agar harga ketika divestasi tidak turun. Pada kisaran bulan Maret 2007, Bapepam-LK memeriksa direksi PGN yang diindikasikan melakukan tindak pidana di pasar modal, yaitu perdagangan orang dalam (insider trading). Kategori ‘orang dalam’ pada kasus PGN sebagaimana dimaksud dalam UU Pasar Modal adalah Kementerian BUMN sebagai pemegang saham, manajeman emiten, serta Danareksa, Bahana, dan Credit Suisse sebagai konsultan. Transaksi inilah

yang harus dibuktikan oleh Bapepam-Lk apakah terbukti adanya kesengajaan dan keterkaitan pemberian informasi orang dalam perseroan kepada pelaku pasar. Bahkan sebelumnya, Bapepam-LK telah memanggil Danareksa dan Bahana untuk mengklarifikasi apakah seluruh informasi telah diungkapkan ketika proses uji tuntas (due diligence) divestasi saham pemerintah di PGAS. Akhirnya pada 18 Desember 2007 Bapepam-LK menguak pelanggaran PGN terhadap pasal 86 jo Peraturan Nomor X.K.1 dan pelanggaran Pasal 93 UU Pasar Modal dan menjatuhkan sanksi denda Rp 5.000.000.000,00 kepada lima direksi dan denda Rp 35.000.000,00 bagi perseroan.

9. Semen Indonesia (Perser o) Tbk

Perusahaan diresmikan di Gresik pada tanggal 7 Agustus1957 oleh Presiden RI pertama dengan kapasitas terpasang 250.000 ton semen per tahun, dan sampai akhir tahun 2012 kapasitas tumbuh sebesar 113% menjadi 28,5 juta ton/tahun. Pada tanggal 8 Juli 1991 saham Perseroan tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Bursa EfekSurabaya (kini menjadi Bursa Efek Indonesia) serta merupakan BUMN pertama yang go public dengan menjual 40 juta lembar saham kepada masyarakat. Komposisi pemegang saham pada saat itu: NegaraRI 73% dan masyarakat 27%.

Pada bulan September 1995, Perseroan melakukan Penawaran Umum Terbatas I (Right Issue I), yang mengubah komposisi kepemilikan saham menjadi Negara RI 65% dan masyarakat 35%. Pada tanggal 15 September 1995 PT Semen Gresik berkonsolidasi dengan PT Semen

itu sebesar 8,5 juta ton semen per tahun. Pada tanggal 17 September 1998, Negara RI melepas kepemilikan sahamnya di Perseroan sebesar 14% melalui penawaran terbuka yang dimenangkan oleh Cemex S. A. de C. V., perusahaan semen global yang berpusat di Meksiko. Komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51%, masyarakat 35%, dan Cemex 14%. Kemudian tanggal 30 September 1999 komposisi kepemilikan saham berubah menjadi: Pemerintah Republik Indonesia 51,0%, masyarakat 23,4% dan Cemex 25,5%.

Pada tanggal 27 Juli 2006 terjadi transaksi penjualan saham Cemex Asia Holdings Ltd. kepadaBlue Valley Holdings PTE Ltd. sehingga komposisi kepemilikan saham berubah menjadi Negara RI 51,0% Blue Valley Holdings PTE Ltd. 24,9%, dan masyarakat 24,0%. Pada akhir Maret 2010, Blue Valley Holdings PTELtd, menjual seluruh sahamnya melalui private placement, sehingga komposisi pemegang saham Perseroan berubah menjadi Pemerintah 51,0% dan publik 48,9%. Tanggal 18 Desember 2012 adalah momentum bersejarah ketika Perseroan melakukan penandatanganan transaksi final akuisisi 70 persen saham Thang Long Cement, perusahaan semen terkemuka Vietnam yang memiliki kapasitas produksi 2,3 juta ton/tahun. Akuisisi Thang Long Cement Company ini sekaligus menjadikan Perseroan sebagai BUMN pertama yang berstatus multi national corporation. Sekaligus mengukuhkan posisi Perseroan sebagai perusahaan semen terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas sampai tahun 2012 sebesar 28,5 juta ton per tahun.

10.Telekomunikasi Indonesia (Perser o) Tbk

PT. TELKOM, Tbk adalah Suatu Badan Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang jasa Telekomunikasi. PT TELKOM menyediakan sarana dan jasa layanan Telekomunikasi dan informasi kepada masyarakat luas sampai kepelosok daerah di seluruh Indonesia. Sejarah PT. TELKOM di Indonesia pertama kali berawal dari sebuah badan usaha swasta penyediaan layanan pos dan telegrap yang didirikan

Dokumen terkait