• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Penelitian

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, terletak di garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia terbentang antara 6 derajat garis lintang utara sampai 11 derajat garis lintang selatan, dan dari 97 derajat sampai 141 derajat garis bujur timur. Karena letaknya yang berada di antara dua benua, dan dua samudra, ia disebut juga sebagai Nusantara (Kepulauan Antara). Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat dan presiden yang dipilih langsung. Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga dan emas. Indonesia adalah pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia. Hasil pertanian yang utama termasuk beras, teh, kopi, rempah-rempah, minyak sawit dan karet. Rekan perdagangan terbesar Indonesia adalah Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara tetangganya yaitu Malaysia, Singapura dan Australia.

Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan

diluncurkannya Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah. Masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang

berpengaruh bagi masyarakat, ditambah pula kemelut politik,

mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara. Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing.

Harga minyak bumi yang meningkat pada era tahun 1970-an menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981. Tahun 1980 pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 9,88%, angka

maju mengalami resesi ekonomi pada tahun 1982 dari dampak kenaikan harga minyak dunia, ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan yang tajam menyentuh angka 2,24%. Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali, selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997 dengan rata-rata perumbuhan mencapai 7%. Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu, yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998. Pada tahun 1998 pertumbuhan ekonomi Indonesia

bahkan minus 13,20% akibat krisis ekonomi dan capital flight karena

ketidak pastiaan situasi politik dan ekonomi pada saat itu. Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2005 - 2007 melebihi 5%

Deskripsi perkembangan variabel sebagai berikut : 1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi yang digunakan dalam penelitian ini merupakan nilai Produk Domestik Bruto (PDB). Perhitungan PDB ada dua jenis yaitu PDB riil yang dihitung dengan

harga konstan dan PDB nominal yang dihitung dengan harga berlaku. Pertumbuhan ekonomi yang dimaksud adalah menggunakan pertumbuhan PDB dengan harga konstan, yaitu tahun 1993.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kurun waktu 30 tahun tahun telah mengalami pasang surut. Pertengahan tahun 1970an sampai awal 1980an perekonomian Indonesia tumbuh cukup tinggi, rata-rata berkisar antara 6-7%. Pertumbuhan tersebut merupakan akibat dari adanya peningkatan harga minyak dunia. Sedangkan pertumbuhan yang terendah selama periode tersebut terjadi pada tahun 1982 akibat

adanya penurunan harga minyak adanya resesi dunia setelah adanya oil

boom pada tahun 1979-1980. Dampak negatif dari resesi ekonomi

dunia pada tahun 1982 terhadap perekonomian Indonesia terutama terasa dalam laju pertumbuhan ekonomi yang rendah untuk periode 1982-1988 yaitu sekitar 3,62 persen. Selama periode 1993-1995 rata-rata pertumbuhan ekonomi pertahun meningkat menjadi 7,3 persen hingga 8,2 persen. Tetapi pada tahun 1998 laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun drastis akibat krisis yang melanda Indonesia yaitu minus 13,13 persen. Hal itu dikarenakan nilai tukar rupiah yang anjlok dan kondisi politik yang buruk sehingga dunia usaha pun juga sepi dan akibatnya perekonomian juga sulit tumbuh. Tahun 2007 telah tumbuh sebesar 6,32%, hal ini terjadi karena stabilitas makro ekonomi dan politik yang cukup terjaga kestabilannya, selain itu juga disebabkan oleh meningkatnya ekspor.

Gambar 4.1. Grafik Perkembangan Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1976-2007 -15 -10 -5 0 5 10 15 1980 1985 1990 1995 2000 2005 RPDB

Sumber : Hasil olahan E-views 4.0,2009

2. Perkembangan Konsumsi Pemerintah

Ekonomi negara dapat digerakkan oleh semua komponen PDB yaitu dari kontribusi konsumsi rumah tangga, pembentukan modal kerja tetap domestik bruto (investasi), pengeluaran pemerintah dan ekspor-impor. Pada tahun 2003, kontribusi komponen-komponen PDB paling besar terhadap ekonomi Indonesia yang tumbuh sebesar 4,10 % berasal dari pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah yang hampir tiap tahun selalu mengalami peningkatan

Tahun 1976 konsumsi pemerintah hanya 1590,5 milyar rupiah pada tahun 1980 naik menjadi 4688,2 milyar rupiah. Tahun 1990 konsumsi pemerintah naik menjadi 18953 milyar rupiah, pada

tahun 2000 naik menjadi 90779,7 miyar menjadi 153309.6 pada tahun 2007.

Berkat keputusan pemerintahan Habibie (Mei 1998 - Agustus 2001) untuk mendesentralisasikan wewenang pada pemerintah daerah pada tahun 2001, bagian besar dari belanja pemerintah yang

meningkat disalurkan melalui pemerintah daerah. Hasilnya

pemerintah propinsi dan kabupaten di Indonesia sekarang membelanjakan 37% dari total dana publik.

Gambar 4.2. Grafik Perkembangan Konsumsi Pemerintah Tahun 1976-2007 0 40000 80000 120000 160000 1980 1985 1990 1995 2000 2005 KONS

Sumber : Hasil olahan E-views 4.0,2009

3. Perkembangan Ekspor Indonesia

Jumlah ekspor Indoensia masih sangat rendah pada awal tahun 1976 yaitu sebesar 1108 juta dolar namun mulai tahun 1980

jumlah ekspor tersebut meningkat sebagai akibat adanya oil boom

utama ekspor Indonesia pada saat itu adalah minyak gas sehingga nilai ekspor meningkat tajam dan menjadi pendorong tersendiri bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia di masa orde baru tahun 1986 mengandalkan migas sebagai komoditas ekspor utama. Kontribusinya jauh di atas 50% dari ekspor Indonesia. Oleh karena itu barang-barang ekspor pada masa itu digolongkan menjadi dua golongan yaitu migas dan nonmigas. mulai tahun 1986 perkembangan ekspor meningkat pesat dari 14805 juta dolar pada tahun 1988 menjadi 19218,5 juta dolar pada awal tahun 1994 naik dua kali lipat menjadi 40055 juta dollar. Indonesia mengalami krisis ekonomi pada awal tahun 1998 yang diawali dengan krisis moneter. Kondisi ini sangat memukul perdagangan Indonesia dengan turunnya nilai ekspor dan impor pada tahun 1998-1999, dengan berbagai kebijakan di sektor industri dan

perdagangan pemerintah berusaha untuk mendorong kinerja

perdagangan luar negeri, sehingga nilai ekspor pada tahun 1998 turun menjadi 48.847,6 juta dollar dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu sebesar 53443.1 juta dollar, kemudian tahun 1999 turun lagi menjadi 48.665,4 juta US dolar, pada tahun 2000 kegiatan ekspor mulai menunjukan kenaikan, mencapai 62.124.

Gambar 4.3. Grafik Perkembangan Ekspor Indonesia Tahun 1976-2007 0 20000 40000 60000 80000 100000 1980 1985 1990 1995 2000 2005 EKS

Sumber : Hasil olahan E-views 4.0,2009

4. Perkembangan Tabungan Domestik Indonesia

Tabungan domestik di Indonesia memang masih sangat rendah sehingga belum dapat dijadikan tumpuan dana pembangunan Indonesia. Walaupun begitu merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena akumulasi tabungan domestik selalu meningkat dari tahun ke tahun dan pertumbuhannya tersebut sangat pesat

Awal tahun 1976 tabungan domestik masih 2089 miliar rupiah, namun pada tahun 1980 jumlah tabungan domestik Indonesia mencapai 6.411 miliar rupiah. Nilai tersebut terus meningkat menjadi sebesar 83.154 miliar rupiah pada tahun 1990 dan pada tahun 2007 tabungan domestik Indonesia sebesar 1,228185 trilyun rupiah.

Nilainya selalu mengalami peningkatan, tabungan domestik di Indonesia masih belum mempunyai pengaruh yang berarti bagi

pertumbuhan ekonomi Indonesia karena akumulasi tabungan domestik yang rendah dan lebih banyak digunakan untuk membiayai defisit transaksi berjalan ataupun investasi yang kurang produktif

Gambar 4.4. Grafik Perkembangan Tabungan Domestik Tahun 1976-2007 0 200000 400000 600000 800000 1000000 1200000 1400000 1980 1985 1990 1995 2000 2005 TAB

Sumber : Hasil olahan E-views 4.0,2009

5. Perkembangan Penanaman Modal Asing di Indonesia

Sejak dikeluarkannya UU No. 1 tahun 1967 tentang PMA oleh pemerintah Indonesia serta beberapa kebijakan deregulasi di bidang investasi dan peraturan pemerintah tentang penanaman modal asing, terbukti telah mampu menarik investasi dari luar negeri yang terwujud dengan adanya FDI yang melonjak tajam. Beberapa peraturan pemerintah tersebut adalah paket mei 1986, PP No. 17 tahun 1992 tentang diperbolehkannya PMA memiliki saham sampai 100 % bila menanamkan sahamnya di Indonesia (sebelumnya PMA harus bekerjasama dengan pengusaha nasional). Dikeluarkannya PP No. 20

tahun 1994 dimana pihak asing diberi kesempatan untuk berinvestasi lebih luas dengan jenis investasi publik. Sejak diberlakukannya UU No. 1 Th. 1967 tentang PMA, arus modal yang masuk ke Indonesia meningkat sangat pesat. Tahun 1976 PMA yang disetujui hanya 438,80 juta dolar dan pada tahun 1981 jumlah PMA yang disetujui sebesar 1179,3 juta dolar. Peningkatan investasi asing ini terjadi akibat pangsa pasar Indonesia yang besar dan faktor produksi terutama tenaga kerja yang murah. Akan tetapi yang menjadi penarik utama investasi asing masuk ke Indonesia adalah karena kestabilan politik Indonesia. Tahun 1997 PMA yang disetujui mencapai 33832,80 akan tetapi pada waktu krisis tahun 1998 PMA yang disetujui turun drastis menjadi 13563,10 juta dollar, penurunan ini terjadi hingga tahun 2002, setelah itu PMA yang di setujui mulai merangkak naik kembali.

Gambar 4.5. Grafik Perkembangan Penanaman Modal Asing Tahun 1976-2007 0 10000 20000 30000 40000 50000 1980 1985 1990 1995 2000 2005 PMA

Dokumen terkait