ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Perekonomian Indonesia 1. Kurs
Apresiasi yang terjadi pada nilai tukar rupiah sangatlah baik bagi perekonomian nasional. Mengingat pentingnya stabililtas nilai tukar rupiah dalam upaya memperkokoh stabilitas makroekonomi sekaligus memelihara kesinambungan proses pemulihan ekonomi.
Perkembangan nilai tukar rupiah dari tahun ke tahun mengalami pergerakan yang relatif melemah hingga terjadinya krisis ekonomi yang melanda beberapa negara di Asia Tenggara. Namun, pasca krisis ekonomi, nilai tukar rupiah mulai menguat. Hal ini tidak terlepas dari konsistensi kebijakan ekonomi makro dan kebijakan stabilisasi nilai tukar yang diupayakan oleh pemerintah melalui Bank sentral yakni Bank Indonesia.
Namun pada pertengahan tahun 1997 terjadi krisis ekonomi besar-besaran yang memporak-porandakan perekonomian negara-negara di Asia tenggara terutama di Indonesia. Sehingga nilai tukar rupiah melemah tajam mencapai nilai Rp. 4650/US$ dengan kenaikan kurang lebih 50% dari tahun sebelumnya yaitu Rp. 2383. Pada tahun 1998 rupiah kembali melemah dengan nilai Rp. 8025. Tentu saja hal tersebut berdampak pada melemahnya sistem ekonomi Indonesia dimana deperesiasi rupiah ini mengakibatkan meningkatnya impor dan juga meningkatnya harga barang dalam negeri. Selain guncangan di bidang ekonomi, krisis juga
mengguncang seluruh aspek termasuk di bidang sosial-politik di Indonesia dan juga hubungan internasional yakni pembayaran utang luar negeri.
Faktor-faktor tersebut berakumulasi dan mengakibatkan kegiatan ekonomi mengalami kontraksi yang tinggi hingga mencapai angka -13.1% pada tahun 1998 dan pengangguran meningkat pesat yang disebabkan perusahaan gulung tikar akibat tidak mampu menanggung biaya produksi yang tinggi.
Pada tahun 2001 nilai tukar rupiah mencapai Rp. 10400/US$, dimana hal tersebut tidak terlepas dari kondisi permintaan dan penawaran valuta asing masih rentan akibat beberapa permasalahan, seperti kondisi sektor keuangan yang mengalami likuiditas rupiah, faktor eksternal yang terkait dengan merebaknya ekspektasi masuknya ekonomi Amerika Serikat dalam siklus kebijakan moneter, melambungnya harga minyak dunia, dan peringkat utang Indonesia yang buruk di mata dunia. Namun pada tahun berikutnya rupiah kembali menguat dengan nilai Rp 8940, dan bergerak dengan nilai relatif stabil pada tahun-tahun berikutnya.
Meskipun dari tahun 2002 hingga 2007 pergerakan rupiah relatif stabil, tidak menutup kemungkinan rupiah juga mengalami depresiasi di pertengahan tahun. Hal ini tidak terlepas dari kondisi permintaan dan penawaran valas masih rentan akibat beberapa permasalahan, kondisi sektor keuangan yang mengalami likuiditas rupiah, faktor eksternal yang terkait dengan merebaknya ekspektasi masuknya ekonomi AS dala siklus kebijakan moneter ketat, melambungnya harga minyak dunia, dan memanasnya suhu politik pada tahun 2004 dan pra pemilu 2009, dan peringkat hutang Indonesia yang buruk dimata dunia.
Tabel 4.1. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS Periode 1990-2009
Tahun Nilai Tukar (Rupiah/US$)
1990 1901 1991 1992 1992 2062 1993 2110 1994 2200 1995 2308 1996 2383 1997 4650 1998 8025 1999 7100 2000 9595 2001 10400 2002 8940 2003 8465 2004 9290 2005 9830 2006 9020 2007 9419 2008 9139 2009 9720
Sumber: Statistik Keuangan Indonesia dalam berbagai edisi, Bank Indonesia.
4.1.2. Inflasi
Perkembangan perekonomian Indonesia sebelum terjadinya krisis mengalami perkembangan yang lumayan baik. Ditahun 1994 tingkat inflasi sebesar 9,24 % diikuti dengan penurunan inflasi ditahun 1995 dan 1996 masing – masing sebesar 8,64 % dan 6,47%.
Pada separuh awal tahun 1997 laju inflasi hanya sebesar 2,5%. Peningkatan inflasi yang cukup pesat terjadi pada periode 1997 – 1998, dimana laju inflasi 1997 sebesar 11,05% meningkat menjadi 77,63%. Hal ini disebabkan antara lain karena kondisi moneter yang buruk. Krisis yang melanda Indonesia
terutama pada saat nilai tukar rupiah mencapai level yang sangat rendah yaitu Rp. 16.000/ US $. Hal ini akan menyebabkan biaya produksi meningkat yang berarti harga barang – barang import menjadi mahal, terutama karena Indonesia masih mengimport alat – alat produksi atau bahan baku produksi dari luar negeri. Hal ini akan menyebabkan biaya produksi yang berarti harga barang – barang tersebut juga akan semakin mahal dimana akhirnya akan mendorong inflasi.
BI sebagai pemegang otoritas moneter di Indonesia berusaha memperbaiki kondisi perekonomian Indonesia dengan berusaha menekan laju inflasi pada tahun 1998 sebesar 77,63% melalui penekanan jumlah uang beredar di masyarakat melalui kenaikan tingkat suku bunga SBI. Pada saat itu diharapkan uang yang beredar di masyarakat akan terserap oleh bank – bank umum akibat dari tingkat suku bunga perbankan yang juga ikut naik sehingga pada tahun berikutnya, tahun 1999 laju inflasi sudah dapat dikendalikan yakni sebesar 2,01%. Bahkan pada bulan Februari dan Maret sempat mengalami deflasi masing – masing 0,84% dan 1,19%. Ditahun 2000 dan 2001 inflasi meningkat menjadi 9,35% dan 12,55%, yang kemudian turun menjadi 10% ditahun 2002. Dari tahun 2003 – 2005, tingkat inflasi rata – rata sebesar 5%. Berikut tabel perkembangan inflasi dari tahun 1990 – 2009.
Tabel 4.2. Perkembangan Inflasi Indonesia Tahun Inflasi (%) 1990 7,9 1991 9,4 1992 7,5 1993 9,7 1994 8,5 1995 9,5 1996 7,9 1897 6,6 1998 58,6 1999 20,4 2000 3,8 2001 11,5 2002 10 2003 5,1 2004 6,1 2005 17,1 2006 6,6 2007 6,59 2008 11.06 2009 2,78
Sumber : Bank Indonesia
4.1.3. Tingkat Suku Bunga SBI
Melalui penggunaan SBI maka bank Indonesia dapat secara tidak langsung mempengaruhi tingkat suku bunga. Sejak tahun 1990-1997, perkembangan tingkat suku bunga SBI masih relatuf rendah yaitu dibawah 20%, namun mengalami peningkatan yang drastis pada tahun berikutnya sebesar 37,84%. Hal ini dikarenakan sebagai dampak dari banyaknya jumlah uang beredar di masyarakat karena mulai hilangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap perbankan dimana adanya 16 bank yang dilikuidasi oleh Bank Indonesia. Akibatnya, masyarakat menarik dananya dari bank dan memilih untuk memegang uang tunai.
Tabel 4.3. Perkembangan Tingkat Suku Bunga SBI tahun 1990-2009 Tahun SBI 1990 17,87 1991 18,03 1992 13,79 1993 9,08 1994 11,59 1995 13,34 1996 14,26 1997 17,38 1998 37,84 1999 12,64 2000 14,31 2001 17,6 2002 13,1 2003 8,3 2004 7,49 2005 9,16 2006 11,74 2007 8,04 2008 9,47 2009 9,65
Sumber Bank Indonesia
4.1.4 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Laju pertumbuhan ekonomi dapat dilihat melalui perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB). Laju pertumbuhan PDB yang tinggi diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat, karena kenaikan PDB total menyebabkan pendapatan perkapita masyarakat akan meningkat pula.
Setelah mengalami pertumbuhan yang besar pada tahun 1998, sejak tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan tiap tahun. Peningkatan pertumbuhan ini memberikan harapan bagi bangsa Indonesia untu segera keluar dari krisis ekonomi, walaupun pertumbuhan ekonomi masih dibawah target yang diinginkan. Hal ini memperlihatkan pemulihan perekonomian telah berjalan ke arah yang diharapkan. Untuk lebih jelasnya
gambaran umum tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dilihat pada tabel PDB Indonesia berikut:
Tabel 4.4. Perkembangan PDB Indonesia Berdasarkan Harga Berlaku Periode 1990-2009 (Miliar Rp) Tahun PDB ( Miliar Rp ) 1990 195507.2 1991 227450.2 1992 259884.5 1993 302017.8 1994 379209.4 1995 452380.8 1996 532630.8 1997 624337.1 1998 955753.4 1999 1099731.6 2000 1389769.5 2001 1684280.5 2002 1863274.7 2003 2036351.9 2004 2273141.5 2005 2729708.2 2006 3338195.7 2007 3957403.7 2008 4951356.7 2009 5613441.7
Sumber: Statistik Keuangan Indonesia dalam berbagai edisi, Bank Indonesia.
4.1.5. Capital Flight di Indonesia
Capital flight yang digunakan dalam penelitian ini diukur berdasarkan
penghitungan yang digunakan oleh Bank Dunia yang mendefinisikan capital
flight sebagai residual.
Metode penghitungan yang dilakukan secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :
Dimana :
CF = Capital flight
DEBT = Perubahan utang luar negeri FDI = Investasi asing langsung
CA = Current account ( transaksi berjalan)
∆RES = Selisih cadangan devisa
Berdasarkan metode penghitungan diatas, maka dapat dilakukan estimasi terhadap besarnya capital flight yang terjadi di Indonesia selama tahun 1990-2009 dengan menggunakan data-data pada tabel berikut :
4.2. Analisis dan Pembahasan