Peternakan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia dari zaman dahulu hingga zaman sekarang. Hal tersebut diungkapkan secara tertulis pada tahun 1842 oleh Schelegal dan Ruller (dikutip oleh J. Merkens) bahwa ternak (kerbau) selamanya merupakan sektor terpenting bagi penduduk pribumi di pulau-pulau bagian barat Indonesia, dimana beras merupakan makanan pokok mereka dan ternak merupakan indikator kekayaan “Rojokoyo” bagi petani.
Pengembangan peternakan dalam perekonomian Indonesia terbagi ke dalam lima periode. Periode-periode tersebut adalah sebagai berikut:
Periode Penjajahan Periode Penjajahan Belanda
Berdasarkan catatan sejarah pengembangan peternakan ketika masa penjajahan Belanda (tahun 1599-1942) karena beberapa sebab diantaranya:
1. Adanya tuntutan perekonomian negara.
Pemerintah Hindia-Belanda dalam mencukupi kebutuhan warga Belanda baik yang ada di Indonesia maupun di Belanda, banyak membangun pabrik-pabrik untuk mengolah hasil pertanian. Salah satu pabrik yang banyak berdiri adalah pabrik-pabrik gula. Pabrik gula banyak memerlukan ternak yang digunakan sebagai tenaga kerja untuk mesin pemeras tebu.
2. Kebutuhan konsumsi akan produk peternakan yang meningkat.
Masuknya warga asing ke Indonesia (penjajah) menyebabkan masuk pula budaya asing ke Indonesia seperti budaya konsumsi. Budaya konsumsi warga asing yang menyadari pentingnya mengkonsumsi produk peternakan menyebabkan tingkat konsumsi akan produk peternakan meningkat dan menyebabkan peternakan di Indonesia harus dikembangkan dengan baik.
3. Sebagai alat transportasi dan komunikasi.
Luasnya jajahan belanda di Indonesia membuat pemerintah Hindia-Belanda membutuhkan alat transportasi dan komunikasi. Alat transportasi dan komunikasi yang paling banyak dikembangkan adalah ternak kuda, selain untuk alat transportasi dan komunikasi kuda juga digunakan sebagai alat militer.
Meningkatnya permintaan akan produk-produk peternakan saat itu tidak bisa dicukupi oleh peternakan di Indonesia sehingga pemerintah Hindia-Belanda melakukan kebijakan impor yang berakibat munculnya wabah penyakit peternakan baru di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini maka pada tahun 1841 dibentuk semacam Dinas Kehewanan di daerah-daerah dan pada tahun 1905 dibentuk Jawatan Kesehatan Pusat. Hal ini mempermudah belanda melakukan survey kemiskinan di Jawa dan Madura, dimana hasilnya dilakukan untuk mengimpor ternak kembali dengan tindakan pencegahan masuknya penyakit seperti dulu melalui penerbitan Ordonansi yang mengatur campur tangan pemerintah pada urusan peternakan dan kesehatan hewan (Ordonansi No.432, 1912). Pada tahun 1935 di Bogor didirikan Sekolah Dokter Hewan yang pertama.
Periode Penjajahan Jepang
Pengembangan dan pembinaan peternakan pada masa penjajahan Jepang hampir tidak pernah dilakukan bahkan terjadi pemotongan hewan ternak yang berlebihan untuk keperluan konsumsi untuk menghadapi perang dunia ke II, akibatnya terjadi penurunan populasi berbagai jenis ternak sampai dengan 25 persen dan sistem peraturan yang telah dibuat oleh Belanda tidak berlaku lagi bahkan menurut catatan sejarah tidak ada peraturan bidang peternakan dan kesehatan hewan yang pernah dikeluarkan pada masa tersebut.
Periode Awal Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan tepatnya pada pra Pelita (1947-1969) terdapat dua konsep pembangunan peternakan, yaitu: Rencana Kasimo (2 November 1947) dan Pembangunan Semesta Berencana (1961-1969) yang intinya pembangunan peternakan diarahkan kepada tercukupinya kebutuhan masyarakat akan bahan makanan dan program menggalakan minum susu di kalangan masyarakat di berbagai daerah dengan slogan “4 sehat 5 sempurna”.
Rencana Kasimo memprioritaskan peningkatan bahan pangan rakyat, termasuk komoditi peternakan dengan proyeksi adanya kenaikan populasi sapi sebesar 4 persen, kerbau 2 persen, kambing 5 persen dan babi 10 persen. Pada rencana kasimo juga dibangun taman ternak di berbagai daerah dalam rangka
program RKI (Rencana Kemakmuran Indonesia) sebagai sumber pembibitan ternak di Indonesia.
Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana (RPNSB) memprioritaskan pada penyediaan bahan pangan termasuk juga pada penyediaan protein nabati dan protein hewani (peternakan ayam). Rencana Kasimo dan Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana (RPNSB) berjalan gagal karena kondisi perekonomian pada saat itu tidak memungkinkan. Pada tahun 1967 lahir UU No.6 tentang Pokok-Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan pada tahun yang sama pula dilakukan Survei Inventarisasi Hewan (SIN) Nasional.
Periode Pelita I-IV (1969-1988)
Perkembangan sektor peternakan pada Pelita I-IV (1969-1988) cukup menggembirakan, terlihat dari data-data mengenai pengembangan populasi, produksi dan konsumsi berbagai komoditi peternakan dan proyek-proyek pemerintah mulai intensif berjalan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Tabel 3. Populasi dan Pertumbuhan Ternak di Indonesia Tahun 1970-2005
Tahun
1975 2.707.000 90.000 6.242.000 3.903.000 t.a.d.
1980 3.155.000 103.000 6.440.000 22.940.000 t.a.d.
1985 5.700.375 175.638 9.318.000 31.874.064 13.017.600 1990 7.135.643 293.878 10.410.000 37.228.434 34.463.215 1995 7.720.156 341.334 11.534.000 59.393.587 593.368.316 1997 8.232.839 334.371 11.939.000 70.622.271 641.373.816 1998 7.797.558 321.992 11.634.000 38.861.311 354.003.503 2000 5.356.834 354.253 11.008.000 69.366.006 530.874.055 2001 5.866.837 368.490 11.138.000 66.927.833 t.a.d.
2005* 6.801.000 361.000 10.569.000 84.790.000 811.189.000 Pertumbuhan
pertumbuhan 2,12 5,35 -16,98 15,37 16,47
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah t.a.d = tidak ada data
Tabel 4. Produksi dan Pertumbuhan Komoditi Peternakan Tahun 1970-2005
1985 369.900 191.930 227.400 132.700 114.460
1990 484.000 345.600 259.220 123.810 261.360
1995 736.060 433.442 311.970 177.820 551.745
1997 765.033 423.665 353.652 146.781 515.298
1998 529.827 375.382 342.598 134.794 285.010
2000 783.317 495.647 339.941 162.398 515.003
2001 793.796 505.023 338.636 174.422 516.286
2005 1.051.532 535.962 358.704 173.669 955.756
Pertumbuhan (%/tahun) Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
t.a.d = tidak ada data
Tabel 5. Konsumsi Perkapita Komoditi Peternakan Tahun 1970-2005
Tahun
Rata-RataPertumbuhan 6,14 0,21 6,94 1,00 0,30 Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
t.a.d = tidak ada data
Tabel 6. Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1971-2000 Atas Dasar Harga Konstan 1993 (Rp Milyar)
No Sektor 1971 1981 1991 1997 1999 2000 1 Pertanian 30.534 41.067 54.839 64.149 64.985 66.209 (38,47) (21,58) (19,26) (15,00) (17,13) (16,64) 2 Industri 16.972 43.218 86.393 141.207 127.164 132.764 (21,39) (22,70) (30,34) 33,03 (33,52) (33,36)
3 Jasa 31.856 106.058 143.498 222.167 187.204 199.017 (40,14) (55,72) (50,40) (51,97) (49,35) (50,01)
Total 79.363 190.343 284.731 427.523 379.353 397.990 (100,00) (100,00) (100,00) (100,00) (100,00) (100,00) Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
( ) = persentase
Tabel 7. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1971-2000 Atas Dasar Harga Konstan 1993 (%/tahun)
No Sektor 1971-1981 1981-1991 1991-1997 1997-2000
1 Pertanian 3,01 2,93 2,65 1,06
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
Populasi, komoditi, dan tingkat konsumsi ternak selama periode 1970-1985 mengalami pertumbuhan cukup tajam. Berdasarkan Tabel 3, populasi dari yang paling cepat tumbuh adalah populasi ayam petelur yaitu rata-rata pertumbuhannya mencapai 30,03 persen/tahun, populasi sapi perah mencapai 7,6 persen/tahun, populasi babi mencapai 4,19 persen/tahun dan populasi sapi potong mencapai 2,88 persen/tahun. Berdasarkan Tabel 4, komoditi peternakan mengalami peningkatan yang cukup tajam pula, seperti produksi susu pada tahun 1970 mencapai 58.600 ton
tetapi hanya dalam kurun waktu 15 tahun meningkat menjadi 369.900 ton atau pertumbuhan pertahunnya mencapai 13,45 persen/tahun. Tingkat konsumsi perkapita komoditi peternakan (Tabel 5) mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan, pertumbuhan rata-rata pertahun yang tertinggi terdapat pada komoditi daging ayam yaitu meningkat 9,33 persen/tahun dan telur yaitu 8,93 persen/tahun.
Meningkatnya populasi, produksi, konsumsi dan mulai berjalannya proyek pemerintah membuat PDB sektor peternakan (Tabel 6) meningkat dari tahun 1971 sebesar Rp 2.566 milyar menjadi Rp 3.524 milyar pada tahun 1981 atau pertumbuhannya meningkat sebesar 3,23 persen/tahun (Tabel 7).
Periode Pelita V-VI (1989-1999)
Pada Pelita V-VI (1989-1999) pendekatan yang dilakukan untuk mengembangkan sektor peternakan dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu pendekatan teknis, terpadu, dan agribisnis. Disamping itu juga pengembangan sumberdaya ternak difokuskan kepada ternak potong Perusahaan Inti Rakyat (PIR), ternak perah, dan ternak unggas.
Pengembangan sektor peternakan dengan lebih terencana pada periode 1990-1997 atau sebelum krisis ekonomi pada awalnya berdampak bagus. Hal itu terlihat dengan laju pertumbuhan populasi ternak yang cukup besar yaitu pada populasi babi 2.06 persen/tahun, sapi perah 1,86 persen/tahun, sapi potong 1,98 persen/tahun, ayam petelur 9,58 persen/tahun, dan yang paling luar biasa adalah ayam broiler karena pada tahun 1990 populasinya mencapai 34.463.215 tetapi hanya dalam kurun waktu tujuh meningkat menjadi 5.933.68.316 ekor atau pertumbuhan mencapai 51,84 persen/tahun (Tabel 3). Berdasarkan Tabel 4, komoditi peternakan yang mengalami pertumbuhan dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah daging ayam (16,12 persen/tahun), telur (8,75 persen/tahun), daging babi (7,51 persen/tahun), susu (4,63 persen/tahun), dan daging sapi (3,77 persen/tahun). Berdasarkan Tabel 5, laju konsumsi perkapita peternakan mengalami peningkatan pula. Laju konsumsi dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah daging ayam (6,67 persen/tahun), telur (5,23 persen/tahun), daging sapi (3,06 persen/tahun), daging babi (1,08), dan susu (0,25 persen/tahun).
Strategi pengembangan sektor peternakan yang dibuat pemerintah berjalan sukses, indikatornya selain pada peningkatan populasi, komoditi dan tingkat
konsumsi ternak, juga pada PDB sektor peternakan meningkat dari Rp 5.442 miliyar pada tahun 1991 menjadi Rp 7.442 miliyar pada tahun 1997 (Tabel 6) atau petumbuhannya 5,31 persen/tahun (Tabel 7). Jika dibandingkan dengan subsektor pertanian lainnya walaupun jumlah PDBnya bukan yang terbesar, pertumbuhan sektor peternakan pertahunnya merupakan yang tertinggi dan ini merupakan yang pertamakalinya. Hal ini menunjukkan pada periode 1990-1997 sektor peternakan Indonesia mengalami masa-masa keemasan dan untuk mengulang prestasi ini perlu kerja keras dari berbagai pihak terutama insan peternakan.
Selama periode 1997-2000 atau setelah krisis ekonomi di Asia Tengggara termasuk Indonesia, sektor perekonomian Indonesia mengalami kemunduran termasuk pula sektor peternakan. Sektor peternakan pada periode ini mengalami masa-masa suram karena terjadi penurunan populasi, komoditi, dan konsumsi ternak.
Berdasarkan Tabel 3, hampir semua populasi ternak mengalami penurunan sangat tajam kecuali pada sapi perah, populasi yang menurun adalah populasi babi (13,35 persen/tahun), ayam broiler (6,11 persen/tahun), sapi potong (2,67 persen/tahun), dan ayam petelur (0,66 persen/tahun). Berdasarkan Tabel 4, jumlah komoditi peternakan mengalami penurunan pula, penurunan yang paling besar terjadi pada komoditi daging ayam yaitu pada tahun 1997 mencapai 515.003 ton dan pada tahun 1998 menjadi 285.010 ton atau menurun 44,66 persen dari jumlah komoditi daging ayam tahun 1997. Hal yang menggembirakan pada peternakan unggas karena hanya dalam waktu dua tahun (tahun 2000) jumlah komoditinya kembali meningkat tajam yaitu mencapai 515.003 ton. Laju konsumsi perkapita pada periode tahun 1997-2000 sebagaimana populasi dan jumlah komoditi mengalami penurunan pula, penurunan yang paling tajam terjadi pada laju konsumsi daging ayam yaitu sebesar 3,94 persen/tahun (Tabel 5).
Seiring dengan penurunan tingkat populasi, komoditi, dan konsumsi ternak, maka PDB sektor peternakan (Tabel 6) mengalami penurunan pula, dari Rp 7.442 milyar pada tahun 1997 menjadi Rp 7.061 milyar pada tahun 2000 atau petumbuhannya mengalami penurunan sebesar 1,65 persen/tahun (Tabel 7). Jika dibandingkan dengan subsektor pertanian lainnya, laju pertumbuhan sektor peternakan merupakan yang terendah bahkan mengalami penurunan. Hal ini
menunjukkan pada periode 1997-2000 sektor peternakan Indonesia mengalami masa-masa suram setelah mengalami masa-masa-masa-masa keemasa-masan.
Periode Pasca Pelita (2000-2005)
Pada pasca Pelita (2000-2005) pengembangan peternakan dijabarkan dalam Rencana Strategis Ditjen Bina Produksi Peternakan 2000-2004. Dimana adanya reorientasi pembangunan peternakan yang dulunya sentralistik menjadi desentralistik, intruktif menjadi partisipatif, pengembangan produksi menjadi pemberdayaan peternak, dan peternakan diarahkan kepada privatisasi pelayanan peternakan dan terdapat dua program utama, yaitu: 1) Program Pengembangan Agribisnis Peternakan (PPAP), yaitu penangan komoditi ternak komersial melalui pola Bantuan Pinjaman Langsung Tunai (BPLM) dan 2) Program Ketahanan Pangan (PKP), yaitu penanganan produksi peternakan melalui pengendalian penyakit menular, pengembangan pembibitan, penyediaan semen dan vaksin.
Pada tahun 2005 dengan dilatabelakangi dari Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan yang merupakan salah satu dari Triple Track Strategy Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka pengurangan kemiskinan dan pengangguran, serta peningkatan daya saing ekonomi nasional maka peternakan yang merupakan bagian dari pertanian mempunyai tugas yang cukup berat, yaitu harus tercukupinya kebutuhan protein hewani (daging) masyarakat Indonesia pada tahun 2010.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPT) merekomendasikan 17 komoditi unggulan yang terdapat dalam sektor pertanian, tiga diantaranya terdapat dalam subsektor peternakan yaitu komoditi sapi, kambing-domba (kado), dan unggas agar mendapat prioritas dalam pembangunan. Sehingga diharapkan pada tahun 2010 Indonesia dapat melakukan swasembada daging guna memenuhi permintaan daging nasional.