BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
1. Gambaran Umum Perusahaan
Terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1955 merupakan tonggak awal berdirinya Bank Pembangunan Daerah di seluruh Indonesia, dimana dinyatakan bahwa di daerah-daerah Provinsi dapat didirikan Bank Pembangunan Daerah. Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU) didirikan pada tanggal 4 November 1961 dengan Akte Notaris Rusli No. 22 dalam bentuk perseroan Terbatas berdasarkan Pada awal pendirian BPDSU ini pengelolahan dilakukan dengan sederhana dan dilengkapi dengan badan-badan seperti dewan pengurus yang diketuai langsung oleh Gubernur Kepala Daerah Sumatera Utara dan direksi adalah para wakil pemegang saham pemerintah dan swasta.
Berdasarkan undang-undang Nomor 13 Tahun 1962 tentang ketentuan Pokok Bank Pembangunan Daerah, maka pada tanggal 23 September 1965 Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara merubah status dari bentuk Perseroan Terbatas menjadi Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara, dengan pengertian sahamnya 100% dimiliki oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara, dan Seluruh modal/saham pihak swasta dikembalikan sebagaiman mestinya. Dimana Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 1965 menetapkan besarnya modal dasar yang dimiliki sebesar Rp 100.000.000,- dan saham dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I
Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat II Sumatera Utara. Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kebutuhan, terjadi beberapa kali perubahan peraturan pemerintah daerah untuk meningkatkan modal disetor.
Pada tanggal 16 April 1999 bentuk Badan Hukum diubah kembali menjadi Perseroan Terbatas sesuai dengan Akte Pendirian Perseroan Terbatas Nomor 38 Tahun 1999 Notaris Alina Nasution, S.H. yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor C-8224 HT.01.01 Tahun 1999 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 54 Tanggal 6 Juli 1999, dengan modal dasar Rp 400.000.000.000,- .Dasar perubahan bentuk hokum dan modal dasar sebelumnya telah dituangkan dalam Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara Nomor 2 Tahun 1999. Sesuai dengan kebutuhan dan perkemabngan selanjutnya dengan Akte Nomor 31 Tanggal 15 Desember 1999 modal dasar ditingkatkan menjadi Rp 500.000.000.000,-
Dalam pelaksanaan operasionalnya, nama Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara (BPDSU) yang disingkat menjadi PT BANK SUMUT Pada Tanggal 16 April 1999 tercatat pernah menempati kantor di Jl. Palang Merah Medan, kemudian dipindahkan ke Jl. Imam Bonjol Nomor 7 Medan. Pada Tanggal 20 April 1989. Rudini sebagai Menteri Dalam Negeri yang menjabat pada saat itu berkenan meresmikan pemakaian gedung kantor baru yang cukup megah yang terletak di jantung bisnis kota Medan tepatnya di Jl. Imam Bonjol Nomor 18 Medan yang ditempati hingga saat ini.
Seiring dengan perkembangan dunia perbankan yang semakin pesat, maka kini PT Bank SUMUT telah memiliki unit kerja yang berjumlah 23 Kantor
Cabang yang terdiri dari 20 Kantor Cabang Konvensional dan 3 Kantor Cabang Syariah, 60 Kantor Cabang Pemabantu, 2 Payment point yang berfungsi unutuk melayani pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (pkb), 2 Kas Mobil, dengan 61 Mesin ATM.
b. Struktur Organisasi dan Uraian Tugas
Pembentukan struktur organisasi dalam suatu perusahaan besar termasuk salah satu hal yang paling penting yang harus diperhatikan oleh pimpinan perusahaan. Dengan adanya struktur organisasi yang disusun sesuai dengan kebutuhan aktivitas perusahaan, maka segala sesuatu diharapkan dapat berjalan dengan lancar dan tidak membingungkan bawahan dalam melaksanakan tugas masing- masing.
Terbentuknya struktur organisasi biasanya diikuti dengan pembagian tugas, sehingga tiap bawahan akan dapat mengetahui apa yang harus dikerjakannya, kepada siap ia harus bertanggung jawab, apa fungsi maupun tugasnya. Jika membuat laporan maka harus diketahui kepada siapa ia harus melapor. Struktur organisasi yang digunakan berbentuk garis yang menggambarkan bahwa pendelegasian wewenang dimulai dari pimpinan sampai kepada bagian yang paling rendah dalam struktur organisasi perusahaan. Struktur organisasi PT Bank SUMUT dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Adapun fungsi unit kerja yang terdapat pada struktur organisasi PT. Bank SUMUT adalah sebagai berikut :
1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Rapat umum pemegang saham (RUPS) merupakan pemegang kekuasaan tertinggi persero yang diadakan setiap tahunnya. Pada rapat tersebut dewan komisaris dan direksi melaporkan dan mempertanggungjawabkan kinerja perseroan kepada pemegang saham.
2. Dewan Komisaris (DEKOM)
Dewan komisaris terdiri dari 3 (tiga) orang dengan masa kerja 4 (empat) tahun untuk satu periode. Dewan komisaris bertanggungjawab kepada pemegang saham dalam mengawasi kebijakan direksi terhadap operasional bank secara umum yang mengacu kepada rencana bisnis yang disetujui dewan komisaris dan Bank Indonesia serta memastikan kepatuhan terhadap seluruh peraturan dan perundangan yang berlaku.
3. Dewan Pengawasan Syariah (DPS)
Dewan pengawasan syariah dipilih dan diangkat oleh RUPS. Dimana dewan ini adalah badan independen yang ditempatkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) pada bank, sehubungan dengan unit usaha syariah.
4. Direksi
Direksi PT Bank SUMUT berjumlah 4 (empat) orang terdiri dari Direktur Utama, Direktur Pemasaran, Direktur Umum, dan Direktur Kepatuhan. Direksi bertanggungjawab sepenuhnya terhadap pengelolah bank dan mematuhi peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.
Direktur kepatuhan membawahi divisi perencanaan serta divisi kepatuhan dan manajemen resiko yang melaksanakan fungsi kepatuhan dalam rangka untuk memastikan proses pengambilan keputusan tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.
5. Divisi Pengawasan
Divisi pengawasan dipimpin oleh seorang kepala divisi pengawasan yang membawahi 3 (tiga) kepala bidang yaitu bidang pengawasan umum, bidang pengawasan TSI dan bidang pengawasan kredit. Adapun tugas dari kepala divisi pengawasan adalah:
a. Merumusakan kebijakan bank dalam mengamankan dan menyelamatkan harta bank,
b. Nerumuskan kebijakan bank dalam mengawasi dan membina seluruh unit kerja bank untuk mencapai efisiensi dan efektifitas,
c. Merumuskan program kerja audit tahunan dan audit khusus,
d. Mengusulkan kepada Direksi Rencana Kerja dan Anggaran Divisi Pengawasan untuk dimasukkan ke dalam rencana anggaran tahunan, menengah dan panjang bank,
e. Melaporkan kepada Direksi temuan hasil pemeriksaan. 6. Divisi Perencanaan, Pengembangan dan Pembinaan Cabang
Divisi perencanaan, pengembangan dan pembinaan cabang dipimpin oleh seorang kepala divisi yang membawahi 3 (tiga) kepala bidang yaitu bidang perencanaan, bidang penelitian dan pengembangan dan bidang pembinaan
cabang. Adapun tugas dari kepala divisi perencanan, pengembangan dan pembinaan cabang adalah:
a. Merumuskan rencana strategi bank sesuai kebijakan umum Direksi untuk dituangkan di dalam rencana kerja dan anggaran tahunan, rencana jangka menengah dan rencana jangka panjang,
b. Merumuskan kebijakan bank untuk pengembangan usaha bank,
c. Melakukan penelitian dan pengembangan untuk kemajuan usaha bank, d. Merumuskan kebijakan dan strategi bank untuk pembinaan cabang,
e. Mengajukan usulan rencana kerja dan anggaran tahunan bank, rencana jangka menengah dan rencana jangka panjang.
7. Divisi Kepatuhan
Divisi kepatuhan dipimpin oleh seorang kepala divisi yang membawahi 2 (dua) kepala bidang yaitu bidang kepatuhan dan bidang manajemen resiko. Adapun tugas dari kepala divisi kepatuhan adalah:
a. Memberikan pertimbangan dalam penataan kebijakan/ketentuan bank agar tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan ekternal yang sederajat maupun lebih tinggi,
b. Memantau kebijakan kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan baik interal maupun eksternal yang berlaku
c. Mengusulkan kepada direksi rencana kerja dan anggaran divisi kepatuhan untuk dimasukkan ke dalam rencana kerja dan anggaran tahunan, menengah dan panjang.
d. Memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada direksi atas keputusan yang bertentangan dengan kepatuhan dan risiko-risiko yang mungkin terjadi,
e. Memantau dan menjaga kepatuhan bank terhadap perjanjian dan komitmen yang dibuat oleh bank kepada Bank Indonesia dan pihak lain.
8. Divisi Sumber Daya Manusia
Divisi sumber daya manusia dipimpin oleh seorang kepala divisi yang membawahi 2 (dua) kepala bidang yaitu bidang tenaga kerja dan bidang pendidikan dan latihan. Adapun tugas dari kepala divisi sumber daya manusia adalah:
a. Merumuskan kebutuhan sumber daya manusia jangka pendek maupun jangka panjang,
b. Merumuskan strategi dan rencana pengembanagan sumber daya manusia yang profesional,
c. Merumuskan dan mengembangkan budaya kerja perusahaan (corporate cultur),
d. Merumuskan penyelesaian atas masalah ketenaga kerjaan bank,
e. Mengusulkan kepala direksi rencana kerja dan anggaran divisi sumber daya manusia untuk dimasukkan ke dalam rencana angaran tahunan, menengah dan panjang.
9. Divisi Administrasi Keuangan
Divisi administasi keuangan dipimpin oleh seorang kepala divisi yang membawahi 2 (dua) kepala bidang yaitu bidang akuntansi dan bidang
teknologi sistem informasi. Adapun tugas dari kepala divisi administrasi keuangan adalah:
a. Merumuskan kebijakna bank dalam penerapan sistem administrasi keuangan yang handal dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku, b. Merumuskan kebijakan pengembangan dalam bidang teknologi sistem
informasi dengan tetap memperhatikan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan atau lembaga yang berkompeten lainnya,
c. Mengusulkan kepada direksi rencana kerja dan anggaran divisi administrasi keuangan untuk dimasukkan ke dalam rencana kerja dan anggaran tahunan, menegah, dan panjang,
d. Menyampaikan saran-saran kepada direksi sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijaksanaan/keputusan dalam administrasi keuangan/akuntasi dan teknologi sistem informasi,
e. Membina pejabat, staf dan pegawai dalam lingkungan divisi administrasi keuangan guna meningkatkan keterampilan kerja, pengetahuan dan sikap kerja.
10. Divisi Umum
Divisi umum dipimpin oleh seorang kepala divisi umum yang membawahi 2 (dua) kepala bidang yaitu bidang logistik dan bidang rumah tangga. Adapun tugas dari kepala divisi umum adalah:
a. Melaksanakan penyediaan, perawatan serta pengamanan terhadap penggunaan sarana dan prasarana kerja bank secara efektif dan efisien,
b. Mengusulkan kepada direksi rencana kerja dan anggaran divisi umu untuk dimasukkan kedalam rencana kerja anggaran tahunan, menegah dan panjang,
c. Mengkoordinir seluruh unit kerja menyangkut pengadaan sarana dan prasarana kerja bank,
d. Menyediakan dana kas kecil (petty cash), perangko dan materai sesuai dengan ketentuan,
e. Membina pejabat, staf dan pegawai dalam lingkungan divisi umum guna meningkatkan keterampilan kerja, pengetahuan dan sikap kerja.
11. Divisi Treasury
Divisi treasury dipimpin oleh seorang kepala divisi treasury yang membawahi 2 (dua) kepala bidang yaitu bidang treasury dan bidang pemasaran dan jasa. Adapun tugas dari kepala divisi treasury adalah:
a. Merumuskan kebijakan bank dibidang pendanaan, produk dan jasa bank ke dalam ketentuan-ketentuan,
b. Merumuskan ketentuan-ketentuan yang menyangkut penghimpunan dana dan penempatan dana selain kredit serta produk dan jasa bank yang berbasis kepatuhan dan prinsip kehati-hatian,
c. Mengusulkan kepada direksi rencana kerja angaran divisi treasury untuk dimasukkan ke dalam rencana kerja tahunan, menengah dan panjang, d. Merencanakan, memonitor dan mengevaluasi penempatn dana/pemenuhan
e. Membina pejabat, staf dan pegawai dalam lingkungan divisi treasury guna meningkatkan keterampilan kerja, pengetahuan dan sikap kerja.
12. Divisi Kredit
Divisi kredit dipimpin oleh seorang kepala divisi kredit yang membawahi 2 (dua) kepala bidang yaitu bidang kredit dan bidang supervisi kredit. Adapun tugas dari kepala divisi kredit adalah:
a. Merumuskan kebijakan bank dalam menetapkan langkah-langkah penyaluran kredit,
b. Memberikan peringatan didni atas portopolio kredit,
c. Menerima dan mengevaluasi umpan balik dari kantor cabang atas pemasaran produk kredit,
d. Mengusulkan kepada direksi rencana kerja dan anggaran divisi kredit untuk dimasukkan ke dalam rencana kerja tahunan, menengah dan panjang.
e. Menyampaikan saran-saran dan pertimbangan-pertimbangan kepada direksi sehubungan dengan pelaksanan tugas-tugas di divisi kredit.
13. Divisi penyelamatan Kredit
Divisi penyelamatan kredit dipimpin oleh seorang kepala divisi penyelamatan kredit yang membawahi 5 (lima) kepala bidang yaitu bidang penagihan I, bidang penagihan II, bidang administrasi dan laporan, bidang restrukturisasi kredit dan bidang hukum. Adapun tugas dari kepala divisi penyelamatan kredit adalah:
a. Menetapkan target pencapaian penyelamatan kredit bermasalah untuk masing-masing bidang dalam periode tertentu,
b. Menandatangani atau memaraf surat-surat. Memorandum dan laporan- laporan lain sesuai kebutuhan,
c. Menilai atau menyetujui prestasi kerja pejabat/staf/pegawai dalam lingkungan divisi penyelamatan kredit,
d. Memberikan teguran, peringatan dan sanksi kepada pejabat/staf/pegawai dalam lingkungan divisi penyelamatan kredit yang melanggar ketentuan dan peraturan bank,
e. Memberikan persetujuan menjalani cuti dan mengusulkan pejabat pengganti dalam lingkungan divisi penyelamatan kredit.
14. Sekretariat Direksi
Fungsi dari sekretaris direksi adalah:
a. Menyelenggarakan kegiatan tata usaha pelaksanaan tugas direksi, b. Menyelenggarakan tugas-tugas kehumasan dan protokoler direksi. 15. Kantor Cabang Utama
Fungsi dari kantor cabang utama adalah:
a. Menyelenggarakan kegiatan usaha perbankan berupa penghimpunan dana, penyaluran kredit dan jasa-jasa perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
b. Membantu direksi dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
16. Kantor Cabang
Fungsi dari kantor cabang adalah:
a. Menyelenggarakan kegiatan usaha perbankan berupa penghimpunan dana, penyaluran kredit dan jasa-jasa perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
b. Membantu direksi dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
17. Kantor Cabang Pembantu
Fungsi dari kantor cabang pembantu adalah:
a. Menyelenggarakan kegiatan usaha perbankan berupa penghimpunan dana, penyaluran kredit dan jasa-jasa perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku,
b. Membantu kantor caban induk dalam melaksanakan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
18. Kantor Kas
Fungsi dari kantor kas adalah:
Merupakan perpanjangan tangan kantor cabang induk dalam menyelengarakan kegiatan usaha perbankan berupa penghimpunan dana dan penyaluran kredit serta jasa-jasa perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
19. Kas Mobil/Payment Point
Merupakan perpanjangan tangan kantor cabang induk dalam menyelengarakan kegiatan usaha perbankan berupa penghimpunan dana dan penyaluran kredit serta jasa-jasa perbankan lainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
2. Tingkat Kesehatan Bank
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bank yang sehat adalah bank yang dapat menjalankan fungsi-fungsinya dengan baik. Dengan kata lain, bank yang sehat adalah bank yang dapat menjaga dan memelihara kepercayaan masyarakat, dapat menjalankan fungsi intermediasi, dapat membantu kelancaran lalu lintas pembayaran serta dapat digunakan oleh pemerintah dalam melaksanakan berbagai kebijakannya, terutama kebijakan moneter. Dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut diharapkan dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat serta bermanfaat bagi perekonomian secara keseluruhan.
Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, bank harus mempunyai modal yang cukup, menjaga kualitas asetnya dengan baik, dikelola dengan baik dan dioperasikan berdasarkan prinsip kehati-hatian, menghasilkan keuntungan yang cukup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya, serta memelihara likuiditasnya sehingga dapat memenuhi kewajibannya setiap saat. Selain itu, suatu bank harus senantiasa memenuhi berbagai ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan, yang pada dasarnya berupa berbagai ketentuan yang mengacu pada prinsip-prinsip kehati-hatian di bidang perbankan.
hanya pemilik dan pengelola bank yang bersangkutan tetapi juga masyarakat secara keseluruhan terutama para pengguna jasa perbankan.
3. Faktor – Faktor Penilaian Tingkat Kesehatan Bank (CAMES)
Ada 6 (enam) faktor penilaian tingkat kesehatan bank yaitu permodalan (capital), kualitas aset (asset quality), manajemen (management), rentabilitas (earning), likuiditas (liquidity), dan sensitivitas terhadap risiko pasar (sensitivity to market risk) atau disebut juga dengan CAMELS. Bank SUMUT memaparkan ke 6 (enam) faktor tersebut sebagai berikut :
a. Permodalan (Capital)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor permodalan antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen – komponen sebagai berikut: 1) Pemenuhan kewajiban penyedian modal minimum (KPMM) terhadap
ketentuan yang berlaku, 2) Komposisi permodalan,
3) Trend ke depan/proyeksi KPMM,
4) Aktiva produktif yang diklasifikasikan (APYD) dibandingkan dengan modal bank,
5) Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan (laba ditahan),
6) Rencana permodalan bank untuk mendukung pertumbuhan usaha, 7) Akses kepada sumber permodalan,
b. Kualitas Aset (Asset Quality)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor kualitas aset antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen – komponen sebagai berikut : 1) Aktiva produktif yang dilasifikasikan dibandingkan dengan total aktiva
produktif,
2) Debitur inti kredit di luar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit,
3) Perkembangan aktiva produktif bermasalah dibandingkan dengan aktiva produktif,
4) Tingkat kecukupan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP),
5) Kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif,
6) Sistem kaji ulang (review) internal terhadap aktiva produktif, 7) Dokumentasi aktiva produktif,
8) Kinerja penanganan aktiva produktif bermasalah. c. Manajemen (Management)
Penilaian terhadap faktor manajemen antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen – komponen sebagai berikut :
1) Manajemen umum,
2) Penerapan sistem manajemen resiko,
3) Kepatuhan bank terhadap ketentuan yang berlaku serta komitmen kepada Bank Indonesia dan atau pihak lainnya.
d. Rentabilitas (Earning)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor rentabilitas antara lin dilakukan melalui penilaian terhadap komponen – komponen sebagai berikut : 1) Return on assets (ROA),
2) Return on equity (ROE), 3) Net interest margin (NIM),
4) Biaya operasional dibandingkan dengan pendapanan operasional (BOPO), 5) Perkembangan laba operasional,
6) Komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan, 7) Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya, 8) Prospek laba operasional.
e. Likuiditas (Liquidity)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor likuditas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap kmponen – komponen sebagai berikut : 1) Aktiva likuid dibandingkan dengan pasiva likuid,
2) 1 month naturity mismacth ratio, 3) Loan to deposit ratio (LDR),
4) Proyeksi cash flow 3 bulan mendatang,
5) Ketergantungan pada dana antar bank dan deposan inti, 6) Kebijakan dan pengelolahan likuiditas
7) Kemampuan bank untuk memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber – sumber pendanaan lainnya,
8) Stabilitas dana pihak ketiga (DPK).
f. Sensitivitas Terhadap Resiko Pasar (Sensitivity to Market Risk)
Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif faktor sensitivitas terhadap resiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian trehadap komponen – komponen sebagai berikut :
1) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) suku bunga,
2) Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss sebagai akibat fluktuasi (adverse movement) nilai tukar,