• Tidak ada hasil yang ditemukan

1V. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Gambaran Umum Perusahaan

Obyek Wisata Nasional dan Lembaga Konservasi Eks-Situ Taman Safari Indonesia (TSI), merupakan salah satu asset nasional dibidang pariwisata. Berlokasi di Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten

Daerah TK II Bogor Jawa Barat. Berada di daerah kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan ketinggian 1076– 1446 m di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata 180 – 240 Celcius. Berjarak 20 km dari arah Bogor, dan kurang lebih 78 km dari arah Jakarta, sedangkan dari kota Bandung sekitar 80 km.

4.2.1. Sejarah Perusahaan

Ide dan cita-cita mendirikan suatu taman satwa modern ini, datang dari para penyayang satwa liar yang tergabung dalam group Oriental Circus Indonesia (OCI). Kelompok ini dengan berbekal kecintaan dan pengetahuan tentang satwa, berusaha mencari lokasi yang ideal untuk dijadikan sebagai

Home Base (pangkalan) sirkusnya, maka terpilih tempat yang sekarang yaitu desa Cibeureum, kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, sejalan dengan perkembangan dan serta situasi dan kondisi fauna yang ada maka tercetuslah ide mendirikan taman satwa terbuka dengan tujuan untuk menangkarkan satwa-satwa yang ada di Indonesia, maupun yang hidup di berbagai penjuru dunia.

Untuk mendirikan atau membangun suatu taman yang berwawasan lingkungan seperti yang diharapkan, bukanlah suatu pekerjaaan mudah. Apalagi suatu taman satwa yang berorientasi pada pelestarian lingkungan dan satwa yang ada didalamnya harus dapat memperhatikan Analisis Dampak terhadap Lingkungan disekitarnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka diundanglah perusahaan konsultan dari Jerman dan Amerika Serikat, yang telah mempunyai reputasi dalam hal perkebun binatangan dan pembuatan taman satwa liar .

Pembangunan dimulai 1981 - 1985 dan pada awal April tahun 1986 TSI dibuka untuk umum. Pada saat itu jumlah koleksi satwanya masih tergolong sedikit, hanya berkisar 100 spesies dari jumlah koleksi satwa sebanyak 400 ekor. Sedangkan luas TSI saat ini 165 Ha, dengan jumlah satwa sekitar 2636 ekor satwa terdiri dari 257 spesies.

Pada tanggal 16 Maret 1990, TSI diresmikan menjadi Obyek Wisata Nasional oleh Bapak Menparpostel (Alm.Bapak Soesilo Soedarman) dengan SK Menparpostel Kep.11/U/III/89. Sekaligus ditunjuk sebagai Lembaga

Konservasi Eks-Situ oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia Bapak Ir. Hasjrul Harahap, melalui SK.No. 709/Kpts-II/90, tanggal 6 Desember 1990, diperbarui SK Menhut No. 242/Kpts-II/1999. TSI juga sebagai sebagai Pusat Penangkaran satwa langka Indonesia (SK. Dirjen PHPA No. 2366/VI-Sek/Kp 90 tanggal 20 November 1990).

4.2.2. Visi Misi Perusahaan

Visi Taman safari Indonesia (TSI) adalah melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan taman satwa sebagai benteng terakhir peneyelamatan satwa endemik Indonesia khususnya dan satwa langka dunia pada umumnya. Selain itu juga menjadikan TSI menjadi taman satwa dan taman rekreasi yang dikenal di seluruh Indonesia dan dunia.

Misi TSI adalah menjadi model bagi taman satwa dan taman rekreasi lainnya. Para wisatwan diperkenalkan dan memahami mengenai keanekaragaman hayati, menawarkan cara untuk memperoleh informasi satwa dan habitatnya melalui peragaan satwa, baby zoo, pertunjukan satwa dengan sistem education through entertainment serta memberikan kontribusi terhadap in-situ link conservation.

4.2.3. Fungsi Taman Safari Indonesia

TSI sesuai dengan visi dan misi perusahaan, mempunyai fungsi sebagai berikut :

a. Konservasi

Konservasi sumber daya alam dengan maksud melindungi, melestarikan dan memanfaatkan sumber daya alam agar terjaga kelestariannya

b. Penelitian

TSI mengadakan program pengenalan satwa ke sekolah-sekolah, maupun pendidikan langsung di lokasi terhadap para pengunjung melalui program education trough entertainment.

c. Pendidikan

TSI merupakan tempat penelitian bagi intansi lain seperti LIPI, maupun tempat belajar bagi para mahasiswa-mahasiswi jurusan,

Biologi, Peternakan dan dari berbagai jurusan yang terkait dengan konservasi dan Pariwisata.

d. Rekreasi

TSI menyediakan pusat rekreasi bagi para pengunjung, yang merupakan sarana penunjang bagi kelangsungan/keberadaan TSI itu sendiri.

4.2.4. Pengembangan TSI

TSI telah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meluaskan jaringan kerja dan TSI telah melakukan pengembangan hingga ke daerah lain. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Jumlah satwa di TSI saat ini terus berkembangbiak hingga mencapai lebih 2.500 ekor dari 250 spesies yang berbeda. Mengingat jumlah satwa yang semakin bertambah, maka TSI memerlukan perluasan lahan. Berdasarkan hal tersebut, maka timbulah ide untuk mengadakan pengembangan di daerah timur. Akhirnya dibangunlah Taman Safari Indonesia II di daerah Inpres Desa Tertinggal (IDT), Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen – Jawa Timur, seluas 400 Ha. yang merupakan hasil kerjasama dengan Perum Perhutani. (Diresmikan pada tanggal 29 Desember 1997, oleh Gubernur KDH TK I Prop Jawa Timur, Bapak H.M Basofi Soedirman).

b. Penambahan sejumlah koleksi satwa yang tidak dimiliki oleh TSI sebelumnya sebagai daya tarik wisatawan. Adapun satwa tersebut adalah Panda Merah dari kebun binatang Chungking, RRC melalui program pertukaran satwa antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Republik Rakyat China. Dalam hal ini TSI mewakili Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pelestarian Konservasi Alam mengirimkan sepasang orang utan. TSI juga mendatangkan Mandrill, Monyet Jepang, Meerkat, Bongo dan lain-lain.

c. Taman Safari Indonesia juga membentuk suatu forum yang bernama Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (FOKSI), yang beranggotakan kurang lebih 60 orang. Terdiri dari para pemburu

profesional, wartawan media cetak/elektro, eksportir dan importir satwa, para pemerhati lingkungan. Bertujuan untuk memasyarakatkan kegiatan konservasi. Deklarasi tanggal 5 Februari 1999.

d. Pembangunan Taman Safari 3 (BALI SAFARI & MARINE PARK) di Gianyar Bali. Dirintis sejak tahun 2006, diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tangal 13 Nopember 2007. Luas areal 40 Ha.

e. Taman Safari Indonesia (TSI) mendatangkan dan merawat pinguin dari negara Jepang. Pinguin tersebut berjenis Pinguin Humboldt

(Spheniscus humboldti) merupakan spesies pertama di Indonesia. Menurut Badan Konservasi Dunia mencatumkan semua spesies penguin dalam status yang dilindungi. Setidaknya ada tiga spesies yang terancam punah yaitu penguin Humboldt dan penguin Galapagos yang dikategorikan CITES Appendix I/endangered

(langka) serta penguin Afrika yang dikategorikan CITES Appendix II/ threatened (terancam).

Dokumen terkait