BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Provinsi Sumatera Utara
Di zaman Pemerintahan Belanda, Sumatera merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernement van Sumatera, yang meliputi seluruh Sumatera,
dikepalai oleh seorang Gouverneur berkedudukan di Medan. Sumatera terdiri dari
daerah-daerah administratif yang dinamakan Keresidenan.
Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia, Sumatera tetap merupakan suatu kesatuan pemerintahan yaitu Provinsi Sumatera yang dikepalai oleh seorang Gubernur dan terdiri dari daerah-daerah Administratif Keresidenan yang dikepalai oleh seorang Residen.
Pada Sidang I Komite Nasional Daerah (K.N.D) Provinsi Sumatera, mengingat kesulitan-kesulitan perhubungan ditinjau dari segi pertahanan, diputuskan untuk membagi Provinsi Sumatera menjadi 3 sub Provinsi yaitu sub Provinsi Sumatera Utara (yang terdiri dari Keresidenan Aceh, Keresidenan Sumatera Timur, dan Keresidenan Tapanuli), sub Provinsi Sumatera Tengah, dan sub Provinsi Sumatera Selatan. Dalam perkembangan selanjutnya melalui Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 tanggal 15 April 1948, Pemerintah menetapkan Sumatera menjadi 3 Provinsi yang masing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri yaitu:
1. Provinsi Sumatera Utara yang meliputi Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli;
2. Provinsi Sumatera Tengah yang meliputi Keresidenan Sumatera Barat, Riau, dan Jambi;
3. Provinsi Sumatera Selatan yang meliputi Keresidenan Bengkulu, Palembang, Lampung, dan Bangka Belitung.
Dengan mendasarkan kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948, atas usul Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan suratnya tanggal 16 Pebruari 1973 No. 4585/25, DPRD Tingkat I Sumatera Utara dengan keputusannya tanggal 13 Agustus 1973 No. 19/K/1973 telah menetapkan bahwa hari jadi Provinsi Sumatera Daerah Tingkat I Sumatera Utara adalah tanggal 15 April 1948 yaitu tanggal ditetapkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 tersebut.
Pada awal tahun 1949 berkaitan dengan meningkatnya serangan Belanda, diadakanlah reorganisasi pemerintahan di Sumatera. Pada waktu itu, keadaan memerlukan suatu sistem pertahanan yang lebih kokoh dan sempurna. Oleh karena itu perlu dipusatkan alat-alat kekuatan sipil dan militer dalam tiap-tiap Daerah Militer Istimewa yang berada dalam satu tangan yaitu Gubernur Militer. Sehingga penduduk sipil dan militer berada dibawah kekuasaan satu pemerintah.
Perubahan demikian ini ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 16 Mei 1949 Nomor 21/Pem/P.D.R.I., yang diikuti Keputusan Pemerintah Darurat R.I tanggal 17 Mei 1949 Nomor 22/Pem/P.D.R.I. jabatan Gubernur Sumatera Utara ditiadakan.
Gubernur yang bersangkutan diangkat menjadi komisaris dengan tugas-tugas memberi pengawasan dan tuntutan terhadap pemerintahan, baik sipil maupun militer. Selanjutnya dengan instruksi Dewan Pembantu dan Penasehat Wakil Perdana Menteri tanggal 15 September 1949, Sumatera Utara dibagi menjadi dua Daerah Militer Istimewa yaitu Aceh dan Tanah Karo diketuai oleh Gubernur Militer Tgk. M. Daud Beureuen dan Tapanuli/Sumatera Timur Selatan oleh Gubernur Militer Dr. F.L. Tobing.
Selanjutnya, dengan ketetapan Pemerintah Darurat R.I dalam bentuk Peraturan Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Desember 1949 Nomor 8/Des/W.K.P.M dibentuklah Provinsi Aceh dan Provinsi Tapanuli/Sumatera Timur. Kemudian dengan Peraturan Pemerintah Penggati Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, Peraturan Wakil Perdana Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah tanggal 17 Agustus 1949 Nomor 8/Des/W.K.P.M tahun 1949 tersebut dicabut dan kembali dibentuk Provinsi Sumatera Utara dengan daerah yang meliputi daerah Keresidenan Aceh, Sumatera Timur, dan Tapanuli. Selanjutnya dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1950 tanggal 14 Agustus 1950, pada waktu RIS, ditetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia terbagi atas beberapa daerah-daerah Provinsi, yaitu:
1. Jawa Barat 2. Jawa Tengah 3. Jawa Timur 4. Sumatera Utara
5. Sumatera Tengah 6. Sumatera Selatan 7. Kalimantan 8. Sulawesi 9. Maluku 10. Sunda Kecil
Pada tanggal 7 Desember 1956 diundangkanlah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 yaitu Undang-Undang tentang Pembentukan Daerah Otonom Provinsi Aceh dan perubahan peraturan pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Pasal 1 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 ini menyebutkan:
1. Daerah Aceh yang meliputi Kabupaten-kabupaten: Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Selatan, Kota Besar Kutaraja, daerah-daerah tersebut dipisahkan dari lingkungan Daerah Otonom Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang No. 5 Tahun 1950 sehingga daerah-daerah tersebut menjadi daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri dengan nama Provinsi Aceh.
2. Provinsi Sumatera Utara tersebut dalam ayat (1) yang wilayahnya telah dikurangi dengan bagian-bagian yang terbentuk sebagai daerah otonom Provinsi Aceh, tetap disebut Provinsi Sumatera Utara.
4.1.2. Kondisi Geografis
Provinsi Sumatera Utara yang berada di bagian barat Indonesia, terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1948 dan melalui Keputusan DPRD Provinsi Sumatera Utara Nomor: 19/K/1973 tanggal 13 Agustus 1973 ditetapkan hari jadi Provinsi Sumatera Utara yaitu tanggal 15 April 1948. Terletak pada garis 1˚-4˚
Lintang Utara dan 98˚-100˚ Bujur Timur. Sebelah Utara, berbatasan dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Selat Malaka, sebelah Timur dengan Negara Malaysia dan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan Provinsi Riau dan Sumatera Barat, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia.
Dengan luas total mencapai 181.680,68 km², wilayah Sumatera Utara terdiri atas lautan dengan luas 110.000 km² atau sekitar 60,5 persen dari luas total dan daratan yang mencapai 71.680,68 km² atau sekitar 39,5 persen. Sebagian besar daratan berada di daratan Pulau Sumatera dan sebagian kecil berada di Pulau Nias, pulau-pulau batu, serta beberapa pulau kecil, baik di bagian Barat maupun bagian Timur pantai Pulau Sumatera.
Secara administrasi, pada tahun 2010 Provinsi Sumatera Utara memiliki 33 Kabupaten/Kota yang terdiri dari 25 Kabupaten, 8 Kota, 417 kecamatan, dan 5.744 desa/kelurahan. Bila dikelompokkan menurut wilayah geografis, Sumatera Utara terbagi atas 3 (tiga) kawasan yaitu Kawasan Pantai Barat seluas 26.189,07 km² meliputi 9 (sembilan) kabupaten dan 3 (tiga) kota yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang
Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Padangsidimpuan, Kota Sibolga, dan Kota Gunung Sitoli, Kawasan Dataran Tinggi seluas 20.569,62 km² meliputi 8 (delapan) kabupaten dan 1 (satu) kota yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Pak-pak Bharat, Kabupaten Samosir, dan Kota Pematang Siantar serta Kawasan Pantai Timur seluas 24.921,99 km² meliputi 8 (delapan) kabupaten dan 4 (empat) kota yaitu Kabupaten Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Asahan, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai dan Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi, Kota Medan dan Kota Binjai.
4.1.3. Kondisi Demografis
Sumatera Utara merupakan Provinsi keempat yang terbesar jumlah penduduknya di Indonesia setelah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hasil Sensus Penduduk 2010, mencatat jumlah penduduk Sumatera Utara sebesar 12.985.075 jiwa dengan penduduk laki-laki adalah 6.479.051 jiwa (49,90 persen) dan penduduk perempuan sebanyak 6.506.024 jiwa (50,10 persen). Sebagian besar penduduk berada di Kawasan Pantai Timur yang mencapai 8.068.977 jiwa (62,14 persen), Kawasan Dataran Tinggi sebanyak 2.456.964 jiwa (18,95 persen), dan Kawasan Pantai Barat sebanyak 2.458.253 jiwa (18,93 persen). Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Utara selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, 2000 – 2010, mencapai 1,01 persen pertahun, lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk pada periode 1990 – 2000, yang mencapai 1,20 persen pertahun.
Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Sumatera Utara Menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kelamin Tahun 2010
Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota
Laki - Laki Perempuan
Laki - Laki + Perempuan 1 2 3 4 1. N i a s 64 498 67 831 132 329 2. Mandailing Natal 198 623 205 271 403 894 3. Tapanuli Selatan 131 435 132 673 264 108 4. Tapanuli Tengah 156 175 154 787 310 962 5. Tapanuli Utara 137 914 140 983 278 897 6. Toba Samosir 85 969 86 964 172 933 7. Labuhan Batu 209 320 205 097 414 417 8. Asahan 335 166 332 397 667 563 9. Simalungun 407 771 410 333 818 104 10. D a I r i 134 754 135 094 269 848 11. K a r o 174 391 176 088 350 479 12. Deli Serdang 900 733 888 510 1 789 243 13. Langkat 486 567 479 566 966 133 14. Nias Selatan 144 326 145 550 289 876 15. Humbang Hasundutan 85 274 86 413 171 687 16. Pakpak Bharat 20 474 20 007 40 481 17. Samosir 59 396 60 254 119 650 18. Serdang Bedagai 297 708 295 214 592 922 19. Batu Bara 188 456 186 079 374 535
20. Padang Lawas Utara 112 098 110 951 223 049
21. Padang Lawas 111 587 111 893 223 480 22. Labuhanbatu Selatan 141 415 136 134 277 549 23. Labuhanbatu Utara 167 551 164 109 331 660 24. Nias Utara 63 107 64 423 127 530 25. Nias Barat 38 982 42 479 81 461 71. Sibolga 42 343 42 101 84 444 72. Tanjungbalai 77 873 76 553 154 426 73. Pematangsiantar 114 410 120 475 234 885 74. Tebing Tinggi 71 845 73 335 145 180 75. M e d a n 1 040 680 1 068 659 2 109 339 76. B i n j a i 122 783 123 227 246 010 77. Padangsidimpuan 93 354 98 200 191 554 78. Gunung Sitoli 61 651 63 915 125 566 Lainnya 422 459 881 Sumatera Utara 6 479 051 6 506 024 12 985 075
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara
Sebaran penduduk terbesar berada di Kota Medan yang mencapai 2.109.339 jiwa (16,24 persen dari total penduduk Sumatera Utara), disusul oleh Kabupaten Deli
Serdang yang mencapai 1.789.243 jiwa (13,78 persen), Kabupaten Langkat sebanyak 966.133 jiwa (7,44 persen), Kabupaten Simalungun sebanyak 818.104 jiwa (6,30 persen), Kabupaten Asahan sebanyak 667.563 jiwa (5,14 persen) dan Kabupaten Serdang Bedagai sebanyak 592.922 jiwa (4,57 persen). Sebaran penduduk terendah berada di Kabupaten Pakpak Bharat 0,31 persen, Kabupaten Nias Barat 0,63 persen, Kota Sibolga 0,65 persen, Kabupaten Samosir 0,92persen, Kota Gunung Sitoli 0,97 persen, dan Kabupaten Nias Utara 0,98 persen. Sedangkan sebaran penduduk yang berada di 21 (dua puluh satu) Kabupaten/Kota lainnya masing-masing di bawah 4 persen.
Dengan luas wilayah daratan yang mencapai 71.680,68 km², kepadatan penduduk Sumatera Utara pada tahun 2010 mencapai 181 jiwa per km², dengan kepadatan penduduk tertinggi berada di Kota Medan sebesar 7.957 jiwa per km², disusul oleh Kota Sibolga sebesar 7.841 jiwa per km², Kota Tebing Tinggi sebesar 3.777 jiwa per km², Kota Pematang Siantar sebesar 2.937 jiwa per km², Kota Tanjung Balai sebesar 2.510 jiwa per km², Kota Binjai sebesar 2.726 jiwa per km², dan Kota Padangsidimpuan sebesar 1.671 jiwa per km².
Kepadatan penduduk terendah berada di Kabupaten Pakpak Bharat 33 jiwa per km², Kabupaten Samosir 49 jiwa per km², Kabupaten Padang Lawas Utara 57 jiwa per km², Kabupaten Padang Lawas 57 jiwa per km², Kabupaten Tapanuli Selatan 61 jiwa per km², Kabupaten Mandailing Natal 61 jiwa per km², Kabupaten Tapanuli Utara 74 jiwa per km², Kabupaten Toba Samosir 74 jiwa per km², Kabupaten Humbang Hasundutan 75 jiwa per km², Kabupaten Nias Utara 85 jiwa per km², Kabupaten Labuhan Batu Selatan 89 jiwa per km², dan Kabupaten Labuhan Batu Utara 94 jiwa per km².
Tabel 4.2. Jumlah, Kepadatan dan Distribusi Penduduk Sumatera Utara Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2010
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk (orang) Kepadatan (orang/km2) Distribusi (persen) 1 2 3 4 1. N i a s 132 329 135 1,02 2. Mandailing Natal 403 894 61 3,11 3. Tapanuli Selatan 264 108 61 2,03 4. Tapanuli Tengah 310 962 144 2,39 5. Tapanuli Utara 278 897 74 2,15 6. Toba Samosir 172 933 74 1,33 7. Labuhan Batu 414 417 162 3,19 8. Asahan 667 563 182 5,14 9. Simalungun 818 104 187 6,30 10. D a i r i 269 848 140 2,08 11. K a r o 350 479 165 2,70 12. Deli Serdang 1 789 243 720 13,78 13. Langkat 966 133 154 7,44 14. Nias Selatan 289 876 178 2,23 15. Humbang Hasundutan 171 687 75 1,32 16. Pakpak Bharat 40 481 33 0,31 17. Samosir 119 650 49 0,92 18. Serdang Bedagai 592 922 310 4,57 19. Batu Bara 374 535 414 2,88
20. Padang Lawas Utara 223 049 57 1,72
21. Padang Lawas 223 480 57 1,72 22. Labuhanbatu Selatan 277 549 89 2,14 23. Labuhanbatu Utara 331 660 94 2,55 24. Nias Utara 127 530 85 0,98 25. Nias Barat 81 461 150 0,63 71. Sibolga 84 444 7 841 0,65 72. Tanjungbalai 154 426 2 510 1,19 73. Pematangsiantar 234 885 2 937 1,81 74. Tebing Tinggi 145 180 3 777 1,12 75. M e d a n 2 109 339 7 957 16,24 76. B i n j a i 246 010 2 726 1,89 77. Padangsidimpuan 191 554 1 671 1,48 78. Gunung Sitoli 125 566 268 0,97 Lainnya 881 - 0,01 Sumatera Utara 12 985 075 181 100,00
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, secara umum kinerja perekonomian Provinsi Sumatera Utara pada 5 tahun terakhir, 2005-2010, menunjukkan keadaan yang menggembirakan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2010 yang mencapai 6,35 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi tahun 2009 yang mencapai 5,07 persen.
Pada tahun 2009, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, dan Kabupaten Batubara merupakan kabupaten/kota yang memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan nilai PDRB atas dasar harga berlaku Sumatera Utara masing-masing sebesar 30,84 persen, 14,50 persen, 6,28 persen, dan 6,16 persen, sedangkan Kabupaten/Kota lainnya masing-masing Kabupaten Asahan sebesar 4,43 persen, Kabupaten Simalungun sebesar 3,91 persen, Kabupaten Serdang Bedagai 3,60 persen, Kabupaten Labuhanbatu 2,83 persen, Kabupaten Labuhanbatu Utara 2,67 persen, Kabupaten Karo 2,40 persen, Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2,32 persen, Kota Binjai 1,83 persen, Kota Pematangsiantar 1,59 persen, Kabupaten Mandailing Natal 1,49 persen, Kabupaten Dairi 1,44 persen, Kabupaten Tapanuli Utara 1,44 persen, Kabupaten Toba Samosir 1,30 persen, Kabupaten Tapanuli Selatan 1,17 persen, dan Kota Tanjungbalai 1,17 persen, Kabupaten Humbang Hasundutan 0,93 persen, Kota Tebing Tinggi 0,86 persen, Kabupaten Nias Selatan 0,86 persen, Kabupaten Tapanuli Tengah 0,84 persen, Kota Padangsidimpuan 0,81 persen, Kota Gunung Sitoli 0,75 persen, Kabupaten Samosir 0,64 persen, Kabupaten Padang Lawas Utara 0,60 persen, Kota Sibolga 0,58 persen, Kabupaten Padang Lawas 0,57
persen, Kabupaten Nias Utara 0,42 persen, Kabupaten Nias 0,42 persen, Kabupaten Nias Barat 0,21 persen, dan Kabupaten Pakpak Bharat 0,12 persen.
Tabel 4.3. PDRB Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Tahun 2007 – 2009 (dalam milyar rupiah)
Kabupaten/Kota 2007 2008 2009 1 2 3 4 1. N i a s 3 181,87 3 666,95 982,25 2. Mandailing Natal 2 603,79 3 012,04 3 502,98 3. Tapanuli Selatan 4 598,18 2 558,43 2 761,51 4. Tapanuli Tengah 1 616,00 1 796,33 1 987,16 5. Tapanuli Utara 2 729,50 3 126,12 3 392,63 6. Toba Samosir 2 414,62 2 744,39 3 056,05 7. Labuhanbatu 14 371,16 16 626,18 6 658,79 8. Asahan 8 174,12 9 505,60 10 435,94 9. Simalungun 7 647,49 8 412,30 9 221,62 10. D a i r i 2 860,20 3 116,74 3 392,99 11. K a r o 4 483,32 5 058,68 5 646,54 12. Deli Serdang 26 041,99 30 116,83 34 172,48 13. Langkat 11 455,32 13 243,64 14 786,58 14. Nias Selatan 1 692,13 1 854,54 2 031,68 15. Humbang Hasundutan 1 727,28 1 983,03 2 189,65 16. Pakpak Bharat 231,07 258,92 290,30 17. Samosir 1 287,46 1 392,38 1 519,32 18. Serdang Bedagai 6 249,01 7 472,75 8 490,36 19. Batubara 11 449,67 13 191,96 14 517,23
20. Padang Lawas Utara x 1 271,66 1 424,47
21. Padang Lawas x 1 214,72 1 424,47 22. Labuhanbatu Selatan x x 5 472,19 23. Labuhanbatu Utara x x 6 284,98 24. Nias Utara x x 998,84 25. Nias Barat x x 506,34 26. Sibolga 1 075,26 1 235,09 1 361,12 27. Tanjungbalai 2 229,50 2 480,13 2 754,81 28. Pematangsiantar 3 094,56 3 464,69 3 746,22 29. Tebing Tinggi 1 610,17 1 823,67 2 032,88 30. M e d a n 55 452,50 65 316,26 72 666,89 31. B i n j a i 3 311,29 3 815,25 4 312,46 32. Padangsidimpuan 1 511,82 1 744,26 1 899,01 33. Gunung Sitoli x x 1 775,10 Sumatera Utara 181 819,74 213 931,70 236 353,62
Sumber: BPS Provinsi Sumatera Utara
Kinerja perekonomian Sumatera Utara pada tahun 2010 bila dibandingkan dengan tahun 2009, yang digambarkan oleh PDRB atas dasar harga konstan 2000, mengalami peningkatan sebesar 6,35 persen. Peningkatan ini didukung oleh pertumbuhan positif pada semua sektor ekonomi. Sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan merupakan sektor yang berhasil mencapai pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 10,78 persen dibanding dengan sektor perekonomian lainnya. Disusul oleh sektor pengangkutan dan komunikasi 9,44 persen, sektor listrik, gas, dan air bersih 7,06 persen, sektor bangunan 6,77 persen, sektor jasa-jasa 6,77 persen, dan sektor perdagangan, hotel, dan restoran 6,51 persen. Sedangkan 3 (tiga) sektor perekonomian lainnya hanya berhasil tumbuh dibawah 6 persen.
Pada tahun 2010 PDRB Sumatera Utara atas dasar harga berlaku mencapai Rp.275,70 triliun, sedangkan berdasar atas dasar harga konstan 2000 tercapai sebesar Rp.118,64 triliun. Atas dasar harga berlaku, sektor ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bruto yang terbesar pada tahun 2010 adalah sektor industri pengolahan sebesar Rp.63,29 triliun, disusul oleh sektor pertanian sebesar Rp.63,18 triliun, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp.52,38 triliun, sektor jasa-jasa sebesar Rp.29,81 triliun, sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar Rp.24,91 triliun, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan sebesar Rp.18,20 triliun, dan sektor bangunan sebesar Rp.17,52 triliun. Sektor ekonomi lainnya yaitu sektor pertambangan dan penggalian menghasilkan nilai tambah bruto sebesar Rp.3,79 triliun, dan sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar Rp.2,61 triliun.
Pada tahun 2010, sektor industri pengolahan masih mendominasi struktur PDRB Sumatera Utara sebesar 22,96 persen, diikuti oleh sektor pertanian yaitu 22,92
persen, sektor perdagangan, hotel, dan restoran 19,00 persen, sektor jasa-jasa 10,81 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 9,03 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 6,60 persen, sektor bangunan 6,35 persen, sektor pertambangan dan penggalian 1,37 persen, dan sektor listrik, gas, dan air bersih 0,95 persen.
Pada tahun 2010, komponen impor barang dan jasa bila dibandingkan dengan tahun 2009, merupakan komponen penggunaan yang mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 14,44 persen, atau dari Rp.42,69 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.48,85 triliun pada tahun 2010. Disusul oleh konsumsi pemerintah 11,00 persen atau dari Rp.10,36 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.11,50 triliun pada tahun 2010. Komponen ekspor barang dan jasa meningkat 10,29 persen atau dari Rp.51,85 triliun menjadi Rp.57,19 triliun. Komponen konsumsi rumah tangga meningkat 8,24 persen, atau dari Rp.68,47 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.74,12 triliun pada tahun 2010. Komponen pembentukan modal tetap bruto naik 4,95 persen, dari Rp.22,31 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.23,41 triliun pada tahun 2010. Komponen konsumsi nirlaba naik 4,35 persen, atau dari Rp.538,71 miliar pada tahun 2009 menjadi Rp.562,15 miliar pada tahun 2010. Komponen perubahan stok mengalami kontraksi sebesar 0,66 persen, atau dari Rp.705,29 miliar pada tahun 2009 menurun menjadi Rp.700,65 miliar pada tahun 2010.
Atas dasar harga berlaku, komponen konsumsi rumah tangga naik dari Rp.138,63 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.166,55 triliun pada tahun 2010, atau naik 20,14 persen. Komponen konsumsi nirlaba atas dasar harga berlaku juga naik dari Rp.1,04 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.1,10 triliun pada tahun 2010, atau
naik 6,17 persen. Komponen konsumsi pemerintah atas dasar harga berlaku meningkat dari Rp.24,29 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.29,29 triliun pada tahun 2010, atau meningkat 20,60 persen.
Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atas dasar harga berlaku mengalami peningkatan dari Rp.49,98 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.57,01 triliun pada tahun 2010, atau naik 14,07 persen.
Nilai ekspor barang dan jasa atas dasar harga berlaku naik dari Rp.92,96 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.108,40 triliun pada tahun 2010, atau naik 16,61 persen. Nilai impor barang dan jasa Sumatera Utara atas dasar harga berlaku meningkat dari Rp.71,63 triliun pada tahun 2009 menjadi Rp.87,80 triliun pada tahun 2010, atau naik 22,58 persen.
Komponen konsumsi rumah tangga pada tahun 2010 masih mendominasi pembentukan nilai PDRB atas dasar harga berlaku Sumatera Utara, dengan 60,41 persen. Disusul oleh komponen pembentukan modal tetap bruto 20,68 persen, komponen konsumsi pemerintah 10,62 persen, komponen ekspor barang dan jasa netto 7,47 persen (ekspor barang dan jasa 39,32 persen dan impor barang dan jasa 31,85 persen), perubahan stok 0,41 persen, dan konsumsi nirlaba 0,40 persen.
Terhadap besarnya sumbangan masing-masing sektor perekonomian dalam menciptakan laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara pada tahun 2010 sebesar 6,35 persen, sektor pertanian memberikan sumbangan sebesar 1,21 persen, disusul sektor perdagangan, hotel dan restoran 1,20 persen, sektor industri pengolahan 1,01 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 0,90 persen, sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan 0,77 persen, sektor jasa-jasa 0,68 persen, sektor
bangunan 0,46 persen, sektor pertambangan dan penggalian 0,07 persen, dan sektor listrik, gas dan air bersih 0,05 persen.
4.1.5. Visi Provinsi Sumatera Utara
Visi Sumatera Utara sebagaimana telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009 - 2013, merupakan gambaran, sikap mental dan cara pandang jauh ke depan mengenai organisasi sehingga organisasi tersebut tetap eksis, antisipatif dan inovatif. Berdasarkan kondisi dan tantangan yang akan dihadapi Sumatera Utara, serta dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki, maka Visi Pembangunan Sumatera Utara Tahun 2009 – 2013 adalah: “SUMATERA UTARA YANG MAJU DAN SEJAHTERA DALAM HARMONI KEBERAGAMAN”.
Untuk memberikan kejelasan tentang makna yang terkandung dalam visi tersebut, uraian identitas masyarakat Sumatera Utara yang didambakan adalah sebagai berikut:
1) Sumatera Utara Yang Maju bermakna masyarakatnya berpengetahuan dan sadar akan kebutuhan secara individual atau kelompok, serta menggunakan akal sehat dapat mengikuti dan menyesuaikan dengan perkembangan nasional dan global, namun tetap mempertahankan ciri dan identitas masyarakat Sumatera Utara yang majemuk serta bijaksana menghargai adat.
2) Sumatera Utara Yang Sejahtera adalah masyarakat yang terpenuhinya kebutuhan secara lahir dan batin berdasarkan keperluan baik individu maupun kelompok yang dipenuhi secara tertib berdasarkan program. Melalui pelaksanaan visi ini
diharapkan akan terwujud derajat kehidupan penduduk Sumatera Utara yang sehat, layak dan manusiawi.
3) Sumatera Utara Dalam Harmoni Keberagaman bermakna terbentuknya kesesuaian dan keharmonisan masyarakat yang beragam di mana hak, kesempatan dan keragaman tersebut diberikan untuk dapat dinikmati bersama dan adil oleh setiap kelompok dalam masyarakat di Sumatera Utara.
4.1.6. Misi Provinsi Sumatera Utara
Untuk merealisasikan visi dan memberi arah dan tujuan yang akan diwujudkan, dan memberikan fokus terhadap program yang akan dilaksanakan, serta menumbuhkan sense of participation and sense of belonging masyarakat Sumatera
Utara, telah ditetapkan Misi Sumatera Utara sebagai berikut:
1) Mewujudkan Sumatera Utara Yang Maju, Aman, Bersatu, Rukun dan Damai Dalam Kesetaraan, bermakna bahwa untuk mewujudkan kondisi sumatera yang maju, aman, bersatu, rukun dan damai dalam kesetaraan maka arah kebijakan pembangunan kedepannya difokuskan kepada mewujudkan pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan yang ditopang oleh peningkatan daya guna dan daya hasil yang lebih maksimal dari berbagai sektor– sektor potensial seperti bidang pertanian, kehutanan, industri, usaha kecil dan menengah dan pariwisata.
2) Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Mandiri dan Sejahtera dan Berwawasan Lingkungan, bermakna bahwa untuk mewujudkan kondisi masyarakat Sumatera Utara yang mandiri dan sejahtera maka arah kebijakan pembangunan kedepannya difokuskan pada pemenuhan kebutuhan – kebutuhan
dan hak – hak dasar masyarakat serta meningkatkan kepekaaan sosial melalui pengembangan berbagai program yang lebih menyentuh kepada kebutuhan masyarakat terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan, yang berlandaskan pada pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
3) Mewujudkan Sumatera Utara yang Berbudaya, Religius Dalam Keberagaman, bermakna bahwa untuk mewujudkan kondisi Sumatera Utara yang berbudaya, religius dalam keberagaman maka arah kebijakan pembangunan kedepannya difokuskan kepada kebijakan–kebijakan yang mampu menciptakan suasana kehidupan intern dan antar umat yang saling menghormati dalam rangka menciptakan suasana yang aman dan damai serta menyelesaikan dan mencegah konflik antar umat beragama serta meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan beragama bagi seluruh lapisan masyarakat agar dapat memperoleh hak–hak dasar dalam memeluk agamanya masing–masing dan beribadah sesuai agama dan kepercayaannya.
4) Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Partisipatif dan Peduli terhadap Proses Pembangunan, bermakna bahwa untuk mewujudkan kondisi pemberdayaan masyarakat demi menciptakan masyarakat yang mandiri arah kebijakan pembangunan kedepannya diarahkan kepada: penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling); memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering) serta melindungi kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, dan mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang serta eksplotasi yang kuat atas yang lemah.