Kota Pekanbaru
Letak Geografis dan Batas Administrasi
Kota Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau, secara geografis terletak antara koordinat 101°14’ dan 101°34’ BT dan 0°25’ dan 0°45’ LU. Secara administrasi wilayah Kota Pekanbaru berbatasan langsung dengan (BPS 2011): Sebelah Utara : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar
Sebelah Selatan : Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan Sebelah Timur : Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan Sebelah Barat : Kabupaten Kampar
Luas keseluruhan wilayah Kota Pekanbaru 632,26 km2 terdiri dari 12 kecamatan dan 58 kelurahan (Gambar 6). Pembagian daerah administrasi Kota Pekanbaru disajikan pada Tabel 7
Tabel 7 Pembagian administrasi Kota Pekanbaru menurut Kecamatan Tahun 2011
Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Jumlah Kelurahan Jumlah RW Jumlah RT 1.Tampan 59,81 4 54 304 2. Payung Sekaki 43,24 4 38 164 3. Bukit Raya 22,05 4 56 230 4. Marpoyan Damai 29,74 5 70 300 Sumber: PKP (2012)
24
Kecamatan Luas Wilayah (Km2) Jumlah Kelurahan Jumlah RW Jumlah RT 5.Tenayan Raya 171,27 4 92 366 6. Lima Puluh 4,04 4 30 123 7. Sail 3,26 3 18 75 8. Pekanbaru Kota 2,26 6 40 125 9. Sukajadi 3,76 7 38 148 10. Senapelan 6,65 6 42 154 11. Rumbai 128,85 5 48 200 12. Rumbai Pesisir 157,33 6 66 281 Jumlah 632,26 58 592 2.470
Sumber: BPS Kota Pekanbaru (2012)
Klimatologi
Pada umumnya Kota Pekanbaru beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 30,5° C sampai 33,7° C dan suhu minimum berkisar antara 21,6° C sampai 23,9° C dengan kelembapan udara berkisar antara 69% dan 81%. Selama tahun 2011 curah hujan di wilayah Kota Pekanbaru menunjukkan hujan sebesar 26,1 - 341,4 mm, dengan keadaan musim hujan jatuh pada bulan Januari sampai dengan April dan September sampai dengan Desember. Sedangkan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan Agustus (BPS 2012).
Topografi
Kota Pekanbaru terletak pada ketinggian rata-rata 5 meter di atas permukaan air laut, hanya daerah-daerah tertentu yang letaknya lebih tinggi dari ketinggian rata-rata, yaitu daerah di sekitar Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II dengan ketinggian 26 meter di atas permukaan air laut dan di bagian utara dan timur Kota Pekanbaru. Topografi di Kota Pekanbaru berdasarkan kelas kelerengan dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu:
0 % - 2 % : merupakan wilayah yang datar 2 % - 15 % : landai sampai berombak
15 % - 40 % : berombak sampai bergelombang di atas 40 % : bergelombang sampai berbukit
Secara umum kondisi wilayah Kota Pekanbaru merupakan dataran rendah dengan kemiringan lereng 0 - 2 persen. Beberapa wilayah di bagian utara dan timur memiliki morfologi bergelombang dengan kemiringan di atas 40 persen. Ditinjau dari kondisi topografi wilayah perencanaan Kota Pekanbaru, kelerengan 0-20 persen sampai dengan 2-15 persen mencakup luasan yang cukup besar yaitu 566,56 Ha atau 89,61 persen dari luas wilayah secara keseluruhan (PKP 2001). Hidrologi
Sungai Siak merupakan sungai terbesar yang membelah kota Pekanbaru, mengalir dari barat ke timur, serta memiliki anak sungai antara lain: Sungai Umban Sari, Air Hitam, Sibam, Setukul, Pengambang, Ukai, Sago, Limau, Senapelan, Mintan dan Tampan. Sungai Siak juga merupakan jalur perhubungan
25 lalu lintas perekonomian rakyat pedalaman ke kota serta daerah lainnya (BPS 2012). Sungai Siak juga berstatus sebagai sungai strategi nasional, yang menghubungkan Riau dengan luar negeri.
Geologi
Struktur geologi Kota Pekanbaru terdiri atas Formasi Minas yang dikelilingi oleh aluvium muda sepanjang aliran Sungai Siak dan Aluvium tua yang berawa- rawa. Formasi Minas ini terdiri dari kerikil, sebaran kerakal, pasir dan lempung yang juga merupakan alluvium namun relatif lebih terkonsolidasi (PKP 2001). Tata Guna Lahan
Lebih dari setengah luas total Kota Pekanbaru didominasi oleh lahan-lahan terbangun yang semakin padat. Dengan pertambahan penduduk sebesar 4,47% dalam periode tahun 2010-2011 membuat semakin banyak lahan yang digunakan sebagai permukiman (BPS 2012). Rencana penggunaan lahan kota Pekanbaru tahun 2007-2026 disajikan dalam Tabel 8 dan Gambar 7.
Tabel 8 Rencana penggunaan lahan Kota Pekanbaru Tahun 2007-2026
No Jenis Penggunaan Total (Ha) %
I Kawasan Budidaya 32.531,51 51,45
1 Kawasan Permukiman 22.521,46 35,62
2 Kawasan Perdagangan 1.781,39 2,82
3 Kawasan Perkantoran 207,18 0,33
4 Kawasan Perkantoran dan Jasa 85,57 0,14
5 Kawasan Industri 3.316,48 5,25
6 Kawasan Pergudangan 227,79 0,36
7 Kawasan Pendidikan 667,34 1,06
8 Kawasan Militer 32,13 0,05
9 Kawasan Sport Centre 206,29 0,33
10 Kawasan Wisata 222,36 0,35
11 Kawasan AKAP 297,12 0,47
12 Komplek Caltex 977,01 1,55
13 Kawasan Bandara 1.816,22 2,87
14 Pusat Kegiatan Budaya Melayu 11,85 0,02
15 Kawasan Mesjid Agung 14,17 0,02
16 Kawasan Payung Sekaki 147,14 0,23
II Kawasan Lindung 30.050,58 47,53
1 Perlindungan Daerah Bawahan 12.356,47 19,54
2 Kawasan Lindung Setempat 17.680,58 27,96
3 Kawasan Cagar Budaya 13,53 0,02
III LAIN – LAIN 643,91 1,02
Total 63,226.00 100,00
26
Penggunaan sebagai kawasan budidaya seluas 32.531,51 Ha atau 51,45% dari luas total wilayah Kota Pekanbaru (63,226 Ha). Penggunaan sebagai kawasan lindung seluas 30,050.58 Ha atau 47.53% dan penggunaan lainnya seluas 643.91 Ha (PKP 2006). Penggunaan lahan Kota Pekanbaru tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Penggunaan lahan Kota Pekanbaru Tahun 2009
No Jenis Penggunaan Total (Ha) %
I Lahan Pertanian 30.023,00 47,49
II Lahan Bukan Pertanian 33.203,00 52,51
1 Rumah, Bangunan dan Halaman 22.689,00 35,88
2 Hutan Negara 1.000,00 1,58
3 Rawa-Rawa 4.127,00 6,53
4 Lainnya (Jalan, Sungai, Danau, dll) 5.387,00 8,52
Total 63.226,00 100,00
Sumber: BPS 2011
Demografi
Jumlah penduduk Kota Pekanbaru dari 12 kecamatan pada tahun 2010 sebanyak 897.768 jiwa dan tahun 2011 sebanyak 937.939 jiwa, dimana jumlah penduduk dari tahun 2010 ke tahun 2011 mengalami pertambahan sebanyak 40.171 jiwa (4,47%) yang disajikan dalam Tabel 10. Kepadatan penduduk terbesar adalah di Kecamatan Sukajadi yakni 12.710 jiwa setiap km2, sedangkan yang terkecil di Kecamatan Rumbai Pesisir yaitu 430 jiwa setiap km2 (BPS 2012).
Sumber: PKP (2006)
27 Aksesibilitas
Prasarana jalan sangat penting bagi kelancaran arus lalu lintas dalam menunjang perekonomian Kota Pekanbaru. Panjang jalan Kota Pekanbaru pada tahun 2010 adalah 2.616,89 kilometer (BPS 2012). Jalan-jalan dalam Kota Pekanbaru berstatus jalan negara, jalan provinsi, dan jalan kota dalam kondisi baik.
Tabel 10 Luas daerah dan jumlah penduduk menurut Kecamatan Tahun 2011
Kecamatan Luas Wilayah
(Km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Pddk (Jiwa/Km2) 1.Tampan 59,81 179.470 3.000,67 2. Payung Sekaki 43,24 90.991 2.104,32 3. Bukit Raya 22,05 97.094 4.403,36 4. Marpoyan Damai 29,74 130.244 4.379,42 5.Tenayan Raya 171,27 130.236 760,41 6. Lima Puluh 4,04 41.971 10.388,86 7. Sail 3,26 21.796 6.685,89 8. Pekanbaru Kota 2,26 25.764 11.400,00 9. Sukajadi 3,76 47.791 12.710,37 10. Senapelan 6,65 37.004 5.564,51 11. Rumbai 128,85 67.915 527,09 12. Rumbai Pesisir 157,33 67.663 430,07 Jumlah 632,26 937.939 1.483,47
Sumber: BPS Kota Pekanbaru (2012)
Kawasan Kecamatan Senapelan
Letak Geografis dan Batas Administratif Kawasan
Letak geografis Kecamatan Senapelan antara 101°14’ dan 101°34’ BT dan 0°25’ dan 0°45’ LU dan secara administrasi Kecamatan Senapelan berbatasan langsung dengan (Gambar 8):
Sebelah Barat : Kecamatan Payung Sekaki
Sebelah Timur : Kecamatan Lima Puluh dan Pekanbaru Kota
Sebelah Selatan : Kecamatan Sukajadi dan Kecamatan Payung Sekaki Sebelah Utara : Kecamatan Rumbai dan Kecamatan Rumbai Pesisir Kondisi Kependudukan Kecamatan Senapelan
Berdasarkan data BPS Kota Pekanbaru tahun 2012, populasi penduduk di Kecamatan Senapelan dari enam kelurahan adalah 36.114 jiwa dari total luas kecamatan 6.65 Km2 dan kepadatan penduduk sekitar 5.431Km2 (Tabel 11). Dibandingkan dengan kecamatan lain dalam Kota Pekanbaru, kepadatan penduduk di Kecamatan Senapelan tergolong sedang.
28
Tabel 11 Kepadatan penduduk di Kecamatan Senapelan
Kelurahan Luas Wilayah (Km2) Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Pddk (Jiwa/Km2) 1. Padang Bulan 1,59 9.822 6.177 2. Padang Terubuk 1,54 7.870 5.110 3. Sago 0,68 2.038 2.997 4. Kampung Dalam 0,68 2.873 4.225 5.Kampung Bandar 1,19 4.198 3.528 6. Kampung Baru 0,97 9.313 9.601 Jumlah 6,65 36.114 5.431
Sumber : Kecamatan Senapelan Dalam Angka (2012)
Kegiatan Perekonomian di Kawasan Bandar Senapelan
Menurut Suwardi (2006), Kawasan Bandar Senapelan pada masa lalu merupakan pusat kegiatan perekonomian atau Pekan yang didirikan oleh Raja Kerajaan Siak Sri Indrapura ke V dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah tahun 1784. Letak Senapelan yang strategis dan kondisi Sungai Jantan (Sungai Siak) yang tenang dan dalam, telah menyebabkan Senapelan memegang posisi silang. Sehingga, daerah ini menjadi tempat pertemuan antara pedagang-pedagang yang datang dari Selat Melaka dengan pedagang-pedagang yang datang dari Minangkabau dan Petapahan.
Saat ini kawasan Bandar Senapelan yang terletak di Kecamatan Senapelan masih tetap sebagai pusat kegiatan perekonomian di Kota Pekanbaru (Gambar 9). Kegiatan ekonomi di daerah ini yaitu pusat perbelanjaan wisata Pasar Bawah, pusat jual beli barang bekas, pertokoan, pelabuhan, dan lain sebaginya.
29
Kegiatan Sosial Budaya
Kegiatan-kegiatan sosial budaya di daerah ini yang masih tetap berlangsung yaitu festival kebudayaan berupa upacara ritual petang megang (mandi bersama- sama disungai) yang diselenggarakan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, festival lampu colok, dan ziarah makam pendiri Pekanbaru menjadi daya tarik potensi wisata budaya di Kecamatan Senapelan, Pekanbaru. Kawasan Bandar Senapelan sendiri saat ini tidak hanya didiami oleh masyarakat yang berdarah Melayu, namun daerah ini juga telah menjadi tempat percampuran sosial atau percampuran masyarakat dari berbagai suku bangsa yang menetap dan bermukim.
Penggunaan Lahan Kecamatan Senapelan
Rencana penggunaan lahan Kota Pekanbaru dalam RTRW tahun 2007- 2026, Kawasan Cagar Budaya berada di Kecamatan Senapelan dengan luas 13,53 Ha. Berdasarkan data Kecamatan Senapelan dalam Angka 2012, penggunaan lahan di Kecamatan Senapelan terdapat dua jenis yang disajikan dalam Tabel 12. Tabel 12 Penggunaan lahan Kecamatan Senapelan Tahun 2011
Kelurahan Jenis Penggunaan Lahan (Ha)
Tanah Kering Bangunan/Pekarangan
1. Padang Bulan 24,00 135,00
2. Padang Terubuk 31,00 123,00
3. Sago 8,50 59,50
(a) Kegiatan usaha jual barang bekas dan besi tua
(b) Pusat perbelanjaan Pasar Bawah
(c) Pertokoan
30
4. Kampung Dalam 5,50 62,50
5.Kampung Bandar 22,50 96,50
6. Kampung Baru 12,00 85,00
Jumlah 103,50 561,50
Sumber : Kecamatan Senapelan Dalam Angka (2012)
Sejarah Perkembangan Lanskap Kota Pekanbaru
Masa Kebatinan Senapelan
Kota Pekanbaru memiliki sejarah yang panjang sebelum menjadi kota yang berpengaruh di Riau. Kota Pekanbaru banyak mengalami perubahan pada bentukan lanskap dan kehidupan sosial masyarakat di dalamnya. Terbentuknya Kota Pekanbaru tidak lepas dari keberadaan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Sebelum adanya Kerajaan Siak Sri Indrapura, Kota Pekanbaru adalah sebuah kampung yang dikenal dengan nama Senapelan. Kampung ini terletak di pinggir Sungai Siak, yang dihuni oleh kumpulan masyarakat yang disebut Suku Senapelan. Suku ini dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut Batin (Suwardi 2006).
Sebelum berdirinya Kampung Payung Sekaki, perkampungan pertama yang didirikan suku ini bernama Kampung Palas. Namun, Kampung ini tidak bertahan lama. Kampung ini berpindah tempat dikarenakan sering mendapat gangguan dari daerah Tapung. Batin Senapelan mencari tempat yang baik untuk lokasi perkampungan baru. Lokasi perkampungan ini terletak lebih tinggi dari permukaan air (Gambar 10). Kampung baru ini diberi nama Payung Sekaki, asal usul nama ini lahir karena di daerah tersebut terdapat sebatang pohon sena yang rindang dan tinggi, yang dari jauh terlihat menyerupai Payung Sekaki.
Kampung baru ini terletak di muara anak Sungai Siak yang kemudian dinamakan sesuai dengan nama suku tersebut, yaitu Sungai Senapelan. Kampung Payung Sekaki ini diperkirakan berdiri sekitar abad ke-15 Masehi. Namun, nama Payung Sekaki ini tidak begitu dikenal dan yang lebih dikenal adalah nama Senapelan bahkan dikenal sampai ke Malaka dan Johor (Suwardi 2006).
Senapelan Menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura
Kerajaan Siak didirikan oleh Raja Kecil yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah yang merupakan putera Sultan Mahmud Syah II Sultan Johor ke-10 pada tahun 1723 dengan pusat pemerintahan yang pertama di Buantan. Kerajaan Siak telah mengalami empat kali perpindahan pusat pemerintahan. Pusat pemerintahan pertama kali didirikan di buantan yang merupakan kawasan yang terletak di pinggir Sungai Buantan (anak Sungai Siak); kemudian yang kedua dari Buantan pindah ke Mempura yang merupakan kawasan Kota Siak pada saat ini; dan yang ketiga kemudian pindah ke Senapelan (Pekanbaru) yang kini merupakan ibukota Provinsi Riau; serta yang keempat kembali lagi ke Mempura dan akhirnya menetap disana sampai berakhirnya masa pemerintahan sultan yang terakhir. Perpindahan pusat kerajaan ini dikarenakan perebutan kekuasan diantara sesama pembesar Kerajaan (Rijal 2002). Proses perpindahan Kerajaan Siak dapat dilihat pada Gambar 11.
31
Pemindahan pusat pemerintahan kerajaan dilaksanakan sekitar awal tahun 1762 (Lutfi 1977). Sudah menjadi adat istiadat raja-raja Melayu pada masa itu, pemindahan pusat kerajaan diikuti dengan pembangunan istana raja, balai kerapatan, dan mesjid. Ketiga unsur itu wajib dibangun sebagai lambang persahabatan pemerintah, adat, dan ulama (agama), pada masa itu disebut “tali berpilin tiga” yang artinya tali berpintal tiga. Adat inipun yang tetap diberlakukan ketika Sultan Alamuddin pindah ke Bukit Senapelan. Ia membangun istana, balai kerapatan, dan masjid di kawasan Bukit Senapelan (Zein 1999).
Dikarenakan daerah perladangan suku Senapelan lebih banyak berada di Palas dan merasa canggung berdekatan dengan sultan, sejak itu Batin Senapelan memindahkan kembali perkampungannya ke Palas. Sewaktu berada di Petapahan, Sultan Alamuddin Syah melihat bagaimana ramainya perdagangan di daerah itu yang merupakan pasar besar di pedalaman Sumatera. Di mana daerah tersebut merupakan tempat para pedagang-pedagang dari pedalaman Lima Koto dan Minangkabau menjadi tujuan mereka untuk membawa barang dagangannya untuk ditukar dengan barang-barang yang dibawah oleh pedagang dari luar. Keadaan tersebut menimbulkan ide bagi Sultan untuk memotong jalur lintas perdagangan dengan membangun pasar di Senapelan. Tetapi belum sempat pekan ini berkembang, akhir tahun 1765 atau memasuki awal tahun 1766, Sultan meninggal dunia. Beliau dimakamkan tidak jauh dari istananya yaitu di Kampung Bukit. Karena itu beliau disebut Marhum Bukit.
Sumber: Ghalib (1980), digambar ulang oleh penulis sesuai dengan dokumen primernya.
32
Pasar tandingan yang dibangun oleh Sultan Alamudinsyah kurang begitu berhasil. Kebijakan ini dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu puteranya sendiri Raja Muhammad Ali dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazam Syah. Selama Sultan Muhammad Ali memerintah beliau tetap berkedudukan di Senapelan. Usaha mengembangkan pekan itu berjalan lambat, lokasi dipindahkan ke tempat yang baru yaitu di pelabuhan sekarang. Menurut Catatan Imam Suhil Siak, bahwa pekan yang baru itu resmi didirikan sejak hari Selasa 21 Rajab 1204 H bersamaan dengan 23 Juni 1784 M, sejak itu nama Senapelan sudah ditinggalkan berganti dengan Pekan “Baharu”, atau lebih dikenal tulisannya
“Pekan Baru”. Bertitik tolak dari tanggal, hari dan bulan tersebut lahirlah Kota Pekanbaru (Suwardi 2006). Sejak itu hubungan Pekanbaru dengan pedalaman semakin ramai. Pekanbaru semakin ramai dan menjadi tempat pertemuan pedagang-pedagang dari Selat Melaka, Minangkabau, Petapahan. Perkembangan daerah ini, kemudian mengarah agak ke hilir Sungai Siak, yaitu di Teluk Limau dimana Datuk Syahbandar Ahmad memindahkan rumahnya serta perkampungan anak cucunya sepanjang sungai dan perkampungan ini disebut Kampung Dalam. Menjadi Propinsi Negeri Pekanbaru
Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim I (1864-1889), beliau mengadakan perubahan terhadap struktur kerajaannya (Suwardi 2006). Untuk itu disusun suatu peraturan yang disebut Babul Qawa’id (Pintu Segala Pegangan). Menurut kitab Babul Qawa’id, Kerajaan Siak dibagi menjadi 10 propinsi, salah satunya adalah propinsi Pekanbaru. Khusus watasan (Batasan) propinsi Negeri Pekanbaru dari Sungai Lukut mengikuti sebelah kanan mudik Sungai Siak sampai Kuala Tapung Kanan dan Sungai Pendanau sebelah kiri mudik Sungai Siak
Sumber: Rijal (2002)
33 sampai ke Kuala Tapung Kiri dan naik ke darat lalu ke Teratak Buluh dan ketiga kampung, yaitu Lubuk Siam, Buluh Cina, dan Buluh Nipis sehingga sampai ke Tanjung Muara Sako watasan dengan Pelalawan dan sampai ke Pematang Bangkinang watasan Kampar Kiri di negeri Gunung Sahilan dan sampai Sungai Air Gemuruh Tanjung Pancuran Batang watasan dengan negeri Tambang dan sebelah darat sampai berwatasan dengan negeri Kampar Kanan dan Lima Koto.
Propinsi Negeri Pekanbaru dikepalai oleh Datuk Syahbandar yang mempunyai kewenangan sebagai kepala pemerintahan, kehakiman dan kepolisian. Disampingnya berfungsi pula seorang Imam yang menjadi hakim syariah serta mengurus hal-hal yang menyangkut bidang keagamaan (Islam) termasuk zakat. Dalam garis vertikal ke bawah terdapat penghulu, kepala suku, dan batin. Kekuasaan mereka sebagai mengepalai suku (Clan). Batin Senapelan berwewenang dari Senapelan sampai ke Palas. Kedudukan Pekanbaru sebagai ibu Kota Propinsi sampai tahun 1916.
Pekanbaru pada Masa Kolonial Belanda
Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim (1889-1908) yang merupakan putera Sultan Syarif Kasim I, lingkungan pekan (pasar) terus mengalami perkembangan dengan ditandai berdirinya bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu. Sultan sendiri membuat kedai di sekitar pekan yang menurut keterangan jumlahnya 100 pintu (Suwardi 2006). Perkembangan kota dan pesatnya perdagangan di Pekanbaru berpengaruh kepada perkembangan jumlah penduduknya. Kampung Dalam sudah tidak dapat lagi menampung jumlah penduduk dimana orang lebih suka membangun rumah di pinggir sungai (Gambar 12). Sehingga di adakan pula perkampungan baru di sebelah hulu pekan dan dinamakan Kampung Baru. Dan pada masa pemerintahan Sultan Hasyim mulai masuk pengusaha-pengusaha Belanda ke Pekanbaru. Pengusaha Belanda tersebut membuka perkebunan karet, dimana perkebunan tersebut berada di sebelah selatan Kota Pekanbaru, yaitu perkebunan karet “Onderneming Sukadjadi” dan “Onderneming Tjinta Radja” (Gambar 13).
Dibukanya lahan perkebunan karet ini telah mendorong rakyat untuk membuka pula tanah perkebunan berbatasan dengan perkampungan tempat tinggal penduduk. Kebun-kebun karet rakyat terdapat di Kampung Dalam, Kampung Bukit, Kampung Baru dan di kampung-kampung yang berada di sepanjang sungai Siak.
Kedudukan Kota Pekanbaru sebagai salah satu propinsi dari Kerajaan Siak berlangsung sampai tahun 1916. Setelah diangkatnya Sultan Syarif Kasim II menjadi Sultan Siak ke-12 dengan gelar Sultan Assaidis Syarif Kasim II, diadakan perubahan ketatanegaraan dengan membagi Kerajaan Siak dalam district-district
berdasarakan surat keputusan kerajaan (Belsuit Van Het Inlandsch Zelfbestuur Van Siak) tanggal 25 Oktober 1919 No.1. District ini dibagi pula dalam
onderdistrict dan onderdistrict dibagi lagi dalam kampung-kampung. District ini dibagi dalam Onderdistrict dan onderdistrict terbagi lagi dalam kampung- kampung. District dikepalai oleh seorang districthoofd, onderdistrict dikepalai oleh onderdistricthoofd, dan kampung dikepalai oleh penghulu. Penghulu tidak lagi memimpin suku (Clan) sebagaimana keadaan sebelumnya, tetapi telah memimpin kampung (territorial).
34
Kedudukan Kota Pekanbaru sebagai salah satu propinsi dari Kerajaan Siak berlangsung sampai tahun 1916. Setelah diangkatnya Sultan Syarif Kasim II menjadi Sultan Siak ke-12 dengan gelar Sultan Assaidis Syarif Kasim II, diadakan perubahan ketatanegaraan dengan membagi Kerajaan Siak dalam district-district
berdasarakan surat keputusan kerajaan (Belsuit Van Het Inlandsch Zelfbestuur Van Siak) tanggal 25 Oktober 1919 No.1. District ini dibagi pula dalam
onderdistrict dan onderdistrict dibagi lagi dalam kampung-kampung. District ini dibagi dalam Onderdistrict dan onderdistrict terbagi lagi dalam kampung- kampung. District dikepalai oleh seorang districthoofd, onderdistrict dikepalai oleh onderdistricthoofd, dan kampung dikepalai oleh penghulu. Penghulu tidak lagi memimpin suku (Clan) sebagaimana keadaan sebelumnya, tetapi telah memimpin kampung (territorial).
Kota Pekanbaru termasuk ke dalam Onderdistrict Senapelan dan langsung dipimpin oleh seorang districthoofd yaitu Datuk Pesisir Muhammad Zen. Datuk pesisir membawahi tiga onderdistrict, yaitu onderdistrict Senapelan, onderdistrict
Tapung Kiri, dan onderdistrict Tapung Kanan. Onderdistrict Senapelan terbagi dalam kampung-kampung dan didalam district Senapelan terdapat dua kepenghuluan, yaitu Kepenghuluan Kampung Dalam dan Kepenghuluan Kampung Baru. Pada masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II, Kota Pekanbaru mulai di tata. Bangunan-bangunan resmi telah mulai dibangun, seperti rumah kediaman districthoofd di Kampung Bukit, Balai (kantor) Districthoofd, rumah penjara, jalan-jalan dalam kota, yaitu jalan Senapelan sekarang, jalan di muka Mesjid Raya Pekanbaru, jalan-jalan di pasar (komplek pasar bawah) sampai ke pelabuhan dan terus ke Kampung Dalam. Di pinggiran kota terdapat pula Kampung Palas dan di sebelah selatan telah tumbuh perkampungan baru, yaitu Kampung Simpang Empat dan Kampung Perhentian Nyamuk yang masing- masing dikepalai seorang penghulu.
Sumber: Arsip Pribadi O.K. Nizami Jamil (2013)
35
Disamping struktur pemerintahan Kerajaan Siak, terdapat pula pemerintahan Hindia Belanda. Pada mulanya Pekanbaru masuk ke dalam daerah administrasi
Onderafdeeling Siak, tetapi tahun 1931 di masukkan ke dalam Onderafdeeling
Kampar Kiri, yang dikepalai oleh seorang Controleur yang berkedudukan di Pekanbaru (Gambar 14). Pemerintahan Belanda membangun kantor BOW (DPU), Kantor Polisi, rumah kediaman Havenmeester di muka pelabuhan. Di dalam pelabuhan dibangun pula gudang-gudang untuk menampung barang-barang. Pembangunan ini terjadi pada masa pemerintahan Districthoofd Datuk Muhammad Zein dan berlanjut pada masa pemerintahan Datuk Comel. Pada masa pemerintahan Datuk Wan Entol (1926-1931) dibuka pula jalan-jalan baru, yaitu jalan di belakang Mesjid Raya Pekanbaru, jalan di sekeliling lapangan sepakbola Kampung Bukit (sekarang Jalan Panglima Undan dan Jalan Kesehatan), Jalan Saleh Abbas, jalan ke Padang Terubuk (Jalan Riau), dan Jalan Guru. Dibukanya jalan-jalan baru ini menambah luasnya kota. Banyak penduduk membuka lahan di sekitar jalan-jalan tersebut dan kemudian mendirikan rumah tempat tinggal. Pada tahun 1930 pemerintah Belanda membangun sarana perhubungan yaitu di bangunnya lapangan udara Simpang Tiga. Pada masa ini juga mulai dibangun Mesjid Raya Pekanbaru saat ini.
Sumber:Zulfan (1950), digambar ulang oleh penulis sesuai dengan dokumen primernya.
36
Pembangunan pada masa ini dikelompokkan ke dalam tiga aspek dominan, yaitu pendidikan, kesehatan, dan perekonomian (Suwardi 2006).
1. Aspek pendidikan
Pembanguan pada aspek pendidikan dimulai pada tahun 1905, pada tahun ini didirikan sekolah kerajaan (Landschap) oleh Datuk Syahbandar bertempat di kompleks rumah-rumah kedai sultan di jalan Kota Baru sekarang. Sekolah ini disebut Volkschool (sekolah rakyat) atau Sekolah Desa. Tahun 1917, di masa pemerintahan Datuk Pesisir Muhammad Zen, didirikan sekolah baru yang dinamakan Gouvernement Inlandsche School (Sekolah Melayu Gubernemen) yang biasa disebut sekolah Melayu. Sekolah ini terletak di sudut jalan Bangkinang (Ahmad Yani) dan Jalan Juanda (di muka gedung RRI). Tahun 1924, berdiri sekolah bernama Annahdah, Tahun 1934, berdiri Madrasah yang bernama Lajnah Khairiah. Kedua sekolah ini mengajarkan pengajian al-Quran dan pengetahuan agama Islam. Tahun 1937, didirikan sekolah Hollandsch Inlandsche School (HIS) Partikulir swasta di Pekanbaru.
2. Aspek Kesehatan
Pembanguan pada aspek pendidikan di mulai tahun 1905, pengobatan dengan cara ilmu kedokteran belum dikenal, namun lebih dikenal cara pengobatan tradisional. Tahun 1910, didirikan poliklinik yang merupakan milik Perkebunan Sukajadi Estate. Poliklinik ini terdapat di dalam areal perkebunan. Tahun 1925, didirikan Rumah Sakit Landschap, rumah sakit ini setara dengan balai pengobatan
Sumber: http://www.flickr.com/photos/54503148@N07/5211899089/ dan Irham Themas S