KAJIAN PEMBENTUK KARAKTERISTIK LANSKAP
MELAYU PADA LANSKAP KOTA PEKANBARU, RIAU
MUHAMMAD ARTHUM ARTHA
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Kajian Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu Pada Lanskap Kota Pekanbaru, Riau adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2014
Muhammad Arthum Artha
A451110011
RINGKASAN
MUHAMMAD ARTHUM ARTHA. Kajian Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu pada Lanskap Kota Pekanbaru, Riau. Dibimbing oleh NURHAYATI HADI SUSILO ARIFIN dan ARIS MUNANDAR.
Pekanbaru adalah ibukota dari Provinsi Riau, yang berada di Pulau Sumatera dengan akar budaya Melayu sebagai tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Budaya Barat dengan nilai-nilainya telah mempengaruhi kehidupan Orang Melayu, berdampak pada menurun dan pudarnya nilai-nilai budaya Melayu. Generasi-generasi selanjutnya tentu akan semakin meninggalkannya bila tidak ada usaha untuk melestarikannya (Suwardi 1991).
Salah satu visi dari Provinsi Riau dan pemerintah Kota Pekanbaru adalah menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada tahun 2020 (PKP 2012). Untuk mewujudkan visi tersebut, kota Pekanbaru sebagai ibukota Propinsi merupakan idealisme utama dalam mengukur dan menilai kebudayaan Melayu, sehingga dapat dijadikan rujukan atau referensi mengenai perkembangan kebudayaan Melayu di daerah Asia Tenggara melalui lanskap kota yang beridentitaskan Melayu. Pada umumnya, kajian terhadap karakteristik Kota Pekanbaru mengarah pada aspek bidang keilmuan arsitektur pada skala mikro. Sedangkan kajian yang berkaitan dengan lanskap kota skala makro jumlahnya masih terbatas. Salah satu bentuk karakteristik kota Pekanbaru yang menarik untuk dikaji adalah karakteristik lanskap Melayu pada lanskap Kota Pekanbaru.
Penelitian ini bertujuan mengkaji perkembangan karakteristik lanskap Melayu, mengidentifikasi karakter elemen lanskap Melayu yang ada saat ini, dan menganalisis elemen prioritas pembentuk karakter lanskap Melayu di Kota Pekanbaru, dan menyusun rekomendasi penerapan elemen-elemen utama pembentuk karakter lanskap Melayu dalam pengembangan Kota Pekanbaru.
Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dilakukan melalui pengumpulan data yang bersifat primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui proses teknik wawancara mendalam untuk menggali informasi secara langsung dari sumber informasi (key informant) berkaitan dengan sejarah perkembangan Kota Pekanbaru dan kebudayaan Melayu dan observasi lapang untuk mengetahui keadaan dan keberadaan elemen pembentuk karakter lanskap Melayu di kota Pekanbaru. Data sekunder diperoleh melalui penelusuran litaratur yang terkait dengan topik penelitian.
Pengambilan keputusan terhadap masalah penentuan komponen prioritas pembentuk karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru, menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process). Komponen-komponen tersebut disusun dalam hierarki yang terdiri dari empat level. Level pertama, merupakan tujuan utama dari kajian ini, yaitu pembentuk karakteristik lanskap Melayu pada lanskap Kota Pekanbaru. Level kedua, merupakan level komponen utama pembentuk karakteristik lanskap Melayu. Level ketiga, merupakan variabel komponen pembentuk karakteristik lanskap Melayu. Level keempat, merupakan alternatif keputusan berupa tindakan yang perlu dilakukan terhadap komponen pembentuk karakterisitik lanskap Melayu.
pemerintahan Kerajaan Siak dan masa menjadi Propinsi Negeri Pekanbaru dari sepuluh propinsi di Kerajaan Siak, dimana elemen pembentuk dari kedua masa tersebut berupa Istana, Balai Kerapatan, Mesjid, Pekan atau Pasar, Pelabuhan, dan Perkampungan yang berada pinggir sungai. Keberadaan, fungsi, dan karakter fisik elemen pembentuk lanskap Melayu saat ini masih dapat ditemukan. Elemen pembentuk tersebut berupa Pelabuhan, Pasar, Mesjid Raya Pekanbaru, Komplek Makam Marhum Pekan, Rumah Pembesar Kerajaan (Tuan Qadi), Rumah-rumah yang mencirikan arsitektur Melayu, dan komplek pekuburan Senapelan.
Berdasarkan hasil analisis elemen prioritas pembentuk karakteristik lanskap Melayu di Pekanbaru, menunjukkan bahwa komponen yang utama pembentuknya adalah area bersejarah 0,369 (36,9%). Terpilihnya komponen area bersejarah sebagai prioritas utama karena kawasan tersebut menyimpan informasi kegiatan manusia pada masa lampau serta mengandung tinggalan dalam bentuk fisik paling kuat mewakili lanskap Melayu. Alternatif keputusan yang merupakan prioritas utama adalah “penetapan” dengan bobot nilai sebesar 0,496 (49,6%). Tinggi bobot nilai alternatif keputusan berupa “penetapan” dibandingkan dengan alternatif lainnya, karena saat ini area bersejarah di kawasan Bandar Senapelan belum mempunyai status sebagai Cagar Budaya.
Untuk upaya awal terhadap pelestariannya diwujudkan dengan terlebih dahulu ditetapkannya kawasan tersebut sebagai kawasan Cagar Budaya yang didukung melalui aspek legal berupa peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah maupun pemerintah daerah. Untuk keperluan manajemen perlindungan, maka perlu dilakukan pembagian wilayah (zonasi), sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, mencakup tiga zona, yaitu zona inti, zona penyangga, dan zona pengembangan. Perlindungan terhadap zona inti, bertujuan sebagai upaya mencegah dan menanggulangi elemen-elemen tersebut dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan yang dilakukan dengan cara pemugaran. Sebagai upaya untuk memanfaatkan segala potensi yang dimiliki kawasan tesebut, dibuat suatu konsep pengembangan kawasan sebagai kawasan objek wisata sejarah dengan memakai konsep “wisata sambil belajar”. Untuk pengembangan diseluruh Kota Pekanbaru, gaya pada bangunan, ragam hias, dan warna pada elemen-elemen yang terdapat pada kawasan bersejarah Bandar Senapelan, dapat diterapkan replikanya pada urban design Kota Pekanbaru
SUMMARY
MUHAMMAD ARTHUM ARTHA. Study of Malay Landscape Characteristics in the Landscape of Pekanbaru City, Riau. Supervised by NURHAYATI HADI SUSILO ARIFIN and ARIS MUNANDAR.
Pekanbaru is the capital of Riau Province, Sumatra Island. Pekanbaru has Malay culture that has embedded in people’s daily life. Western culture with its values has affected Malay cultural values. It makes the Malay cultural values decline and fade. The next generation surely will leave it if there is no effort to preserve it (Suwardi 1991).
One of the Riau Province and Pekanbaru government visions is to be the central of Malay culture in South East Asia in 2020 (PKP-2012). To realize the vision, Pekanbaru as the major idealism in measuring and assessing the Malay culture can be used as references to the development of Malay culture in South East Asian region through the identity of Malay landscape. In general, the study on characteristics of Pekanbaru leads to aspects of the scientific field of architecture at the micro scale. Besides, the study which is related to the urban landcape macro-scale is still limited. One of the Pekanbaru characteristics that seems interesting to be researched is Pekanbaru Malay landscape.
This study aims to assess the development of the Malay landscape characteristic, identifying the existing elements of Malay landscpe character and analyzing the priority elements forming the Malay landscape character in Pekanbaru and arranging recommendation of main elements forming Malay landscape character in Pekanbaru.
This study used qualitative research method. It is done by collecting primary and secondary data. Primary data were obtained through a process of in-depth interviewing technigues to gather information directly from key informant related to Pekanbaru development history and Malay culture and observed to determine circumstances and existence of the elements forming the Malay landscape character in Pekanbaru. Secondary data was obtained through literature reviews related to reserach topic.
Decision making on problem of determining priority of components forming Malay landscape characeristics in Pekanbaru used AHP (analytical Hierarchy Process). The components were arranged in a hierarchy consisting of four levels. The first level which became the main goal of this study is forming Malay landscape characteristics. The second level is major component forming Malay landscape characteristics. The third level is a variable component forming Malay landscape. The fourth level is an alternative decision action that needs to be done to the forming components of Malay landscape characteristics.
Ports, Markets, Pekanbaru Great Mosque, the Marhum Pekan Cemetery Complex, Royal House (Tuan Qadi), houses that characterize Malay Architecture, and Senapelan Cemetery Complex.
Based on analysis of priority elements forming Malay landscape characteristics in Pekanbaru showed that the main forming component was 0.369 (36.9 %) of historical area. Selected historical area component became a top priority for the region store information on past human activity and contained the remains of the most powerful physical form represents Malay landscape. Alternative decision was top priority is establishment of weighting value of 0.0496 (49.6 %). High weight values in the form of decision alternatives is “determination”. It was compared with other alternatives because the current historic area in the Port Senapelan has not had status as a heritage.
It is necessary to maintain the area as a heritage area which is supported through the legal aspect in rules made by government. It is used as effort towards preservation .For management purposes of protection, it is necessary to make part of zone in according with the UU 11 Tahun 2010 on the Cultural Heritage. It is divided into three zones, core zone, opponent zone and developing zone . The protection of core zone intended as an effort to prevent and cope with these elements of damage, destruction, or obliteration which is done by way of restoration. In an effort to harness all potetial area , it s needed to make an area developing concept as historical attraction area by using the concept of “travel while learning”. The style of building, decoration, and colour of elements which contained in the historical district of port Senapelan can be applied by replica in Pekanbaru urban design . It was done to develop the whole area in Pekanbaru. Keywords: Malay landscape, landscape characteristic, urban landscape,
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
pada
Program Studi Arsitektur Lanskap
KAJIAN PEMBENTUK KARAKTERISTIK LANSKAP
MELAYU PADA LANSKAP KOTA PEKANBARU, RIAU
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2014
ii
iii Judul Tesis : Kajian Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu Pada Lanskap
Kota Pekanbaru, Riau Nama : Muhammad Arthum Artha
NIM : A451110011
Disetujui oleh Komisi Pembimbing
Dr Ir Nurhayati HS Arifin MSc Ketua
Dr Ir Aris Munandar MS Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi Arsitektur Lanskap
Dr Ir Nizar Nasrullah MAgr
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Dahrul Syah MSc.Agr
iv
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga tesis ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang telah dilaksanakan sejak bulan November 2012 hingga November 2013 ini adalah tentang Lanskap Melayu, dengan judul tulisan Kajian Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu pada Lanskap Kota Pekanbaru, Riau.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih pada pihak-pihak yang telah membantu selama penulisan, diantaranya yaitu :
1. Dr Ir Nurhayati HS. Arifin MSc dan Dr Ir Aris Munandar MS selaku pembimbing yang telah banyak memberi arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan penelitian ini.
2. Dr Ir Andi Gunawan MAgr.Sc, selaku dosen penguji luar komisi, atas pertanyaan, kritik, saran dan masukannya yang sangat membangun.
3. Dr Syartinilia Wijaya SP Msi, selaku dosen penguji dari Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Program Studi Arsitektur Lanskap, atas pertanyaan, kritik, saran dan masukannya yang sangat membangun. 4. Penny Astuti SSos sebagai Kepala Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan,
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Pekanbaru.
5. Edwin Perwira ST MSc MEng dan Vitria Sushanti ST dari Bagian Perencanaan atau Studio, Dinas Tata Kota Pekanbaru.
6. Camat beserta Staf di Kecamatan Senapelan.
7. Lurah dan Sekretaris lurah beserta Staf di Kelurahan Kampung Bandar. 8. Prof. Suwardi MS selaku pihak yang memberikan informasi secara
menyeluruh mengenai sejarah dan budaya Melayu, beserta Staf Perpustakaan Soeman HS pada bagian Bilik Melayu dan staf Perpustakaan Kampus APEPH/STIPAR Pekanbaru.
9. Drs H.O.K. Nizami Jamil, dari Yayasan Warisan Budaya Melayu Riau, selaku pihak yang memberikan informasi dan data mengenai sejarah dan budaya Melayu.
10. Drs UU Hamidy MA, dari Universitas Riau selaku pihak yang memberikan informasi dan data mengenai sejarah dan budaya Melayu. 11. Ir Sudarmin MT, dari Program Studi Arsitektur Universitas Lancang
Kuning, Pekanbaru selaku pihak yang memberikan informasi dan data mengenai sejarah, budaya dan perkembangan Kota Pekanbaru.
12. Anas Aismana sebagai Dewan Pimpinan Harian, Lembaga Adat Melayu Riau, selaku pihak yang memberikan informasi mengenai sejarah, budaya dan perkembangan Kota Pekanbaru
13. Irham Temas Sutomo ST MT, dan Yohanez Firzal ST MT, dari Program Studi Arsitektur Universitas Riau, atas informasi, masukan dan kerja samanya dalam perolehan data selama penelitian.
v 15. Mohammad Thohiran SE sebagai Juru Pelihara Makam Marhum Pekan
atas kerja samanya dalam perolehan data selama penelitian.
16. Novriwan Jefperson Simanjuntak, dari Pascasarjana ITB Bandung, atas kerja samanya dalam perolehan data selama penelitian.
17. Rahmad Dona SE yang telah menemani penulis dalam pengambilan gambar berupa foto-foto di lokasi penelitian.
18. Teman-teman Sekolah Pascasarjana IPB Program Studi Arsitektur Lanskap 2011.
19. Staf program studi Pascasarjana Arsitektur Lanskap IPB.
20. Kedua orang tua, Prof Dr Ir H Adnan Kasry dan Hj Nur Asmah Said beserta keluarga besar penulis yang banyak memberikan bantuan dan dukungan baik materil maupun moril.
Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi Pemerintah Kota Pekanbaru dan pihak-pihak lainnya yang terkait dalam mencapai Kota Pekanbaru yang beridentitaskan Melayu.
Bogor, Februari 2014
vi
Pelestarian Lanskap Sejarah dan Cagar Budaya 6
Karakteristik Lanskap Perkotaan 7
Bandar Melayu 9
Kebudayaan Melayu 12
METODE 15
Lokasi dan Waktu Penelitian 15
Alat dan Bahan 15
Prosedur Penelitian 15
Tahap Persiapan 15
Pengumpulan Data dan Informasi 16
Analisis Perkembangan Karakteristik Lanskap Melayu 18 Identifikasi Keberadaan Elemen Pembentuk Karakteristik Lanskap
Melayu 19
Analisis Elemen Prioritas Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu 19
Penyusunan Rekomendasi 21
GAMBARAN UMUM WILAYAH 23
Kota Pekanbaru 23
Letak Geografis dan Batas Administrasi 23
Klimatologi 24
Letak Geografis dan Batas Administratif Kawasan 27
Kondisi Kependudukan Kecamatan Senapelan 27
vii
Kegiatan Sosial Budaya 29
Penggunaan Lahan Kecamatan Senapelan 29
Sejarah Perkembangan Lanskap Kota Pekanbaru 30
Masa Kebatinan Senapelan 30
Senapelan Menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura 30
Menjadi Propinsi Negeri Pekanbaru 32
Pekanbaru Pada Masa Kolonial Belanda 33
Masa Penjajahan Pemerintah Jepang dan Masa Kemerdekaan 37
HASIL DAN PEMBAHASAN 39
Perkembangan Karakteristik Lanskap Melayu di Kota Pekanbaru 39
Masa Kebatinan Senapelan 39
Masa Senapelan Menjadi Ibukota Kerajaan Siak Sri Indrapura 41
Masa Propinsi Negeri Pekanbaru 46
Masa Kolonial Belanda 49
Identifikasi Elemen Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu
Kawasan Bandar Senapelan 56
Elemen Tangible Kawasan Bandar Senapelan 56
Elemen Intangible Kawasan Bandar Senapelan 62 Kebijakan Pelestarian Kawasan Bandar Senapelan 65 Elemen Prioritas Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu 66
Level Komponen dan Variabel 66
Alternatif Keputusan 69
Rekomendasi Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu 70 Upaya Pelestarian Kawasan Bersejarah Bandar Senapelan 70 Pengembangan Kawasan Bersejarah Bandar Senapelan 74
Pengembangan Pada Lanskap Kota Pekanbaru 74
SIMPULAN DAN SARAN 82
Simpulan 82
Saran 82
DAFTAR PUSTAKA 83
LAMPIRAN 87
RIWAYAT HIDUP 99
viii
DAFTAR TABEL
1 Persamaan Bandar Melayu Kuala Terengganu dengan Bandar Kota
Bharu, Kelantan 11
2 Deskripsi data analisis yang digunakan pada penelitian 17
3 Narasumber penelitian 18
4 Pendekatan analisis karakteristik lanskap Melayu 19
5 Rincian jumlah pakar 21
6 Skala pembanding penilaian kriteria metode perbandingan
berpasangan 20
7 Pembagian administrasi Kota Pekanbaru menurut kecamatan tahun
2011 23
8 Rencana penggunaan lahan Kota Pekanbaru Tahun 2007-2026 25
9 Penggunaan lahan Kota Pekanbaru Tahun 2009 26
10 Luas daerah dan jumlah penduduk menurut kecamatan tahun 2011 27
11 Kepadatan penduduk di Kecamatan Senapelan 28
12 Penggunaan lahan Kecamatan Senapelan Tahun 2011 29 13 Perkembangan karakteristik lanskap Melayu di Pekanbaru 55 14 Hasil analisis elemen prioritas menggunakan AHP 66 15 Kondisi elemen lanskap sejarah dan tindakan pelestarian 73 16 Penerapan replika elemen lanskap Melayu dalam pengembangan di
seluruh Kota Pekanbaru 76
DAFTAR GAMBAR
1 Kerangka pikir penelitian 3
2 Gambaran komponen perkampungan Melayu 10
3 Lokasi penelitan 15
4 Tahapan penelitian 16
5 Skema Hierarki Analythical Hierarchy Process 22
6 Peta Kota Pekanbaru 23
7 Peta penggunaan lahan Kota Pekanbaru 2007-2026 26
8 Peta Kecamatan Senapelan 28
9 Beragam kegiatan ekonomi di kawasan Kecamatan Senapelan 29 10 Perkampungan Senapelan sekitar tahun 1400-1500 31
11 Proses perpindahan Kerajaan Siak 32
12 Peta Kota Pekanbaru tahun 1908 34
13 Pembagian Wilayah Kepenghuluan dan Onderneming Belanda 35 14 Pekanbaru dalam daerah administrasi Onderafdeeling Kampar Kiri 36
15 Land use masa Kebatinan Senapelan tahun 1400-1500 40
16 Peta Kawasan masa awal Kerajaan Siak di Senapelan 41 17 Peta perubahan lahan masa awal Kerajaan Siak di Senapelan 42
18 Pola ruang di Senapelan Sekitar Tahun 1784 43
19 Lalu lintas perdagangan pada masa pemerintahan Kerajaan Siak 44
20 Land use Kota Pekanbaru tahun 1800-1860 47
ix 22 Pola permukiman memanjang mengikuti aliran sungai 48
23 Land use Kota Pekanbaru sekitar Tahun 1900 50
24 Land use Kota Pekanbaru sekitar Tahun 1916 50
25 Pola sirkulasi masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II dan
Belanda 51
26 Pola permukiman mengarah ke darat 52
27 Mesjid Raya Pekanbaru dibangun Tahun 1930 53
28 Peta identifikasi elemen lanskap Melayu kawasan Bandar Senapelan 56
29 Pelabuhan Pekanbaru saat ini 57
30 Pasar Bawah 57
31 Mesjid Raya Pekanbaru 58
32 Komplek Makam Marhum Pekan 59
33 Rumah kayu Tuan Qadi H. Zakaria 59
34 Rumah batu Tuan Qadi H. Zakaria 60
35 Rumah Hajah Ramnah Yahya 60
36 Rumah Haji Sulaiman India 61
37 Rumah Honolulu 61
38 Komplek pekuburan Senapelan 62
39 Pakaian Melayu setiap hari Jumat 62
40 Acara Petang Megang 63
41 Festival lampu colok 64
42 Ziarah makam Marhum Pekan 65
43 Hasil skema hirarki Analytical Hierarchy Process disertai dengan
hasil pembobotan 67
44 Peta delineasi area bersejarah kawasan Bandar Senapelan 71 45 Peta zonasi kawasan perlindungan area bersejarah Bandar Senapelan 72 46 Peta jalur wisata kawasan bersejarah Bandar Senapelan 75
DAFTAR LAMPIRAN
1
Kuesioner AHP 882
Pakar Responden AHP 96PENDAHULUAN
Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki lanskap perkotaan dengan identitas yang berbeda antara satu kota dengan kota lainnya. Identitas yang dimiliki oleh setiap kota menunjukkan interaksi manusia dan lanskapnya yang didominasi lingkungan binaan (man made environment), dengan penduduk padat dan mempunyai latar belakang sosial dan budaya yang beragam, serta aktivitas dan proses produksi yang tidak mengandalkan alam. Dengan adanya identitas, dapat meningkatkan serta menguatkan nilai dari kawasan perkotaan tersebut.
Lahir dan berkembangnya sebuah kota menghadirkan keunikan tersendiri. Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, Identitas yang menunjukkan karakter lokal suatu kota semakin berkurang. Pembangunan kota disesuaikan untuk memenuhi selera kosmopolit (Margana 2010). Berkurangnya kepedulian akan identitas lokal pada sebuah lanskap kota dikarenakan adanya pergeseran sikap dan cara pandang penduduknya untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini. Modernisasi dianggap lebih mewakili perkembangan zaman saat ini.
Pertumbuhan jumlah penduduk memunculkan tingginya tingkat kebutuhan akan sebuah lahan. Hal ini menimbulkan dampak pada perubahan penggunaan lahan, lahan-lahan yang tadinya merupakan tempat dari elemen-elemen yang mencirikan lanskap lokal, secara perlahan berganti menjadi eleman-elemen yang beridentitaskan kekinian atau yang lebih kita kenal dengan lanskap modern, untuk itu diperlukan perhatian yang lebih dari pemerintah kota melalui penguatan kebijakan.
Pekanbaru adalah ibukota dari Provinsi Riau, yang berada di Pulau Sumatera dengan akar budaya Melayu sebagai tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakatnya sehari-hari. Budaya barat dengan nilai-nilainya telah mempengaruhi kehidupan Orang Melayu. Kejayaan yang telah dicapai dengan kepribadian sendiri Orang Melayu, lama-kelamaan menjadi menurun dan pudar. Generasi-generasi selanjutnya tentu akan semakin meninggalkannya bila tidak ada usaha untuk melestarikannya (Suwardi 1991). Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Melayu merupakan salah satu puncak dari kebudayaan bangsa Indonesia, maka usaha pelestariannya perlu untuk dilakukan.
Salah satu visi dari provinsi Riau dan pemerintah Kota Pekanbaru adalah menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada tahun 2020 (PKP 2012). Untuk mewujudkan visi tersebut, Kota Pekanbaru sebagai ibukota Propinsi merupakan idealisme utama dalam mengukur dan menilai kebudayaan Melayu, sehingga dapat dijadikan rujukan atau referensi mengenai perkembangan kebudayaan Melayu di daerah Asia Tenggara melalui lanskap kota yang beridentitaskan Melayu.
2
dalam pengembangan kebudayaan Melayu, yang secara simbolik memimpin budaya Melayu lainnya dalam pengembangan tersebut.
Pada umumnya, kajian terhadap karakteristik Kota Pekanbaru mengarah pada aspek bidang keilmuan arsitektur pada skala mikro. Sedangkan kajian yang berkaitan dengan lanskap kota skala makro terbatas pada penelitian studi elemen
mental map sebagai salah satu elemen lanskap Kota Pekanbaru (Wahyuni 2010). Makin banyak penelitian yang dituntun oleh teori, maka makin banyak pula kontribusi penelitian yang secara langsung dapat mengembangkan ilmu pengetahuan (Nazir 2011) salah satunya adalah dari aspek bidang keilmuan arsitektur lanskap.
Salah satu bentuk karakteristik Kota Pekanbaru yang menarik untuk dikaji adalah karakteristik lanskap Melayu pada lanskap Kota Pekanbaru. Hasil dari kajian ini diharapkan menjadi masukan untuk arahan penerapan dalam pengembangan kota serta menjadi salah satu kontribusi penelitian dalam mendukung dan mewujudkan lanskap Kota Pekanbaru beridentitaskan Melayu.
Perumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini mencakup hal-hal :
1. Bagaimana karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru pada masa lalu? 2. Bagaimana keadaan elemen lanskap Melayu di Kota Pekanbaru saat ini
yang tampak sebagai artefak?
3. Bagaimana penerapan elemen atau karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru kedepan?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1. Mengkaji perkembangan karakteristik lanskap Melayu sesuai dengan perkembangannya di Kota Pekanbaru, Riau.
2. Mengidentifikasi keberadaan elemen-elemen pembentuk karakteriktik lanskap Melayu yang ada saat ini.
3. Menganalisis elemen prioritas pembentuk karakteristik lanskap Melayu. 4. Rekomendasi pembentuk karakteristik lanskap Melayu dan aplikasinya pada
lanskap Kota Pekanbaru.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang akan diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Sebagai informasi dan gambaran tentang elemen lanskap lokal pembentuk identitas dan karakter lanskap Melayu di Kota Pekanbaru, Riau.
3 Kerangka Pikir Penelitian
Lahir dan berkembangnya sebuah kota menghadirkan keunikan tersendiri. Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, identitas yang menunjukkan karakter lokal suatu kota semakin berkurang. Pembangunan kota disesuaikan untuk memenuhi selera kosmopolit (Margana 2010). Berkurangnya kepedulian akan identitas lokal pada sebuah lanskap kota, disebabkan oleh adanya pergeseran sikap dan cara pandang penduduknya untuk dapat hidup sesuai dengan tuntutan masa kini.
Hal lain yaitu tingginya tingkat kebutuhan akan lahan yang menimbulkan dampak pada perubahan penggunaan lahan, dimana lahan-lahan yang tadinya merupakan tempat dari elemen-elemen yang mencirikan lanskap lokal, secara perlahan berganti menjadi eleman-elemen yang beridentitaskan kekinian atau yang lebih dikenal dengan lanskap modern. Untuk itu diperlukan perhatian yang lebih dari pemerintah kota melalui penguatan kebijakan.
Dengan tercetusnya visi pemerintah Kota Pekanbaru sebagai pusat kebudayaan Melayu 2020. Mendorong perhatian dilakukannya penyelidikan terhadap pembentuk karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru sebagai bagian dalam terciptanya lanskap Kota Pekanbaru yang beridentitaskan Melayu dan terwujudnya Kota Pekanbaru sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara. Hasil dari penyelidikan tersebut sebagai masukan untuk arahan penerapan dalam pengembangan kota. (Gambar 1).
4
Ruang Lingkup Penelitian
5
TINJAUAN PUSTAKA
Lanskap Budaya
Lanskap, menurut Simonds (1983) adalah suatu bentang alam yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dinikmati keberadaannya melalui seluruh indera yang dimiliki manusia. Lanskap juga dinyatakan sebagai suatu lahan yang memiliki elemen pembentuk, komposisi dan karakteristik tertentu sebagai pembedanya. Dikenal adanya lanskap alami (natural landscape) dan lanskap binaan (man made landscape) sebagai dua bentuk lanskap utama yang dipilih berdasarkan intensitas intervensi manusia kedalam lanskap tersebut.
Budaya adalah hasil cipta, karya, dan karsa manusia dalam mempengaruhi kehidupannya (Koentjaraningrat 2009). Lanskap budaya (cultural landscape) merupakan satu model atau bentuk dari lanskap binaan, yang dibentuk oleh suatu nilai budaya yang dimiliki suatu kelompok masyarakat yang dikaitkan dengan sumberdaya alam dan lingkungan yang ada pada tempat tersebut (Nurisjah 2001). Lanskap tipe ini merupakan hasil interaksi antara manusia dan alam lingkungannya yang merefleksikan adaptasi manusia dan juga perasaan dan ekspresinya dalam menggunakan dan mengelola sumberdaya alam dan lingkungan yang terkait erat dengan kehidupannya. Hal ini diekspresikan kelompok-kelompok masyarakat ini dalam bentuk dan pola permukiman dan perkampungan, pola penggunaan lahan, sistem sirkulasi, arsitektur bangunan dan struktur serta lainnya.
Tisler (1979) dalam Nurisjah (2001) mendefinisikan lanskap budaya sebagai suatu kawasan geografis yang menampilkan ekspresi lanskap alami oleh suatu pola kebudayaan tertentu. Lanskap ini memiliki hubungan yang erat dengan aktivitas manusia, performa budaya dan juga nilai dan tingkat estetika, termasuk kejadian-kejadian kesejarahan yang dimiliki oleh kelompok tersebut. Dinyatakannya bahwa kebudayaan merupakan agen atau perantara dalam proses pembentukan lanskap tersebut, kawasan alami/asli merupakan medium atau wadah pembentuknnya, dan lanskap budaya merupakan hasil atau produknya yang dapat dilihat dan dinikmanti keberadaanya baik secara fisik maupun psikis.
Sebuah lanskap budaya merupakan wilayah yang memiliki atau dianggap memiliki karakteristik yang berbeda dan terdiri dari unsur-unsur alam dan manusia saling terkait (Melnick 1983). Lanskap budaya juga merupakan sebuah model interaksi antara manusia, sistem sosial, dan cara mereka mengorganisasikan ruang (Plachter 1995).
Lanskap Sejarah
6
Goodchild (1990) juga menjelaskan bahwa suatu lanskap dikatakan memiliki daya tarik historis jika di dalamnya memuat satu atau beberapa kondisi lanskap berikut ini :
1 Merupakan contoh yang menarik dari sebuah tipe lanskap sejarah. 2 Memuat bukti yang menarik untuk dipelajari
3 Memiliki keterkaitan dengan seseorang, masyarakat, atau peristiwa penting dalam sejarah; dan
4 Memiliki nilai-nilai penting dalam sejarah terkait dengan bangunan atau monumen sejarahnya
Pelestarian Lanskap Sejarah dan Cagar Budaya
Pelestarian lanskap sejarah dapat didefinisikan sebagai usaha manusia untuk memproteksi atau melindungi peninggalan atau sisa-sisa budaya dan sejarah terdahulu yang bernilai dari berbagai perubahan yang negatif atau merusak keberadaan atau nilai yang dimilikinya (Nurisjah dan Pramukanto 2001). Menurut Goodchild (1990), lanskap sejarah perlu dilestarikan karena memiliki arti penting, yaitu :
1 Menjadi bagian penting dan bagian integral dari warisan budaya. 2 Menjadi bukti fisik dan arkeologis dari warisan sejarah
3 Memberi kontribusi bagi keberlanjutan pembangunan kehidupan berbudaya 4 Memberi kenyamanan publik (public amenity); dan
5 Memberikan nilai ekonomis dan dapat mendukung pariwisata
Adapun langkah-langkah dalam proses konservasi yang diutarakan oleh Goodchild (1990) terdiri atas delapan tahap, yaitu:
1 Identifikasi Tapak, memuat tentang identifikasi lokasi dan batas-batasnya 2 Deskripsi awal, memuat informasi yang tersedia serta karakter yang
menonjol
3 Assessment awal berisi tentang kondisi, karakter, dan general significance
dari tapak serta masalah-masalah yang paling mempengaruhinya 4 Penetapan tindakan yang perlu dilakukan dan pelakunya
5 Formulasi proposal atau kebijakan yang memerlukan survei dan assessment
lebih rinci
6 Pelaksanaan proposal proposal atau kebijakan, yaitu melaksanakan proposal atau kebijakan yang telah disetujui
7 Pengawasan tapak dam konservasinya; dan
8 Review, meliputi manajemen, pemeliharaan, konservasi dan waktu
Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. (DKP 2012).
Pelestarian Cagar Budaya bertujuan untuk:
7 4 Meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan
5 Mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional. Benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai benda Cagar Budaya, atau Struktur Cagar Budaya apabila memenuhi kriteria:
1 Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih;
2 Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun;
3 Memiliki arti khusu bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan; dan
4 Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.
Dalam upaya pengelolaan untuk pelestarian Cagar Budaya, beberapa pilihan tindakan yang dilakukan berdasarkan UU No.11 tahun 2010 adalah:
1 Pendaftaran adalah upaya pencatatan benda, bangunan, struktur, lokasi dan/atau satuan ruang geografis untuk diusulkan sebagai Cagar Budaya kepada pemerintah kabupaten/kota atau perwakilan Indonesia diluar negeri dan selanjutnya dimasukkan dalam Register Nasional Cagar Budaya. 2 Pengkajian bertujuan melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap benda,
bangunan, struktur, lokasi, dan satuan ruang geografis yang diusulkan untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya.
3 Penetapan adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan, struktur, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten atau kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya.
4 Pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara penyelamatan, pengamanan, zonasi, pemeliharaan, dan pemugaran Cagar Budaya.
5 Pengembangan adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi Cagar Budaya serta pemanfaatannya melalui penelitian, revitalisasi, dan adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan pelestrian; dan
6 Pemanfaatan adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya.
Karakteristik Lanskap Perkotaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kota adalah daerah permukiman yang terdiri atas bangunan rumah yang merupakan kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat, daerah pemusatan penduduk dengan kepadatan tinggi serta fasilitas modern dan sebagian besar penduduknya bekerja diluar pertanian dan juga dinding (tembok) yang mengelilingi tempat pertahanan. Lanskap perkotaan adalah lanskap yang mempunyai karakteristik menunjukkan interaksi manusia dan lanskapnya yang didominasi man-made environment, dengan penduduk padat dan mempunyai latar belakang sosial dan budaya yang beragam, serta aktivitas dan proses produksi yang tidak mengandalkan faktor alam (Arifin 2011)1.
1
8
Karakteristik lanskap adalah bukti nyata dari kegiatan dan kebiasaan orang-orang yang menempati, mengembangkan, menggunakan, membentuk sebuah lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Hal tersebut mungkin menggambarkan keyakinan, sikap, tradisi, dan nilai dari mereka (Clelland 1999). Identitas lanskap perkotaan yang juga disebut karakter perkotaan didefinisikan sebagai identitas individu sebuah kota yang jelas membedakannya dari kota-kota lain. Identitas kota tersebut merupakan kombinasi dari lanskap alami kota dan lanskap budaya serta sejarah kota dan kehidupan sosial yang dilakukan oleh mereka (Xuesong 2008).
Menurut Arifin (2011)2, terdapat sebelas karakteristik lanskap perkotaan berupa empat proses dan tujuh komponen. Kesebelas karakteristik yaitu Land use
dan aktivitas, pola organisasi spasial. gaya hidup, perubahan dinamis, jaringan sirkulasi, batas kawasan, vegetasi (ruang terbuka atau alami), bangunan, struktur buatan dan infrastruktur, hitorical area, public area, dan landmark. Kesebelas karakteristik tersebut di jelaskan sebagai berikut:
1 Land use dan aktivitas merupakan kekuatan manusia utama yang berpengaruh dalam membentuk dan mengorganisasi masyarakat perdesaan dan Aktivitas manusia yang melatarbelakanginya menjadi bukti di lanskap seperti pertanian, pertambangan, rekreasi, peristiwa budaya, bisnis dan industri (Clelland 1999)
2 Pola organisasi spasial merupakan Pada skala luas organisasi ruang tergantung pada hubungan diantara komponen fisik utama (politik, ekonomi, teknologi dan lingkungan alam) yang mempengaruhi organisasi masyarakat dalam pola permukiman dan aktivitas lainnya, kedekatan terhadap pasar dan ketersediaan transportasi (Clelland 1999)
3 Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang di ekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Kotler 2000) 4 Perubahan dinamis (Morfologi Kota) suatu kota selalu mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan dalam hal ini menyangkut aspek-aspek politik, sosial, budaya, teknologi, ekonomi dan fisik (Yunus 2000)
5 Jalur sirkulasi, merupakan sistem transportasi manusia, barang dan bahan mentah dari satu tempat ke tempat lain. Sebagai contoh, jalur lintasan ternak, jalan setapak, jalan kendaraan, kanal, akses internal masyarakat, sungai, kereta api, jalan bebas hambatan dan lapangan udara perintis, dan lainnya (Clelland 1999)
6 Batas kawasan adalah delineasi kepemilikan lahan dan penggunaan lahan. Pemisah area dengan fungsi khusus berupa pagar tertutup dan terbuka, dinding tembok, selain itu barisan pohon atau tanaman, drainase atau saluran irigasi, jalan, rawa dan sungai bisa digunakan sebagai tanda batas (Clelland 1999)
7 Vegetasi adalah keseluruhan tetumbuhan dari suatu kawasan baik yang berasal dari kawasan itu atau didatangkan dari luar, meliputi pohon, perdu, semak, dan rumput. Sedangkan ruang terbuka adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas baik dalam bentuk area/kawasan maupun
2
9 dalam bentuk area memanjang/jalur dimana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan. Ruang terbuka terdiri atas ruang terbuka hijau dan ruang terbuka non hijau (PU 2008)
8 Bangunan, struktur buatan dan infrastruktur, Bangunan berupa tempat tinggal, sekolah, bangunan ibadah, toko, balai desa. Struktur dan infrastruktur berupa bendungan, kanal, terowongan, jembatan dan jalan raya (Clelland 1999).
9 Hitorical area, Kawasan kuno atau lama merupakan salah satu bagian penting bagi pertumbuhan suatu kota. Kawasan beserta bangunan-bangunan kunonya merupakan suatu perwujudan bentuk nyata peninggalan yang menjadi bukti fisik kekayaan budaya bangsa (Budihardjo 1997). Kekayaan fisik budaya bangsa inilah yang menjadikan suatu kota memiliki ciri dan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan kota lainnya. Adanya bangunan-bangunan bersejarah menunjukkan bahwa, suatu kawasan kota lama mempunyai nilai sejarah yang tinggi dan mempunyai ciri khas sebagai kota tua yang masih kental identitas budayanya (Surya 2009).
10 Ruang publik adalah suatu ruang yang berfungsi untuk kegiatan-kegitan masyarakat yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, dan budaya (Darmawan 2007).
11 Landmark secara umum dapat diartikan sebagai penanda atau reference point, dimana bentuknya unik berbeda dengan elemen lanskap sekitarnya. Dalam suatu kawasan keberadaan suatu landmark berfungsi untuk orientasi diri bagi pengunjung. Landmark dapat berupa gunung, atau bangunan (Lynch 1960).
Bandar Melayu
Menurut Sundra (1998), Orang Melayu tinggal di perkampungan kecil yang dikenali sebagai Kampung. Proses urbanisasi telah merubah kampung ini kepada aktivitas perdagangan dengan kuasa politiknya dikawal oleh Sultan yang memerintah. Pertambahan penduduk serta perkembangan perdagangan telah merubah perkampungan ini sebagai sebuah bandar kecil yang kemudian menjadi bandar pelabuhan Melayu. Bandar Melayu terletak di muara sungai, hal ini dikarenakan ketergantungan masyarakatnya kepada sungai dan laut sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Pemilihan lokasi di tepi sungai yang sesuai dengan aktivitas dan keperluan masyarakat, memberikan pengaruh bentukan komposisi lanskap budaya pada perkampungan Melayu (Bahrin 1988). Lokasi perkampungan yang berada di muara sungai, membantu perkembangan tradisi perkampungan Melayu yang bermula dengan kegiatan Pelabuhan Dagang Melayu dan kedatangan peniaga dari India, Siam dan Cina (Nik 1998). Perkembangan pelabuhan dan perdagangan di pertengahan abad ke-19 telah menjadikan Bandar Melayu sebagai bandar yang penting di Semenanjung Malaysia (Hamid 1988). Semua bandar-bandar ini terletak di muara sungai menyebabkan ia juga dikenali sebagai bandar “kuala” (Ezrin 1985).
10
Pasar untuk aktivitas perdagangan harian dan Kuala atau muara sungai sebagai pusat pengangkutan dan pelabuhan (di Kampung adalah anak sungai dan dermaga). Gambar 2 menunjukkan tata letak khas Kampung tradisional dan komponennya yang selanjutnya menjadi dasar pembentukan Bandar Melayu Tradisi.
Berdasarkan Hamid (1988) dan Yahya (1998) dalam Akub (2013), bentuk khas perkampungan Melayu tidak memiliki batas fisik seperti pagar, dinding dan sebagainya tetapi menggunakan alam sebagai indikator perbatasan seperti pohon, tebing alami seperti sungai, bukit dan sebagainya.
Salah satu bentuk kotayang dikatakan sebagai Bandar Melayu Tradisi yang masih ada yaitu Kuala Terengganu (Fazamimah 2007). Fazamimah (2007) dalam kajiannya juga telah membuktikan bahwa terbentuknya Bandar Melayu Kuala Terengganu, dipengaruhi oleh faktor fisik dan sosial budaya (bukan fisik) masyarakat Melayu itu sendiri. Komponen fisik utama Bandar Melayu Tradisi yang ada di Kuala Trengganu yaitu, istana, mesjid, pasar, sungai, kampung serta lingkungan alaminya. Istana sebagai lambang sistem pemerintahan kerajaan Melayu dan sekaligus sebagai Pusat Administrasi dan Kediaman Sultan serta kerabatnya. Mesjid sebagai simbol keagamaan penganutnya dan Pasar menggambarkan gaya hidup keseharian masyarakat Melayu dalam membeli keperluan dan memasarkan barang harian.
Kedatangan Islam pada abad ke-13 sampai abad ke-16 Masehi telah mendorong masyarakat Melayu untuk memeluk ajaran agama Islam. Ajaran ini banyak mempengaruhi pembentukan budaya dan cara hidup di Bandar Melayu tradisi. Karakter dan desain fisik seperti Istana dan rumah kediaman dibangun dengan berlandaskan kepada ajaran Islam. Selain Istana, Mesjid adalah komponen penting Bandar Melayu Tradisi sebagai pusat keagamaan dan juga simbol dari agama Islam. Desain fisik dan karakter Istana Kesultanan Melayu serta rumah kediaman penduduk diperhitungkan berdasarkan kepercayaan dan ajaran agama Islam. Desain dan karakter seperti ini dapat dilihat juga pada bangunan dan struktur lainnya seperti wakaf, pintu gerbang dan pemakaman (Tajuddin 1998).
Sumber: Sundra Rajoo (1998)
11 Noor Fazamimah (2007) dalam Akub (2013) membuat perbandingan Bandar Melayu Kuala Terengganu dengan Bandar Kota Bharu, Kelantan yang mana kedua bandar ini mayoritas penduduknya adalah masyarakat Melayu (Tabel 1). Hasilnya terdapat hampir semua ciri dan kriteria Bandar Melayu Tradisi di Kuala Terengganu terdapat di Kota Bharu. Persamaan yang terlihat adalah kedua-dua bandar ini tidak “dipengaruhi” pembentukannya oleh Pemerintah kolonial Inggris maupun Jepang. Sultan yang menentukan setting bandar serta pada keduanya terdapat istana, mesjid, pasar dan lain-lain dalam jarak yang dapat ditempuh melalui jalan kaki.
Tabel 1 Persamaan Bandar Melayu Kuala Terengganu dengan Bandar Kota Bharu, Kelantan
Karakter Kuala Trengganu Bandar Kota Bharu
Sosial-Politik Sistem Pemerintahan Islam - Monarki
Pembentukan Bandar tidak di pengaruhi penjajah
Bergantung Kepada Sungai dan Laut, pekerjaan utama nelayan dan berdagang
Mempunyai kemahiran kraft-Batik, songket, peralatan daput, dll
Sama
Sama
Komponen Fisik Komponen Fisik Utama:
1. Istana (Komplek Istana Maziah) 2. Masjid (Masjid Abidin) 3. Pasar (Kedai Pasar Payang)
4. Kawasan Ruang Terbuka Rakyat
5. Sungai (Sungai Trengganu )
6. Kampung Melayu
Semua Komponen dapat ditempuh dalam jarak berjalan kaki
Komponen Fisik Utama:
1. Istana (Komplek Istana Balai Besar) 2. Masjid (Masjid Muhamadi) 3. Pasar (Pasar Buluh Kubu) 4. Kawasan Ruang Terbuka Rakyat 5. Sungai (Sungai Kelantan)
6. Kampung Melayu
Semua komponen dapat di tempuh dalam jarak berjalan kaki
Sumber: Noor Fazamimah (2007) dalam Akub (2013)
Selain kota atau Bandar Melayu yang terdapat di semenanjung Malaysia, terdapat juga kota pinggir Sungai yang terletak di Provinsi Riau yaitu, Kota Siak Sri Indrapura. Kota ini membentuk pola linier berupa perkampungan yang terbentang memanjang mengikuti aliran Sungai Siak. Hirarki ruang fisik yang terbentuk di Kota Siak Sri Indrapura (Rijal 2002), berupa:
1. Ruang yang terbentuk oleh kondisi alam berupa Sungai Siak, dimana ruang ini menjadi unsur yang penting karena Sungai Siak merupakan jalur transportasi perairan utama dan merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Siak.
2. Ruang dermaga, dimana ruang ini menjadi penting dilihat dari segi fungsinya sebagai fasilitas penyeberangan, sebagai jalur transportasi yang menghubungkan Kota Siak Sri Indrapura ke kawasan lainnya.
12
4. Lapangan terbuka di depan Istana Siak, dimana ruang ini menjadi penting dilihat dari segi fungsinya sebagai fasilitas ruang komunal masyarakat dalam melakukan kegiatan bersama dan merupakan ruang terbuka terluas pada kawasan ini.
5. Ruang pasar yang terbentuk pada kawasan pasar dimana pasar ini menjadi unsur yang penting dilihat dari segi fungsinya sebagai fasilitas lingkungan yang menjadi pusat aktivitas perekonomian masyarakat di Kota Siak Sri Indrapura.
Menurut Hamidy (2003), pada masa dahulu sebelum ada jalan darat yang memadai, maka rumah hampir semuanya didirikan di pinggir sungai atau tepi pantai. Orang Melayu amat menyukai rumah panggung, yaitu rumah yang memakai tiang. Semula memakai tiang kayu, kemudian juga dipakai tiang batu yang memakai semen. Mendirikan rumah di tepi perairan atau di atas permukaan air itu dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai kemudahan. Pertama hal itu untuk memudahkan bepergian kemana-mana dengan memakai sampan atau perahu. Alat ini dengan mudah diletakkan di bawah rumah, dan mudah ditarik atau dipakai begitu setiap diperlukan.
Perkampungan Melayu terdiri dari berbagai bangunan. Pertama tentu saja rumah-rumah penduduk yang menghadap ke lebuh atau jalan besar sepanjang kampung. Di sekitar rumah ada berjenis tanaman dan pohon buah-buahan. Kadang-kadang kita jumpai perumahan itu sebagai satu gugusan, terpisah dengan gugusan lainnya. Tiap gugusan atau kelompok itu biasanya mempunyai sebuah tempat mengaji yang disebut surau. Mesjid biasanya terletak di tengah kampung, agar semua warga relatif mudah mengunjunginya. Sekarang ada bangunan yang disebut balai desa atau kantor kepala (wali) desa, yaitu tempat wali desa bekerja sehari-hari. Kemudian ada laman silat, yaitu tempat bersilat.
Semenjak tahun 1980-an, orang Melayu yang mendirikan rumah di tepi sungai berkurang dengan drastis, ini terjadi, karena hutan simpanan mereka yang dahulu berperan sebagai penahan air dan banjir, sudah habis. Keadaan ini menyebabkan mereka menyingkir mengambil tempat yang lebih tinggi, menjauhi tebing sungai.
Kebudayaan Melayu
Istilah Melayu menurut Burhanudin Elhulaimy dalam bukunya Asas Falsafah Kebangsaan Melayu mencatat beberapa istilah kata tersebut. Ada yang berpendapat kata Melayu berasal dari kata mala yang berarti mula dan yu yang berarti negeri, selanjutnya dalam bahasa Jawa, kata Melayu berarti lari atau berjalan cepat, lalu kita kenal pula ada sungai Melayu, di antaranya dekat Johor dan Bangkahulu (Hamidy 2003). Istilah melayu itu baru dikenal sekitar tahun 644 Masehi, melalui tulisan cina yang menyebutnya dengan kata Mo-lo-yeu. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa Mo-lo-yeu mengirimkan utusan ke Cina , membawa barang hasil bumi untuk dipersembahkan kepada Kaisar Cina. Jadi kata Melayu
menjadi nama kerajaan dewasa itu (Hamidy 1996).
13 Kedatangan mereka juga bergelombang ke Nusantara ini. Gelombang pertama diperkirakan terjadi antara 3000 samapi 2500 sebelum Masehi. Gelombang ini disebut Proto Melayu atau Melayu tua. Diantara mereka banyak yang digolongkan kepada masyarakat terasing (Pedalaman) seperti Talang Mamak, Sakai dan Suku Laut. Gelombang kedua terjadi terjadi sekitar 300 sampai 200 tahun sebelum masehi. Disebut Deutro Melayu atau Melayu muda. Gelombang yang terakhir inilah yang tampak paling besar, sebab ternyata inilah yang paling dominan dalam masyarakat Melayu.
Pada dasarnya ada tiga sistem nilai yang cukup dominan dalam kehidupan orang Melayu di Riau, ketiganya ialah Islam, adat dan resam (Kebiasaan) (Hamidy 2003). Sistem nilai yang tiga inilah yang amat besar pengaruhnya dalam pembentukan pandangan hidup, sikap dan perilaku. Pertama, tata nilai Islam dipandang oleh orang Melayu dapat memenuhi kebutuhan hidup di dunia, serta dapat pula diharapkan untuk menghadapi kematian, menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Nilai-nilai ajaran Islam dipandang sempurna tanpa cacat dan tiada diragukan kebenarannya. Kedua, Adat dipandang oleh orang Melayu sebagai seperangkat norma beserta sanksinya sebagai hasil rancangan leluhur yang bijaksan masa silam. Tata nilai ini mengatur hubungan antara insan, hubungan antar puak, serta hubungan dengan kerajaan atau negara.
Sedangkan yang ketiga, Resam atau tradisi merupakan tata nilai puak Melayu yang berakar kuat kepada kesejarahan masa lampau. Dalam resam inilah terpelihara nilai-nilai kepercayaan para leluhur, sehingga membayangkan kepurbaannya. Hubungan yang kuat dengan masa silam, membuat kadar Animisme-Hinduisme masih membekas. Bekasnya dapat dilihat dalam tata hubungan manusia dengan alam, seperti bagaimana membuka hutan rimba, turun ke laut, menghadapi bencana alam, mengobati penyakit dan sebagainya. Perjalanan hidup orang Melayu akhirnya sampai pada pintu rahmat Allah, yaitu dengan dapatnya hidayah oleh mereka untuk memeluk agama Islam. Mereka beralih dari jalan kepercayaan yang karut kepada ajarah tauhid. Yang berisi jalan yang lurus dalam keselamatan yang abadi.
Dalam mengkaji pandangan hidup dan alam, pemikiran Orang Melayu dapat dikategorikan yaitu (Suwardi 1991):
1 Hubungan Manusia dengan Tuhan Orang Melayu sebagai kumpulan manusia-manusia yang telah menggunakan daya, cipta, rasa dan karsanya telah melahirkan budaya Melayu. Menurut pandangan Orang Melayu dalam pertumbuhan dan perkembangannya dari sejak adanya telah mengakui bahwa ada kekuatan di luar kekuasaan manusia itu. Pandangan seperti ini di kenal dengan animisme dan dinamisme. Oleh karena itu mereka mengakui dan mempercayai kekuasaan lebih tinggi yang lebih dikenal dengan Tuhan dan bagi Orang Melayu disebut Allah. Orang Melayu telah menganut Agama Islam, adalah orang yang taat dalam menjalankan ajaran Allah yang terdapat dalam Al-Quran, Hadist yang dibawakan oleh para Imam, Ulama dan guru Agama sebagai sumber dalam kehidupan beragama. Agama islam dengan budayanya telah tumbuh pula di kawasan Melayu sejak abad ke-7 dan berkembang pesat sejak kesultanan Malaka dan Riau-Johor-Pahang dan Lingga.
14
2 Hubungan Manusia dengan Lingkungan masyarakatnya
Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Manusia sebagai makhluk individu tidak bisa hidup sendirian tetapi hidup berkelompok. Kelompok manusia yang paling kecil disebut keluarga dan kelompok besar disebut Bangsa.
Orang Melayu, Khususnya Orang Melayu Riau seperti terdapat pada ungkapan-ungkapan yang bermakna menunjukkan sikap hidup kemanusiaan, persatuan, musyawarah, keadilan sosial. Ungkapan tersebut seperti dimuat dalam Gurindam 12 pasal ke duabelas yaitu:
Raja bermufakat dengan mentri berakal itu tentang manusia dan masyarakatnya akan menunjukkan nilai-nilai budaya Melayu tentang persatuan, perdamaian, kesejahteraan untuk setiap orang yang telah tumbuh dan berkembang yang akan menjaga hasanah bagi budaya bangsa kita.
3 Hubungan Manusia dengan Alam
Manusia dengan alam saling membutuhkan dalam kelangsungan hidupnya. Alam nyata dengan segala wujudnya seperti bumi, dengan segala benda yang terdapat di atas dan di dalam perut bumi itu serta langit dengan planet-planetnya dipandang mempunyai fungsi dan peranannya untuk kepentingan kehidupan manusia. Dalam perjalanan kehidupan itu Orang Melayu telah menggunakan alam nyata sesuai dengan kebutuhannya. Lautan, sungai, gunung, daratan, tumbuhan, hewan dan lain-lain digunakan untuk kebutuhan hidupnya.
Mereka mempunyai pandangan bahwa kesalahan memanfaatkan sumber daya alam akan menimbulkan bencana. Karena itu dapat dikatakan bahwa mereka yang hidup dari sumber alam tanpa merusak alam itu sendiri. (cara perladangan berpindah). Sistem itu berupa siklus tahunan tertentu, karena itu mereka disebut memiliki “kearifan lingkungan”. (Hamidy 1989) mengatakan pemakaian tanah itu bukanlah meruyak (melebar) terus menerus yang bisa menghabiskan hutan tanah. Tapi memperhitungkan kemampuan alam (hutan) dalam batas-batas yang wajar.
4 Hubungan Manusia sebagai pribadi
15
METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan selama sebelas bulan, mulai bulan November 2012 hingga bulan November 2013. Lokasi penelitian adalah di Kota Pekanbaru (Gambar 3), terletak pada koordinat geografis 101°14' - 101°34' Bujur Timur dan 0°25' - 0°45' Lintang Utara.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari hardware yaitu berupa
Global Positioning System (GPS), kamera digital, notebook dan software untuk mengolah data. Sementara, bahan yang diperlukan mencakup lembar panduan wawancara, kuisioner, peta Pekanbaru Lama, peta Administrasi Kota Pekanbaru, peta Kecamatan, dan RTRW Kota Pekanbaru.
Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yang mencakup kegiatan persiapan, pengumpulan data, analisis dan sintesis, serta penyusunan rekomendasi elemen utama pembentuk karakter lanskap dan aplikasi pada lanskap Kota Pekanbaru (Gambar 4).
Tahap Persiapan
Tahapan ini merupakan tahapan awal penelitian yang meliputi penentuan lokasi, perumusan masalah dan penyusunan proposal penelitian. Lokasi studi yang dipilih pada penelitian ini adalah Kota Pekanbaru yang berada di Provinsi Riau. Selanjutnya mengangkat permasalahan yang ada di Kota Pekanbaru tentang karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru, keadaan lanskap Melayu saat ini
16
dan aplikasi lanskap Melayu di kota Pekanbaru. Melakukan pengumpulan informasi awal tentang kepustakaan yang terkait dengan judul penelitian. Selanjutnya adalah membuat draft usulan penelitian serta melakukan tatap muka dengan dosen pembimbing untuk menyatukan persepsi terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Pengumpulan Data dan Informasi
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat primer dan sekunder. Data yang dibutuhkan pada penelitian dijabarkan pada Tabel 1. Data primer diperoleh melalui proses teknik wawancara mendalam dan observasi lapang. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi secara langsung dari sumber informasi (key informant). Informasi tersebut berkaitan dengan sejarah perkembangan Kota Pekanbaru dan kebudayaan Melayu. Narasumber yang dipilih yaitu dengan mempertimbangkan latar belakang dan tingkat interaksi yang dimiliki calon narasumber dengan sejarah perkembangan kota dan budaya Melayu (Tabel 2). Selain melalui proses wawancara, data primer juga diperoleh melalui observasi lapang untuk mengetahui keadaan dan keberadaan elemen pembentuk karakter lanskap Melayu di Kota Pekanbaru.
Data Sekunder diperoleh melalui penelusuran litaratur yang terkait dengan topik penelitian. Data sekunder yang dibutuhkan diantaranya, data sejarah dan perkembangan kota, kebudayaan Melayu Riau, kondisi umum kota, penggunaan lahan, struktur kota, dan aspek legal. Data tersebut akan diperoleh dari instansi-instansi terkait baik tingkat provinsi maupun kota, perpustakaan, dan dari sumber sekunder terkait lainnya.
Gambar 4 Tahapan penelitian
Sejarah perkembangan kota Pengamatan lanskap kota
Perkembangan karakteristik
Arahan terhadap elemen utama pembentuk karakteristik lanskap Melayu dan aplikasinya pada lanskap Kota Pekanbaru Pengumpulan data
Analisis-Sintesis
17 Tabel 2 Deskripsi data analisis yang digunakan pada penelitian
No Data Unit Data Sumber Data Pengumpulan Data 1 Lanskap Melayu
2 Lanskap Kota Pekanbaru
a Kondisi Umum
Peta Landuse saat ini
18
1. Kebijakan RTRW, pembangunan
dan pengembangan
Analisis Perkembangan Karakteristik Lanskap Melayu
Metode yang digunakan pada analisis ini adalah penelusuran sejarah perkembangan karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru melalui studi pustaka dan menggali informasi secara langsung terhadap sumber informasi (key informant) melalui wawancara mendalam yang terstruktur. Narasumber yang dipilih dengan mempertimbangkan latar belakang dan tingkat interaksi terhadap perkembangan lanskap sejarah Kota Pekanbaru (Tabel 3).
19 Analisis karakteristik lanskap Melayu ini menggunakan sebelas karakteristik lanskap perkotaan hasil modifikasi dari sebelas komponen karakteristik lanskap perkotaan (Arifin 2011), dan sebelas komponen karakteristik lanskap (Clelland 1999) dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil analisis ini berupa deskripsi dan gambaran spasial dari perkembangan karakteristik lanskap Melayu di Kota Pekanbaru.
Tabel 4 Pendekatan analisis perkembangan karakteristik lanskap Melayu
Komponen Arifin (2011) Komponen Clelland (1999) Komponen Kombinasi
1. Land use dan aktivitas
2. Pola organisasi spasial
1. Land use and Aktivities
2. Patterns of spatial
organization
3. Response to the natural
environment
1. Land use dan aktivitas
2. Pola organisasi spasial
Identifikasi Keberadaan Elemen Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu Metode yang digunakan pada analisis ini adalah survei dengan menggunakan pendekatan data dari hasil analisis karakteristik perkembangan lanskap Melayu. Metode analisis ini dilakukan melalui kegiatan observasi lapang sebagai ground true check keadaan dan keberadaan elemen pembentuk karakter lanskap Melayu yang ada saat ini, serta melakukan pengecekan posisi menggunakan Global Positioning System (GPS). Hasil dari analisis ini berupa deskripsi dan gambaran spasial dari pengamatan keadaan dan keberadaan elemen pembentuk karakter lanskap Melayu di kota Pekanbaru.
Analisis Elemen Prioritas Pembentuk Karakteristik Lanskap Melayu
20
Tahapan dalam melakukan analisis AHP menurut Saaty (1993) dilakukan sebagai berikut:
1. Penggunaan AHP dimulai dengan membuat struktur hierarki dari permasalahan yang ingin diteliti. Penetapan struktur hierarki ini terdiri atas empat level. Level pertama, merupakan tujuan dari analisis ini yaitu menentukan elemen prioritas pembentuk karakteristik lanskap Melayu.
Level kedua, merupakan komponen yang digunakan pada analisis ini. Level
ketiga, merupakan variabel dari komponen elemen prioritas pembentuk karakteristik lanskap Melayu. Level keempat, merupakan alternatif keputusan berupa tindakan yang dilakukan terhadap elemen prioritas pembentuk karakteristik lanskap Melayu (level 4). Skema hierarki AHP yang dirancang terangkum pada Gambar 5.
2. Hierarki yang telah disusun kemudian dinilai oleh 5 orang responden pakar terpilih sebagai input utama (Tabel 5). Penilaian tersebut dilakukan dalam bentuk matriks perbandingan berpasangan (pairwise comparison) yaitu dengan membandingkan setiap elemen dengan elemen yang lainnya pada setiap komponen, variabel, dan alternatif sehingga didapat nilai kepentingan elemen dalam bentuk pendapat yang bersifat kualitatif menjadi kuantitatif dengan menggunakan skala penilaian Saaty, berdasarkan skema hierarki AHP yang dirancang (Saaty 1993). Penilaian perbandingan berpasangan terdapat dalam kuesioner AHP yang dapat dilihat dalam Lampiran 1.
Untuk responden pakar tidak terdapat ketentuan dalam hal jumlah pakar. Terdapat tiga kriteria dalam penentuan pakar sebagai responden, yaitu:
a. Memiliki keahlian atau menguasai secara akademik bidang yang diteliti b. Memiliki reputasi kedudukan atau jabatan dan sebagai ahli pada bidang
yang diteliti
c. Mamiliki pengalaman dalam bidang kajian yang dimiliki
Berdasarkan kriteria tersebut maka ditentukan lima responden pakar terpilih dengan melihat latar belakang serta tingkat interaksi terhadap sejarah perkembangan kota dan budaya Melayu Riau responden dapat berasal dari akademisi, praktisi, pengambil kebijakan, keprofesian, sejarawan dan budayawan (Tabel 5 dan Lampiran 2).
Tabel 5 Rincian jumlah pakar
No Pakar Asal
21 Intensitas perbandingan untuk mengukur tingkat kepentingan disusun dalam skala 1-9, dimana skala 1 menunjukkan tingkat kepentingan yang sama dan skala 9 menunjukkan bahwa kriteria pertama memiliki tingkat kepentingan yang ekstrim dibanding kriteria kedua (Tabel 6).
Tabel 6 Skala pembanding penilaian kriteria metode perbandingan berpasangan
Intensitas
Pentingnya Definisi
1 Sama (equal): kedua elemen yang dibandingkan sama pentingnya
3 Sedang (moderate): elemen yang satu sedikit lebih penting dibanding elemen lainnya
5 Kuat (strong): elemen yang satu sangat penting disbanding elemen lainnya 7 Sangat kuat (very strong): satu elemen jelas lebih penting dari pada lainnya
9 Ekstrim (Extreme): satu elemen mutlak lebih penting disbanding elemen lainnya
2,4,6,8 Nilai-nilai antara diantara dua pertimbangan yang berdekatan
Kebalikan Jika elemen I mendapat satu angka bila dibandingkan dengan elemen j, maka j mempunyai nilai kebalikannya dibandingkan i
Metode ini digunakan untuk menghasilkan rekomendasi yang tepat, berupa elemen prioritas yang paling berpengaruh sebagai pembentuk karakter lanskap Kota Pekanbaru dan tindakan yang dilakukan terhadap elemen prioritas tersebut. Pengolahan data dalam metode AHP dibantu dengan perangkat lunak Expert Choice V.11.
Penyusunan Rekomendasi
Gambar 5 Skema Hierarki Analytical Hierarchy Process
Penetapan Perlindungan Pengembangan
Elemen Prioritas Pembentuk Karaktreristik Lanskap Melayu
GAMBARAN UMUM WILAYAH
Kota Pekanbaru
Letak Geografis dan Batas Administrasi
Kota Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau, secara geografis terletak antara koordinat 101°14’ dan 101°34’ BT dan 0°25’ dan 0°45’ LU. Secara administrasi wilayah Kota Pekanbaru berbatasan langsung dengan (BPS 2011): Sebelah Utara : Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar
Sebelah Selatan : Kabupaten Kampar dan Kabupaten Pelalawan Sebelah Timur : Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan Sebelah Barat : Kabupaten Kampar
Luas keseluruhan wilayah Kota Pekanbaru 632,26 km2 terdiri dari 12 kecamatan dan 58 kelurahan (Gambar 6). Pembagian daerah administrasi Kota Pekanbaru disajikan pada Tabel 7
Tabel 7 Pembagian administrasi Kota Pekanbaru menurut Kecamatan Tahun 2011
Kecamatan Luas Wilayah (Km2)
Jumlah Kelurahan
Jumlah RW
Jumlah RT
1.Tampan 59,81 4 54 304
2. Payung Sekaki 43,24 4 38 164
3. Bukit Raya 22,05 4 56 230
4. Marpoyan Damai 29,74 5 70 300
Sumber: PKP (2012)
24
Sumber: BPS Kota Pekanbaru (2012)
Klimatologi
Pada umumnya Kota Pekanbaru beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 30,5° C sampai 33,7° C dan suhu minimum berkisar antara 21,6° C sampai 23,9° C dengan kelembapan udara berkisar antara 69% dan 81%. Selama tahun 2011 curah hujan di wilayah Kota Pekanbaru menunjukkan hujan sebesar 26,1 - 341,4 mm, dengan keadaan musim hujan jatuh pada bulan Januari sampai dengan April dan September sampai dengan Desember. Sedangkan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan Agustus (BPS 2012).
Topografi
Kota Pekanbaru terletak pada ketinggian rata-rata 5 meter di atas permukaan air laut, hanya daerah-daerah tertentu yang letaknya lebih tinggi dari ketinggian rata-rata, yaitu daerah di sekitar Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II dengan ketinggian 26 meter di atas permukaan air laut dan di bagian utara dan timur Kota Pekanbaru. Topografi di Kota Pekanbaru berdasarkan kelas kelerengan dapat digolongkan menjadi empat bagian yaitu:
0 % - 2 % : merupakan wilayah yang datar 2 % - 15 % : landai sampai berombak
15 % - 40 % : berombak sampai bergelombang di atas 40 % : bergelombang sampai berbukit
Secara umum kondisi wilayah Kota Pekanbaru merupakan dataran rendah dengan kemiringan lereng 0 - 2 persen. Beberapa wilayah di bagian utara dan timur memiliki morfologi bergelombang dengan kemiringan di atas 40 persen. Ditinjau dari kondisi topografi wilayah perencanaan Kota Pekanbaru, kelerengan 0-20 persen sampai dengan 2-15 persen mencakup luasan yang cukup besar yaitu 566,56 Ha atau 89,61 persen dari luas wilayah secara keseluruhan (PKP 2001). Hidrologi
25 lalu lintas perekonomian rakyat pedalaman ke kota serta daerah lainnya (BPS 2012). Sungai Siak juga berstatus sebagai sungai strategi nasional, yang menghubungkan Riau dengan luar negeri.
Geologi
Struktur geologi Kota Pekanbaru terdiri atas Formasi Minas yang dikelilingi oleh aluvium muda sepanjang aliran Sungai Siak dan Aluvium tua yang berawa-rawa. Formasi Minas ini terdiri dari kerikil, sebaran kerakal, pasir dan lempung yang juga merupakan alluvium namun relatif lebih terkonsolidasi (PKP 2001). Tata Guna Lahan
Lebih dari setengah luas total Kota Pekanbaru didominasi oleh lahan-lahan terbangun yang semakin padat. Dengan pertambahan penduduk sebesar 4,47% dalam periode tahun 2010-2011 membuat semakin banyak lahan yang digunakan sebagai permukiman (BPS 2012). Rencana penggunaan lahan kota Pekanbaru tahun 2007-2026 disajikan dalam Tabel 8 dan Gambar 7.
Tabel 8 Rencana penggunaan lahan Kota Pekanbaru Tahun 2007-2026
No Jenis Penggunaan Total (Ha) %
I Kawasan Budidaya 32.531,51 51,45
1 Kawasan Permukiman 22.521,46 35,62
2 Kawasan Perdagangan 1.781,39 2,82
3 Kawasan Perkantoran 207,18 0,33
4 Kawasan Perkantoran dan Jasa 85,57 0,14
5 Kawasan Industri 3.316,48 5,25
6 Kawasan Pergudangan 227,79 0,36
7 Kawasan Pendidikan 667,34 1,06
14 Pusat Kegiatan Budaya Melayu 11,85 0,02
15 Kawasan Mesjid Agung 14,17 0,02
16 Kawasan Payung Sekaki 147,14 0,23
II Kawasan Lindung 30.050,58 47,53
1 Perlindungan Daerah Bawahan 12.356,47 19,54
2 Kawasan Lindung Setempat 17.680,58 27,96
3 Kawasan Cagar Budaya 13,53 0,02
III LAIN – LAIN 643,91 1,02
Total 63,226.00 100,00