• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

E. GambaranPegawai

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kab. Bantaeng terdiri dari 180 (enam puluh dua orang) pegawai tetap dengan berbagai tingkat pendidikan pegawai.

Tingkat pendidikan pegawai tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:

Tabel 4. 1

Tingkat Pendidikan Pegawai KPP Pratama Kab. Bantaeng No Tingkat pendidikan pegawai jumlah

1 SLTA 27

2 D1 29

3 D3 36

4 D4/ S1 80

5 S2/ S3 8

Jumlah 180

Sumber : Subbag Umum KPP Pratama Bantaeng

Sedangkan untuk informasi kepangkatan pegawai pada KPP Pratama bantaeng dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2

Kepangkatan Pegawai KPP Pratama Bantaeng

No Kepala Pegawai Jumlah

1 IV 15

2 III 110

3 II 55

Jumlah 180

Sumber: Subbag Umum KPP Pratama Bantaeng

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitan ini dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng. Responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah para pegawai KPP Pratama Bantaeng. Pengumpulan data dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner penelitin secara langsung kepada responden yang bertugas di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng. jumlah kuesioner yang disebarkan adalah sebanyak 60 kuesioner atau 100% dan jumlah kuesioner yang kembali dan dapat diolah sebanyak 60 kuesioner atau 100% kuesioner.

Penyebaran serta pengembalian kuesioner dilaksanakan mulai dari bulan juli 2015 sampai dengan agustus 2015.

Tabel 5.1 Sampel Penelitian

No Keterangan kuesioner Jumlah Persentase(%)

1 Kuesioner yang disebar 60 100%

22 2 Kuesioner yang tidak kembali 0 0%

3 Kuesioner yang tidak dapat diolah 60 100%

4 Kuesioner yang dapat diolah 60 100%

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

2. Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah para pegawai pajak yang bertugas di KPP Pratama Bantaeng. Berikut ini adalah deskripsi mengenai

identitas responden penelitian yang terdiri dari jenis kelamin, usia, dan pendidikan terakhir, dan lama bekerja.

a. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin

Tabel 5.2

Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase

Pria 39 65%

Wanita 21 35%

Total 60 100%

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

Tabel 5.2 diatas menunjukkan bahwa 39 orang atau 65% responden didominasi oleh jenis kelamin pria, dan sisanya sebesar 21 orang atau 35% berjenis kelamin wanita.

b. Deskripsi responden berdasarkan usia Tabel 5.3

Deskripsi responden berdasarkan usia

Usia Jumlah Persentase

20-29 tahun 21 35%

30-39 tahun 20 33%

>39 tahun 19 32%

Total 60 100%

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 5.3 di atas berdasarkan umur responden terlihat bahwa umur responden 20-29 tahun berjumlah 21 responden atau sebesar 35%, umur responden 30-39 tahun berjumlah 20 responden atau sebesar 33%, umur responden >39 tahun berjumlah 19 responden atau sebesar 32%

c. Deskripsi responden berdasarkan pendidikan terakhir

Tabel 5.4

Deskripsi Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Jumlah Persentase

SMA 2 3%

D3 21 35%

S1 29 48%

S2 8 14%

Total 60 100%

Sumber : Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 5.4 di atas, berdasarkan pendidikan terakhir yang dimiliki responden terlihat bahwa responden dengan pendidikan terakhir SMA berjumlah 2 responden atau sebesar 3%, D3 berjumlah 21 responden atau sebesar 35%, S1 berjumlah 29 responden atau sebesar 548%, dan S2 berjumlah 8 responden atau sebesar 14%. Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar wajib pajak orang pribadi di KPP Pratama Bantaeng adalah sarjana.

d. Karakteristik responden berdasarkan pengalaman kerja Tabel 5.5

Deskripsi Responden Berdasarkan Lama Bekerja

Lama Kerja Jumlah Persentase(%)

1-5 tahun 23 38%

6-10 tahun 17 28%

>10 tahun 20 34%

Total 60 100%

Sumber : data primer yang diolah, 2015

Dari data karakteristik responden berdasarkan pengalaman kerja pada tabel 5.5 diatas, maka jumlah responden terbesar adalah

responden yang memiliki pengalaman kerja selama 1-5 tahun sebanyak 23 orang atau 38%, sedangkan jumlah responden yang terendah adalah responden yang memiliki pengalaman kerja selama 6-10 tahun yaitu sebanyak 17 orang atau 28%.

B. Hasil Analisis Deskriptif

Analisis data dilakukan dengan cara yakni uji statistik deskriptif, uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan model regresi linear berganda. Data yang tersedia bagi variabel dependen yaitu penerimaan pajak dan variabel independen yang terdiri dari pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak.

Analisis dilakukan dengan menguji pengaruh kedua variabel independen terhadap variabel dependen kinerja penerimaan pajak secara simultan melalui uji F, secara parsial melalui uji t, dan untuk mengetahui variabel manakah yang lebih dominan mempengaruhi penerimaan pajak.

1. Hasil Uji Statistik Deskriptif

Pengukuran statistik deskriptif variabel dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai kisaran teoritis, kisaran aktual, rata-rata (mean) dan standar deviasi dan masing-masing variabel yaitu pemeriksaan pajak, tingkat kepatuhan wajib pajak dan penerimaan pajak disajikan sebagai berikut:

Tabel 5.6

Hasil Uji Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Pemeriksaan Pajak 60 22.00 35.00 28,78 3,031

Tingkat Kepatuhan

Wajib Pajak 60 12.00 20.00 16,50 1,642

Penerimaan Pajak 60 13.00 20.00 16,90 1,664

Valid N (listwise) 60

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan Tabel diatas dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden ada 60. Dari 60 responden ini variabel independen pemeriksaan pajak memiliki nilai minimum sebesar 22 dan maksimum 35 dengan rata-rata total jawaban 28,78 dan standar deviasi 3,031. Pada variabel tingkat kepatuhan wajib pajak jawaban yang mempunyai nilai minimum sebesar 12 dan maksimum sebesar 20 dengan rata-rata total jawaban sebesar 16,50 dan standar deviasi I,64, sedangkan variabel dependen (penerimaan pajak) memiliki nilai minimum 13,00 dan maksimum sebesar 20,00 dengan rata-rata total jawaban sebesar 16,90 dan standar deviasi 1,66

C. Hasil Uji Kualitas Data a. Uji Validitas Instrumen

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh kuesioner

tersebut (Ghozali, 2011:52). Jika korelasi antara skor masing-masing butir pertanyaan dengan total skor mempunyai tingkat signifikan di bawah 0,05 maka butir pertanyaan tersebut dikatakan valid dan begitu pula sebaliknya.

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil uji validitas dari variabel pemeriksaan pajak dengan 60 sampel responden.

Tabel 5.7

Uji Validitas Pemeriksaan Pajak Pernyataan Pearson

correlation

Sig. keterangan

X1.1 .500** .000 Valid

X1.2 .735** .000 Valid

X1.3 .747** .000 Valid

X1.4 .721** .000 Valid

X1.5 .613** .000 Valid

X1.6 .684** .000 Valid

X1.7 .855** .000 Valid

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 5.7 terlihat bahwa semua butir pernyataan untuk variabel yang memiliki subvariabel pemeriksaan pajak berada pada tingkat signfikan yaitu dibawah 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan penelitian valid. Tabel dibawah ini menunjukkan hasil uji validitas dari variabel tingkat kepatuhan wajib pajak dengan 60 sampel responden.

Tabel 5.8

Uji Validitas Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Pernyataan Pearson

Sumber: data primer yang diolah, 2015

Tabel 5.8 terlihat bahwa semua butir pernyataan untuk variabel yang memiliki subvariabel tingkat kepatuhan wajib pajak berada pada tingkat signifikan yaitu dibawah 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan penelitian valid. Tabel dibawah ini menunjukkah hasil uji validitas dari variabel penerimaan pajak dengan 60 sampel responden.

Tabel 5.9

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Tabel 5.9 terlihat bahwa semua butir pernyataan untuk variabel yang memiliki subvariabel penerimaan pajak (Y) berada pada tingkat signifikan yaitu dibawah 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa pernyataan penelitian valid.

b. Uji Reliabilitas Instrumen

Uji reliabilitas hanya dapat dilakukan jika suatu instrumen telah dipastikan validitasnya. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini untuk menunjukkan tingkat reliabilitas konsistensi internal teknik yang digunakan adalah dengan mengukur koefesien Crombach’s Alpha dengan bantuan program SPSS 20 reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai . Crombach’s Alpha yang lebih besar dari 0,60. Pemeriksaan pajak (X1) 0,796 7 Reliabel Tingkat kepatuhan wajib

pajak (X2)

0,652 4 Reliabel

Penerimaan pajak (Y) 0,603 4 Reliabel

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan baik jika memiliki nilai crombach’s Alpha>0,60. Dan sebaliknya reliabilitas suatu konstruk variabel dikatakan tidak baik jika memiliki nilai crombach alpha<0,60.

Berdasarkan hasil uji statistik pada tabel diatas yaitu tabel 5.10 menunjukkan bahwa pernyataan dalam koesioner ini reliabel karena mempunyai nilai crombach’s Alpha lebih besar dari 0,60.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap item pernyataan yang digunakan akan mampu memperoleh data yang konsisten yang berarti

jika penyataan itu disajikan kembali akan diperoleh jawaban yang relatif sama dengan jawaban sebelumnya.

D. Hasil Uji Asumsi Klasik

Sebelum dilakukan analisis regresi linear untuk pengujian hipotesis, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian keabsahan persamaan regresi berdasarkan asumsi klasik secara teoritis, model yang digunakan akan menghasilkan nilai parameter penduga yang sahih bila memenuhi asumsi normalitas, tidak terjadi autokorelasi, tidak terjadi multikolineritas, dan tidak terjadi heterokedastisitas.

a. Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen dan variabel independen atau keduanya mempunai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal.

Gambar 5.1 Hasil Uji Normalitas

Sumber: Data primer yang diolah, 2015

Berdasarkan grafik normal plot pada gambar 5.1 menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai dalam penelitian ini karena pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal sehingga memenuhi asumsi normalitas.

b. Hasil uji multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk mrnguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).

Persyaratan yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya

multikolonieritas, dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) pada model regresi.

Tabel 5.11

Sumber: Data yang diolah, 2015

Hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan tidak ada nilai variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0.10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen. Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama, dengan nilai VIF untuk masing-masing variabel independen Pemeriksaan Pajak (X1) 2,893 dan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak (X2) 2,893, jadi tidak ada variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih dari 10.

E. Hasil Uji Regresi Linear Berganda a. Regresi Linear Berganda

Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda. Teknik regresi berganda digunakann untuk menguji dua atau lebih variabel independen terhadap satu variabel dependen, hasil uji regresi linear berganda terhadap kedua variabel

independen, yaitu pelaksanaan pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak dilihat pada tabel 5.11 berikut ini.

Tabel 5.12

Hasil Uji Regresi Linear Berganda

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

a. Dependent Variable: Penerimaan Pajak Sumber : Data Primer yang diolah, 2015

Berdasarkan tabel 5.12 di atas diketahui bahwa nilai koefisien dari persamaan regresi dari output didapatkan model persaaan regresi:

Y = a + b1X1 + b2X2

b1 : Koefesien regresi pemeriksaan pajak

b2 : Koefesien regresi tingkat kepatuhan wajib pajak

Hasil persamaan regresi, nilai konstanta sebesar 5,866 artinya Pemeriksaan Pajak (X1), dan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak (X2) sebesar 5,866. Koefesien regresi variabel pemeriksaan pajak (X1) sebesar 0.109 artinya artinya pemeriksaan pajak mengalami kenaikan 1% maka penerimaan pajak (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,109 dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap.

Koefesien regresi tingkat kepatuhan wajib pajak (X2) sebesar 0,479 artinya tingkat kepatuhan wajib pajak mengalami kenaikan 1% maka penerimaan pajak (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,479 dengan asumsi variabel independen lain nilainya tetap.

Berdasarkan hasil uji regresi linear berganda maka dapat dilihat variabel independen yang paling dominan mempengaruhi penerimaan pajak adalah variabel tingkat kepatuhan wajib pajak, karena dilihat berdasarkan nilai beta sebesar 0,479.

b. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen (pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak) secara serentak terhadap variabel dependen (penerimaan pajak). Ini menunjukkan seberapa besar persentase variasi variabel dependen koefesien dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 5.13

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R

Square

Std. Error of the Estimate

1 ,643a ,414 ,393 1,296

Berdasarkan tabel 5.13 model summary, diperoleh nilai Adjusted R2 sebesar 0.393 Hal ini menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel independen (pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak) terhadap variabel dependen (penerimaan pajak) sebesar 39.3% Atau variasi variabel independen yang digunakan dalam model (pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak) mampu menjelaskan sebesar 39.3% variasi variabel dependen (penerimaan pajak). Sedangkan sisanya sebesar -% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

F. Pengujian Hipotesis 1. Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui variabel bebas secara individual terhadap variabel terikat. Pada penelitian ini hipotesis 1 sampai dengan hipotesis 2 diuji dengan menggunakan uji t. pada uji t dilakukan dengan cara berdasarkan nilai probabilitas. Jika nilai signifikan <0,05 maka hipotesis yang diajukan diterima atau dikatakan signifikan. Sedangkan jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka hipotesis yang diajukan ditolak

atau dikatakan tidak signifikan. Hasil uji t pada penelitian ini dapat dilihat

a. Dependent Variable: Penerimaan Pajak

Dilihat dari tabel 5.13 diatas terlihat bahwa variabel pemeriksaan pajak memiliki nilai sig 0,256. Karena nilai probabilitas pemeriksaan pajak > 0,05 maka Ha1 ditolak dan mengandung arti pemeriksaan pajak tidak berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan pajak.

Sedangkan variabel tingkat kepatuhan wajib pajak menunjukkan hasil yang signifikan pada 0,008. Karena nilai probabilitas tingkat kepatuhan wajib pajak <0,05, maka dalam penelitian ini Ha2 diterima, yang mengandung arti tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan pajak.

2. Uji F

Uji F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara keseluruhan. Uji F dilakukan berdasarkan nilai probabilitas. Jika nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka Ha3

ditolak, artinya ada pengaruh yang signifikan dari variabel independen

terhadap variabel dependen. Sedangkan jika nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka Ha3 diterima, artinya tidak ada pengaruh signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji F penelitian ini dapat dilihat pada tabel 5.14 berikut ini.

Tabel 5.14

a. Dependent Variable: Penerimaan Pajak

b. Predictors: (Constant), Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak, Pemeriksaan Pajak

Sumber: Data primer yang diolah,2015

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai signifikan sebesar 0,000 atau lebih kecil dari nilai probabilitas (p-value) 0,05 (0,000 <

0,05), ini berarti bahwa variabel independen yaitu pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh signifikan secara bersama-sama terhadap penerimaan pajak.

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak. Dengan demikian semakin tinggi pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak maka semakin tinggi pula tingkat penerimaan pajak yang diharapkan tersebut.

Hal ini berarti semakin efektif seorang karyawan pemeriksa pajak dalam melakukan setiap tahapan-tahapan pemeriksaan pajak berdasarkan

Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK.04/2000 dapat meningkatkan penerimaan Negara dari sektor perpajakan. Peran pemeriksaan sebagai pendongkrak penerimaan pajak mengharuskan adanya pengawasan yang efektif terhadap pelaksanaan pemeriksaan pajak.

Berdasarkan hasil pengujian-pengujian yang telah dilakukan dapat diketahui kesimpulan penerimaan hipotesis sebagai berikut.:

Tabel 5.15

Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis

Hipotesis Pernyataan Hasil

Ha1 Pemeriksaan pajak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak kepatuhan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak

Hipotesis diterima

1.Variabel Pemeriksaan Pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Maria M. Ratna Sari, Ni Nyoman Afriyanti (2010) yang menyatakan bahwa pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak secara simultan berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak.

2. Variabel yang paling dominan mempengaruhi penerimaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng adalah variabel tingkat

kepatuhan wajib pajak dari pada variabel pemeriksaan pajak. Hal ini dapat dilihat dari nilai beta tingkat kepatuhan wajib pajak yang paling tinggi.

G. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang menguji pengaruh pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap penerimaan pajak orang pribadi pada KPP Pratama Bantaeng yang telah diuraikan diatas, maka ada beberapa hal yang dapat dijelaskan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Pengaruh Pemeriksaan Pajak Terhadap Penerimaan Pajak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan antara pemeriksaan pajak terhadap penerimaan pajak dilihat berdasarkan nilai sig>0,05 meskipun demikian pengaruhnya tetap ada.

Kenyataan dilapangan menunjukkan sekecil apapun peran pemeriksa pajak, akan tetap menentukan besarnya penerimaan pajak karena ada keharusan bagi wajib pajak yang diperiksa untuk memenuhi kewajibannya.

Hal ini berarti bahwa semakin efektif seorang karyawan pemeriksa pajak berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 545/KMK.04/2000 dapat meningkatkan penerimaan negara dalam sektor perpajakan. Peran pemerintah sebagai pendongkrak penerimaan pajak mengharuskan adanya pengawasan yang efektif terhadap pelaksanaan pemeriksaan pajak. Pengawasan atau pengendalian intern terhadap pemeriksaan pajak ini diimplementasikan dalam bentuk administrasi dan

monitoring terhadap pemeriksaan pajak. Pemeriksaan pajak juga bertujuan untuk meredam kecurangan yang dilakukan wajib pajak untuk meminimalkan pajaknya. Dalam rangka pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan wajib pajak DJP melakukan pemeriksaan rutin kepada wajib pajak. Apabila telah dilakukan pemeriksaan dengan baik maka akan berdampak pada peningkatan penerimaan pajak negara.

2. Pengaruh Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Terhadap Penerimaan Pajak

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak yang dilihat berdasarkan nilai sig<0,05. Hasil penelitian ini konsisten dengan Penelitian yang dilakukan Ratna Sari, Ni Nyoman Afriyanti (2010) yang menyatakan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh secara signifikan terhadap penerimaan pajak. Terdapat pengaruh yang signifikan antara tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap penerimaan pajak mengindikasikan bahwa peningkatan penerimaan pajak disebabkan oleh tingkat kepatuhan wajib pajak, dan semakin bertambahnya pengetahuan wajib pajak yang mengerti dan memahami sistem perpajakan di Indonesia sehingga berdampak positif pada perilaku wajib pajak terhadap kesadaran dan kepatuhan dalam hal menghitung dan membayar sendiri utang pajak yang terutang , serta menyampaikan SPT tepat pada waktunya sehingga akan signifikan positif terhadap penerimaan pajak

Dengan meningkatnya kepatuhan wajib pajak yang ada akan bisa meningkatkan penerimaan pajak nantinya, karena faktor utama yang mempengaruhi penerimaan pajak adalah tingkat kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya dalam membayar pajak.

Kepatuhan wajib pajak merupakan kesediaan wajib pajak secara suka rela dalam memenuhi kewajiban perpajakannya tanpa perlu melewati pemeriksaan, investigasi, peringatan atau ancaman dalam penerapan sangsi atau denda.

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak terhadap penerimaan pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bantaeng, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Pemeriksaan pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak. Dengan nilai signifikan>0,05 yaitu 0,256

2. Tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak, dilihat dari nilai sig 0,008 yang lebih kecil dari 0,005 3. Pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak berpengaruh

signifikan terhadap penerimaan pajak, dilihat dari nilai F sebesar 20,132 dan nilai sig 0,000

Hasil penelitian menyatakan bahwa pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak sangat penting dalam melakukan penerimaan pajak pada KPP Pratama Bantaeng maka perlu adanya peningkatan pemeriksaan pajak dan tingkat kepatuhan wajib pajak,

B. Saran

1. Penelitian ini hanya menggunakan 2 variabel independen yang mempengaruhi penerimaan pajak secara simultan. Oleh karena itu penulis mengharapkan partisipasi aktif peneliti berikutnya untuk meneliti faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi penerimaan pajak.

2. Peneliti ini hanya menggunakan 60 sampel responden. Sehingga diharapkan penelitian selanjutnya dapat menggunakan lebih banyak sampel dapat memperoleh hasil yang akurat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pemeriksaan pajak.

DAFTAR PUSTAKA Abut, Hilarus.2005. perpajakan. Jakarta: Diadit.

Arikunto S. 2006. Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI Cahya. 2013. Analisis faktor-faktor Penerimaan Pajak Penghasilan Orang

Pribadi.

Devano Sony, Siti Kurnia Rahayu. 2006. Perpajakan: Konsep, Teori dan Isu.

Jakarta: Kencana Prenada Media group.

Gozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program IBM SPSS 19. Semarang: Badan Peneliti Universitas Diponegoro.

Gunadi. 2005. Teknik pemeriksaan pajak untuk penetapan surat ketetapan pajak.

Jurnal Perpajakan Indonesia, 18-21.

Mardiasmo. 2009. Perpajakan. Edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Mardiasmo. 2009. Perpajakan, Edisi Revisi 2009. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Prabowo,Yusdianto. 2004. Akuntansi Perpajakan Terapan. Jakarta: Grasindo.

Rahmawati, Lina, (2012), Pengaruh Penagihan Pajak Terhadap Pelunasan Tunggakan Pajak dan Implikasinya Pada Penerimaan Pajak, Skripsi (S1), Fakultas Enonomi UniversitanKomputer Indonesia.

Ratnasari, Maria M, Afrianti Nyoman. 2010. Pengaruh Kepatuhan Wajib Pajak dan Pemeriksaan Pajak Terhadap Penerimaan PPh Pasal 25/29 Wajib Pajak Badan.

Resmi, Siti. 2011, Perpajakan: Teori dan Kasus. Edisi keenam. Jakarta: Salemba Empat.

Singgih, Santoso. 2002. Mengolah Data Statistik Secara Professional. Jakarta:

Elex Media Kompotindo.

Widodo, Widi. 2010. Moralitas, Budaya, dam Kepatuhan Pajak. Bandung: CV Alfabeta.

Yosi. 2010. “Hubungan Kepatuhan WajibPajak Orang Pribadi dengan Penerimaan Pajak Penghasilan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Barat dari Tahun Pajak 2000--2008”. Skripsi Program Ekstensi FE Unud, Denpasar

http://warungmassahar.blogspot.com, diakses pada tanggal 14 februari 2015.

www.vivanews.com. Diakses 14 februari 2015. Jakarta: PT Rineka Cipta.

L A M

P

I

R

A

N

LAMPIRAN

Sig.

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

UJI VALIDITAS X2

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

UJI VALIDITAS Y

Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,000 ,000

N 60 60 60 60 60

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

UJI RELIABILITAS X1

Item-Total Statistics

t Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

UJI REGRESI LINEAR BERGANDA

a. Dependent Variable: Penerimaan Pajak

UJI T

T Sig. Collinearity Statistics

B Std. Error Beta Tolerance VIF

a. Dependent Variable: Penerimaan Pajak

UJI F

a. Dependent Variable: Penerimaan Pajak

b. Predictors: (Constant), Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak, Pemeriksaan Pajak

DAFTAR PERNYATAAN

Penilaian Variabel-Variabel Penelitian A. Variabel Pemeriksaan Pajak. (X1)

No Pernyataan SS S KS TS STS

1

Seorang pemeriksa pajak telah mendapat pendidikan teknis yang cukup dan memiliki keterampilan sebagai pemeriksa pajak.

2

Pemeriksa pajak dituntut untuk bekerja jujur, bertanggung jawab, penuh pengabdian, bersikap terbuka, sopan, dan objektif serta terhindar dari perbuatan tercela.

3

Beban kerja pemeriksa harus sebanding dengan jumlah pemeriksa.

4

Pemeriksaan SPI tidak akan berarti apa-apa jika tidak disertai dengan langkah pemeriksaan buku-buku, catatan dan dokumen Wajib Pajak.

5

Pemeriksa melakukan konfirmasi kepada pihak ketiga tentang kelengkapan data atau informasi dari WP dengan bukti-bukti yang diperoleh dari pihak ketiga.

Pemeriksa melakukan konfirmasi kepada pihak ketiga tentang kelengkapan data atau informasi dari WP dengan bukti-bukti yang diperoleh dari pihak ketiga.

Dokumen terkait