BAB III TINJAUAN KASUS
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
5. Gangguan ideal diri
Diagnosa ini muncul Klien merasa tidak mau berinteraksi sama orang karena malu belum menikah dan belum mempunyai pekerjaan.
Faktor pendukung : yang penulis temukan adalah adanya data dasar, tanda dan gejala yang penulis dapatkan pada analisa data.
Faktor penghambat : penulis menemukan hambatan dalam mengumpulkan data yang menunjang data diagnosa, karena informasi yang didapatkan dari klien dan status. Informasi dari keluarga pasien belum dapat di kaji karena keluarga pasien jarang menjenguk pasien. Oleh karena itu data yang didapat kurang lengkap.
C. PERENCANAAN
Perencanaan adalah rencana tindakan keperawatan yang merupakan serangkaian tindakan yang dapat mencapai tiap tujuan khusus, dalam hal ini perencanaan di susun berdasarkan diagnosa yang telah dibuat dan perencanaan-perencanaan yang telah dibuat sebisa mungkin dilakukan oleh penulis dan perawat ruangan.
Perencanaan keperawatan merupakan suatu proses berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah menurunkan dan mengurangi masalah-masalah pada klien (Anna Keliat, 2009). Tahap perencanaan pada teori dan kasus tidak banyak perbedaan, penulis menetapkan prioritas masalah yaitu Isolasi Sosial : menarik diri karena pada saat melakukan pengkajian didapatkan data klien tampak klien menghindar, malu, minder karena selalu di olok-olok oleh orang orang disekitar lingkungan rumahnya, klien suka menyendiri dan malu mengobrol dengan orang lain dan sering menjadi bahan ejekan, klien merasa gagal karena belum bisa mendapatkan pekerjaan. Oleh karena itu penulis memperioritskan masalah gangguan dasar Isolasi Sosial : menarik diri sebagai masalah utama yang harus segera ditangani dan langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan agar perkembangan klien dapat di ketahui. Dipantau apa klien mengalami kemajuan atau tidak. Sedangkan tujuan, ktriteria evaluasi, intervensi penulis sesuaikan berdasarkan tinjauan teori.
Faktor pendukung : yang penulis dapatkan adalah mengacu pada standar asuhan keperawatan yang ada dan berbagai sumber buku.
Faktor penghambat : penulis tidak menemukan hambatan dalam melakukan perencanaan pada klien.
D. PELAKSANAN
Pelaksanaan keperawatan adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan, untuk membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan direncanakan. Pada tinjauan teori tahap pelaksanaan keperawatan meliputi komunikasi teraupetik dan terapi aktivitas kelompok (TAK) sosialisasi. Komunikasi teraupetik terdiri dari fase pra interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Sedangkan Terapi aktivitas kelompok (TAK) yang digunakan pada klien dengan gangguan Isolasi sosial : menarik diri adalah terapi aktivitas kelompok (TAK) Sosialisasi.
Pada tahap implementasi atau pelaksanaan ini adalah asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien dengan gangguan isolasi sosial : menarik diri sesuai dengan rencana tindakan yang telah ditetapkan berdasarkan landasan teori untuk diagnosa gangguan Isolasi Sosial : menarik diri ada 3 SP. Pada SP 1 pasien terdapat 5 point yaitu point 1 mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien, point 2 berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain, point 3 berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain, point 4 mengajarkan pasien cara berkenalan dengan orang lain, point 5 menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian. SP 2 terdapat 3 point, point 1 mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, point 2 memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang, point 3 membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang bincang dengan orang lain dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. SP 3 terdapat 3 point, point 1 mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, point 2 memberikan kesempatan berkenalan dengan dua orang atau lebih, point 3 menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Sp 1 point 1-2 telah dilakukan tetapi SP lain belum dilaksanakan, dan untuk SP keluarga, TAK dan diagnosa lain belum dapat dilakukan.
Terapi obat yang di berikan:
d. Risperidon tablet3x1 2x1/2 25 mg e. Heximer tablet 3x1 2x1 2 mg f. Olandos tablet 1x1 2x1 5 mg
Faktor pendukung : dalam tindakan keperawatan klien dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah, klien mau di ajak berbicara meskipun beberapa menit (3-5 menit) dihari ketiga dinas.
Faktor penghambat : dalam melakukan tindakan keperawatan penulis mengalami kesulitan yaitu : klien hanya mau dilakukan therapy SP 1 di hari ketiga dinas, pihak keluarga pasien tidak pernah datang menjenguk pasien sehingga penulis tidak melakukan SP keluarga serta keterbabatasan waktu dimana penulis hanya dapat melakukan asuhan keperawatan selama 3 hari dari tanggal 06 juni 2016 sampai dengan 08 juni 2016.
E. EVALUASI
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistematis antara tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan.
Adapun evaluasi yang dapat digunakan kepada pasien dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan masalah gangguan Isolasi Sosial : menarik diri ada 3 SP. Pada SP 1 pasien terdapat 5 point yaitu point 1 mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien, point 2 berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain, point 3 berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain, point 4 mengajarkan pasien cara berkenalan dengan satu orang, point 5 menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian. Dan pada SP 2 pasien terdapat 3 point , SP 2 point 1 mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, point 2 memberikan kesempatan kepada pasien mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang, point 3
membantu pasien memasukkan kegiatan berbincang bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian. SP 3 ada 3 point, point 1 mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, point 2 memberikan kesempatan kepada pasien dengan dua orang atau lebih, point 3 menganjurkan pasien memasukkan kedalam jadwal harian. SP 1 pasien point 3-5, SP keluarga, TAK dan diagnosa lain belum dapat dilakukan. Karena ketebatasan waktu dinas sehingga tindakan SP1 poin 1-2 yang bisa dilakukan. SP keluarga tidak dapat dilakukan, disamping itu keluarga juga tidak pernah menjenguk klien. Penulis akhirnya sulit untuk melakukan tindakan yang ada di SP keluarga. Diagnosa prioritas (isolasi sosial : menarik diri) teratasi sebagian dan SP 1 poin 1-2 sudah di atasi semua kecuali SPlainnya, SP keluarga belum dilakukan karena selama dines tidak pernah ketemu dan tidak pernah datang menjenguk klien. Sedangkan diagnosa yang belum teratasi yaitu : persepsi sensori : halusinasi. Diagnosa yang tersebut belum teratasi karena keterbatasan waktu dines yang membuat penulis tidak dapat melaksanakan rencana tindakan keperawatan.
Faktor pendukung : klien mau dilakukan tindakan SP 1 di hari ke 3 dinas selama di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
Faktor penghambat : penulis menemukan banyak penghambat dalam memberikan asuhan keperawatan pada Tn. W dikarenakan waktu dinas yang kurang diberikan pada penulis yang membuat penulis belum bisa melakukan tindakan SP 2, SP keluarga karena selama dinas keluarga klien tidak pernah datang menjenguk klien dan TAK belum bisa dilakukan karena kebatasan waktu dinas.
BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah penulis memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada Tn.W dengan masalah gangguan Isolasi Sosial : Menarik Diri yang dilakukan selama 3 hari dinas dimulai dari tanggal 06 juni 2016 sampai dengan 08 juni 2016 di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur. Dan penyusunan karya tulis ini selama 2 minggu efektif dari tanggal 06 juni 2016 sampai dengan 19 juni 2016. Dengan cara bio, psiko, sosio dan spiritual melalui pendekatan asuhan keperawatan yang terdiri dari : pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
1. Pengkajian Keperawatan
Pada tahap pengkajian yang dilakukan pada kasus Tn.W yang perlu diperhatikan adalah mengkaji faktor predisposisi, faktor presifitasi, perilaku dan mekanisme koping yang dilakaukan oleh klien, dimana pada kasus gangguan konsep diri : harga diri rendah pada Tn. W faktor predisposisi yang mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa pada klien (Tn.W) adalah faktor persepsi tentang harga diri, identitas, dan peran. Adapun pada faktor presipitasi yang mempengaruhi klien yaitu klien tidak mau minum obat secara rutin.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien (Tn. W) adalah sebanyak empat diagnosa keperawatan yang didapatkan berdasarkan analisa data dan pohon masalah yang dibuat. Diagnosa yang ditegakkan berdasarkan masalah yang ada pada saat pengkajian, yaitu gangguan isolasi sosial : menarik diri,
harga diri rendah, koping individu tidak efektif, dan regiment therapy in efektif,
3. Perencanaan Keperawatan
Pada tahap perencanaan yang telah dibuat oleh penulis sesuai masalah keperawatan mengacu pada diagnosa perioritas pada klien (Tn. W) adalah gangguan Isolasi Sosial : Menarik Diri. Didalam perencanaan ini bisa terlaksanakan dengan baik maka diperlukan adanya kerja sama atau dukungan dari klien (Tn. W), keluarga dan perawat ruangan yang merawat klien.
4. Pelaksanaan Keperawatan
Pada tahap pelaksanaan penulis memberikan asuhan keperawatan dengan memberikan tindakan Strategi Pelaksanaan SP 1 point 1 membina hubungan saling percaya, SP 1 point 2 dapat menyebutkan penyebab menarik diri, SP 1 point 3 menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri, SP 1 point 4 klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, SP 1 point 5 klien mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial, SP 1 point 6 klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial, SP 1 point 7 klien dapat memanfaatkan obat dengan baik. Dan TAK malalui tahap- tahap yaitu tahap praintraksi, perkenalan, atau orientasi, fase kerja dan terminasi. Penulis memeberikan 1 SP selam 3 hari serta berkelaborasi dengan dokter dalam pemberian obat psikofarmaka meliputi Risperidon tablet 2x1 (digunakan untuk mengatasi gangguan mental atau mood tertentu), Heximer tablet 3x1 (untuk mengurang gejala psikotik atau gangguan jiwa dan ketidakmampuan individu menilai kenyataan yan terjadi), Olandoz tablet 1x1 (mencegah kekambuhan pada pasien bipolar atau gangguan mental yang menyerang psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati/depresi) dan untuk TAK hanya
dilakukan oleh perawat ruangan. Penulis tidak dapat melakukan TAK karena waktu yang terbatas.
5. Evaluasi
Setelah memberikan pemenuhan kebutuhan dasar pada Tn.W dengan gangguan Isolasi Sosial : Menarik Diri selama 3 hari. Penulis dapat mengevaluasi pada klien dengan masalah gangguan Isolasi Sosial : menarik diri, tingkat kebehasilan yang penulis lakukan adalah mengalami perkembangan hal ini dapat terlihat pada diagnosa pertama sesuai dengan tujuan khusus yang sudah tercapai antara lain SP 1 point 1 membina hubungan saling percaya, SP 1 point 2 dapat menyebutkan penyebab menarik diri, SP 1 point 3 menyebutkan keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri , SP 1 point 4 klien dapat melaksanakan hubungan sosial secara bertahap, SP 1 point 5 mampu menjelaskan perasaannya setelah berhubungan sosial, SP 1 point 6 mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial, SP 1 point 7 dapat memanfaatkan obat dengan baik. SP 2 point 1 mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, SP 2 point 2 melatih kemampuan yang kedua, SP 2 point 3 menganjurkan pasien untuk memasukkan dalam jadwal kegiatan harian. Penulis tidak dapat melakukan SP 2, SP keluarga, TAK dan diagnosa yang lain karena keterbatasan waktu serta dari pihak keluarga yang tidak pernah menjenguk klien dirumah sakit jiwa lslam klender, sehingga penulis sulit untuk melakukan SP keluarga dan tidak melakukan SP keluarga.
B. SARAN
Melalui karya tulis ilmiah ini penulis ingin memeberikan saran yang mudah-mudahan dapat berguna untuk meningkatkan asuhan keperawatan jiwa di RSJIK jakarta timur antra lain :
1. Kepada keluarga
Keluarga merupakan sumber dukungan utama yang penting untuk meningkatkan rasa percaya diri klien. Diharapkan dukungan, kesabaran, dan perhatian lebih, karena hal tersebut merupakan pendorong motivasi dari klien untuk lebih baik karena merasa mendapat perhatian dan keluarga yang menjadi bagian teman terdekat.
2. Perawat
Perlu diciptakan rasa saling percaya antara perawat dan klien. Diharapkan memberikan motivasi kepada klien untuk mau melakukan kegiatan diruangan rehabilitasi, membuat jadwal TAK dan kegiatan harian untuk semua pasien secara rutin. Diharapkan selalu menggunakan hubungan teraupetik kepada klien agar terjalin hubungan saling percaya dan yang harmonis
3. Rumah sakit
Perlu perencanaan ke depan untuk memberikan berbagai kegiatan untuk pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender untuk membantu pemulihan kesehatan melalui berbagai kegiatan yang ada di rumah sakit.
4. Istitusi Pendidikan
Diharapkan waktu yang diberikan kepada mahasiswa yang mengambil laporan di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur ditambah agar dapat membuat karya tulis ilmiah yang optimal sehingga sesuai dengan yang diharapkan oleh penulis.