PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR PADA “TN. W” DENGAN GANGGUAN ISOLASI SOSIAL : MENARIK DIRI
DI RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER JAKARTA TIMUR
TANGGAL 06 JUNI -08 JUNI 2016
DI SUSUN OLEH
:ARIF RAHMAN HAKIM 2013750005
PROGRAM DIII KEPERAWATAN RSIJ FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Assalammu‟alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulilah, segala puji dan syukur kehadirat ALLAH SWT atas segala rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul “Pemenuhan kebutuhan dasar pada “Tn. W” Dengan Gangguan Isolasi Sosial : Menarik Diri di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur tanggal 06 Juni – 08 Juni 2016”
Tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh Ujian akhir di DIII Keperawatan Rumah Sakit Islam Jakarta Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Walaupun Karya Tulis Ilmiah ini telah selesai dibuat tetapi penulis menyadari bahwa masih banyak menemui hambata dan kesulitan sehingga masih ada kekurangan dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan penulis dan penulis masih dalam proses belajar. Namun berkat adanya bimbingan, pengarahan, dan bantuan secara pengalaman dari berbagai pihak, juga pengetahuan yang penulis dapatkan selama mengikuti perkuliahan di Program Diploma III Keperawatan Rumah Sakit Islam Jakarta Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta, maka penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Dengan selesainya Karya Tulis ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu dalam menyelasaikan Karya Tulis ini, terutama kepada :
1. Dr. Muhammad Hadi, SKM, M.Kepselaku Dekan Fakultas Ilmu Kperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
2. Ibu Ns. Idriani, M.Kep Sp.Mat selaku Ketua Program DIII KeperawatanRumah Sakit Islam Jakarta Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
3. Ibu Ns. Nuraenah, M.Kep terimakasih atas pengarahan, bantuannya dalam membimbing dan memberikan motivasinya kepada saya.
4. Ibu Ns. Nurhayati, M.Kep selaku wali tingkat XXXI.
5. Ibu Isnaini Sp.Kep, MKM selaku penguji II, Terima kasih atas bimbingannya selama ujian sidang.
6. Seluruh staf dosen dan karyawan Diploma III Keperawatan Rumah Sakit Islam Jakarta Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
7. Kedua orang tua saya terima kasih atas doa dan kasih sayangnya yang tulus dan besar kepada saya, sehingga saya dapat terus bersemangat dan mewujudkan cita-cita.
8. Kepada teman-teman tim KTI (Shofura, Annisa, Halimatusadiyah, Didik dan
Hakim) yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ilmiah dan memberikan dorongan kepada penulis sehingga terselesaikannya karya tulis ilmiah ini.
9. Kepada Mahasiswa dan Mahasiswi angkatan XXXI yang telah memberikan dorongan dan bantuan kepada penulis dalam penyusunan karya tulis ilmiah dan memberikan dorongan kepada penulis sehingga terselesaikannya karya tulis ilmiah ini.
Dalam menulis Karya Tulis Ilmiah ini penulis menyadari sangat jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu penulis harapkan saran dan kritik agar penulis gunakan sebagai perbaikan pada masa yang akan datang.Semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi setiap mahasiswa umumnya dan bagi penulis khususnya. Sehingga dapat dijadikan sebagai bahan untuk menambah pengetahuan dibidang kesehatan.
Alhamdulillahirabil’alamin
Wassalammu’alaikum Warahmmatulahi Wabarakatuh
Jakarta, 17 Juni 2016
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Penulisan ... 4
1. Tujuan Umum ... 4
2. Tujuan Khusus ... 4
C. Ruang lingkup ... 5
D. Metode penulisan ... 6
E. Sistematika Penulisan ... 6
BAB II TINJAUAN TEORIRITIS A. Kebutuhan Dasar manusia... 8
B. Pengertian ... 9
C. Psikodinamika ... 10
1. Etiologi ... 10
D. Rentang respon ... 14
E. Pengkajian Keperawatan ... 16
1. Faktor predisposisi ... 17
2. Faktor presipitasi ... 17
3. Manifestasi klinis ... 20
4. Mekanisme koping ... .20
5. Pohon masalah ... 21
F. Diagnosa Keperawatan... 22
G. Perencanaan ... 23
H. Pelaksanaan ... 31
1. Tahapan – Tahapan komunikasi terapeutik... 31
2. Terapi Aktivitas kelompok ... 32
3. Penatalaksanaan medis ... 33
I. Evaluasi ... 34
BAB III TINJAUAN KASUS A. Pengkajian Keperawatan ... 36
B. Diagnosa Keperawatan... 41
C. Perencanaan Keperawatan ... 42
D. Pelaksanaan Keperawatan ... 50
E. Evaluasi Keperawatan ... 55
BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian Keperawatan ... 59
B. Diagnosa Keperawatan... 64
C. Perencanaan Keperawatan ... 66
D. Pelaksanaan Keperawatan ... 67
E. Evaluasi Keperawatan ... 68
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 70
B. Saran ... 73 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Jumlah gangguan jiwa terus meningkat seiring dengan perubahan zaman era globalisasi dan informasi. Memasuki krisis multi dimensi ini banyak sekali permasalahan yang dihadapi oleh manusia salah satunya adalah masalah ekonomi yang dapat menimbulkan stressor (Ernawati Dalami, 2009)
Menurut Undang Undang No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, kesehatan adalah keadaan sehat, baik fisik, mental, spiritual, maupun social yang memungkinkan sikap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam undang undang No.36 tahun 2009, kesehatan jiwa terintegrasi pada kesehatan fisik, mental dan sosial. Kondisi perokonomian kini semakin memburuk sehingga mampu membuat masyarakat menjadi lebih stress dalam menghadapi perekonomian saat ini.
Stressor tidak bisa diatasi mengakibatkan stress. Manusia tidak dapat menyelesaikan masalahnya, Salah satu bentuk ganngguan jiwa adalah schizofrenia. Tandanya itu adalah isolasi sosial atau menarik diri, tidak mampu merawat diri, tampak lebih murung dan afeknya tumpul (Sulistiawati, 2005).
Isolasi sosial adalah individu yang mengalami ketidakmampuan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya secara wajar dalam khalayaknya sendiri yang tidak realistis (Ernamawati Dalami, 2009).
Hasil studi Bank Dunia menunjukan, global burden of disesase akibat masalah kesehatan jiwa mencapai 8,1 persen. Menurut Dr. Vijay Chandra, health and behavior advisor dari WHO wilayah asia tenggara (WHO-SEARO). “meski bukan penyebab utama kematian, gangguan jiwa merupakan penyebab utama disabilitas pada usia paling produktif, yaitu antara 15-44 tahun. Dampak sosialnya sangat serius berupa penolakan, pengucilan, dan diskriminasi. Begitu pula dampak ekonomi berupa hilangnya hari produktif untuk mencari nafkah bagi penderita maupun keluarga yang harus merawat, serta tingginya biaya perawatan yang harus ditanggung keluarga maupun masyarakat” (menurut WHO 2009).
Saat ini lebih dari 450 juta penduduk dunia hidup dengan gangguan jiwa. Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, menunjukan prevalensi gangguan mental emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6 persen dari populasi orang dewasa. Berarti dengan jumlah populasi orang dewasa Indonesia lebih kurang 150.000.000 ada 1.740.000 orang saat ini mengalami gangguan mental emosional (Menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Ernawati). Berdasarkan data yang didapat dari medical record rumah sakit jiwa islam klender jakarta timur pada tahun 2016 bulan January sampai April.
Adapun berdasarkan data dari hasil pengkajian yang di dapat dari jumlah pasien jiwa yang masuk rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Jiwa Islam Klender.
No. Masalah 2014 2015 2016
(Januari- April) 1.
Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi
418 jiwa 510 jiwa 151 jiwa
2.
Perilaku kekerasan 286 jiwa 245 jiwa 82 jiwa
3.
Menarik diri : Isolasi sosial.
39 jiwa 21 jiwa 7jiwa
4.
Gangguan konsep diri : Harga Diri Rendah.
13 jiwa 6 jiwa 5 jiwa
Dengan tergambarnya data diatas bahwa masalah isolasi sosial di Rumah Sakit Islam Jiwa Klender menempati urutan ke-3, sehingga apabila masalah tersebut tidak segera diatasi, maka akan menempati urutan ke-1. Pada klien dengan masalah isolasi sosial: menarik diri bila tidak segera dibuat asuhan keperawatan menyebabkan timbulnya resiko halusianasi dan menyebabkan beresiko perilaku kekerasan yang mengancam kepada dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga pentingnya peran perawat sebagai pendidik, penyuluh kesehatan, role model, konselor dan advokat sangat dibutuhkan dalam memberikan asuhan keperawatan melalui proses keperawatan dari pengkajian sampai dengan evaluasi.
Sehingga peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dengan pendekatan manusia seutuhnya sebagai bio-psiko-sosio- kultural dan spiritual, yang sangat dibutuhkan oleh klien dan keluarga sehingga sangat diharapkan sekali dapat membangun kembali kepercayaan dirinya dalam
membina hubungan dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya secara bertahap dan mandiri.
Oleh karena itu penulis sangat tertarik sekali untuk menyusun sebuah karya tulis dengan judul “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur” selama 3 hari di mulai dari tanggal 6 s/d 8 juni 2016.
B. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Meningkatkan kemampuan penulis dalam mengidentifikasikan dan menganalisa, memperoleh pengalaman secara nyata serta menerapkan Asuhan keperawatan terhadap pasien dengan “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur” serta sebagai syarat memperoleh gelar Diploma III dari akademi Keperawatan rumah sakit islam universitas Muhammadiyah Jakarta.
2. Tujuan khusus
Setelah melakukan asuhan keperawtan pada klien dengan “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri Pada Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur” maka diharapkan penulis mampu:
a. Mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri”.
b. Mampu melakukan secara komprehensif pada klien dengan “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri”.
c. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan
“Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial:
Menarik Diri”.
d. Mampu membuat rencana tindakan keperawatan pada klien dengan
“Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial:
Menarik Diri”.
e. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri”.
f. Mampu melakukan evalusai hasil tindakan pada klien dengan
“Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial:
Menarik Diri”.
g. Mampu mengidentifikasi faktor – faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusinya.
h. Mampu mengdokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi.
C. Ruang lingkup
Mengingat luasnya masalah pada klien gangguan isolasi sosial, maka penulis membatasi pada kasus Asuhan keperawatan pada klien dengan “Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur” selama 3 hari mulai dari tanggal 6 s/d 8 Juni 2016.
D. Metode penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan dan studi kepustakaan yang mengacu kepada data-data dari literatur, seperti buku – buku yang berkaitan dengan masalah isolasi sosial. Data atau informasi dari kasus dilapangan diperoleh dengan tehnik auotoanamnesa atau alloanamnesa serta catatan keperawatan dan catatan medis.
E. Sistematika penulisan
Karya tulis ini disusun secara sistematis yang terdiri dari 5 (lima) BAB yaitu sebagai berikut:
BAB I: Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan umum dan Tujuan khusus, metode penulisan, ruang lingkup dan sistematika penulis.
BAB II: Tinjauan teori meliputi: pengertian, psikodinamika, rentang respon serta asuhan keperawatan terdiri dari: pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
BAB III: Tinjauan kasus yang terdiri dari: pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
BAB IV: Pembahasan yang merupakan: uraian perbandingan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, di mulai dari pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, rencana tindakan keperawatan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan.
BAB V: Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
Pada bab ini penulis akan menyajikan tinjauan teoritis mengenai pemenuhan kebutuhan dasar pada Tn.W dengan masalah Isolasi Sosial : Menarik Diri di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta Timur.
A. Kebutuhan dasar manusia
Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupuan psikologis, yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow dalam teori Hirarki, kebutuhan menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri (Potter dan Patricia, 1997 dalam buku A. Aziz alimul, 2006).
1. Ciri Kebutuhan Dasar Manusia
Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan yang sama, akan tetapi karena budaya, maka kebutuhan tersebutpun ikut berbeda. Dalam memenuhi kebutuhan manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berpikir lebih keras dan bergerak untuk berusaha mendapatkannya.
2. Faktor yang mempengaruhi kebutuhan dasar manusia a. Penyakit
Adanya penyakit dalam tubuh dapat menyebabkan perubahan pemenuhan kebutuhan, baik secara fisiologis maupun psikologis, karena beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan besar dari biasanya.
b. Hubungan keluarga
Hubungan keluarga yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya merasakan kesenangan hidup tidak ada rasa curiga
c. Konsep Diri
Konsep diri manusia memiliki peran dalam pemenuhan kebutuhan dasar.
Konsep diri yang positif akan memberikan makna dan keutuhan bagi seseorang. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat, sehingga mudah memenuhi kebutuhannya.
d. Tahap Perkembangan
Sejalan dengan meningkatnya umur, manusia mengalami perkembangan dan pada setiap tahap perkembangan tersebut memilikikebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual.
(A. Aziz alimul, 2006).
B. PENGERTIAN
Isolasi sosial adalah suatu pola tingkah laku menghindari kontak dengan orang, situasi atau lingkungan yang penuh dengan stress yang dapat menyebabkan kecemasan fisik dan psikologis (Gail W stuart, 2011).
Isolasi sosial adalah suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang fleksibel yang menimbulkan prilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubingan sosial (DEPKES RI, 2002). Isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (NANDA 2005-2006).
Isolasi sosial merupakan upaya menghindari suatu hubungan komunikasi dengan orang lain karena merasa kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai
kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan (Balitbang, 2007). Isolasi sosial adalah individu yang mengalami ketidakmampuan untuk mengaddakan hubungan dengan orang lain dan dengan lingkungan sekitarnya secara wajar dalam khalayaknhya sendiri yang tidak realistis (Ermawati Dalami, 2009).
Kesimpulan dari penulis yang menyatakan bahwa isolasi sosial adalah masalah psikologis dimana individu merasa dirinya tidak berguna dan merasa negatif pada kepribadiannya sehingga mengalami ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dan lebih ingin menyendiri dan menghindar untuk bersosialisasi dengan orang lain.
C. PSIKODINAMIKA 1. ETIOLOGI
Terjadinya gangguan ini dipengaruhi oleh faktor predisposisi diantaranya perkembangan dan sosial budaya. Kegagalan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya pada orang lain, ragu, takut salah, pesisimis, putus asa terhadap orang lain, tidak mampu merumuskan keinginan, dan merasa tertekan.
Keadaan ini dapat menimbulkan perilaku tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, lebih menyukai berdiam diri, menghindar dari orang lain, dan kegiatan sehari-hari terabaikan (Ade Herman Surya Direja, 2011).
2. Faktor predisposisi a. Faktor genetik/biologi
Faktor biologis juga merupakan salah satu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam berhubungan sosial. Organ tubuh yang dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial adalah otak, terdapat stuktur abnormal pada otak seperti atropi otak menurunkan berat otak secara drastis (Nita Fitria, 2010)
b. Faktor perkembangan
Pada setiap tahapan tumbuh kembang individu ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi gangguan dalam hubungan sosial. Tugas perkembangan ini masing-masing tahap tumbuh kembang mempunyai spesifikasi tersendiri. Bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak terpenuhi akan menghambat fase perkembangan selanjutnya (Ermawati Dalami, 2009).
Tahap Perkembangan Tugas
Masa bayi Menetapkan rasa percaya
Masa bermain mengembangkan otonomi dan awal
perilaku
Masa pra sekolah belajar menunjukan inisiatif, rasa tanggung jawab, dan hati nurani
Masa sekolah Belajar berkompetisi, bekerjasama, dan berkompromi
Masa pra remaja menjalin hubungan intim dengan teman sesama jenis kelamin
Masa remaja Menjadi intim dengan teman lawan
jenis atau bergantung
Masa dewasa muda Menjadi saling bergantung antara orang tua dan teman, mencari pasangan, menikah dan mempunyai anak
Masa tengah baya Belajar menerima hasil kehidupan yang dilalui
Masa dewasa tua Berduka karena kehilangan dan
mengembangkan perasaan keterikatan dengan budaya.
Sumber: Stuart dan Sundeen (1995), hlm.346 dikutip dalam fitria (2009)
c. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial merupakan suatu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.
Dalam hal ini disebabkan oleh norma-norma yang salah dianut oleh keluarga yang salah dimana settiap anggota keluarga yang tidak produktif diasingkan oleh orang lain (Ade Herman Surya Direja, 2011).
d. Stressor sosial kultural
Stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya ini antara lain keluarga yang labil. Putus hubungan (dirawat dirumah sakit/penjara) menyebabkan kesepian dan berpisah dari orang yang dicintainya (Ade Herman Surya Direja, 2011).
e. Stressor psikologik
Ansietas berat berkepanjangan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntutan untuk berpisah dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tingkat tinggi (Ade Herman Surya Direja, 2011).
3. Faktor presipitasi
Terjadinya gangguan hubungan sosial juga dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor stressor presipitasi dapat dikelompokkan sebagai berikut :
a. faktor eksternal
contohnya adalah stressor sosial budaya, yaitu stress yang ditimbulkan oleh faktor sosial budaya seperti keluarga.
b. Faktor internal
Contohnya adalah stressor psikologis, yaitu stress terjadi akibat ansietas atau kecemasan yang berkepanjangan dan terjadi bersamaan dengan keterbatasan kemampuan individu untuk mengatasinya. Ansietas ini dapat terjadi akibat tututan untuk berpisah dengan orang terdekat atau tidak terpenuhinya kebutuhan individu.
c. Tanda dan gejala
Berikut adalah tanda dan gejala klien dengan isolasi sosial : a. Kurang spontan
b. Apatis (acuh terhadap lingkungan) c. Ekspresi wajah kurang berseri
d. Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri e. Tidak ada atau kurang komunikasi verbal
f. Mengisolasi diri
g. Tidak atau kurang sadar terhadap lingkungan sekitar
h. Asupan makan dan minuman ternganggu retensi urine dan feses i. Aktivitas menurun kurang energy (tenaga)
j. Rendah diri
k. Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus/janin (khususnya pada posisi tidur)
Perilaku ini biasanya disebabkan karena seseorang menilai dirinya rendah, sehingga timbul perasaan malu untuk berinteraksi dengan orang lain. Bila tidak dilakukan intervensi lebih lanjut, maka akan menyebabkaan perubahan sensori: halusinasi dan risiko mencederai diri, orang lain, bahkan lingkungan. Perilaaku yang tertutup dengan orang lain juga bisa menyebabkan intoleransi aktivitas yang akhirnya bisa
mempengaruhi terhadap ketidakmampuan untuk melakukan perawatan secara mandiri.
Seseorang yang mempunyai harga diri rendah awalnya disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menyelesaikan maslah dalam hidupnya, sehingga orang tersebut berprilaku tidak normal (koping individu tidak efektif).
Peranan keluarga cukup besar dalam mendorongklien mampu menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, bila sistem pendukungnya tidak baik (koping keluarga tidak efektif) maka akan mendukung seseorang memiliki harga diri rendah.
d. Rentang repons
Respon Adaptif Respon maladaptif
(Gail W Stuart, 2001 hal 424)
-Solitude -Kesepian -Manipulasi
-Autonom -Menarik diri -Impulsif -Kebersamaan -Ketergantungan -Narkisisme -Saling ketergantungan
1. Respon Adaptif
adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan secara umum serta masih dalam batas normal menyelesaikan masalah (Iyus Yosep, 2007). Repon ini meliputi:
3. Solitude ( menyendiri)
Respon yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah terjadi di lingkungan sosialnya.
4. Otonomi
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
5. Kebersamaan
Kemampuan individu yang salaing membutuhkan satu sama lain. Saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
2. Respon maladaptif
adalah respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat (Ermawati Dalam, 2009). Respon maladaptif yang sering ditemukan antara lain:
a. Menarik diri
Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain untuk mencari ketenangan sementara waktu.
b. Manipulasi
Hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek dan berorientasi pada diri sendiri atau pada tujuan, bukan berorientasi pada orang lain. Individu tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
c. Ketergantungan
Terjadi bila individu gagal mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan yang dimiliki.
d. Curiga
seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain.
D. Konsep Dasar Keperawatan
Dalam melakukan asuhan keperawatan ada enam fase atau langkah dari proses keperawatan yaitu pengkajian, perumusan diagnosis keperawatan, pengidentifikasian outcome, perencanaan, implementasi dan evaluasi ( Stuart & Sundeen, 1995).
1. Pengkajian
Menurut Nurjannah (2005 : 30) pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau atau masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa factor predisposisi, factor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Stuart & Sundeen, 1998). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 dimensi yaitu: fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan umumnya dikembangkan formulir pengkajian dan petunjuk tekhnis pengkajian agar mempermudah dalam pengkajian, isinya meliputi:
a. Identitas
Dalam pengkajian kita mencantumkan identitas klien (nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, pendidikan) dan identitas penanggung jawab (nama, umur, alamat, pekerjaan).
b. Keluhan utama dan alasan masuk
Pengkajian alasan masuk kita kaji apa yang menyebabkan klien dibawa oleh keluarga ke rumah sakit untuk saat ini, apa yang sudah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah klien dan bagaimana hasilnya.
c. Faktor predisposisi
1) Faktor perkembangan
Secara teori, kurangnya stimulasi, kasih sayang dan kehangatan dari ibu (pengasuh) pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat terbentuknya rasa percaya.
2) Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa.
3) Faktor sosiokultural
Isolasi sosial dapat terjadi, salah satunya pada tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi.
d. Faktor presipitasi
Merupakan faktor yang dianggap menyebabkan pasien sakit jiwa atau yang menyebabkan pasien mengalami kekambuhan. Pengalaman yang tidak menyenangkan yang dialami pasien selama fase perkembangan (kegagalan, kehilangan, perpisahan, kematian, trauma selama tumbang) yang pernah dialami klien. Bila tidak ditemukan adanya kejadian atau pengalaman tersebut, tetapi ada riwayat putus obat atau berhenti minum obat, maka dapat dianggap bahwa faktor presipitasi pasien mengalami kekambuhan adalah putus obat.
1) Aspek fisik atau biologis
Pada klien menarik diri didapatkan masalah nutrisi, kebersihan diri, dan tidak mampu berpartisipasi dalam kegiatan.
2) Aspek psikososial
Meliputi genogram yang dibuat 3 generasi, gambarkan adanya riwayat perceraian, adanya anggota keluarga yang meninggal & penyebab meninggal, pasien tinggal dengan siapa. Kita kaji juga mengenai konsep diri, hubungan sosial dan spiritual pasien. Pengkajian konsep diri, hubungan sosial dan spiritual tidak dapat dilakukan pada pasien yang masih agitasi/gaduh gelisah, bicaranya kacau, ada gangguan memori, pasien yang autistik dan mutisme.
e. Status mental
Beberapa hal yang perlu dikaji dari status mental yaitu :
1) Penampilan fisik : kondisi rambut, kuku, kulit, gigi dan cara berpakaian.
2) Pembicaraan : pembicaraan pasien apakah cepat, keras, gagap, membisu, apatis atau lamban.
3) Aktivitas motorik : lesu, pasif (hipomotorik), segala aktivitas sehari-hari dengan bantuan perawat atau orang lain, tegang, gelisah, tidak bias tenang (hipermotorik)
4) Alam perasaan : dalam hal ini didapatkan melalui hasil wawancara dengan pasien meliputi adanya perasaan sedih, putus asa, gembira, khawatiran takut (hasil wawancara divalidasi dengan hasil observasi, apakah disforia, eforia)
5) Afek : appropriate (tepat), in appropriate (tidak tepat: datar, tumpul, labil, tidak sesuai)
6) Interaksi selama wawancara : interaksi selama wawancara apakah bermusuhan, tidak kooperatif atau mudah tersinggung, kontak mata selama wawancara.
7) Persepsi : kaji adanya pengalaman halusinasi atau ilusi
8) Proses pikir : sirkumtansial, tangensial, kehilangan asosiasi, flight of ideas, blocking, reeming
a) Isi pikir : kaji adanya waham
b) Tingkat kesadaran dan orientasi : bungung, sedasi, stupor
c) Memori : data diperoleh melalui wawancara adakah gangguan daya ingat jangka panjang, gangguan daya ingat jangka pendek dan saat ini d) Tingkat konsentrasi dan berhitung
e) Kemampuan penilaian f) Daya tilik diri
f. Kebutuhan persiapan pulang
Kita kaji apakah dari hasil observasi klien sudah mampu melakukan activity daily live secara mandiri atau masih dengan bantuan selama di rumah sakit dan di rumah
1) Pengetahuan
Berisi tentang pemahaman pasien mengenai penyakit, tentang kekambuhan, pemahaman tentang manajemen hidup sehat.
2) Aspek medis
Diagnosa medis dan program therapy atau pengobatan yang sedang dijalani oleh pasien.
2. Mekanisme Koping
Individu yang mempunyai respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upayanya mengatasi ansietas. Menurut Stuart & Sundeen (1998) mekanisme koping yang berkaitan dengan jenis spesifik dari masalah yaitu:
a. Koping yang berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial.
b. Proyeksi.
c. Pemisahan.
d. Merendahkan orang lain.
e. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian “Borderline”.
f. Pemisahan.
g. Reaksi formasi.
h. Proyeksi.
i. Isolasi.
j. Idealisasi orang lain.
k. Merendahkan orang lain.
l. Identifikasi proyektif.
Jika individu berada pada kondisi stress, ia akan menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya, individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber koping yang tersedia (Rasmun, 2001 : 16).
3. Manifestasi Klinis
Menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (2005-2006:208-209) isolasi sosial memiliki batasan karakteristik meliputi:
Data Obyektif :
a. Tidak ada dukungan dari orang yang penting (keluarga, teman, kelompok) b. Perilaku permusuhan
c. Menarik diri d. Tidak komunikatif
e. Menunjukan perilaku tidak diterima oleh kelompok kultural dominant f. Mencari kesendirian atau merasa diakui di dalam sub kultur
g. Senang dengan pikirannya sendir
h. Aktivitas berulang atau aktivitas yang kurang berarti i. Kontak mata tidak ada
j. Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan k. Keterbatasan mental/fisik/perubahan keadaan sejahtera
l. Sedih, afek tumpul
Data Subyektif:
a. Mengekpresikan perasaan kesendirian b. Mengekpresikan perasaan penolakan
c. Minat tidak sesuai dengan umur perkembangan d. Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat e. Tidak mampu memenuhi harapan orang lain
f. Ekspresi nilai sesuai dengan sub kultur tetapi tidak sesuai dengan kelompok kultur dominant
g. Ekspresi peminatan tidak sesuai dengan umur perkembangan h. Mengekpresikan perasaan berbeda dari orang lain
i. Tidak merasa aman di masyarakat
2. Pohon Masalah
Pohon masalah pada klien dengan Isolasi Sosial: menarik diri, yaitu:
Risiko gangguan persepsi sensori:
Halusinasi
Isolasi Sosial:
Menarik diri
Gangguan konsep diri: Harga Diri Rendah
MASALAH UTAMA
Gambar 2.2 : Pohon masalah Isolasi Sosial: menarik diri (Keliat, 2005)
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian tehnik mengenai respon individu dan keluarga, masalah kesehatanatau proses kehidupan yang aktual maupun potensial ( NANDA, 2001).
Adapun diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien dengan Isolasi sosial menurut ( Keliat, 2006).
a. Resiko gangguan persepsi sensori : halusinasi(penglihatan/ pendengaran/
penghidu/ perabaan/ pengecapan) b. Isolasi Sosial : menarik diri.
c. Gangguan Konsep Diri : harga diri rendah
Dalam perencanaan perawat akan menyusun rencana yang akan dilakukan pada pemenuhan kebutuhan dasar klien untuk mengatasi masalahnya yang disusun berdasarkan diagnosan keperawatan. Rencana tindakan keperawatan terdiri dari : tujuan umum, tujuan khusus, rencana tidakan keperawatan . perencanaan menggambarkan tindakan yang akan dilakukan dengan merujuk pada NIC ( Nursing Intervetion Clasification). (Ade Herman, 2011)
No Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Isolasi Sosial TUM : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
TUK 1:
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
1. Setelah ....x interaksi klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat : a. Ekspresi wajah
bersahabat.
b. Menunjukan rasa senang.
c. Ada kontak mata.
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
b. Perkenalkan nama, nama panggilan, dan tujuan perawat berkenalan.
nama.
f. Ingin menjawab salam.
g. Ingin duduk
berdampingan dengan perawat.
h. Bersedia
mengungkapkan masalah yang di hadapi.
d. Buat kontak yang jelas.
e. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi.
f. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
g. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
h. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.
TUK 2 : Klien mampu
menyebutkan penyebab menarik diri.
2. Setelah...x interkasi klien menyebutkan penyebab menarik diri : a. Diri sendiri
b. Orang lain c. Lingkungan
2.1 Tanyakan kepada klien tentang : a. Orang yang tinggal serumah/
teman sekamar klien.
b. Orang yang paling dekat dengan klien rumah / ruang perawatan.
c. Apa yang membuat klien dekat
klien rumah / ruang perawatan.
e. Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut.
f. Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain.
2.2 Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain
2.3 Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaanya.
TUK 3:
Klien dapat Menyebutkan
keuntungan berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
3. Setelah...x interaksi klien menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial, misalnya :
a. Banyak teman.
3.1 Tanyakan kepada klien tentang:
a. Manfaat hubungan sosial.
b. Kerugian menarik diri.
3.2 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
3.3 Beri pujian terhadap kemampuan
d. Saling menolong.
Dan kerugian menarik dir :
a. Sendiri.
b. Kesepian.
c. Tidak bisa diskusi.
TUK 4 : Klien dapat
melaksanakan hubungan sosial secara bertahap.
4. Setelah...x interaksi klien dapat melaksanakan
hubungan sosial secara bertahap dengan : a. Perawat.
b. Perawat lain.
c. Klien lain.
d. Kelompok.
4.1 Obeservasi perilaku klien saat berhubungan sosial .
4.2 Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan/ berkomunikasi dengan : a. Perawat.
b. Perawat lain.
c. Klien lain.
d. Kelompok.
4.3 Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi 4.4 Diskusikan jadwal harian yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan
kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
4.6 Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan.
TUK 5:
Klien mampu
menjelaskan perasaanya setelah berhubungan sosial.
5. Setelah....x interaksi klien dapat
menjelaskan perasaanya setelah berhubungan sosial dengan orang lain :
a. Orang lain b. Kelompok
5.1 Diskusikan dengan klien tentang perasaanya setelah berhubungan dengan :
a. Orang lain.
b. Kelompok.
5.2 Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaanya.
TUK 6 :
Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas
6.1 Setelah...x pertemuan keluarga dapat menjelaskan tentang :
a. Pengertian menarik diri b. Tanda dan gejala menarik
6.1 Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri .
menarik diri.
d. Cara merawat klien menarik diri.
6.2 Setelah .... x pertemuan keluarga dapat mempraktekan cara merawat klien menarik diri.
mengatasi perilaku menarik diri.
6.3 Jelaskan pada keluarga tentang :
a. Pengertian menarik diri.
b. Tanda dan gejala menarik diri.
c. Penyebab dan akibat menarik diri.
d. Cara merawat klien menarik diri.
6.4 Latih keluarga cara merawat klien menarik diri.
6.5 Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan.
6.6 Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk
atas keterlibatannya merawat klien di rumah sakit.
TUK 7 : Klien dapat
memanfaatkan obat dengan baik.
7.1 Setelah .... x interaksi klien menyebutkan :
Manfaat minum obat.
Kerugian tidak minum obat.
Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat.
7.2 Setelah ....x interaksi klien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar.
7.3 Setelah ... x interaksikan klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.
7.1Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan
kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek sampin penggunaan obat.
7.2 Pantau klien saat penggunaan obat.
7.3 Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar.
7.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
7.5 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/
E. Penatalaksanaan Keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan adalah permulaan dan perwujudan dari perencanaan keperawatan. Jenis tindakan pada pelaksanaan keperawan ini terdiri dari tindakan mandiri. Saling ketergantungan atau kolaborasi dan tindakan rujukan atau ketergantungan. Pelaksanaan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperwatan (Ermawati, dkk , 2009).
1. Tahap komunikasi terapeutik terdiri :
Menurut Stuart G, W, 2009 menjelaskan bahwa dalam prosesnya komunikasi terapeutik terbagi menjadi empat tahapan yaitu : tahapan persiapan atau tahap prainteraksi, tahapan perkenalan, atau orientasi, tahap kerja dan terminasi.
a. Fase prainteraksi
Prainteraski mulai sebelum kontak pertama dengan klien. Perawat mengeksplorasikan perasaan, fantasi dan ketakutannya sehingga kesadaran dan kesiapan perawat untuk melakukan hubungan dengan klien dapat dipertanggung jawabkan.
Tugas tambahan pada fase ini adalah mendapatkan informasi tentang klien dan menentukan kontak pertama.
b. Fase perkenalan atau orientasi
Fase ini di mulai dengan pertemua dengan klien.
Dalam memulai hubungan, tugas utama adalah membina rasa saling peracaya. Penerimaan dan pengertian komunikasi yang terbuka dan perumusan kontrak dengan klien.
c. Fase kerja
Pada fase kerja, perawat dan klien mengeksplorasikan stressor yang tepat dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan mengubungkan persepsi, pikiran, perasaaan dan perbuatan klien. Perubahan perilaku maladaptif menjadi adaptif merupakan focus fase ini.
d. Terminasi
Terminasi merupakan fase yang sangat sulit dan penting dari hubungan terapeutik.
Tugas perawat pada fase ini adalah menghadapi realitas perpisahan yang tidak dapat diingkari.
Fase terminasi harus diatasi dengan memakai konsep proses kehilangan. Proses terminasi yang sehat akan memberi pengalam positif dalam membantu klien mengembangkan koping untuk perpisahan
B. TAK Sosialisasi
Terapi Aktifitas Kelompok sosialisasi terapi yang menggunakan aktifitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dan/atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok.
a. Tujuan
1) Tujuan umum :
Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap.
2) Tujuan Khusus :
a) Klien mampu memperkenalkan diri.
b) Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok.
c) Klien mampu bercakap cakap dengan anggota kelompok.
d) Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan.
e) Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi orang lain.
f) Klien mampu bekerjasama dalam permainan sosialisasi kelompok.
g) Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiataan TAKS yang telah dilakukan.
b. Aktivitas dan indikasi
Aktivitas dilaksanakan dalam tujuh sesi yang bertujuan untuk melatih kemampuan sosialisasi klien. Klien yang diindikasikan mendapatkan TAKS adalah klien yang mengalami gangguan hubungan sosial berikut.
1. Klien yang mengalami isolasi sosial yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal.
2. klien yang mengalami kerusakan komunikasi verbal yang telah berespons sesuai dengan stimulus.
4. Penatalaksaan medis
Penatalaksanaan medis pada pasien dengan Isolasi sosial
Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa. Menurut Depkes (2000), menurut Rasmun (2003,89-91) jenis obat psikofarmaka adalah :
a. Clorpromazine (CPZ, Largactile)
Indikasi untuk syndrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental. Waham, halusinasi gangguan perasaan dan perilkau yang aneh atau tidak terkendali, berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin. Mekanisme kerja dopamine pada pasca sinap di otak khususnya system pyramidal. Efek sampingnya adalah sedasi, gangguan otonomi (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung), gangguan ekstra pyramidal (dystonia akut, akatsia, sindroma parkinsontremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin (amenorhoe, ginekomasti), metabolic (jaundice). Kontra indikasinya yaitu klien dengan penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran disebabkan CNS
depresan.
b. Haloperidol (Haldol, Serenace)
Indikasinya yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari. Mekanisme kerja dari obat ini adalah obat anti psikosis dalam memblock dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya system limbic dan system ekstra pyramidal. Efeksampingnya meliputi sedasi dan inhibisi psikomotor, Efek sampingnya adalah sedasi, gangguan otonomi (hipotensi, antikolinergik/parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung). Kontra indikasnya adalah bagi pasien yang mempunyai penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.
c. Trihexiphenidyl (THP, Artane, Tremin)
Indikasinya untuk segala jenis penyakit Parkinson, termasuk paska ensepalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat misalnya resenpira dan fenotiazine. Mekanisme kerja sinergis dengan linidine, obat anti depresan trisklik dan kolinergik lainnya. Efek samping dari obat ini adalah mulut kering, penglihatan kabur, pusing, mual, muntah, bingung, agitas, konstipasi, takikardia dilatasi ginjal retensi urine. Kontra indikasinya meliputi hypersensitive terhadap Trihexiphenidyl, glaucoma sudut sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hypertropi prostat dan obstruksi saluran cerna.
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan yang dilakukan. Evaluasi dapat dibagi dua jenis yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan selesai melaksanakan tindakan. Evaluasi hasil atau somatif dilakukan dengan membandingkan respon klien pada tujuan
umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan. (Ermawati, dkk , 2009). Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah perawat lakukan untuk pasien halusinasi sebagai berikut :
a. Klien mampu
1) Menyebutkan penyebab isolasi sosial
2) Menyebutkan manfaat berinteraksi dengan orang lain 3) Menyebutkan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain 4) Berkenalan dengan satu orang
5) Berkenalan dengan dua orang/lebih
6) Memiliki jadwal kegiatan berbincang bincang orang lain sebagai salah satu kegiatan harian
7) Melakukan perbincangan dengan orang lain sesuai jadwal b. Keluarga mampu
1) Menyebutkan pengertian, penyebab, tanda, gejala isolasi sosial 2) Menyebutkan cara-cara merawat pasien isolasi sosial
3) Mendemonstrasikan cara merawat pasien isolasi sosial
4) Menyebutkan tempat rujukan yang sesuai untuk pasien isolasi sosial (Budi Anna Keliat, 2010)
BAB III TINJAUAN KASUS
Pada bab ini penulis akan menyajikan satu Pemenuhan Kebutuhan Dasar Pada Tn.W Dengan Masalah Isolasi Sosial: Menarik Diri Di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender Jakarta timur. Dari tanggal 06 Juni sampai dengan 08 Juni 2016 dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang diawali dengan pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi. Untuk mendapatkan data yang sesuai dalam mendukung karya tulis ilmiah ini, penulis melakukan metode wawancara dengan pasien, melalui pendekatan dan mencari fakta-fakta dan data pendukung dari pasien.
A. Pengkajian Terlampir 1. Data dasar 2. Resume
Nama Klien TN. W, berusia 36 tahun, status menikah dan memiliki 2 orang anak, pasien beragama Islam, suku berasal dari Jakarta (betawi), pendidikan terakhir SMP, Pasien tidak memiliki pekerjaan, pasien tinggal di daerah Bekasi Barat.
Pasien pernah dirawat sebelumnya di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender selama 2 minggu, pasien mengalami putus obat. Pasien datang ke Rumah Sakit Jiwa Islam Klender pada tanggal 27 Mei 2016 dengan masalah Isolasi Sosial: menarik diri.
Pasien pernah tiga kali di rawat Rumah sakit Jiwa Islam Klender dan sekarang rawatan yang ke tiga kalinya. Pada saat ini klien selalu mengatakan ingin pulang, malu jadi bahan ejekan, minder karena tidak berinteraksi secara normal dengan orang lain.
Alasan masuk: menurut klien, klien mengatakan dirumah sering menjadi bahan ejekan orang disekitar rumah, dan klien sulit berbicara dengan orang lain karena dadanya selalu berdebar jika mencoba berbicara dengan orang lain, karena itu klien merasa malu dan minder dengan orang lain maupun keluarganya. Klien mengatakan sering sendiri dikamar tidak mau berinteraksi dengan orang lain.
Dalam anggota keluarga pasien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa. Klien tampak selalu menyendiri, kontak mata klien kurang, ketika di ajak berbicara oleh perawat klien lebih banyak memalingkan pandangannya dan klien lebih memilih sendiri. Setelah di lakukan pemeriksaan fisik didapatkan hasil : TD 120/80 mmHg, Nadi 90 x/menit, pernapasan 18 x/menit dan suhu 36, 6°C.
Pasien adalah anak ke 3 dari 5 bersaudara. Di rumah pasien tinggal dengan istri dan dua orang anak anaknya. Klien mengatakan selalu jadi bahan ejekan oleh lingkungan sekitar rumahnya karena dulu klien pernah dirawat sebagai pasien jiwa, klien selalu merasa sendiri, selalu berdiam diri dirumah jarang berinteraksi dengan orang lain, dan klien tidak pernah mengikuti kegiatan kemasyarakatan di daerah rumahnya. Dalam hubungan sosial orang yang paling berarti dalam dirinya adalah anak-anaknya karena klien tinggal satu rumah dengan anak anaknya, jika ada masalah selalu diam tidak mau bercerita pada istrinya, dirumah selalu menyendiri tidak mau berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Pasien berada di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender dibawa oleh istrinya karena pasien selalu bilang malu dan minder karena sulit berkomunikasi dan dadanya berdebar debar jika berbicara dengan orang lain, klien menjadi bahan ejekan oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya. Untuk kebutuhan dasar seperti makan, minum, berpakaian, mandi, BAB/BAK klien dapat melakukannya secara mandiri.
Terapi Medikal Oral:
a. Risperidon tablet3x1 2x1/2 25 mg b. Heximer tablet 3x1 2x1 2 mg c. Olandos tablet 1x1 2x1 5 mg
3. Data focus
NO Data Subyektif Data Obyektif
1 Klien mengatakan malu dan minder karena sulit berkomunikasi dengan orang lain
Pada saat ini klien rawatan yang kedua dan rawatan yang pertama pada bulan awal mei di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender dengan halusinasi
2 Klien mengatakan selalu jadi bahan ejakan saudaranya dan orang lain
Klien tanpak sering menyendiri
3 Klien mengatakan malu berinteraksi sama orang lain karena sebelumnya pernah di rawat di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Klien tampak tidak banyak berbicara
4 Klien mengatakan mempuyaiistri dandua orang anak
Klien tampak menarik diri dari pasien yang lain dan perawat
5 Klien mengatakan telah menikah dan belum mempuyai pekerjaan
Kontak mata klien kurang
6 Klien mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan kemasyarakatan
Pada saat ini klien sudah tidak mengalami halusinasi, terlihat saat diajak berinteraksi klien tidak menunjukan tanda tanda halusinasi, yang terlihat adalah isolasi sosial : menarik diri 7 Klien mengatakan malu karena tidak
mempunyai pekerjaan
Klien tampak selalu mendiri
8 Klien mengatakan pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
Klien tampak tidak mau di ajak berkomunikasi, selalu memalingkan pandangan, kontak mata klien kurang,
9 Klieng mengatakan merasa malu dengan anak dan istrinya
Klien tampak selalu menghindar ketika diajak berkomunikasi atau berinteraksi
10 Klien mengatakan sudah merasa sehat jadi obatnya tidak diminum lagi (putus obat)
Sumber informasi didapatkan dari kalien, status klien dan perawat
11 Pemerikasaan fisik
TD 110/80 mmHg Nadi 90 kali/menit RR 18 kali/menit Suhu 36,6 „C TB 160 cm BB 52 kg
12 Klien tidak mengalami sakit dibagian tubuhnya
B. Analisa data
Berdasarkan hasil pengkajian yang telah didapat , maka dapat di buat analisa data dari data fokus pada pasien dengan gangguan isolasi sosial:menarik diri adalah sebagai berikut.
Nama inisial : Tn. W
Umur : 45 tahun
Ruangan : Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
No Hari/
Tanggal
Jam Data fokus Masalah
Keperawatan 1 Selasa 8
Juni 2016
09:00 Subyektif:
o Pasien mengatakan menolak jika di ajak berkomunikasi
o Pasien mengatakan selalu
Isolasi Sosial : Menarik Diri
menghindar saat di ajak berkomunikasi
Obyektif:
o Klien tampak jarang berkomunikasi o Klien tampak selalu berdiam diri di
kamar
o Klien tanpak menghindar saat di ajak berbicara
2 Selasa 7 Juni 2016
10:00 Subyektif:
o Pasien mengatakan “malu Karena belum mendapatkan pekerjaan”
o Pasien mengatakan “malu dan minder karena selalu menjadi bahan ejekan orang dilingkungan
sekitarnya”
o Pasien mangatakan “semenjak berada di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender klien sering merasa sedih karena tidak bisa bertemu dengan anak anaknya”
Obyektif:
o Kontak mata klien tampak kurang, klien selalu memalingkan
pandangannya saat di ajak berbicara
o Klien tampak selalu menunduk kadang menghadap arah lain ketika sedang di ajak berbicara
Gangguan Konsep Diri:
Harga Diri Rendah
o Ekpresi wajah tampak murung
3 Selasa 8 Juni 2016
11:00 Subyektif:
o Pasien mengatakan “ selama di rawat di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender jarang di jenguk oleh keluarga”
o Klien mengatakan “keluarga tidak peduli dengan keadaannya saat ini”
Obyektif:
o Klien tampak sering diam ketika diajak berkomunikasi
o Klien tampak sedih ketika sedang membicarakan anak dan istrinya
Koping Keluarga Tidak Efektif
4 Selasa 7 Juni 2016
12:00 Subyektif:
o Pasien mengatakan “pernah di rawat di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender sebelumnya bulan Mei 2016 selama 2 minggu”
o Klien mengatakan “merasa tenang setelah meminum obatnya, karena itu klien berhenti meminum obatnya”
Obyektif:
o Klien pernah dirawat setahun lalu sebelumnya di Rumah Sakit Jiwa Islam Klender selama 2 minggu dengan masalah gangguan persepsi
Regimen Therapy In Efektif
sensori : Halusinasi
C. Pohon masalah
Berdasarkan hasil pengkajian yang telah didapat, maka dapat dibuatkan pohon masalah pasien dengan Gangguan Isolasi Sosial : Menarik Diri adalah sebagai berikut:
Risiko gangguan persepsi sensori: Halusinasi Regimen therapy
in efektif
C/P
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
D. Diagnosa Keperawatan 1. Isolasi sosial: menarik diri
2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah 3. Koping keluarga tidak efektif
4. Regimen therapy inefektif
Isolasi Sosial : Menarik Diri
Koping Keluarga Tidak Efektif
E. Rencanaan keperawatan Nama inisial : TN. W
Umur : 45 tahun
Ruangan : Rumah Sakit Jiwa Islam Klender
No Diagnosa Keperawatan
Perencanaan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Isolasi Sosial TUM : Klien dapat berinteraksi dengan orang lain.
TUK 1:
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2. Setelah 3x interaksi klien menunjukan tanda-tanda percaya kepada perawat : i. Ekspresi wajah
bersahabat.
j. Menunjukan rasa senang.
k. Ada kontak mata.
l. Ingin berjabat tangan.
6. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik : i. Sapa klien dengan ramah baik verbal
maupun non verbal.
j. Perkenalkan nama, nama panggilan, dan tujuan perawat berkenalan.
k. Tanyakan nama lengkap dan nama yang disukai klien.
l. Buat kontak yang jelas.
m. Ingin menyebutkan nama.
n. Ingin menjawab salam.
o. Ingin duduk
berdampingan dengan perawat.
p. Bersedia
mengungkapkan
masalah yang di hadapi.
m. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali interaksi.
n. Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
o. Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
p. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.
TUK 2 :
Klien mampu
menyebutkan penyebab menarik diri.
7. Setelah 3x interaksi klien menyebutkan penyebab menarik diri :
d. Diri sendiri e. Orang lain f. Lingkungan
2.1 Tanyakan kepada klien tentang :
g. Orang yang tinggal serumah/ teman sekamar klien.
h. Orang yang paling dekat dengan klien rumah / ruang perawatan.
i. Apa yang membuat klien dekat dengan orang tersebut.
j. Orang yang tidak dekat dengan klien rumah / ruang perawatan.
k. Apa yang membuat klien tidak dekat dengan orang tersebut.
l. Upaya yang sudah dilakukan agar dekat dengan orang lain.
2.2 Diskusikan dengan klien penyebab menarik diri atau tidak mau bergaul dengan orang lain 2.3 Beri pujian terhadap kemampuan klien
mengungkapkan perasaanya.
TUK 3:
Klien dapat
Menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
8. Setelah 3x interaksi klien menyebutkan keuntungan
berhubungan sosial, misalnya :
e. Banyak teman.
f. Tidak kesepian.
g. Bisa diskusi.
h. Saling menolong.
Dan kerugian menarik dir :
3.1 Tanyakan kepada klien tentang:
c. Manfaat hubungan sosial.
d. Kerugian menarik diri.
3.2 Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan sosial dan kerugian menarik diri.
3.3 Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaanya.
d. Sendiri.
e. Kesepian.
f. Tidak bisa diskusi.
TUK 4 :
Klien dapat
melaksanakan
hubungan sosial secara bertahap.
9. Setelah 3x interaksi
klien dapat
melaksanakan
hubungan sosial secara bertahap dengan : e. Perawat.
f. Perawat lain.
g. Klien lain.
h. Kelompok.
4.1 Obeservasi perilaku klien saat berhubungan sosial .
4.2 Beri motivasi dan bantu klien untuk berkenalan/
berkomunikasi dengan : e. Perawat.
f. Perawat lain.
g. Klien lain.
h. Kelompok.
4.3 Libatkan klien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi
4.4 Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan klien bersosialisasi.
4.5 Beri motivasi klien untuk melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat.
4.6 Beri pujian terhadap kemampuan klien memperluas pergaulannya melalui aktivitas yang dilaksanakan.
TUK 5:
Klien mampu
menjelaskan
perasaanya setelah berhubungan sosial.
10. Setelah 3x interaksi klien dapat menjelaskan perasaanya setelah berhubungan sosial dengan orang lain :
c. Orang lain d. Kelompok
5.1 Diskusikan dengan klien tentang perasaanya setelah berhubungan dengan :
c. Orang lain.
d. Kelompok.
5.2 Beri pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaanya.
TUK 6 :
Klien mendapat dukungan keluarga dalam memperluas hubungan sosial.
6.1 Setelah 3x pertemuan keluarga dapat menjelaskan tentang :
e. Pengertian menarik diri
f. Tanda dan gejala menarik diri.
g. Penyebab dan akibat menarik diri.
6.1 Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung untuk mengatasi perilaku menarik diri .
6.2 Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi perilaku menarik diri.
6.3 Jelaskan pada keluarga tentang : e. Pengertian menarik diri.
f. Tanda dan gejala menarik diri.
g. Penyebab dan akibat menarik diri.
h. Cara merawat klien menarik diri.
6.2 Setelah 3x pertemuan keluarga dapat mempraktekan cara merawat klien menarik diri.
h. Cara merawat klien menarik diri.
6.4 Latih keluarga cara merawat klien menarik diri.
6.5 Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan.
6.6 Beri motivasi keluarga agar membantu klien untuk bersosialisasi.
6.7 Beri pujian kepada keluarga atas keterlibatannya merawat klien di rumah sakit.
TUK 7 :
Klien dapat
memanfaatkan obat dengan baik.
7.1 Setelah 3x interaksi klien menyebutkan :
Manfaat minum obat.
Kerugian tidak minum obat.
Nama, warna, dosis, efek terapi dan efek samping obat.
7.2 Setelah ....x interaksi klien mendemonstrasikan
penggunaan obat dengan benar.
7.1Diskusikan dengan klien tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, nama, warna, dosis, cara, efek terapi dan efek sampin penggunaan obat.
7.2 Pantau klien saat penggunaan obat.
7.3 Beri pujian jika klien menggunakan obat dengan benar.
7.4 Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter.
7.5 Anjurkan klien untuk konsultasi kepada dokter/
perawat jika terjadi hal-hal yang tidak di
7.3 Setelah 3x interaksikan klien menyebutkan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter.
inginkan.
57 F. Pelaksanaan
Berdasarkan pelaksanaan asuhan keperawatan kepada klien (Tn. W) dengan masalah gangguan kebutuhan dasar Isolasi Sosial : Menarik Diri dapat di evaluasi sebagai berikut :
No Hari Tanggal
No.
Dx
Implementasi Evaluasi
(S.O.A.P)
Paraf
1 Senin 06 juni 2016
Dx. 1 SP 1 Pasien:
1. Membina hubungan saling percaya dengan mahasiswa menggunakan teknik terapeutik 2. Mendiskusikan
penyebab menarik diri
Subyektif:
o Klien belum mau diajak berinteraksi maupun berbicara
Obyektif:
o Klien tampak tidak mau diajak berinteraksi maupun berbicara o Kontak mata kurang o Pasien memalingkan
kepala saat di ajak berbicara.
o Pasien berbicara pelan.
Analisa:
Masalah Therapy SP 1 belum tercapai
Planning:
Lanjutkan SP1 :
o mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien
Arif
o point 2 berdiskusi dengan pasien tentang keuntungan
berinteraksi dengan orang lain
o point 3 berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain
o point 4 mengajarkan pasien cara
berkenalan dengan satu orang
o point 5 menganjurkan pasien memasukkan kegiatan latihan berbincang bincang dengan orang lain dalam kegiatan harian 2 Selasa
07 juni 2016
Dx: 1 SP 1 Pasien:
1. Membina hubungan saling percaya dengan mahasiswa menggunakan teknik terapeutik
2. M endiskusikan penyebab menarik diri
Subyektif:
o Klien tidak mau diajak berinteraksi maupun berbicara
Obyektif:
o Klien tampak tidak mau diajak berinteraksi
Arif
maupun berbicara o Kontak mata kurang o Pasien memalingkan
kepala saat di ajak berbicara.
o Pasien berbicara pelan.
Analisa:
Masalah Therapy SP 1 belum tercapai
Planning:
Lanjutkan SP1 :
o mengidentifikasi penyebab isolasi sosial pasien o point 2 berdiskusi
dengan pasien tentang keuntungan
berinteraksi dengan orang lain
o point 3 berdiskusi dengan pasien tentang kerugian tidak
berinteraksi dengan orang lain
o point 4 mengajarkan pasien cara
berkenalan dengan satu orang