HASIL DAN PEMBAHASAN
Kasus 13. Gaya Hidup Keluarga di Perkotaan
LS memiliki anak berjumlah 4 orang, semuanya bersekolah, dengan suami yang memiliki pendapatan sebesar tujuh ratus ribu rupiah perbulan, anaknya sudah bersekolah 2 orang ditingkat SMP swasta, dan 2 orang masih SD. Menurut LS gaji suami yang demikian tiap bulan sebenarnya masih kurang, untuk biaya sekolah dan makan, listrik, air menghabiskan Rp 640000, dan hanya tersisa 60 ribu setiap bulan dan bahkan kalau ada keperluan mendadak seperti sakit, atau ada hajatan, gaji tersebut kurang, tapi LS berani kredit baju dengan harga yang sama dengan gaji suami sebulan, habis lihat tetangga memiliki penampilan yang cakep, masalah bayaran masalah nanti. Menurut LS banyak tetangganya juga seperti dia dengan menyebutkan beberapa tetangga yang tidak hanya membeli pakaian, tapi semua perabotan rumah tangga (mulai, dari alat-alat dapur, sofa, tempat tidur, bahkan sepeda motor) dengan cara cicilan perhari. Malu dengan tetangga kalau hidup begitu-begitu saja, yang penting menurut LS adalah penampilan, baik penampilan
diri maupun penampilan isi rumah. Jadi membeli semua itu bukan karena
kebutuhan, tetapi karena gengsi bahkan tidak menyesuaikan dengan pendapatan yang diperoleh.
Tabel 21. Tingkat Pendapatan Keluarga di Perkotaan
Peubah Kategori n %
Tingkat Pendapatan Keluarga di Perkotaan*
Rendah (<Rp 1.5 juta/KK/bulan) 101 44.9 Sedang (Rp 1.5 - 3 juta/KK/bulan) 68 30.2
Nilai-P = 0,000 Tinggi (> 3 juta/KK/bulan) 56 24.9
Jumlah 225 100.0
Tabel 22. Tingkat Pendapatan Keluarga di Pedesaan
Peubah Kategori n %
Tingkat Pendapatan Keluarga di Pedesaan*
Rendah (<Rp 500 ribu/KK/bulan) 122 54.0 Sedang (Rp 500 ribu - 1 juta/KK/bulan) 31 13.7
Nilai-P = 0,000 Tinggi (> 1 juta/KK/bulan) 73 32.3
Jumlah 225 100.0
*Berdasarkan hasil beda nyata one way Anova antara perkotaan dan pedesaan, nyata pada α = 5%
Adanya variasi tingkat pendapatan di perkotaan berkaitan erat dengan tingkat pendidikan. Dengan tingkat pendidikan semakin tinggi, maka peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang baik akan semakin besar. Jenis pekerjaan suami di daerah perkotaan bervariasi. Mayoritas suami bekerja sebagai pengusaha, pegawai negeri sipil, atau karyawan swasta, sedangkan pekerjaan istri didominasi oleh ibu rumah tangga, meskipun ada pula istri yang bekerja sebagai pengusaha dan karyawan swasta.
Keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah adalah para urban yang meninggalkan desa karena tergiur oleh bayangan Jakarta sebagai tempat mencari kehidupan yang lebih mudah dibandingkan di pedesaan, namun mereka tidak sadar dengan hanya pendidikan yang rendah ditambah tidak memiliki keterampilan atau kreativitas apapun, maka mereka akan menjadi orang-orang yang terpinggirkan, mayoritas mereka tinggal di bantaran rel kereta api dan bantaran kali. Tingkat pendapatan yang diperoleh pada keluarga dengan karakteristik ini tidak menentu. Terkadang hanya mendapatkan + Rp 5,000 / hari. Pekerjaan utama suami di daerah ini adalah pemulung dan tukang sapu. Para istri ada yang bekerja sebagai buruh cuci, pembantu rumah ta ngga (serabutan, mencuci atau menyetrika kalau dibutuhkan saja), juga bekerja sebagai pemulung. Tingkat pendapatan ini tentunya sangat mempengaruhi keluarga. Dengan tingkat pendapatan keluarga yang hanya sekitar Rp 200,000, uang kontrakan rumah sebesar Rp 150,000/ bulan, artinya hanya sisa Rp
50,000, hidup di kota jakarta yang semuanya membutuhkan uang, tentunya kapasitas ekonomi seperti ini sangat mengerikan.
Di daerah pedesaan, tingkat pendapatan yang diterima tergantung pada jenis pekerjaan yang digeluti. Pendapatan keluarga yang lebih tinggi di pedesaan mayoritas berasal dari keluarga yang tinggal di dekat dengan ibu kota kecamatan. Pekerjaan yang dilakukan mayoritas adalah pedagang (wiraswasta) atau PNS. Bagi keluarga yang tinggal cukup jauh dari ibukota kecamatan, pekerjaan sebagai buruh tani banyak ditemukan. Mayoritas mereka bertahan hidup karena hasil pertanian atau perkebunan yang ditanam untuk dikonsumsi secara pribadi (tidak untuk dijual). Bila mereka membutuhkan uang untuk keperluan lainnya, ma ka mereka mencari uang tersebut dengan menjual barang-barang lain miliknya, seperti menjual bambu atau mencari pekerjaan lain sebagai buruh kasar.
Lingkungan Isu Keluarga di Tempat Kerja
Berdasarkan uji Anova, terdapat perbedaan yang nyata banyaknya isu keluarga di bicarakan di tempat kerja pada keluarga perkotaan dan pedesaan. Selengkapnya disajikan pada Tabel 23.
Tabel 23. Banyaknya Isu Keluarga Dibicarakan di Tempat Kerja Menurut Responden
Peubah Kategori Perkotaan Pedesaan
n % n %
Banyaknya Isu Keluarga Dibicarakan di Tempat Kerja Menurut Responden*
Nilai-P = 0.000
Rendah 153 68.0 199 88.4
Sedang 57 25.3 26 11.6
Tinggi 15 6.7 0 0.0
Jumlah 225 100.0 225 100.0
Ket : Rendah (Skor 0-50), Sedang (51-75), Tinggi (76-100)
* Berdasarkan hasil beda nyata one way Anova antara perkotaan dan pedesaan, nyata pada α=5%
Secara umum, intensitas isu keluarga dibicarakan di tempat kerja adalah rendah. Intentitas isu keluarga di tempat kerja di perkotaan berkategori rendah alasannya: (1) Merasa kurang nyaman membicarakan masalah keluarga di tempat kerja, dan(2) waktu lebih banyak untuk kerja, kalaupun ada waktu paling membicarakan hal-hal yang umum saja. Di pedesaan, walaupun ada kelompok tani misalnya, namun tidak pernah khusus membicarakan masalah-masalah keluarga. Isi pembicaraan lebih kepada masalah pertanian saja.
Kondisi Lingkungan Tempat Tinggal menurut Responden
Secara umum, terdapat perbedaan yang nyata mengenai kondisi lingkungan di tempat tinggal pada keluarga di perkotaan dan pedesaan. Tabel 24 menyajikan sebaran responden berdasarkan kondisi lingkungan di tempat tinggal.
Tabel 24. Kondisi Lingkungan Tempat Tinggal menurut Responden
Peubah Kategori Perkotaan Pedesaan
n % n %
Kondisi Lingkungan Tempat Tinggal
Menurut Responden* Buruk
113 50.2 82 36.4
Sedang 82 36.4 87 38.7
Nilai-P = 0.000 Baik 30 13.3 56 24.9
Jumlah 225 100.0 225 100.0
Ket : Rendah (Skor 0-50), Sedang (51-75), Tinggi (76-100)
* Berdasarkan hasil beda nyata one way Anova antara perkotaan dan pedesaan, nyata pada α = 5%
Kondisi lingkungan tempat tinggal menurut responden mayoritas belum baik. Hal ini bisa terlihat dari sifat interaksi di perkotaan tidak terlalu individual, namun juga tidak juga terlalu kekeluargaan. Di pedesaan sifat interaksi lebih bersifat kekeluargaan, namun kenyataannya keluarga yang individual lebih banyak ditemukan di perkotaan daripada di pedesaan. Di pedesaan, kondisi lingkungan tempat tinggal tergolong sedang. Kondisi lingkungan di pedesaan masih tergolong baik, alasan ini disebabkan bahwa responden menilai bahwa nilai kebaikanlah yang dominan berpengaruh terhadap nilai-nilai keluarga. Penjelasan mengenai pengaruh nilai yang dominan terhadap keluarga disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25. Pengaruh Nilai Lingkungan yang Lebih Dominan terhadap Keluarga
Pengaruh Nilai Lingkungan yang Lebih Dominan terhadap Keluarga
Perkotaan Pedesaan
n % n %
Nilai Kebaikan 70 31.1 120 53.3
Nilai Keburukan 55 24.4 18 8.0
Sama kuatnya antara kebaikan dan keburukan 79 35.1 41 18.2
Tidak Tahu 21 9.3 46 20.4
Jumlah 225 100.0 225 100.0
Hal mendetail mengenai kondisi lingkungan tempat tinggal yang perlu diketahui adalah bagaimana sifat interaksi sosial, banyaknya wadah interaksi dan keikutsertaan responden pada wadah interaksi sosial yang terdapat di lingkungannya. Tabel 26 menyajikan sifat interaksi di lingkungan tempat tinggal responden di seluruh
wilayah pedesaan dan perkotaan. Pada keluarga perkotaan, sifat interaksi di lingkungan tempat tinggal responden adalah biasa saja, artinya tidak terlalu individual, namun tidak pula dapat disebut kekeluargaan. Kondisi kekeluargaan terlihat jelas di daerah pedesaan (52.9 persen). Hal ini terjadi karena kultur yang ada masih kultur pedesaan, namun wilayah tempat tinggal yang dekat dengan ibukota kecamatan membuat nilai-nilai individual juga ada.
Tabel 26. Sifat Interaksi di Lingkungan Tempat Tinggal Responden
Sifat Interaksi di Lingkungan Tempat Tinggal Responden
Perkotaan Pedesaan
n % n %
Kekeluargaan 87 38.7 119 52.9
Biasa saja 91 40.4 92 40.9
Sangat indi vidual 47 20.9 14 6.2
Jumlah 225 100.0 225 100.0
Berdasarkan Tabel 27, lembaga agama merupakan wadah interaksi yang ada di perkotaan dan pedesaan. Oleh karena itu, keikutsertaan responden pun paling banyak di lembaga agama ini. Lembaga agama lebih banya k diikuti oleh keluarga di pedesaan daripada keluarga di perkotaan. Namun, dari hasil indepth interview yang dilakukan, ternyata lembaga agama lokal baik di pedesaan maupun di perkotaan hampir secara umum belum berfungsi secara optimal baik dari sisi program, muatan isi ceramah maupun penceramah atau ustadz. Ini terdapat dalam Kasus 15.