• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Teori

2.2.5 Pendapatan Nasional

2.2.5.2 GDP Riil (Real GDP) dan GDP Nominal (Nominal GDP) . 42

GDP nominal mengukur nilai output atau pendapatan nasional dalam suatu periode tertentu menurut harga pasar yang berlaku pada periode tersebut, atau dikenal dengan istilah current price. Misalnya, GDP nominal 2007 mengukur nilai barang-barang yang diproduksi selama tahun 2007 dengan harga pasar yang berlaku tahun 2007. GDP nominal dapat diukur dengan perhitungan sebagai berikut:

GDP = (Harga barang A x Jumlah barang A) + (Harga barang B x Jumlah barang B)

Dari perhitungan tersebut terlihat bahwa GDP bisa meningkat karena harga meningkat atau karena jumlah produk meningkat. Dengan mudah kita bisa melihat

43

GDP yang dihitung dengan cara ini bukan ukuran kemakmuran ekonomi yang baik. Ukuran ini secara akurat mencerminkan sejauh mana perekonomian bisa memuaskan permintaan rumah tangga, perusahaan dan pemerintah. Jika seluruh harga digandakan tanpa perubahan dalam jumlah, GDP akan berlipat ganda. Tetapi tidak benar untuk mengatakan bahwa kemampuan perekonomian untuk memuaskan permintaan telah berlipat ganda, karena jumlah setiap produk yang di produksi tetap sama.

Ukuran kemakmuran ekonomi yang lebih baik akan menghitung output barang dan jasa perekonomian dan tidak akan dipengaruhi oleh perubahan harga. Untuk tujuan ini, para ekonom menggunakan GDP riil (real GDP), yang nilai barang dan jasanya diukur dengan menggunakan harga konstan. Yaitu, GDP riil menunjukkan apa yang akan terjadi terhadap pengeluaran pada output jika jumlah berubah tetapi harga tidak. Untuk melihat bagaimana GDP riil dihitung, kita akan membandingkan output pada tahun X dan output pada tahun Y dalam perekonomian barang A dan barang B kita. Kita bisa mulai dengan memilih sekumpulan harga, disebut harga dasar tahunan (base year prices), seperti harga berlaku pada tahun X. barang dan jasa lalu ditambahkan dengan menggunakan harga dasar tahunan ini untuk menilai barang-barang yang berbeda di kedua tahun. GDP riil untuk tahun X adalah:

GDP Riil = (Harga barang A tahun X x Jumlah barang A tahun X) + (Harga barang B tahun X x Jumlah barang B tahun X)

44

Demikian pula, GDP riil pada tahun Y adalah:

GDP Riil = (Harga barang A tahun X x Jumlah barang A tahun Y) + (Harga barang B tahun X x Jumlah barang B tahun Y)

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa harga tahun X digunakan untuk menghitung GDP riil untuk dua tahun. Karena harga dipertahankan konstan, GDP riil bervariasi dari tahun ke tahun hanya jika jumlah yang diproduksi berbeda. Karena kemampuan masyarakat untuk memberikan kepuasan ekonomi bagi para anggotanya sangat bergantung pada jumlah barang dan jasa yang diproduksi, GDP riil memberikan ukuran kemampuan ekonomi yang lebih baik daripada GDP nominal.

Dari perhitungan di atas juga terlihat bahwa harga yang digunakan untuk menghitung ukuran GDP riil tidak pernah berubah dari nilai tahun dasarnya. Padahal, dari waktu ke waktu harga akan diperbaharui. Misalnya, harga komputer turun secara meyakinkan belakangan ini, sementara uang kuliah per tahun di perguruan tinggi naik. Ketika menilai produksi komputer dan pendidikan, tidak tepat bila kita menggunakan harga yang diberlakukan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu.

Untuk memecahkan masalah ini, Biro Analisis Ekonomi biasa memperbaharui secara periodik harga-harga yang digunakan untuk menghitung GDP riil. Kira-kira setiap lima tahun, tahun dasar yang baru dipilih. Harga-harga itu kemudian dipertahankan dan digunakan untuk mengukur perubahan dalam produksi barang dan jasa tahun ke tahun sampai tahun dasar diperbaharui lagi (Mankiw, 2000:21-23).

45

Dalam Sukirno (2011) disebutkan bahwa merupakan salah satu kegunaan penting dari data pendapatan nasional (dihitung dengan melihat GDP riil) adalah untuk menentukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai suatu negara dari tahun ke tahun. Dengan mengamati tingkat pertumbuhan yang tercapai dari tahun ke tahun dapatlah dinilai prestasi dan kesuksesan negara dalam mengendalikan ekonominya dalam jangka pendek dan usaha mengembangkan perekonomiannya dalam jangka panjang. Perhitungan pendapatan nasional memungkinkan tingkat pertumbuhan ekonomi secara langsung dihitung dari data pendapatan nasional riil yang tersedia. Tingkat pertumbuhan ekonomi dapat ditentukan dengan formula:

𝑔 = GDP riil1βˆ’ GDP riil0

GDP riil0 π‘₯ 100

Di mana g adalah tingkat pertumbuhan ekonomi dan dinyatakan dalam persen. GDP π‘Ÿπ‘–π‘–π‘™1 adalah pendapatan nasional untuk tahun di mana tingkat pertumbuhan ekonominya dihitung dan 𝐺𝐷𝑃 π‘Ÿπ‘–π‘–π‘™0 adalah pendapatan nasional pada tahun sebelumnya.

2.2.5.3 Pendapatan Nasional dalam Perspektif Ekonomi Islam

Dalam Huda, dkk (2014), pendekatan ekonomi konvensional menyatakan GDP atau GNP riil dapat dijadikan sebagai suatu ukuran kesejahteraan ekonomi (measure of economic welfare) atau kesejahteraan pada suatu negara. Pada waktu GNP naik, maka diasumsikan bahwa secara materi bertambah baik posisinya atau sebaliknya, tentunya setelah dibagi dengan jumlah penduduk (GNP per kapita). Kritik

46

terhadap GNP sebagai ukuran kesejahteraan ekonomi muncul dan para pengkritik mengatakan bahwa GNP/kapita merupakan ukuran kesejahteraan yang tidak sempurna. Sebagai contoh, jika nilai output turun sebagai akibat orang-orang mengurangi jam kerja atau menambah waktu leisure/istirahatnya tentunya hal itu bukan menggambarkan keadaan orang itu menjadi lebih buruk.

Satu hal yang membedakan sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya adalah penggunaan parameter falah. Falah adalah kesejahteraan yang hakiki, kesejahteraan yang sebenar-benarnya, di mana komponen-komponen rohaniah masuk ke dalam pengertian falah ini. Ekonomi Islam dalam arti sebuah sistem ekonomi (nidhom al-iqtishad) merupakan sebuah sistem yang dapat mengantar umat manusia kepada real welfare (falah), kesejahteraan yang sebenarnya. Memang benar bahwa semua sistem ekonomi baik yang sudah tidak eksis lagi dan telah terkubur oleh sejarah maupun yang saat ini sedang berada di puncak kejayaannya, bertujuan untuk mengantarkan kesejahteraan kepada para pemeluknya. Namun lebih sering kesejahteraan itu diwujudkan pada peningkatan GNP yang tinggi, yang kalau dibagi dengan jumlah penduduk akan menghasilkan per capita income yang tinggi. Jika hanya itu ukurannya, maka kapitalisme modern akan mendapat angka maksimal. Akan tetapi, pendapatan perkapita yang tinggi bukan satu-satunya komponen pokok yang menyusun kesejahteraan. Ia hanya merupakan necessary condition dalam isu kesejahteraan dan bukan sufficient condition. Al-falah dalam pengertian Islam mengacu kepada konsep Islam tentang manusia itu sendiri. Dalam Islam, esensi manusia ada pada ruhaniahnya. Karena itu seluruh kegiatan duniawi termasuk dalam

47

aspek ekonomi diarahkan tidak saja untuk memenuhi tuntutan fisik jasadiyah, melaikan juga memenuhi kebutuhan ruhani di mana roh merupakan esensi manusia (Nasution dkk., 2006). Maka dari itu, selain harus memasukkan unsur falah dalam menganalisis kesejahteraan, penghitungan pendapatan nasional berdasarkan Islam juga harus mampu mengenali bagaimana interaksi instrumen-instrumen wakaf, zakat, dan sedekah dalam meningkatkan kesejahteraan umat.