TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Gejala Akibat Pajanan Bising
Dampak bising akan menyebabkan hilangnya pendengaran yang bisa disertai dengan tinitus. Beratnya gangguan pendengaran berhubungan dengan keparahan tinitus (Basyiruddin, 2007; Mazurek, 2010).
2.4.1 Gangguan pendengaran akibat bising
Mekanisme dasar terjadinya gangguan pendengaran akibat bising merupakan kombinasi dari faktor mekanik dan metabolik yakni adanya paparan bising kronis yang merusak sel rambut koklea dan perubahan metabolik yang menyebabkan hipoksia akibat vasokontriksi kapiler oleh karena bising (Ferrite, 2005; Mizuo,2011). Gangguan pendengaran akibat bising juga merupakan interaksi dari faktor lingkungan dan faktor genetik (Van Laer, 2006).
Paparan bising menyebabkan pembentukan 8-isoprostaglandin F2α (8-iso-PGF2α) didalam koklea yang merupakan marker terjadinya proses reaktif oxygen dan berpotensi menyebabkan vasokonstriksi sehingga menurunkan aliran darah ke koklea/ Cochlear Blood Flow (CBF) (Miller, 2003; Seidman, 2010).
Penilaian tuli akibat bising secara histopatologi menunjukkan adanya kerusakan pada organ Corti dikoklea terutama sel-sel rambut. Kerusakan yang terjadi pada struktur organ tertentu bergantung pada intensitas dan lama paparan. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar seperti stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kaku. Dengan bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan di jumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya stereosilia, kerusakan pada stria vaskular, kolaps sel-sel penunjang, hilangnya jaringan fibrosit dan kerusakan serabut saraf (Daniel, 2007; Kujawa, 2009).
Biasanya gangguan pendengaran akibat bising ini diketahui dengan adanya penurunan kemampuan berkomunikasi (seringnya dikenali oleh anggota keluarga atau orang-orang terdekatnya) pada fasilitas dokter keluarga atau dokter umum dan diikuti dengan pemeriksaan audiologi.
Secara klinis, individu yang terkena menunjukkan penurunan pendengaran suara pada frekuensi tinggi, khasnya ditandai ada takik frekuensi 4.000 Hz sampai 6.000 Hz pada pemeriksaan audiometri (gambar 2.2) (Kurmis, 2007).
Gambar 2.2 Gambaran audiogram dengan ‘speech banana’ mendekati gambaran khas gangguan pendengaran akibat bising takik pada 4.000 Hz (Kurmis, 2007)
Adanya korelasi antara rentang frekuensi yang terlibat dan nada spesifik (frekuensi tinggi) dari spektrum bicara (gambar 2.2), mengakibatkan individu yang mengalami gangguan sering menunjukkan penurunan kemampuan untuk memahami dan membedakan percakapan, masalah yang dapat muncul dikemudian hari di perparah dengan sulitnya memahami percakapan di tempat keramaian (seperti lingkungan kerja).
(Kurmis, 2007).
Derajat gangguan pendengaran/ ketulian menurut ISO (Basyiruddin, 2007;
Buchari, 2007):
1. Normal : ambang pendengaran batas antara 0 – 25 dB 2. Tuli ringan : peningkatan ambang batas antara 26 – 40 dB 3. Tuli sedang : peningkatan ambang batas antara 41 – 55 dB 4. Tuli sedang berat: peningkatan ambang batas antara 56 – 70 dB 5. Tuli berat : peningkatan ambang batas antara 71 – 90 dB 6. Tuli sangat berat : peningkatan ambang batas antara > 90 dB 2.4.2 Tinitus
Tinitus berasal dari bahas Latin ‘tinnire’ yang berarti bunyi. Tinitus di definisikan sebagai suatu persepsi bunyi tanpa adanya rangsangan suara dari luar. Diperkirakan sebanyak 10%-15% dari seluruh populasi pernah mengalami tinitus dalam hidupnya (Shargorodsky, 2010; Fioretti, 2011;
Holmes, 2011). Tinitus dikatakan sebagai suatu keadaan patologis bila dialami lebih dari 5 menit dan terjadi lebih dari satu kali tiap minggunya (Henry, 2005). Data National Health Interwiew Survey (NHIS) menunjukkan sekitar 35-50 juta orang dewasa di Amerika Serikat mengalami tinitus, 12 juta orang mencari pertolongan dokter dan 2-3 juta melaporkan keluhan yang sangat berat (Holmes, 2011).
Berdasarkan The International Classification of Functioning, Disability and Health dari WHO, kondisi kesehatan seseorang dapat berdampak terhadap kehidupannya. Dalam hal ini keluhan tinitus menyebabkan terganggu fungsi organ tubuh. Tinitus menyebabkan kesulitan berkonsentrasi dan berdampak terhadap prestasi kerja. Faktor lain yang berkontribusi yaitu menjadi pencetus ansietas (faktor personal) dan kurangnya dukungan dari keluarga (faktor lingkungan) (gambar 2.3) (Henry, 2005).
Gambar 2.3 Dampak tinitus terhadap kondisi kesehatan (Henry, 2005) Tinitus dapat diklasifikasikan menjadi tinitus vibratori dan nonvibratori.
Dan dapat dibedakan menjadi tinitus subjektif dan objektif. Tinitus vibratori disebabkan adanya transmisi ke koklea yang berasal dari vibrasi jaringan atau organ sekitar, sedangkan tinitus nonvibratori di hasilkan oleh perubahan biokimia pada saraf yang bertanggung jawab pada proses pendengaran (Heller, 2003; Crummer, 2004).
Kondisi Kesehatan (Kelainan atau penyakit)
Tinitus
Limitasi Aktivitas Kesulitan Berkonsentrasi Gangguan Fungsi
Tubuh Persepsi
‘Suara Kuat’
Pembatasan/Restriksi Partisipasi Masalah dengan
Pekerjaan
Faktor Lingkungan Kurangnya Dukungan
Keluarga
Masalah yang berkaitan dengan
Tinitus
Faktor Personal Predisposisi terhadap
Ansietas
Tinitus juga dibedakan menjadi tinitus objektif, yang diperkirakan berkisar kurang dari 1% dari seluruh kasus tinitus, dimana suara tersebut dapat didengar oleh pasien dan pemeriksa atau dengan auskultasi disekitar telinga. Kelainan tinitus objektif berasal dari transmisi vibrasi sistem muskular atau kardiovaskular di sekitar telinga. Tinitus subjektif yang merupakan tinitus yang paling sering terjadi, kadang-kadang dianggap sebagai ‘phantom sensation’ berupa suara yang hanya dapat didengar oleh pasien sendiri. Tinitus subjektif, disebabkan oleh proses iritatif atau perubahan degeneratif traktus auditorius mulai dari sel-sel rambut getar koklea sampai pusat saraf pendengaran (Fioretti, 2011;
Holmes, 2011). Tinitus juga dibedakan menjadi akut yang berlangsung dalam hitungan hari atau minggu dan tinitus kronis yang berlangsung lebih dari 6 bulan (Holmes, 2011).
Walaupun banyak teori yang telah digunakan untuk menjelaskan bagaimana terjadinya tinitus, namun patofisiologinya masih sulit dipahami dan tidak mungkin hanya satu proses patologis yang dapat menyebabkan terjadinya tinitus. Dapat dikatakan banyak kasus tinitus berhubungan dengan bertambahnya usia, gangguan pendengaran, paparan bising dan hampir setiap kelainan yang melibatkan telinga luar atau telinga tengah atau telinga dalam atau nervus auditorius dapat menyebabkan keluhan tinitus (Holmes, 2011).
Teori tinitus menurut Jastreboff menyatakan jika terjadi kerusakan koklea yang disebabkan oleh paparan bising yang kuat, ototoksik ataupun infeksi virus maka sel rambut luar terlebih dahulu rusak dan kemudian diikuti oleh kerusakan sel rambut dalam. Sel rambut dalam berfungsi sebagai transduksi suara sedangakan sel rambut luar berfungsi sebagai amplifikator suara didalam koklea. Kerusakan koklea oleh karena paparan bising yang sangat kuat merubah neuron yang aktif secara spontan di dalam Dorsal Cochlear Nucleus (DCN). DCN sebagai acoustic neuron dan merupakan tempat integrasi akustik dan input sensori, yang dapat menjadi
pusat penting di otak terhadap pembentukan dan modulasi tinitus (Lookwood, 2002; Fioretti, 2011).
Karena tinitus merupakan keluhan subjektif dan tidak ada pemeriksaan objektif yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran akan keberadaan keluhan tinitus tersebut, diagnosis sebahagian besar berdasarkan kepada keluhan pasien yang dilaporkan. Melalui investigasi yang menyeluruh oleh seorang otologis dapat direkomendasikan untuk menyingkirkan adanya kelainan neurologis yang berpotensi mengancam jiwa dan untuk membantu terhadap strategi penatalaksanaan secara langsung (Holmes, 2011)