KORELASI LOUDNESS MATCHING DENGAN TINNITUS HANDICAP INVENTORY (THI) PADA KARYAWAN PUSAT
LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) PAYA PASIR MEDAN
Tesis
Oleh:
EMILIA SALFI
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
KORELASI LOUDNESS MATCHING DENGAN TINNITUS HANDICAP INVENTORY (THI) PADA KARYAWAN PUSAT
LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) PAYA PASIR MEDAN
Tesis
Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Spesialis dalam Bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Bedah Kepala Leher
Oleh:
EMILIA SALFI
PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2014
Medan, 23 Juli 2014 Tesis dengan judul
KORELASI LOUDNESS MATCHING DENGAN TINNITUS HANDICAP INVENTORY (THI) PADA KARYAWAN PUSAT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)
PAYA PASIR MEDAN
Telah disetujui dan diterima baik oleh Komisi Pembimbing Ketua
NIP. 140202219
dr. Adlin Adnan, Sp.THT-KL(K)
Anggota
Dr. dr. Tengku Siti Hajar Haryuna, Sp.THT-KL
NIP. 19790620 200212 2 003 NIP.19531004 198011 1 002
dr. Muzakkir Zamzam, Sp.THT- KL(K)
Diketahui oleh
Ketua Departemen Ketua Program Studi
Prof.Dr.dr.Abd. Rachman S, Sp.THT-KL(K)
NIP: 19471130 198003 1 002 NIP: 19790620 200212 2 003 Dr. dr. Tengku Siti Hajar Haryuna, Sp.THT- KL
Dekan Fakultas Kedokteran USU Ketua TKP-PPDS
Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp.PD, KGEH dr. H. Zainuddin Amir, M.Ked(Paru),Sp.P(K)
NIP: 19540220 198011 1 001 NIP: 19540620 198011 1 001
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan Bismillahirahmanirrahim, saya sampaikan rasa syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya saya dapat menyelesaikan tesis ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar Spesialis dalam bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Medan. Saya menyadari penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna, baik isi maupun bahasannya. Walaupun demikian, mudah- mudahan tulisan ini dapat menambah perbendaharaan penelitian dengan judul Korelasi Loudness Matching dengan Tinnitus Handicap Inventory (THI) pada karyawan Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) Paya Pasir Medan.
Dengan telah selesainya tulisan ini, pada kesempatan ini dengan tulus hati saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
dr. Adlin Adnan, Sp.THT-KL atas kesediaannya sebagai ketua pembimbing penelitian ini, Dr. dr. Tengku Siti Hajar Haryuna, Sp.THT-KL dan dr. Muzakkir Zamzam, Sp.THT-KL(K) sebagai anggota pembimbing. Di tengah kesibukan mereka, dengan penuh perhatian dan kesabaran, telah banyak memberi bantuan, bimbingan, saran dan pengarahan yang sangat bermanfaat kepada saya dalam menyelesaikan tulisan ini.
Rasa terimakasih saya ucapkan kepada Dr. dr. Juliandi Harahap, M.A sebagai pembimbing ahli yang banyak memberi bantuan, bimbingan dan masukan dalam bidang metodelogi penelitian dan statistik.
Dengan telah berakhirnya masa pendidikan spesialis saya, pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Yang terhormat Rektor Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. dr.
Syahril Pasaribu, Sp.A(K), DTM&H dan mantan Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. dr. Chairuddin Panusunan Lubis, Sp.A(K), DTM&H, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD(KGEH), atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis di Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Bapak Pimpinan PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Utara sektor Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Medan, yang telah mengizinkan peneliti untuk mengambil data di perusahaan yang beliau pimpin.
Yang terhormat Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok dan Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran USU Prof. Dr. dr.
Abdul Rachman Saragih, Sp.THT-KL(K) dan Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran USU, Dr. dr Tengku Siti Hajar Haryuna Sp.THT-KL, Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran USU sebelumnya Prof. dr. Askaroellah Aboet, Sp.THT-KL(K) yang telah memberikan izin, kesempatan dan ilmu kepada saya dalam mengikuti Program Spesialis sampai selesai.
Yang terhormat supervisor di jajaran Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik Medan, Prof. dr. Ramsi Lutan, Sp.THT- KL(K), dr. Yuritna Haryono, Sp.THT-KL (K), Prof. dr. Askaroellah Aboet, Sp.THT- KL(K), Prof. Dr. dr. Abdul Rachman Saragih, Sp.THT-KL(K), dr. Muzakkir Zamzam, SpTHT-KL(K), dr. Mangain Hasibuan, SpTHT-KL, dr. T.Sofia Hanum, Sp.THT-KL(K), Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, SpTHT-KL(K), dr. Linda I. Adenin, Sp.THT-KL, dr. Ida Sjailandrawati Hrp, SpTHT-KL, dr.Adlin Adnan, Sp.THT-KL, dr. Rizalina A. Asnir, Sp.THT-KL(K), dr. Siti Nursiah, Sp.THT-KL, dr. Andrina Y.M. Rambe, Sp.THT-KL, dr. Harry Agustaf Asroel, M.(Ked) ORL-HNS, Sp.THT- KL, dr. Farhat, M.(Ked) ORL-HNS, Sp.THT-KL(K), Dr. dr. Tengku Siti Hajar
Haryuna, Sp.THT-KL, dr. Aliandri, Sp.THT-KL, dr. Asri Yudhistira, M.(Ked) ORL- HNS, Sp.THT-KL, dr. Devira Zahara, M.(Ked) ORL-HNS, SpTHT-KL, dr. H.R.
Yusa Herwanto, M.(Ked) ORL-HNS, SpTHT-KL, dr. M. Pahala Hanafi Harahap, SpTHT-KL, dr. Ferryan Sofyan, M.Kes, SpTHT-KL dan dr. Ramlan Sitompul, SpTHT-KL. Terima kasih atas segala ilmu, keterampilan dan bimbingannya selama ini.
Yang tercinta teman-teman sejawat PPDS Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran USU, atas bantuan, nasehat, saran maupun kerjasamanya selama masa pendidikan.
Yang mulia dan tercinta Ayahanda H. M. Syafi’i dan Ibunda Hj. Salmiah, ananda sampaikan rasa hormat dan terima kasih yang tak terhingga serta penghargaan yang setinggi-tingginya atas kasih sayang yang telah diberikan dan dilimpahkan kepada ananda sejak dalam kandungan, dilahirkan, dibesarkan dan diberi pendidikan yang baik serta diberikan suri tauladan yang mulia hingga menjadi landasan yang kokoh dalam menghadapi kehidupan ini, dengan memanjatkan doa kehadirat Allah SWT, Ya Allah ampuni dosa kami dan dosa kedua orang tua kami, serta kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihi kami sejak kecil.
Yang tercinta Bapak Mertua Alm. Suratman dan Hj. Saniah. Ibu mertua yang selama ini telah memberikan dorongan dan restu untuk selalu menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Kepada suamiku tercinta dr. Irfan Indra, M. Ked (Ped), Sp.A, tiada kata yang lebih indah yang dapat diucapkan selain ucapan terima kasih yang setulus- tulusnya atas pengorbanan tiada tara, cinta dan kasih sayang, kesabaran, ketabahan, pengertian dan dorongan semangat yang tiada henti-hentinya dan doa sehingga dengan ridho Allah SWT akhirnya kita sampai pada saat yang berbahagia ini, serta kedua buah hati kami yang amat kami sayang Nasywa Alya Sandra dan Fahrezi Ahmad Syauqi, terima kasih atas pengertian dan doa ananda, ya ALLAH jadikan anakku menjadi anak yang sholeh dan sholehah.
Kepada kakak dan adikku, Juli Novita, ST, Enna Fitriani, ST, dr. M. Faisal Fahmi, M. Ked(OG) dan Faradilla Sari, S.Kg serta kakak dan adik ipar penulis
mengucapkan terima kasih atas limpahan kasih sayang dan tak henti-hentinya memberikan dorongan serta doa kepada penulis. Terima kasih kepada suamiku dr. Irfan Indra, M.Ked (Ped), Sp.A, adikku dr.M.Faisal Fahmi, M.Ked(OG) dan Faradilla Sari, S.Kg serta adik iparku dr.Nadia Amalia yang sangat membantu saya dalam penelitian ini.
Kepada seluruh kerabat dan handai taulan yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Akhirnya izinkanlah saya mohon maaf yang setulus-tulusnya atas segala kesalahan dan kekurangan saya selama mengikuti pendidikan ini, semoga segala bantuan, dorongan, petunjuk yang diberikan kepada saya selama mengikuti pendidikan kiranya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin.
Medan, Juni 2014
Penulis
Emilia Salfi
KORELASI LOUDNESS MATCHING DENGAN TINNITUS HANDICAP
INVENTORY (THI) PADA KARYAWAN PUSAT LISTRIK TENAGA GAS(PLTG) PAYA PASIR MEDAN Abstrak
Pendahuluan: Bising merupakan salah satu polutan yang paling sering ditemukan di lingkungan kerja. WHO memperkirakan sekitar 15% dari seluruh pekerja di negara berkembang berisiko terpapar bising yang berdampak pada gangguan pendengaran dan tinitus. Tinitus merupakan keluhan yang menyertai GPAB yang memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup pekerja. Data menunjukkan bising merupakan penyebab traumatik utama keluhan tinitus. Banyak pasien menyatakan suara tinitus yang kuat mengganggu aktivitas sedangkan suara tinitus yang pelan lebih mudah ditoleransi dan tidak mengganggu aktivitas. Hal ini didukung penelitian terdahulu mendapatkan adanya korelasi yang rendah sampai sedang antara kekuatan suara tinitus dengan keparahan penyakit dan kecacatan yang diakibatkan.
Tujuan: Untuk mengetahui korelasi pengukuran loudness matching dengan tingkat keparahan tinitus menggunakan kuesioner THI pada karyawan di PLTG Medan.
Metode: Penelitian bersifat deskriptif dengan rancangan studi potong lintang. Didapatkan 21 orang karyawan yang memenuhi kriteria inklusi.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan fisik telinga dengan otoskop, pemeriksaan pendengaran dan loudness matching dengan audiometri nada murni dan pemeriksaan tingkat keparahan tinitus dengan kuesioner THI .
Hasil Penelitian: Karyawan terbanyak menderita tinitus usia ≥ 50 tahun sebanyak 8 orang (38,1%), keluhan terbanyak terlibat kedua telinga 16 orang (76,2%), durasi terbanyak adalah kronis sebanyak 14 orang (66,7%), 18 orang (85,7%) memiliki tinitus nada tinggi (high pitch), gangguan pendengaran terbanyak tuli ringan sebanyak 9 orang (42,9%), derajat THI terbanyak adalah derajat 1 sebanyak 11 orang (52,4%).
Didapati hubungan derajat gangguan pendengaran dan THI (p=0,037).
Korelasi antara loudness matching dengan THI adalah r = 0,328 dan p = 0,147.
Kesimpulan: Tidak ada korelasi antara kekuatan suara tinitus dengan tingkat keparahan penyakit.
.
Kata kunci: tinitus, karyawan, loudness matching dan THI
CORRELATION BETWEEN LOUDNESS MATCHING AND TINNITUS HANDICAP INVENTORY ON EMPLOYEES WHO WORKED AT THE GAS
POWER PLANT IN MEDAN Abstract
Introduction: Noise is one of the most commo pollutants in the work environment. WHO estimates that approximately 15% of workers in developed country are exposed to noise. Tinnitus is a common accompanying symptom of noise induced hearing loss which can impact the quality of life. Database revealed noise was the primary traumatic causes of tinnitus. Many patients are convinced that the loudness of their tinnitus hinder habituation, whereas they consider a relatively soft signal as easier to tolerate and integrate into normal life.
This supported previous research have reported small or moderate correlation between tinnitus loudness and severity of associated distress and handicap.
Purpose: To determine correlation between loudness matching and THI on employees who worked at the gas power plant
Methods: The study design is descriptive with cross sectional study. This report is obtained 21 employees who meet the inclusion criteria. Data collection was done through interviews, physical examination of the ear with otoscope, hearing assessment and loudness matching tinnitus measurement with pure tone audiometry and tinitus severity with THI questionnaire.
Results: Most employees sufferred from tinnitus aged ≥ 50 years as many as 8 employees (38,1%), ear both ears most involved in 16 employees (76.2%), the duration is the most chronic tinnitus as many as 14 employees (66.7%), 18 employees (85.7%) had a high pitch tinnitus, mild hearing loss most is the most common in 9 (42.9%), the highest degree of THI is 1st degrees in 11 employees (52.4%). There is significant relationship between hearing loss and THI (p=0,037). Correlation between loudness matching and THI is r = 0.328 and p = 0.147.
Conclusion: There is no the correlation between tinnitus loudness intensity and severity associated tinitus.
Key words: tinnitus, employee, loudness matching and THI
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ... i
Abstrak ... v
Abstract ... vi
Daftar Isi ... vii
Daftar Tabel ... ix
Daftar Gambar ... x
Daftar Singkatan ... xi
BAB 1. PENDAHULUAN ...1
1.1 Latar Belakang Masalah ...1
1.2 Perumusan Masalah ...3
1.3 Tujuan Penelitian ...4
1.3.1 Tujuan umum ...4
1.3.2 Tujuan khusus ...4
1.4 Manfaat Penelitian ...4
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ...6
2.1 Anatomi Telinga Dalam ...6
2.2 Fisiologi Pendengaran ...8
2.3 Bising ...8
2.4 Gejala Akibat Pajanan Bising ... 10
2.4.1 Gangguan pendengaran akibat bising ... 11
2.4.2 Tinitus ... 13
2.5 Diagnosis Gangguan Pendengaran dan Tinitus Akibat Bising... 16
2.6 Penatalaksanaan dan Pencegahan ... 16
2.6.1 Pengobatan medikamnetosa ... 17
2.6.2 Pengobatan non medikamnetosa ... 18
2.7 Audiometri Nada Murni ... 20
2.7.1 Penentuan ambang dengar ... 21
2.7.2 Prosedur pemeriksaan ambang dengar ... 21
2.7.3 Karakteristik audometri tuli akibat bising ... 22
2.7.3 Pengukuran psikoakustik ... 22
2.8 Tinnitus Handicap Inventory (THI) ... 23
2.9 Kerangka Teori ... 27
2.10 Kerangka Konsep ... 28
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 29
3.1 Rancangan Penelitian ... 29
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 29
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 29
3.3.1 Populasi ... 29
3.3.2 Sampel ... 29
3.4 Variabel Penelitian ... 30
3.5 Definisi Operasional ... 30
3.6 Bahan dan Alat Penelitian ... 31
3.7 Kerangka Kerja ... 33
3.9 Analisis Data ... 34
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 35
BAB 5. PEMBAHASAN ... 41
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 61
6.1 Kesimpulan ... 61
6.2 Saran ... 61
KEPUSTAKAAN ... 62
Lampiran 1 ... 66
Lampiran 2 ... 70
Lampiran 3 ... 72
Lampiran 4 ... 75
Lampiran 5 ... 77
Lampiran 6 ... 83
Lampiran 7 ... 84
Lampiran 8 ... 85 Lampiran 9 ... 86
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Intensitas Bunyi dan Waktu Paparan yang Diperkenankan Sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja :KEP 51/MEN/1999
Tabel 4.1 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Usia
Tabel 4.2 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.3 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Lokasi Tinitus Tabel 4.4 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Durasi
Tabel 4.5 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Pitch Matching Tabel 4.6 Distribusi Hasil Pemeriksaan Audiometri (Derajat Gangguan
Dengar Menurut ISO)
Tabel 4.7 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Loudness Matching
Tabel 4.8 Distribusi Karyawan dengan Tinitus Berdasarkan Tinnitus Handicap Inventory (THI)
Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Hubungan Derajat Gangguan Pendengaran dengan THI
Tabel 4.10 Korelasi Antara Loudness Matching dan THI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Penampang Melintang Koklea dan Organ Corti
Gambar 2.2 Gambaran Audiogram dengan ‘Speech Banana’ Mendekati Gambaran Khas Gangguan Pendengaran Akibat Bising Takik pada 4.000 Hz
Gambar 2.3 Dampak Tinitus terhadap Kondisi Kesehatan Gambar 2.4 Model Neurofisiologi Tinitus
Gambar 2.5 Audiogram Tuli Akibat Bising
DAFTAR SINGKATAN
APD : Alat Pelindung Diri
ASHA : American Speech-Language Hearing Ascociation CBF : Cochlear Blood Flow
dB : Decibel
DCN : Dorsal Cochlear Nucleus
GPAB : Gangguan Pendengaran Akibat Bising HLPP : Hearing Loss Prevention Program HSA : Health and Safety Authority
Hz : Hertz
ISO : International Standar Organization KEPMEN : Keputusan Menteri
NIHL : Noise Induced Hearing Loss NHIS : National Health Interwiew Survey PLN : Pusat Listrik Tenaga
PLTG : Pusat Listrik Tenaga Gas SPL : Sound Presure Level THI : Tinnitus Handicap Inventory
THQ : Tinnitus Handicap Questionnaire TRT : Tinnitus Retraining Therapy TSQ : Tinnitus Severity Questionnaire VAS : Visual Analogue Scale
WHO : World Health Organization
KORELASI LOUDNESS MATCHING DENGAN TINNITUS HANDICAP
INVENTORY (THI) PADA KARYAWAN PUSAT LISTRIK TENAGA GAS(PLTG) PAYA PASIR MEDAN Abstrak
Pendahuluan: Bising merupakan salah satu polutan yang paling sering ditemukan di lingkungan kerja. WHO memperkirakan sekitar 15% dari seluruh pekerja di negara berkembang berisiko terpapar bising yang berdampak pada gangguan pendengaran dan tinitus. Tinitus merupakan keluhan yang menyertai GPAB yang memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup pekerja. Data menunjukkan bising merupakan penyebab traumatik utama keluhan tinitus. Banyak pasien menyatakan suara tinitus yang kuat mengganggu aktivitas sedangkan suara tinitus yang pelan lebih mudah ditoleransi dan tidak mengganggu aktivitas. Hal ini didukung penelitian terdahulu mendapatkan adanya korelasi yang rendah sampai sedang antara kekuatan suara tinitus dengan keparahan penyakit dan kecacatan yang diakibatkan.
Tujuan: Untuk mengetahui korelasi pengukuran loudness matching dengan tingkat keparahan tinitus menggunakan kuesioner THI pada karyawan di PLTG Medan.
Metode: Penelitian bersifat deskriptif dengan rancangan studi potong lintang. Didapatkan 21 orang karyawan yang memenuhi kriteria inklusi.
Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pemeriksaan fisik telinga dengan otoskop, pemeriksaan pendengaran dan loudness matching dengan audiometri nada murni dan pemeriksaan tingkat keparahan tinitus dengan kuesioner THI .
Hasil Penelitian: Karyawan terbanyak menderita tinitus usia ≥ 50 tahun sebanyak 8 orang (38,1%), keluhan terbanyak terlibat kedua telinga 16 orang (76,2%), durasi terbanyak adalah kronis sebanyak 14 orang (66,7%), 18 orang (85,7%) memiliki tinitus nada tinggi (high pitch), gangguan pendengaran terbanyak tuli ringan sebanyak 9 orang (42,9%), derajat THI terbanyak adalah derajat 1 sebanyak 11 orang (52,4%).
Didapati hubungan derajat gangguan pendengaran dan THI (p=0,037).
Korelasi antara loudness matching dengan THI adalah r = 0,328 dan p = 0,147.
Kesimpulan: Tidak ada korelasi antara kekuatan suara tinitus dengan tingkat keparahan penyakit.
.
Kata kunci: tinitus, karyawan, loudness matching dan THI
CORRELATION BETWEEN LOUDNESS MATCHING AND TINNITUS HANDICAP INVENTORY ON EMPLOYEES WHO WORKED AT THE GAS
POWER PLANT IN MEDAN Abstract
Introduction: Noise is one of the most commo pollutants in the work environment. WHO estimates that approximately 15% of workers in developed country are exposed to noise. Tinnitus is a common accompanying symptom of noise induced hearing loss which can impact the quality of life. Database revealed noise was the primary traumatic causes of tinnitus. Many patients are convinced that the loudness of their tinnitus hinder habituation, whereas they consider a relatively soft signal as easier to tolerate and integrate into normal life.
This supported previous research have reported small or moderate correlation between tinnitus loudness and severity of associated distress and handicap.
Purpose: To determine correlation between loudness matching and THI on employees who worked at the gas power plant
Methods: The study design is descriptive with cross sectional study. This report is obtained 21 employees who meet the inclusion criteria. Data collection was done through interviews, physical examination of the ear with otoscope, hearing assessment and loudness matching tinnitus measurement with pure tone audiometry and tinitus severity with THI questionnaire.
Results: Most employees sufferred from tinnitus aged ≥ 50 years as many as 8 employees (38,1%), ear both ears most involved in 16 employees (76.2%), the duration is the most chronic tinnitus as many as 14 employees (66.7%), 18 employees (85.7%) had a high pitch tinnitus, mild hearing loss most is the most common in 9 (42.9%), the highest degree of THI is 1st degrees in 11 employees (52.4%). There is significant relationship between hearing loss and THI (p=0,037). Correlation between loudness matching and THI is r = 0.328 and p = 0.147.
Conclusion: There is no the correlation between tinnitus loudness intensity and severity associated tinitus.
Key words: tinnitus, employee, loudness matching and THI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bising merupakan salah satu polutan yang paling sering ditemukan di lingkungan kerja dan merupakan risiko kerja yang harus diwaspadai di seluruh dunia. Diperkirakan enam ratus juta pekerja di seluruh dunia terpapar dengan bising lingkungan kerja, jumlah ini mencakup 35 juta orang di Eropa dan 30 juta pekerja di Amerika Serikat terpapar bising di atas nilai ambang batas yang diperkenankan (Attarchi, 2010). World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 15% dari seluruh pekerja di negara berkembang berisiko terpapar bising yang berdampak pada pendengaran (Dias, 2008).
Gangguan pendengaran yang diakibatkan paparan bising lingkungan kerja, yang dikenal dengan gangguan pendengaran akibat bising (GPAB) atau noise induce hearing loss (NIHL) bersifat sensorineural, biasanya bilateral akibat terpapar bising cukup keras dalam jangka waktu cukup lama dan biasanya diakibatkan bising lingkungan kerja (Krishnamurti, 2009; Muyassaroh, 2011). Bising lingkungan kerja bukan hanya menyebabkan gangguan pendengaran namun dapat menimbulkan tinitus.
Keparahan tinitus sering kali lebih menyebabkan kecacatan dibandingkan gangguan pendengaran, tapi tinitus tidak dapat dimonitor dalam program konservasi pendengaran (Henry, 2005).
Tinitus merupakan keluhan yang menyertai GPAB dan memberikan
dampak negatif terhadap kualitas hidup pekerja dan orang-orang
disekitarnya. Tinitus didefinisikan sebagai suatu ‘ilusi auditori’ yaitu
persepsi suara tanpa adanya stimulus yang berasal dari luar (Baguley, 2008; Dias, 2008). Keluhan awal ini merupakan peringatan terhadap paparan yang sangat besar terhadap stimulus suara dan berindikasi meningkatkan kerentanan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh bising dan merupakan keluhan utama untuk mencegah GPAB dan menjadi faktor prediktif kecacatan pada pekerja yang terpapar bising (Delecrode, 2012).
Penelitian epidemiologi menunjukkan sekitar sepertiga dari seluruh populasi dunia pernah mengalami keluhan tinitus paling tidak sekali dalam hidupnya dan sekitar 1–5% akan mengalami komplikasi psikososial yang serius (Martines, 2010). Data dari The Tinnitus Archive menunjukkan bising merupakan penyebab traumatik utama tinitus, dengan 13% dari seluruh koresponden mengalami tinitus yang berhubungan dengan paparan bising jangka panjang (Mrena, 2011).
Hong (2006) yang meneliti pekerja konstruksi bangunan mendapatkan prevalensi tinitus dan GPAB masing-masing sebesar 38% dan 60%. Chen mendapatkan prevalensi GPAB 38% dan tinitus 28% pekerja kilang minyak dengan paparan bising 73-89 dB dengan rata-rata masa paparan 7 tahun (Poole, 2010). Delecrode mendapatkan 28,05% pekerja yang tepapar bising mengalami keluhan tinitus dan 53% diantaranya menderita GPAB.
Gambaran klinis tinitus sebagai suatu keluhan dan penyakit bergantung pada banyak variabel yang berkenaan dengan audiologi, medis, dan psikologis. Salah satu variabel terpenting yang dapat menjelaskan perbedaan tiap-tiap individu terhadap keberadaan tinitus adalah intensitas signal tinitus. Beberapa pasien mengeluhkan suara yang sangat kuat bahkan dapat berkembang menjadi gangguan psikologi.
Bahkan mereka yakin bahwa kekuatan suara tinitus menjadi faktor yang
sangat penting terhadap kualitas hidup mereka. Mereka berpendapat
suara tinitus yang kuat ini mengganggu aktivitas, sedangkan suara tinitus
yang pelan lebih mudah ditoleransi dan tidak mengganggu aktivitas. Hal ini didukung data empirical evidence. Hiller menyimpulkan beberapa hasil penelitian yang menyatakan adanya korelasi yang kecil sampai sedang antara kekuatan suara tinitus dengan keparahan penyakit dan kecacatan yang diakibatkan, sedangkan penulis lain mendapatkan bahwa kekuatan suara tinitus menjadi faktor prediktif yang signifikan terhadap tingkat keparahan yang dialami pasien (Hiller, 2003). Penelitian di Brazil (2009) mendapatkan korelasi yang signifikan antara pengukuran tinitus menggunakan visual analogue scale dengan THI (r = 0,564; p = 0,0001; n
= 43)(Figueiredo, 2009).
Pengobatan tinitus masih menjadi tantangan utama yang dihadapi oleh dokter THT. Dari banyak faktor yang bertanggung jawab salah satunya adalah sulitnya untuk mengukur keluhan tinitus dan metode penilaian yang digunakan. Meikle seperti yang dikutip Fiqueiredo, dalam sebuah artikel review mulai tahun 2008 telah mengklasifikasikan metode penilaian tinitus menjadi beberapa kategori yaitu tes psikoakustik, skala dan kuesioner. Tes psikoakustik yang lazim digunakan antara lain Loudness Match, Pitch Match dan Minimum Masking Level (MML). Kuesioner yang digunakan untuk menilai dampak tinitus terhadap sejumlah aspek kehidupan sehari-hari, antar lain THI, Tinnitus Handicap Questionnaire (THQ) dan lain-lain (Fiqueiredo, 2009, 2010, Fioretti, 2011).
PT. Pusat Listrk Negara/ PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagut berfungsi menyediakan tenaga listrik untuk daerah Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumut dan Riau yang memiliki aset mesin pembangkit antara lain Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) Paya Pasir yang memiliki 4 unit (Profil PLN, 2006). Salfi (2013) mendapatkan proporsi karyawan yang menderita GPAB di PLTG Paya Pasir Medan sebesar 29,5%.
Dari latar belakang diatas, dapat diketahui bahwa angka kejadian
GPAB dan tinitus masih cukup tinggi pada pekerja yang terpapar bising
dan dapat berdampak terhadap aktivitas sehari-hari dan sampai saat ini
belum ada data-data maupun penelitian mengenai proporsi keluhan tinitus
pada pekerja PLTG Paya Pasir Medan dan bagaimana korelasi pengukuran loudness matching dengan Tinnitus Handicap Inventory, pada karyawan yang mengalami tinitus.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan diatas, dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu bagaimana korelasi pengukuran loudness matching dengan THI pada karyawan yang mengalami tinitus di PLTG Paya Pasir Medan.
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui korelasi pengukuran loudness matching dengan THI pada karyawan yang mengalami tinitus di PLTG Paya Pasir Medan.
1.3.2 Tujuan khusus
1. Untuk mengetahui distribusi tinitus berdasarkan usia.
2. Untuk mengetahui distribusi tinitus berdasarkan jenis kelamin.
3. Mengetahui distribusi tinitus berdasarkan lokasi.
4. Mengetahui distribusi tinitus berdasarkan durasi.
5. Mengetahui distribusi tinitus berdasarkan pitch matching.
6. Mengetahui distribusi tinitus berdasarkan loudness matching.
7. Mengetahui distribusi derajat THI.
8. Mengetahui distribusi gambaran hasil pemeriksaan audiometri.
9. Mengetahui hubungan THI dengan gangguan pendengaran.
10. Mengetahui korelasi loudness matching dengan THI
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi peneliti
Untuk mengetahui proporsi keluhan tinitus pada karyawan yang terpapar bising dan bagaimana korelasi pengukuran loudness matching dengan THI pada karyawan yang mengalami tinitus di PLTG Paya Pasir Medan.
b. Bagi pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan data dan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pustaka guna pengembangan keilmuan dibidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher.
c. Bagi pekerja
Mengerti dan mengetahui akibat bising menyebabkan gangguan pendengaran dan keluhan tinitus yang berdampak terhadap kinerja dan kualitas hidup pekerja.
d. Bagi perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berarti
mengenai dampak bising terhadap kinerja karyawan yang bekerja di
PLTG Paya Pasir Medan, sehingga dapat direncanakan langkah-langkah
konservasi pendengaran.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Anatomi Telinga Dalam
Koklea merupakan struktur tulang yang berbentuk spiral menyerupai rumah siput dengan 2,5 sampai 2,75 kali putaran. Aksis dari spiral tersebut dikenal sebagai modiolus (Moller, 2006).
Bagian atas koklea adalah skala vestibuli berisi cairan perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh membran Reissner yang tipis.
Bagian bawah adalah skala timpani juga mengandung cairan perilimfe dan dipisahkan dari duktus koklearis oleh lamina spiralis oseus dan membran basilaris. Cairan perilimfe pada kedua skala berhubungan pada apeks koklea spiralis tepat setelah ujung buntu duktus koklearis melalui suatu celah yang dikenal sebagai helikotrema (Mills, 2006) (gambar 2.1).
Terletak di atas membran basilaris dari basis ke apeks adalah organ
Corti, yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf
perifer pendengaran. Organ Corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam
(3.000 sampai 3.500), tiga baris sel rambut luar (12.000) dan sel
penunjang. Permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat
pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat
gelatinosa, dikenal sebagai membran tektoria (Moller, 2006).
22
Sel-sel rambut menerima beberapa ujung neuron yang membentuk suatu anyaman disekitar basis. Dijumpai dua tipe ujung saraf, satu berfungsi sebagai eferen dan yang lain aferen. Satu neuron akan membagi diri dan berakhir pada sejumlah sel-sel rambut. Neuron-neuron berjalan melalui kanalikuli pada lamina spiralis oseus (Gacek, 2009;
Moller, 2006).
Gambar 2.1 Penampang melintang koklea dan organ Corti (Kurmis, 2007)
6Setiap bagian disepanjang koklea memiliki struktur dasar yang sama, namun didapati perbedaan karakter berdasarkan fungsinya yang berkembang mulai dari basal koklea sampai apeks. Yang pertama, bagian basal kira-kira sepuluh kali lebih lebar dibandingkan di apeks. Kedua, bagian basal memiliki massa lebih banyak dibandingkan di apeks dan berfungsi untuk meningkatkan ukuran dan jumlah sel penunjang di organ Corti. Terakhir, bagian dimana basal lebih kaku dibanding dengan apeks, lebih besar oleh karena sifat yang dimiliki membran basilaris (Mills, 2006).
2.2 Fisiologi Pendengaran
Getaran suara dihantarkan lewat liang telinga dan telinga tengah ke telinga dalam melalui footplate dari stapes, menimbulkan suatu gelombang yang berjalan di sepanjang cairan koklea yang akan menggerakkan membran basilaris dan organ Corti. Puncak gelombang yang berjalan di sepanjang membran basilaris yang panjangnya 35 mm tersebut, ditentukan oleh frekuensi gelombang suara. Hal ini berakibat melengkungnya stereosilia, dengan demikian menimbulkan depolarisasi sel rambut dan menciptakan potensial aksi pada serabut-serabut saraf pendengaran yang melekat padanya. Di sinilah gelombang suara mekanis diubah menjadi energi elektrokimia agar dapat ditransmisikan melalui saraf kranialis ke-8 (Moller, 2006; Gacek, 2009).
Serabut-serabut saraf koklearis berjalan menuju inti koklearis dorsalis
dan ventralis. Sebagian besar serabut inti melintasi garis tengah dan
berjalan naik menuju kolikulus inferior kontralateral, namun sebagian
serabut tetap berjalan ipsilateral. Penyilangan selanjutnya pada inti
lemnikus lateralis dan kolikulus inferior. Dari kolikulus inferior jaras
pendengaran berlanjut ke korpus genikulatum dan kemudian ke korteks
pendengaran pada lobus temporalis (Gacek, 2009).
2.3 Bising
Bising memiliki pengertian baik secara physical, physiological dan psychological yang masing-masing berbeda. Secara fisik bising merupakan bunyi kompleks yang memiliki periodisitas yang kecil atau tidak ada sama sekali yang dapat diukur atau dianalisa. Secara fisiologi dapat diartikan sebagai signal yang tidak memiliki informasi dan memiliki berbagai intensitas yang acak. Sedangkan secara psikologi bising merupakan bentuk suara atau bunyi apapun tanpa memandang jenis gelombangnya, dimana bunyi tersebut mengganggu atau tidak dikehendaki (Alberti, 1997; Atmaca, 2005; Seidman, 2010).
Bising sama seperti bunyi, memiliki durasi tertentu, spektrum frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz), intensitas diukur dalam Sound Presure Level (SPL) dengan satuan besaran yang dinyatakan dalam desibel (dB) (Alberti, 1997). Paparan bising yang terus menerus dengan intensitas diatas ambang batas 85 dB dapat menyebabkan gangguan pendengaran (Atmaca, 2005).
Berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi, bising dapat dibagi atas (Buchari,2007):
1. Bising kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif tetap dalam batas kurang lebih 5 dB untuk periode 0,5 detik berturut- turut.
2. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit. Bising ini relatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai frekuensi tertentu saja (pada frekuensi 500, 1.000, dan 4.000 Hz).
3. Bising intermitten. Bising disini tidak terjadi secara terus menerus, melainkan ada periode relatif tenang.
4. Bising impulsif. Bising jenis ini memiliki perubahan tekanan suara
melebihi 40 dB dalam waktu sangat cepat dan biasanya mengejutkan
pendengaran.
5. Bising impulsif berulang. Sama dengan bising impulsif, hanya saja disini terjadi secara berulang-ulang.
Gangguan pendengaran akibat bising adalah kurang pendengaran atau tuli akibat paparan bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya disebabkan bising di lingkungan kerja. Sifat ketulian adalah tuli sensorineural dan pada umumnnya terjadi pada kedua telinga (Basyiruddin, 2010).
Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51 tahun 1999 tentang nilai ambang batas faktor fisik dalam lingkungan kerja, termasuk didalamnya tentang kebisingan (KEPMEN, 1999) (tabel 2.1)
Tabel 2.1 Intensitas bunyi dan waktu paparan yang diperkenankan sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja :KEP-51/MEN/1999
Intensitas Waktu Paparan perhari
(dB) (jam)
85 8
87,5 6
90 4
92,5 3
95 2
100 1
105 ½
110 ¼
Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya gangguan pendengaran ketulian antara lain intensitas bising, frekuensi, lama paparan perhari, lama masa kerja, kepekaan individu, umur, dan faktor lain seperti rokok juga dapat menimbulkan ketulian (Basyiruddin, 2010;
Carmelo, 2010). Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti bahwa jumlah
paparan energi bising yang di terima dan faktor risiko yang mempengaruhi
akan sebanding dengan kerusakan yang didapat (Daniel, 2007).
2.4 Gejala Akibat Pajanan Bising
Dampak bising akan menyebabkan hilangnya pendengaran yang bisa disertai dengan tinitus. Beratnya gangguan pendengaran berhubungan dengan keparahan tinitus (Basyiruddin, 2007; Mazurek, 2010).
2.4.1 Gangguan pendengaran akibat bising
Mekanisme dasar terjadinya gangguan pendengaran akibat bising merupakan kombinasi dari faktor mekanik dan metabolik yakni adanya paparan bising kronis yang merusak sel rambut koklea dan perubahan metabolik yang menyebabkan hipoksia akibat vasokontriksi kapiler oleh karena bising (Ferrite, 2005; Mizuo,2011). Gangguan pendengaran akibat bising juga merupakan interaksi dari faktor lingkungan dan faktor genetik (Van Laer, 2006).
Paparan bising menyebabkan pembentukan 8-isoprostaglandin F
2α(8- iso-PGF
2α) didalam koklea yang merupakan marker terjadinya proses reaktif oxygen dan berpotensi menyebabkan vasokonstriksi sehingga menurunkan aliran darah ke koklea/ Cochlear Blood Flow (CBF) (Miller, 2003; Seidman, 2010).
Penilaian tuli akibat bising secara histopatologi menunjukkan adanya
kerusakan pada organ Corti dikoklea terutama sel-sel rambut. Kerusakan
yang terjadi pada struktur organ tertentu bergantung pada intensitas dan
lama paparan. Daerah yang pertama terkena adalah sel-sel rambut luar
seperti stereosilia pada sel-sel rambut luar menjadi kaku. Dengan
bertambahnya intensitas dan durasi paparan akan di jumpai lebih banyak
kerusakan seperti hilangnya stereosilia, kerusakan pada stria vaskular,
kolaps sel-sel penunjang, hilangnya jaringan fibrosit dan kerusakan
serabut saraf (Daniel, 2007; Kujawa, 2009).
Biasanya gangguan pendengaran akibat bising ini diketahui dengan adanya penurunan kemampuan berkomunikasi (seringnya dikenali oleh anggota keluarga atau orang-orang terdekatnya) pada fasilitas dokter keluarga atau dokter umum dan diikuti dengan pemeriksaan audiologi.
Secara klinis, individu yang terkena menunjukkan penurunan pendengaran suara pada frekuensi tinggi, khasnya ditandai ada takik frekuensi 4.000 Hz sampai 6.000 Hz pada pemeriksaan audiometri (gambar 2.2) (Kurmis, 2007).
Gambar 2.2 Gambaran audiogram dengan ‘speech banana’ mendekati gambaran khas gangguan pendengaran akibat bising takik pada 4.000 Hz (Kurmis, 2007)
Adanya korelasi antara rentang frekuensi yang terlibat dan nada spesifik (frekuensi tinggi) dari spektrum bicara (gambar 2.2), mengakibatkan individu yang mengalami gangguan sering menunjukkan penurunan kemampuan untuk memahami dan membedakan percakapan, masalah yang dapat muncul dikemudian hari di perparah dengan sulitnya memahami percakapan di tempat keramaian (seperti lingkungan kerja).
(Kurmis, 2007).
Derajat gangguan pendengaran/ ketulian menurut ISO (Basyiruddin, 2007;
Buchari, 2007):
1. Normal : ambang pendengaran batas antara 0 – 25 dB 2. Tuli ringan : peningkatan ambang batas antara 26 – 40 dB 3. Tuli sedang : peningkatan ambang batas antara 41 – 55 dB 4. Tuli sedang berat: peningkatan ambang batas antara 56 – 70 dB 5. Tuli berat : peningkatan ambang batas antara 71 – 90 dB 6. Tuli sangat berat : peningkatan ambang batas antara > 90 dB 2.4.2 Tinitus
Tinitus berasal dari bahas Latin ‘tinnire’ yang berarti bunyi. Tinitus di definisikan sebagai suatu persepsi bunyi tanpa adanya rangsangan suara dari luar. Diperkirakan sebanyak 10%-15% dari seluruh populasi pernah mengalami tinitus dalam hidupnya (Shargorodsky, 2010; Fioretti, 2011;
Holmes, 2011). Tinitus dikatakan sebagai suatu keadaan patologis bila dialami lebih dari 5 menit dan terjadi lebih dari satu kali tiap minggunya (Henry, 2005). Data National Health Interwiew Survey (NHIS) menunjukkan sekitar 35-50 juta orang dewasa di Amerika Serikat mengalami tinitus, 12 juta orang mencari pertolongan dokter dan 2-3 juta melaporkan keluhan yang sangat berat (Holmes, 2011).
Berdasarkan The International Classification of Functioning, Disability
and Health dari WHO, kondisi kesehatan seseorang dapat berdampak
terhadap kehidupannya. Dalam hal ini keluhan tinitus menyebabkan
terganggu fungsi organ tubuh. Tinitus menyebabkan kesulitan
berkonsentrasi dan berdampak terhadap prestasi kerja. Faktor lain yang
berkontribusi yaitu menjadi pencetus ansietas (faktor personal) dan
kurangnya dukungan dari keluarga (faktor lingkungan) (gambar 2.3)
(Henry, 2005).
Gambar 2.3 Dampak tinitus terhadap kondisi kesehatan (Henry, 2005) Tinitus dapat diklasifikasikan menjadi tinitus vibratori dan nonvibratori.
Dan dapat dibedakan menjadi tinitus subjektif dan objektif. Tinitus vibratori disebabkan adanya transmisi ke koklea yang berasal dari vibrasi jaringan atau organ sekitar, sedangkan tinitus nonvibratori di hasilkan oleh perubahan biokimia pada saraf yang bertanggung jawab pada proses pendengaran (Heller, 2003; Crummer, 2004).
Kondisi Kesehatan (Kelainan atau penyakit)
Tinitus
Limitasi Aktivitas Kesulitan Berkonsentrasi Gangguan Fungsi
Tubuh Persepsi
‘Suara Kuat’
Pembatasan/Restriksi Partisipasi Masalah dengan
Pekerjaan
Faktor Lingkungan Kurangnya Dukungan
Keluarga
Masalah yang berkaitan dengan
Tinitus
Faktor Personal Predisposisi terhadap
Ansietas
Tinitus juga dibedakan menjadi tinitus objektif, yang diperkirakan berkisar kurang dari 1% dari seluruh kasus tinitus, dimana suara tersebut dapat didengar oleh pasien dan pemeriksa atau dengan auskultasi disekitar telinga. Kelainan tinitus objektif berasal dari transmisi vibrasi sistem muskular atau kardiovaskular di sekitar telinga. Tinitus subjektif yang merupakan tinitus yang paling sering terjadi, kadang-kadang dianggap sebagai ‘phantom sensation’ berupa suara yang hanya dapat didengar oleh pasien sendiri. Tinitus subjektif, disebabkan oleh proses iritatif atau perubahan degeneratif traktus auditorius mulai dari sel-sel rambut getar koklea sampai pusat saraf pendengaran (Fioretti, 2011;
Holmes, 2011). Tinitus juga dibedakan menjadi akut yang berlangsung dalam hitungan hari atau minggu dan tinitus kronis yang berlangsung lebih dari 6 bulan (Holmes, 2011).
Walaupun banyak teori yang telah digunakan untuk menjelaskan bagaimana terjadinya tinitus, namun patofisiologinya masih sulit dipahami dan tidak mungkin hanya satu proses patologis yang dapat menyebabkan terjadinya tinitus. Dapat dikatakan banyak kasus tinitus berhubungan dengan bertambahnya usia, gangguan pendengaran, paparan bising dan hampir setiap kelainan yang melibatkan telinga luar atau telinga tengah atau telinga dalam atau nervus auditorius dapat menyebabkan keluhan tinitus (Holmes, 2011).
Teori tinitus menurut Jastreboff menyatakan jika terjadi kerusakan
koklea yang disebabkan oleh paparan bising yang kuat, ototoksik ataupun
infeksi virus maka sel rambut luar terlebih dahulu rusak dan kemudian
diikuti oleh kerusakan sel rambut dalam. Sel rambut dalam berfungsi
sebagai transduksi suara sedangakan sel rambut luar berfungsi sebagai
amplifikator suara didalam koklea. Kerusakan koklea oleh karena paparan
bising yang sangat kuat merubah neuron yang aktif secara spontan di
dalam Dorsal Cochlear Nucleus (DCN). DCN sebagai acoustic neuron dan
merupakan tempat integrasi akustik dan input sensori, yang dapat menjadi
pusat penting di otak terhadap pembentukan dan modulasi tinitus (Lookwood, 2002; Fioretti, 2011).
Karena tinitus merupakan keluhan subjektif dan tidak ada pemeriksaan objektif yang dapat digunakan untuk menguji kebenaran akan keberadaan keluhan tinitus tersebut, diagnosis sebahagian besar berdasarkan kepada keluhan pasien yang dilaporkan. Melalui investigasi yang menyeluruh oleh seorang otologis dapat direkomendasikan untuk menyingkirkan adanya kelainan neurologis yang berpotensi mengancam jiwa dan untuk membantu terhadap strategi penatalaksanaan secara langsung (Holmes, 2011)
2.5 Diagnosis Gangguan Pendengaran dan Tinitus Akibat Bising
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang untuk pendengaran seperti audiometri.
Anamnesis pernah atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama, pada pemeriksaan otoskopi tidak dijumpai adanya kelainan. Pada pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil rinne tes positif, weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan tes schwabah memendek. Kesan jenis ketulianya tuli sensorineural. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi antara 3.000-6.000 Hz. Dan pada frekuensi 4.000 Hz sering terdapat takik (Basyiruddin, 2007; Nandi, 2008; Azizi, 2010).
Tidak ada kesepakatan mengenai metode yang objektif untuk
mendeteksi dan mengukur tinitus. Namun demikian, wawancara dan
karakterisasi psikoakustik merupakan pendekatan yang sesuai di praktek
klinis sehari-hari. Beberapa metode yang digunakan untuk mengevaluasi
tinnitus antara lain dengan wawancara dan psikoakustik (Jastreboff,
2009).
2.6 Penatalaksanaan dan Pencegahan
Sesuai dengan penyebab ketulian dan tinitus, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga terhadap bising seperti sumbat telinga/ earplug, tutup telinga/ earmuff dan pelindung kepala/ helmet (Cook, 2006; Basyiruddin, 2007; Ross, 2007).
Program pencegahan gangguan pendengaran/ Hearing Loss Prevention Program (HLPP) merupakan suatu program yang diterapkan di lingkungan tempat kerja untuk mencegah terjadinya gangguan pendengaran akibat paparan kebisingan pada pekerja. Program tersebut terdiri dari 7 komponen yaitu (Basyirudin 2010):
• Identifikasi dan analisi sumber kebisingan
• Kontrol kebisingan dan kontrol administrasi
• Tes audiometri berkala
• APD (Alat Pelindung Diri)
• Motivasi dan edukasi pekerja
• Pencatatan dan pelaporan data
• Evaluasi program
Pemahaman yang tidak sempurna terhadap sumber dari kebanyakan kasus tinitus menyulitkan penegakan diagnosis dan pengobatan, tetapi beberapa jenis tinitus dapat diobati dengan hasil yang memuaskan.
Karena banyaknya penyebab dari tinitus maka banyak pula pilihan terapi dari keluhan tersebut. Pengobatan harus disesuaikan dengan masing- masing individu. Pengobatan tinitus dibedakan menjadi dua kategori yaitu(Noell, 2003):
1. Pengobatan yang bertujuan untuk mengurangi intensitas atau
kekuatan suara tinitus.
2. Pengobatan yang bertujuan untuk meringankan atau menghilangkan gangguan yang berkaitan dengan tinitus.
2.6.1 Pengobatan medikamentosa
Banyak obat-obat yang dapat dipergunakan sebagai pengobatan medikamentosa untuk kasus tinitus, walaupun kadang-kadang masih dipertanyakan dan memiliki efikasi yang sangat bervariasi. Tidak ada satupun obat yang dapat menyembuhkan tinitus, tetapi dapat mengurangi tingkat keparahan pada beberapa pasien (Noell, 2003).
Hampir semua obat-obat tinitus ditujukan untuk meningkatkan aliran darah ke koklea atau meringankan kecemasan pasien (Noell, 2003).
Suatu review uji klinis secara random yang sangat besar menemukan bahwa hanya mortriptylin, amitriptylin, alprazolam, clonazepam, dan oxazepam yang lebih memberikan keuntungan dibandingkan plasebo (Han, 2009).
2.6.2 Pengobatan non medikamentosa - Terapi kognitif dan prilaku
Terapi kognitif memfokuskan pada bagaimana seseorang berfikir mengenai tinitus dan menghindari pemikiran negatif, dimana terapi prilaku menggunakan pendekatan desensitisasi sistemik yang dipakai pada banyak penyakit ketakutan atau fobia (Han, 2009).
- Terapi suara
Terapi suara menggunakan suara-suara yang ditemukan secara alami, seperti suara aliran air sungai, hujan, air terjun dan angin untuk mengurangi kuatnya saura tinitus yang berhubungan dengan aktifitas neuron didalam sistem auditori (Tyler 2008; Han, 2009).
- Alat bantu dengar
Alat bantu dengar merupakan bentuk lain dari terapi suara yang biasanya
berguna pada pasien-pasien tinitus dengan gangguan pendengaran yang
signifikan. Alat bantu dengar didesain untuk memperbaiki kemampuan
dengar dalam percakapan dan untuk memperbesar suara lingkungan sekitar (Tyler 2008; Han, 2009).
- Masking
Dengan menggunakan satu nada atau jenis suara bising, seperti white noise, untuk menutupi suara tinitus, telah menjadi metode pengobatan utama terhadap pasien-pasien dengan tinitus yang berat (Noell, 2003).
- Biofeedback
Biofeedback telah digunakan untuk mengatur reaksi psikologi terhadap tinitus. Pengobatan ini mengajarkan pasien dapat mengkontrol keadaan relaksasi untuk mengurangi stres akibat suara tinitus. Biofeedback tidak secara langsung mengobati keluhan tinitus. Namun demikian, keberhasilan penggunaan modalits ini bukan untuk mengurangi kuatnya suara tinitus namun untuk mengurangi stres pasien (Noell,2003).
- Tinitus retraining therapy
Penatalaksanaan tinitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan fenomena psikoakustik murni, sehingga tidak dapat diukur.
Penatalaksanaan terkini yang dapat dikemukakan oleh Jastreboff, berdasarkan pada model neurofisiologisnya adalah kombinasi konseling terpimpin, terapi akustik, dan medikamentosa bila diperlukan. Metode ini disebut sebagai Tinnitus Retraining Therapy (TRT). Tujuan dari Tinnitus Retraining Therapy (TRT) adalah memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi tinitus dan atau suara lingkungan yang mengganggu.
Habituasi diperoleh sebagai hasil modifikasi hubungan sistem auditorik ke sistem limbik dan sistem saraf otonom. TRT walau tidak dapat menghilangkan tinitus dengan sempurna, tetapi dapat memberikan perbaikan yang bermakna berupa penurunan toleransi terhadap suara.
(Basyiruddin, 2007; Aazh, 2008)
Pemahaman model neurofisiologis oleh Jastreboff meliputi berbagai
elemen yang berkaitan dengan tinitus, asalnya, proses signal, dan proses
awal terbentuk sebagai persepsi suara, dan bangkitan suatu respon
kondisi yang tidak menyenangkan dapat dijelaskan kepada pasien dengan menggunakan grafik model neurofisiologis Jastreboff (gambar 2.4)
Komponen pokok dari model neurufisiologis Jastreboff terdiri dari:
a) Sumber tinitus; proses pembentukan signal merupakan sumber bunyi yang dilatarbelakangi oleh aktivitas listrik sel-sel saraf pendengaran.
b) Persepsi dan evaluasi merupakan persepsi yang muncul karena proses penerimaan sumber bunyi di area korteks pendengaran.
c) Pembentukan respon dari kondisi yang tidak menyenangkan merupakan reaksi yang muncul karena proses penerimaan persepsi di sistem limbik yang berkaitan dengan rasa tidak nyaman, begitu juga di sistem saraf otonom.
d) Lingkaran setan yang dihasilkan baik dalam jalur sadar maupun tidak sadar antara persepsi dan reaksi terhadap persepsi baik sistem limbik maupun sistem saraf otonom saling menguatkan satu dengan yang lain.
e) Pemahaman mengenai perbedaan antara keluhan yang hilang timbul atau menetap menunjukkan perbedaan antara persepsi dan reaksi yang menetap maupun sementara (Jastreboff, 2009; Hazel, 1999).
Reaksi Auditory dan area kortikal lainnya
Persepsi dan evaluasi (kesadaran , memori, atensi)
Auditori bawah sadar
Deteksi/
proses
Sistem limbik Emosi
Sistem saraf autonomik Auditori perifer
Sumber suara
Gambar 2.4 Model neurofisiologis tinitus (Jastreboff, 2009) .
2.7 Audiometri Nada Murni
Audiometri nada murni merupakan suatu pemeriksaan sensitivitas/
ketajaman pendengaran seseorang dengan menggunakan stimulus nada murni (bunyi yang hanya mempunyai satu frekuensi). Secara umum ada 3 metode yang digunakan yaitu (a) manual audiometry/ conventional audiometry; (b) automatic audiometry/ Bekesy audiometry; dan (c)computerized audiometry (ASHA, 2005; Margolis, 2008).
Prinsip dari suatu audiometer memberikan signal bunyi pada intensitas yang bervariasi dengan frekuensi yang berbeda (250Hz, 500Hz, 1.000Hz, 2.000Hz, 4.000Hz, dan 8.000Hz) ke dalam headphones yang digunakan untuk pemeriksaan pendengaran (HSA,2007). Hal yang harus diperhatikan antara lain kalibrasi peralatan, dan digunakan pada ruangan yang sesuai sehingga didapat hasil tes yang akurat (ASHA, 2005).
2.7.1 Penentuan ambang dengar Persiapan
Karyawan perlu diberitahu akan rencana pemeriksaan audiometri, sehingga mereka dapat memiliki waktu istirahat untuk menghindari lingkungan bising (kelab malam, konser musik dan lain-lain) minimal 16 jam sebelum pemeriksaan. Namun pada kenyataannya hal ini akan sulit.
Sebelum melakukan tes audiometri secara umum dilakukan wawancara ada tidaknya riwayat kelainan pada telinga, kemudian pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan dimulai pada telinga yang lebih baik pendengarannya (HSA,2007).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terhadap penilaian
ambang dengar manual antara lain (a) instruksi kepada karyawan, (b)
respon terhadap arahan, dan (c) interpretasi audiologis terhadap sikap respon karyawan selama pemeriksaan.
2.7.2 Prosedur pemeriksaan ambang pendengaran Prosedur dasar untuk menentukan ambang terdiri dari:
(a) familiarisasi (membiasakan diri) terhadap signal pemeriksaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan audiologis bahwa pasien mengerti dan dapat merespon arahan yang diberikan dengan cara memberikan signal dengan intensitas yang cukup menimbulkan respon yang jelas (ASHA, 2005).
(b) Penentuan ambang dengar
Prosedur standar yang direkomendasikan pada pemeriksaan dengan menggunakan audiometri nada murni secara bertahap adalah yang dimulai dengan signal yang tidak dapat didengar. Stimulus nada murni diberikan selama 1–2 detik. Ambang dengar didapat dengan menentukan bunyi nada murni yang terlemah pada frekuenasi tertentu yang masih dapat didengar oleh telinga pasien (ASHA, 2005).
2.7.3 Karakteristik audiometri pada tuli akibat bising
Pada pemeriksaan audiometri, tuli akibat bising memberikan gambaran yang khas yaitu notch (takik) berbentuk ‘V’ atau ‘U’ sering diawali pada frekuensi 4.000 Hz, tapi kadang-kadang 6.000 Hz, yang kemudian secara bertahap semakin dalam dan selanjutnya akan menyebar ke frekueansi didekatnya (gambar 2.5). Khasnya didapati perbaikan pada 8.000 Hz, hal ini yang membedakannya dari prebiskusis (HSA,2007).
2.7.4 Pengukuran psikoakustik
Dua pengukuran psikoakustik yang digunakan adalah pitch dan loudness
matching. Pitch matching mencoba menilai kuantitas tinitus berdasarkan
frekuensinya. Dua nada di berikan kepada karyawan dan karyawan
tersebut ditanyakan nada mana yang sangat cocok mendekati suara
tinitus yang didengarnya. Dan hal ini di lanjutkan sampai didapatkan nada
yang cocok. Pengukuran loudness matching merupakan psikoakustik yang sama dengan menilai intensitas suara. Pengukuran ini mencoba untuk menilai kuantitas tinitus dalam decibel. Prosedur loudness matching dimulai dengan memberikan stimulus bunyi pada intensitas dibawah ambang dengar karyawan dan kemudian di naikkan sampai karyawan mendengarkan intensitas yang sama dengan suara tinitus yang didengarnya. Frekuensi yang digunakan adalah frekuensi yang sesuai dengan karyawan (Ooms, 2012).
Gambar 2.5 Audiogram tuli akibat bising (vinodh, 2010)
2.8 Tinnitus Handicap Inventory (THI)
Telah terjadi peningkatan minat diantara penyedia layanan kesehatan dalam mengukur dampak yang tidak di inginkan dari suatu penyakit.
Sejumlah survey, seperti dengan menggunakan Quality of life questionnaires telah dikembangkan untuk menilai dampak penyakit terhadap status pasien secara umum. Namun demikian, penyakit yang berbeda-beda juga dikaitkan dengan keluhan secara fisiologi dan psikologi yang spesifik dan dibutuhkan pengukuran yang spesifik pula. Beberapa usaha telah dibuat untuk mengukur dampak tinitus terhadap kualitas hidup seperti Tinnitus Reaction Questionnaires, Hallam’s Tinnitus Questionnaire, dan Tinnitus Handicap Questionnaire (Zachariae, 2000; Fioretti, 2011).
Menilai tinitus merupakan suatu tugas yang menantang. Tinitus terutama adalah kelainan subjektif. Survey tinitus dengan kuesioner merupakan salah satu alat bantu yang banyak digunakan untuk menilai bagaimana pengalaman pasien mengenai tinitus (Meng, 2008).
Pada tahun 1996, Newman dkk mempublikasikan sebuah tulisan mengenai pengembangan THI, melalui observasi dan studi metode kuesioner yang lain. THI secara luas banyak digunakan praktek medis dan telah mendapat pengakuan sebagai kuesioner yang dapat menilai dampak tinitus terhadap kehidupan sehari-hari. THI cukup singkat dan sesuai digunakan pada praktek yang ramai, mudah diaplikasikan dan interpretasi, tervaliditas dan reabilitas, mencakup seluruh aspek kualitas hidup pasien (Figueiredo, 2009; Meng, 2012).
Ada tiga butir utama yang di nilai pada THI, yaitu: reaksi fungsional terhadap tinitus seperti kesulitan berkonsentrasi dan kecenderungan anti sosial, reaksi emosional seperti marah, frustasi, iritabilitas dan depresi serta reaksi katastropik / membahayakan seperti putus asa, perasaan tidak ada harapan, ketakutan akan penyakit yang membahayakan, kehilangan kontrol dan tidak mampu untuk bekerja sama (Heller, 2003;
Figuiredo, 2009; Holdefer, 2010).
KUESIONER TINNITUS HANDICAP INVENTORY (THI) (Heller, 2003)
1 Apakah karena keluhan telinga berdengung, anda sulitberkonsentrasi
Ya Tidak Kadang2 2 Apakah kuatnya suara telinga berdengung membuat anda
kesulitan untuk mendengar orang lain?
Ya Tidak Kadang2 3 Apakah keluhan telinga berdengung membuat anda kesal? Ya Tidak Kadang2 4 Apakah keluhan telinga berdengung membuat anda bingung? Ya Tidak Kadang2 5 Apakah telinga berdengung membuat anda putus asa? Ya Tidak Kadang2 6 Apakah anda sangat mengeluhkan mengenai keluhan telinga
berdengung ini?
Ya Tidak Kadang2 7 Karena keluhan telinga berdengung, apakah anda kesulitan
tidur dimalam hari?
Ya Tidak Kadang2 8 Apakah anda merasa tidak dapat menghilangkan keluhan
telinga berdengung anda?
Ya Tidak Kadang2 9 Apakah keluhan telinga berdengung, anda terganggu dengan
aktivitas sosial anda? (seperti makan malam, menonton ke bioskop)
Ya Tidak Kadang2
10 Karena telinga berdengung, apakah anda merasa frustasi? Ya Tidak Kadang2 11 Karena telinga berdengung, apakah anda merasa menderita
penyakit yang berbahaya?
Ya Tidak Kadang2 12 Apakah karena telinga berdengung, anda kesulitan menikmati
kehidupan anda?
Ya Tidak Kadang2 13 Apakah telinga berdengung mengganggu pekerjaan anda? Ya Tidak Kadang2 14 Karena telinga berdengung, apakah anda merasa bahwa anda
cepat tersinggung?
Ya Tidak Kadang2
15 Karena telinga berdengung, anda merasa anda kesulitan membaca?
Ya Tidak Kadang2 16 Apakah telinga berdengung membuat anda terganggu? Ya Tidak Kadang2 17 Apakah telinga berdengung ini telah menempatkan stress
pada hubungan anda dengan anggota keluarga dan teman?
Ya Tidak Kadang2 18 Apakah anda kesulitan untuk menghilangkan perhatian
terhadap telinga berdengung dibandingkan hal yang lain?
Ya Tidak Kadang2 19 Apakahanda kesulitan mengkontrol telinga berdengung anda? Ya Tidak Kadang2 20 Karena telinga berdengung anda sering merasa lelah? Ya Tidak Kadang2 21 Karena telinga berdengung anda merasa depresi? Ya Tidak Kadang2 22 Karena telinga berdengung anda merasa cemas? Ya Tidak Kadang2 23 Apakah karena telinga berdengung anda merasa tidak dapat
mengatasi keluhan tersebut?
Ya Tidak Kadang2 24 Apakah keluhan telinga berdengung bertambah berat pada
saat anda dibawah tekanan/ stres?
Ya Tidak Kadang2 25 Karena telinga berdengung anda merasa tidak aman? Ya Tidak Kadang2
Tinnitus Handicap Inventory (THI) score
1. Untuk memberi nilai kuesioner, hitung jumlah jawaban “Ya” dan “kadang- kadang” dan kemudian dihitung total poin yang didapat.
# jawaban “Ya”
___________
X 4 =
#jawaban “Kadang2”
___________
X 2 =
Total Points = THI SCORE
2. Untuk menilai keparahan dari keluhan telinga berdengung, rata-rata nilai THI menurut skala ini:
0-16 Sangat ringan atau tidak ada kecacatan (derajat 1) Hanya didengar di lingkungan sepi
18-36 Ringan (derajat 2)
Mudah di tutupi oleh suara dilingkungan dan mudah untuk diabaikan dengan adanya aktivitas
38-56 Sedang (derajat 3)
Masih terdengar di tempat kebisingan, walaupun masih dapat melakukan aktifitas sehari-hari.
58-76 Berat (derajat 4)
Hampir selalu terdengar, mulai mengganggu pola tidur dan dapat mengganggu aktifitas sehari-hari.
78-100 Sangat berat (derajat 5)
Selalu terdengar,mengganggu pola tidur dan menyebabkan kesulitan dalam beraktifitas.
2.9. Kerangka Teori
Kerusakan sel rambut koklea
Bising
Efek Auditori Efek Non Auditori
Fisiologi Psikologi
Mekanisme:
Mekanik Metabolik
Vaskuler Faktor risiko:
Intensitas Frekuensi Lama pajanan perhari
Lama masa kerja Kepekaan individu
Umur
2.10 Kerangka Konsep
= Variabel penelitian
Peningkatan:
Tekanan darah Denyut nadi Metabolism basal
Peristaltik usus Ketegangan otot
Gangguan:
Sulit tidur Emosional Komunikasi Konsentrasi
• Gangguan Pendengaran Akibat Bising (GPAB)
• Tinitus
Tinnitus Handicap Inventory (THI) Tinitus
Loudness matching Pitch matching Umur
Jenis Kelamin
Bising
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini adalah bersifat deskriptif dengan pendekatan studi potong lintang /cross sectional study.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) Paya Pasir Medan. Penelitian dilakukan mulai dari bulan Maret 2013 sampai Oktober 2013.
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja di Pusat Listrik Tenaga Gas (PLTG) Paya Pasir Medan yang berjumlah 90 orang.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah anggota seluruh populasi penelitian yang mengalami keluhan tinitus.
• Kriteria inklusi
1. Semua karyawan yang bekerja di PLTG Paya Pasir Medan.
2. Masa kerja ≥ 1 tahun.
3. Pada pemeriksaan THT rutin tidak dijumpai kelainan fisik yang mempengaruhi fungsi pendengaran.
4. Bersedia diikutsertakan dalam penelitian.
• Kriteria eksklusi
1. Riwayat sakit telinga yang mempengaruhi sistem fungsi pendengaran.
2. Riwayat trauma kepala, trauma akustik yang mempengaruhi fungsi pendengaran.
3. Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran yang dibawa sejak lahir.
4. Riwayat / menderita penyakit sistemik seperti: Diabetes Melitus, Malaria dan lain-lain, yang dapat menyebabkan tuli sensorineural.
5. Riwayat / mendapat obat ototoksik.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari variabel independen yaitu tinitus dan variabel dependen yaitu karakteristik (usia, jenis kelamin), lokasi tinitus, durasi tinitus, loudness matching, pitch matching dan THI.
3.5 Definisi Operasional
29