• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

BAKTERI DAN CACING PARASITIK PADA HATI DAN

SALURAN PENCERNAAN IKAN BELUT (Monopterus albus)

ISMI WAHYUNIATI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus) adalah karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Januari2014

(3)

ABSTRAK

ISMI WAHYUNIATI. Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran

Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus). Dibimbing oleh USAMAH AFIFF dan RISA TIURIA.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bakteri dan cacing parasitik pada hati dan saluran pencernaan ikan belut. Bakteri di isolasi yang sudah diidentifikasi dengan menggunakan pewarnaan Gram., Triple Sugar Iron Agar, agar sitrat, indol dan fermentasi gula. Cacing Parasitik diwarnai dengan KOH dan minyak cengkeh untuk pewarnaan semi permanen dan Semichon’s Acetocarmine untuk pewarnaan permanen. Bakteri yang telah diidentifikasi menunjukkan bahwa Pseudomonas maltophilia, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp, dan Vibrio cholerae ditemukan pada hati, dan Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp., Chromobacterium sp., Enterobacter aerogenes and Vibrio cholerae berasal dari saluran pencernaan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat dua jenis cacing parasitik pada saluran pencernaan, yaitu Procamallanus sp., and Acanthocephala sp..

Kata Kunci : Monopterus albus, bakteri, cacing parasitik, hati saluran pencernaan

ABSTRACT

ISMI WAHYUNIATI. Bacteria and Parasitic Worm on The Liver and Digestive

Tract of Eel Fish (Monopterus albus). Under direction of USAMAH AFIFF dan

RISA TIURIA.

This study aims to identified the bacterial and parasitic worms in the liver and gastrointestinal tract of eels. The identification of isolated bacteria was done by using Gram staining, triple sugar iron agar, citrate, indole and fermentation of sugar. Parasitic worms stained with KOH clove oil for semi-permanent coloring and Semichon's Acetocarmine for permanent staining. Pseudomonas maltophilia, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp, and Vibrio cholerae was found in the liver, and Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp., Chromobacterium sp., Enterobacter aerogenes and Vibrio cholerae from the gastrointestinal tract. The results showed that there are two types of parasitic worms in the digestive tract, ie Procamallanus sp., And Acanthocephala sp ..

(4)

BAKTERI DAN CACING PARASITIK PADA HATI DAN

SALURAN PENCERNAAN IKAN BELUT (Monopterus albus)

ISMI WAHYUNIATI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada

Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(5)
(6)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Tugas akhir :Bakteri dan Cacing Parasitik pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus)

Bentuk Tugas Akhir : Penelitian

Nama Mahasiswa : Ismi Wahyuniati NIM : B04080066

Disetujui,

Pembimbing I

NIP. 19600624 198703 1 001 drh. Usamah Afiff, M.Sc.

Pembimbing II

NIP. 19630430 198703 2 001 drh. Risa Tiuria, MS, Ph.D

Diketahui, Wakil Dekan

Fakultas Kedokteran Hewan-IPB

NIP. 19630810 198803 1 004 drh. Agus Setiyono, MS, PhD, APVet

(7)
(8)

PRAKATA

Puji dan syukur Penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Bakteri dan Cacing Parasitik pada Insang dan Saluran Pencernaan Ikan Belut (Monopterus albus). Penulis juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung khususnya kepada :

1. Bapak drh. Usamah Afiff, M.Sc. selaku dosen pembimbing I, yang telah memberikan waktu, tenaga dan arahan selama penelitian dan penulisan skripsi ini.

2. Ibu Dr. drh. Risa Tiuria, MS. selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan waktu, tenaga dan arahan selama penelitian dan penulisan skripsi ini.

3. Bapak Dr. drh. Setyo Widodo, selaku dosen Pembimbing Akademik.

4. Ayahanda Duduh Abdullah, Ibunda Tien Supartini, Kakak Muhammad Ihsan Abdullah, Siti Imaniyati, dan Iqbal Tawakkal, serta seluruh keluarga tercinta atas do’a, dorongan, bantuan material dan spiritual serta kasih sayang yang selalu diberikan.

5. Teman satu penelitian Nurhayati, Hafiz dan Anith atas bantuan dan kerjasamanya.

6. Teman-teman kosan Harmony 2 Dwi, Winny, Karin, Mira, Riska, Chika,Inti atas dukungannya.

7. Teman-teman sewaktu di Kosan Puri Madani, Badoneng, Kakak Lolita, Ines, Gracia, Kakak Tya dan Mba Qori atas dukungan dan do’a yang telah diberikan.

8. Bapak Eman dan Bapak Almarhum Rafiq yang telah membantu selama penelitian.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, saran dan kritik yang bersifat membangun sangat Penulis harapkan.

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi

DAFTAR GAMBAR vii

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan 1

Manfaat 1

TINJAUAN PUSTAKA 2

Morfologi Ikan Belut 2

Habitat Ikan Belut 3

Bakteri Pada Ikan 4

Cacing Parasitik pada Ikan 5

BAHAN DAN METODA PENELITIAN 8

Waktu dan Tempat Penelitian 8

Bahan dan Alat Penelitian 8

Metode Penelitian 8

HASIL DAN PEMBAHASAN 12

Bakteri Pada Insang dan Saluran Pencernaan Ikan Belut 12

Cacing Parasitik Pada Insang dan Saluran Pencernaan Ikan Belut

Interaksi Antara Infeksi Bakteri dengan Infestasi Cacing

17

19

KESIMPULAN DAN SARAN 20

DAFTAR PUSTAKA

RIWAYAT HIDUP

20

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Bakteri yang dapat ditemukan pada saluran pencernaan Ikan Belut Tabel 2 Hasil Identifikasi Cacing Parasitik dan Bakteri pada Ikan Belut ...

3 12

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Ikan Belut (Monopterus albus) ... 2

Gambar 2 Tempat Tinggal Ikan Belut Sawah ... 3

Gambar 3 Bakteri Vibrio parahaemolyticus ... 4

Gambar 4 Anatomi dan Morfologi Digenea ... 6

Gambar 5 Siklus Hidup Nematoda pada Ikan ... 7

Gambar 6 Diagram Alir Identifikasi Bakteri ... 10

Gambar 7 Struktur Anatomi Ikan Belut ... 11

Gambar 8 Pewarnaan Gram Pseudomonas maltophilia. ... 13

Gambar 9 Pewarnaan Gram Pseudomonas aeruginosa . ... 13

Gambar 10 Pewarnaan Gram Proteus mirabilis ... 14

Gambar 11 Pewarnaan Gram Salmonella sp. ... 15

Gambar 12 Pewarnaan Gram Chromobacterium sp. ... 15

Gambar 13 Pewarnaan Gram Enterobacter aerogenes ... 16

Gambar 14 Pewarnaan Gram Vibrio cholerae ... 16

Gambar 15 Cacing Procamallanus sp. ... 17

Gambar 16 Cacing Acanthocephala sp. ... 18

(11)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, jumlah penduduk dan mutu kehidupan, maka permintaan terhadap makanan bergizi yang mengandung protein tinggi seperti ikan semakin meningkat. Salah satu jenis ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat adalah ikan belut. Ikan belut (Monopterus

albus) merupakan salah jenis ikan yang mudah ditemukan terutama di kawasan

persawahan, mudah untuk dibudidayakan dan harganya juga relatif lebih murah. Ikan yang dikonsumsi baik ikan segar maupun dalam bentuk olahan harus memiliki kualitas yang baik dan sehat.

Penyakit pada ikan ada yang bersifat infeksius dan non infeksius. Penyakit infeksius adalah penyakit akibat infestasi parasit, serta infeksi virus, jamur dan bakteri. Penyakit akibat infeksi bakteri telah banyak dilaporkan pada ikan yang dibudidayakan di tempat yang menggunakan sumber air yang kaya akan bahan organik (Yulianti 2010). Penyakit infeksi bakteri dan infestasi kecacingan adalah salah satu penyakit yang paling umum dijumpai pada ikan, baik ikan laut ataupun ikan air tawar.

Kecacingan pada ikan sangat penting ditinjau dari segi kesehatan ikan, perlindungan terhadap sumberdaya alam dan kesehatan manusia. Kecacingan mengakibatkan menurunnya jumlah telur yang dihasilkan, meningkatkan kerentanan ikan terhadap patogen lain, (seperti virus dan bakteri), dan pertumbuhan pun menjadi terlambat. Masalah utama yang berkaitan dengan infeksi bakteri dan kecacingan endoparasit pada ikan belut di Indonesia adalah tidak tersedianya informasi yang cukup mengenai hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cacing parasitik dan bakteri pada hati dan saluran pencernaan ikan belut (Monopterus albus).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri dan cacing parasitik pada saluran pencernaan dan hati pada ikan belut (Monopterus albus).

Manfaat Penelitian

(12)

2

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Belut Sawah (Monopterus albus)

Secara taksonomi, hewan ini tergolong dalam kelas pisces, akan tetapi memiliki bentuk fisik yang berbeda dengan jenis ikan lainnya. Ponsen et al (2009) mengklasifikasikan belut sebagai berikut:

Kingdom : Animalia Filum: Vertebrata Kelas : Pisces Subkelas : Teleostai Ordo: Synbranchoideam Famili: Synbranchoidae Genus : Monopterus

Spesies: Monopterus albus.

Morfologi Belut Sawah (Monopterus albus)

Menurut Sarwono (1999), belut memiliki bentuk tubuh yang panjang dan bulat seperti ular, tidak bersisik dan kulitnya licin berlendir. Mata kecil hampir tertutup oleh kulit, bentuk gigi yang kecil berbentuk kerucut dengan bibir berupa lipatan kulit yang lebar di sekitar mulutnya.

Secara umum punggung belut berwarna kehijau-hijauan dan bagian abdomen berwarna kekuningan. Warna kulit terlihat berkilau dengan gurat sisi yang terlihat jelas guna untuk menjaga keseimbangan. Sirip duburnya telah mengalami perubahan bentuk menyerupai lipatan kulit tanpa adanya penyangga jari-jari keras atau lemah. Sirip dada dan sirip punggung hanya berbentuk semacam guratan kulit yang halus. Bentuk ekor pendek dan tirus, badan lebih panjang daripada ekornya (Roy 2009). Hewan ini termasuk ikan karnivora berlambung besar, palsu, tebal dan elastis (Roy 2009).

Gambar 1 ikan belut (Monopterus albus)

Habitat Ikan Belut

(13)

3

Gambar 2 Tempat tinggal ikan belut sawah (Monopterus albus) (Handojo 1986)

Hewan ini mampu bertahan hidup di daerah berlumpur karena selain memiliki insang yang dapat memfilter oksigen dari air, juga mempunyai alat pernafasan tambahan berupa kulit tipis berlendir yang terdapat di bawah rongga mulut (Sarwono 1999). Alat tersebut berfungsi untuk memfilter oksigen secara langsung dari udara.

BAKTERI DAN CACING PARASITIK

Bakteri pada Ikan

Bakteri ialah organisme bersel satu yang termasuk ke dalam kategori organisme prokariot. Organisme ini tidak memiliki inti sel terdiri dari sitoplasma yang dikelilingi oleh dinding sel yang mengandung peptidoglikan (Corwin 2008)

Beberapa bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan dan organ hati pada ikan dapat dilihat pada Tabel 1.

Nama Bakteri Lokasi Jenis Ikan (Spesies)

Aeromonas sp Saluran pencernaan

Hati

Ikan Nila Ikan Gurami Belut, Ikan Lele

Pseudomonas sp. Saluran pencernaan Ikan Lele

Vibrio spp. Saluran pencernaan Ikan air tawar

Salmonella sp. Saluran Pencernaan Iksn air tawar

Shigella Saluran Pencernaan Ikan air laut

Streptococcus sp Saluran Pencernaan Ikan air laut dan ikan air

tawar

Tabel 1 Bakteri yang dapat ditemukan pada saluran pencernaan Ikan (Aslamsyah S, et al 2009)

Aeromonas hydrophilia

(14)

4

memiliki satu flagel (Floyd 2002). Bakteri ini dapat ditemukan secara normal

pada kolam air tawar dan berada dalam saluran pencernaan (Aslamsyah et al

2009). Bakteri ini merupakan bakteri patogen oportunistik, yaitu dapat berubah menjadi patogen pada saat sistem pertahanan tubuh ikan menurun akibat stres.

Pseudomonas sp.

Pseudomonas sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang bersifat aerob. Bakteri ini memiliki habitat yang beragam. Bakteri ini dapat ditemukan di tanah (Hagedorn et al 1987), sebagai patogen pada hewan atau manusia, di tanaman sebagai bakteri endofitik maupun, diperairan tawar maupun laut (Krueger dan Sheikh 1987).Tergolong bakteri patogen yang signifikan secara klinis dan opurtunistik dan sering menyebabkan infeksi nosokomial.

Vibrio spp.

Vibrio merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang melengkung,

mempunyai satu flagella polar yang terletak pada salah satu ujung batangnya. Bakteri ini bersifat anaerob fakultatif, katalase positif, mampu memfermentasikan glukosa, tidak memproduksi gas, dan oksidase positif. Bakteri ini biasanya ditemukan dalam lingkungan air tawar dan air laut (Quinn et al. 2002).

Gambar 3 Vibrio parahaemolyticus dilihat dengan mikroskop elektron (Huang et al 2012).

Salmonella sp.

Salmonella sp. merupakan bakteri batang Gram negatif dan pertama kali ditemukan pada penderita tifoid pada tahun 1880 oleh Eberth pada bagian limpa dan kelenjar getah bening (Todar 2008). Bakteri ini tidak berspora dan bersifat motil. Walaupun menghasilkan asam dan gas dari glukosa, maltosa dan sorbitol, namun tidak dapat memfermentasikan laktosa sukrosa, salisin dan tidak membentuk indol. Berukuran 2-4 μm x o.5-0.8 μm. Habitat Salmonella sp adalah dalam saluran pencernaan manusia dan juga hewan, dengan suhu optimum pertumbuhannya 37 °C dan pH 6-8 (Julius 1990).

Shigella sp.

(15)

5

Streptococcus sp.

Streptococcus sp. adalah bakteri Gram positif berbentuk bulat yang

tersusun seperti rantai yang biasanya sering ditemukan pada ikan air laut dan ikan air tawar. Bakteri ini bersifat non motil dan termasuk bakteri anaerob fakultatif. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 18 ºC – 40 °C.

Cacing Parasitik pada Ikan

Parasit adalah organisme yang hidupnya dapat menyesuaikan diri dengan inangnya, sangat tergantung pada inang sebagai habitat dan pemberi makannya dan merugikan inang (Noble dan Noble 1989). Kelompok parasit dibagi menjadi dua yaitu endoparasit dan ektoparasit. Sebagian besar cacing digolongkan dalam endoparasit seperti cacing nematoda, trematoda dan cestoda. Beberapa cacing pada ikan digolongkan ektoparasit, seperti cacing monogenea dan digenea.

Trematoda pada Ikan

Trematoda (cacing daun) atau yang sering disebut cacing pipih, merupakan kelas dari filum Plathyhelminthes. Beberapa trematoda hidup pada permukaan tubuh inang definitifnya dan beberapa lainnya di dalam tubuh sebagai parasit internal (Noble dan Noble 1989).

Morfologi umum Trematoda yaitu tidak berongga dan seluruh organ berada dalam organ parenkim. Cacing ini memiliki dua alat penghisap, yaitu batil isap oral (mengelilingi mulut) dan batil isap ventral atau acetabulum (karena berada di dekat pertengahan tubuh dan berbentuk seperti mangkuk) (Levine 1990). Menurut Noble dan Noble (1989), ciri khas cacing pipih terletak pada sistem protonefridial atau sistem ekskretorisnya. Sistem ekskretoris trematoda terdiri atas flame cells, dihubungkan oleh tubulus yang kemudian bersatu menjadi duktus yang lebih besar. Duktus ini kemudian bermuara secara bebas ke luar tubuh atau bergabung dahulu menjadi suatu kantung kencing yang bermuara pada atau dekat ujung posterior tubuh cacing. Cacing ini memiliki mulut dan saluran pencernaan namun tidak memiliki anus. Grabda (1991) membagi kelas trematoda menjadi menjadi tiga subkelas berdasarkan anatomi dan siklus hidupnya, yaitu subkelas Aspidogastrea, Digenea dan Didymozoida.

Digenea

Digeneasida atau trematoda digenetik merupakan cacing pipih parasitik yang paling umum ditemukan pada hewan dan menyebabkan infeksi asimptomatik pada ikan (Noga 1996). Cacing digenea pada umumnya bersifat endoparasit yang dapat ditemukan pada organ dalam ikan seperti usus, pembuluh darah atau terbungkus kiste di jaringan tubuh (Moller & Anders 1986), namun beberapa jenis digenea bersifat ektoparasit dan dapat ditemukan pada permukaan insang, operkulum dan rongga mulut.

(16)

6

darah (Yamaguti 1958), sistem pencernaan, dimulai dari mulut yang berlanjut ke faring yang berotot. Faring membuka ke esofagus yang panjangnya berbeda-beda bergantung spesies. Esofagus terbagi menjadi dua sekum yang bercabang-cabang; sistem ekskresi, terdiri atas protonefridia dan kanalikuli yang terbagi menjadi dua kantong ekskretoris lateral yang simetris. Kantong ekskretoris trematoda digenea dapat berbentuk I-, Y- atau V- (Dawes 1956) dan menurut Grabda (1991) sistem ekskretoris ini merupakan salah satu kunci penting dalam identifikasi trematoda digenea

Gambar 4 Anatomi dan Morfologi Digenea (Ghufran & Kordi 2004).

Nematoda

Nematoda merupakan anggota dari filum Nemathelminthes yang mempunyai saluran pencernaan lengkap dan rongga badan. Cacing ini memiliki mulut, usus, dan anus yang berkembang, alat kelamin yang terpisah, berperan sebagai endoparasit serta siklus hidupnya luas melibatkan inang invertebrata (Buchmann and Bresciani 2001). Saluran pencernaan Nematoda dimulai dengan mulut yang terdiri dari 3 labia, 1 di dorsal dan 2 lainnya di ventrolateral. Rongga badan nematoda dilapisi oleh selaput saluran seluler yang disebut pseudosel atau pseudoseloma

Nematoda tidak memiliki sistem pernafasan dan alat kelamin terpisah antara cacing jantan dan betina (Buchmann dan Bresciani 2001). Cheng (1973) menyatakan bahwa secara umum nematoda jantan dapat dibedakan dari nematoda betina dari ukuran dan bentuk tubuhnya dimana nematoda jantan memiliki ukuran yang lebih kecil, ujung posterior yang melingkar dan adanya bursa serta beberapa struktur reproduksi tambahan lainnya yang tidak dimiliki oleh nematoda betina.

(17)

7

enzim pencernaan, penyerap nutrisi, menyimpan makanan dan pengekresi hasil metabolisme ke lumen usus yang berakhir di rektum berbentuk garis kutikular berujung anus. Sistem ekresi pada kebanyakan nematoda terdiri dari dua pembuluh simetris diantara lapisan lateral hipodermal, pembuluh melebur di vental menjadi saluran umum yang terletak di anterior tubuh. Detail dari sistem ekresi ini merupakan faktor pembeda diantara Nematoda. Sistem respiratorinya tidak ada karena hidupnya dibawah kondisi tanpa oksigen, dan energinya berasal dari glukosa sel epitel usus (Noble dan Noble 1989).

Gambar 5 Siklus hidup nematoda pada ikan (Noga 1996)

(18)

8

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

WAKTU DAN TEMPAT

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2011 hingga bulan Maret 2012 di Laboratorium Helmintologi Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan dan Laboratorium Bakteriologi Bagian Mikrobiologi Medis Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

ALAT DAN BAHAN PENELITIAN

Alat-alat Penelitian

Alat yang digunakan adalah seperangkat alat bedah, pisau dapur, timbangan, cawan petri, pinset, pipet tetes, gunting, botol kaca, spidol, label nama, gelas objek, dan kaca penutup, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, video mikroskop, bunsen, ose, needle, tabung reaksi dan rak tabung reaksi.

Bahan-bahan Penelitian

Bahan yang digunakan adalah ikan belut, NaCl fisiologis, alkohol bertingkat, alkohol absolut, ethanol 70%, KOH 10%, minyak cengkeh, pewarna Semichon’s Acetocarmine, entelan, xylol, aquades, Blood Agar (BA), MacConkey

Agar (MCA), Tripticasein Soy Agar (TSA), pewarna Gram, glukosa, sukrosa,

maltosa, laktosa, manitol, media indol, TSIA, sitrat, KOH 10% dan KOH 4%.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian dilakukan dalam lima tahap, yaitu persiapan bahan, isolasi bakteri dari ikan belut, isolasi cacing dari saluran pencernaan ikan belut, identifikasi isolat bakteri dan identifikasi parasit cacing.

Persiapan Bahan

Organ hati ikan ditambah ±10 tetes aquades steril, digerus dan hasil gerusan ditanam pada media MCA dan agar darah. Satu tetes isi saluran pencernan ditambah ±10 tetes aquades steril, digerus dan hasil gerusan ditanam pada media MCA dan BA. Sisa saluran pencernaan diletakkan didalam cawan petri yang berisi NaCl fisiologis.

Isolasi Bakteri

(19)

9

dengan goresan kuadran. Tahap awal isolasi, dilakukan pengamatan terhadap morfologi koloni dan sel, yaitu dengan menggoreskan sampel dipermukaan

medium BA dan MCA yang sudah disterilkan. Penggoresan sempurna akan

menghasilkan koloni yang terpisah.

Koloni-koloni yang terpisah diinokulasi kembali ke agar miring, diinkubasi pada suhu 30-37 °C selama 24 jam. Isolat dikatakan murni jika bentuk sel bakteri dan sifat Gram seragam. Biakkan bakteri pada TSA akan digunakan untuk tahap berikutnya, yaitu identifikasi isolat bakteri berdasarkan morfologi dan sifat fisiologis.

Identifikasi isolat bakteri

Karakterisasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakterisasi bakteri berdasarkan morfologi dan fisiologi. Pengujian morfologi meliputi morfologi koloni (bentuk ukuran, warna, bentuk, tepi permukaan, dan transparansi) dan morfologi sel (bentuk sel, TSA, sifat pewarnaan Gram dan uji motilitas). Bakteri yang bersifat Gram positif dengan bentuk batang terbagi menjadi dua, yaitu batang besar memiliki spora dan tidak berspora. Isolat dengan hasil Gram positif yang berbentuk coccus, selanjutnya diuji dengan uji katalase.

(20)

10

Ikan ditimbang Sampel digerus

Pewarnaan Gram

Agar darah Agar Mac Conkey

Koloni terpisah

(21)

11

Isolasi Cacing dari Saluran Pencernaan Ikan Belut

Teknik isolasi parasit dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh struktur cacing yang utuh agar dapat diidentifikasi dengan mudah. Metode yang dapat dilakukan yaitu saluran pencernaan ikan direlaksasi dengan NaCl fisiologis dan dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Pemeriksaan struktur morfologi cacing dapat digunakan dengan metode pewarnaan permanen Semichon Acetocarmine (Soulsby 1982).

Identifikasi Cacing Parasit

Mematikan Ikan dapat dilakukan dengan cara memotong kepala ikan dengan pisau dapur. Bedah tubuh ikan dari anterior kepala hingga organ yang dibutuhkan terlihat. Setelah itu usus dipindahkan dalam cawan petri yang berisi NaCl Fisiologis, masukkan ke dalam lemari pendingin 4 °C selama kurang lebih 10 jam, agar dapat merelaksasi cacing. Untuk pewarnaan cacing terdapat dua teknik, yaitu pewarnaan permanen untuk trematoda dan pewarnaan semi permanen untuk nematoda.

Gambar 7 Struktur anatomi ikan belut (Hayashi et al 2008). .

Pewarnaan permanen atau dikenal juga dengan pewarnaan Semichon’s

Acetocarmine biasa digunakan untuk mengindentifikasi cacing pipih (golongan

trematoda). Tahap pertama dalam pewarnaan ini adalah dengan merendam spesimen dalam larutan Semichon’s Acetocarmine selama 15-20 menit (sampai warna terserap dan spesimen berubah warna menjadi merah cerah). Setelah itu spesimen dibilas dengan menggunakan etanol 70% dan kemudian direndam di dalam larutan asam alkohol (99 bagian etanol 70% dicampur dengan 1 bagian HCl). Kemudian dilakukan dehidrasi pada spesimen dengan menggunakan etanol bertingkat (70%, 85%, 95%, 100%) dengan cara merendamnya selama 5 menit pada setiap konsentrasi etanol. Setelah itu spesimen direndam di dalam xylol sampai spesimen terlihat tembus pandang. Langkah terakhir adalah spesimen di-mounting dengan entelan sebagai media fiksasi (Soulbsy 1982).

(22)

12

terlihat jelas. Kemudian cacing didehidrasi dengan dimasukkan ke dalam etanol bertingkat (70%, 85%, 95%) masing–masing selama 15 sampai 30 detik.

Spesimen yang telah didehidrasi di-mounting dengan entelan sebagai media

fiksasi (Khairunnisa 2007).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan selama penelitian tentang identifikasi bakteri dan cacing parasitik pada insang dan saluran pencernaan ikan belut sawah (Monopterus albus) dengan menggunakan sepuluh sampel ikan belut, jenis–jenis bakteri dan cacing parasitik yang ditemukan adalah :

Tabel 1 Hasil Identifikasi Cacing Parasitik dan Bakteri pada Ikan Belut:

Ikan Cacing Bakteri

Saluran Pencernaan Hati Saluran Pencernaan

1 - Pseudomonas

8 - Salmonella sp Chromobacterium

9 Acathocephala sp. Vibrio cholerae Vibrio cholerae

(23)

13

Bakteri pada Hati dan Saluran Pencernaan Ikan Belut

Pseudomonas maltophilia

Gambar 8 Pewarnaan Gram Pseudomonas maltophilia pembesaran 100x

Pseudomonas maltophilia bereaksi negatif terhadap uji glukosa, galaktosa, laktosa, manitol, sukrosa dan indol. Namun bereaksi positif terhadap uji maltosa dan motilitas. Bakteri ini ditemukan pada organ hati ikan belut. Menurut Hugh (1981), bakteri ini ditemukan di permukaan air, tanah, dan sering melakukan kolonisasi saluran pernafasan dengan fibrosis sistik pada pasien. Bakteri ini terdapat pada organ hati ikan belut, hal ini berhubungan dengan habitatnya, yaitu di air tawar. Belut memiliki dua alat pernafasan, salah satunya berada di sekitar mulut belut dan di selaput kulit tipis. Gejala klinis yang terlihat pada ikan adalah adanya luka pada permukaan kulit ikan dan pembusukkan sirip serta ekor ikan. Pencegahan dapat dilakukan dengan perendaman ikan dengan nitrofurozone, sulphonamide dan neomycin.

Pseudomonas aeroginosa

Gambar 9 Pewarnaan Gram Pseudomonas aeroginosa pembesaran 100x

(24)

14

air. Bakteri ini bereaksi positif terhadap uji katalase, oksidase, namun bereaksi negatif terhadap uji glukosa, laktosa, sukrosa, galaktosa, manitol dan maltosa. Bakteri ini bersifat patogen pada manusia, karena mampu membentuk biofilm (kumpulan koloni sel-sel bakteri yang menempel pada suatu permukaan), untuk membantu dalama mempertahankan hidup pada paru-paru manusia. Penularan bakteri ini biasanya berasal dari inang yang sudah terinfeksi. Pseudomonas aeroginosa akan keluar dari saluran pencernaan ikan yang telah terinfeksi dan berpindah pada inang rentan yang lain. Gejala klinis dapat terlihat pada bagian tubuh yang terinfeksi bakteri tersebut.

Proteus mirabilis

Gambar 10 Pewarnaan Gram Proteus Mirabilis pembesaran 100x

(25)

15

Salmonella sp.

Gambar 11 Pewarnaan Gram Salmonella sp, pembesaran 100x

Salmonella sp. adalah bakteri batang Gram negatif yang bersifat motil, (kecuali S. gallinorum dan S. pullorum), tidak berspora, dan memiliki panjang 1.0 sampai 3.0 μm dan lebar 0.8 – 1.0 μm, serta dapat hidup berbulan-bulan di lingkungan walau tidak berada di dalam tubuh inang. Pada media BAP (Blood Agar Plate) dapat menyebabkan hemolisis. Pada media MacConkay, tidak dapat memfermentasikan laktosa, namun mampu memfermentasikan glukosa, manitol dan manitol yang disertai pembentukkan asam dan gas. Sesuai dengan pernyataan Julius (1990), bakteri ini bereaksi negatif terhadap indol, dan bereaksi positif terhadap MR, Vp negatif dan uji sitrat bersifat positif, tidak mampu menghidrolisis urea dan menghasilkan H2S.

Bakteri ini ditemukan pada hati dan usus pada ikan belut, hal ini sesuai dengan habitatnya yaitu dalam saluran pencernaan dan juga dapat ditemukan pada kelenjar limpa, limpa, hati, empedu, jantung, paru-paru dan daging (Duguid 1991). Pada ikan, gejala klinis yang terlihat biasanya berlendir terdapat bercak-bercak berwarna merah Pada manusia dapat menyebabkan gastritis, demam typhoid dan enteritis. Pencegahan yang paling utama adalah melakukan sanitasi air serta pemberian pakan yang kaya nutrisi untuk mempertahankan sistem pertahanan pada ikan

Chromobacterium sp.

Gambar 12 Pewarnaan Gram Chromobacterium sp. pembesaran 100x

Chromobacterium sp. adalah bakteri batang Gram negatif, fakultatif

(26)

16

pada agar MacConkey. Namun bereaksi negatif terhadap uji indol, MR, Vp, dan urea. Bakteri ini diditemukan lebih banyak pada salauran pencernaan belut, hal ini sesuai dengan habitat bakteri yaitu sering ditemukan pada permukaan air tawar dan dapat ditemukan pula pada permukaan tanah. Belut yang hidupnya berada di air tawar secara tidak sengaja akan meminum air yang mengandung

Chromobacterium sp tersebut, dan bakteri ini pun mampu berkembang pada

saluran pencernaan belut, sehingga bakteri ini pun ditemukan lebih banyak di bandingkan bakteri lain. Bakteri Chromobacterium violaceum merupakan salah satu bakteri yang bersifat patogen pada manusia, sehingga menyebabkan chromobacteriosis.

Enterobacter aerogenes

Gambar 13 Pewarnaan Gram Enterobacter aerogenes pembesaran 100x

Enterobacter aerogenes adalah bakteri batang Gram negatif, bersifat anaerob fakultatif yang mampu menghasilkan asam. Bakteri ini memiliki ciri-ciri memiliki panjang rata-rata 1.2-3.0 μm dan lebar 0.6-1.0 μm. Bakteri ini bereaksi positif terhadap uji glukosa, sukrosa, laktosa, katalase, Vp dan apat ebrgerak (motil). Dapat ditemukan pada manusia, dan juga dapat ditemukan di tanah, air dan produk susu. Gejala yang terlihat pada ikan adalah menurunnya nafsu makan, terdapat infeksi luka dan bakterimia. Bakteri ini terkenal dengan resisten terhadap antibiotik. Menurut Sanders (1997) E. aerogenes menggunakan tiga mekanisme untuk melakukan pertahanan diri, yaitu menonaktifkan enzim, merubah target obat dan merubah kemampuan obat untuk masuk dan mengakumulasi dalam sel bakteri tersebut. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan sanitasi kebersihan kolam.

Vibrio cholerae

(27)

17

Vibrio sp merupakan bakteri gram negatif, bersifat fakultatif anaerob, memiliki ukuran panajang antara 2-3 μm, bergerak dengan salah satu flagel pada ujung sel, tidak memiliki kapsul dan juga spora (Thayib 1977). Bakteri ini bereaksi positif terhadap uji katalase,glukosa, Indol serta mampu menghasilkan asam dan gas. Bakteri ini merupakan salah satu bakteri patogen oportunistik, yaitu akan berubah menjadi patogen jika kondisi memungkinkan (Desrina et al 2006). Bakteri ini dapat tumbuh di luar atau di dalam tubuh (organ), seperti hati, usus, dan sebagainya (Feliatra 1999). Bakteri ini dapat ditemukan di air tawar, air laut dan juga tanah. Karena habitat bakteri ini berada di air tawar, sehingga peluang ikan belut untuk terinfeksi oleh vibrio sp. berpeluang sangat besar, terutama Vibrio parahaemolyticus dan Vibrio cholerae. Vibriosis merupakan penyakit yang

disebabkan oleh bakteri Vibrio sp. Biasanya penyakit ini merupakan infeksi

sekunder setelah penyakit lainnya seperti infestasi protozoa. Gejala klinis yang terlihat adalah menurunnya nafsu makan, membusuknya sirip, dan terdapat akumulasi cairan di rongga abdomen. Pengobatan dapat menggunakan antibiotik oxytetracycline, sulphonamide yang dicampurkan pada makanan ikan, dan chloramphenicol.

Cacing Parasitik pada Saluran Pencernaan Ikan Belut

1. Procamallanus sp.

Gambar B Gambar A Gambar C

Gambar 15 Cacing Procamallanus sp. Gambar A morfologi Procamallanus

sp; Gambar B Procamallanus sp pada saluran pencernaan 4 x;

Gambar C Procamallanus sp. pada saluran pencernaan 10x. Ket.

gambar:1. Rongga kapsul; 2. Otot esofagus;3.Usus (Moravec et al

1999)

Berdasarkan hasil pengamatan, cacing Procamallanus sp. memiliki panjang tubuh 11.5 mm dan diameter kepala 0.12 mm, hal ini sesuai dengan pernyataan

Lakshmi (2010), Procamallanus sp. dewasa pada jantan memiliki ukuran 11-12

mm dan diameter kepala 0.144 -0.156. Berdasarkan gambar 8, struktur cacing yang terlihat adalah rongga kapsul dan usus. Cacing ini teridentifikasi sebagai Procamallanus sp, karena cacing ini memiliki ciri khas yaitu buccal kapsul (rongga kapsul) yang tidak terbagi, hal ini sesuai dengan pernyataan Kabata

(1985), bahwa genus Procamallanus memiliki buccal kapsul berbentuk seperti

barrel dan tidak terbagi menjadi dua katup. Perbedaan antara Camallanus sp.

dengan Procamallanus sp. terletak pada rongga kapsul. Camallanus sp. memiliki 1

2

(28)

18

rongga kapsul yang terbagi, sedangkan Procamallanus sp. tidak terbagi. Struktur lain seperti otot esofagus, kelenjar esofagus dan cincin syaraf tidak dapat terlihat.

Procamallanus sp.ditemukan pada ikan belut karena habitatnya yang

berada di air tawar. Selain itu, cacing ini dapat ditemukan pada ikan laut dan terdapat pada lambung, usus dan pylorus sekum (Lakshmi 2010). Cacing ini bersifat viviparus yaitu melepaskan larva pada inang definitif melalui feses (Kabata 1985), sehingga penularan terhadap inang rentan dapat terjadi secara cepat jika tidak mengisolasi ikan belut yang sudah terinfeksi. Siklus hidup dari Procamallanus sp. tidak langsung atau melalui inang antara seperti kopepoda atau krustasea. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan sanitasi ikan, dan memperhatikan gejala yang terlihat apabila ikan jika sudah terjadi infeksi ringan pada ikan, sebaiknya segera mengisolasi ikan yang terinfeksi dan yang belum terinfeksi.

1. Acanthocephala

Gambar A Gambar B

Gambar 16 Acanthocephala sp. Gambar A Acanthocephala sp perbesaran

4x; Gambar B Perbesaran 10x; Keterangan gambar 1 Probosis; 2. Probosis cavity.

Acanthocephala sp. ditemukan pada saluran pencernaan belut, dengan

ukuran panjang 9.0 mm dan berada pada tahap dewasa, hal ini sesuai dengan pernyataan Fajar (2012) bahwa cacing dewasa akan memiliki bentuk yang panjang sekitar cm hingga 0.5 m serta anterior probosis yang pendek. Menurut Bush et al. (2001) Acanthocephala sp. dewasa tinggal di saluran pencernaan inang definitif, dimana mereka menempelkan duri probosis ke dalam lumen usus inang definitif. Miller & Dunagan (1985) menyatakan bahwa probosis dilindungi oleh garis lengkung, kait sklerosis, untuk mengamankan probosis di dalam lumen usus. Berdasarkan gambar 9 Struktur yang terlihat pada gambar adalah probosis dan probosis cavity.

Acanthocephala sp. merupakan invertebrata yang sepanjang siklus hidupnya bersifat parasit. Cacing ini disebut juga sebagai cacing kepala berduri, dengan bagian kepala cacing disebut probosis. Berbentuk silindris dan panjang kurang lebih 1-2 cm (Amin et al 2011). Duri pada probosis merupakan senjata yang berbentuk seperti mata kail, yang berfungsi sebagai pengail untuk

1

(29)

19

melekatkan diri pada usus inang serta memiliki kemampuan hidup tanpa oksigen atau anaerob (Paolin 2006).

Cacing ini ditemukan di dalam saluran pencernaan ikan belut, hal ini sesuai dengan pernyataan Buchmann dan Bresciani (2001) bahwa Acanthocephala sp. ditemukan pada ikan air tawar, yaitu salah satunya adalah ikan belut. Robert (2000) menyatakan bahwa makanan nematoda adalah darah, sel jaringan dan cairan tubuh. Hal ini dikarenakan nematoda tidak dapat menyederhanakan bahan organik karena saluran pencernaan dan enzim pencernaan yang tidak sempurna.

Siklus hidup Acanthocephala sp. yaitu telur cacing bila dimakan oleh

inang sementara (arthopoda),maka larva akan keluar dan menembus dinding usus inang perantara untuk menetap di dalam hemocoel. Apabila ikan, burung atau mamalia memakan arthopoda tersebut, maka cacing akan menempel pada dinding usus dengan bantuan probosis yang berduri dan berkembang hingga dewasa dan menghasilkan telur kembali. Cacing ini dapat menimbulkan gejala pendarahan pada usus. Apabila terinfeksi berat akan mengakibatkan pendarahan berat, dan dapat menimbulkan kematian. Gejala yang terlihat adalah menurunnya nafsu makan dan mukosa sekitar kulit ikan terlihat pudar dan pucat.

Interaksi Antara Infeksi Bakteri dengan Infestasi Cacing Parasit

Timbulnya suatu penyakit merupakan hasil interaksi antara ikan, agen penyakit, dengan lingkungan. Faktor lingkungan tersebut diantaranya adalah kepadatan populasi yang tinggi, kualitas pakan, dan perubahan kondisi habitat. Habitat yang disukai belut adalah sawah dengan kadar air yang cukup, kaya akan bahan organik, suhu relatif tinggi (>26 °C) (Affandi R et al 2003) dan pH ideal antara 6-7 (Warisno dan Dahana K, 2010). Hal-hal yang dapat menyebabkan penyakit untuk non infeksius yaitu faktor-faktor kimia dan fisika (Perubahan salinitas air, pH terlalu rendah, kurangnya Oksigen, terdapat zat beracun, perubahan suhu), makanan yang tidak baik, kelainan fisik akibat genetik, setres, dan kepadatan ikan. Sedangkan penyakit infeksius yaitu penyakit yang disebabkan oleh protozoa, jamur, bakteri, virus, dan cacing. Pada kondisi lingkungan yang buruk, dapat menyebabkan ikan menjadi mudah stres dan sistem pertahanan tubuh menjadi menurun. Stres merupakan pemicu utama bagi timbulnya parasitosis, bakteriosis dan viral (warsito 1995) karena stres akan menimbulkan perubahan dalam tubuh ikan, yaitu bertambahnya hormon adrenalin, respirasi, kadar glukosa darah dan turunnya antibodi terhadap agen penyakit (Sulistiono 2013).

(30)

20

Levine (1990) menyatakan bahwa adanya cacing parasitik di dalam tubuh ikan akan menyebabkan penurunan produksi dan bobot ikan serta dapat menurunkan ketahanan tubuh ikan terhadap penyakit-penyakit lain. Menurut FAO (2005), prevalensi infestasi cacing parasitik di Indonesia mencapai ±30%, hal ini dipengaruhi oleh faktor iklim dan cuaca sedangkan menurut Tizard (1987), umur, jenis kelamin, dan sistem ketahanan tubuh juga menenetukan jumlah cacing parasitik yang menginfeksi induk semang. Iklim menentukan endemisitas suatu penyakit, sedangkan cuaca menentukan prevalensi penularan suatu penyakit parasitik sampai timbulnya epidemik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Bakteri yang ditemukan pada hati adalah Pseudomonas maltophilia, Proteus

mirabilis, Pseudomonas aeroginosa, Salmonella, dan Vibrio cholerae.

Sedangkan pada saluran pencernaan adalah Pseudomonas aeroginosa, Salmonella, Chromobacterium, Enterobacter aerogenes, dan Vibrio cholerae

2. Cacing parasitik yang ditemukan pada saluran pencernaan adalah

Procamallanus sp. dan Acanthocephala sp.

3. Bakteri yang ditemukan dikedua tempat, baik di hati dan saluran pencernaan terdapat tiga spesies, yaitu Pseudomonas aeroginosa, Salmonella sp, dan Vibrio cholerae.

4. Pada ikan Belut, terdapat dua spesies yang bersifat patogen, yaitu

Pseudomonas aeroginosa dan Vibrio cholerae.

SARAN

1. Pada budidaya ikan belut, disarankan agar lebih memperhatikan dan

meningkatkan sanitasi kolam, terutama kualitas air serta pemberian pakan yang berkualitas.

2. Penelitian berikutnya diharapkan dapat melakukan uji yang lebih spesifik

terhadap bakteri yang terdapat pada ikan belut, sehingga dapat diketahui semua jenis bakteri sampai tingkat spesies. Begitu pula dengan cacing parasitik, diharapkan pada penelitian berikutnya dapat menggunakan teknik identifiksai yang lebih baik sehingga identifikasi menjadi lebih pasti dan organ–organ dalam cacing terlihat lebih jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi R, Ernawati Y, Wahyudi S. 2003. Studi Bio-Ekologi Belut Sawah (Monopterus albus) pada Berbagai Ketinggian Tempat di Kabupaten Subang, Jawa Barat. J Ikhtio Indone. 3(2).

Amin OM, Heckmann RA, A Halajian, El-Naggar AM. 2011. Revisiting the

(31)

21

Aslamsyah S, Azis HY, Sriwulan, Wiryawan KG. 2009. Mikroflora Saluran Pencernaan Ikan Gurame. Torani (J Ilmu Kelaut dan Perikan). 19(1):66-73. ISSN: 0853-4489.

Buchmann K, Bresciani J. 2001. An Introduction to Parasitic Diseases of Freshwater Trout. Denmark: DSR Publisher.

Bush AO, Fernández JC, Esch GW, Seed JR. 2001. Parasitism: the diversity and ecology of animal parasites. Cambridge: Cambridge University Press. Carter GR, Cole JR. 1984. Diagnostic Procedures in Veterinary Bacteriology and

Mycology. Georgia: University of Georgia.

Corwin EJ. 2008. Handbook of Pathophysiology. Editor: Yudha EK. Jakarta: EGC.

Cheng T. 1973. General Parasitology. New York: Academic Press.

Dawes D. 1956. The Trematoda. Cambridge: t6The Syndics Of The Cambridge University Press.

Desrina, Taslihan A, Ambaryanto, Suryaningrum S. 2006. Uji Keganasan Bakteri Vibrio pada Ikan Kerapu (Epinephelus fuscoguttatus). J Ilmu Kelautan. 11(3):119-125. ISSN 0853 – 7291.

Duguid JP, North AE. 1991. Eggs and Salmonella food- poisoning : an evaluation. J Med Microbiol. 34(2):65-72.

Fajar. 2012. Acanthocephala. Jaringan terhubung berkala. Januari 2013].

[FAO], Food and Agriculture Organization, Corporate Document repository.

2005. Liver Fluke Infections.

2013].

Feliatra. 1999. Identifikasi Bakteri Patogen (Vibrio sp.) di Perairan Nongso Batam Provinsi Riau. J Nat Indone. II(1):28-33.

Fernandez M, Contreras M, Garcia MA, Gueneau P, Suarez P. 2007. Occurrence

of Proteus mirabilis Associated with Two Species of Venezuelan

Osysters. Inst Med trop. 49(6):335-359.

Francis-Floyd R. 2002. Aeromonas infection. Florida: Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida, USA.

Grabda J. 1991. Marine Fish Parasitology. Poland: Polish Scientific Publishers,Warsawa.

Gufron HM, Kordi KM. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit ikan. Jakarta:PT. Rineka Cipta dan PT. Bina Adikarsa.

Hagedorn C, Gould WD, Bardinelli TR, Gustavson DR. 1987. A selective medium for enumeration and recovery of Pseudomonas cepacia biotypes from soil. Appl Environ Microbiol 53:2265-2268.

Handojo DD. 1986. Usaha Budidaya Belut Sawah. Jakarta: Simplex.

Hayashi S, Kumagai A. 2008. Studies on Eel Liver Function Using Perfused Liver Cultured Hepatocytes. Aqua Biosei Monogr (ABSM). I(2):1-57.

Huang Y, Ye M, Chen H. Inactivation of Vibrio parahaemolyticus and Vibrio

vulnificus in oysters by high-hydrostatic pressure and mild heat.

32(1):179-184.

(32)

22

Julius ES. 1990. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Birtarupa Aksara.

Kabata Z. 1985. Parasites and Diseases Of Fish Cultured In The Tropics. London: Taylor and Prancis.

Khairunnisa. 2007. Minyak cengkeh (Eugenia aromatica) dan Kalium Hidroksida 10% Sebagai Bahan Pewarna Semi Permanen pada Cacing Nematoda Dan Acanthocephala Ikan Air Laut [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

Krueger CL, Sheikh W. 1987. A new selective medium for isolating Pseudomonas spp. From water. Appl Environ Microbiol 53:895-897. Lakshmi. 2010. Description of a new species of Procamallanus Baylis, 1923

(Nematoda : Camallanidae) from the freshwater fish, Pangasius pangasius Hamilton. Ibero-Latinoam Parasitol. 69(2):199-203.

Lay BW. 1994. Analisis Mikroba di Laboraturium. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Levine ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Prof. Dr. Gatut Ashadi,

Penerjemah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Textbook Of Veterinary Parasitology.

Miller DM, Dunagan TT. 1985. Functional morphology eds. Biology of the Acanthocephala. Cambridge: Cambridge University Press.

Moller H, Andres K. 1986. Diseases and Parasites of Marine Fishes. Kiel.Moller. Moravec F J. Wolter. W, Körting1999. . Some Nematodes and Acanthocephalans

From Exotic Ornamental Freshwater Fishes Imported Into Germany. Folia Parasitologica. 46: 296-310.

Noble ER, Noble GA. 1989. Parasitologi: Biologi Parasit Hewan. Edisi kelima. Yogyakarta: UGM Press.

Noga EJ. 1996. Fish Disease: Diagnosis and Treatment. Mosby-Year Book, Inc., St Louis, MO.

Ponsen S, Narkkong NA, Pamok S, Aengwanich W. 2009. Some Nematodes and Acanthocephalans From Exotic Ornamental Freshwater Fishes Imported Into Germany. Ameri J of Animal and Vet Scie. 4 (2): 32-36. ISSN 1557-4555

Poulin R. 2005. Investing in attachment: evolution of anchoring structures in Acanthocephala parasite. Biol J Linne Soci. 90(4):637-645.

Quinn, PJ, Markey BK, Carter ME, Donnelly WJC, Leonard PC. 2002. Veterinary Microbiology and Microbial Diseases. Blackwell Science Ltd.128-129. Roberts LS, and Janovy Jr. 2000. Foundations of Parasitology 6th ed. McGraw

Hill.

Roy R. 2009. Budi Daya dan Bisnis Belut. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Sanders WE And Sanders CC. 1997. Enterobacter spp: pathogens poised to flourish at the turn of the century. Clin Microbiol Rev. 10(2):220-241. Sarwono B. 1999. Budidaya Belut dan Sidat. Jakarta: Swadaya

Sivendra R, Lo HS. 1975. Identification of Chromobacterium violaceum: Pigmented and Non-pigmented Strains. J Gerl Microbiol. 90(1):21-31. Soulsby EJL. 1982. Helmints, Athropods and Protozoa of Domesticated Animals.

Edisi ke-7. London: Bailiere-Tindall.

(33)

23

Thayib SS. 1977. Vibrio laut yang mengganggu kehidupan manusia dan ikan pewarta oseana. 24:1-6.

Tizard I. 1987. Pengantar Imunologi Veteriner. Surabaya:Universitas Airlangga. Todar K. 2004. Pseudomonas aeroginosa.

http://textbookofbacteriology.net/pseudomonas.html [16 Desember

2012].

_________________. 2008. Salmonella and Salmonellosis.

Warsito. 1995. Penyakit Ikan Air Tawar dan Cara Penanggulangannya. Jakarta: Primadona.

Warisno, Dahana K. 2010. Budi Daya Belut Sawah dan Rawa di Kolam Intensif dan Drum. Yogyakarta: Lily Publisher.

Yamaguti S. 1958. Systema Helminthum. Volume ke-1. The digenetic Trematodes of Fishes. New York: Intersciense Publishers, Inc.

(34)

24

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 15 September 1990 dari ayah Duduh Abdullah dan ibu Tien Supartini. Penulis merupakan anak keempat dari empat bersaudara.

Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan di Sekolah Dasar M.I. Darunnajah Petukangan Selatan. Pada tahun 2002, Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 31 Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negri 47 Jakarta pada tahun 2005. Setelah itu, Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dengan Program Studi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB).

Gambar

Tabel 1 Bakteri yang dapat ditemukan pada saluran pencernaan Ikan (Aslamsyah
Gambar 4 Anatomi dan Morfologi Digenea (Ghufran & Kordi 2004).
Gambar 5 Siklus hidup nematoda pada ikan (Noga 1996)
Gambar 6  Diagram alir identifikasi bakteri (Lay 1994)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Belut sawah ( Monopterus albus ) merupakan ikan hermaprodit protogini dengan peralihan kelamin dari betina, interseks menjadi jantan.. Penelitian ini

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Protozoa Parasitik Darah dan Saluran Pencernaan pada Ular Sawah (Ptyas corros) di Kabupaten Ngawi adalah

Jenis dan jumlah cacing parasitik yang ditemukan pada organ insang dan saluran pencernaan (usus) ikan bawal air tawar (C. macropomum) umur 5-6 bulan pada kolam budidaya di

Jenis dan jumlah cacing parasitik yang ditemukan pada organ insang dan saluran pencernaan (usus) ikan bawal air tawar (C. macropomum) umur 5-6 bulan pada kolam budidaya di

Distribusi jumlah (ekor) ikan belut ( Monopterus albus ) fase betina, transisi, dan jantan berdasarkan tingkat kematangan gonad di D.. Hal ini menunjukkan bahwa ikan

Belut (Monopterus albus, Zuiew 1793) adalah sejenis ikan anggota suku Synbranchidae, ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Secara

Jenis dan tingkat serangan cacing parasitik lebih tinggi pada organ insang daripada organ saluran pencernaan (usus) ikan patin (Pangasius djambal) pada kolam budidaya

2.2 Cacing pada Saluran Pencernaan Belut Rawa (Synbranchus bengalensis) Parasit adalah organisme yang hidup pada atau di dalam organisme lain dan atas.. beban organisme yang