IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gejala Klinis Ikan Uji
Pengamatan gejala klinis dilakukan dengan mengamati luka dan tingkah laku ikan mas akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ikan mas menunjukan gejala klinis dalam waktu 4-6 jam setelah dilakukan penginfeksian bakteri Aeromonas hydrophila. Gejala klinis yang teramati berupa warna tubuh ikan menjadi pucat, terjadi peradangan yang ditandai dengan pembengkakan dan warna kemerahan pada bekas penyuntikan, kemampuan berenang turun dan sering megap-megap dipermukaan air, perut terlihat agak kembung, serta seluruh sisik rusak dan berwarna keputihan.
Gejala tersebut terlihat merata pada seluruh ikan mas yang telah diberikan perlakuan infeksi buatan. Kondisi Ikan yang terinfeksi bakteri dan yang sehat setelah diobati disajikan pada Gambar 4 berikut:
Gambar 4. Ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila (A) dan yang sehat (B).
23
Pada pengamatan 24 jam setelah penyuntikan, gejala peradangan berlanjut menjadi tukak dan beberapa ikan mengalami pendarahan (hemoragi) yang dicirikan dengan keluarnya darah dari kulit. Selain itu ikan terlihat stres, bergerak disekitar aerasi, dan pada umumnya ikan berenang dengan posisi tubuh miring dikarenakan keseimbangan tubuh berkurang akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Radang merupakan reaksi pertama dari hewan secara vaskuler dan seluler terhadap bakteri yang masuk kedalam tubuhnya yang menimbulkan kerusakan pada jaringan (Takashima dan Hibiya, 1995).
Selanjutnya dilakukan pengamatan pada setiap perlakuan setelah pengobatan selama 48 jam, gejala yang terlihat pada ikan diwadah perlakuan A dengan konsentrasi ekstrak daun pepaya 800 ppm, yaitu warna tubuh ikan masih terlihat pucat, pendarahan masih terjadi pada beberapa ikan, serta gerakan ikan masih terlihat lamban. Selanjutnya pada perlakuan B dengan konsenstrasi ekstrak daun pepaya 1000 ppm, warna tubuh ikan mulai kembali normal, beberapa ikan tidak lagi mengalami pendarahan namun luka pada bagian bekas penyuntikan masih nampak, serta gerakan ikan mulai terlihat aktif. Sedangkan pada perlakuan C dengan konsenstrasi ekstrak daun pepaya 1200 ppm menunjukan adanya perubahan yang signifikan yaitu ditandai dengan warna tubuh ikan kembali normal, luka pada tubuh ikan menuju kearah penyembuhan, karna pendarahan dan bekas luka dibagian bekas penyuntikan pada ikan sudah tdk terlihat, serta pergerakan dan respon ikan terhadap makanan sudah mulai normal.
Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa tanda klinis pada ikan yang terserang A. hidropila yaitu sisik berwarna keputihan. Salah satu tanda klinis
24
yang pertama kali timbul setelah terinfeksi A. hydrophila dapat dilihat dengan adanya inflamasi yang disebabkan oleh roduksi enzim-enzim ekstraseluler seperti hemolisin, protease dan elastase, sehingga berkembang menjadi borok. Hiperemi merupakan respon awal terhadap infeksi mikrobial, kemudian diikuti dengan terjadinya peradangan, nekrosis dan terbentuknya tukak (Plum, 1994).
Hiperemi ini terjadi karena mobilitas eritrosit kejaringan tempat berkembangnya patogen, leukosit yang merupakan salah satu komponen sel darah yang berfungsi sebagai pertahanan nonspesifik akan melokalisasi dan mengeliminasi patogen. Eliminasi ini dilakukan melalui proses fagositosis (Fletcher, 1982; Walczak, 1985; Anderson, 1992).
Menurut pendapat Kabata (1985) bahwa penyakit yang diakibatkan Aeromonas hydrophila menunjukkan ciri-ciri nyata yaitu perut yang mengembung diakibatkan rongga perut yang berisi cairan, daging rusak atau borok dengan cirri-ciri sisik atau daging terkelupas. Kerusakan jaringan organ dan juga tukak kemungkinan besar diakibatkan oleh toksin yang dikeluarkan bakteri Aeromonas hydropila. Menurut Angka ot al (2000) toksin dari Aeromonas hydropila dapat menyebabkan terjadinya penguraian sel darah merah dan juga pecahnya pembuluh darah yang berakibat bercak merah pada tubuh ikan.
4.2. Sintasan Ikan Uji
Sintasan adalah istilah ilmiah yang menunjukan tingkat kelulusan hidup (survival rate) dari suatu populasi dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan didalam bidang perikanan, sintasan adalah persentase dari individu yang bertahan
25
hidup dalam jangka waktu tertentu. Untuk mengetahui persentase tingkat kelangsungan hidup ikan uji pada akhir penelitian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3.Sintasan ikan mas (Cyprinus carpio L) pada akhir penelitian.
Perlakuan Sintasan
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05).
Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa nilai sintasan tertinggi terdapat pada pelakuan C (pemberian ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1200 ppm) dengan nilai rata-rata sintasan sebesar 96,67%, kemudian disusul pada perlakuan D (kontrol) dengan nilai sintasan sebesar 90,00%, dan nilai sintasan terendah terdapat pada perlakuan A (pemberian ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 800 ppm) dan perlakuan B (pemberian ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1000 ppm). Tingginya nilai sintasan benih ikan mas yang dihasilkan pada perlakuan C disebabkan oleh konsentrasi ekstrak daun pepaya yang diberikan pada perlakuan C lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan A dan B. Olehnya itu senyawa yang terkandung didalam ekstrak daun pepaya dapat diserap dengan baik oleh tubuh dan insang ikan sehingga bisa mengobati ikan yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila serta mampu meningkatkan sintasan ikan uji selama penelitin.
Berdasarkan hasil uji lanjut BNT menunjukan bahwa adanya perbedaan nyata antara perlakuan C terhadap perlakuan A dan B. Sedangkan pada perlakuan
26
C dan D tidak berbeda nyata disebabkan karena pada perlakuan D tidak dilakukan penginfeksian bakteri seperti pada perlakuan lainnya, sehingga terdapat nilai persentase sintasan pada perlakuan D yaitu 90,00%.
Hal ini semakin menguatkan bahwa daun pepaya memiliki kemampuan dalam mengobati ikan yang terinfeksi bakteri A. hydrophila. Bahan aktif pada ekstrak daun pepaya yang berfungsi sebagai antimikroba adalah enzim papain, sedangkan yang berfungsi sebagai antibakteri adalah carpain (Ardina, 2007) atau alkaloid carpain yang banyak terdapat pada daun muda (Kalie, 2006). Selain itu terdapat pula senyawa aktif dari golongan fenolik yaitu flavonoid dan tocopenol, senyawa ini bersifat antiinflamasi sehingga dapat mengurangi peradangan (Anonim 2007).
Cara kerja senyawa antibakteri alkaloid, flavonoid, tocopenol terhadap bakteri A. hydrophila yaitu dengan menghambat kerja enzim bakteri sehingga mengganggu reaksi biokimiawi dan mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel bakteri A. hydrophila serta adanya penghambatan pembentukan enzim berupa toksin ekstraseluler yang merupakan faktor virulensi bakteri A.
hydrophila (Buckly et al., 1981). Menurut Katzung (1989) dalam Naiborhu (2002), menjelaskan baha mekanisme kerja senyawa antimikroba dimulai dengan penghambatan sintesis dinding sel, perubahan permeabilitas dinding sel atau transpor aktif melalui membran sel, kerusakan membran sel menyebabkan tidak berlangsungnya transpor senyawa dan ion kedalam sel bakteri sehingga bakteri mengalami kekurangan nutrisi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan akhirnya mati.
27 4.3. Kualitas Air
Parameter kualitas air merupakan faktor pendukung dalam budidaya.
Kualitas air selama perlakuan layak untuk kehidupan ikan mas. Suhu pada saat pemeliharaan adalah 28-290C. Menurut Khairuman (2013), suhu air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 25-30oC. Nilai pH selama pemeliharaan berkisar antara 7.5-8.0. Hal ini sesuai dengan Agus (2001), kisaran pH 6,5-8,5 merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan ikan. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 1 mg/L akan mematikan ikan dan pada kandungan antara 3-5 mg/l cukup mendukung kehidupan ikan (Agus, 2001). hal ini sesuai dengan hasil yaitu berkisar antara 4,4-5,6 mg/L. Amoniak selama perlakuan berkisar antara 0,07. Menurut Boyd (1982), konsentrasi amoniak yang ideal dalam air bagi kehidupan ikan tidak boleh melebihi 1 ppm. Karena jika konsentrasinya berlebih akan menghambat daya serap hemoglobin dalam darah. Menurut Supriyatna, (2013) kisaran konsentrasi ammoniak yang baik untuk kehidupan ikan adalah kurang dari 2,4 mg/L.
Menurut Susanto (1998), kisaran kelayakan temperatur air bagi ikan mas adalah 14-38ᴼC. Menurut Supriyatna, (2013) menyatakan bahwa kandungan oksigen dalam suatu perairan minimum sebesar 2 mg/L, sudah cukup mendukung terhadap organisme perairan secara normal.
Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa kualitas air selama penelitian memenuhi persyaratan optimum untuk budidaya ikan mas sehingga kematian ikan mas selama penelitian bukan disebabkan oleh kondisi perairan melainkan karena serangan bakteri Aeromonas hydrophila.
28