• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PEPAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PEPAYA"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya) UNTUK PENGOBATAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio L) YANG

TERINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila

ABDUL RAHMAT RAHIM

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

(2)

i

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya) UNTUK PENGOBATAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio L) YANG

TERINFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila

ABDUL RAHMAT RAHIM 105940047810

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Pada Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian

Universitas Muhammadiyah Makassar

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul :

Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) untuk Pengobatan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila di BBI Bontomanai Kecamatan Bontomarannu Kab. Gowa adalah

hasil karya saya dengan bimbingan dari komisi pembimbing. Sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya orang lain yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Makassar, 1 September 2014

Abdul Rahmat Rahim Penulis

(6)

v

HALAMANA HAK CIPTA

@Hak Cipta milik Unismuh Makassar, tahun 2014 Hak Cipta dilindungi undang - undang

1. Di larang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tampa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Unismuh Makassar

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk laporan apapun tanpa izin Unismuh Makassar

(7)

vi RINGKASAN

Abdul Rahmat Rahim 1059400 478 10 Efektivitas Ekstrak Daun Pepapa (Carica papaya) untuk Pengobatan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio L) yang terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan. Dibawah bimbingan bapak Abdul Haris dan Ibu Rahmi.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun pepaya dalam mengobati ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila sedangkang kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi dalam upaya penanggulangan hama dan penyakit guna meningkatkan produksi ikan mas.

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-juli 2014. Bertempat di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun pepaya untuk pengobatan ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila melalui perendaman selama 48 pada konsentrasi 1200 ppm (perlakuan C) merupakan perlakuan yang lebih baik dengan kelangsungan hidup ikan sebesar 96,67%.

(8)

vii

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir pada tangga11 Februari 1991 di Desa Mola Utara Kabupaten Wakatobi Propinsi Sulawesi Tenggara. Penulis adalah anak terahir dari dua bersaudara, dari pasangan Ayahanda Rahih dan Ibunda Supiana. Pada tahun 1997 penulis bersekolah di Madrasah Ibtidaiah Swasta (MIS) Desa Mola Utara, dan tamat pada tahu 2003. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMP Negri 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi dan tamat pada tahun 2006. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan ke SMA Negri 1 Wangi-Wangi, penulis pernah aktif pada organisasi OSIS dan tamat pada tahun 2009.

Pada tahun 2010, penulis lulus seleksi masuk Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah magang di Instalasi Pembenihan Udang Windu Barru, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau Maros Sulawesi Selatan. Penulis juga pernah mengikuti kuliah kerja profesi (KKP) di Kecamatan Tanete Rilau Kabupaten Pangkep. Penulis pernah menjadi pengurus Pimpinan Komisyariat (PIKOM) IMM Fakultas Pertanian dan Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ).

Atas berkat rahmat Allah Swt, disertai perjuangan keras dan dorongan semangat dari orangtua, keluarga tercinta, serta kedua dosen pembimbing, penulis akhirnya dapat menyelesaikan Studi pada tahun 2014, Penulis telah melaksanakan

(9)

viii

penelitian di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan, pada bulan Juni sampai dengan Bulan Juli dan memilih judul “Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) untuk Pengobatan Benih Ikan Mas (Cyprinus caprio L) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila”.

(10)

ix

KATA PENGANTAR

مي ِحَّرلا ِنَْحَّْرلا ِهَّللا ِمْسِب

Puji dan Syukur kehadirat Allah subhana wata ala yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini. Adapun judul skripsi yakni “Efektivitas Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) Untuk Pengobatan Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio L) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila”

Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik atau saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan penulis demi kesempurnaan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini telah banyak menyita waktu, tenaga, curahan fikiran, maupun materi dari berbagai pihak. Selanjutnya pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa hormat, penghargaan dan terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan dan motivasi sehingga Skripsi ini selesai ditulis, khususnya kepada : 1. Bapak Ir. H. M. Saleh Molla, MM. Dekan Fakultas Pertanian Universitas

Muhammadiyah Makassar beserta stafnya.

2. Ibu Murni, S.Pi, M.Si. Ketua Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Dr. Abdul Haris, S.Pi., M.Si. sebagai pembimbing utama yang atas keikhlasan dan keteguhan hatinya membimbing penulis.

4. Ibu Rahmi, S.pi., M.Si.sebagai pembimbing ke dua yang atas keikhlasan dan keteguhan hatinya membimbing penulis.

(11)

x

5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universits Muhammadiyah Makassar.

6. Terkhusus dan teristimewa untuk kedua orang tua dan saudara (i) penulis, yang telah membesarkan, membimbing, dan memenuhi segala kebutuhan Ananda selama proses pengerjaan skripsi ini.

7. Pada teman-teman seperjuangan angkatan 2010 yang telah memberikan semangat untuk penyelesaian Skripsi ini.

8. Kepala BBI Bontomonai dan Jajarannya, yang telah memberikan izin meneliti dilokasi tersebut dan taklupa pula dengan bimbingan serta semangat dan dorongan dalam penyelesaian meneliti hingga penyusunan skripsi ini berjalan lancar.

9. Kepada kakanda wahyudin, S.Pi yang telah memberikan motivasi dan semangat untuk menyelesaikan penelitian ini.

Akhirnya penulis mengharapkan semoga Skripsi ini dapat memberi manfaat kepada para pembaca dan semua kalangan di masyarakat umum. Amin...

Makassar, 1 September 2014

Abdul Rahmat Rahim Penulis

(12)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

HALAMAN PENGESAHAN KOMISI PENGUJI iii

HALAMAN PERNYATAAN iv

HALAMAN HAK CIPTA v

RINGKASAN vi

RIWAYAT HIDUP vii

KATA PENGANTAR ix

DAFTAR ISI xi

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Tujuan dan Kegunaan 2

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas 4

2.2. Bakteri Aeromonas hydrophila 6

2.2.1. Klasifikasi Aeromonas hydrophila 6

2.2.2. Gejala Klinis Serangan Aeromonas hydrophila 8 2.3 Klasifikasi dan Morfologi Daun Pepaya 9 2.4. Bahan Aktif Antimikroba yang Terkandung dalam Daun Pepaya 11

(13)

xii

2.5. Kualitas Air 13

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat 17

3.2. Alat dan Bahan 17

3.3. Prosedur Penelitian 18

3.3.1. Penyediaan Media dan Hewan Uji 18

3.3.2. Pembuatan Ekstrak Daun Pepaya 19

3.3.3. Pengobatan dengan Ekstrak Daun Pepaya 19

3.4. Rancangan Percobaan 19

3.5. Peubah Yang diamati 20

3.5.1. Gejala Klinis 20

3.5.2. Sintasan Ikan Uji 20

3.5.3. Analisis Kualitas Air 21

3.6. Analisis Data 21

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gejala Klinis Ikan Uji 22

4.2. Sintasan Ikan Uji 24

4.3. Kualitas Air 27

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 29

5.2. Saran 29

DAFTAR PUSTAKA 30

LAMPIRAN

(14)

xiii

DAFTAR TABEL

No Halaman

1. Alat 17

2. Bahan 18

3. Sintasan Ikan Mas 25

(15)

xiv

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1. Ikan Mas (Cyprinus carpio) 4

2. Bakteri Aeromonas hydrophila 6

3. Daun Pepaya (Carica papaya) 10

4. Ikan Mas yang Sehat dan Terinfeksi Bakteri 22

(16)

xv

DAFTAR LAMPIRAN No

1. Nilai Persentase SintasanIkanUji, Analisis Data dengan Anova dan dan Uji Lanjut BNT

2. Analisis Kualitas Air Ikan Mas 3. Foto Kegiatan

(17)

1

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ikan mas (Cyprinus carpio. L) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang tergolong memiliki nilai ekonomis penting disektor perikanan air tawar yang terus berkembang pesat dari waktu kewaktu. Namun tidak sedikit pembudidaya mengalami kerugian yang diakibatkan oleh berbagai penyakit yang menyerang ikan mas (Ghufran dan Kordi, 2004).

Dalam kegiatan budidaya ikan mas memiliki banyak permasalahan yang umumnya dihadapi oleh pembudidaya ikan mas itu sendiri. Salah satu permasalahan yang sering dihadapi pembudidaya ikan mas adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri (Effendi,1998).

Bakteri Aeromonas hydrophila adalah jenis bakteri yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan penyakit sistemik serta mengakibatkan kematian secara massal. Bakteri Aeromonas hydrophila ini seringkali mewabah di Asia Tenggara sampai sekarang. Salah satu penyakit yang sering menyerang ikan hias ataupun ikan konsumsi dan dapat mematikan sampai 100% disebabkan oleh infeksi bakteri Aeromonas hydrophila, dengan gejala klinis berupa luka dibagian Tubuh ikan dan bakteri ini menyerang semua umur dan hampir semua komuditas perikanan yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa Barat bahkan menjadi wabah mematikan pada ikan air tawar dan menyebabkan kerugian yang sangat besar (Kamiso dan Triyanto,1993).

(18)

2

Pengobatan terhadap ikan yang terinfeksi Aeromonas hydrophila dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu melalui penyuntikan, pengusapan, perendaman, dan melalui pakan yang dicampur dengan obat. Pengobatan dengan sistem perendaman merupakan cara paling aplikatif apabila dibandingkan dengan penyuntikan dan melalui pakan yang dicampur dengan obat, karena dapat mempermudah proses pengobatan terutama untuk ikan yang berukuran kecil dalam skala yang banyak (Supriyadi dan Rukyani, 1990).

Tanaman obat yang aman digunakan, murah dan mudah didapat oleh pembudidaya ikan adalah daun pepaya, yang merupakan salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat alami untuk penyakit yang disebabkan bakteri.

Daun pepaya mengandung tocophenol, flavonoid, dan enzim papain yang memiliki daya antimikroba, serta alkaloid carpain yang berfungsi segabai antibakteri (Ardina, 2007). Pengobatan melalui sistem perendaman dalam larutan daun pepaya sangat efektif karna senyawa antibakteri yang larut dalam air dapat diserap dengan baik oleh kulit, insang, hati, dan ginjal (Sukamto, 2007). Olehnya itu larutan daun pepaya untuk pengobatan infeksi bakteri dapat menjadi salah satu alternatif yang bisa digunakan dan diharapkan memberikan hasil yang lebih baik serta aman bagi kehidupan ikan mas (Cyprinus caprio L).

1.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun pepaya dalam mengobati ikan mas (Cyprinus carpio L) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila.

(19)

3

Sedangkan kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi dalam upaya penanggulangan hama dan penyakit guna meningkatkan produksi ikan mas.

(20)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Ikan Mas

Ikan mas dapat diklasifikasikan secara taksonomi (Suseno,1994) sebagai berikut :

Filum : Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Cyprinidae Genus : Cyprinus

Species: (Cyprinus carpio L )

Gambar 1. Ikan mas (Cyprinus carpio L), Sumber : www.tips- peternakan.blogspot.com

Ikan mas termasuk famili Cyprinidae yang mempunyai ciri-ciri umum, badan ikan mas berbentuk memanjang dan sedikit pipih ke samping (Compresed) dan mulutnya terletak diujung tengah (terminal), bagian mulut dihiasi dua pasang sungut, yang kadang-kadang satu pasang diantaranya kurang sempurna dan warna badan sangat beragam.

(21)

5

Tubuh ikan mas digolongkan tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor.

Pada kepala terdapat alat-alat seperti sepasang mata, sepasang cekung hidung yang tidak berhubungan dengan rongga mulut, celah-celah insang, sepasang tutup insang, alat pendengar dan keseimbangan yang tampak dari luar (Suseno,1994).

Jaringan tulang atau tulang rawan yang disebut jari-jari. Sirip-sirip ikan ada yang berpasangan dan ada yang tunggal, sirip yang tunggal merupakan anggota gerak yang bebas.

Saat ini ikan mas mempunyai banyak ras atau stain. Perbedaan sifat dan ciri dari ras disebabkan oleh adanya interaksi antara genotipe dan lingkungan kolam, musim dan cara pemeliharaan yang terlihat dari penampilan bentuk fisik, bentuk tubuh dan warnanya. Adapun ciri-ciri dari beberapa strain ikan mas adalah sebagai berikut:

1. Ikan mas punten:sisik berwarna hijau gelap, potongan badan paling pendek, bagian punggung tinggi melebar, mata agak menonjol, gerakannya gesit, perbandingan antara panjang badan dan tinggi badan antara 2,3:1.

2. Ikan mas majalaya: sisik berwarna hijau keabu-abuan dengan tepi sisik lebih gelap, punggung tinggi, badannya relatif pendek, gerakannya lamban, bila diberi makanan suka berenang dipermukaan air, perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,2:1.

3. Ikan mas si nyonya: sisik berwarna kuning muda, badan relatif panjang, mata pada ikan muda tidak menonjol, sedangkan ikan dewasa bermata sipit, gerakannya lamban, lebih suka berada dipermukaan air, perbandingan panjang badan dengan tinggi badan antara 3,6:1.(Suseno, 1994).

(22)

6 2.2. Bakteri Aeromonas hydrophila 2.2.1. Klasifikasi Aeromonas hydrophila

Awalnya bakteri Aeromonas hydrophila dikenal dengan nama Bacilus hydrophilus fuscus, pertamakali diisolasi dari kelenjar pertahanan katak yang mengalami septicemia Kluiver dan Van Nicel pada tahun 1936, mengelompokkan genus Aeromonas. Tahun 1984, Popoff memasukkan genus Aeromonas kedalam faili Vibrionaceae. Aeromonas hydrophila diisolasi dari manusia dan binatang sampai dengan tahun 1950. Bakteri ini memiliki nama sinonim A. Formicans dan A. Liquefaciens.

Berikut adalah klasifikasi Aeromonas hydrophil. (Kabata,1985) : Filum : Protophyta

Kelas : Schizomycetes Ordo : Pseudanonadeles Family : Vibrionaceae Genus : Aeromonas

Spesies : Aeromonas hydrophila.

Gambar 2. Bakteri Aeromonas hydrophila (Sumber :http://www.trbimg.com/img- 4fb27f3e/turbine/la-na-nn-flesh-eating bacteria-20120515-001/600)

(23)

7

Aeromonas hydrophila merupakan bakteri Heterotrofik uniseluller, tergolong protista prokariot yang dicirikan denga tidak adanya membran yang memisahkan inti dengan sitoplasma. Bakteri ini biasanya berukuran 0,7-1,8 x 1,0- 1,5 µm dan bergerak menggunakan flagel (Kabata, 1985), hal ini diperkuat oleh Krieg dan Holt (1984), yang menyatakan bahwa Aeromonas hydrophila bersifat motil dengan flagela tunggal disalah satu ujungnya. Bakteri ini berbentuk batang sampai dengan kokus ujung membulat, fakultatif anaerob, dan bersifat mosofilik dengan suhu optimum 20-30oC (Kabata, 1985).

Aeromonas hydrophila bersifat Gram negatif, oksidasi positif dan katalase positif (Krieg dan Holt, 1984). Bakteri ini juga mampu memfermentasikan beberapa gula seperti glukosa, proktosa, maltosa, dan trehalosa. Hasil fermentasi dapat berupa senyawa asam atau senyawa asam dengan gas. Pada nutrient agar setelah 24 jam dapat diamati koloni bakteri dengan diameter 1-3 mm yang berbentuk cembung, halus dan perang (Isohood dan drake, 2002).

Bakteri ini dapat bertahan dalam lingkungan aerob maupun anaerob dan dapat mencerna material-material seperti gelatin dan hemoglobin. Aeromonas hydrophila resisten terhadap cholorine serta suhu yang dingin (Faktanya Aeromonas hydrophila dapat bertahan dalam temperatur rendah ±4oC), tetapi setidaknya hanya dalam waktu satu bulan (Krieg dan Holt, 1984).

Austin dan Austin (1993), menambahkan bahwa sebagian besar isolat Aeromonas hydrophila mampu tumbuh dan berkembang biak pada suhu 37oC dan tetap motil pada suhu tersebut. Di samping itu, bakteri Aeromonas hydrophila mampu tumbuh pada kisaran pH 4,7-11 (Cipriano, et al, 1984, diacu dalam Fauci,

(24)

8

2001). Aeromonas hydrophila yang patogen, diduga memproduksi faktor-faktor eksotoksin dan endotoksin, yang sangat berpengaruh pada patogenitas bakteri ini.

Eksotoksin merupakan komponen protein terlarut, yang disekresikan oleh bakteri hidup pada fase pertumbuhan eksponensial. Produksi toksin ini biasanya spesifik pada beberapa spesies bakteri tertentu baik Gram positif maupun Gram negatif, yang menyebabkan terjadinya penyakin terkait dengan toksin tersebut.

2.2.2. Gejala Klinis Serangan Bakteri Aeromonas hydrophila

Aeromonas hydrophila menyebabkan penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) atau penyakit bercak merah. Penularan bakteri Aeromonas hydrophila sangat cepat melalui perantara air, kontak pada bagian tubuh ikan, kontak dengan peralatan budidaya yang tercemar atau terkontaminasi bakteri.

Bakteri ini bersifat patogen, menyebar secara cepat pada padat penebaran yang tinggi dan dapat menyebabkan kematian benih sampai 100 % (Kabata, 1985).

Tanda-tanda klinis infeksi Aeromonas hydrophila bervariasi, tetapi pada umumnya ditunjukan dengan adanya hemoragi pada kulit, insang, rongga mulut, dan borok pada kulit yang dapat meluas ke jaringan otot. Secara histopatologis tampak terjadinya nekrosis pada limpa, hati, ginjal, dan jantung (Austin dan Austin, 1986).

Menurut Gufran dan Kordi (2004), beberapa hewan akuatik yang telah diserang oleh bakteri Aeromonas hydrophila menunjukkan gejala-gejala infeksi yang sama yaitu : warna tubuh ikan menjadi agak pucat, kemampuan berenang menurun, mata ikan rusak dan agak menonjol, sisik terkuak, seluruh siripnya rusak, insang berwarna merah keputihan, ikan terlihat megap-megap dipermukaan

(25)

9

air, insangnya rusak sehingga sulit bernafas, kulit ikan menjadi kasat dan timbul pendarahan selanjutnya dilanjutkan dengan luka borok, perut kembung, jikan dilakukan pembedahan akan terlihat pendarahan pada hati, ginjal, serta limpa.

2.3. Klasifikasi dan Morfilogi Daun Pepaya (Carica papaya)

Pepaya (Carica papaya) merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko bagian selatan dan bagian utara dari Amerika Selatan. Tanaman ini menyebar ke Benua Afrika dan Asia serta negara India, tanaman ini menyebar keberbagai negara tropis, termasuk indonesia diabad ke-17.

Menurut Steenis (1978), taksonomi tanaman pepaya adalah sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magholiophiyta Kelas : Magholiopsida Ordo : Brassicates Famili : Caricaceae Genus : Carica

Spesies : Carica papaya L.

Menurut Kalie (2006), famili Caricaceae memiliki empat genus, yaitu Carica, Jarilla, Jacaranta, dan Cylocomorpha. Ketiga genus pertama merupakan tanaman asli Meksiko bagian selatan serta bagian utara dari Amerika Selatan, Sedangkan genus keempat merupakan tanaman yang berasal dari Afrika.Genus Carica memiliki 24 spesies, salah satu diantaranya adalah papaya.Tanaman dari

(26)

10

genus Carica banyak diusahakan petani karna buahnya enak dimakan, genus lainnya hanya lazim untuk dinikmati keindahan habitusnya.

Gambar 3. Daun pepaya (Carica papaya), Sumber : Dokumentasi pribadi.

Pepaya merupakan tanaman herbal dengan batang berongga, biasanya tidak bercabang, dan tinggi mencapai 10 m. Daunnya merupakan daun tunggal dan berukuran besar dengan tangkai daun panjang dan berongga. Bunganya terdiri dari tiga jenis, yaitu bunga jantan, bunga betina, dan bunga sempurna. Batang, daun, dan buahnya mengandung getah yang memiliki daya enzimatis yaitu dapat memecah protein.

Pemanfaatan tanaman pepaya cukup beragam. Bagian-bagian tanaman pepaya banyak yang digunakan dalam pengobatan tradisional. Perasan daun pepaya dapat digunakan untuk meredam atau menurunkan demam akibat penyakit malaria.

(27)

11

2.4. Bahan Aktif Antimikroba yang Terkandung dalam Daun Pepaya

Bahan antimikroba adalah senyawa kimia atau biologi yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktifitas mikroba (Marsul, 2005). Sedangkan menurut Beucholt (1976) dalam Agustian (2007) bahan antibakteri merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh bakteri.

Daun pepaya mengandung tocophenol, flavonoid, dan enzim papain yang memiliki daya antimikroba, serta alkaloid carpain yang berfungsi segabai antibakteri (Ardina, 2007). Menurut Amadioha (1998) ekstrak daun pepaya dapat menjadi antifungal bagi powdery mildew fungsi (Erysiphe cichoracearum DC).

Tocophenol merupakan senyawa fenol yang khas pada tanaman pepaya.

Senyawa fenol memberikan rasa dan warna pada tanaman, buah, dan sayuran, funsinya melindungi tanaman dari serangan mikroorganisme, serangga, dan herbifora (Roller, 2003). Fenol dapat merusak membran sel bakteri dan menyebabkan lisisnya sel bakteri (Nogrady, 1992 dalam Rahman, 2008). Sisi dan jumlah gugus hidroksil pada fenol diduga memiliki hubungan dengan toksisitas relatif terhadap mikroorganisme dengan bukti bahwa hidroksilasi yang meningkat juga menyebabkan tingginya toksisitas zat ini (Naim, 2004). Kepolaran gugus hidroksil fenol mampu membentuk ikatan hidrogen yang larut dalam air sehingga efektif sebagai desinfektan (Nogrady, 1992 dalam Rahman, 2008). Sifat toksit fenol mengakibatkan struktur tiga dimensi protein bakteri terganggu dan terbuka kemudian menjadi struktur acak tanpa adanya kerusakan struktur kerangka kovalen, sehingga protein terdinaturasi. Deret asam amino protein tidak dapat melakukan fungsinya (Hasim, 2003). Mekanisme toksisitas senyawa fenolik pada mikro

(28)

12

organisme adalah sebagai inhibitor enzim bakteri, kemungkinan melalui interaksi non spesifik dengan protein.

Kira-kira 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuhan (atau kira-kira 1×109ton/tahun) diubah menjadi flavonoid (Smith, 1972 dalam Markham, 1988). Sebagian besar tanim berasal dari flavonoid, sehingga flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam terbesar. Flavonoid terdapat dalam semua tumbuhan hijau sehingga selalu ditemukan pada setiap ekstrak tumbuhan (Markham,1988).

Flavonoid dan flavonol disintesis tanaman dalam responnya terhadap infeksi mikroba, sehingga secara in vitro efektif terhadap mikroorganisme. Senyawa ini merupakan antimikroba karena kemampuannya membentuk kompleks dengan protein ekstra seluler terlarut serta dinding sel mikroba. Flavonoid yang bersifat lipofilik akan merusak membran mikroba. Flavonoid bersifat antiinflamasi sehingga dapat mengurangi peradangan serta membantu mengurangi rasa sakit bila terjadi pendarahan atau pembengkakan pada luka (Rahman, 2008).

Carpain merupakan senyawa alkaloid yang khas dihasilkaan oleh tanaman

pepaya. Alkaloid merupakan senyawa nitrigen heterosiklik. Alkaloid bersifat toksit terhadap mikroba, sehingga efektif membunuh bakteri dan virus, sebagai

antiprotozoa dan anti diare (Naim, 2004), bersifat detoksifikasi yang mampu menetralisir racun dalam tubuh. Alkaloid diketahui mampu menigkatkan daya tahan tubuh. Mekanisme kerja dari alkaloid dihubungkan dengan kemampuan berinteraksi dengan DNA (Naim, 2004).

(29)

13 2.5. Kualitas Air

Khairuman (2013), Kualitas air atau mutu air sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan dan hewan air lainnya. Untuk itu harus diperhatikan kualitas airnya, dengan menjaga kualitas air maka ikan akan hidup dengan baik, nafsu makan tinggi dan tidak mudah terserang penyakit. Sebaliknya kualitas air yang buruk ikan tidak dapat hidup dengan baik, nafsu makan rendah, mudah terserang penyakit, mudah setres, dan dapat menimbulkan kematian.

Julianti (2001), menyatakan bahwa kualitas air yang baik merupakan hal yang penting bagi organisme air, karena akan menentukan produksi usaha budidaya yang dilakukan. Kualitas air dalam usaha budidaya harus bebas dari polusi, baik dari limbah industri maupun limbah rumah tangga.

Santoso (2000), Menyatakan ikan mas dapat hidup ditempat (Habitat) perairan air tawar yang tidak terlalu dalam dan alirannya tidak terlalu deras, misalnya dipinggiran sungai atau danau. Ikan ini dapat hidup baik dikolam pada suhu 25–300C dan pH 6.5-7. Parameter kualitas air yang banyak berperan dalam kegiatan budidaya ikan adalah sebagai berikut :

2.5.1. Suhu Air

Suhu air merupakan salah satu parameter fisika yang perlu diperhatikan karena dapat mempengaruhi nafsu makan dan pertumbuhan ikan.

Secara garis besar, suhu air dapat mempengaruhi kegiatan metabolisme, perkembangbiakan, pernapasan, denyut jantung dan sirkulasi darah, serta kegiatan enzim dan proses fisiologi lainnya pada ikan dan organisme perairan lainnya.

(30)

14

Suhu juga akan mempengaruhi kadar oksigen yang terlarut dalam air dan dayaracun suatu bahan pencemar. Semakin tinggi suhu suatu perairan semakin sedikit oksigen terlarut didalamnya sedangkan kebutuhan oksigen setiap 10ºC oleh organisme perairan naik hampir dua kali lipat. Contoh lain yakni daya racun potasium sianida terhadap ikan akan naik dua kali lipat setiap kenaikkan suhu 10ºC. Sesuai hukum Van Hoff bahwa untuk setiap perubahan kimia, kecepatan reaksinya naik dua sampai tiga kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10ºC. Suhu yang baik untuk pembenihan ikan air tawar berkisar antara 25 - 31º C.

2.5.2. Oksigen Terlarut (DO)

Oksigen terlarut dalam air sangat menentukan kehidupan organisme perairan, bila kadar oksigen rendah dapat berpengaruh terhadap fungsi biologis dan lambatnya pertumbuhan, bahkan dapat mengakibatkan kematian organisme.

Oksigen juga tidak hanya berfungsi untuk pernapasan (respirasi) ikan, tetapi juga untuk penguraian atau perombakan bahan organik yang ada didasar kolam.Setiap hari konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan mengalami fluktuasi. Konsentrasi terendah terjadi pada waktu subuh (dini hari) kemudian meningkat pada saat matahari terbit dan menurun kembali pada malam hari.

Perbedaan konsentrasi oksigen terlarut tertinggi terdapat pada perairan yang mempunyai kepadatan planktonnya tinggi dan sebaliknya. Kadar oksigen terlarut dalam air yang baik untuk kehidupan benih ikan adalah 5 ppm. Kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suhu, kadar garam (salinitas) perairan, pergerakan arus air, luas daerah permukaan perairan yang terbuka, tekanan atmosfer dan persentase oksigen sekelilingnya. Bila pada suhu

(31)

15

yang sama konsentrasi oksigen terlarut sama dengan jumlah kelarutan oksigen yang ada didalam air, maka air tersebut dapat dikatakan sudah jenuh dengan oksigen terlarut. Bila air mengandung lebih banyak oksigen terlarut daripada yang seharusnya pada suhu tertentu, berarti oksigen dalam air tersebut sudah lewat jenuh (super saturasi).

Apabila dikaitkan dengan tekanan udara dan suhu, maka kelarutan oksigen dalam air akan menurun dengan menurunnya tekanan udara dan suhu. Pada usaha pembenihan ikan air tawar dikolam kadar oksigen terlarut dapat dioptimalkan dengan bantuan aerator seperti kincir atau turbo.

2.5.3. pH Air

Besarnya pH suatu perairan adalah besarnya konsentrasi ion hidrogen yang terdapat didalam perairan tersebut. Dengan kata lain nilai pH suatu perairan akan menunjukkan apakah air bereaksi asam atau basa. Nilai pH air optimal untuk mendukung kehidupan ikan dan kultur pakan alami (fitoplankton) berkisar antara 6,5–8,5 (Julianti, 2001)

2.5.4. Amoniak (NH3)

Amoniak merupakan perombakan senyawa nitrogen oleh organisme renik yang dilakukan pada perairan anaerob atau kurangnya kandungan oksigen terlarut dalam air. Didalam air, ammonia mempunyai dua bentuk senyawa yaitu senyawa ammonia bukan ion (NH3) dan berupa ion amonium (NH4+). Dalam kaitannya dengan usaha pemeliharaan ikan air tawar, NH3 akan dapat meracuni ikan sedangkan NH4+

tidak berbahaya kecuali dalam konsentrasi sangat tinggi.

Konsentrasi NH3 yang tinggi biasanya terjadi setelah fitoplankton mati

(32)

16

kemudian diikuti dengan penurunan pH air disebabkan konsentarsi CO2 meningkat batas pengaruh yang mematikan ikan apabila konsentarsi NH3 pada perairan tidak lebih dari 1 ppm karena dapat menghambat daya serap hemoglobin darah terhadap oksigen dan ikan mati karena sesak napas. Perombakan senyawa nitrogen pada perairan aerob akan menghasilkan senyawa nitrat yang dapat diserap oleh organisme nabati sampai menjadisenyawa organik berupa protein.

(33)

17

III. METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Tempat

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni-juli 2014. Bertempat di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai Kecamatan Bontomarannu Kabupaten Gowa Propinsi Sulawesi Selatan.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Alat yang digunakan selama penelitian.

Nama Alat Kegunaan

Aquarium Blower

Selang dan batu aerasi Gunting

Timbangan Blender

Kertas saring whatman no 42

Gelas ukur 1 L Alat suntik 0,1 mL Hot Plate

Magnetic sterrer Erlenmeyer

Alumunium foil Termometer pH meter DO meter

Media infeksi dan media pengobatan Penyuplay oksigen diwadah penelitian Penyuplai oksigen air

Untuk memotong daun pepaya Untuk menimbang daun pepaya Untuk menghaluskan daun pepaya Untuk menyaring ampas daun pepaya Untuk mengukur volume bahan cairan Sebagai alat untuk menginfeksikan bakteri pada ika

Untuk memanaskan larutan

Untuk menghomogenkan suatu larutan denganpengadukan bahan kimia Untuk menampung larutan atau cairan Sebagai penutup Erlenmeyer

Alat untuk mengukur suhu air

Untuk mengukur derajat keasaman air Untuk mengukur oksigen terlarut

(34)

18

Sedangkan bahan yang digunakan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Bahan yang digunakan selama penelitian.

Nama Bahan Kegunaan

Ikan Mas

Aeromonas hydrophuila Daun pepaya

Aquades

Hewan uji Bakteri

Untuk mengobati ikan yang terinfeksi Untuk melarutkan daun pepaya

3.3. Prosedur Penelitian

3.3.1. Penyediaan Media dan Hewan Uji

Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah akuarium dengan ukuran panjang 30 cm dan lebar 30 cm, akuarium yang digunakan sebanyak dua belas buah, sembilan buah akuarium untuk media pengobatan/pemeliharaan dan tiga buah akuarium sebagai media kontrol. Semuanya sudah dilengkapi aerasi untuk mensuplay oksigen dan diisi air 1/2 dari volume akuarium. Ikan uji yang digunakan memiliki panjang 5-8 cm. Pertama-tama ikan direndam dalam larutan garam dengan konsentrasi 30 ppm selama 5 menit untuk menghilangkan ektoparasit. Setelah itu ikan diaklimatisasi terlebih dahulu agar ikan terbiasa hidup dalam akuarium uji selama 3 hari dengan pemberian pakan berupa pelet. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 3% dari berat badan ikan per hari dengan frekuensi pemberian 2x sehari pada pagi dan sore hari.

Selanjutnya ikan diinfeksikan bakteri A. hydophila dengan konsentrasi 106cfu/mL sebanyak 0,1 mL melalui metode penyuntikan secara intramuscular untuk masing-masing ikan uji yang akan ditempatkan pada media perlakuan.

(35)

19 3.3.1. Pembuatan Ekstrak Daun Pepaya

Daun papaya yang digunakan adalah daun pepaya yang masih segar dengan berat keseluruhan 1 kg. Pembuatan ekstrak daun pepaya dilakukan dengan menggunakan beberapa tahapan yaitu, pertama-tama daun papaya segar dicuci bersih kemudian dibiarkan kering hingga air yang masih melekat pada daun hilang. Setelah kering daun segar dipotong kecil-kecil menggunakan gunting lalu ditimbang sebagai berat kasar, kemudian dihaluskan menggunakan blender dan ditimbang sesuai dengan dosisi yang dibutuhkan. Untuk pengobatan, dosis yang sudah ditimbang kemudian dilarutkan menggudakan aquadest sebanyak 1 liter dengan suhu 45oC selama 15 menit diatas hot plate dengan alat pengaduk magnetic sterrer diamkan ±5 menit untuk diendapkan kemudian dilakukan penyaringan.

3.3.3. Pengobatan dengan Ekstrak Daun Pepaya

Pengobatan dilakukan dengan memasukkan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi yang berbeda sesuai perlakuan kedalam akuarium berisi ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Waktu yang digunakan dalam perendaman untuk pengobatan setiap perlakuan adalah 48 jam. Setelah proses perendaman selesai air aquarium diganti dengan air normal kemudian dilakukan pengamatan lanjutan selama 14 hari.

3.4. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan, sehingga terdapat 12

(36)

20

satuan percobaan. Perlakuan yang diberikan yaitu ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi berbeda terhadap masing-masing wadah,yaitu :

Perlakuan A : Penggunaan ekstrak daun pepaya dengan konsetrasi 800 ppm Perlakuan B : Penggunaan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1000 ppm Perlakuan C : Penggunaan ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1200 ppm Perlakuan D : Tidak menggunakan ekstrak daun pepaya (kontrol)

Konsentrasi tersebut digunakan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun pepaya untuk pengobatan ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila melalui metode perendaman selama 48 jam pada konsentrasi 1000 ppm merupakan perlakuan terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 73,33%.

3.5. Peubah yang Diamati 3.5.1. Gejala Klinis

Gejala klinis yang diamati adalah kerusakan tubuh dan tingkahlaku ikan setelah terinfeksi bakteri Aeromona hydrophila dan setelah dilakukan pengobatan.

3.5.2. Sintasan Ikan Uji

Peubah yang ingin diketahui selanjutnya adalah sintasan ikan uji, untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup ikan uji menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Effendi (1997), yaitu :

Nt

S =  X 100%

No

(37)

21 Dimana :

S= Tingkat kelangsungan hidup benih (ekor)

Nt= Jumlah benih yang hidup pada akhir penelitian (ekor) No= Jumlah benih yang ditebar (ekor).

3.5.3. Analisis Kualitas Air

Parameter kualitas air yang akan diamati meliput pengukuran suhu, pH, DO (Oksigen terlarut) dan TAN (total ammonium nitrogen). Pengukuran parameter kualitas air dilakukan pada awal dan akhir penelitian.

3.6. Analisis Data

Untuk mengetahui pengaruh perlakuan perendaman dengan ekstrak daun pepaya untuk mengobati ikan (Cyprinus carpio L) yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila, maka dilakukan analisis terhadap data dengan menggunakan analisys of variance (Anova). Bila berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT), untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang terbaik (Gasperz, 1991).

(38)

22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gejala Klinis Ikan Uji

Pengamatan gejala klinis dilakukan dengan mengamati luka dan tingkah laku ikan mas akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, ikan mas menunjukan gejala klinis dalam waktu 4-6 jam setelah dilakukan penginfeksian bakteri Aeromonas hydrophila. Gejala klinis yang teramati berupa warna tubuh ikan menjadi pucat, terjadi peradangan yang ditandai dengan pembengkakan dan warna kemerahan pada bekas penyuntikan, kemampuan berenang turun dan sering megap-megap dipermukaan air, perut terlihat agak kembung, serta seluruh sisik rusak dan berwarna keputihan.

Gejala tersebut terlihat merata pada seluruh ikan mas yang telah diberikan perlakuan infeksi buatan. Kondisi Ikan yang terinfeksi bakteri dan yang sehat setelah diobati disajikan pada Gambar 4 berikut:

Gambar 4. Ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila (A) dan yang sehat (B).

(39)

23

Pada pengamatan 24 jam setelah penyuntikan, gejala peradangan berlanjut menjadi tukak dan beberapa ikan mengalami pendarahan (hemoragi) yang dicirikan dengan keluarnya darah dari kulit. Selain itu ikan terlihat stres, bergerak disekitar aerasi, dan pada umumnya ikan berenang dengan posisi tubuh miring dikarenakan keseimbangan tubuh berkurang akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Radang merupakan reaksi pertama dari hewan secara vaskuler dan seluler terhadap bakteri yang masuk kedalam tubuhnya yang menimbulkan kerusakan pada jaringan (Takashima dan Hibiya, 1995).

Selanjutnya dilakukan pengamatan pada setiap perlakuan setelah pengobatan selama 48 jam, gejala yang terlihat pada ikan diwadah perlakuan A dengan konsentrasi ekstrak daun pepaya 800 ppm, yaitu warna tubuh ikan masih terlihat pucat, pendarahan masih terjadi pada beberapa ikan, serta gerakan ikan masih terlihat lamban. Selanjutnya pada perlakuan B dengan konsenstrasi ekstrak daun pepaya 1000 ppm, warna tubuh ikan mulai kembali normal, beberapa ikan tidak lagi mengalami pendarahan namun luka pada bagian bekas penyuntikan masih nampak, serta gerakan ikan mulai terlihat aktif. Sedangkan pada perlakuan C dengan konsenstrasi ekstrak daun pepaya 1200 ppm menunjukan adanya perubahan yang signifikan yaitu ditandai dengan warna tubuh ikan kembali normal, luka pada tubuh ikan menuju kearah penyembuhan, karna pendarahan dan bekas luka dibagian bekas penyuntikan pada ikan sudah tdk terlihat, serta pergerakan dan respon ikan terhadap makanan sudah mulai normal.

Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa tanda klinis pada ikan yang terserang A. hidropila yaitu sisik berwarna keputihan. Salah satu tanda klinis

(40)

24

yang pertama kali timbul setelah terinfeksi A. hydrophila dapat dilihat dengan adanya inflamasi yang disebabkan oleh roduksi enzim-enzim ekstraseluler seperti hemolisin, protease dan elastase, sehingga berkembang menjadi borok. Hiperemi merupakan respon awal terhadap infeksi mikrobial, kemudian diikuti dengan terjadinya peradangan, nekrosis dan terbentuknya tukak (Plum, 1994).

Hiperemi ini terjadi karena mobilitas eritrosit kejaringan tempat berkembangnya patogen, leukosit yang merupakan salah satu komponen sel darah yang berfungsi sebagai pertahanan nonspesifik akan melokalisasi dan mengeliminasi patogen. Eliminasi ini dilakukan melalui proses fagositosis (Fletcher, 1982; Walczak, 1985; Anderson, 1992).

Menurut pendapat Kabata (1985) bahwa penyakit yang diakibatkan Aeromonas hydrophila menunjukkan ciri-ciri nyata yaitu perut yang mengembung diakibatkan rongga perut yang berisi cairan, daging rusak atau borok dengan cirri- ciri sisik atau daging terkelupas. Kerusakan jaringan organ dan juga tukak kemungkinan besar diakibatkan oleh toksin yang dikeluarkan bakteri Aeromonas hydropila. Menurut Angka ot al (2000) toksin dari Aeromonas hydropila dapat menyebabkan terjadinya penguraian sel darah merah dan juga pecahnya pembuluh darah yang berakibat bercak merah pada tubuh ikan.

4.2. Sintasan Ikan Uji

Sintasan adalah istilah ilmiah yang menunjukan tingkat kelulusan hidup (survival rate) dari suatu populasi dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan didalam bidang perikanan, sintasan adalah persentase dari individu yang bertahan

(41)

25

hidup dalam jangka waktu tertentu. Untuk mengetahui persentase tingkat kelangsungan hidup ikan uji pada akhir penelitian disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3.Sintasan ikan mas (Cyprinus carpio L) pada akhir penelitian.

Perlakuan Sintasan

A B C D

76,67b 76,67b 96,67a 90,00a

Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05).

Berdasarkan Tabel 3, terlihat bahwa nilai sintasan tertinggi terdapat pada pelakuan C (pemberian ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1200 ppm) dengan nilai rata-rata sintasan sebesar 96,67%, kemudian disusul pada perlakuan D (kontrol) dengan nilai sintasan sebesar 90,00%, dan nilai sintasan terendah terdapat pada perlakuan A (pemberian ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 800 ppm) dan perlakuan B (pemberian ekstrak daun pepaya dengan konsentrasi 1000 ppm). Tingginya nilai sintasan benih ikan mas yang dihasilkan pada perlakuan C disebabkan oleh konsentrasi ekstrak daun pepaya yang diberikan pada perlakuan C lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan A dan B. Olehnya itu senyawa yang terkandung didalam ekstrak daun pepaya dapat diserap dengan baik oleh tubuh dan insang ikan sehingga bisa mengobati ikan yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila serta mampu meningkatkan sintasan ikan uji selama penelitin.

Berdasarkan hasil uji lanjut BNT menunjukan bahwa adanya perbedaan nyata antara perlakuan C terhadap perlakuan A dan B. Sedangkan pada perlakuan

(42)

26

C dan D tidak berbeda nyata disebabkan karena pada perlakuan D tidak dilakukan penginfeksian bakteri seperti pada perlakuan lainnya, sehingga terdapat nilai persentase sintasan pada perlakuan D yaitu 90,00%.

Hal ini semakin menguatkan bahwa daun pepaya memiliki kemampuan dalam mengobati ikan yang terinfeksi bakteri A. hydrophila. Bahan aktif pada ekstrak daun pepaya yang berfungsi sebagai antimikroba adalah enzim papain, sedangkan yang berfungsi sebagai antibakteri adalah carpain (Ardina, 2007) atau alkaloid carpain yang banyak terdapat pada daun muda (Kalie, 2006). Selain itu terdapat pula senyawa aktif dari golongan fenolik yaitu flavonoid dan tocopenol, senyawa ini bersifat antiinflamasi sehingga dapat mengurangi peradangan (Anonim 2007).

Cara kerja senyawa antibakteri alkaloid, flavonoid, tocopenol terhadap bakteri A. hydrophila yaitu dengan menghambat kerja enzim bakteri sehingga mengganggu reaksi biokimiawi dan mengakibatkan terganggunya metabolisme atau matinya sel bakteri A. hydrophila serta adanya penghambatan pembentukan enzim berupa toksin ekstraseluler yang merupakan faktor virulensi bakteri A.

hydrophila (Buckly et al., 1981). Menurut Katzung (1989) dalam Naiborhu (2002), menjelaskan baha mekanisme kerja senyawa antimikroba dimulai dengan penghambatan sintesis dinding sel, perubahan permeabilitas dinding sel atau transpor aktif melalui membran sel, kerusakan membran sel menyebabkan tidak berlangsungnya transpor senyawa dan ion kedalam sel bakteri sehingga bakteri mengalami kekurangan nutrisi yang diperlukan bagi pertumbuhan dan akhirnya mati.

(43)

27 4.3. Kualitas Air

Parameter kualitas air merupakan faktor pendukung dalam budidaya.

Kualitas air selama perlakuan layak untuk kehidupan ikan mas. Suhu pada saat pemeliharaan adalah 28-290C. Menurut Khairuman (2013), suhu air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 25-30oC. Nilai pH selama pemeliharaan berkisar antara 7.5-8.0. Hal ini sesuai dengan Agus (2001), kisaran pH 6,5-8,5 merupakan kondisi yang baik untuk pertumbuhan ikan. Kandungan oksigen terlarut kurang dari 1 mg/L akan mematikan ikan dan pada kandungan antara 3-5 mg/l cukup mendukung kehidupan ikan (Agus, 2001). hal ini sesuai dengan hasil yaitu berkisar antara 4,4-5,6 mg/L. Amoniak selama perlakuan berkisar antara 0,07. Menurut Boyd (1982), konsentrasi amoniak yang ideal dalam air bagi kehidupan ikan tidak boleh melebihi 1 ppm. Karena jika konsentrasinya berlebih akan menghambat daya serap hemoglobin dalam darah. Menurut Supriyatna, (2013) kisaran konsentrasi ammoniak yang baik untuk kehidupan ikan adalah kurang dari 2,4 mg/L.

Menurut Susanto (1998), kisaran kelayakan temperatur air bagi ikan mas adalah 14-38ᴼC. Menurut Supriyatna, (2013) menyatakan bahwa kandungan oksigen dalam suatu perairan minimum sebesar 2 mg/L, sudah cukup mendukung terhadap organisme perairan secara normal.

Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa kualitas air selama penelitian memenuhi persyaratan optimum untuk budidaya ikan mas sehingga kematian ikan mas selama penelitian bukan disebabkan oleh kondisi perairan melainkan karena serangan bakteri Aeromonas hydrophila.

(44)

28

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun pepaya untuk pengobatan ikan mas yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila melalui perendaman selama 48 pada konsentrasi 1200 ppm (perlakuan C) merupakan perlakuan yang lebih baik dengan kelangsungan hidup ikan sebesar 96,67%.

5.2. Saran

Dalam upaya penanggulangan hama dan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, sebaiknya menggunakan bahan alami yang bersifat antibakteri seperti daun pepaya. Karena daun pepaya memiliki kemampuan yang sangat efektif dalam mengobati ikan yang terinfeksi bakteri sehingga diharapkan mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang umumnya sering dihadapi oleh pembudidaya dalam upaya meningkatkan produksi hasil budidaya.

(45)

29

DAFTAR PUSTAKA

Agus. 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar. Yogyakarta:

Kanisiau.

Agustian R. 2007. Penggunaan Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum) Untuk Pengendalian Infeksi Vibrio Haveyi Pada Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei). (skripsi). Fakultas peikanan dan ilmu kelautan.

Institut pertanian bogor.

Amadioha AC. 1998. Control of Powdery Mildew in Pepper (Capsicum Annum L) By Leaf Eksracts Of Papaya (Carica Papaya L). Journal of Herbs, Spicesand Medicinal Plants 6: 41-46

Anderson DP. 1992. Fish Immunology. Di dalam : Snieszko dan HR Axelrod.

1971. Disease of Fishes. TFH Publication Ltd., Hongkong.

Angka SL. 2005. Kajian Penyakit Motile Aromonad Septicemia (MAS) pada Ikan Patologi, Pencegahan Dan Pengobatannya Dengan Fitofarmaka.

Disertasi. Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Anonim. 2007. Tahukah Anda Manfaat Daun Pepaya.

http://ipathikmat.blogspot.com/2008/01/pepaya-carica-papaya.html (8 April 2008)

Ardina Y. 2007. Development of antiance gel formulatio and minimum inhibitory concentrasion determination from Carica papaya leaves extract (Carica papaya Linn). http://digilib.itb.ac.id.php (27 ktober 2008).

Austin B, Austin DA.1986. Bacterial Fish Patogen “Diseases In Farmed and Wild Fish”. Second Edition. Ellis Horwood Limited, England. Hal:173- 177.

Boyd, C.E. 1982. Water Quality Management for Pond Fish Culture. International Centre for Aquaculture Experiment Station, Auburn University, Auburn.

Buckly JT, Halasa LN, Lund KD, Mac Intyre S. 1981. Purification and some properties of the haemolytic toxin aerolysin. J Bhiochem can 56 : 430 - 435

Effendi, 1997. Metode Biologi Perikanan, Yayasan Dewi Sri: Bogor.

Effendi, M. I. 1998. Memelihara Ikan Mas dalam Aquarium. Yogyakarta: Kanisius

(46)

30

Fauci A. 2001. Pengaruh Pemberian Levamissol dan Saccharomyces cereviceaeDosis 60 ppm terhadap Gambaran Darah Ikan Mas (Cyprinus carpio) yang diinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila (Skripsi). Bogor:

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Fletcher, T.C. 1982. Non-specific Defence Mechanisms of Fish. Developmental and Comparative Immunology.

Gasperz, V., 1991. Metode Perancangan Percobaan Untuk Ilmu Pertanian, Ilmu Teknik dan Ilmu Biologi. Bandung: Armico.

Ghufran dan Kordi. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta: PT.

Sadi Mahasatya.

Hasim D. 2003. Menanam rumput, menanam antibiotik.

http://destiutami.wordpress.com/2007/02/27/menanam-rumput-menanam- antibiotik/ (11 Desember 2008).

Isohood, J.H., Drake. 2002. Review: Aeromonas spesies in foods. J Food Prot 65:

576-582.

Julianti. 2001. Petunjuk Teknis Budidaya iIkan Mas. Jakarta: Direktorat Jendral Perikanan..

Kabata Z. 1985. Parasites and Disease of Fish Cultureed in Tropics. London:

Taylor and Francis.

Kalie MB. 2006. Bertanam Pepaya. Penebar Swadaya: Jakarta

Kamiso dan Triyanto. 1993. Vaksinasi Aeromonas hydrophila untuk Menenggulangi Penyakit MAS pada ikan Mas. Jakarta: Simposiaum Perikanan Indonesia.

Khairuman, 2013. Budidaya Ikan Mas. Penerbit Agromedia pustaka, 2013.

Krieg, N.R. dan J.G. Holt. 1984. Bergey’s Manual of Systematik Bacteriology.

Edisi ke-1. United States of American Baltomore: Williams & Wilkins Company

Markham KR. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Koasasih Padmawinata (Penerjemah). Bandung: ITB.

Marsul N. 2005. Potensi Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya) Terhadap Pertumbuhan Cendawan pada Perkembangan Awal Ikan Gurame (Osphoronemus Guarany). (Skripsi). Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan. ITB.

(47)

31

Naiborhu PE. 2002. Eksraksi dan Manfaat Ekstrak Mangrove (Sonneratia alba dan sonnerata caselaris) sebagai Bhan Alam Antibakterial pada Patogen.

Program Stud Ilmu Perairan. Institut Pertanian Bogor Naim, R. 2004. Senyawa Antimikroba dari Tanaman

http://www2.kompas.com/kompascetak/0409/15/sorotan/1265264.htm (5 Juli 2008).

Plumb, J.A. 1994. Health Maintenance of Cultured fish. Principal Microbial Diseases. Ch III Pathology. CRS. Press In Boca Raton. Florida. pp 37- 45.

Plumb, J.A. 1994. Health Maintenance of Cultured fish. Principal Microbial Diseases. Ch III Pathology. CRS. Press In Boca Raton. Florida.

Rahman MF. 2008. Potensi Antibakteri Ekstak Daun Pepaya pada Ikan Gurami yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila. (Skripsi). Fakultas Kedokteran Hewan. ITB.

Roller S. 2003. Natural Antimicrobial for the Animal Processing of Foods. CRC Pres: Boca Ratom Bostom New york Wasinton DC.

Santoso, B. 2000. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Mas. Kanisius. Yogyakarta.

27-29 hal.

Steenis V. 1978. Flora untuk Sekolah di Indonesia. Moeso Surjowinoto dkk.

(Penerjemah). Pradnya Paramita : Jakarta.

Sukamto. 2007. Cara-Cara Pengobatan Ikan Dengan Menggunakan Ekstrak Tanaman Herbal. Warta Puslitbangbun. Vol. 13 No. 3.

Supriyadi, H. Dan A. Rukyani. 1990. Imunoprofilaksis Dengan Cara Vaksinasi Pada Usaha Budidaya Ikan. Hal:64-70. Prosiding SeminarNasional II Penyakit ikan dan Udang. Bogor: Balai Penelitian Perikanan Air Tawar.

Supriyatna, Y. 2013. Budidaya Ikan Mas Dikolam Hemat Air, cetakan pertama.

Penerbit : PT Agromedia putaka. Jakarta selatan. 2013.

Susanto H dan Amri K. 1998. Budidaya Ikan Mas. Jakarta: Penebar Swadaya.

Suseno, 1994. Budidaya Ikan Mas Cyprinus carpio L. Cetakan I. Yogyakarta:

Kanisius .

Takashima, F. Dan T. Hibiya. 1995 An Atlas of Fish Histology Normal and Pathological Features Fumio. Second Edition. Gustav Fisher Verlag.

Kodansha. Tokyo. 195 hal.

(48)

32

Walczak, B.Z. 1985. Immune Capability of Fish. A Literature Review. Canadian Technical Report of Fisheries and Aquatic Sciences.

(49)

Lampiran 1. Nilai Persentase Sintasan Ikan Uji, Analisis Data dengan Anova dan dan Uji Lanjut BNT

Sintasan Ikan Uji

PERLAKUAN ULANGAN

JUMLAH RATA-

RATA

I II III

A 70 80 80 230 76,67

B 80 70 80 230 76,67

C 90 100 100 290 96,67

D 90 90 90 270 90,00

JUMLAH 330 340 350 1020 85,00

Tabel Annova

SK DB JK KT F.Hit F.Tabel

Perlakuan 3 900 300 12 0,05 0,01

Galat 8 200,00 25,00 4,07 7,59

Total 11 1100,00

KK 6%

Uji Lanjut BNT PERLAKUAN

RATA-

RATA KET.

A 76,67 b

B 76,67 b

C 96,67 a

D 90,00 a

JUMLAH PER = 4

JUMLAH KEL = 3

FAKTOR KOR= 86700

SUMSQ TOT = 87800

SUMSQ KEL = 347000

SUMSQ PER = 262800 Nilai T. Tabel 2,31 Nilai Pembanding BNT 2,65

(50)

Lampiran 2. Parameter kualitas air ikan mas (Cyprinus carpio L)

Perlakuan Suhu pH DO Amoniak

A.(800 ppm) B.(1000 ppm) C.(1200 ppm) Kontrol

28 28 28 28

7.58 7.70 7.78 7.59

5.6 5.5 6.2 5.9

0.07 0.07 0.08 0.08

(51)

Lampiran 3. Foto Kegiatan

Gambar 1. Mencuci akuarium

Gambar 2. Pengisian air pada akuarium

Gambar 3. Perendaman ikan dengan larutan garam

(52)

Gambar 4. Menimbang daun pepaya

Gambar 5. Blender untuk menghaluskan daun pepaya

Gambar 6 . Daun pepaya setelah di blender

(53)

Gambar 7. pH dan termometer Gambar 8. Pengukuran kualitas air

Gambar 9. Botol sampel untuk kualitas air (DO)

Gambar 10. Spoit dan bakteri A. Hydrophila Gambar 11. Penginfeksian ikan

(54)

Gambar 12. Ekstrak daun pepaya

Gambar 13. Ekstrak daun pepaya yang siap dituangkan kewadah perlakuan

Gambar 14. Ekstrak daun pepaya dituangkan ke wadah perlakuan

(55)

Gambaar 15. Pengamatan gejala klinis

Referensi

Dokumen terkait

Kata Kunci : Manajemen Risiko, Manajemen Risiko Pembiayaan Mudharabah , Penilaian Likuiditas. Dinamika perkembangan perbankan syariah di Indonesia tumbuh semakin

Zamjena vanjske stolarije Zamjena stare rasvjete Toplinska izolacija vanjskog zida vanjskog zida.. prikazuje za koliki se postotak smanjila potrošnja primarne energije

Batang C (aluminium dengan massa 7,4 g) pada putaran 22 rpm dengan sudut masuk 20 o gagal memasuki celah pemuatan, sedangkan batang yang kasar, batang D berbahan baja, keberhasilan

Dari Hurairah RA, sesungguhnya Rosulullah SAW bersabda: Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya menuju surga. Muslim) 11 Contoh

Dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan variasi bahan additive jenis lain untuk mengetahui pengaruh campuran bahan pada deep soil mix (DSM). Menggunakan

Menyatakan bahwa skripsi “ Uji Viabilitas Bakteri Asam Laktat yang Diisolasi dari Hasil Fermentasi Sawi Pahit pada Kadar Garam 5% sebagai Starter Minuman Probiotik Air

untuk mengukur apa yg disebut ke-dapat- dipercaya-an dari informasi routing yang diterima oleh sebuah router dari router tetangga. AD adalah sebuah bilangan integer 0 –

• Seluruh host pada jaringan yang sama harus memiliki broadcast address yang sama dan alamat tersebut tidak boleh digunakan sebagai nomor IP untuk host tertentu. •