• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

D. Kanker Serviks

4. Gejala dan Tanda

Perlu dimasyarakatkan upaya pengenalan kasus secara dini melalui program skrining. Tingkat keberhasilan pengobatan sangat baik pada stadium dini dan hampir tidak terobati bila tumor telah menyebar sampai dinding panggul atau organ di sekitarnya seperti rektum dan kandung kemih. Pemeriksaan pap smear bertujuan untuk menganali adanya perubahan awal sel epitel serviks hingga dapt dilakukan tindakan pencegahan terjadinya kanker invasif. Pap smear ini menjadikan kanker serviks sebagai suatu penyakit yang dapat dicegah.

Sebagaimana lazimnya pencegahan terhadap sesuatu jenis penyakit, perlu diwaspadai adanya faktor risiko dam ketersediaan sarana diagnostik serta penatalaksanaan kasus sedini mungkin. Lesi kanker serviks yang sangat dini ini dikenal sebagai servikal intraepitelial neoplasia (Cervical Intraephithelial Neoplasia) yang ditandai dengan adanya perubahan displastik epitel serviks.

Kecepatan pertumbuhan kanker ini tidak sama dari kasus dengan kasus lainnya. Sayangnya bagaimana mekanisme keadaan ini dapat terjadi belum dapat dijelaskan. Namun, pada penyakit yang pertumbuhannya sangat lambat bila diabaikan sampai lama juga tidak mungkin terobati. Sebaliknya, tumor yang tumbuh dengan cepat bila dikenali secara dini hasil pengobatannya lebih baik. Semakin dini penyakit dapat dikenali dan dilakukan terapi yang adekuat, semakin memberi hasil terapi yang sempurna.

Walaupun telah terjadi invasi sel tumor kedalam stroma, kanker serviks masih mungkin tidak menimbulkan gejala. Tanda dini kanker serviks tidak spesifik seperti adanya sekret vagina yang agak banyak dan kadang – kadang dengan bercak perdarahan. Umumnya tanda yang sangat minimal ini sering diabaikan oleh penderita.

Tanda yang lebih klasik adalah perdarahan bercak yang berulang, atu perdarahan bercak setelah bersetubuh atau membersihkan vagina. Dengan makin tumbuhnya penyakit tanda menjadi semakin jelas. Perdaran menjadi semakin banyak, lebih sering dan berlangsung lebih lama. Namun, terkadang keadaan ini diartikan penderita sebagai perdarahan haid yang sering dan banyak. Juga dapat dijumpai sekret vagina berbau terutama dengan massa nekrosis lanjut. Nekrosis terjadi karena pertumbuhan tumor yang cepat tidak diimbangi pertumbuhan pembuluh darah

(angiogenesis) agar mendapat aliran darah yang cukup. Nekrosis ini menimbulkan bau yang tidak sedap dan reaksi peradangan non spesifik.

Pada stadium lanjut ketika tumor telah menyebar keluar dari serviks dan melibatkan jaringan di rongga pelvis dapat dijumpai tanda lain seperti nyeri yang menjalar ke pinggul atau kaki. Hal ini menandakan keterlibatab ureter, dinding panggul, atau nervus skiatik. Beberapa penderita mengeluhkan nyeri berkemih, hematuria, perdarahan rektum sampai sulit berkemih dan buang air besar. Penyebaran ke kelenjar getah bening tungkai bawah dapat menimbulkan oedema tungkai bawah, atau terjadi uremia bila terjadi penyumbatan kedua ureter (Sarwono, 2006, hlm. 444).

Keputihan yang berulang dan nyeri pinggang belum tenu penyakit batu ginjal. Ada kemungkinan lain, yaitu kanker serviks. Pada 92% lesi prakanker tidak terdapat gejala, dan kalaupun ada hanya berupa rasa kering di vagina, atau keputihan berulang/tidak sembuh – sembuh walaupun sudah diobati. Gejala klinis jika sudah menjadi kanker serviks dapat dibedakan dalam beberapa tahapan/stadium kanker serviks, yaitu sebagai berikut:

a. Gejala Awal

1) Perdarahan pervagina / lewat vagina, berupa perdarahan pasca senggama atau perdarahan spontan di luar masa haid. Perdarahan pasca senggama bisa terjadi bukan karena disebabkan oleh adanya kanker serviks, melainkan karena iritasi mikro lesi atau luka – luka kecil di vagina saat bersenggama. Serviks yang normal konsistensinya kenyal dan permukaan licin. Adapun serviks yang sudah berubah menjadi kanker bersifat rapuh, mudah berdarah, dan diameternya biasanya membesar. Serviks yang rapuh tersebut akan mudah berdarah pada saat aktivitas seksual sehingga terjadi perdarahan

pasca senggama. Oleh karena itu, apapun bentuk perdarahan pasca senggama, sudah seharusnya diperiksakan dengan seksama untuk melihat adakah tanda – tanda kanker pada serviks.

2) Keputihan yang berulang, tidak sembuh – sembuh walaupun telah diobati. Keputihan biasanya berbau, gatal, dan panas karena sudah ditumpangi infeksi sekunder. Artinya cairan yang keluar dari lesi prakanker atau kanker tersebut ditambah infeksi oleh kuman, bakteri ataupun jamur.

Tidak semua keputihan terkait dengan kanker serviks. Ini penting dipahami karena bisa menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan dan tidak pada tempatnya,

Keputihan yang normal ciri – ciri seperti terjadi menjelang haid, lendir jernih, tidak berbau, dan tidak gatal. Keputihan yang wajarnbisa terjadi pada semua wanita disebabkan karena kelembapan serta kebersihan yang kurang pada daerah kewanitaan atau vagina. Biasanya, disertai infeksi oleh kuman/bakteri dan jamur. Keputihan jenis ini akan sembuh dengan pengobatan dan kalaupun kambuh perlu waktu cukup lama.

Keputihan yang harus diwaspadai adalah jika keputihan terjadi bersamaan dengan penyakit kelamin, misalnya Gonorea dan Sifilis. Karena virus HPV bisa juga ditularkan bersamaan dengan kuman penyebab sakit kelamin tersebut.

b. Gejala lanjut : Cairan keluar dari liang vagina berbau tidak sedap, nyeri (panggul, pinggang dan tungkai), gangguan berkemih, nyeri di kandung kemih dan rektum. Keluhan ini muncul karena pertumbuhan kanker tersebut menekan / mendesak ataupun menginvasi organ sekitarnya.

c. Kanker telah menyebar / metastatis : timbul gejala sesuai dengan organ yang terkena, misalnya penyebaran di paru – paru, liver, atau tulang.

d. Kambuh / residif : bengkak / edema tungkai satu sisi, nyeri panggul menjalar ke tungkai, dan gejala pembuntuan saluran kencing / obsruksi ureter.

Pemerikasaan fisik dengan spekulum vagina bisa menemukan lesi tumor atau benjolan yang masih terlokalisasi di serviks atau telah meluas ke puncak vagina dengan warna kemerahan dan mudah berdarah, dengan atau tanpa gambaran jaringan yang rapuh, disertai darah atau jaringan yang berbau.

Pemeriksaan dalam melalui vagina dapat meraba perluasan ke vagina, sedang pemeriksaan rektal dapt mengetahui perluasan ke dinding panggul. Kalau penyakit sudah meluas ke luar panggul, dapat ditemukan pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati, massa/benjolan di perut, panggul, hidronefrosis atau efusi pleura / cairan di paru – paru atau penyebaran ke tulang (Samadi, 2011).

Dokumen terkait