BAB IV TEMUAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
12. Generalisasi
Merupakan kebalikan dari teknik partikularisasi, dalam penelitian ini hanya hanya dijumpai 1 teknik generalisasi (0, 14%). Teknik generalisasi dapat diidentifikasi dari pemakaian istilah yang lebih umum atau netral dalam BSa.
Tabel 18. Contoh Penggunaan Teknik Generalisasi
No Bahasa Sumber Bahasa Sasaran
1. And what happens to disobedient deceitful girls when they die?
Dan apa yang terjadi pada anak pembangkang dan pembohong..jika mereka meninggal?
Dengan menggunakan teknik generalisasi, kata girls yang sebenarnya
memiliki arti “anak-anak perempuan” diganti dengan istilah yang lebih umum
dalam BSa, yakni kata “anak.”
Sebagai salah satu jenis penerjemahan audiovisual, bukan hanya dialog berupa trek suara atau audio dalam mini seri ini yang diterjemahkan ke dalam bentuk subtitle, namun unsur-unsur visual lain yang tidak audible yang terdapat di dalamnya juga. Dalam episode pertama Jane Eyre yang menjadi kajian dalam penelitian ini, hanya terdapat dua bentuk subtitle yang merupakan terjemahan dari wujud visual dalam mini seri ini, yaitu judul sebuah buku yang kebetulan muncul pertama kali pada awal cerita dan sebuah kata yang tertulis pada papan yang tergantung pada leher Jane, sang tokoh utama. Secara berurutan, kedua kata-kata tersebut adalah voyages and travels illustratedcommit to user dan liar yang diterjemahkan
menjadi “petualangan dan perjalanan” dengan menggunakan teknik kalke dan
reduksi serta kata “pembohong” yang diterjemahkan dengan teknik kalke.
1.2. Metode Penerjemahan
Dari hasil pembahasan sebelumnya mengenai teknik-teknik penerjemahan, diketahui bahwa dari seluruh jenis teknik yang digunakan pada subtitle film Jane Eyre yaitu sebanyak 12 teknik, 3 teknik diantaranya meupakan teknik-teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber, yakni: 1) penerjemahan literal; 2) peminjaman murni; dan 3) kalke. Kemudian, 9 teknik lainnya yakni: 1) padanan lazim; 2) transposisi; 3) amplifikasi; 4) amplifikasi linguistik; 5) reduksi; 6) modulasi; 7) kompresi linguistik; 8) partikularisasi; dan 9) generalisasi, termasuk teknik-teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran. Teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber memiliki jumlah total frekuensi pemggunaan 173 kali atau sebanyak 25, 24% dan sejumlah 512 lainnya merupakan frekuensi penggunaan teknik penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sasaran dengan jumlah prosentase 74, 76%. Dari jumlah tersebut dapat dilihat bahwa teknik-teknik yang digunakan lebih banyak berorientasi pada bahasa sasaran sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan bahwa metode yang dipergunakan juga cenderung berorientasi pada bahasa sasaran. Sesuai dengan jenis-jenis metode penerjemahan yang dikemukakan oleh Newmark (1988), dari empat metode yang berorientasi pada bahasa sasaran; yaitu adaptasi, penerjemahan bebas, penerjemahan idiomatik, dan penerjemahan komunikatif; metode yang
adalah penerjemahan komunikatif. Metode ini digunakan dengan mengalihkan makna kontekstual teks asli secara tepat sehingga aspek kebahasaan maupun isinya langsung dapat dimengerti oleh pembaca tanpa menimbulkan kesulitan bagi pembacanya. Penerjemahan komunikatif menekankan pada efek yang ditimbulkan kepada pembacanya dengan memperhatikan unsur-unsur yang terdapat dalam BSu dan BSa, seperti unsur-unsur budaya.
Ciri-ciri metode penerjemahan ini dapat ditemui dalam subtitle film Jane Eyre. Pemakaian istilah-istilah yang lazim atau dikenal dalam bahasa sasaran merupakan salah satunya, contohnya adalah kata benda pada ujaran no 275, Ah! Mercenary girl!, yang diterjemahkan ke dalam BSa dengan teknik padanan lazim
menjadi “gadis mata duitan!.” Istilah ini telah dikenal masyarakat dalam BSa
secara luas dan menimbulkan kesan tersendiri bagi pemirsa film ini karena istilah ini berkaitan dengan budaya dalam BSa. Menilik definisi kata sifat mercenary dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary (1995), yaitu mainly concerned with making money or gaining some personal advantage, maka padanan kata benda yang digunakan dalam BSa dirasa sudah tepat. Penggunaan istilah semacam ini juga dapat ditemui dalam ujaran no 283, all young people wish to travel. Kata- kata bergaris bawah pada ujaran tersebut diterjemahkan ke dalam BSa menjadi
“muda-mudi.” Kesan atau efek yang ditimbulkan kepada pemirsa film tentu akan
berbeda jika kata-kata all young people ini diterjemahkan dengan menggunakan
istilah yang berbeda, “orang-orang muda” atau “semua anak muda” misalnya.
Meskipun istilah “anak muda” merupakan istilah yang lazim dalam BSa, istilah
“muda-mudi” lebih dekat dengan pemirsa dalam BSa karena “kekhasan” gaya Bahasa Indonesia lebih terasa.
Ciri lain dari penerjemahan komunikatif, yaitu pengalihan makna kontekstual untuk memudahkan pemahaman pemirsa, dapat pula ditemui dalam subtitle film ini. Contoh yang tepat untuk hal ini adalah ujaran even if they find kindness and food and a fire. Kata-kata bergaris bawah pada ujaran BSu tersebut
diterjemahkan menjadi “meski mereka hidup berkecukupan”. Ujaran ini memang
tergolong terjemahan yang kurang akurat, namun sangat berterima di dalam BSa. Terjemahan ini disebut sebagai terjemahan dengan tingkat keberterimaan tinggi karena dalam BSa, hubungan antara makanan dan api atau perapian dengan kehidupan yang nyaman atau berkecukupan tidak dapat dipahami dengan baik atau dengan kata lain, tidak ada relasi antara keduanya. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi lingkungan dan cuaca antara kedua negara. Negara tempat pemirsa BSu berada memiliki empat musim berbeda yang salah satunya adalah musim dingin. Saat musim ini tiba, persediaan makanan (dan kayu bakar) yang cukup, dan perapian menjadi pusat perhatian atau hal yang sangat penting bagi para penduduknya, terutama penduduk Inggris pada tahun 1848, setting waktu yang diceritakan pada film. Karena udara yang dingin, para penduduk memerlukan perapian untuk menghangatkan badan. Pada masa sekarang ini, fungsi api perapian dapat digantikan dengan alat pemanas ruangan. Sedangkan Indonesia, tempat para pemirsa BSa berada, hanya memiliki dua musim tidak termasuk musim dingin atau salju. Sehingga konsep makanan dan perapian serta
BSa. Oleh karena itu, dengan penggunaan teknik kompresi linguistik maupun reduksi, penerjemah memutuskan untuk memakai istilah “hidup berkecukupan” untuk memberikan gambaran yang jelas dan mudah dipahami oleh pemirsa BSa.
1.3. Ideologi Penerjemahan
Melalui hasil yang didapatkan dari analisis dan pembahasan mengenai teknik dan metode penerjemahan yang diterapkan dalam penerjemahan film Jane Eyre, dapat disimpulkan bahwa ideologi penerjemahan yang cenderung digunakan oleh penerjemah dalam menerjemahkan ujaran-ujaran berupa dialog dalam film ini adalah ideologi domestikasi. Sebelumnya, didapatkan hasil bahwa teknik- teknik penerjemahan yang digunakan dalam menerjemahkan setiap ujaran dalam film cenderung dekat pada BSa sehingga metode yang digunakan pun berorientasi pada BSa. Dalam penerjemahan domestikasi atau domesticating translation, nilai- nilai budaya yang dominan yang terdapat dalam masyarakat BSa dapat terbawa pada saat proses penerjemahan berlangsung. Hal ini terlihat jelas dalam subtitle film Jane Eyre.