Mengapa Ekonom
GENERASI YANG AKAN DATANG
Dengan fenomena pemanasan global, kerusakan lingkungan yang makin memburuk dan sumber daya alam (SDA) yang makin menipis dari waktu ke waktu, kegiatan ekonomi yang tidak intensif dalam penggunaan SDA tetapi tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sangat diperlukan. Pengembangan ekonomi kreatif, yang mengandalkan sumber daya insani sebagai elemen utamanya, menjadi jawaban yang tepat untuk mendukung pemikiran tersebut. Pekerjaan di dalam industri kreatif (creative jobs) cenderung menggunakan infrastruktur dan luas tanah yang relatif sedikit, menghasilkan tingkat pencemaran lingkungan yang lebih rendah, dan terutama, menggunakan SDA yang lebih sedikit.
Dengan demikian pertumbuhan ekonomi tidak menjadi terhambat dengan berkembangnya industri kreatif yang hemat SDA ini, melainkan tumbuh semakin pesat dengan memberikan ruang tumbuh bagi generasi mendatang.10 Tujuan utama pengembangan industri kreatif dalam kaitannya dengan pembangunan yang berkelanjutan adalah mengurangi laju ekstraksi sumber SDA di Indonesia, yang menunjukkan bahwa industri kreatif yang berbasis pengetahuan dan kreativitas berhasil menggantikan peran industri berbasis SDA. Hubungan antara pengembangan industri kreatif yang intensif dengan human capital, pengurangan ekstraksi SDA dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan digambarkan dengan kerangka sebagai berikut.
Gambar 20 Industri Kreatif dan Pembangunan Berkelanjutan
Pengalaman di negeri maju seperti di Orange County (Amerika Serikat) menunjukkan bahwa dengan semakin menjamurnya industri kreatif di sana, maka semakin banyak ruang terbuka dan semakin meminimasi penggunaan SDA bagi keperluan industri. Sumber daya alam yang masih tersedia dapat dilestarikan atau digunakan untuk kepentingan lainnya sebesar‐besarnya bagi kesejahteraan umat manusia (Schuster, 2007).
Beberapa sektor industri kreatif banyak menggunakan bahan baku berdasarkan kertas dan kayu sebagai produk hasil hutan, seperti industri kerajinan, penerbitan dan percetakan, atau fesyen. Pada saat yang sama, laju perusakan hutan (deforestasi) di Indonesia saat ini merupakan yang ketiga terbesar di dunia, dengan berbagai estimasi menunjukkan beberapa angka yang berbeda (1,08 juta hektar, 1,6 juta hektar, atau 1,8 juta hektar per tahun), kesemuanya dalam kisaran 1 sampai 2 juta hektar per tahun. Dengan luas hutan alam lebih dari 120,35 juta hektar, Indonesia sangat berperan penting dalam isu pengurangan emisi karbon. Beberapa fakta berikut membuat isu perusakan hutan di Indonesia menjadi semakin krusial untuk di atasi dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan11:
• Laju deforestasi Indonesia mencapai 2% per tahun.
• Indonesia menyumbang sepertiga dari 20% emisi global yang berasal dari deforestasi atau sekitar 7,5 miliar ton CO2.
• Dengan menurunkan emisi karbondioksida Indonesia berpeluang memperbaiki iklim dunia dari perubahan yang drastis
Industri kreatif dapat berkontribusi sangat besar dalam pengurangan deforestasi tersebut dengan meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan oleh produk berbasis sumber daya alam yang berasal dari hutan, secara relatif terhadap tingkat ekstraksi hasil hutan.
Industri kerajinan Indonesia yang bisa lebih banyak menghasilkan nilai tambah dari produk berbahan baku kayu atau rotan, tetapi dengan menggunakan lebih sedikit material tersebut, akan sangat besar perannya. Industri penerbitan dan percetakan yang mampu beralih lebih banyak menggunakan sarana digital sebagai media penyampaian –atau paling tidak kertas daur ulang, jika terdapat hambatan kultural dan finansial untuk menerapkannya secara seketika– juga akan sangat mendukung pengurangan penggunaan kertas sebagai hasil hutan. Industri fesyen dengan serat tekstil sebagai bahan baku utama juga dapat berkontribusi dalam pengurangan perusakan hasil hutan, misalkan jika lebih banyak menggunakan serat tekstil yang dihasilkan lewat proses yang ramah lingkungan.
Dalam laporan IPCC Asessment 4, tahun 2007, pengurangan laju kerusakan hutan dapat turut mengurangi emisi karbon sebesar 350‐900 CO2/hektar. Dengan kata lain, jika laju kerusakan hutan di Indonesia yang 1,6 juta ha/tahun dapat diturunkan menjadi 1,5 juta ha/tahun saja, maka Indonesia punya andil besar dalam mengurangi emisi karbon akibat deforestasi di dunia walupun Indonesia sebagai negara berkembang, tidak punya kewajiban yang mengikat.
Indonesia saat ini sudah mendukung usaha‐usaha untuk mengurangi pemanasan global dan kerusakan lingkungan dengan terlibat dalam United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang diadakan di Nusa dua, Bali, 3‐14 Desember 2007.
Dalam Konvensi tersebut berhasil dicapai kesepakatan‐kesepakatan sebagai berikut:12 Adaptasi
Negara peserta konferensi sepakat membiayai proyek adaptasi di negara‐negara berkembang, yang ditanggung melalui clean development mechanism (CDM) yang ditetapkan Protokol Kyoto. Proyek ini dilaksanakan oleh Global Environment Facility (GEF).
Kesepakatan ini memastikan dana adaptasi akan operasional pada tahap awal periode komitmen pertama Protokol Kyoto (2008‐2012). Dananya sekitar 37 juta euro. Mengingat jumlah proyek CDM, angka ini akan bertambah mencapai sekitar US$ 80‐300 juta dalam periode 2008‐2012.
Namun negara‐negara peserta belum sepakat mengenai pelaksanaan praktis adaptasi, misalnya bagaimana cara menyatukan dalam kebijakan nasional. Isu ini diagendakan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya yang disebut badan tambahan untuk saran ilmiah dan teknis di Bonn (Jerman) pada tahun 2008.
Teknologi
Peserta konferensi sepakat untuk memulai program strategis untuk alih teknologi mitigasi dan adaptasi yang dibutuhkan negara‐negara berkembang. Tujuan program ini adalah memberikan contoh proyek yang konkret, menciptakan lingkungan investasi yang menarik, termasuk memberikan insentif untuk sektor swasta untuk melakukan alih teknologi. GEF akan menyusun program ini bersama dengan lembaga keuangan internasional dan perwakilan‐perwakilan dari sektor keuangan swasta.
Peserta juga sepakat memperpanjang mandat Grup Ahli Alih Teknologi selama 5 tahun. Grup ini diminta memberikan perhatian khusus pada kesenjangan dan hambatan pada penggunaan dan pengaksesan lembaga‐lembaga keuangan.
REDD
Reducing emissions from deforestation in developing countries (REDD) merupakan isu utama di Bali. Para peserta UNCCC sepakat untuk mengadopsi program dengan menurunkan pada tahapan metodologi.
REDD akan fokus pada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah pengurangan emisi dari deforestasi. Deforestasi dianggap sebagai komponen penting dalam perubahan iklim sampai 2012.
IPCC
Peserta sepakat untuk mengakui Laporan Assessment Keempat dari the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai assessment yang paling komprehensif dan otoritatif.
CDM
Peserta sepakat untuk menggandakan batas ukuran proyek penghutanan kembali menjadi 16 kiloton CO2 per tahun. Peningkatan ini akan mengembangkan angka dan jangkauan wilayah negara CDM ke negara yang sebelumnya tak bisa ikut mekanisme ini.
Negara Miskin
Peserta sepakat memperpanjang mandat Grup Ahli Negara Miskin atau the Least Developed Countries (LDCs) Expert Group. Grup ini menyediakan saran kritis untuk negara miskin dalam menentukan kebutuhan adaptasi. UNCCC sepakat negara‐negara miskin harus didukung karena kapasitas adaptasinya yang rendah
Berdasarkan pemaparan di atas, maka sasaran dukungan industri kreatif terhadap pemberian manfaat berkelanjutan bagi bumi dan generasi yang akan datang, yaitu:
Periode Penguatan Pondasi dan Pilar, 2008‐2014
Pada tahap ini, sasaran yang ingin dicapai adalah mendukung pengurangan laju deforestasi 0,1 juta ha pertahun yang akan dilakukan lewat mekanisme REDD (Reduced Emission on Deforestation and Destruction) berdasarkan hasil Bali Roadmap.
Periode Akselerasi, 2015‐2024
Pada tahap ini, sasaran yang ingin dicapai adalah untuk melanjutkan mendukung pengurangan laju deforestasi berdasarkan kesepakatan baru pasca‐Kyoto 2012.13