Analisis & Pemetaan Kondisi Pondasi & Pilar Ekonomi
S UMBER D AYA I NSANI (P EOPLE )
3. Struktur Industri
• Jumlah perusahaan dalam industri dan hambatan masuk ke industri
− Industri kreatif yang membutuhkan capital expenditure cukup tinggi adalah industri televisi dan film. Sedangkan industri periklanan membutuhkan operational expenditure yang tinggi. Hambatan memasuki industri yang membutuhkan capital dan operational expenditure yang tinggi, membuat jumlah perusahaan cenderung lebih sedikit dibandingkan pada subsektor industri kreatif lain.
+ Otonomi dan pemerintah daerah yang cenderung ingin memiliki stasiun televisi daerah cukup membantu dalam menambah jumlah stasiun televisi.
+ Demikian juga pada industri film, mekanisme film independen makin membuka peluang industri ini semakin kompetitif dalam jumlah.
• Sebaran industri sangat dipengaruhi oleh: lokasi bahan baku, lokasi pekerja trampil, dan lokasi pasar. Industri‐industri kreatif yang menghasilkan barang, seperti kerajinan, fesyen, penerbitan dan percetakan, diharapkan berada dalam satu lokasi geografis yang berdekatan dengan industri yang terkait (ke arah hulu maupun ke arah hilir) serta dekat dengan bahan baku atau pasarnya. Hal ini tentunya akan meminimasi biaya dan waktu transportasi yang akhirnya akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri. Ini menyebabkan ketiga industri ini tersebar hampir di seluruh Indonesia. Sedangkan industri kreatif lainnya, cenderung berada di Jakarta, Jawa Barat dan sekitarnya, terutama karena pasar dan pekerja trampilnya berada di wilayah tersebut.
− Masih terdapat beberapa industri dimana lokasi industri masih jauh dari lokasi bahan bakunya. Kondisi ini mengurangi efisiensi dan daya saing (relokasi, budidaya, infrastruktur).
+ Beberapa industri memang sebaiknya mengumpul, seperti film dan periklanan. Efisiensi produksi merupakan pertimbangan utama. Laboratorium dan studio biasanya digunakan bersama oleh setiap perusahaan.
+ Beberapa industri tidak terlalu bermasalah jika mengumpul atau tersebar. Hal ini disebabkan terdapat beberapa karakter subsektor industri kreatif, yaitu: (a) tidak terlalu membutuhkan bahan baku sumber daya alam; (b) mampu menjangkau konsumen melalui jalur distribusi virtual (internet dan satelit); (c) jalur distribusi yang sudah ada cukup memadai (toko kaset);(d) atau tidak terlalu membutuhkan mobilitas fisik produk dan pekerja.
• Beberapa kondisi Industri pendukung dan bahan baku, terutama pada subsektor industri kreatif yang menghasilkan barang tangibles adalah sebagai berikut:
+ Jumlah bahan baku yang besar, merupakan keunggulan komparatif Indonesia. − Minimnya budidaya bahan baku mengurangi efisiensi.
− Riset bahan baku masih kurang, menghambat efisiensi dan inovasi. − Penyelendupan masih marak, menyebabkan kelangkaan bahan baku.
+ Jalur distribusi fisik seperti pasar modern dan tradisional, galeri, toko dan lain‐ lain semakin banyak.
+ Konektivitas virtual semakin baik seiring dengan membaiknya industri telekomunikasi.
− Jalur transportasi masih bermasalah (ketidakadaan dan kemacetan).
4. Iklim Usaha dan Persaingan
Isu iklim usaha dan persaingan pada industri kreatif umumnya meliputi:
a. Regulasi bahan baku. Isu ini khususnya mengemuka pada subsektor industri kreatif yang mengandalkan sumber daya alam, seperti penerbitan dan percetakan, fesyen dan kerajinan. Kelangkaan dan mahalnya biaya bahan baku merupakan isu sentral.
b. Regulasi impor dan ekspor. Isu yang mengemuka adalah lambatnya administrasi ekspor dan impor, maraknya impor ilegal, proteksi terhadap produk impor (subtitusi impor) kemudahan ekspor dan larangan ekspor bahan baku.
c. Prosedur administrasi. Selain administrasi ekspor dan impor di atas, isu yang mengemuka adalah lama dan mahalnya biaya administrasi perijinan, pengurusan HKI dan pendirian usaha.
d. Penyelundupan ditengarai menjadi salah satu penyebab kelangkaan‐kelangkaan bahan baku.
e. Pembajakan dan HKI. Sebagai industri yang kental dengan hak cipta, desain, paten dan merk, isu pembajakan dan HKI merupakan salah satu isu sentral dalam industri kreatif. f. Pungutan‐pungutan liar dirasakan mengurangi efisiensi, dan mengurangi akurasi
estimasi perhitungan keuangan. Ekonomi biaya tinggi ditengarai terjadi karena pungutan‐pungutan ini.
g. Persaingan yang sehat. Isu ini merupakan persoalan yang kompleks untuk dibuktikan kebenarannya. Isu ini mengemuka terutama di industri televisi dan radio, periklanan dan industri film, video dan fotografi
h. Pajak. Insentif pajak (tax holiday) dirasakan oleh beberapa pelaku usaha di industri kreatif sebagai suatu yang penting, terutama untuk subsektor‐subsektor dengan total keuntungan yang belum terlalu besar atau untuk para pendobrak‐pendobrak di luar pasar mainstream yang belum tentu memperoleh keuntungan karena resiko kegagalan agar produk/jasa yang ditawarkan akan dapat diterima oleh pasar (high risk).
i. Tenaga kerja. Isu ini mengemuka terutama pada subsektor yang sifatnya padat karya (labour intensive), seperti fesyen, percetakan besar, televisi, dan beberapa perusahaan kerajinan. Aturan tenaga kerja Indonesia memang bertujuan melindungi tenaga kerja dengan lebih baik. Labour market flexibility yang merupakan preferensi pengusaha menjadi terkekang. Pengusaha, pemerintah dan serikat pekerja sudah berusaha duduk bersama menyempurnakan aturan tenaga kerja, namun konsensus tak kunjung dicapai hingga kini.
j. Kanal (frekuensi). Teknologi transmisi penyiaran yang menggunakan teknologi analog memiliki keterbatasan kanal (frekuensi). Di pihak lain, iklim penyiaran yang semakin
kondusif merangsang tumbuhnya perusahaan‐perusahaan penyiaran. Di beberapa daerah, pertumbuhan jumlah perusahaan penyiaran sudah melampaui kapasitas kanal. Akhirnya terjadi perebutan kanal. Regulasi yang sesuai harus dilakukan, sebelum implementasi peralihan ke teknologi digital, yang meniadakan keterbatasan kanal, dilakukan.
5. Lemahnya Peran Pusat Desain Indonesia dalam Industri
Dari 14 kelompok industri kreatif, peran sentral industri kreatif desain sangat penting. Seluruh subsektor industri kreatif membutuhkan layanan industri desain. Pusat desain merupakan suatu yang penting bagi proses pengembangan industri kreatif nasional dan harus secara intensif menghasilkan desain yang dapat meningkatkan nilai tambah produk dan jasa b aik industri kreatif ataupun bukan, di Indonesia.
T
EKNOLOGI(T
ECHNOLOGY)
Dukungan jenis teknologi terhadap industri kreatif sangat bergantung pada intensitas sumber daya serta substansi dominan dalam industri tersebut. Hampir seluruh subsektor industri kreatif ini membutuhkan teknologi informasi sebagai teknologi pendukung dalam proses kreasi, produksi maupun distribusi atau komersialisasi. Oleh karena itu, Information & Communication Technology (ICT) merupakan infrastruktur yang vital bagi pengembangan ekonomi kreatif ini. ICT ini khususnya sangat dibutuhkan dalam subsektor industri kreatif yang memiliki substansi dominan media, desain dan iptek serta intensitas sumber daya yang bersifat intangible, seperti: Film, Video, Fotografi, Musik, TV dan Radio, Periklanan, Penerbitan& Percetakan, arsitektur, desain, musik, riset dan pengembangan, permainan interaktif dan terutama layanan komputer piranti lunak
Pada rantai kreasi, ICT umumnya dibutuhkan untuk memperoleh, menyebarkan, dan melakukan pertukaran informasi, untuk memperkaya ide kreasi dan pada rantai distribusi dan komersialisasi, dukungan ICT dibutuhkan dalam proses transaksi dan promosi.
Subsektor Industri kreatif, dimana substansi dominannya adalah seni budaya dan intensitas sumber dayanya adalah bersifat tangible, seperti fesyen, kerajinan, penerbitan dan percetakan, selain membutuhkan teknologi ICT sebagai teknologi pendukung, juga membutuhkan teknologi proses kimia bahan baku serta teknologi yang dibutuhkan pada proses produksi, misalnya: mesin potong, mesin bubut, mesin gerinda, mesin press, dan mesin produksi lainnya.
Secara umum, kondisi teknologi pendukung industri kreatif adalah sebagai berikut:
1. Teknologi informasi dan komunikasi sebagai Teknologi Pendukung.
Teknologi informasi dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok besar antara lain: (1) infrastruktur fisik, seperti International Access, Domestic Backbone (Inter‐city), Inner‐city Wireline Connections, Broadband Wireless Access, Mobile Access Network, Convergence IP Network, dan lain‐lain, (2) Layanan pendukung atau koneksi seperti: Mobile Access, Broadband Fixed Access, Internet Access, Digital Broadcast, dll, serta (3) Piranti lunak (sistem operasi, aplikasi, database, dll) dan piranti keras (personal computer, laptop, modem, dll).
a. Ketimpangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi antar daerah masih besar.
Pusat‐pusat teknologi informasi terbatas pada kota‐kota tertentu saja. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal terutama tarikan permintaan pasar yang besar di wilayah kota, terutama Jakarta. Kondisi infrastruktur TIK juga masih berpusat di wilayah kota. Selain itu keberadaan lembaga pendidikan tinggi turut berkontribusi. Keahlian‐keahlian teknologi informasi dan komunikasi berada terutama di lembaga‐ lembaga pendidikan. Tetapi saat ini tarikan permintaan pasar terhadap teknologi informasi dan komunikasi semakin luas ke daerah‐daerah. Khususnya disebabkan munculnya kebutuhan pemerintah‐pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Ini merupakan peluang untuk mengembangkan sentra workshop‐workshop bahkan klaster‐klaster TIK di daerah‐ daerah.
b. Telekomunikasi semakin baik; tarif semakin terjangkau, ponsel semakin murah,
penyedia internet access semakin banyak.
Kondisi ini akan meningkatkan produktivitas industri kreatif, karena infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan terjangkau membuat pertukaran informasi menjadi lebih cepat, sehingga para pekerja kreatif yang pada umumnya adalah knowledge worker, dapat melakukan pertukaran informasi secara intensif.
c. Penetrasi internet masih rendah menghambat laju konsumsi produk kreatif.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa pengguna internet hingga akhir tahun 2007 hanya berkisar 25 juta pengguna atau hanya berkisar 8,5% dari total penduduk seperti yang tampak pada tabel di bawah ini. Rendahnya penetrasi internet ini akan menyebabkan tidak bertemunya antara kreator dengan konsumen pada pasar produk kreatif tertentu yang mengandalkan internet sebagai media pengiriman atau konsumsi, misalnya: online games atau musik, riset & pengembangan; tidak tersedianya media promosi produk/jasa kreatif yang tidak dibatasi oleh geografis sehingga memungkinkan pelaku usaha mempromosikan produknya secara luas dan relatif murah; menurunkan produktivitas industri kreatif terutama dalam hal komersialisasi dan distribusi
Tabel 6 Data Statistik Industri Internet Indonesia 2008
Indikator Jumlah
PJI (ISP) 274 perusahaan
Warnet 4.000 usaha
Internet Exchange 6 titik Trafik internasional 5 Gbps Trafik Internet Exchange 80 Gbps Pengguna Internet (2007) 25 juta orang Target 2008 40 juta orang
d. Bandwidth Internet kecil mengurangi kesempatan ruang gerak pelaku usaha Bandwidth internet diperlukan pada kegiatan yang membutuhkan lalu lintas data dalam kapasitas besar melalui internet. Bagi pelaku industri kreatif yang menerima pekerjaan dari luar negeri akan membutuhkan internet berkapasitas bandwidth besar sebagai sarana pengiriman yang cepat dan murah termasuk untuk berkomunikasi seperti video conference. Indonesia memiliki potensi dalam menerima pekerjaan offshoring/outsourcing yang saat ini berada dalam peringkat 6 pada A.T. Kearney Global Service Location Index 200725.
Tabel 7 A.T. Kearney Global Service Location Index 2007
Rank Country Financial
attractiveness People and skills availability Business environment Total score 1 India 3.22 2.34 1.44 7.00 2 China 2.93 2.25 1.38 6.56 3 Malaysia 2.84 1.26 2.02 6.12 4 Thailand 3.19 1.21 1.62 6.02 5 Brazil 2.64 1.78 1.47 5.89 6 Indonesia 3.29 1.47 1.08 5.82 7 Chile 2.65 1.18 1.93 5.76 8 Philippines 3.26 1.23 1.26 5.75 9 Bulgaria 3.16 1.04 1.56 5.75 10 Mexico 2.63 1.49 1.61 5.73 11 Singapore 1.65 1.51 2.53 5.08 12 Slovakia 2.79 1.04 1.79 5.02 13 Egypt 3.22 1.14 1.25 5.01 14 Jordan 3.09 0.98 1.54 5.00 15 Estonia 2.44 0.96 2.20 5.00
Sumber: A.T. Kearney
Potensi ini merupakan cerminan dari daya saing Indonesia dalam menerima pekerjaan offshoring yang berkaitan dengan layanan IT, dan layanan yang bisa dilakukan secara jarak jauh. Salah satu infrastruktur penting yang diperlukan adalah ketersedian internet dengan kapasitas bandwidth tertentu..
e. Komputer, laptop, hardware pendukung masih merupakan barang mahal. Kondisi
ini khususnya dihadapi para pengusaha pemula, dan terutama para pengusaha‐ pengusaha di daerah‐daerah.
f. Mahalnya sertifikasi pada penggunaan piranti lunak ataupun piranti keras
pendukung.
Sertifikasi pada industri kreatif ini, khususnya sangat dibutuhkan pada subsektor layanan komputer dan piranti lunak. Mahalnya sertifikasi ini, memperlambat legitimasi kualifikasi programmer‐programmer Indonesia. Programmer handal banyak
terdapat di Indonesia. Akibat sertifikasi yang mahal, maka pelaku‐pelaku ini sulit bersaing di pasar internasional.
g. Harga Piranti Lunak yang relatif mahal.
Pada beberapa subsektor industri kreatif, piranti lunak sangat diperlukan dalam proses kreasi maupun produksi. Piranti lunak ini dipakai dalam mengkonversi ide abstrak menjadi produk kreatif. Piranti lunak ini sendiri terbagi menjadi alat utama dalam proses kreasi seperti industri animasi, film, musik, jasa piranti lunak dan permainan interaktif. Piranti lunak juga dapat dipandang sebagai alat bantu yang mempermudah pekerjaan yang pada akhirnya menaikkan daya tawar seperti alat pemodelan pada arsitektur dan desain. Misalnya penggunaan pemodelan 3D pada subsektor arsitektur dan desain. Piranti lunak ini sejajar dengan mesin produksi pada industri manufakturing. Dengan penggunaan piranti lunak yang tidak berlisensi akan membatasi pasar yang dapat direngkuh oleh pelaku industri kreatif.
Harga piranti lunak yang tinggi masih dirasakan sebagai penyebab utama maraknya pembajakan di Indonesia. Kondisi ini berdampak pada keengganan perusahaan‐ perusahaan asing bekerja sama ataupun berinvestasi di Indonesia.
h. Program pemerintah Internet goes to school
Program Internet goes to school yang sedang digalakkan pemerintah merupakan peluang yang baik untuk pembentukan masa depan bangsa yang cerdas dan kreatif. selain untuk menumbuhkan potensi menjadi pekerja kreatif, juga dapat meningkatkan apresiasi terhadap kreativitas.
i. Keengganan pelaku melakukan investasi pada teknologi
Teknologi memiliki sifat dasar pada kecepatan perubahan yang menyebabkan lekas usang. Padahal investasi teknologi memerlukan kapital yang tidak sedikit. Dengan adanya kecepatan perubahan ini menyebabkan para pelaku enggan untuk melakukan investasi yang bersifat sunk cost.
2. Teknologi produksi berbasis media.
a. Penetrasi jaringan media yang cukup luas.
Infrastruktur media televisi dan radio sudah cukup baik menjangkau seluruh wilayah Indonesia. Namun optimalisasi pemanfaatannya perlu ditingkatkan. Jangkauan luas tersebut merupakan potensi pasar. Optimalisasi akan memberikan margin yang cukup untuk pengembangan teknologi lebih lanjut.
b. Ketersediaan teknologi post production pada film dan iklan kurang memadai.
Jumlah teknologi yang mumpuni untuk mendukung proses post production pada pembuatan film atau iklan saat ini belum mencukupi kebutuhan kegiatan post production jumlah iklan atau film yang diproduksi di Indonesia saat ini. Hal ini mengakibatkan banyak iklan atau film yang harus diselesaikan di luar negeri, seperti di Thailand, Malaysia, atau Singapura.
Biaya produksi menjadi lebih tinggi, demikian juga waktu penyelesaian semakin lama. Kondisi ini sangat mempengaruhi efisiensi perusahaan‐perusahaan di subsektor tersebut. Akan tetapi kondisi ini tidak terlalu bermasalah jika pangsa pasar
membesar signifikan. Sehingga biaya post production tersebut dapat ditutupi dengan pendapatan yang masih cukup besar.
3. Teknologi Penghasil Bahan Baku bagi Industri Kreatif
a. Lembaga riset cukup memadai jumlahnya, namun belum optimal berkontribusi
pada penelitian‐penelitian bahan baku.
Lembaga‐lembaga riset ini terdapat pada departemen‐departemen pemerintahan, perusahaan maupun pendidikan tinggi. Kendala biaya merupakan penyebab utama minimnya kontribusi lembaga riset. Selain itu, lemahnya koordinasi dan kolaborasi antara industri, lembaga riset pemerintah dan universitas, mengakibatkan hasil‐hasil riset yang diperoleh selama ini kurang dapat diterapkan.
b. Sebagian besar mesin penghasil bahan baku diimpor dan sudah obsolete.
Mesin‐mesin penghasil bahan baku, khususnya bahan baku tekstil dan kulit tidak didukung oleh teknologi yang lebih maju sehingga efisiensi serta produktivitas produksi bahan baku tidak optimal. Kondisi ini mempengaruhi jumlah dan kualitas bahan baku yang bisa dihasilkan.
4. Utilisasi kemampuan universitas dalam penelitian diperlukan
Tidak dipungkiri bahwa kapasitas dan kapabilitas universitas dan lembaga penelitian sudah mampu melakukan inovasi dan penelitian yang berkaitan dengan industri khususnya kelompok industri kreatif. Namun para peneliti membutuhkan rangsangan lebih agar melakukan penelitian yang lebih mengarah kepada penggunaan lapangan yang diperlukan oleh pelaku industri. Dan sebaliknya, para pelaku industri dihimbau untuk berkolaborasi dengan lembaga penelitian termasuk universitas untuk menaikkan daya saing dengan penggunaan metoda ataupun penemuan penemuan baru yang inovatif.
5. Kurangnya Penguasaan teknologi oleh para pekerja kreatif Indonesia.
Peralatan berteknologi tinggi memerlukan operator yang berpengalaman untuk penggunaan alat tersebut. Tidak tersedianya peralatan tersebut juga akan menyebabkan kesulitan untuk memberikan pelatihan dan kontinuitas sumber daya insani yang kelak akan mengoperasikannya. Sedangkan bagi yang akan menyediakan peralatan tersebut akan ragu dengan kesiapan SDM operatornya. Sehingga diperlukan sebuah terobosan yang memutus lingkaran setan tersebut. Sebagai contoh adalah penguasaan akan teknologi tata cahaya dan tata panggung untuk pertunjukan seni dan musik masih minim. Pelaku bisnis yang ahli dengan tata panggung dan tata cahaya dengan teknologi digital di Indonesia sangat terbatas, padahal kualitas pertunjukan seni & musik sangat ditentukan dengan kualitas tata panggung dan tata cahaya ini..
Rendahnya Computer literacy di Indonesia, dimana pada era dijital ini, hampir di seluruh lapisan kegiatan dalam masyarakat sudah didukung oleh teknologi yang disebut dengan komputer. Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi kualitas kreasi dan kemampuan komersialisasi produk/jasa industri kreatif Indonesia.