• Tidak ada hasil yang ditemukan

Genotipe Padi Gogo pada Satu metode Terpilih di Laboratorium

Pengujian 48 genotipe di laboratorium menggunakan satu metode terpilih yaitu kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 30 cm. Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Lampiran 11), genotipe berpengaruh sangat nyata pada hampir semua peubah kecuali bobot kering plumula. Genotipe berpengaruh nyata pada bobot kering plumula. Hal ini membuktikan bahwa terdapat perbedaan diantara genotipe yang diuji pada satu metode terpilih di laboratorium (Tabel 11).

Tabel 11. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Genotipe terhadap Peubah yang Diamati pada Satu Metode Terpilih di Laboratorium.

Peubah Genotipe

Panjang Tanaman **

Pajang Plumula **

Panjang Akar **

Bobot Kering Kecambah Normal **

Bobot Kering Plumulaa) *

Bobot Kering Akar **

Jumlah Daun **

Persentase Daun Matia) **

Persentase Daun Menggulunga) **

Persentase Kecambah Matia) **

Daya Berkecambah **

Keterangan : ** = nyata pada taraf 1 %, * = nyata pada taraf 5 %, tn = tidak nyata, a) = data hasil transformasi   

Genotipe yang digunakan pada pengujian ini mempunyai daya berkecambah di atas 80 %. Hal ini menunjukkan bahwa benih yang digunakan memiliki vigor genetik yang tinggi, karena 48 genotipe ini yang mempunyai daya

berkecambah yang tinggi setelah mengalami masa penyimpanan selama tiga bulan pada suhu ruang dan enam bulan pada suhu AC. Pada awal pengujian menggunakan 82 genotipe, tetapi sebagian besar genotipe pada saat pengujian kekeringan banyak mengalami kemunduran, sehingga genotipe padi gogo yang digunakan sebanyak 48 genotipe.

Berdasarkan hasil pengujian 48 genotipe padi gogo pada satu metode terpilih, genotipe berpengaruh sangat nyata pada persentase daun menggulung. Pada Tabel 12 dapat dilihat nilai rata-rata persentase daun menggulung dari pengujian 48 genotipe pada satu metode terpilih sebesar 17.60 % dengan nilai kisaran yang cukup lebar dari 0 % pada genotipe B11177G-TB-1-1 sampai 44.82 % pada genotipe B11178G-TB-29.

Tabel 12. Rata-Rata dan Kisaran Nilai Peubah yang Diamati dalam Pengujian 48 Genotipe pada Satu Metode Terpilih

Peubah Rata-rata Kisaran Nilai

Panjang tanaman (cm) 36.76 27.03-45.85

Panjang Plumula (cm) 13.01 10.09-17.81

Panjang akar (cm) 23.75 17.54-28.52

Bobot kering kecambah normal (g) 0.0925 0.0615-0.1174

Bobot kering plumula (g) 0.0594 0.0272-0.1014

Bobot kering akar (g) 0.0414 0.0205-0.0669

Jumlah daun (lembar) 1.80 1-2

Persentase daun mati (%) 2.30 0.00-22.22

Persentase daun menggulung (%) 17.60 0.00-44.82

Persentase kecambah mati (%) 1.83 0.00-22.22

Daya berkecambah (%) 90.94 80-100

Rendahnya nilai persentase daun menggulung pada percobaan ini sebagai contoh pada genotipe B12826E-MR-1 sebesar 20.69 %, dibandingkan dengan persentase daun menggulung genotipe B12826E-MR-1 pada percobaan tahap tiga di laboratorium sebesar 78.99 % dikarenakan gulungan yang diletakkan dalam bak berisi air dalam pengujian 48 genotipe pada satu metode terpilih ini jumlah jauh lebih banyak. Jumlah gulungan kertas dalam jumlah banyak mengakibatkan kertas saling berdempetan, sehingga kertas cukup lembab dan kurang kering.

Korelasi antara Peubah di Rumah Kaca dengan Peubah di Laboratorium

Peubah di laboratorium dikelompokkan berdasarkan tingkat toleransi persentase daun mati di rumah kaca, yaitu peka dan sangat peka (Lampiran 12). Berdasarkan hasil pengelompokan, kisaran nilai dari semua peubah di laboratorium antara peka dengan sangat peka saling bertumpuk (Tabel 13). Kisaran nilai yang overlap antara peka dan sangat peka menyebabkan kesulitan dalam pengelompokan tingkat toleransi jika hanya melihat dari peubah di laboratorium tanpa membandingkannya dengan peubah persentase daun mati di rumah kaca.

Tabel 13. Rata-rata dan Kisaran Nilai Peubah di Laboratorium berdasarkan Tingkat Toleransi Persentase Daun Mati di Rumah Kaca

Peubah Rata-Rata

Peka Sangat Peka

PT (cm) 37.46 35.85 (31.61 - 45.85) (27.63 - 44.45) PP (cm) 13.30 12.63 (10.70 - 17.39) (10.09 - 16.98) PA (cm) 24.16 23.22 (20.28 - 28.52) (17.54 - 28.22) BKKN (g) 0.0957 0.0884 (0.0728 - 0.1153) (0.0674 - 0.1174) BKP (g) 0.0588 0.0602 (0.0328 - 0.0747) (0.0428 - 0.1513) BKA (g) 0.0428 0.0397 0.0304 - 0.0519) (0.0316 - 0.0466) PDM (%) 2.09 2.57 (0.00 – 12.15) (0.00 – 22.22) PDG (%) 18.30 16.71 (5.00 – 33.75) (0.00 – 44.82) PKM (%) 1.74 1.94 (0.00 – 12.15) (0.00 - .22.22) JD (lembar) 2 2 (1 - 2) (2 - 2)

Keterangan : PT =panjang tanaman, PP = panjang plumula, PA =panjang akar, BKKN = bobot kering kecambah normal, BKP =bobot kering plumula, BKA = bobot kering akar, PDM = persentase daun mati, PKM = persentase kecambah mati, JD = jumlah daun, angka yang dapat dalam tanda kurung ( ) merupakan kisaran nilai dari terkecil sampai terbesar.

Kisaran nilai pada tingkat toleransi peka dan sangat peka yang saling

overlap karena korelasi antara persentase daun mati di rumah kaca dengan semua

peubah di laboratorium tidak berkorelasi nyata (Tabel 14). Korelasi antara persentase daun mati di rumah kaca dengan peubah yang diamati di laboratorium dilakukan untuk mengetahui peubah di laboratorium yang dapat menggambarkan persentase daun mati di rumah kaca. Korelasi tidak nyata menunjukkan bahwa peubah di laboratorium pada satu metode terpilih tidak dapat menggambarkan persentase daun mati di rumah kaca. Korelasi tidak nyata pada peubah di laboratorium dengan peubah persentase daun mati disebabkan 48 genotipe yang digunakan memiliki tingkat keragaman toleransi yang kecil yaitu genotipe berada pada tingkat toleransi peka dan sangat peka berdasarkan pengujian di rumah kaca. Tabel 14. Korelasi antara Peubah Pengujian di Rumah Kaca dengan

Pengujian di Laboratorium.

Lab Rumah kaca

JD PDM PDG PTM BKB PT 0.119tn -0.135tn 0.128tn -0.167tn 0.456** PP 0.156tn -0.178tn 0.157tn -0.247tn 0.469** PA 0.069tn -0.078tn 0.082tn 0.078tn 0.349tn BKKN 0.024tn -0.168tn 0.043tn 0.209tn 0.206tn BKP 0.088tn 0.146tn 0.213tn 0.155tn 0.228tn BKA 0.095tn -0.235tn 0.119tn -0.209tn 0.261tn JD -0.022tn 0.205tn 0.095tn 0.116tn -0.041tn PDMa) 0.056tn 0.049tn -0.038tn -0.038tn 0.013tn PDGa) -0.182tn -0.031tn -0.102tn 0.072tn -0.174tn PKMa) 0.078tn 0.038tn -0.023tn -0.039tn -0.041tn DB 0.099tn -0.113tn 0.037tn -0.148tn 0.281tn Keterangan : PDM = persentase daun mati, PTM = persentase tanaman mati, BKB = bobot kering

bibit, PT = panjang tanaman, PP = panjang plumula, PA = panjang akar, BKKN = berat kecambah kering normal, BKP = bobot kering plumula, BKA = bobot kering akar, JD = jumlah daun, PDG = persentase daun menggulung, PKM =persentase kecambah mati, DB = daya berkecambah, a) = data hasil transformasi   , * = nyata pada taraf 5 %, ** = nyata pada taraf 1 %, tn = tidak nyata.

Peubah persentase daun mati di rumah kaca mempunyai nilai koefisien korelasi terbesar dengan peubah bobot kering akar di laboratorium, walaupun berkorelasi tidak nyata. Hubungan korelasi antara peubah persentase daun mati di rumah kaca dengan peubah bobot kering akar di laboratorium bersifat negatif.

Bobot kering akar merupakan peubah di laboratoium yang digunakan dalam simulasi seleksi pada tahap awal.

Simulasi Seleksi Padi Toleran Kekeringan

Seleksi adalah mengidentifikasi individu yang diinginkan (Welsh,1991). Identifikasi tanaman toleran kekeringan di pengujian rumah kaca berdasarkan persentase daun mati, daun menggulung, dan persentase tanaman yang hidup setelah recovery (IRRI dalam Gupta dan O’Toole, 1986). Simulasi seleksi ini bertujuan untuk membandingkan padi yang toleran di pengujian rumah kaca dengan padi toleran di laboratorium.

Peubah di rumah kaca yang digunakan untuk simulasi seleksi adalah persentase daun mati, sedangkan peubah di laboratorium menggunakan bobot kering akar. Penggunaan bobot kering akar pada simulasi seleksi dikarenakan bobot kering akar memiliki nilai koefisien korelasi paling besar dengan persentase daun mati. Simulasi seleksi dilakukan dengan cara mengurutkan nilai peubah yang diamati dari terkecil sampai terbesar atau dari terbesar sampai terkecil tergantung dengan peubah yang digunakan dalam simulasi seleksi (Lampiran 13). Genotipe padi gogo pada peubah bobot kering akar di laboratorium disesuaikan dengan persentase daun mati di rumah kaca berdasarkan intensitas seleksi yang digunakan.

Tabel 15. Simulasi Seleksi Hasil Pengujian di Rumah Kaca dan Laboratorium.

intensitas seleksi (%)

Jumlah Genotipe yang terpilih

Jumlah genotipe yang sesuai Kesusaian (%) PDMa) vs BKAb) 2 1 0 0 5 2 0 0 10 5 0 0 20 10 2 20.00 30 14 5 35.71 40 19 10 52.63 50 24 16 66.67

Keterangan : a) = peubah rumah kaca, b) = peubah laboratorium, PDM = persentase daun mati, BKA = bobot kering akar.

Berdasarkan hasil simulasi seleksi (Tabel 15), simulasi antara peubah persentase daun mati di rumah kaca dengan bobot kering akar di laboratorium mencapai kesesuaian 66.67 % pada intensitas seleksi 50 %. Simulasi seleksi ini hanya dapat digunakan dalam seleksi tahap awal. Hal ini menggambarkan bahwa metode kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 30 cm akan efektif apabila dalam menyeleksi genotipe dapat mengunakan intensitas seleksi 50 % dengan kesesuaian 66.67 % pada tahap awal pengujian seleksi genotipe.

Dokumen terkait