• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian genotipe padi gogo pada rumah kaca dalam pot permanen merupakan metode standar dalam menyeleksi padi gogo yang toleran kekeringan dengan peka kekeringan. Penentuan tingkat toleransi di rumah kaca berdasarkan IRRI dengan menggunakan peubah persentase daun mati. Pengelompokan genotipe padi berdasarkan skor IRRI adalah sangat toleran (1) dengan gejala kekeringan ≤ 10%, toleran (3) dengan gejala kekeringan 10% < x ≤ 25%, sedang (5) dengan gejala kekeringan 25% < x ≤ 50%, peka (7) dengan gejala kekeringan 50 % < x ≤ 75%, sangat peka (9) dengan gejala kekeringan > 75% (IRRI dalam Satria, 2009).

Peubah persentase daun mati di rumah kaca menunjukkan bahwa 48 genotipe yang diuji pada pot permanen berada di tingkat toleransi peka sebanyak 27 genotipe dan sangat peka sebanyak 21 genotipe (Tabel 1). Genotipe yang memiliki nilai toleransi yang paling tinggi diantara genotipe peka dan sangat peka adalah TB155J-TB-MR-3-3, B11629F-TB-2-3-5, B11913C-MR-1-2-1-1, B11584E-MR-5-4-3-1-2-4-2-2, B11576F-MR-8-1-2-2-1.

Tabel 1. Rata-Rata dan Kisaran Nilai Bibit Padi pada Berbagai Peubah di Rumah Kaca Berdasarkan Tingkat Toleransi Persentase Daun Mati. TT Jumlah Genotipe Rata-rata PDM PTM PDG BKB JD Peka 27 63.85 26.67 39.90 1.72 4 (51.11-73.89) (0.00-53.33) (26.11-74.23) (1.10-2.83) (3-4) Sangat Peka 21 83.31 57.78 50.34 1.62 4 (75.00-96.11) (33.33-86.67) (7.22-87.23) (0.87-2.37) (3-4) Keterangan : TT = tingkat toleransi, PDM = persentase daun mati, PTM = persentase tanaman

mati, PDG = persentase daun menggulung, BKB = berat kering bibit, JD = jumlah daun, angka yang berada dalam tanda kurung ( ) merupakan nilai selang terkecil sampaiterbesar di rumah kaca.

Kadar air pada pot permanen selama pengujian dari keadaan optimum sampai suboptimum mengalami penurunan (Tabel 2). Kadar air tanah diperoleh

dengan mengambil sampel tanah pada kedalaman 10 cm. Menurut Sulistyono et

al. (2005) kelembaban tanah optimum untuk padi gogo adalah antara kapasitas

lapang sampai 32 %. Kadar air tanah di bawah 32 % akan membuat padi gogo berada dalam fase kekeringan. Kadar air tanah yang terlalu rendah akan menyebabkan tanaman akan cepat mengalami kematian.

Tabel 2. Kadar Air Tanah pada Pot Permanen di Rumah Kaca.

Kondisi Pot 1 Pot 2

D T B D T B

Optimum 52.85 48.15 50.47 51.66 53.08 47.72

Suboptimum 2 minggu 18.52 25.32 27.14 31.19 20.81 28.03 Suboptimum 3 minggu 20.68 15.06 25.48 22.56 15.93 26.26 Suboptimum 4 minggu 21.91 20.96 - 20.47 23.1 26.23 Keterangan : D =bagian depan pot, T = bagian tengah pot, B = bagian belakang pot, optimum =

penyiraman dilakukan setiap hari selama 2 minggu, suboptimum = setelah penyiraman dihentikan, pot 1 = pot untuk menanam genotipe padi gogo dengan no genotipe 1-34, pot 2 = pot untuk menanam genotipe dengan no genotype 35-48. Kadar air di bagian tengah pot permanen pada suboptimum 4 minggu terlihat naik dari suboptimum 3 minggu. Hal ini dikarenakan penyiraman saat kondisi optimum tidak merata pada seluruh bagian pot permanen dan titik sampel tanah yang diuji letaknya berbeda dari suboptimum 3 minggu. Kenaikan kadar air pada suboptimum 4 minggu menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar air tanah pada pot permanen.

Peubah lain yang diamati di rumah kaca dikorelasikan dengan persentase daun mati. Uji korelasi ini dilakukan untuk melihat peubah lain yang dapat menggambarkan keadaan dengan persentase daun mati. Berdasarkan hasil korelasi, persentase tanaman mati berkorelasi nyata dengan persentase daun mati dan memiliki nilai koefisien korelasi terbesar (Tabel 3). Hal ini menunjukkan bahwa persentase tanaman mati dapat menggambarkan persentase daun mati di rumah kaca. Korelasi antara persentase daun mati dengan jumlah daun dan bobot kering bibit bersifat negatif. Korelasi negatif berarti apabila persentase daun mati meningkat, jumlah daun dan bobot kering bibit akan menurun.

Tabel 3. Nilai Koefisien Korelasi antara Peubah di Rumah Kaca

Korelasi Koefisien korelasi

PDM vs JD -0.279tn

PDM vs PDG 0.154tn

PDM vs PTM 0.918**

PDM vs BKB -0.140tn

Keterangan : PDM = persentase daun mati, JD = jumlah daun, PDG = persentase daun menggulung, PTM = persentase tanaman mati, BKB = berat kering bibit, tn = tidak nyata pada taraf 5 %, ** = nyata pada taraf 1 %.

Peubah yang mempunyai tidak berkorelasi nyata dengan persentase daun mati memiliki selang yang saling overlap. Kisaran nilai pada persentase tanaman mati juga terlihat overlap (Tabel 1). Hal ini diakibatkan pengelompokan kelas yang terlalu sedikit, hanya dua kelompok yaitu peka dan sangat peka. Nilai koefisien korelasi juga mempengaruhi kisaran nilai pada persentase tanaman mati. Selang yang tidak overlap akan tercapai jika nilai koefisien korelasinya 1 atau mencapai korelasi sempurna. Nilai koefisien korelasi persentase tanaman mati dikatakan sangat kuat untuk menggambarkan kondisi persentase daun mati di rumah kaca. Menurut Sarwono (2006), korelasi dengan nilai koefisien korelasi 0.75-0.99 dapat dikatakan mempunyai korelasi yang sangat kuat.

Uji Pendahuluan untuk Mendapatkan Beberapa Metode Berpotensi dalam Pengujian Toleransi Kekeringan pada Padi Gogo

Uji pendahuluan untuk mendapatkan beberapa metode yang berpotensi dalam pengujian toleransi kekeringan pada padi gogo dilakukan menggunakan 92 metode pengujian. Berdasarkan pengujian pendahuluan didapatkan tiga metode berpotensi media padat dan dua jenis media kertas. Metode berpotensi media padat yaitu:

1) Media arang sekam (MP1). Metode ini menggunakan box plastik ditutup dengan berat arang sekam sebesar 195 g dan volume air 200 ml, sehingga kadar air media arang sekam adalah 61.61 %.

2) Media arang sekam dicampur dengan kompos (MP2). Metode ini menggunakan plastik PP dengan berat arang sekam yang digunakan

sebesar 296 g dan berat kompos sebesar 680 g. Arang sekam dan kompos dicampur menjadi satu dan diberi air sebanyak 180 ml, sehingga kadar air pada media arang sekam dicampur kompos sebesar 64.57 %.

3) Media pasir dan kaliandra (MP3). Media pasir dan kalindra tidak dicampur, tetapi dibatasi dengan kain kasa. Kaliandra berada di bagian bawah dalam wadah, sedangkan pasir berada di atas kaliandra. Wadah yang digunakan adalah plastik PP dengan berat pasir 1419 g dan humus kaliandra sebesar 200 g. Pasir diberi air sebanyak 130 ml dan humus kaliandra diberi air sebanyak 70 ml. Kadar air media pasir adalah 14.68 %, sedangkan kadar air humus kaliandra adalah 70.45 %.

Pemberian air pada metode media padat diberikan hanya pada awal penanaman saja, kemudian dibiarkan mengering sampai hari pengamatan terakhir. Suhu dan kelembaban ruangan yang selama penelitian rata-rata 28 oC dan 90 %. Jenis media kertas yang berpotensi dalam pengujian toleransi kekeringan pada padi gogo, yaitu :

1) Kertas stensil daur ulang. 2) Kertas stensil.

Kertas stensil daur ulang dan kertas stensil diuji dengan menggunakan UKD dan diletakkan dengan posisi berdiri pada wadah yang berisikan air setinggi 3 cm yang dijaga konstan selama 14 HST.

Kondisi tiga metode media padat dan dua jenis kertas yang berpotensi pada hari terakhir pengamatan dapat terlihat pada Gambar 1. Varietas toleran pada media arang sekam (MP1) terlihat beberapa daunnya tidak menggulung pada saat 14 HST, sedangkan semua daun pada genotipe peka terlihat menggulung. Daun menggulung merupakan salah satu tolak ukur dalam mengidentifikasi padi yang toleran kekeringan dan peka kekeringan. Menurut Gupta dan O’Toole (1986) ketika tanaman menunjukan stres kekeringan akan menunjukkan gejala dari daun menggulung sampai daun mengering dan akhirnya mati.

Media arang sekam dicampur kompos (MP2) dapat memperlihatkan perbedaan antara padi toleran kekeringan dan peka kekeringan pada saat padi berumur 21 HST. Perbedaan ini terlihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun yang mati. Pada padi yang peka kekeringan tinggi tanamannya lebih pendek dan

jumlah daun yang mati lebih banyak dibandingkan dengan padi yang toleran kekeringan. Perbedaan ini semakin terlihat pada saat padi berumur 27 HST. Daun pada padi peka kekeringan hampir semuanya mati dan yang toleran kekeringan daunnya masih terlihat hijau.

Keterangan : 1) Media arang sekam (MP1), 2) Media arang sekam dicampur kompos (MP2), 3) Media pasir dan kaliandra (MP3) , 4) Kertas stensil daur ulang, 5) kertas stensil, P = genotipe peka, T = varietas toleran.

Gambar 1. Hasil Pengujian Pendahuluan pada Berbagai Jenis Media Tanam, Wadah, dan Volume Air.

Media pasir dan kaliandra (MP3) dapat memperlihatkan perbedaan padi yang toleran kekeringan dengan peka kekeringan pada umur 21 HST. Tinggi tanaman padi yang peka kekeringan lebih pendek, daunnya juga banyak yang menggulung dan jumlah daun yang mati lebih banyak dibandingkan dengan padi

P T P P T P P T P

P T P T

(1) (2) (3)

yang toleran kekeringan. Pemisahan antara media pasir dan humus kaliandra didasarkan pada sifat pasir yang mudah kering dan humus kaliandra yang mampu menahan air cukup lama. Hal ini dilakukan agar genotipe peka sudah berada di kondisi stres kekeringan sebelum akarnya mampu mencapai bagian humus kaliandra, sehingga gejala kekeringan sudah terlihat lebih dahulu dibandingkan varietas toleran.

Warna daun pada padi yang menggunakan media arang sekam terlihat hijau kekuning-kuningan, walaupun media tersebut sudah dicampur dengan kompos. Hal ini dikarenakan arang sekam banyak mengandung karbon. Sekam padi mempunyai rasio C/N sebesar 119.4 (Parvaresh et al., 2004). Ini menunjukkan bahwa kandungan karbon lebih banyak dibandingkan dengan nitrogen. Hanafiah (2005) menyatakan kandungan karbon yang lebih banyak daripada nitrogen akan menyebabkan immobilisasi nitrogen. Tanaman yang kekurangan N akan mengakibatkan daun menguning. Hal ini berbeda dengan padi yang menggunakan pasir dan kaliandra tanpa dicampur, warna daunnya terlihat lebih hijau.

Kertas stensil dan kertas stensil daur ulang yang direndam dapat memperlihatkan perbedaan karena tinggi tanaman varietas yang toleran lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe yang peka. Pada Gambar 1 bagian kertas tempat tumbuhnya varietas toleran terlihat kering, sedangkan bagian kertas tempat tumbuhnya genotipe peka terlihat basah. Bagian atas kertas yang kering disebabkan oleh suhu, kelembaban, sinar matahari, dan penyerapan air oleh tanaman. Menurut Salisbury dan Ross (1995) suhu membuat udara mampu membawa lebih banyak kelembaban, sehingga transpirasi meningkat dan bukaan stomata terpengaruh. Cahaya matahari dapat menaikkan suhu daun sehingga air menguap lebih cepat. Harjadi (1993) menyatakan kekeringan dapat terjadi karena kehilangan air pada kegiatan transpirasi lebih banyak dibandingkan dengan absorpsi air. Evaporasi yang terjadi pada media kertas juga mempengaruhi kehilangan air pada media.

Pemilihan Dua Metode Terbaik Pengujian Toleransi Kekeringan diantara Beberapa Metode Berpotensi

a) Media kertas

Perlakuan yang diberikan pada media kertas bertujuan untuk mencari satu posisi ketinggian tanam yang dapat membedakan antara genotipe peka kekeringan dengan varietas toleran kekeringan. Ketinggian tanam yang dapat memperlihatkan perbedaan didapatkan dari hasil uji t-student dengan membandingkan antara genotipe peka dengan varietas toleran pada setiap perlakuan.

Hasil uji t-student (Lampiran 5) menunjukan terdapat beberapa posisi ketinggian pada setiap perlakuan yang dapat membedakan antara padi yang toleran kekeringan dengan yang peka kekeringan. Perlakuan yang memiliki posisi ketinggian tanam yang dapat membedakan antara genotipe peka dengan varietas toleran lebih dari satu, diseleksi kembali dengan cara melihat selisih antara varietas toleran kekeringan dengan peka kekeringan (Lampiran 6). Posisi ketinggian tanam yang mempunyai selisih paling besar pada setiap perlakuan dijadikan metode berpotensi media kertas. Berdasarkan hasil selisih paling besar antara varietas toleran kekeringan dengan peka kekeringan setelah uji t-student didapatkan satu metode pada setiap perlakuan, yaitu:

1) Metode kertas stensil daur ulang dengan posisi ketinggian tanam 21 cm (MK1) dari perlakuan P1.

2) Metode kertas stensil daur ulang dengan posisi ketinggian tanam 30 cm (MK2) dari perlakuan P2.

3) Metode kertas stensil daur ulang dengan posisi ketinggian tanam 25.5 cm (MK3) dari perlakuan P3.

4) Metode kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 21 cm (MK4) dari perlakuan P4.

5) Metode kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 11 cm (MK5) dari perlakuan P5.

6) Metode kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 30 cm (MK6) dari perlakuan P6.

Metode berpotensi media kertas yang telah didapatkan, diuji dengan uji F dan hasil analisis ragam (Lampiran 7) menunjukkan bahwa metode pada media

kertas berpengaruh nyata pada panjang tanaman dan panjang akar, sedangkan pada panjang plumula tidak berpengaruh nyata. Genotipe berpengaruh sangat nyata pada semua peubah. Interaksi antara metode dan genotipe tidak berpengaruh nyata pada semua peubah (Tabel 4). Interaksi yang tidak berpengaruh nyata menunjukkan bahwa metode yang digunakan memberikan pengaruh yang sama terhadap genotipe dan varietas yang diuji. Hal ini menjelaskan bahwa semua metode berpotensi pada media kertas dapat menjadi dua metode terbaik.

Tabel 4. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Genotipe Padi dan Metode Berpotensi Media Kertas terhadap Masing-Masing Peubah. Sumber Keragaman Derajat Bebas Kuadrat Tengah (KT) PT PP PA U 9 0.86 0.50 0.37 (0.44)tn (0.67)tn (0.29)tn M 5 4.62 1.15 3.55 (2.36)* (1.55)tn (2.83)* G 2 25.35 11.94 14.19 (12.69)** (16.06)** (11.31)** MxG 10 1.21 0.52 0.76 (0.63)tn (0.70)tn (0.60)tn Galat 153 1.96 0.74 1.26

Keterangan : U = ulangan, M = metode, G =genotipe, MxG = interaksi antara metode dan genotipe, PT = panjang tanaman, PP = panjang plumula, PA = panjang akar, angka yang berada di dalam tanda kurung ( ) adalah nilai F hitung, tn = tidak nyata, * = nyata pada taraf 5 %, ** = nyata pada taraf 1 %.

Nilai genotipe peka lebih kecil dibandingkan dengan varietas toleran pada semua peubah di enam metode media kertas berpotensi. Hasil uji lanjut DMRT menunjukkan bahwa metode MK3 berbeda nyata dengan MK1 dan MK4, tetapi tidak berbeda nyata dengan MK2, MK5, dan MK6 pada peubah panjang tanaman (Tabel 5). Metode MK3 memiliki panjang tanaman dan panjang akar lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain, tetapi nilai selisih antara varietas toleran dengan genotipe peka pada MK3 terbilang rendah dibandingkan dengan metode lain.

Tabel 5. Pengaruh Metode Berpotensi Media Kertas terhadap Semua Peubah pada Masing-Masing Genotipe dan Varietas.

Metode P T1 T2 Rataan T (T) Rataan M Selisih (T - P) Panjang Tanaman (cm) MK1 18.66 25.64 28.73 27.18 24.34b 8.52 MK2 25.41 33.18 31.41 32.29 30.00ab 6.88 MK3 28.78 31.52 34.34 32.93 31.55a 4.15 MK4 17.85 25.67 26.41 26.04 23.31b 8.56 MK5 24.97 32.57 30.64 31.60 29.39ab 6.64 MK6 21.08 30.61 27.92 29.27 26.54ab 8.19 Rataan G 22.79b 29.87 a 29.91a Panjang Plumula (cm) MK1 8.38 9.28 11.54 10.41 9.73 2.03 MK2 9.81 12.58 14.70 13.64 12.36 3.83 MK3 11.26 11.51 14.36 12.94 12.38 1.68 MK4 8.46 9.08 12.69 10.88 10.08 2.42 MK5 8.79 10.74 13.37 12.06 10.97 3.27 MK6 8.74 11.49 12.07 11.78 10.77 3.04 Rataan G 9.24c 10.78b 13.12a Panjang Akar (cm) MK1 10.28 16.24 17.19 16.71 14.57bc 6.44 MK2 15.58 20.60 16.71 18.66 17.63abc 3.08 MK3 17.52 20.01 19.98 19.99 19.17a 2.47 MK4 8.34 16.59 14.52 15.55 13.15c 7.21 MK5 16.18 21.82 17.27 19.55 18.42ab 3.37 MK6 12.34 18.72 15.86 17.29 15.63bc 4.95

Rataan G 13.37b 18.99a 16.92a

Keterangan : MK1 = kertas stensil daur ulang dengan posisi ketinggian tanam 21 cm, MK2 = kertas stensil daur ulang dengan posisi ketinggian tanm 30 cm, MK3 = kertas stensil daur ulang dengan posisi ketinggian tanam 25.5 cm, MK4 = kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 21 cm, MK5 = kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 11 cm, MK6 = kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 30 cm, rataan G = rata-rata setiap varietas pada semua metode, P = genotipe peka, T1 = Varietas toleran Inpago 5, T2 = varietas toleran Salumpikit, rataan M = rata-rata dari semua varietas pada setiap metode, data yang digunakan untuk menganalisis adalah data hasil transformasi    tetapi angka yang ditampilkan adalah data asli, angka yang diikuti dengan huruf yang sama pada setiap rataan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % berdasarkan uji DMRT.

Penentuan dua metode terbaik selanjutnya ditentukan dengan menggunakan selisih antara varietas toleran dengan genotipe peka. Selisih yang paling besar pada peubah panjang tanaman dan panjang akar adalah MK4, sedangkan pada panjang plumula adalah MK2. Kertas stensil daur ulang

mempunyai kemampuan menyerap air lebih banyak dan mempertahankan air lebih lama dibandingkan dengan kertas stensil, sehingga untuk pengujian toleransi kekeringan kertas stensil lebih cocok untuk digunakan. Selisih terbesar kedua pada kertas stensil adalah MK6. Metode berpotensi pada media kertas yang berpeluang menjadi dua metode terbaik pada media kertas adalah kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 21 cm (MK4) dan kertas stensil dengan posisi ketinggian tanam 30 cm (MK6).

Pada beberapa metode berpotensi media kertas terdapat metode yang memiliki ketinggian tanam yang sama. Metode MK1 dan MK4 memiliki posisi ketinggian tanam yang sama yaitu 21 cm. MK2 dan MK6 memiliki posisi ketinggian tanam yang sama pada ketinggian 30 cm. MK1 dan MK4 berasal dari perlakuan jarak ketinggian tanam antar benih 1.5 cm, sedangkan MK2 dan MK6 berasal dari perlakuan jarak ketinggian tanam antar benih yang berbeda.

Metode yang berasal dari perlakuan jarak ketinggian tanam antar benih yang sama memiliki panjang tanaman, panjang plumula dan panjang akar yang hampir sama pada genotipe peka dan varietas toleran. Metode yang mempunyai tinggi yang sama tetapi berasal dari perlakuan jarak ketinggian tanam antar benih yang berbeda terlihat ada perbedaan pada panjang akar. Pada panjang plumula MK2 dan MK6 panjangnya hampir sama. Berbedanya panjang akar pada MK2 dan MK6 disebabkan oleh jarak ketinggian tanam antar benih yang berbeda dan jenis kertas yang digunakan.

MK6 berasal dari perlakuan jarak ketinggian tanam antar benih 4.5 cm, sedangkan MK2 mempunyai jarak ketinggian tanam antar benih 3 cm. Jarak ketinggian antar benih yang semakin besar akan memberikan peluang bagi akar untuk tumbuh ke bawah karena tanaman yang menghalangi pertumbuhannya semakin sedikit. Perbedaan pada panjang akar dengan panjang plumula yang sama, akan menyebabkan perbedaan pada panjang tanaman. Jenis kertas yang digunakan juga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman karena setiap jenis kertas memiliki karakteristik yang berbeda.

Kertas stensil memiliki tekstur yang halus dan serat yang lebih sedikit dibandingkan dengan kertas stensil daur ulang (Lampiran 8). Kertas stensil daur ulang mampu menyerap air lebih cepat dan mampu mempertahankan air lebih

lama dibandingkan dengan kertas stensil. Menurut Hapsari (2004) kertas merang mempunyai kemampuan mengabsorbsi air lebih banyak yaitu 31.00 g/substrat dibandingkan dengan kertas stensil hanya 26.42 g/substrat dan kertas buram sebesar 24.56 g/substrat. Hal ini membuktikan kertas yang mempunyai serat lebih banyak mampu mengabsorbsi air lebih banyak. Hapsari (2004) juga menyatakan kertas stensil mampu mempertahankan air setelah tujuh hari dalam germinator IPB 72-1 dengan persentase kehilangan air sebesar 0 %, sedangkan pada kertas merang persentase kehilangan air sebesar 7.4 % dan kertas buram sebesar 5.4 %.

b) Media Padat

Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 9) pada tiga metode media padat menunjukkan bahwa metode berpengaruh sangat nyata pada semua peubah, sedangkan genotipe berpengaruh nyata pada panjang tanaman, berpengaruh sangat nyata pada panjang plumula dan tidak berpengaruh nyata pada panjang akar (Tabel 6).

Tabel 6. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Genotipe Padi dan Metode Berpotensi Media Padat terhadap Masing-Masing Peubah. Sumber Keragaman Derajat Bebas Kuadrat Tengah (KT) PT PP PA U 3 8.55 1.90 1.92 (1.13)tn (0.73)tn (0.66)tn M 2 109.94 42.89 24.16 (14.53)** (16.36)** (8.32)** G 2 37.97 23.53 2.65 (5.02)* (8.98)** (0.91)tn MxG 4 5.90 4.33 0.65 (0.78)tn (1.65)tn (0.22)tn Galat 24 7.56 2.62 2.91

Keterangan : U = ulangan, M = metode, G =genotipe, MxG = interaksi antara metode dan genotipe, PT = panjang tanaman, PP = panjang plumula, PA = panjang akar, angka yang berada di dalam tanda kurung ( ) adalah nilai F hitung, tn = tidak nyata, * = nyata pada taraf 5 %, ** = nyata pada taraf 1 %.

Interaksi antara faktor metode dan genotipe tidak berpengaruh nyata pada semua peubah. Hal ini menunjukkan bahwa tiga metode pada media padat memberikan pengaruh yang sama terhadap genotipe yang digunakan.

Semua metode media padat menunjukkan hasil genotipe peka pada semua peubah lebih kecil dibandingkan dengan varietas toleran. Berdasarkan hasil rata-rata semua peubah, MP3 memiliki nilai yang paling besar dan selisih yang paling besar antara genotipe peka dengan varietas toleran (Tabel 7). Selisih antara genotipe peka kekeringan dengan varietas toleran kekeringan pada MP3 disebabkan oleh sifat pasir dan kaliandra sebagai media. Pasir bersifat poros dan semakin poros suatu tanah akan makin mudah akar untuk berpenetrasi, serta makin mudah air dan udara bersirkulasi, tetapi makin mudah pula air hilang dari tanah (Hanafiah, 2005). Kaliandra mampu menahan air lebih lama dan karena letaknya di bawah, kaliandra juga tidak mudah menguap. Hal ini terlihat pada kadar air pasir dan kaliandra pada akhir pengamatan yaitu sebesar 1.89 % untuk pasir dan 53.24 % untuk kaliandra.

Saat pasir mulai mengering, genotipe peka akan mengalami stres lebih cepat dibandingkan dengan padi yang toleran kekeringan. Padi yang stres terhadap kekeringan akan memanjangkan akarnya untuk mendapatkan air yang terletak di dalam media kaliandra, sedangkan varietas toleran masih dapat tumbuh secara normal. Menurut Mansfield dan Atkinson (1990), tanaman mengubah distribusi asimilat baru untuk mendukung pertumbuhan akar dengan mengorbankan tajuk, sehingga dapat meningkatkan kapasitas akar menyerap air serta menghambat pemekaran daun untuk mengurangi transpirasi. Hal ini dibuktikan dengan panjang akar genotipe peka kekeringan pada metode MP3 tidak berbeda jauh dengan varietas toleran, sedangkan panjang plumula genotipe peka kekeringan berbeda jauh dengan varietas toleran. Panjang akar pada genotipe peka kekeringan sebesar 9.90 cm, varietas toleran sebesar 11.43 cm dan 10.55 cm.

Panjang plumula dan panjang akar antara genotipe peka dan varietas toleran pada metode MP1 dan MP2 tidak berbeda jauh. Pada MP1 dipengaruhi oleh ketinggian wadah yang digunakan. Tinggi wadah sebesar 4 cm mengakibatkan air yang tersimpan dalam arang sekam mengalami penguapan yang sangat cepat dan tanaman padi tidak bisa memanjangkan akarnya kerena tinggi wadah yang terbatas, sehingga genotipe peka dan varietas toleran akan mengalami stres kekeringan pada waktu yang bersamaan. Pada metode MP2 dipengaruhi oleh media yang digunakan yaitu campuran arang sekam dan

kompos. Arang sekam kompos mempunyai sifat untuk menahan air. Kadar air arang sekam dicampur kompos pada akhir pengamatan adalah 52.01 %. Kompos juga dapat memperbaiki struktur tanah yang kering, mengandung unsur hara dan memiliki kapasitas pertukaran kation yang lebih tinggi (Setyorini et al., 2006). Hal ini menyebabkan tanaman membutuhkan waktu yang lama untuk mengalami stres kekeringan baik pada genotipe peka maupun varietas toleran.

Tabel 7. Pengaruh Metode Berpotensi Media Padat terhadap Semua Peubah pada Masing-Masing Genotipe dan Varietas.

Metode P T1 T2 Rataan T (T) Rataan M Selisih (T - P) Panjang Tanaman (cm) MP1 19.34 19.63 22.22 20.92 20.39c 1.58 MP2 21.88 23.46 24.61 24.04 23.32b 2.15 MP3 23.17 28.08 28.10 28.09 26.45a 4.92

Rataan G 21.46b 23.72ab 24.97a

Panjang Plumula (cm)

MP1 11.35 11.42 14.09 12.75 12.29b 1.40

MP2 14.39 15.71 15.76 15.73 15.29a 1.34

MP3 13.26 16.54 17.55 17.04 15.78a 3.78

Rataan G 13.00b 14.55a 15.79a Panjang Akar (cm)

MP1 7.80 8.33 8.01 8.17 8.05b 0.37

MP2 7.72 8.38 8.85 8.61 8.31b 0.90

MP3 9.90 11.43 10.55 10.99 10.63a 1.10

Rataan G 8.47 9.38 9.14

Keterangan : MP1 = metode padat arang sekam, MP2 = metode padat arang sekam dicampur kompos, MP3 = metode padat pasir dan kaliandra tanpa dicampur, rataan G = rata-rata setiap varietas pada semua metode, P = genotipe peka, T1 = Varietas Inpago 5, T2 = varietas Salumpikit, rataan M = rata-rata dari semua varietas pada setiap metode, angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap rataan tidak berbeda nyata pada taraf 5 % pada uji DMRT.

Dokumen terkait