3.1. Geomorfologi daerah telitian
Pemetaan geomorfologi pada dasarnya adalah memisahkan bentuk lahan
berdasarkan relief, batuan dan proses pembentukannya. Metode yang digunakan dalam pembagian satuan geomorfologi pada daerah telitian adalah :
Morfologi :menyangkut aspek-aspek yang bersifat pemerian (descriptive) antara lain; teras sungai ,kipas alluvial, plato, daratan, perbukitan, pegunungan, dsb.
Morfometri :menyangkut aspek-aspek yang bersifat kuantitatif;seperti kemiringan lereng,bentuk lereng beda tinggi, tingkat pengikisan sungai,dsb.
Morfogenesis :menyangkut faktor-faktor yang mengontrol pembentukan morfologi suatu daerah, seperti proses struktural, proses denudasi, proses fluviatil.
3. Satuan Dataran Aliran Lahar (V3)
• Satuan Bentuk Asal Denudasional : 1. Perbukitan breksi terkikis (D1)
Satuan-satuan batuan ini disajikan dalam peta Geomorfologi (Lampiran 3)
3.1.1.1. Bentuk Asal Karst
3.1.1.1.1. Perbukitan Karts (K1),
Berupa dataran tinggi dengan elevasi 350- 550 m. Memiliki luasan 14% dari keseluruhan peta. Memiliki kemiringan lereng 40-700, tersusun atas litologi batugamping. Morfogenesanya adalah perbukitan batugamping yang mengalami pelarutan baik kimia maupun fisika secara intensif yang kemudian mengakibatkan perbukitan tersebut terkikis, sehingga terbentuk morfologi bergelombang miring
sampai dengan miring kuat. (Gambar 3.2). 3.1.1.2. Bentuk Asal Vulkanik
3.1.1.2.1. Bukit Intrusi (V1)
Berupa dataran tinggi dengan elevasi 300-400m. Memiliki luasan 4% dari keseluruhan peta. Kemiringan lereng sekitar 30-450. Lokasinya setempat, sebelah tenggara peta di antara dataran tinggi/bukit. Litologinya berupa batuan andesit yang
endapan lahar Lawu, dicirikan dengan hubungan antar butir yaitu butiran didukung oleh lumpur (mudsupported).
3.1.1.3. Bentuk Asal Denudasional
3.1.1.3.1. Perbukitan Breksi terkikis (D1)
Berupa perbukitan dengan elevasi 450-600 m, bergelombang kuat. Memiliki luasan 14 % dari keseluruhan peta. Dengan kemiringan lereng antara 15-550. Lokasinya sebelah selatan peta, membentang dari sebelah barat hingga tengah peta. Tersusun oleh litologi breksi andesit dan lava. Morfogenesanya pasif dimana daerah tersebut tersusun atas litologi breksi yang mempunyai resistensi kuat. (Gambar 3.4).
Gambar 3.5.Foto Dataran piroklastik tuf dan Dataran Aliran lahar, arah foto N 005ºE
Tabel 3.1.Klasifikasi ralief dan kemiringan lereng menurut Van Zuidam, (1979)
No Relief Unit Kemiringan
Lereng (%)
Beda Tinggi (meter)
dipengaruhi oleh kemiringan lereng, perbedaan resistensi batuan, kontrol struktur, pembentukan pegunungan, proses geologi kuarter dan sejarah serta stadia
geomorfologi dari cekungan pola pengaliran (W.D. Thornbury, 1954).
Menurut Howard, (1966), pola pengaliran adalah kumpulan jalur - jalur pengaliran hingga bagian terkecilnya pada batuan yang mengalami pelapukan atau tidak ditempati oleh sungai secara permanen.
Berdasarkan hasil analisis peta topografi dan keadaan di lapangan yang mendasarkan pada bentuk dan arah aliran sungai, kemiringan lereng, kontrol litologi serta struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian maka pola aliran yang ada pada daerah penelitian adalah Subrectangular, Subdendritik dan Paralel (Gambar 3.6) berdasarkan klasifikasi A.D. Howard, (1966) yaitu:
3.1.1.4.1 Pola Subrectangular
Pola aliran rectangular adalah aliran cabang sungai tegak lurus terhadap sungai induk. Aliran memotong daerah secara tidak menerus. Pola aliran ini terdapat disekitar daerah Gondang. Pada daerah telitian pemeta menempati 32% dari total luas daerah telitian. Peneliti memasukkan dalam pola aliran subrectangular dikarenakan hanya terdapat sebagian dari pola dasar rectangular. Pola subrectangular berkembang pada Kali Krasak.
Gambar 3.6. Pola pengaliran daerah telitian berdasarkan (A.D Howard, 1966)
Keseluruhan pola pengaliran diatas terbentuk dari percabangan sungai utama pada daerah telitian yaitu Sungai Krisak. Secara genetis sungai – sungai tersebut dibagi menjadi 2 yaitu : sungai obsekuen yang mengalir berlawanan dengan arah kemiringan lapisan batuan dan sungai subsekuen yang mengalir sepanjang jurus perlapisan batuan dan membentuk lembah sepanjang daerah yang lunak.
3.1.1.5. Stadia Geomorfologi dan Tahapan Erosi
berkelok – kelok (bermeander), di beberapa tempat soil yang tebal dan menutupi singkapan batuan pada daerah telitian menunjukkan bahwa proses erosi dan pelapukan telah berjalan secara intensif.
Hasil analisis kemiringan lereng secara kuantitatif menunjukkan dominasi kelerengan yang hampir datar hingga miring pada daerah telitian, sedangkan perubahan pola pengaliran dari dendritik ke subdendritik merupakan akibat dari
suatu proses erosi yang intensif, litologi, topografi dan struktur geologi.
Berdasarkan hal-hal diatas dapat diketahui bahwa stadia geomorfologi dan tahapan erosi pada daerah telitian adalah stadia dewasa - tua.
3.1.1.6.. Proses Geologi Muda
Proses geologi muda yang terdapat pada daerah telitian berupa proses pelapukan, erosi, transportasi dan deposisi, yang dipengaruhi oleh jenis litologi, vegetasi, iklim serta struktur geologi yang bekerja.
Proses pelapukan yang bekerja pada daerah telitian sebagian besar dikontrol oleh pelapukan mekanis (mechanical weathering). Pelapukan mekanis adalah pelapukan yang diakibatkan oleh 1. Proses perubahan volume akibat pembekuan air di dalam pori-pori batuan, 2. Perubahan suhu yang sangat besar karena pemanasan dan
lama semakin mengalami pendangkalan, hal ini membuktikan bahwa proses geologi muda yang bekerja pada daerah telitian berjalan s ecara intensif dan bersifat kontinyu. 3.2. Stratigrafi Daerah Telitian
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, serta analisa kandungan fosil yang didapatkan selama penelitian berlangsung, dan setelah dibuat penampang stratigrafinya maka penulis membagi daerah telitian ini tersusun oleh beberapa satuan batuan dari tua ke muda adalah sebagai berikut: (Tabel 3.2)
1. Satuan Breksi Nglanggran 2. Intrusi Andesit
3. Satuan Batugamping Sampung 4. Satuan Tuf Jabolarangan 5. Satuan Lahar Lawu 6.
N23 N22
N21 N20
Satuan Lahar Lawu
Komponen andesit, basal dan sedikit batuapung beragam ukuran yang bercampur dengan pasir gunung api.
Satuan Tuf Jabolarangan
Tuf lapili dan breksi batuapung. Pada daerah telit ian fragmen breksi relatif membundar terdapat dalam masa dasar batupasirsangat halus sampai batupasir halus. ZAMAN KALA UMUR GEOLOGI B L O W ( 1 9 6 9 ) SIMBOL LITOSRATIGRAFI SATUAN BATUAN K U AR T E R P L I S T O S E N AWAL TENGAH AKHIR Qtj Qll Tuf Jabolarangan Lahar Lawu KETERANGAN H O L O S E N
Pada Satuan Breksi Nglanggran tersusun atas breksi volkanik dengan fragmen monomik berupa batuan andesit, batupasir volkanik, serta terdapat sisipan lava andesit dan sisipan tuf (Foto.3.8). Ciri-ciri di lapangan umumnya batuanya berwarna abu-abu cerah, menunjukkan struktur masif; tekstur: ukuran butir 4 mm - 256 mm, derajat pemilahan terpilah buruk, derajat pembundaran menyudut - menyudut menyudut tanggung, fragmen andesit (hornlande,kuarsa,biotit), matrik pasir volkanik, semen silika. Dengan sisipan lava dan tuf. Pada satuan breksi ini resistensi batuan cukup kuat sehingga proses pelapukan pada ba tuan penyusun dapat dikatakan
lemah.
Hasil analisa petrografi: Sayatan tipis batuan piroklastik (batupasir volkanik pada matrik); warna kuning; bertekstur klastik, ukuran butir 0,5–1 mm; grain supported, dengan bentuk butir menyudut-agak menyudut; yang disusun oleh; Kristal, Lithic dan vitric. Kristal (55%) terdiri dari orthoklas (25%), plagioklas (15%), hornblende (8%), biotit (7%), opaq mineral (5%), Lithic (20%), Vitric (20%). crisytal Tuff (Menurut Klasifikasi William, 1954)
Sayatan tipis batuan beku intermediet vulkanik (Lava Andesit); hipokristalin; fanerik halus, euhedral-subhedral, ukuran butir 0,1–0,5 mm; inequigranular vitroverik, disusun atas Kristal dan Gelas. Kristal (50%) terdiri dari plagioklas (25%) fenokris
3.2.1.3. Lingkungan pengendapan.
Satuan Breksi Nglanggran terbentuk pada lingkungan pengendapan vulkanik. Berdasarkan karakteristik litologi pada pengamatan penampang stratigrafi terukur 1 Gondang dengan kehadiran batupasir, breksi, dan lava. Kehadiran batupasir dengan masa dasar tuf serta breksi dengan masa dasar tuf dapat dimasukkan kedalam endapan breksi tuf. Berdasarkan Fasies Gunung Api menurut modifikasi Sutikno Bronto (2006) dari model pembagian Fasies Gunung Api menurut (Bogie & Mackinzie, 1998) pada pengamatan penampang stratigrafi 1 dapat dimasukkan dalam Fasies Proksimal.
3.2.1.4. Penyebaran.
Penyebaran dari Satuan Breksi Nglaggran ini berada pada bagian tengah sampai bagian Timur yaitu didaerah Pohijo, Gunung Watukurut, Gunung Janti hingga ke desa Gondang. Topografi yang ada di daerah ini bergelombang sedang karena intensitas pelapukan lemah. Luas dari penyebaran Satuan Breksi Nglanggran ini kurang lebih 30% dari keseluruhan peta.
c. Lava dengan xenolit tuf
Gambar3.8.Foto Singkapan satuan batuan breksi Nglanggran dengan kedudukan N 175ºE /8º (LP 91) Arah kamera: Barat laut ( N 300ºE).
3.2.2. Satuan Intrusi Andesit
3.2.2.1. Litologi penyusun dan ciri-ciri
Pada Satuan Intrusi Andesit tersusun atas batuan beku andesit ,berupa intrusi dengan ciri di lapangan umumnya batuan beku intermediet vulkanik, warna.fresh : abu-abu kehitaman, warna.lapuk : kuning-kecoklatan, tekstur ; d.kristalisasi : hipokristalin, granularitas : fanerik sedang (1 – 5 mm), kemas : euhedral, relasi : inequigranular- porfiritik, komp.min : hornblende, piroksen, biotit , kuarsa. (Gambar.3.9)
Pada Satuan Intrusi Andesit ini resisteni batuan cukup kuat, tetapi karena intensitas pelapukan yang tinggi serta terdapat kekar-kekar tiang sehingga proses pelapukan pada batuan penyusun dapat dikatakan kuat.
Hasil analisa petrografi : Batuan beku vulkanik ,warna abu-abu kehijauan, tekstur porfiritic ( fenokris tertanam dalam oleh masa dasar), bentuk subhedral-anhedral, komposisi mineral terdiri dari mineral plagioklas, kuarsa, piroksen, hornblende,
Gambar.3.9.FotoSingkapan andesit pada satuan intrusi andesit. Berupa sill dengan kenampakan kekar tiang (LP 39). Dengan arah umum N 010/60ºE , Arah kamera: Utara (N 010ºE),
berukuran 1– 5 mm.) Allochem/Fosil, (30%), tidak berwarna – kecoklatan, relief sedang, bentuk sebagian besar pecah (skeletal), bias rangkap ekstrim, berupa foram plankton dan bentos serta pecahan ganggang / koral, berukuran 1–5 mm, hadir merata dalam sayatan., Opaq (2%), Hitam, relief tinggi, indeks bias n>nKb, berukuran 0,1–0,5 mm, agak membundar. Mikrit / Lumpur (38%), tidak berwarna, berukuran kurang dari 0,02mm, warna interferensi sangat tinggi – ekstrim, hadir merata dalam sayatan. Sparit /Kalsit (30%), berwarna kuning, relief rendah, berukuran 0,05–0,5mm, relief rendah hadir merata dalam sayatan Wackstone
(klasifikasi Dunham, 1962)
3.2.3.2. Umur dan hubungan stratigrafi
Berdasarkan analisa mikropaleontologi foraminifera plankton di dapatkan fosil Orbulina universa, Globigerinoides trilobus, Globigerinoides altiapertura, Globorotalia siakensis, Globorotalia mayeri, Globorotalia perpheroacula, Globorotalia altispira, Globigerinoides sacculifer dan didapatkan umur relatif N 9 – N 13 dan N 13 – N 15. Satuan Batugamping Sampung terendapkan di atas Satuan Breksi Nglanggran, dan hanya menumpang diatas Satuan Breksi Nglanggran dan Satuan Intrusi Andesit. Memiliki hubungan tidak selaras dengan Satuan Breksi Nglaggran. Analisa foraminifera plankton (Lampiran 2)
Gambar.3.10. FotoSingkapan batugamping pada Satuan Batugamping Sampung (LP 31) Daerah: Gunung Gedonggiyono, Arah kamera: Barat daya ( N185ºE).
3.2.4. Satuan Tuf Formasi Jabolarangan 3.2.4.1. Litologi penyusun dan ciri-ciri
Pada Satuan Tuf Jabolarangan tersusun atas tuf lapili dan breksi batuapung. Dengan ciri di lapangan umumnya batuan piroklastik, warna.fresh : putih, warna.lapuk : kuning-. (Gambar.3.12)
3.2.4.2. Umur dan hubungan stratigrafi
Berdasarkan geologi regional lembar Ponorogo penentuan umur berdasarkan kesebandingan. Satuan Tuf Jabolarangan ini diperkirakan berumur plistosen tengah - plistosen akhir (Sampurno dan H.Samodra 1997). Satuan Tuf Jabolarangan
menumpang secara tidakselaras diatas Satuan Breksi Nglanggran. 3.2.4.3. Fasies Gunung Api.
Satuan Tuf Jabolarangan terbentuk pada Fasies Gunung Api medial. Berdasarkan karakteristik litologi pada pengamatan lapangan Puhpelem dengan kehadiran breksi batuapung dan batupasir tufan. dapat dimasukkan kedalam endapan tuf. Berdasarkan modifikasi Fasies Gunung Api menurut Sutikno Bronto (2006) mengacu kepada model Pembagian Fasies Gunung Api menurut Bogie & Mackinzie (1998) pada pengamatan lapangan Pohijo dapat dimasukkan dalam Fasies Medial.
Gambar.3.12. FotoSingkapan breksi batuapung pada Satuan Tuf Jabolarangan Daerah: Bakalan, Arah kamera: Timur (N 270ºE), Cuaca: Cerah
Gambar.3.12. FotoSingkapan breksi batuapung pada Satuan Tuf Jabolarangan Daerah: Bakalan, Arah kamera: Timur (N 270ºE), Cuaca: Cerah
3.2.5. Satuan Lahar Formasi Lawu 3.2.5.1. Litologi penyusun dan ciri-ciri
Pada Satuan Lahar Lawu tersusun atas komponen andesit dan sedikit batuapung beragam ukuran yang bercampur dengan pasir gunungapi. Dengan ciri di lapangan umumnya batuan piroklastik, warna.fresh : putih, warna.lapuk : kuning (Gambar.3.13)
Penyebaran dari Lahar Lawu ini berada pada bagian utara daerah telitian berarah barat laut- tenggara. Topografi yang berada di daerah Sayutan dan daerah Pohijo, daerah ini landai dengan kelerengan kurang lebih 5%, dengan intensitas pelapukan sedang. Luas dari penyebaran satuan lahar lawu kurang lebih 36% dari keseluruhan peta.
Gambar.3.12. FotoSingkapan breksi lahar lawu kontak dengan batupasir tufan pada Satuan Lahar Lawu (LP 24), Daerah: Pohijo, Kedudukan: N 300ºE/7, Arah kamera: Timur laut (N 050ºE).
3.3 Struktur Geologi Daerah Telitian.
Analisis struktur geologi yang terdapat didaerah penelitian didasarkan pada data – Insert foto
Penulis menentukan jenis sesar yang ada pada daerah telitian berdasarkan kenampakan dari pergerakan relatif lapisan batuan yang telah bergeser dan hasil pengukuran kedudukan bidang sesar yang ditemui.
Pada daerah penelitian, ada tiga buah struktur sesar yang penulis temukan, yaitu sesar normal.
3.3.1.1. Sesar Normal Gondang
Pada daerah penelitian, sesar normal ini terdapat di sekitar desa gondang pada lokasi pengamatan 91, Sesar tersebut terdapat pada s atuan breksi yang berarah kurang lebih
timur - barat.
Indikasi keberadaan sesar
Indikasi keberadaan struktur sesar ini di lapangan adalah ditemukannya adanya offset sesar berupa bidang sesar yang ditunjukan adanya pergeseran dari lapisan batuan pada batupasirtufan. (Gambar.3.14).
3.3.1.2. Sesar Normal Watukurut
Pada daerah penelitian, sesar normal ini terdapat di sekitar desa gondang pada lokasi pengamatan 48, Sesar tersebut terdapat pada s atuan breksi yang berarah kurang lebih
Gambar 3.15. Foto offset bidang sesar normal Watukurut dengan kedudukan bid.sesar N 086ºE/80º Arah kamera: Barat ( N 285ºE), Cuaca: Cerah
3.4. Sejarah Geologi
Sejarah geologi daerah telitian dimulai pada periode Tektonik kala Oligosen – Miosen awal. Periode tektonik ini yang membentuk aktivitas gunung api pada kala Oligosen - Miosen awal. Aktivitas gunung api pada kala ini merupakan sumber dari diendapkannya Satuan Breksi Nglanggran. Kemudian pada kala Miosen awal aktivitas vulkanik masih terjadi sehingga menghasilkan penerobosan magma berupa andesit yang muncul dari zona-zona lemah yang mengakibatkan sebagian batuan yang yang di intrusi oleh andesit sehingga mengalami alterasi. Satuan Breksi Nglanggran diterobos oleh Satuan Intrusi Andesit, selanjutnya diendapkan secara tidak selaras Satuan Batugamping Sampung pada kala Miosen awal – Miosen tengah. Dengan diendapkannya Satuan Batugamping Sampung berarti berakhir pula aktivitas