• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerakan Islam di Arena Politik Internasional

Dalam dokumen AriefMunandar-Disertasi-Lengkap (Halaman 73-76)

KERANGKA KONSEPTUAL

2.2. Telaah Beberapa Studi Terdahulu

2.2.2. Gerakan Islam di Arena Politik Internasional

Sebagai organisasi aktifis Islam yang paling tua, besar dan berpengaruh di dunia (Leiken dan Brooke, 2007), mudah dipahami jika Ikhwan al-Muslimin (IM) merupakan inspirasi terpenting PKS.1 Munson (2001) berargumentasi bahwa pesatnya pertumbuhan IM disebabkan oleh keselarasan antara gagasan dan ideologi IM dengan struktur dan aktifitas organisasi, serta keseharian masyarakat Mesir.

Namun IM tidak lepas dari dinamika internal dan faksionalisasi. Ide radikal Sayyid Quthb, seorang pemikir IM berpengaruh, yang menuntut pembentukan sistem Islam dari atas dengan membongkar sistem jahiliyah seperti termaktub dalam bukunya Ma’alim fii ath-Thariq (Petunjuk Jalan), jelas berseberangan dengan ide Islamisasi gradual dari bawah ala Hasan al-Banna, pendiri IM. Untuk memisahkan IM dari dimensi radikal pemikiran Quthb, penerus

1

Pengaruh Ikhwan al-Muslimin terhadap Jemaah Tarbiyah/PKS, khususnya terhadap budaya organisasinya, diulas di Bab 3. Sejauh ini terdapat kontroversi tentang sejauh mana hubungan antara Jemaah Tarbiyah/PKS dengan Ikhwan al-Muslimin (IM). Menurut Machmudi (2008), IM adalah salah satu sumber inspirasi Jemaah Tarbiyah yang kemudian diadaptasi dengan unsur-unsur

al-Banna, Hasan al-Hudaibi, menerbitkan Du’ah, la Qudhah (Penyeru, Bukan Hakim) di tahun 1969 yang menegaskan fokus IM sebagai gerakan dakwah.

Di sisi lain terdapat kelompok generasi muda IM yang tidak sabar dengan aktifisme gradual IM dan frustrasi dengan struktur IM yang sentralistis. Mereka berhimpun dalam Hizb al-Wasat (Partai Pertengahan) yang menuntut keterlibatan dalam politik praktis dan perhatian pada isu-isu kontemporer seperti demokrasi, civil society, HAM, dan negara bangsa dalam konteks Islam. Pemikiran kelompok ini banyak dipengaruhi oleh Yusuf al-Qardhawi dan sejumlah intelektual muslim Mesir yang sering dijuluki kelompok wasatiyah (pertengahan) (Greg Fealy dan Anthony Bubalo, 2005).

Selain IM, kiprah politik para aktifis Islam Turki merupakan pembanding yang penting dalam mengkaji Jemaah Tarbiyah/PKS. Özbudun (2006) meneliti Justice and Development Party (Adalet ve Kalkinma Partisi, AKP) Turki yang mengidentifikasi dirinya sebagai “partai demokrat yang moderat dan konservatif” dan “satu-satunya kekuatan kanan-tengah yang tidak bisa diragukan”.2 AKP meraih 34,3% suara pada pemilu parlemen 2002 dan 41,2% pada pemilu lokal 2004, sehingga menjadi satu–satunya partai – setelah terakhir ANAP tahun 1991 – yang mampu memerintah sendiri tanpa koalisi.

Penelitian Özbudun menyimpulkan beberapa hal. Pertama, untuk sukses mendulang suara pemilih, partai perlu melakukan perubahan mendasar dalam merespon tantangan eksternal. Kedua, konsistensi “pesan” yang disampaikan kepada pemilih melalui program, sistem nilai, organisasi partai, strategi bersaing, kampanye politik, dan citra pribadi tokoh-tokoh partai, sangat menentukan keberhasilan partai meraih dukungan. Ketiga, keberhasilan dalam pemilu juga sangat ditentukan oleh kemampuan partai menarik simpati pemilih dari kelompok–kelompok yang bervariasi. Keempat, untuk menang partai harus

2

Sebagian elit dan kader PKS kerap menjadikan AKP Turki sebagai benchmark partai politik yang sukses mengusung Islam substantif, dan karenanya membandingkan AKP dengan PKS. Bahkan seorang elit PKS menjadikan perbandingan kedua partai ini sebagai fokus penelitiannya dalam penulisan disertasi di Departemen Ilmu Politik FISIP UI. Namun seorang informan mengkritik bahwa perbandingan tersebut kerap hanya merupakan upaya untuk melegitimasi langkah-langkah pragmatis PKS. Padahal menurutnya, terlepas dari kemasan AKP yang sekuler para elit partai tersebut tetap menjaga integritas, khususnya dalam bidang finansial, dengan membangun kekuatan ekonomi.

mengedepankan kinerja dan citra yang baik, karena kini pemilih cenderung pragmatis.

Temuan Özbudun tersebut sejalan dengan pendapat Kayhan Delibas (2009) yang menegaskan bahwa gerakan Islam Turki muncul dan berkembang sebagai gerakan akar rumput yang populer sehingga memiliki orientasi politik yang kuat dan merupakan manifestasi “agama publik,” sebagaimana Hamas di Palestina, Hizbullah di Libanon, dan Jamaat al-Islami di Pakistan. Menurut Delibas, politik Islam di Turki merupakan bagian dari proses “multiple modernities” yang dipengaruhi oleh masifnya pendidikan, komunikasi, dan urbanisasi. Intinya, AKP meraih sukses karena kemampuannya mengambil langkah-langkah pragmatis tanpa melepaskan bingkai idealismenya.

Sementara itu, Hwang dan Mecham (2010) membuat perbandingan yang menarik antara AKP Turki dengan PKS. Dalam pandangan mereka, AKP dan PKS memiliki banyak kesamaan, antara lain berkirpah di dua negara mayoritas muslim yang paling demokratis di dunia, efektifitas dalam menjangkau pemilih di akar rumput, fokus yang kuat terhadap isu-isu populis, jejaring yang kuat di kalangan profesional dan pemuda, dan keinginan untuk menjadi pemain kunci dalam perpolitikan masing-masing. Namun mereka juga mengatakan:

“Much of the AKP’s electoral success is due to its ability to transform previous incarnations of the Turkish Islamist party into a party of the

morally-conservative but pragmatic political center, and thus expand

substantially into the ranks of non-Islamist voters. The PKS, by contrast,

has struggled to define the extent to which the party should move to the center, despite the apparent strategic incentives for doing so.” (hal. 5). Dalam pandangan Hwang dan Mecham, AKP yang lahir sebagai partai politik memiliki ruang gerak yang lebih leluasa ketimbang PKS yang lahir sebagai jemaah. Mereka mengatakan,

“The strategic flexibility of the PKS is further constrained by the fact that

it is both a movement and a party ... By contrast, the AKP was born as a political party, from a long line of political parties, and thus is organized

primarily for success in its political mission”.

pemilih mayoritas di Turki, sebagaimana dikatakan Hwang dan Mecham, “In doing so, it has still maintained its preferences for supporting public morality, walking a fine line between capturing new constituents and avoiding the loss of its Islamist support base”. Sementara itu, PKS terlihat masih gamang mendefinisikan identitasnya, yang antara lain terlihat dari iklan-iklan politiknya menjelang Pemilu 2009 yang lalu, serta beberapa isu yang menimbulkan keraguan publik atas komitmennya terhadap gerakan anti-korupsi.

Sebagai kesimupulan, AKP merupakan hasil interaksi yang berkesinambungan antara kepemimpinan partai yang Islami, pembatasan ruang gerak berpolitik oleh negara, dan tuntutan pemilih. Dalam hal ini, Hwang dan Mecham mencatat perbedaan setting yang dihadapi oleh AKP dan PKS. AKP menghadapi ancaman militer, sejarah penutupan partai-partai oleh Mahkamah Konstitusi, dan mobilisasi masyarakat sipil yang sekular, di samping peraturan electoral treshold yang sangat tinggi (10%). Hal-hal tersebut memaksa AKP menjadi “partai tengah”. Sementara itu, kondisi arena politik Indonesia – kebebasan mengekspresikan ideologi, dan restriksi yang relatif longgar terhadap partai politik – tidak menyediakan insentif yang cukup kuat bagi PKS untuk menetapkan arah politik yang konsisten sebagaimana AKP.

Dalam dokumen AriefMunandar-Disertasi-Lengkap (Halaman 73-76)