METODOLOGI PENELITIAN
3.8. Pembatasan dan Keterbatasan Penelitian
Periode yang diteliti dibatasi pada kurun waktu tahun 2004, khususnya pasca Pemilu 2004, sampai dengan 2010, namun tetap dikaitkan dengan momen-momen penting sebelum periode tersebut. Pembatasan tersebut dilakukan dengan dua alasan. Pertama, dari informasi awal yang ada, peneliti menyimpulkan, dinamika internal yang relatif kuat dan terbuka di PKS terjadi pasca Pemilu 2004. Kedua, belum banyak penelitian lain yang membahas PKS dalam kurun waktu tersebut.
Di sisi lain, terdapat beberapa keterbatasan dari penelitian ini. Pertama, keterbatasan yang melekat pada diri peneliti sebagai instrumen utama penelitian ini. Dalam Jemaah Tarbiyah/PKS peneliti tidak berada dalam posisi yang dapat dengan mudah mengakses sejumlah informan kunci. Keterbatasan ini diatasi dengan mengoptimalkan hubungan pribadi dengan berbagai pihak yang dapat menjembatani akses kepada para informan kunci tersebut. Di samping itu, sebagaimana telah disampaikan di atas, sebagai kader PKS peneliti memiliki preferensi terhadap kelompok atau pemikiran tertentu dalam dinamika internal yang terjadi dalam PKS. Hal tersebut berpotensi menimbulkan bias dalam menganalisis dan menafsirkan data penelitian ini. Untuk mengurangi bias tersebut, untuk setiap isu yang digali dan diungkapkan peneliti mencoba menyajikan pendapat dari para informan yang mungkin mewakili kelompok/faksi yang berbeda-beda secara berdampingan. Di samping itu, saran, masukan, dan koreksi dari Tim Penguji, baik internal maupun eksternal, yang merupakan pihak yang netral, tidak terafiliasi dengan faksi/kelompok yang ada, dan berjarak terhadap subjek penelitian ini, sangat membantu mengurangi berbagai bias yang mungkin timbul terkait dengan posisi peneliti.
Keterbatasan yang kedua terkait dengan keterbatasan informan yang berhasil diwawancarai. Hampir seluruh informan adalah elit PKS yang berada di pusat. Sebagian dari mereka adalah anggota the party in public office, sebagian lagi merupakan bagian dari the party in central office, dan satu orang merupakan mantan kader senior yang memilih meninggalkan partai karena merasa tidak sepaham dengan Ustadz Hilmi Aminuddin sebagai pimpinan tertinggi partai dala
hal-hal yang bersifat mendasar. Peneliti tidak mewawancarai elit Partai yang ada di daerah maupun kader-kader yang merupakan bagian dari the party on the ground.
Keterbatasan yang ketiga, sampai saat disertasi ini selesai ditulis peneliti tidak berhasil mewawancari empat tokoh penting yang sebenarnya ada dalam daftar calon informan penelitian ini, yaitu salah seorang mantan Presiden PKS, mantan Ketua PKS pada saat Partai ini dideklarasikan, Presiden PKS saat ini, dan Ustadz Hilmi Aminuddin, Ketua Majelis Syura PKS. Peneliti memandang tokoh yang merupakan mantan Presiden PKS tersebut penting untuk diwawancarai karena yang bersangkutan memimpin di masa transisi dari PK menjadi PKS. Di samping itu beberapa pihak menyebut yang bersangkutan sebagai icon dari “faksi keadilan”, salah satu faksi dalam dinamika internal PKS. Namun sayangnya yang bersangkutan tidak bersedia diwawancarai karena alasan pribadi. Tokoh lain yang tidak bersedia diwawancarai adalah mantan Ketua PKS, yang memimpin deklarasi partai ini di tahun 2003 setelah PK tidak lulus treshold. Yang bersangkutan tidak bersedia dengan alasan dirinya sudah lama tidak berada di struktur Partai. Presiden PKS saat ini, Ustadz Lutfi Hasan Ishaq, sebenarnya telah menyatakan kesediaan untuk diwawancarai, namun terbentur persoalan ketidakcocokan jadwal. Sedangkan Ustadz Hilmi Aminuddin tidak dapat diwawancarai karena hingga saat ini peneliti tidak memperoleh akses untuk mengontak yang bersangkutan.
Dalam pandangan peneliti, adanya beberapa tokoh PKS yang tidak bersedia diwawancarai mencerminkan kuatnya nilai-nilai conformity and compliance, serta harmoni, dalam budaya organisasi PKS. Dari beberapa informan peneliti menyimpulkan bahwa kedua tokoh yang tidak bersedia dilibatkan dalam penelitian ini memiliki dua kesamaan. Pertama, mereka berafiliasi dengan kelompok religious movement oriented. Bahkan peneliti mendapatkan informasi bahwa keduanya merupakan icon dari “faksi keadilan”. Kedua, mereka saat ini sudah tidak menempati jabatan strategis apapun dalam struktur partai. Peneliti memiliki dugaan kuat bahwa mereka enggan diwawancarai karena khawatir semakin terlihat berseberangan dengan struktur partai yang saat ini didominasi oleh kelompok political party oriented, karena jika
demikian publik eksternal akan semakin mencium gejala konflik internal di PKS, dan para tokoh dari kelompok religious movement oriented akan terpojok dan semakin sulit bermanuver. Dengan demikian, dalam pandangan peneliti keengganan tersebut justru memperkuat kesimpulan tentang eksistensi pengelompokkan/faksionalisasi dan konflik internal di PKS.
Keterbatasan yang keempat, peneliti sangat mengandalkan hasil wawancara dengan para informan sebagai sumber data primer. Peneliti tidak berhasil mendapatkan cukup banyak data sekunder berupa “hard evidences” untuk menguatkan pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh informan. Misalnya, peneliti tidak bisa memperoleh daftar nama pengusaha/badan usaha yang menjadi donor PKS terkait dengan pembahasan mengenai pragmatisme finansial. Peneliti juga tidak dapat mengakses notulensi Musyawarah Majelis Syura ataupun rapat-rapat lainnya yang menggambarkan implikasi dari dinamika internal di antara faksi-faksi atau kelompok-kelompok yang ada. Penjelasan verbal dari para informan tentang dinamika dalam forum-forum tersebut adalah sumber alternatif terbaik yang berhasil diperoleh peneliti. Di samping itu, peneliti melengkapi informasi dari beberapa berita tentang PKS yang dimuat di media massa, baik media cetak maupun media on-line, dengan tetap bersikap hati-hati untuk meminimalkan bias yang tidak mungkin dilepaskan dari pemberitaan media. Kesulitan untuk memperoleh dokumen-dokumen formal sebagai “hard evidences” dapat dilihat sebagai indikator ketertutupan PKS. Dengan kata lain, PKS belum memenuhi tuntutan akuntabilitas publik dan transparansi sebagai partai politik moderen. Namun demikian, peneliti memahami bahwa kondisi itu terkait dengan aspek historis sebagai jemaah dan gerakan “bawah tanah” yang sampai saat ini, dan mungkin sampai kapanpun, tidak dapat dilepaskan dari jatidiri PKS.