BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Gerakan Literasi Sekolah
Istilah literasi dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Inggris literacy yang secara etimologi berasal dari bahasa Latin literatu, yang berarti orang yang belajar. Dalam bahasa Latin juga terdapat istilah littera (huruf) yaitu sistem tulisan dengan kesepakatan yang menyertainya. Pengertian literasi menurut UNESCO adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis, yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dari siapa serta cara memperolehnya. Sedangkan pengertian literasi secara umum adalah kemampuan individu mengolah dan memahami informasi saat membaca dan menulis.10
Kata literasi telah memiliki berbagai makna baru pada abad ke-21. Secara tradisional, literasi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Orang yang dapat dikatakan literat dalam pandangan ini adalah orang yang mampu membaca dan menulis atau bebas buata huruf. Literasi telah bergeser dari pengertian yang sempit menuju pengertian yang lebih luas mencakup berbagai bidang penting lainnya. Perubahan ini disebabkan oleh berbagai faktor baik faktor
10https://www.literasipublik.com/pengertian-literasi. Diakses pada tanggal 26 Februari 2018, pada pukul 14.45.
perluasan makna akibat semakin luas penggunaannya, perkembangan teknologi informasi dan teknologi, maupun analogi.11
Pembelajaran literasi lebih dikenal sebagai pembelajaran dalam bidang bahasa Indonesia padahal pemanfaatan literasi tidak melulu berkaitan dengan mata pelajaran kebahasaan, namun dapat diterapkan untuk seluruh mata pelajaran.12 Secara tradisional, literasi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun dalam perkembangannya literasi tidak hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis tetapi lebih berkembang lagi menjadi kemampuan membaca, menyimak, menulis, dan berbicara .13
1) Keterampilan Membaca
Dalam konsep literasi, membaca merupakan sebuah usaha untuk memahami, menggunakan, merefleksi, dan melibarkan diri dalam berbagai jenis teks untuk mencapai tujuan.14 Membaca berfungsi sebagai salah satu jalan yang meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan. Keterampilan membaca berujung pada kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis dan reflektif.15 Aktivitas membaca diawali dengan membaca teks, memaknai teks, mendiskusikan teks, dan membangun pemahaman atas isi teks. Setelah aktivitas-aktivitas tersebut dilaksanakan, kemudian dilanjutkan pada menyimpulkan, mengevaluasi, dan mengonfirmasi hasil bacaan.16
11
Yunus Abidin 2015 , op.cit., hlm. 51.
12
Hendra Kurniawan, “Pembelajaran Literasi dalam Mata Pelajaran Sejarah”, Historia Vitae, Vol 32, No. 1, Universitas Sanata Dharma, hlm.1.
13
Yunus Abidin dkk. Pembelajaran Literasi : Strategi Meningkatkan Kemampuan Literasi
Matematika, Sains, Membaca, dan Menulis, Jakarta: Bumi Aksara, 2017, hlm. 1. 14Ibid., hlm. 165.
15Hendra Kurniawan, op.cit., hlm. 5.
2) Keterampilan Menyimak
Menyimak tidak sekedar kegiatan mendengarkan tetapi juga memahaminya untuk memperoleh berbagai informasi. Menyimak berfungsi sebagai sarana untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Keterampilan menyimak dapat menjadi cara untuk memahami secara lebih mendalam berbagai bentuk sumber literasi digital yang berkembang. Keterampilan membaca dan menyimak sifatnya saling menopang dan melengkapi untuk mengonstruksi pemahaman literasi lebih optimal.17
3) Keterampilan Menulis
Menulis merupakan kemampuan untuk menghasilkan gagasan kreatif atas pengetahuan yang sudah dimiliki.18 Menulis untuk membangun makna berarti bahwa kegiatan menulis yang dilakukan tidak hanya sekedar berfungsi sebagai sarana menyalurkan ide orang lain melainkan sarana untuk menyalurkan ide peserta didik sendiri sehingga pemahamannya atas suatu hal akan semakin meningkat. Melalui kegiatan menulis, peserta didik akan mampu mengkomunikasikan ide-ide tersebut pada orang lain sehingga akan terbina pula kemampuannya dalam berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain tersebut.
4) Keterampilan Berbicara
Berbicara diartikan sebagai kemampuan memproduksi ide secara lisan dengan isi yang berbobot dan cara penyampaiannya yang tepat. Kemampuan ini sangat berguna untuk berbagai kepentingan baik dalam hal menyampaikan ide,
17Ibid., hlm. 12.
mempengaruhi dan meyakinkan orang lain. Keterampilan berbicara secara akuntabel merupakan ciri kepemilikan pengetahuan yang mendalam, kemampuan berpikir yang kritis dan kreatif, dan sekaligus ciri kemampuan berkomunikasi secara matang dan dewasa untuk berbagai tujuan.19
Dalam pembelajaran literasi, empat kemampuan ini dilakukan seefisien mungkin untuk meningkatkan kemampuan berfikir meliputi kemampuan mengkritisi, menganalisis, dan mengevaluasi informasi dari berbagai sumber dalam berbagai ragam disiplin ilmu dan kemampuan mengkomunikasikan informasi tersebut.
Pembelajaran literasi bertujuan untuk memperkenalkan anak-anak tentang dasar-dasar membaca, menulis, memelihara kesadaran bahasa, dan motivasi untuk belajar. Pembelajaran literasi pada jenjang sekolah menengah bertujuan untuk membawa peserta didik agar semakin memiliki motivasi untuk menumbuhkan minat berliterasi dalam dirinya guna meningkatkan minat baca dan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Adapun tujuan pembelajaran literasi pada abad ke 21 yaitu20:
1) Membentuk peserta didik menjadi pembaca, penulis, dan komunikator yang strategis.
2) Meningkatkan kemampuan berpikir dan mengembangkan kebiasaan berpikir pada peserta didik
3) Meningkatkan dan memperdalam motivasi belajar peserta didik.
4) Mengembangkan kemandirian peserta didik sebagai seorang pembelajar yang kreatif, inovatif, produktif, dan sekaligus berkarakter.
Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang
19
Ibid., hlm. 63. 20Ibid., hlm. 54.
didapatkannya di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik dirumah maupun dilingkungan sekitarnya.21 Sejalan dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi guru di sekolah harus berpikir bahwa literasi merupakan sebuah konsep yang berkembang dan dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di kelas.22 Pembelajaran literasi ini diharapkan mampu mendukung proses dan pencapaian hasil pembelajaran secara optimal bukan malah mempersulit proses pembelajaran.23
b. Komponen Literasi Sekolah
Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Di abad 21 ini, kemampuan ini disebut sebagai literasi informasi.
Clay menjabarkan bahwa komponen literasi informasi terdiri atas literasi dini, literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi visual. Dalam konteks Indonesia, literasi ini diperlukan sebagai dasar pemerolehan berliterasi tahap selanjutnya. Komponen literasi tersebut dijelaskan sebagai berikut24:
1) Literasi Dini
Literasi dini diartikan sebagai kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah.
21
Dirjen Dikdasmen, Desain Induk Gerakan Literasi Sekolah, Jakarta: Kemendikbud, 2016, hlm. 2.
22Yunus Abidin dkk, 2017, op.cit., hlm. 3.
23Hendra Kurniawan, op.cit., hlm. 6.
2) Literasi Dasar
Literasi dasar diartikan sebagai kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung serta berkaitan juga dengan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan, mempersepsikan informasi, mengomunikasikan, serta menggambarkan informasi berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi.
3) Literasi perpustakaan
Memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, , memahami penggunaan katalog, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah.
4) Literasi Media
Literasi media diartikan sebagai Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya.
5) Literasi Teknologi
Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti perangkat keras, perangkat lunak, serta etika dalam memanfaatkan teknologi. Berikutnya, kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet.
6) Literasi Visual
Literasi visual merupakan pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, yang mengembangkan kemampuan dan kebutuhan belajar dengan memanfaatkan materi visual dan audio visual secara kritis dan bermartabat.
Pihak yang berperan aktif dalam pelaksanaan komponen literasi dipaparkan pada tabel berikut25:
Tabel 1. Pihak Pelaksanaan Komponen Literasi
No Komponen Literasi Pihak yang Berperan Aktif
1 Literasi Usia Dini Orangtua dan keluarga, guru/PAUD, pamong atau pengasuh
2 Literasi Dasar Pendidikan Formal 3 Literasi Perpustakaan Pendidikan Formal
4 Literasi Teknologi Pendidikan Formal dan Keluarga
5 Literasi Media Pendidikan Formal, keluarga, dan lingkungan sosial
6 Literasi Visual Pendidikan Formal, keluarga, dan lingkungan sosial
Literasi yang menyeluruh dan saling terkait ini memampukan seseorang untuk berkontribusi kepada masyarakatnya sesuai dengan kompetensi dan perannya sebagai warga Negara global. Dalam Komponen literasi tersebut terdiri dari enam kemampuan yang berbeda. Selain itu, diperlukan juga pendekatan belajar-mengajar yang mengembangkan komponen-komponen literasi ini. Kesempatan peserta didik tertuang dalam komponen literasi yang dapat menentukan kesiapan peserta didik berinteraksi dengan literasi visual. Hal
tersebut membuktikan bahwa literasi tidak hanya didefinisikan sebagai aktivitas membaca dan menulis saja.
c. Kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Berdasarkan buku panduan yang dibuat oleh Kemendikbud terkait kebijakan ini, GLS memiliki26:
1) Landasan Filosofi
Sumpah Pemuda butir ketiga (3) menyatakan, “menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia” yang memiliki makna pengakuan terhadap keberadaan ratusan bahasa daerah yang memiliki hak hidup dan peluang penggunaan bahasa asing sesuai dengan keperluannya.
a) Butir ini menegaskan pentingnya pembelajaran berbahasa dalam pendidikan nasional.
b) Konvensi PBB tentang Hak Anak pada tahun 1989 tentang pentingnya penggunaan bahasa ibu. Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa, khususnya mikrokultur-mikrokultur tertentu tertentu perlu difasilitasi dengan bahasa ibu saat mereka memasuki pendidikan dasar kelas rendah (kelas I, II, III).
c) Konvensi PBB di Praha tahun 2003 tentang kecakapan literasi dasar dan kecakapan perpustakaan yang efektif merupakan kunci bagi masyarakat literat dalam menghadapi derasnya arus informasi teknologi.
2) Landasan Hukum
Landasan hukum Gerakan Literasi Sekolah adalah sebagai berikut:
a) Undang-Undang Dasar 1945, pasal 31, ayat 3: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.”
b) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
c) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan.
d) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.
e) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
f) Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2014 tentang Pelaksanaan UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan.
g) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 tahun 2007 tentang Pedoman bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah.
h) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA).
i) Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
j) Rencana Strategis KementerianPendidikan dan Kebudayaan 2015-2019. d. Tujuan
GLS memiliki tujuan umun dan tujuan khusus, berikut adalah tujuan dari Gerakan Literasi Sekolah27:
a) Tujuan Umum
Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
b) Tujuan Khusus
1) Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah.
2) Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat.
3) Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan.
4) Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
e. Ruang Lingkup
Ruang lingkup GLS berupa28:
a) Lingkungan fisik sekolah yaitu ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi. b) Lingkungan sosial dan efektif yaitu dukungan dan partisipasi aktif semua
warga sekolah dalam melaksanakan kegiatan literasi.
c) Lingkungan akademik yaitu adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah.
f. Sasaran
Dalam mendukung terlaksananya kegiatan Gerakan Literasi Sekolah yang dicanangkan oleh pemerintah tentunya memiliki sasaran. Sasaran GLS adalah ekosistem sekolah pada jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas.29
g. Target
Gerakan Literasi Sekolah diharapkan dapat menciptakan ekosistem Sekolah Menengah Atas yang literat, yang akhirnya dapat menumbuhkan budi pekerti peserta didik.
Ekosistem sekolah yang literat tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut30:
a) Menyenangkan dan ramah anak, sehingga menumbuhkan semangat warganya dalam belajar.
b) Semua warganya menunjukkan empati, peduli, dan menghargai sesama.
c) Memampukan warganya untuk cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya.
d) Mengakomodasi partipasi seluruh warga dan lingkungan eksternal SMA.
28
Dirjen Dikdasmen, op.cit., 2016, hlm. 2. 29Ibid., hlm. 3.
h. Prinsip-prinsip Literasi Sekolah
Menurut Beers, praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan prinsip-prinsip sebagai berikut31:
1) Perkembangan literasi berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat di prediksi.
Memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dapat membantu sekolah untuk memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan mereka.
2) Program literasi yang baik bersifat berimbang
Sekolah yang menerapkan program literasi menyadari bahwa tiap peserta didik memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh kerena itu, strategi membaca dan jenis teks yang dibaca perlu divariasikan dan disesuaikan dengan jenjang pendidikan.
3) Program literasi terintegrasi dengan kurikulum
Pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah adalah tanggung jawab semua guru disemua mata pelajaran sebab pembelajaran mata pelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Dengan demikian, pengembangan professional guru dalam hal literasi perlu diberikan kepada guru semua mata pelajaran.
4) Kegiatan membaca dan menulis dilakukan kapanpun
Misalnya, ‘menulis surat kepada presiden’ atau ‘membaca untuk ibu’merupakan contoh-contoh kegiatan literasi yang bermakna.
5) Kegiatan literasi mengembangkan budaya lisan
Kelas berbasis literasi yang kuat diharapkan memunculkan berbagai kegiatan lisan berupa diskusi tentang buku selama pembelajaran di kelas. Kegiatan diskusi ini juga perlu membuka kemungkinan untuk perbedaan pendapat agar kemampuan perpikir kritis dapat diasah. Peserta didik perlu belajar untuk menyampaikan pendapatnya, saling mendengarkan, dan menghormati perbedaan pandangan.
6) Kegiatan literasi perlu mengembangkan kesadaran terhadap keberagaman Warga sekolah perlu menghargai perbedaan melalui kegiatan literasi di sekolah. Bahan bacaan untuk peserta didik perlu merefleksikan kekayaan budaya Indonesia.
i. Strategi Membangun Budaya Literasi Sekolah
Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literasi, Beers menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah sebagai berikut32:
1) Mengkondisikan lingkungan fisik ramah literasi
Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk dijadikan sebagai sarana pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memasang karya peserta didik di seluruh area sekolah dan karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan pada semua peserta didik. Selain itu, peserta didik dapat mengakses buku dan
bahan bacaan lain di sudut baca di semua kelas, dan area lain di sekolah. Mengkondisikan lingkungan fisik ini akan memberikan kesan positif tentang komitmen sekolah terhadap pengembangan budaya literasi.
2) Mengupayakan lingkungan sosial dan afektif sebagai model komunikasi dan interaksi yang literat
Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas pencapaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik. Dengan demikian, setiap peserta didik mempunyai kesempatan untuk memperoleh penghargaan sekolah. Literasi diharapkan dapat mewarnai setiap perayaan penting di sepanjang tahun pelajaran. Hal ini dapat direalisasikan dalam bentuk festival buku, lomba poster, mendongeng, karnaval tokoh buku cerita, dan sebagainya. Pimpinan sekolah selayaknya berperan aktif dalam menggerakkan literasi, antara lain dengan membangun budaya kolaboratif antar guru dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap orang dapat terlibat sesuai kepakaran masing-masing. Peran orang tua sebagai relawan gerakan literasi akan semakin memperkuat komitmen sekolah dalam membangun budaya literasi.
3) Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat
Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi
sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung. Untuk menunjang kemampuan guru dan staf, mereka perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan tenaga kependidikan untuk peningkatan pemahaman tentang program literasi, pelaksanaan, dan keterlaksanaanya.
Tabel 2 di bawah ini mencantumkan beberapa parameter yang dapat digunakan sekolah untuk membangun budaya literasi sekolah yang baik.33
Tabel 2. Warga Sekolah yang Literat a. Lingkungan Fisik
1) Karya peserta didik dipajang di sepanjang lingkungan sekolah, termasuk koridor dan kantor.
2) Karya peserta didik dirotasi secara berkala untuk memberi kesempatan yang seimbang kepada semua peserta didik.
3) Buku dan Materi bacaan lain tersedia dipojok-pojok baca semua ruang kelas.
4) Buku dan Materi bacaan lain tersedia juga untuk peserta didik dan orang tua/pengunjung di kantor dan ruangan selain ruang kelas.
5) Kantor kepala sekolah memajang karya peserta didik dan buku bacaan untuk anak .
6) Kepala sekolah bersedia berdialog dengan warga sekolah. b. Lingkungan Sosial dan Afektif
1) Penghargaan terhadap prestasi peserta didik baik dalam bidang akademik maupun non akademik.
2) Kepala sekolah terlibat aktif dalam pengembangan literasi.
3) Merayakan hari-hari besar dan nasional dengan nuansa literasi, misalnya merayakan Hari Kartini dengan membaca surat-suratnya dan pada saat memperingati bulan bahasa dengan mengadakan perlombaan seperti membuat puisi, menulis cerita, dll.
4) Terdapat budaya kolaborasi antar guru dan staf, dengan mengakui kepakaran masing-masing.
5) Terdapat waktu yang memadai bagi staf untuk berkolaborasi dalam menjalankan program literasi dan hal-hal yang terkait dengan
pelaksanaanya.
6) Staf sekolah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, terutama dalam menjalankan program literasi.
c. Lingkungan Akademik
1) Terdapat Tim Literasi Sekolah (TLS) yang bertugas melakukan asesmen dan perencanaan.
2) Disediakan waktu khusus dan cukup banyak untuk pembelajaran dan pembiasaan literasi: membaca dalam hati , membaca buku dengan nyaring, membaca bersama, membaca terpandu, diskusi buku, bedah buku, presentasi.
3) Waktu berkegiatan literasi dijaga agar tidak dikorbankan untuk kepentingan lain.
4) Disepakati waktu berkala untuk Tim Literasi Sekolah (TLS) membahas pelaksanaan gerakan literasi sekolah.
5) Buku fiksi dan nonfiksi tersedia dalam jumlah cukup banyak disekolah.. 6) Ada beberapa buku yang wajib dibaca oleh warga sekolah.
7) Ada kesempatan pengembangan professional tentang literasi yang diberikan untuk staf, melalui kerja sama dengan institusi terkait (perguruan tinggi, dinas pendidikan, dinas perpustakaan, atau berbagi pengalaman dengan sekolah lain).
8) Seluruh warga sekolah antusias menjalankan program literasi, dengan tujuan membangun organisasi sekolah yang suka belajar.
Aspek-aspek tersebut adalah karakteristik penting dalam pengembangan budaya literasi sekolah. Dalam pelaksanaannya, sekolah dapat menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi sekolah. Guru dan kepala sekolah perlu bekerja sama untuk mengimplementasikan strategi tersebut.
j. Tahapan Gerakan Literasi Sekolah
Program GLS dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sekolah diseluruh Indonesia. Kesiapan ini mencakup kesiapan kapasitas sekolah (ketersediaan fasilitas, bahan bacaan, sarana, prasarana literasi), kesiapan warga sekolah, dan kesiapan sistem pendukung lainnya (partisipasi public, dukungan kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang relevan).
Berikut ini tahapan Gerakan Literasi Sekolah34:
1) Tahap ke-1: Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah
Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatan membaca dalam diri warga sekolah.
Tabel 3. Tahap 1 GLS (Tahap Pembiasaan)
TAHAPAN KEGIATAN
PEMBIASAAN (belum ada tagihan)
1. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring.
2. Membangun lingkungan fisik sekolah yang kaya literasi, antara lain: (1) menyediakan perpustakaan sekolah, sudut baca, dan area baca yang nyaman; (2) pengembangan sarana lain (UKS, kantin, kebun sekolah); dan (3) penyediaan koleksi teks cetak, visual, digital, maupun multimodal yang mudah diakses oleh seluruh warga sekolah; (4) pembuatan bahan kaya teks.
Dalam tahap pembiasaan ini, sekolah yang peneliti gunakan sebagai tempat penelitian juga telah menjalankan tahap tersebut. Kegiatan pada tahap pembiasan tersebut dilakukan dengan membaca 15 menit sebelum jam pelajaran dimulai. Kegiatan membaca ini dilakukan di dalam kelas dengan suasana yang tenang dan kondusif.
34
2) Tahapan ke-2: Pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi
Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan.
Tabel 4. Tahap 2 GLS (Tahap Pengembangan)
TAHAPAN KEGIATAN
PENGEMBANGAN (ada tagihan sederhana untuk penilaian non-akademik)
1. Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membaca buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik, bincang buku. 2. Mengembangkan lingkungan fisik, sosial,
afektif sekolah yang kaya literasi dan menciptakan ekosistem sekolah yang menghargai keterbukaan dan kegemaran terhadap pengetahuan dengan berbagai kegiatan, antara lain: memberikan penghargaan kepada capaian perilaku positif, kepedulian sosial, dan semangat belajar peserta didik.
3. Pengembangan kemampuan literasi melalui