BAB V Kesimpulan dan Saran DAFTAR PUSTAKA
A. Sejarah Berdirinya Dinasti Ṣafawi
2. Gerakan Politik
Selanjutnya, tarekat ini menjadi semakin berkembang, yang mana hal ini menyebabkan lahirnya kefanatikan di antara para pengikutnya serta kehendak ingin menguasai. Dengan begitu, tarekat ini pun memasuki fase kedua, berubah menjadi sebuah gerakan politik yang masif. Tahap tersebut terjadi ketika gerakan berada di bawah kepemimpinan Djunayd (851 H/1447 M – 864 H/1460 M)45, yang merupakan kakek dari Shah Ismail I.46
Djunayd secara terang-terangan berusaha untuk meninggalkan prinsip-prinsip ajaran tarekat yang dibawa oleh para pendahulu sebelumnya dan merevolusionerkan praktek Dinasti Ṣafawi. Ia mencoba keberuntungannya dalam arena politik dan kemiliteran yang saat itu di Iran dan Iraq sedang terjadi kevakuman serta disintegrasi politik akibat kematian Shaykh Rukh, penguasa Dinasti Timuriyah.47
44 Ibid.
45Encyclopaedia of Islam New Edition, vol. IV, cet. ke-3 (Leiden: E. J. Brill, 1997), h.
34.
46 Arnold Toynbee, A Study of History: Introduction the Geneses of Cizilizations, vol. 1,
cet. ke-7 (London: Oxford University Press, 1956), h. 366.
20
Salah satu konflik yang terjadi adalah perebutan kekuasaan antara Kara Koyunlu dan Ak Koyunlu. Sebagian Persia – sekarang barat Iran – ketika itu sedang berada dalam kekuasaan raja Kara Koyunlu, Djahanshah.48 Ia menyadari ancaman gerakan Ṣafawiyah yang kian mendominasi ini, lalu ia memberikan peringatan kepada Djunayd agar membubarkan gerakannya dan meninggalkan Ardabil. Jika tidak, maka kota tersebut akan diserang dan dibumihanguskan.49
Meski telah diberi ancaman seperti itu, Djunayd tidak mengindahkannya, ia beserta pengikutnya yang juga sekaligus prajuritnyanya, melarikan diri dan mencari perlindungan kepada penguasa Ak Koyunlu, Uzun Hasan, di Diyar Bakr.50 Kedua belah pihak, antara Djunayd dan Uzun Hasan, sebenarnya memiliki pemahaman agama Islam yang sangat berbeda. Di mana gerakan Ṣafawiyah memegang paham Shi’ah, sedangkan Ak Koyunlu merupakan Sunni. Akan tetapi
mereka mengesampingkan perbedaan tersebut dan justru semakin mempererat aliansi mereka dengan pernikahan antara Djunayd dengan saudara perempuan Uzun Hasan, Khadijah Begum.51
Adapun alasan tentang penerimaan hangat yang dilakukan oleh Uzun Hasan, diduga ada dua faktor, pertama, untuk mencegah kemungkinan serangan gerakan Ṣafawiyah ke wilayahnya di masa yang akan datang, dan kedua, untuk memperkuat posisinya sendiri dalam melawan Djahanshah, Kara Koyunlu.52
48 Encyclopaedia of Islam New Edition, h. 34. 49 Ibid.
50 Ibid.
51 Allouche,The Origins and Development of the Ottoman-Safavid Conflict
(906-962/1500-1555), h. 46.
21
Kemudian, terjadi beberapa peperangan antara pihak mereka dengan Kara Koyunlu. Djunayd akhirnya terbunuh di sebuah peperangan di Shirwan.53 Aliansi antara Ṣafawiyah dengan Ak Koyunlu dilanjutkan oleh pengganti Djunayd, Haydar, dengan menikahi putri dari Uzun Hasan. Permusuhan dengan Kara Koyunlu terus berlanjut dan semakin memanas. Pada 872/1468 M,54 pihak Kara Koyunlu mengadakan serangan ke Ak Koyunlu, namun dapat dihadapi dan dikalahkan. Kara Koyunlu pun berhasil digulingkan.
Tetapi pada 848/1473 M,55 Ak Koyunlu dikalahkan oleh Kekaisaran Ottoman. Tiga puluh empat tahun kemudian, 882/1478 M, Uzun Hasan meninggal, dan kematiannya menjadikan Ak Koyunlu semakin lemah.
Pada masa selanjutnya, penerus Uzun Hasan memandang gerakan
Ṣafawiyah sebagai sebuah rival yang mengancam tahtanya. Oleh karena itu, ketika pasukan gerakan Ṣafawiyah akan menyerang Sircassia dan Shirwan, pihak Ak Koyunlu justru membantu Shirwan dan berbalik menjatuhkan gerakan
Ṣafawiyah, dan hal ini menyebabkan Haydar terbunuh.56 Tidak hanya itu, pihak Ak Koyunlu kemudian memenjarakan putera-putera penerus gerakan Ṣafawiyah ,
salah satunya Isma’il, tetapi ia berhasil diselamatkan. 3. Pemerintahan Resmi
Fase ini terjadi ketika Isma’il akhirnya menjadi penerus gerakan
Ṣafawiyah. Ia lalu mempersiapkan prajuritnya untuk menyerang Tabriz, ibukota Ak Koyunlu. Pada musim panas tahun 1501, ia berhasil memasuki Tabriz.57 Lalu,
53 Encyclopaedia of Islam New Edition, h. 34. 54 Ibid.
55 Ibid.
56 Antonio dan Tim Tazkia, Ensiklopedi Peradaban Islam Persia: Dinasti Safawi
‘Kerajaan Islam Pertama Bangsa Persia’, h. 51.
22
sebelum menjadi Shah – Isma’il juga mengusir penguasa terkahir Ak Koyunlu, Murad. Dan Ak koyunlu pun mengalami keruntuhan.
Setelah menyingkirkan Ak Koyunlu, Isma’il menyatakan dirinya sebagai
penguasa pertama Dinasti Ṣafawi dengan mengambil gelar Shah,58 dan
mendeklarasikan Shi’ah Dua Belas Imam sebagai mazhab resmi negaranya.59 Browne mengatakan, kita akan membicarakannya sebagai Shah, namun oleh para sejarawan Persia, ia sering disebut sebagai Kháqán-i-Iskandar-shán (the Prince like unto Alxander in state atau setara dengan sebutan sang Pangeran bagi Alexander dalam pemerintahan), sedangkan puteranya yang kemudian menjadi penerusnya, Shah Tahmasp, disebut Sháh-i-Dín-panáh (the King who is the Refuge of Religion atau sang Raja yang menjadi Tempat Perlindungan bagi Agama).60
Dengan begitu, Dinasti Ṣafawipun mencapai fase ketiga, yaitu menjadi sebuah pemerintahan resmi. Seperti pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa perjalanan gerakan ini menjadi sebuah dinasti memerlukan waktu sekitar, kurang lebih 200 tahun. Yaitu, sejak Safi al-Din mendirikan tarekat ini pada 1300-an61
hingga Isma’il memproklamirkan kekuasaannya pada 1501. Dinasti ini dipimpin
oleh sebelas penguasa, yaitu:
Pemimpin Tarekat Ṣafawiyah 62 Penguasa Dinasti Ṣafawi
Safi al Din 700/1301 – 735/1334 Ismail I 1501 – 1524 Sadr al Din Musa 735/1334 – 794/1392 Tahmasp I 1524 – 1576
58 H. R. Roemer, “The Safavid Period”, dalam Peter Jackson dan Laurence Lockhart, ed., The Cambridge History of Iran: The Timurid and Safavid Periods, vol. 6 (United Kingdom: Cambridge University Press, 1986), h. 189.
59 Lorentz, Asian Historical Dictionaries no. 16: Historical Dictionary of Iran, h.
194-195.
60 Edward G. Browne, A Literary History of Persia, Vol. 4: Modern Times (1500-1924),
cet. ke-5 (London: The Syndics of the Cambridge University Press, 1959)
61 P.M. Holt, The Cambridge History of Islam, vol. IV (London: Cambridge University
Press, 1977), h. 399.
23
Khwaja Ali 794/1392 – 830/1427 Ismail II 1576 – 1578 Shaykh Ibrahim
(Shaykh Shah) 830/1427 – 851/1447
Muhammad
Khudabende 1578 – 1587 Junayd 851/1447 – 864/1460 Abbas I 1587 – 1629 Haydar Ali 864/1460 – 893/1488 Safi I 1629 – 1642 Sultan Ali63 893/1488 – 905/1500 Abbas II 1642 – 1667 Ismail (Ismail I) 905/1500 – 906/1501 Sulaiman 1667 – 1694 Husain 1694 – 1722 Tahmasp II 1722 – 1731 Abbas III 1731 – 1736
63 Ibid,. Sultan Ali memang diaksesi sebagai pemimpin tarekat, pengganti ayahnya,
Haydar, akan tetapi kemudian ia dan kedua saudaranya, Isma’il dan Ibrahim, dipenjarakan oleh Ya’qub – Raja Ak Koyunlu saat itu – karena melihat gerakan sufi ini semakin berpengaruh, sehingga ia khawatir akan mengancam kekuasaannya. Sultan Ali dan kedua saudaranya ditahan selama empat setengah tahun (Februari 1489 – Agustus 1493).
24
BAB III
SEJARAH ARSITEKTUR DAN LUKISAN PRA- DINASTI ṢAFAWIYAH
Dalam perspektif historis, terdapat tiga faktor fundamental kehidupan manusia yang menjadi sumber dan muara penciptaan seni, yakni bidang agama, sosial, dan individual.64 Dengan kata lain, karya-karya seni, apapun bentuk dan
genrenya, yang dipertimbangkan dari sudut kreatif dan fungsional, akan senantiasa berurusan dengan masalah manusia dan hubungannya dengan Tuhan, dalam hubungannya dengan manusia lain atau alam, dan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri.65