• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V Kesimpulan dan Saran DAFTAR PUSTAKA

B. Seni Pra- Dinasti Ṣafawi

Persia memiliki sejarah arsitektur yang panjang dan kaya, yang peninggalannya dapat kita temukan dari Syria hingga India dan China.86 Arsitektur Persia menggunakan berbagai macam teknik seperti ukiran pada batu, lapisan dengan semen, ubin, tembok, penggunaan kaca cermin, dan elemen ornamental lainnya.87 Kondisi geografi, agama, politik dan teknologi yang sedang

berkembang tentu saja turut memengaruhi terhadap kualitas dan kuantitas arsitekturnya.88

Kemudian, salah satu topik budaya Persia kuno untuk ornamen lukisannya sendiri adalah lukisan pertarungan antara raja dan singa. Bagi para raja Persia kuno, perburuan singa tersebut merupakan hak istimewa mereka, yang mana lukisan itu merepresentasikan kedudukan raja sebagai penguasa. Simbol seperti ini sudah ada sejak masa Dinasti Akhaemeniyah yang tertuang pada relief di dinding istananya.89 Pada masa Islam, lukisan seperti ini dianggap sebagai sebuah prestasi heroik.

Pada akhir abad ke-12, di dunia Muslim mulai muncul lukisan figuratif yang disematkan di berbagai media, termasuk manuskrip bergambar, lalu menjelang abad ke-13 dan 14 beragam style lukisan semakin banyak muncul, termasuk corak dan dekoratif dari Dinasti Seljuk. Di mana gaya yang

86 Elton L. Daniel dan Ali Akbar Mahdi, Culture and Cunstoms of Iran (Westport:

Greenwood Press, 2006), h. 119.

87 Ibid. 88 Ibid.

89 Galina Lassikova, “Hushang the Dragon-slayer: Fire and Firearms in Safavid Art and Diplomacy” dalam Iranian Studies, vol. 43, no. 1 (Routledge, 2010), h. 45.

31

memperlihatkan realisme yang cukup tajam ini, dipraktikkan juga di Mesopotamia dan Syria untuk para patron Arab.90

Tradisi menghiasi barang-barang dari logam dengan hiasan kaligrafi maupun figuratif juga muncul pertama kali di Khurasan, masih di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk, dan mulai dikembangkan pada permulaan abad ke-13, kemudian berkembang juga di bawah Dinasti Mamluk di Kairo.91

Lukisan Persia semakin berkembang pesat pada abad ke-14, beberapa corak, termasuk pengaruh dari China, secara perlahan mulai melebur dengan corak lokal sehingga muncul gaya baru.92 Pada paruh kedua abad ini, Dinasti Timuriyah menghasilkan karya manuskrip ilustratif terkenalnya seperti

Shahnama93, dengan nama yang sama, di Tabriz, yang menggambarkan aksi yang

sengit dan emosional. Lalu, di akhir abad ini, masa Dinasti Jalayriyah dan Muzzafariyah, muncul style lukisan baru yang lebih lembut dengan komposisi ruang yang lebih kompleks, yang juga sekaligus menandakan corak Dinasti Timuriyah pada abad ke-15.

Lukisan pada masa Dinasti Timuriyah diproduksi untuk berbagai patron, berkembang subur, terutama di Herat, di bawah kepemimpinan pangeran Baysunghur (w. 1433), namun kemudian perkembangannya semakin melemah di

90 Vernoit, Artistic Expressions of Muslim Societies, h. 272. 91 Ibid.

92 Ibid.

93 Shahnama, atau shahnameh, atau Book of Kings merupakan salah satu karya sastra epik

terpanjang di dunia dari Persia yang ditulis sekitar tahun 977 – 1010 M oleh Abu’l Qasim Firdausi Tusi (935-1020) dan didedikasikan untuk penguasa Dinasti Ghaznawiyah, Mahmud dari Ghazna yang berhasil menguasai seluruh wilayah Timur Persia dan wilayah Afghanistan sekarang menjelang akhir abad ke-10 M. Epik ini berisikan 50000 bait sajak yang menceritakan tentang raja-raja dari mitologi dan sejarah Persia kuno hingga kedatangan Islam ke Persia. Pada masa-masa selanjutnya muncul karya-karya serupa – biasanya atas permintaan penguasanya – yang dinamai dengan judul yang sama. Hingga sekarang karya ini tidak hanya menjadi epik nasional di Iran, tetapi juga di wilayah-wilayah yang sebelumnya terpengaruh budaya Persia seperti Afghanistan, Azerbaijan, Georgia, Armenia, Turki, dan Dagestan.

32

akhir abad ini, ketika pelukis Bihzad muncul dan aktif berkarya.94 Tentang seni

lain pada masa dinasti ini, seperti seni menenun, masih sedikit informasi tentangnya.95

Perkembangan seni Dinasti Ṣafawi tidak bisa dilepaskan dari pengaruh seni yang berkembang pada masa sebelumnya dan begitu seterusnya hingga ke masa-masa paling awal manusia. Seiring dengan perkembangan pemikiran manusia maka berbagai inovasi muncul secara bertahap. Meski Dinasti Ṣafawi sangat terpengaruh dengan seni masa sebelumnya namun ia juga membentuk gaya ataupun corak tersendiri sehingga menyebabkannya berbeda dari masa sebelumnya meski mungkin terlihat sama. Misalnya penemuan 22 lukisan dengan dua gaya yang berbeda, yaitu 11 di antaranya berasal dari masa Ak Koyunlu dan sisanya dari masa Dinasti Ṣafawi. Dalam lukisan figuratifnya ada penambahan ikat kepala (turban) berbeda – dari masa sebelumnya – yang diikatkan pada penutup kepala tinggi dan berwarna merah.96

Periode Ṣafawiyah ini juga gaya berkilauan dari masa Dinasti Ilkhan mulai ditinggalkan dengan harapan agar gaya desainnya lebih terbuka dan berkembang, sedangkan teknik menenun dan celup, mulai dikembangkan kembali.97

Dari paparan di atas, dapat kita lihat bahwa pada perkembangannya, seni hampir selalu berdasarkan pada gaya ataupun corak yang berkembang pada masa sebelumnya yang kemudian diberi sentuhan baru dan begitu pun pada masa-masa selanjutnya. Sentuhan baru tersebut dapat kita sebut sebagai inovasi. Inilah yang

94 Ibid.

95 Douglas Baret, The Islamic Art of Persia, A.J. Arberry, ed. (Oxford: Goodword Books,

1953), h. 142.

96Jonathan M. Bloom, “Epic Images Revisited: An Ilkhanid Legacy in Early Safavid Painting” dalam Andrew J. Newman, ed., Society and Culture in the Early Modern Middle East: Studies on Iran in the Safavid Period (Leiden: Brill, 2003), h. 238.

33

membuat karya seni memiliki kekhasan masing-masing pada setiap zamannya.

Seperti yang terjadi pada paparan sejarah seni di Persia hingga Dinasti Ṣafawi di

atas, dasar yang lama tetap dipakai tapi kemudian diberi corak baru sesuai era yang sedang berkembang.

C. Isfahan

Merupakan sebuah keniscayaan untuk membahas tentang kota ini, karena kota ini termasuk ke dalam objek bahasan penulis, mengingat kota ini yang dijadikan sebagai ibukota Dinasti Ṣafawi sekaligus tempat untuk rencana pembangunan oleh Shah Abbas I.

Kota ini terletak di sekitar sungai Zayandeh,98 dan merupakan gabungan

dari dua kota sebelumnya, yaitu Jayy – tempat berdirinya Syahrastan – dan

Yahudiyyah, yang didirikan oleh Buchtanashshar atau Yazdajird I atas anjuran istrinya yang beragama Yahudi.99 Di kota ini juga pernah dibangun irigasi oleh raja Ardasyir, dari Dinasti Akhaemeniyah (550–330 SM).100 Pada masa Dinasti Sassaniyah (226-640 M), kota ini dikenal dengan nama Aspadana.101 Sebelum

kedatangan Islam, kota ini merupakan basis militer dan pertahanan yang sangat kuat.102

Pengaruh Islam dikatakan mulai masuk ke Isfahan ketika khalifah Umar bin Khattab berkuasa, namun, mengenai kapan dan dibawa oleh siapa Islam

98 Farhad Arshad, "Isfahan", dalam Encyclopedia.com: Encyclopedia of the Modern

Middle East and North Africa, artikel diakses pada 31 Maret, 2015 dari (http://www.encyclopedia.com/doc/1G2-3424601359.html.

99 Lihat Ahmad al Santanawi dkk, Dairat al-Ma’ruf al Islamiyah, Jilid 2, h. 258-259.

100 Arshad, "Isfahan".

101 Dilip Hiro, Dictionary of the Middle East (New York: St. Martin Press, 1996), h. 131. 102 Antonio dan Tim Tazkia, Ensiklopedi Peradaban Islam: Persia ‘Dinasti Safawi ‘Kerajaan Islam Pertama Bangsa Persia’, h. 197.

34

mencapai kota ini terdapat dua pendapat.103 Pendapat pertama, yaitu pada tahun

19 H (640 M) di bawah pimpinan Abdullah Ibn Atban. Lalu menurut al- Thabari, Islam sampai di Isfahan pada tahun 21 H (642M), sedangkan aliran Bashrah menyebutkan pada tahun 23 H (644 M) di bawah pimpinan Abu Musa al-Asy’ari.

Pada perkembangan selanjutnya, Isfahan merupakan kota penting di Iran tengah sejak abad ke-8 M.104 Kemudian pada pertengahan abad ke-11, kota ini

menjadi ibukota Dinasi Seljuk tetapi kemudian status ibukotanya hilang setelah invasi Tamerlane pada 1387.105

Pada masa Dinasti Ṣafawi, kota ini dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tanah dengan delapan buah pintu dan di dalamnya terdapat banyak bangunan, seperti istana, sekolah, masjid, menara, pasar, serta rumah yang indah, terukir rapi dengan warna-warna yang menarik.106

Selanjutnya, pada tahun 1597, dengan motif politik dan ekonomi, Shah Abbas I memindahkan ibukota Dinasti Ṣafawi, yang sebelumnya di Qazvin, ke Isfahan.107 Berbeda dengan penguasa pendahulunya yang masih cenderung eksklusif, terutama terhadap kepercayaan lain, melalui Isfahan, Shah Abbas I membuka negaranya ke dunia luar sehingga kota ini menjadi kaleidoskop berbagai ras, bahasa, budaya, dan agama.

Meski begitu, masing-masing grup yang terkelompok secara ras tetap mempertahankan identitas asli mereka seperti tetap menggunakan bahasa ibu

103 Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, h. 284-285.

104 Kishwar Rizvi, “Architecture and the Representations of Kingship during the Reign of the Safavid Shah ‘Abbas I” dalam Lynette Mitchell dan Charles Melville, ed. Every Inch a King: Comparative Studies on Kings and Kingship in the Ancient and Medieval Worlds (Leiden: Brill, 2013), h. 384.

105 Hiro, Dictionary of the Middle East, h. 131.

106 Rizvi, Architecture and the Representations of Kingship during the Reign of the

Safavid Shah ‘Abbas I, h. 286.

107 Alice Taylor, Book Arts of Isfahan: Diversity and Identity in Seventeenth-Century

35

mereka dalam kehidupan sehari-hari, membuat karya yang memuat atau melukiskan corak mereka seperti ke dalam buku-buku, manuskrip108 maupun karya lukisan itu sendiri, motif pada kain, keramik, dan lain-lain. Tentu saja yang mereka lakukan itu membuat corak lukisan Dinasti Ṣafawi menjadi lebih beragam. Selanjutnya, bagian kehidupan sosial lain yang terjadi di kota ini yaitu tentang kehidupan para wanitanya dan bagaimana status mereka, baik dalam keluarga maupun masyarakat.

Ketika Shah Abbas I menganggap bahwa wanita dalam keluarganya memiliki potensi untuk menggulingkan tahtanya,109 maka ia membuat sebuah aturan kehidupan yang tertutup bagi mereka. Anggapannya itu diduga sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya. Shah Abbas I berasal dari tradisi yang mendukung wanita yang berpendidikan dan memiliki kesadaran diri yang tinggi serta dia juga mendapati beberapa saudarinya yang juga turut ikut campur dalam urusan politik, bahkan terlibat dalam sebuah suksesi, dan Shah Abbas I menyadari kekuatan dan pengaruh mereka sehingga ia memutuskan untuk membatasinya.110

Dalam bagian area Isfahan, tempatnya dibagi dua menjadi biruni, yaitu area publik bagi semua laki-laki, dan anderuni, yaitu lingkungan khusus yang terbuka bagi para wanita, Shah sendiri, dan para pelayan terpercaya.111 Dalam

‘sangkar emas’ tersebut mereka dimanjakan dengan kebebasan memanggil para seniman ataupun para penulis hebat untuk membuat barang-barang yang sesuai dengan keinginan mereka, seperti karpet.

108 Ibid., h. 2.

109 Emma Loosley, “Ladies who Lounge: Class, Religion and Social Interaction in Seventeenth-Century Isfahan” dalam Gender & History, vol. 23, no. 3 (Oxford: Blackwell Publishing Ltd., 2011), h. 619.

110 Ibid, h. 615. 111 Ibid, 617.

36

BAB IV

Dokumen terkait