BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Foto 17 Gerbang Masjid Raya Al-Mashun
Sumber : Peneliti
3. Signifikansi Masjid Raya Al-Mashun Medan
Kesultanan Deli merupakan pemerintahan monarki tradisional di wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Medan dan sekitarnya dengan corak agama Islam yang sangat kental. Atas dasar itulah Masjid menjadi bangunan yang sangat penting bagi Kesultanan Deli. Kesultanan yang sangat berpengaruh pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 di Medan. Bagi Kesultanan Deli, komplek Kesultanan ataupun suatu ibukota tidak akan lengkap tanpa kehadiran Masjid di wilayah tersebut. Seperti halnya di Labuhan Deli, pola tata ruang ibukota Kesultanan Deli (sebelum dipindahkan ke Medan) selalu ada Masjid di dekat
istana. Selain sebagai tempat ibadah Masjid juga berfungsi sebagai alat pemersatu rakyat dengan Sultannya yang merupakan simbol kekuasaan Sultan.
Kini, selain menjadi pusat ibadah kaum muslimin kota Medan, Masjid Raya Al-Mashun juga menjadi objek wisata yang selalu ramai dikunjungi turis domestik (lokal) maupun turis mancanegara. Dalam 1 bulan turis mancanegara yang datang bisa mencapai 50-60 orang, dan setiap turis yang ingin masuk ke lokasi Masjid Raya Al-Mashun Medan wajib menutup auratnya, bagi wanita wajib menggunakan jilbab dan bagi pria menggunakan celana panjang atau sarung. Akan tetapi kebanyakan dari turis yang datang ke Masjid Raya Al- Mashun Medan berasal dari Belanda. Alasan banyaknya turis dari Belanda yang datang ke Masjid Raya Al-Mashun Medan karenamereka sangat ingin melihat bangunan bersejarah di Medan yang dibangun oleh nenek moyang mereka yaitu Theodoor van Erp yang kemudian dilanjutkan oleh J.A Tingdeman, seorang arsitek bangsa Belanda.
Permasalahan yang ada di Masjid Raya adalah salah satu masalah umum yang ada di rumah-rumah ibadah skala besar di Indonesia, masalah pengemis dan Penjaga sandal yang terkesan memaksa ini menimbulkan kerisihan tersendiri kepada para pengunjung, walaupun ada pengunjung yang iba dan ikhlas memberikan kepada mereka (pengemis dan penjaga sandal) tetapi biasanya ada batasnya, dan setiap manusia peneliti rasa memiliki batasan mengenai rasa iba tersebut. Disinilah diharapkan agar pihak pengelola Masjid Raya Al-Mashun agar bekerja sama dengan Dinas Sosial dan Satpol PP agar menertibkan dan memberikan pengajaran yang bermanfaat kepada mereka agar mereka tidak mengemis dan meminta-minta uang untuk menjaga sandal lagi. Karena peneliti
lihat, para penjaga sandal masih terlihat muda dan masih sangat mampu untuk mengembangkan jenjang penghidupan dirinya daripada “hanya” meminta belas kasih dari orang yang datang ke Masjid.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pelestarian pada hakekatnya adalah upaya mempertahankan agar suatu sumberdaya budaya tetap berada pada konteks sistem agar dapat berfungsi aktif dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Agar tetap bertahan, sumber daya budaya yang masih ada dalam konteks sistem mungkin saja harus dipakai ulang atau didaur ulang. Sementara itu, sumber daya budaya yang sudah berada pada konteks arkeologis akan dapat dilestarikan kalau sumberdaya itu dapat dimasukan kembali ke dalam konteks sistem melalui proses reklamasi maupun daur ulang. Proses reklamasi dan daur ulang sudah tentu mengandung makna perubahan, yaitu mengubah sumberdaya budaya yang sudah tidah lagi bermakna agar dapat kembali mempunyai makna atau arti penting bagi sistem budaya yang masih berlangsung.
Ketiga kawasan yang masuk dalam wilayah Berikat Kota Medan pada saat ini sudah tidak memiliki koneksi dalam hal pengelolaan. Jika pada masa lampau kepemilikan dan kegiatan pengelolaan dikerjakan oleh keluarga Kesultanan, maka pada saat ini ketiga kawasan tersebut sudah terpecah dari segi kepemilikan. Terpisahnya kepengurusan tiga bangunan cagar budaya Istana Maimun, Masjid Raya dan Taman Sri Deli ternyata tidak memberi dampak yang lebih baik, melainkan memperburuk bangunan cagar budaya tersebut.
Istana Maimun yang dulunya merupakan Istana Kesultanan tempat Sultan dan keluarganya tinggal serta menjalankan pemerintahannya kini sudah berubah fungsi menjadi tempat wisata yang terbuka untuk umum. Semenjak kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 Kesultanan Deli layaknya kerajaan-kerajaan lain di Indonesia memutuskan mengikuti sistem pemerintahan yang dianut oleh Negara Indonesia yaitu dengan Sistem Presidensial. Akhirnya fungsi Kesultanan Deli dalam hal ini diambil alih oleh sistem pemerintahan yang ada pada saat itu. Namun, sebagai bangunan yang merupakan cagar budaya di Kota Medan, sudah sepatutnya transparansi pengelolaan keuangan diberikan kepada masyarakat oleh pengurus Istana Maimun yang saat ini yakni Yayasan Sultan Ma’moen Al-Rasyid. Hal tersebut perlu dilakukan guna meningkatkan kepercayaan masyarakat serta meningkatkan rasa memiliki terhadap bangunan cagar budaya tersebut.
Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid, sebagai pihak yang mengelola Istana Maimun, menuturkan bahwa Istana Maimun pada awalnya dibuka untuk umum pada akhir tahun 70an. Dibukanya Istana Maimun untuk umum oleh Sultan adalah, dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada masyarakat setelah Kesultanan Deli sudah tidak memegang kekuasaan lagi pasca kemerdekaan. Kesultanan Deli telah kehilangan fungsinya sebagai pihak yang dulunya menjalankan roda pemerintahan di Kota Medan, akan tetapi tetap menjalankan acara-acara Kesultanan seperti dahulu. Hal ini dilakukan untuk meneruskan tradisi-tradisi yang ada pada masa Kesultanan yang dahulu agar tetap lestari dan Kesultanan Deli tidak kehilangan ciri khasnya.
Taman Sri Deli saat ini telah menjadi milik Pemerintah Kota Medan. Taman Sri Deli dulunya sempat dilepas ke pihak swasta oleh Kesultanan Deli. Hal ini terjadi karena pihak kesultanan sudah tidak sanggup untuk membiayai pemeliharan Taman Sri Deli tersebut. Namun, oleh pihak swasta sendiri pun ternyata tidak bisa berbuat apa-apa . Pada saat itu ada suatu gerakan dari masyarakat Kota Medan untuk membeli kembali bangunan bersejarah milik Kota Medan tersebut. Maka pada saat itu masyarakat akhirnya membeli kembali bangunan tersebut lewat Pemko Medan.
Taman Sri Deli dilepas oleh pihak Kesultanan Deli pada tahun 1989, kemudian dibeli kembali oleh Pemerintah Kota Medan pada tahun 2000an (Moharsyah tidak mengingat pasti) di zaman kepemimpinan Walikota Medan yang pada saat itu dijabat Bapak Abdilah. Pada saat ini Taman Sri Deli merupakan hak milik dari Pemko Medan dan dikelola oleh Dinas Pariwisata Kota Medan. Namun, sayangnya sampai saat ini Taman Sri Deli masih ditutup untuk umum.
Peneliti dalam hal ini merasa prihatin melihat pengelolaan Taman Sri Deli tersebut. Hal ini karena dugaan awal bahwa dengan diambil alihnya pengelolaan cagar budaya Taman Sri Deli oleh Pemko Medan akan lebih baik, ternyata malah sebaliknya, taman yang seharusnya dapat dimasuki oleh masyarakat manapun, kini menjadi tertutup. Pengelola dalam hal ini Pemko Medan terkesan setengah- setengah dalam mengelola Taman Sri Deli tersebut. Taman Sri Deli yang merupakan bangunan cagar budaya milik masyarakat Kota Medan, kini menjadi bangunan cagar budaya pribadi milik Pemko Medan.
Seharusnya Pemko Medan, melakukan studi banding ke wilayah-wilayah yang sudah matang dalam pengelolaan pariwisata berbasis cagar budaya seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta yang mana studi banding akan menjadi referensi bagi Pemko Medan dan Pemprov Sumatera Utara agar seluruh pengelolaan pariwisata baik yang berbasis cagar budaya ataupun alam dapat berjalan maksimal. Karena sektor pariwisata adalah salah satu yang dapat meningkatkan PAD ( Pendapatan Asli Daerah ) sebuah kota atau provinsi untuk menunjang pembangunan wilayahnya.
Sementara itu untuk pengelolaan Masjid Raya Al Mashuni dikelola oleh BKM (Badan Kemakmuran Masjid). Dalam proses pengelolaannya sendiri BKM mengalami banyak kesulitan dalam proses perawatan Masjid. Biaya perawatan yang tidak sedikit dan juga banyaknya pengemis yang masuk ke komplek Masjid membuat ketidaknyamanan pengunjung. Keluarga Kesultanan juga masih ikut mengelola Masjid Raya dengan menjadi anggota pengurus BKM. Namun, untuk pendanaan oprasional Masjid BKM hanya mengandalkan uang infaq dan juga sumbangan dari Pemerintah.
Pada akhirnya baik masyarakat umum atau pun pihak yang terlibat baik dari pengelola ataupun pihak pemerintah harus lebih bersinergi untuk meningkatkan potensi pariwisata Sumatera Utara khususnya kota Medan. Karena, Istana Maimun dan Masjid Raya Al Mashun adalah salah satu destinasi pariwisata di Sumatera Utara. Dalam hal ini, untuk mengembangkan dan menunjang ke 3 destinasi pariwisata itu agar lebih baik, harus dimulai dari mengembangkan SDM ( Sumber Daya Manusia) sebagai penjamu para wisatawan dan tingkat keamanan
dan kenyamanan kota Medan yang harus ditingkatkan untuk kenyamanan para wisatawan yang akan berkunjung.
5.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti memberikan saran kepada beberapa pihak yang terkait dalam pengelolaan cagar budaya Istana Maimun, Masjid Raya dan Taman Sri Deli sebagai berikut :
1. Pihak Kesultanan Deli
Kesultanan Deli sebagai pihak yang mengelola dan masih menempati Istana Maimun harus lebih memperhatikan aspek informasi mengenai Istana Maimun. Papan informasi mengenai Istana Maimun harus diletakkan di tempat yang terbuka untuk umum. Penyampaian informasi jangan hanya mengenai masa lalu yang megah. Penjelasan informasi juga harus menyampaikan keadaan Istana yang sekarang, mengenai bagaimana mereka mengelola aset-aset yang tertinggal dari masa kejayaan Kesultanan Deli.Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid sebagai lembaga yang mengelola Istana Maimun harus lebih giat mencari sumber dana demi kepentingan keberlangsungan Istana Maimun. Pengelola Istana Maimun sudah mulai bisa berfikir meningkatkan biaya masuk bagi pengunjung, tetapi dengan syarat fasilitas penunjang di dalam Istana Maimun harus di perbaharui dan di perbaiki dalam segala aspek. Adanya para pedagang di lingkungan Istana yang bertujuan untuk menambah pemasukan bagi pengelolaan istana harus dikelola dan ditata dengan baik dan jeli. Hal ini bisa saja berdampak pada kurang nyamannya pengunjung apabila para pedagang
sudah terlalu banyak. Dikhawatirkan, niat awal yang baik untuk menambah pendapatan malah menjadi bumerang bagi pengelola Istana Maimun.
2. Pemko Medan
Pemko Medan sebagai pihak yang pada saat ini memiliki dan mengelola Taman Sri Deli harus lebih memperhatikan aspek-aspek mengenai Bangunan Cagar Budaya (BCB) agar Taman Sri Deli tidak kehilangan identitasnya sebagai bangunan cagar budaya. Taman Sri Deli yang saat ini ditutup harus lah segera dibuka karena Bangunan Cagar Budaya merupakan milik masyarakat. Sehingga penting bagi masyarakat untuk leluasa mengakses bangunan tersebut. Pemko Medan juga harus lebih giat dalam mempromosikan objek-objek wisata di Kota Medan dengan berbagai cara, seperti acara-acara yang diadakan di objek-objek bersejarah maupun seminar-seminar yang melibatkan ahli waris atau pengelola suatu Cagar Budaya. Pemko Medan seharusnya mencontoh daerah-daerah lain seperti di Pulau Jawa terkait managemen pengelolaan bangunan cagar budaya agar dapat menjadi tempat wisata yang nyaman dan edukatif bagi pengunjung. Selama ini Pemko Medan terkesan hanya setengah-setengah dalam melakukan pengelolaan bangunan cagar budaya. Namun, ketika bangunan cagar budaya tersebut sudah berpindah tangan kepada pihak lain, baru disitu pihak Pemko Medan bergerak untuk mengamankan cagar budaya tersebut. Disini juga peran pemko Medan melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata harus terus mengedukasi
masyarakat tentang pentingnya melestarikan dan merawat cagar budaya, bukan dengan membiarkannya terbengkalai lalu setelah rusak kemudian dijual. Mengutip kata Bapak Proklamator Bung Karno “Jas Merah” (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah)
3. BKM Masjid Raya Al Mashun
BKM Masjid Raya Al Mashun harus lebih memperhatikan aspek keamanan dan kenyamanan didalam komplek Masjid. Banyaknya pengemis yang berada didalam Masjid harus segera diatasi dengan bijak agar jemaat yang ingin beribadah merasa nyaman. Apabila memungkinkan, pihak BKM juga bisa ikut membantu para pengemis yang ada di Kawasan Masjid Raya melalui Infaq yang didapat setiap harinya, tetapi dengan syarat para pengemis dan penjaga sandal tersebut didata terlebih dahulu untuk transparansi dana kedepannya. Selama ini keberadaan para pengemis dan gelandangan sudah menjadi hal yang biasa. Hal ini lah yang membuat suatu bangunan cagar budaya menjadi terancam karena dapat mengganggu kenyamanan masyarakat yang berkunjung ke tempat tersebut. Hal ini penting dilakukan karena Masjid Raya Al-Mashun bukan hanya tempat ibadah semata, tetapi juga menjadi ikon pariwisata sejarah di Kota Medan.
BAB II
KEBUDAYAAN MELAYU DAN PENINGGALANNYA
2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian (Kota Medan)
Kota Medan dulunya dikenal dengan nama Tanah Deli. Beberapa sungai melintasi Kota Medan dan semuanya bermuara ke Selat Malaka, Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Denai, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera. Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaanya tidak sampai ke kedua wilayah sungai tersebut.
Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan-Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap dan hanya menyebutkan sebagai Kota Medan3.
Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Bila kita menilik dari sumber-sumber sejarah bahwa kota Medan pertama sekali didiami oleh suku Karo, tentunya kata "Medan" itu haruslah berasal dari bahasa Karo. Dalam salah
satu Kamus Karo-Indonesia yang ditulis oleh Darwin Prinst SH: 2002, bahwa Kata "Medan" berarti "menjadi sehat" ataupun "lebih baik". Hal ini memang berdasarkan pada kenyataan bahwa Guru Patimpus benar adanya adalah seorang tabib yang dalam hal ini memiliki keahlian dalam pengobatan tradisional Karo pada masanya.
Medan pertama kali ditempati oleh orang-orang Suku Karo. Hanya setelah penguasa Aceh, Sultan Iskandar Muda, mengirimkan panglimanya, Gocah Pahlawan Bergelar Laksamana Khoja Bintan untuk menjadi wakil Kerajaan Aceh di Tanah Deli, barulah Kerajaan Deli mulai berkembang. Perkembangan ini ikut mendorong pertumbuhan dari segi penduduk maupun kebudayaan Medan. Di masa pemerintahan Sultan Deli kedua, Tuanku Panglima Parunggit (memerintah dari 1669-1698), terjadi sebuah perang kavaleri di Medan. Sejak saat itu, Medan menjadi pembayar upeti kepada Sultan Deli.
Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.
Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai,
sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.
Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini. Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut. Anderson menyebutkan dalam bukunya “Mission to the East Coast of Sumatera“ (terbitan Edinburg 1826) bahwa sepanjang sungai Deli hingga ke dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun dengan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil dari sebuah Candi Hindu Kuno di Jawa.
Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.
Kemudian di tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys mendirikan de Deli Maatscapij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi
semakin ramai dan selanjutnya berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai "Kota Medan".
Secara historis perkembangan Kota Medan, sejak awal telah memposisikan menjadi pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. sedang dijadikannya Medan sebagai ibukota deli juga telah menjadikannya Kota Medan berkembang menjadi pusat pemerintah. Sampai saat ini disamping merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sumatera Utara.
Kota Medan yang sebagai ibukota dari Provinsi Sumatera Utara juga merupakan miniatur dari pariwisata di Sumatera Utara dapat dibuktikan dengan setuja keindahan panorama alam dan berbagai tempat yang bersejarah. Salah satu dari tempat bersejarah yang juga merupakan cagar budaya di Kota Medan adalah Kawasan cagar budaya berikat yang terdiri dari Istana Maimun, Taman Sri Deli dam Masjid Raya Al-Mashun4.
2.2. Kebudayaan Melayu Pada Masa Sumatera Timur Hingga Sumatera Utara
Etnik5 Melayu adalah salah satu kelompok etnik yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara. Banyak sumber literatur yang menggambarkan bahwa kebudayaan Melayu di Sumatera Utara sama dengan etnik Melayu di berbagai kawasan, seperti di Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan, Bangka Belitung,
4
http://anthonynh.blogspot.co.id/2012/12/10-tempat-wisata-di-sumatera-utara.html
5 Menurut Perspektif Teori Situasional, Etnis merupakan hasil dari adanya pengaruh yang
berasal dari luar kelompok. Salah satu faktor luar yang sangat berpengaruh terhadap etnisitas adalah kolonialisme, yang demi kepentingan administratif pemerintah kolonial telah mengkotak- kotakkan warga jajahan ke dalam kelompok-kelompok etnik dan ras (Rex dalam Simatupang, 2003).
Kalimantan, dan lainnya. Begitu juga orang Melayu di Semenanjung Malaysia, Sabah, Serawak, Pattani, Kamboja, Srilanka, Madagaskar, dan lain-lainnya. Orang Melayu (sapaan umumnya) di Sumatera Utara memiliki ciri-ciri khas kebudayaan, seperti sistem kekerabatan yang menggunakan unsur impal, seni sinandong, dedeng, tari serampang dua belas, dan lain-lainnya (Dja’far : 2007).
Namun, ada juga berbagai persamaan sosial budaya dengan kawasan Melayu lain, seperti adat-istiadat perkawinan, seni zapin, bahasa Melayu, upacara- upacara tradisional, dan lain-lainnya. Istilah Melayu biasanya dipergunakan untuk mengidentifikasi semua orang dalam rumpun Austronesia yang meliputi wilayah Semenanjung Malaya, kepulauan Nusantara, kepulauan Filipina, dan Pulau-pulau di Lautan Pasifik Selatan. Dalam pengertian umum, orang Melayu adalah mereka yang dapat dikelompokkan pada ras Melayu.
Dengan demikian, istilah Melayu sebagai ras ini mencakup orang-orang yang merupakan campuran dari berbagai suku di kawasan Nusantara. Ras Melayu yang sudah memeluk agama Islam pada abad ke-13, identitas budanyanya selalu dipandang berbeda dengan masyarakat ras Proto-Melayu pedalaman, yaitu orang Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak-Dairi, yang masih menganut kepercayaan mereka sendiri; baik oleh mereka sendiri maupun orang luar.
Namun demikian, di sisi lain terjadi adaptasi/asimilasi orang Batak dengan orang Melayu jika masuk Agama Islam. Ada perbedaan mengenai pengertian Melayu ini di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, seperti yang dikemukakan oleh Vivienne Wee (1985:7-8). Menurut Wee, di Indonesia arti Melayu berbeda dengan yang ada di Singapura dan Malaysia. Perbedaan ini secara langsung
berkaitan erat dengan persepsi pemerintah masing-masing. Pemerintah Singapura memandang Melayu sebagai sebuah ras, sebuah kategori yang dihasilkan berdasar keturunan dalam sistem etnisitasnya. Di Singapura, seorang yang rasnya Melayu, beragama Kristen, dan berbahasa Inggris, secara syah dianggap sebagai Melayu.
Dalam kenyataannya terdapat sejumlah kecil orang Melayu Kristen, dan mereka dipandang sebagai suatu Asosiasi Kristen Melayu di Singapura. Di Malaysia, Melayu secara konstitusional diikat identitasnya dengan Agama Islam, dan jika seorang Melayu memeluk agama bukan Islam, dia tidak dipandang lagi sebagai Melayu. Namun demikian, tidak semua orang Islam Malaysia dipandang sebagai Melayu: konstitusi Malaysia menyatakan bahwa orang Melayu itu hanyalah orang Islam yang berbahasa Melayu, mengikuti adat-istiadat Melayu, lahir di Malaysia, atau lahir dari orang tuanya yang berkebangsaan Malaysia.
Berbeda dengan pemerintah Singapura dan Malaysia, pemerintah Indonesia, tidak begitu berminat memberikan definisi secara legal terhadap Melayu. Di Indonesia, Melayu adalah satu istilah yang mengandung makna identitas regional berdasar pengakuan penduduknya. Maka dengan kata lain, dalam pandangan pemerintah Indonesia, seseorang dapat saja menyatakan dirinya sendiri sebagai atau bukan sebagai orang Melayu, dan dia boleh saja memilih identitas regional. Pemerintah Indonesia tidak mencantumkan label etnik dalam kartu tanda penduduk bagi seluruh warga negaranya.Sementara pemerintah Singapura dan Malaysia mencantumkan label etnik ini.