• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Foto 12 Suasana dalam Istana Maimun Saat Jam Berkunjung

Sumber : Peneliti

Sementara itu, menurut Moharsyah walaupun Kesultanan Deli telah kehilangan fungsinya sebagai pihak yang dulunya menjalankan roda pemerintahan di Kota Medan, akan tetapi tetap menjalankan acara-acara Kesultanan seperti dahulu. Hal ini dilakukan untuk meneruskan tradisi-tradisi yang ada pada masa Kesultanan yang dahulu agar tetap lestari dan Kesultanan Deli tidak kehilangan ciri khasnya.

Adapun acara-acara adat yang masih dilakukan oleh keluarga Kesultanan menurut Moharsyah yaitu:

- Upacara junjung duli (open house). Acara ini adalah sebuah acara silaturahmi antara pihak Kesultanan dengan Masyarakat, dimana setelah Shalat Ied di Mesjid Raya Al Mashun (Mesjid Raya) maka Sultan Deli beserta keluarga Sultan yang lainnya akan berkumpul di ruang balai untuk saling bersilaturahmi dengan masyarakat.

- Darjah Gelar (Pemberian Gelar). Ada juga acara yang dilakukan dalam tiga tahun atau empat tahun sekali yaitu upacara pemberian gelar atau darjah gelar dari Sultan Deli kepada masyarakat yang mempunyai andil memajukan Kota Medan, budaya Melayu dan umumnya Sumatera Utara dan bahkan Indonesia. Salah satu orang yang pernah diberikan gelar adat adalah H. Bahtiar Jafar dimana beliau pernah menjadi Walikota Medan dua periode. Pada masa itu bagaimana beliau menata Kota Medan dan meletakkan jati diri Kota Medan adalah kota Melayu. Beliau diberi gelar “Mangku Negara” beserta dosen-dosen USU yang berjasa memajukan pendidikan di Sumatera Utara.

- Hari bersanding. Hari Bersanding merupakan pesta pernikahan keluarga Sultan.

Pelestarian pada hakekatnya adalah upaya mempertahankan agar suatu sumberdaya budaya tetap berada pada konteks sistem, agar dapat berfungsi aktif atau dimanfaatkan oleh masyarakat. Agar tetap bertahan, sumberdaya budaya yang masih ada dalam konteks sistem mungkin saja harus dipakai ulang atau didaur ulang. Sementara itu, sumberdaya budaya yang sudah berada pada konteks arkeologis akan dapat dilestarikan kalau sumberdaya itu dapat dimasukan kembali

ke dalam konteks sistem melalui proses reklamasi maupun daur ulang. Proses reklamasi dan daur ulang sudah tentu mengandung makna perubahan, yaitu mengubah sumberdaya budaya yang sudah tidah lagi bermakna agar dapat kembali mempunyai makna atau arti penting bagi sistem budaya yang masih berlangsung (Tanudirjo : 2003).

Istana Maimun sampai sekarang juga masih ditempati oleh keluarga Kesultanan Deli. Sehingga pada dasarnya bangunan Istana Maimun ini sama halnya seperti rumah hunian pada umumnya yang dimiliki oleh masyarakat pribadi. Menanggapi hal tersebut, informan peneliti yang bernama Lucas P Kastoro yang merupakan mantan Kepala Balai Arkeologi Kota Medan, menjelaskan bahwa :

“ . . . apabila kita menghadapi kasus dimana satu objek arkeologis atau historis, saya tidak tahu disini apabila dikaitan dengan cagar budaya atau belum dapat diperlakukan sebagai objek cagar budaya. Dalam hal ini ada sisi positif dimana cagar budaya tersebut masih digunakan sampai sekarang, dan juga sisi negative dari segi yang bisa mengancam keberadaan bangunan tersebut. Ini terlepas dari anda yg memang sudah melihatnya formal (resmi) sebagai cagar budaya atau atau belum layak (belum resmi) menjadi cagar budaya dan layak menerima perlakukan sebagai cagar budaya . . .”

Dalam hal ini cagar budaya yang masih digunakan masyarakat itu sudah cukup baik, karena kemungkinan cagar budaya tersebut terpelihara karena masih ditempati. Namun, kecenderungan berubah secara drastis pun ada karena keberadaan mereka yg ada disana. Maka dalam hal ini kita hanya melihat komitmen dari orang orang yg menempati objek yg dimaksud. Apabila mereka punya komitmen berkaitan dengan nilai budaya, romantisme ataupun sejarah bangunan tersebut pasti bangunan tersebut bisa dijaga, tetapi apabila mereka

disibukkan dengan masalah pertikaian dan warisan warisan-yang berujung pada masalah ekonomi disini muncul kemungkinan objek tersebut akan dijual ataupun dibongkar. Tergantung pada komitmen orang yang menempati.7

Karena pengelolaan warisan budaya di masa mendatang harus memperhatikan manajemen konflik, maka pengelola warisan budaya hendaknya memegang peran sebagai mediator. Untuk dapat mengemban peran ini, pengelola warisan budaya harus aktif terlibat dalam masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, mampu memberikan pendapat dalam diskusi dan debat publik, memberikan narasi-narasi tentang warisan budaya yang penting dan relevan dengan masalah yang ada di masa kini. Pengelola warisan budaya juga harus kritis melihat bagaimana kepentingan masa kini mempengaruhi interpretasi masa lampau. Sebagai perantara masa lampau dan masa kini, pengelola warisan budaya harus peka baik terhadap keragaman minat dan kepentingan akan masa lampau di masa kini maupun dampaknya terhadap kualitas sumberdaya arkeologi yang tersedia (Hodder, 1999). Untuk itu, mereka juga harus akomodatif terhadap beragam kepentingan.

Senada dengan Lucas, informan peneliti yang lain yakni Ketut Wiratyana juga mengatakan hal yang sama. Ketut Wiratyana yang merupakan peneliti di Balai Arkeologi Kota Medan mengatakan bahwa :

“ . . . tidak papa seperti halnya Candi Borobudur yang masih menjalankan proses ibadah bagi Agama Buddha yah tidak papa, itu malah jauh lebih aman daripada bangunan tersebut tidak ditempati. Kalau ada yang menempati akan lebih mudah dibersihkan dan dijaga , kalau diberikan kepada masyarakat awam bangunan tersebut tidak terjaga . . .”

      

Kalau selama ini pengelola warisan budaya yang mewakili pemerintah sangat mendominasi penentuan kebijakan dan keputusan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya budaya, sejak dari identifikasi (termasuk ekskavasi penyelamatan dan studi kelayakan), penentuan nilai penting, pemanfaatan hingga mitigasi-nya, kini mestinya mereka harus lebih banyak mendengarkan ‘suara- suara’ dari pihak lain (pemilik bangunan). Selain itu, pengelola sumberdaya budaya perlu juga lebih banyak melibatkan berbagai unsur masyarakat dalam pengambilan keputusan, antara lain lewat kerjasama dengan berbagai pihak dalam masyarakat. Dengan kata lain, pengelola sumberdaya budaya tidak lagi mengabdi pada kepentingan tunggal (negara), tetapi kepentingan yang beragam dari masyarakat luas.

Mengikuti pendapat Mayer-Oakes (1990), pengelola sumberdaya budaya harus sadar bahwa sumberdaya budaya adalah milik masyarakat luas yang memiliki beragam kepentingan. Karena itu, anggapan bahwa merekalah yang menentukan nasib sumberdaya budaya harus dihilangkan. Sebaliknya, pengelola warisan budaya yang bijaksana akan menempatkan dirinya sebagai penjaga- pengelola (steward). Sedikit berbeda dengan peran manager yang lebih berkonotasi pengendali (controller) atau penguasa (authority), Steward lebih berperan sebagai seorang penjaga dan pengelola. Artinya, ia harus sadar bahwa yang dijaga dan dikelola bukanlah miliknya sendiri (lihat: Oxford American Dictionary, 1986). Secara profesional, pengelola warisan budaya harus bertanggungjawab terhadap kelestarian dan pemanfaatan warisan budaya.

4.1.2. Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid

Istana Maimun sebagai cagar budaya di Kota Medan merupakan bagunan cagar budaya yang diatur dalam UU No. 11 Tahun 2010 yang perlu pelestarian keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Dalam upaya pelestariannya tentu harus ada pihak yang jelas dan memiliki kekuatan hukum dalam mempertangungjawabkan pengelolaan Istana Maimun tersebut. Untuk keperluan itu maka dibutuhkan suatu yayasan yang mengelola bangunan tersebut.

Yayasan Sultan Sultan Ma’moen Al Rasyid merupakan yayasan yang didirikan langsung oleh Sultan Azmi Perkasa AlamShah beserta keluarganya pada tahun 1982 untuk mengelola Istana Maimun. Menurut Moharsyah didirikannya yayasan ini adalah untuk menjadi wadah komunikasi antara seluruh anggota keluarga besar ahli waris Sultan Ma’moen Al Rasyid. Kemudian yang tidak kalah pentingnya juga adalah untuk memelihara dan merawat peninggalan-peninggalan dari almarhum Sultan Deli yang ke 9 yakni Ma’moen Al Rasyid.

Satu hal yang menjadi alasan dari pemberian nama Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid, dan mengapa bukan memakai nama Sultan yang pada saat itu memimpin yakni Sultan azmi Perkasa Alam Shah, adalah karena Sultan yang pertama kali menempati dan membangun Istana Maimun adalah Sultan Ma’moen Al Rasyid yang ke 9. Sehingga Sultan yang pada saat itu memimpin menamakan yayasan yang kelak akan mengelola Istana Maimun dengan nama Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid.

“ . . . Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid ini berdiri pada tahun 1982 dimana dari berdirinya yayasan ini digalang oleh Sultan Deli bersama keluarga lebih kepada untuk wadah komunikasi keluarga besar ahli waris Sultan Ma’moen Al Rasyid dan juga untuk memelihara dan merawat peninggalan-peninggalan dari almarhum Sultan Deli ke 9 Ma’moen Al Rasyid. Dan juga meletakkan relevansi keberadaan keluarga Sultan untuk berada di dekat masyarakat. Terkait dengan nama yayasan itu sendiri diberikan oleh Sultan Azmi Perkasa Alam Shah dengan nama Sultan Ma’moen Al Rasyid untuk menghormati beliau yang telah membangun Istana Maimun tersebut . . .”

Menurut Tanudirjo (2009) Hakekat upaya pelestarian yang sebenarnya, bukan semata-mata melestarikan benda cagar budaya, tetapi yang tidak kalah penting adalah melestarikan nilai-nilai budaya luhur yang ada di balik benda- benda tersebut kepada generasi mendatang. Karena itu, pada hakaketnya upaya pelestarian seharusnya meliputi kegiatan (a) identifikasi, (b) melindungi, (c) melestarikan, (d) menyajikan, dan (e) meneruskan ke generasi berikutnya. Semua kegiatan itu tentu saja tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, tetapi menjadi satu kesatuan utuh dan terpadu.

Sultan Ma’moen Al Rasyid sendiri lahir pada tahun 1879 dan wafat pada tahun 1924. Beliau merupakan raja KesultananDeli ke-9. Gelarnya setelah mangkat ialah Marhum Makmur. Sultan Ma’moen Al Rasyid lahir pada hari Senin, 13 Zulhijjah 1271 H, diangkat menjadi Sultan pada tahun 1879 dalam usia muda, sehingga dibentuklah Pemangku Raja yang beranggotakan Tengku Soelaiman gelar Tengku Raja Muda Deli, Tengku Soeloeng Laoet gelar Pangeran Bedagai Wazir Negeri Deli, dan Tengku Abdurrahman gelar Tengku Temenggong Deli. Setelah usia Baginda sampai pada 17 tahun maka ditabalkan lah Baginda itu menjadi Sultan Negeri Deli.

Pada masa pemerintahan Sultan yang dinobatkan dalam usia muda ini, perdagangan tembakau semakin maju dan kemakmuran Kesultanan Deli mencapai Puncaknya. Atas kebijaksanaan Baginda Tuanku itu semasa diatas tahta kerajaan, maka sebagai balas budi jasa Tuanku itu dikurniakan 2 buah peringkat kehormatan dari Kerajaan Negeri Belanda. Yaitu Commandeur In De Orde Van Oranje Nassau dan Ridder In De Orde Van De Nederlandsche Leeuw. Pusat Kerajaan pun dipindahkan ke Kota Medan.

Tuanku Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah mendirikan Istana di Kampung Bahari pada hari kamis pukul 12, tahun 1886. Kemudian pada 1888 dengan Belanda, Tuanku itu meletakkan sendiri batu pertama untuk membangun Istana Maimoon. Tahun 1891 yaitu pada hari Senin tepat pada Pukul 1 tengah hari, Sultan berpindah dari Istana Kota Bahari ke Istana Maimoon. Hari Sabtu 16 Mei 1903 didirikan pula sebuah Mahkamah atau Kantor Kerapatan Sultan di jalan raja (sekarang- Jalan Mahkamah). Juga kemudian pada tanggal 21 Agustus 1906 dimulailah peletakan batu pertama untuk Mendirikan Masjid Raya Kota Ma’sum

dan digunakan untuk sholat pertama kalinya yaitu pada hari Jumat 10 September 1909.

Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmatsyah Sultan Negeri Langkat dan Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah Sultan Negeri Serdang juga turut hadir dalam Sholat Jumat perdana di Mesjid Raya ini. Pada masa pemerintahanya Dia banyak membangun fasilitas umum untuk kemajuan masyarakat dan membangun Mesjid-Mesjid yang berjumlah kurang lebih sebanyak 800 buah demi kepentingan syiar agama Islam pada saat itu. Yang mulia Mangkat pada tahun 1924,

meninggalkan 3 orang putra dan 5 orang putri. Almarhum dimakamkan di Masjid Raya Kota Ma’sum, Medan.

Istana Maimun yang hingga saat ini masih ditempati oleh anggota keluarga Kesultanan Deli telah menjadi tempat dipamerkannya berbagai macam peninggalan Kesultanan Deli. Di belakang bangunan Istana Maimun terdapat rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal anggota keluarga Kesultanan Deli. Anggota keluarga Kesultanan Deli juga merupakan orang-orang yang menjadi anggota dalam yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid dalam mengelola Istana Maimun. Sehingga apabila kita melihat dengan seksama, maka dibalik berjalannya Istana Maimun sebagai objek wisata terlihat juga kehidupan anggota keluarga Kesultanan yang selayaknya masyarakat biasa.

Terkait dengan pengelolaan yang dilakukan oleh keluarga Kesultanan lewat Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid, lebih lanjut Moharsyah mengatakan :

“ . . . Istana ini sekarang dikelolah oleh Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid yang mana satu-satunya yayasan atau pihak yang dipercayai baik oleh Sultan Deli maupun keluarga untuk tugasnya merawat dan melestarikan keberadaan Istana Maimun. Yang mana tugas yayasan ini mengacu pada istana ini merupakan istana yang masih digunakan oleh keluarga Kesultanan baik dalam menyelenggerakan acara-acara adat ataupun tradisi yang masih dilaksanakan. Juga mengacu pada UU Cagar Budaya No 11 tahun 2010 dan Perda no 2 tahun 2012 tentang bangunan bersejarah kota medan. Yang mana Yayasan ini lah yang melaksanakan tugasnya mengelolah Istana Maimun . . .”

Dalam era global ini, masyarakat banyak mengalami pencerahan termasuk dalam bidang warisan budaya. Ada kesadaran yang makin kuat bahwa warisan budaya pada sumberdaya budaya itu haruslah sepengetahuan masyarakat luas (McGimsey dan Davis,1977; Cleere,1990; Schaafsma, 1990; Little,2002).

Kesadaran seperti juga muncul di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Masyarakat sekarang tidak lagi terlalu mengantungkan harapan pada upaya pemerintah dalam pelestarian warisan budaya.

Tidak jarang mereka malah meragukan kabijakan pemerintah dalam pemanfaatan warisan budaya. Situasi ini akhirnya yang beperhatian terhadap pelestarian warisan budaya. Selain itu, setiap masyarakat pada hakekatnya selalu mempunyai konsep-konsep pelestariannya sendiri (disebut: ethnoconservation). Hal yang menarik, upaya pelestarian yang mereka lakukan secara mandiri terbukti cukup efektif dan sangat membantu pemerintah.

Konflik kepentingan dan pluralisme yang berkembang dalam masyarakat juga menimbulkan wacana baru dalam visi pelestarian. Selama ini, harus diakui kebijakan pelestarian terbesar selalu diarahkan pada upaya “tidak mengubah” atau “mengembalikan kekeadaannya semula” suatu warisan budaya. Kebijakan seperti itu dirasakan terlalu kaku, cenderung picik, dan kurang dapat mewadahi upaya pemanfaatannya. Seolah-olah pelestarian adalah untuk pelestarian itu sendiri. Namun, kini kebijakan seperti itu sering dipermasalahkan dan di berbagai tempat sudah mulai ditinggalkan. Memang disadari sepenuhnya bahwa warisan budaya adalah sumberdaya budaya yang tak-terbaharui (non-renewable), terbatas (finite), dan khas (contextual). Karena itu, segala upaya untuk mempertahankan nilainya harus selalu diusahakan.

Namun, disadari pula bahwa upaya mempertahankan nilainya itu tidak selalu berarti “sekedar mengabadikan keadaan semula”, tanpa mau tahu berarti atau tidaknya upaya pelestarian itu bagi masyarakat. Sebaliknya, pelestarian justru

harus dilihat sebagai suatu upaya untuk mengaktualkan kembali warisan budaya dalam konteks sistem yang ada sekarang. Tentu saja, pelestarian harus dapat mengakomodasi kemungkunan perubahan, karena pelestarian harus diartikan sebagai upaya untuk memberikan makna baru bagi warisan budaya itu sendiri (Tanudirjo, 1996).

Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid sebagai suatu yayasan yang bergerak pada tugas dan fungsinya, dalam merawat serta melestarikan bangunan cagar budaya Istana Maimun juga memiliki struktur kepengurusan. Berikut merupakan struktur kepengurusannya :

Tabel Grafik 1: Struktur Pengurusan Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid

Kemudian berada setingkat dibawah struktur kepengurusan Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid, juga memiliki Struktur Dewan yang bertugas melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang menyangkut Istana

Ketua Umum  Tengku Kamarul,  S.H. Sekertaris Umum  Tengku Moharsyah Wakil Sekertaris  Umum  Bendahara Umum  Dra. Tengku Lisa 

Nelita

Wakil Bendahara  Umum

Maimun di lapangan. Berikut merupakan Struktur Dewan Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid

Tabel Grafik 2 : Struktur Dewan Yayasan Sultan Ma’moen Al Rasyid

Sumber : Hasil Data Lapangan

Penjelasan Struktur Dewan :

a. Dewan Pembina, merupakan orang yang memonitor dan mengkoordinir apa langkah-langkah yang telah diberikan kepada dewan pengurus

b. Dewan Pengurus, adalah pelaksana atau pengeksekusi dilapangan terhadap apapun yang berkaitan dengan ketetapan dari dewan pengurus

c. Dewan Pengawas, adalah pihak yang membantu Dewan Pembina dalam hal mengawasi kinerja dari pengurus yayasan yang sudah dibekali dewan pembina. Pengawasan mengacu pada target yang telah diberikan oleh Dewan Pembina.

Dewan  Pembina

Dewan  Pengurus

Kabid Agama Kabid Hukum  & Sosial

Kabid 

Revitalisasi Kabid Promosi

Kabid  Kemanan Dewan 

4.1.3. Pencarian Dana Tambahan Untuk Operasional Istana Maimun

1. Tiket Masuk, Sumber Utama Pemasukan

Awalnya salah satu permasalahan yang terjadi pada sistem pengelolaan istana maimun adalah kesulitan dalam mencari dana, karena dahulunya istana maimun merupakan tanggung jawab dari Sultan Deli. Setelah itu, runtuhnya kekuasaan kesultanan deli dan pihak pengelolaan juga sudah berubah, timbulnya berbagai masalah salah satunya masalah keuangan.

Namun saat ini kesulitan tersebut sudah mampu teratasi dengan adanya atau dikutipnya tiket masuk setiap pengunjung yang datang. Tidak hanya berandalkan pada tiket masuk saja, tetapi sumber dana yang dimiliki oleh istana maimun juga berasal dari bantuan pemerintah dan swasta. walau sumber dana dari pemerintah maupun dari swasta bersifat mendadak, artinya mereka mengeluarkan dana secara tiba-tiba, jika pihak istana maimun sedang mengadakan suatu acara.

Dokumen terkait