Beberapa pandangan yang sering muncul mengatakan bahwa globalisasi dapat menjauhkan dari menciptakan lapangan kerja dan memindahkan hambatan perdagangan internasional merusak kesejahteraan pekerja pabrik. Hal ini terjadi karena dengan menghilangkan hambatan dalam perdagangan mengizinkan perusahaan untuk memindahkan aktivitas pabriknya ke negara-negara yang mempunyai tingkat upah yang lebih rendah.
Bartlett dan Steele, dua orang jurnalis untuk Philadelphia Inquirer menentang adanya perdagangan bebas, dengan mengambil contoh kasus pada Harwood Industries, sebuah pabrik baja AS menutup kegiatan operasinya di Honduras dengan tenaga kerja yang dibayarkan jauh lebih rendah dibandingkan dengan di AS yaitu sebesar 48 cens per jam sementara AS upah buruh dibayarkan $9 per jam. Akibat perpindahan itu menurut Bartlett dan Steele tingkat kemiskinan masyarakat meningkat selama seperempat abad.
Sementara itu para pendukung dari perdagangan bebas menentang pendapat Bartlett dan Steele dengan mengatakan bahwa perdagangan bebas dapat menciptakan spesialisasi dalam memproduksi barang dan jasa sehingga dapat lebih efesien, pada saat yang bersamaan pula mereka dapat mengimpor barang dan jasa yang tidak dihasilkan negaranya dari negara lain secara efesien. Ketika negara tersebut memberanikan untuk melakukan perdagangan bebas, maka negara tersebut selalu melakukan perpindahan lokasi. Dengan mengambil contoh kasus perusahaan Textil Harword yang menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan untuk masyarakat daerah tersebut akibat dipindahkan kegiatan pabriknya ke Honduras ternyata dapat menyebabkan keuntungan yang menyeluruh bagi perekonomian negara.
Dengan mengimpor tekstil dari Cina dengan harga yang lebih rendah untuk pakaian di AS, memungkinkan konsumen AS membelanjakan uang mereka pada kebutuhan lain. Sementara itu diwaktu yang sama, terjadi peningkatan pendapatan masyarakat secara umum di China yang didapatkan dari ekspor tekstilnya dapat meningkatkan pula tingkat pendapatan negara tersebut.
Meningkatnya tingkat pendapatan China menyebabkan negara itu dapat membeli barang produksi AS seperti pesawat jet boeing, intel komputer, Microsoft software dan handphone Motorola. Kenyataan ini menunjukkan bahwa perdagangan bebas dapat mendatangkan keuntungan menyeluruh bagi setiap negara. Meningkatnya jumlah
pengangguran yang disebabkan oleh perpindahan lokasi dalam perdagangan bebas dapat diatasi dengan menginvestasikan masyarakat di sektor pendidikan sehingga dapat mengurangi jumlah tenaga kerja yang tidak ahli sehingga masyarakat dapat diberdayakan secara lebih efektif dan efesien.
1.8.2 Globalisasi dan Kedaulatan Nasional
Salah satu kritik terhadap globalisasi adalah meningkatnya saling ketergantungan antara ekonomi global, kekuatan ekonomi yang menggantikan dominasi pemerintah dan menfokuskan ke arah organisasi perdagangan bebas (WTO) dan perkumpulan negara-negara Eropa.
Ketika dunia ini menjadi satu pasar berakibat pada semakin kuatnya interdependensi atau saling ketergantungan antara satu negara dengan negara lain yang sama-sama mempunyai kedaulatan nasional. Jadi yang sesungguhnya terjadi bukanlah satu negara tergantung pada negara lainnya, melainkan suatu situasi dan kondisi dimana semuanya saling memerlukan untuk mempertahankan keseimbangan politis dan ekonomis, dan tentu pula dalam rangka pemenuhan kepentingan masing-masing negara.
Interdependensi negara-negara ini pada gilirannya akan menggugat persoalan tentang prinsip kedaulatan negara, namun
keberadaan negara-negara yang berdaulat ternyata tidak dapat dipisahkan dari yang lain. Hal ini terjadi diakibatkan berlangsungnya hubungan-hubungan antar negara yang sangat intens, bahkan termasuk juga hubungan internasional yang pelaku-pelakunya adalah individu-individu atau perusahaan-perusahaan yang berwarganegara berbeda-beda. Lahirnya WTO yang dibentuk pada tahun 1994 yang merupakan kelanjutan dari GATT telah berupaya memperbaiki kondisi perekonomian para negara anggotanya.
Ralph Nader seorang ahli lingkungan dan hak-hak konsumen mengatakan:
Under the new system, many decisions that affect billions of people ere no longer made by local or national government but instead, if challenged by any WTO member nation, would be defered to a group of unelected bureaucrats sitting behind closed doors in Geneva. The bureaucrats can decide whether or not people in California can prevent the destruction of the last virgin forest or determine if carcinogenic persticides cab be banned from their foods
1.9 Mengelola Pasar Global
Perusahaan yang akan terjun ke dalam bisnis global tidak harus sebuah perusahaan multinasional, tetapi yang perlu dipahami adalah semua perusahaan dapat memasuki pasar global dengan memulai mengekspor atau mengimpor barang dan jasa yang dibutuhkan dari
negara lain. Dalam dunia yang saling terkait sekarang ini semua perusahaan baik besar,menengah maupun kecil dapat menjadi bisnis internasional. Kenyataan ini juga menunjukkan bahwa para manager yang memimpin setiap bisnis harus mengarahkan sumber daya bisnisnya di pasar global. Para manajer harus dapat memahami bahwa memimpin sebuah perusahaan yang memasuki pasar global berbeda dengan perusahaan yang hanya berada pada pasar domestik saja. Perbedaan ini disebabkan karena adanya perbedaan setiap negara seperti perbedaan budaya, sistem politik, sistem ekonomi, hukum dan tingkat pertumbuhan ekonominya.
Memasarkan produk di Brazil berbeda pendekatan pemasarannya dengan pemasaran di Jerman, mengatur tenaga kerja dari Amerika memerlukan keahlian yang berbeda dengan mengatur tenaga kerja dari Jepang, membina hubungan tertutup dengan pejabat pemerintah sangat penting di Mexico tetapi tidak dapat diterapkan di Inggris, demikian pula halnya dengan pendekatan strategi bisnis di Kanada tidak dapat dilakukan di Korea Selatan.
Menjadi seorang manajer di bisnis internasional tidak hanya harus peka terhadap perbedaan antar negara di atas, tetapi juga harus mampu mengadopsi beberapa kebijakan dan strategi yang dimiliki oleh perusahaan di negara lain. Kita bisa belajar dari Procter & Gamble di
Jepang yang mampu mengadopsi beberapa strategi dan kebijakan di perusahaan Jepang.
Manajer sebuah perusahaan global juga harus mampu berhadapan dengan isu-isu di setiap negara yang tentunya memerlukan pemecahan yang berbeda di negara asalnya sekaligus pula manajer tersebut harus dapat menentukan di negara mana kegiatan produksi dan pemasarannya sehingga dapat meminimalkan biaya dan menghasilkan nilai tambah di negara tujuan dan negara asal.
Bisnis internasional juga harus berpedoman pada aturan yang diterapkan yang mengikuti standar perdagangan internasional. Para manajer diharapkan juga mampu melakukan negosiasi dengan pejabat pemerintah setempat dan menentukan batasan-batasan campur tangan pemerintah setempat dalam menjalankan bisnisnya.
Pada akhirnya sebagai kesimpulan untuk mengatur sebuah bisnis internasional adalah berbeda dengan mengatur pemasaran domestik. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor seperti (1) perbedaan antar negara;(2) tingkatan permasalahan yang dihadapi;(3) Batasan-batasan campur tangan pemerintah dalam sistem perdagangan internasional dan investasi dan (4) tingkat kurs mata uang yang berbeda dalam setiap negara.
1.9 Sejarah Bisnis Internasional
Bisnis Internasional sebagai sebuah disiplin adalah relatif baru namun bisnis internasional sebagai praktik bisnis bukanlah “sejarah”
bisnis internasional. Bahkan sebelum masehi, pedagang-pedagang Venesia dan Yunani mengirim wakil-wakil ke luar negeri untuk menjual barang-barang mereka. Tahun 1600, British East India Company, sebuah perusahaan dagang yang baru dibentuk mendirikan cabang-cabang luar negeri di Asia. Pada saat yang sama, sejumlah perusahaan Belanda, yang dibentuk tahun 1590 membuka rute-rute perjalanan ke timur, bergabung untuk membentuk Dute East India Company dan juga membuka kantor-kantor cabang di Asia. Para pedagang kolonial Amerika mulai beroperasi dengan model yang sama pada tahun 1700-an.
Contoh investasi langsung luar negeri Amerika yang mula-mula adalah perkebunan-perkebunan Inggris yang dibentuk oleh Colt Fire Arms and Ford (karet vulkanisir) yang didirikan sebelum perang saudara.
Namun kedua operasi itu gagal hanya setelah beberapa tahun kemudian.
Perusahaan Amerika pertama yang berhasil memasuki produksi luar negeri adalah pabrik yang didirikan di Skotlandia oleh Singer Sewing Machine pada tahun 1868. pada tahun 1880, Singer telah menjadi organisasi dunia dengan organisasi penjualan luar biasa dan beberapa pabrik pemanufakturan di luar negeri. Perusahaan-perusahaan lainnya
segera menyusul, dan pada tahun 1914 paling sedikit 37 perusahaan Amerika memiliki fasilitas produksi di dua atau tiga lokasi di luar negeri.
Di antara perusahaan-perusahaan yang telah didirikan di luar negeri itu adalah Nastional Cash Register and Burroughs, dengan pabrik manufaktur di Eropa; Parke-Davis, dengan pabrik di dekat London, tahun 1920, dan Ford Motor Company, yang memiliki pabrik perakitan atau outlet distribusi di 14 negara. General motor and Chrysler segera menyusul, sehingga pada tahun 1920-an ketiga perusahaan itu memiliki operasi-operasi luar negeri yang besar ukurannya. Menariknya, dan cukup berlawanan dengan situasi dewasa ini, pada tahun 1920-an semua mobil yang dijual di Jepang adalah buatan Amerika Serikat oleh Ford dan General Motor dan mengirimnya ke Jepang dalam bentuk bongkar pasang (knocked-down) untuk dirakit di tempat. Investor lainnya mula-mula menanamkan modal di luar negeri adalah General Elevtric, yang pada tahun 1919, memiliki pabrik-pabrik di Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Perusahaan-perusahaan Amerika lainnya yang terkenal di Eropa pada waktu itu adalah Alcoa, American Tobaco, Armour, coca-Cola, Eastman Kodak, Gillete, Quarker Oats, Westerm Electric, dan Westinghouse.
Suatu hal yang menarik, bisnis Amerika yang berpindah ke luar negeri menyebabkan kekuatiran di antara orang-orang Amerika, sama seperti yang ditimbulkan oleh investasi Jepang di Amerika Serikat dewasa
ini. Seorang penulis mengemukakan bahwa inflasi berlanjut terus tanpa henti-hentinya dan tanpa suara atau bayangan di dalam 500 industri sekaligus. Sejak dari sabun cukur hingga motor-motor listriks, dan dari wanita sampai telepon, Amerika membabat habis bidang ini.
Meskipun perusahaan-perusahaan Amerika sampai sedemikain jauh merupakan investor-investor asing terbesar, namun perusahaan-perusahaan Eropa juga bergerak ke luar negeri. Friedrich Bayer tertarik untuk membeli sebuah pabarik di New York pada tahun 1865, dua tahun setelah menidirkan pabriknya di Jerman. Kemudian, karena pajak impor yang tinggi di pasar-pasar luar negerinya, ia bergerak maju untuk mendirikan pabrik-pabrik di Rusia (1876), Perancis (1882). Bayer, yang sekarang merupakan salah satu di antara empat perusahaan kimia terbesar di dunia dengan penjualan $ 32 milliar tahun 1996, memiliki 350 perusahaan dengan operasi di 140 negara. Setelah kehilangan hak untuk menggunakan nama Bayer di Amerika Utara sebagai bagian dari perbaikan Perang Dunia (PD) I Jerman, perusahaan itu memperoleh kembali haknya pada tahun 1995 dengan membeli divisi obat-obatan over-the-counter dari Kodak, yang telah menjadi pabrik dan pemilik aspirin Bayer.
Tabel 1.5 Sejarah Bisnis Internasional Sebelum
Masehi
Pedagang Venesia dan Yunani mengirim wakil-wakil ke luar negeri untuk menjual barang-barang hasil produksinya.
1600 - British East India Company mendirikan cabang di seluruh Asia - Perusahaan-perusahaan Belanda (berdiri tahun 1950)membuka
rute-rute perjalanan ke Timur, bergabung untuk membentuk Dutch East India Company dan juga membuka kantor-kantor cabang di Asia.
1700 Pedagang kolonial Amerika mulai beroperasi dengan model yang sama.
1865 Bayer (Jerman) membeli pabrik di New York
1868 Perusahaan Amerika pertama yang berhasl memasuki produksi luar negeri yaitu dengan didirikannya pabrik Singer Sewing Machine di Skotlandia
1876 Bayer mendirikan pabrik di Rusia
1880 Singer menjadi organisasi dunia dengan organisasi penjualan luar negeri yang luar biasa dan beberapa pabrik manufaktur di luar negeri.
1882 Bayer mendirikan pabrik di Perancis
1908 Bayer mendirikan pabrik di Belgia.
1914 Paling sedikit 37 perusahaan Amerika memiliki fasilitas produksi di dua atau tiga lokasi di luar negeri (a.l. National Cash register and Buroughs, dengan pabrik di Eropa; Parke Davis pabrik di London, Ford Motor Company memiliki pabrik perakitan atau outlet distribusi di 14 negara.
1919 General Electric mulai menanamkan modal di luar negeri.
1920 General Motor and Chrysler melakukan operasi luar negeri
Sumber: Ball & McCulloch (2000)
Meskipun perusahaan-perusahaan internasional telah ada sebelum PD I, hanya tahun-tahun terakhir inilah mereka menjadi objek dari banyak diskusi dan penyidikan, terutama berkenaan dengan globalisasi yang terus meningkat di dalam operasi mereka. Apa alasan untuk melakukan globalisasi ? Di antaranya adalah:
(1) Politis
Ada kecenderungan terhadap penyatuan dan sosialisasi komunitas global. Kesepakatan-kesepakatan perdagangan preferensi, seperti the north American Free Trade Agrement (NAFTA) dan Uni Eropa, yang mengelompokkan beberapa negara menjadi sebuah pasar tunggal, telah menyajikan kepada perusahaan peluang-peluang pemasaran yang sangat berarti. Banyak yang telah bergerak dengan cepat menerobos baik melalui ekspor maupun produksi di wilayah itu. Dua aspek lainnya mengenai kecenderungan ini adalah kontribusi terhadap globalisasi dari operasi-operasi bisnis:
(a) Pengurangan hambatan-hambatan terhadap perdagangan dan investasi luar negeri secara progresif oleh kebanyakan pemerintahan, yang telah mempercepat pembukaan pasar-pasar baru oleh perusahaan-perusahaan internasional, baik melalui ekspor ke negara-negara itu maupun mendirikan fasilitas-fasilitas produksi di negara tersebut,
(b) Privatisasi banyak industri di bekas negara komunis dan pembukaan perekonomian mereka terhadap persaingan global.
(2) Teknologi
Kemajuan-kemajuan dalam teknologi komputer dan komunikasi memungkinkan aliran gagasan dan informasi yang meningkat melewati batas-batas negara, dan memungkinkan para pelanggan mempelajari barang-barang luar negeri. Sistem TV kabel, di Eropa dan Asia, misalnya, memungkinkan seorang pemasang iklan mencapai banyak negara sekaligus, dengan demikian menciptakan permintaan regional dan kadang-kadang global. Jaringan komunikasi global memungkinkan personil manufacturing untuk mengkoordinasi fungsi-fungsi produksi dan desain jesekuruh dunia sehingga pabrik-pabrik itu dibanyak bagian dunia bisa mengerjakan produk yang sama.
Internet dan komputerisasi jaringan memungkinkan perusahaan-perusahaan kecil bersaing secara global karena memungkinkan adanya aliran informasi yang cepat tanpa mempedulikan lokasi fisik pembeli dan penjual. Konferensi video melalui internet memperkenalkan para penjual mendemonstrasikan produk-produk mereka kepada calon pembeli di seluruh dunia tanpa perlu berpergian. Ia juga memungkinkan perusahaan-perusahaan internasional melakukan rapat-rapat perusahaan di antara para manajer dari kantor pusat dan cabang-cabang di seluruh dunia tanpa melakukan perjalanan yang mahal dan
menghabiskan waktu. Selain itu komunikasi melalui E-mail di Internet adalah lebih cepat dan lebih dapat dipercaya dari pada surat melalui pos, dan jauh lebih murah daripada menggunakan mesin faximile. Kedua pemakaian Internet itu telah memberikan kepada para manajer di Kantor pusat kepercayaan yang lebih besar atas kemampuan mereka untuk melakukan operasi luar negeri secara langsung.
Kemudian memperoleh informasi dan melakukan transaksi-transaksi melalui Internet mulai besar pengaruhnya terhadap banyak perusahaan dan terutama pada perdagangan antar perusahaan. Dulu perusahaan menggunakan facsimle, telepon atau surat untuk menyelesaikan berbagai transaksi, sekarang mereka menggunakan internet yang lebih murah dan cepat. Sebagai contoh, Cisco Systems, pembuat alat jaringan, menjual peralatan senilai $ 1 milliar setiap tahun dari situs Web-nya. Konsep pemakaian Web untuk mencari pemasok itu telah ada di industri-industri tertentu. Apparel Exchange (www.apparelex.com) menyediakan jasa online untuk mencari sumber bagi lebih dari 26.000 perusahaan tekstil sejak tahun 1994.
BAB II
TEORI-TEORI EKONOMI YANG
MELATARBELAKANGI PRAKTIK BISNIS INTERNASIONAL
2.1 Beberapa Manfaat Mempelajari Teori Ekonomi
Bagi para pelaku bisnis internasional sudah saatnya untuk dapat memahami teori ekonomi. Beberapa manfaat dapat diperoleh dengan mempelajari teori ekonomi bagi para pelaku bisnis internasional dapat digambarkan dalam berbagai hal berikut:
a. Jika para praktisi bisnis harus sering berhubungan dengan pejabat-pejabat pemerintah yang berlatar belakang berpendidikan ekonomi, para pelaku bisnis harus siap dapat memahami konsep ekonomi secara menyeluruh sehingga dapat berkomunikasi dengan baik dengan para ekonom tersebut.
b. Jika para pelaku bisnis mengajukan berbagai usulan projek yang memerlukan persetujuan pemerintah, mereka harus mampu berargumentasi dan meyakinkan bahwa usulan tersebut layak dan bermanfaat secara ekonomi dinilai baik.
Dengan kata lain, para pelau bisnis juga harus dapat
melakukan feasibility study berdasarkan pendekatan ekonomi agar usulan tersebut dapat dipahami berdasarkan pendekatan ekonomi sehingga berpeluang untuk dapat disetujui. Para pemasar yang mengusulkan proyek-proyek besar pada perencana pemerintah harus waspada bahwa penentu kunci sekarang adalah efisiensi ekonomi daripada aspek finansial semata.
c. Para pelaku bisnis harus dapat menjelaskan kepada masarakat tentang manfaat dan rasionalisasi bisnisnya secara ekonomi, sehingga mereka dapat menjadi mitra dalam mensosialisasikan trend praktik teori ekonomi baik kepada masyarakat umum dan masyarakat akademik.
d. Dapat memahami gejala-gejala ekonomi yang terjadi sehingga dapat melakukan antisipasi yang relevan
Beberapa manfaat di atas menjadi alasan mengapa para pelaku bisnis internasional perlu mempelajari secara menyeluruh tentang teori-teori ekonomi, khususnya teori-teori ekonomi yang melatarbelakangi perdagangan internasional, pembangunan ekonomi dan investasi langsung luar negeri. Ke tiga praktik tersebut umumnya akan menjadikan dasar tindakan atau kebijakan bisnis di masa depan.
2.2 Beberapa Teori Perdagangan Internasional
Terjadinya perdagangan internasional, dimana antar bangsa melakukan praktik perdagangan pada dasarnya telah terjadi berabad yang lalu. Teori perdagangan internasional pada dasarnya berupaya memprediksi, komposisi dan volume barang-barang yang diperdagangkan oleh bangsa-bangsa. Hal yang perlu dicermati adalah sisi historis perdagangan internasional itu sendiri adalah latar belakang terjadinya aktivitas perdagangan tersebut umumnya diwarnai atau bermotivasi politis. Sebagai contoh pada peristiwa perdagangan internasional oleh bangsa Portugis, Inggris dan Belanda yang berlayar hingga ke Indonesia, perdagangan merupakan salah satu politik untuk menguasai daerah jajahan baru. VOC milik Belanda membuktikan bahwa terdapat koneksitas yang kuat antara politik dengan praktik perdagangan internasional, khususnya yang terjadi di Indonesia.
2.2.1 Merkantilisme
Merkantilisme adalah falsafah ekonomi yang menganut konsep bahwa penting bagi sebuah negara untuk mengakumulasi persediaan logam-logam berharga demi mencapai kesejahteraan. Menurut penganut falsafah merkantilisme logam-logam berharga dianggap
sebagai satu-satunya sumber kesejahteraan. Dalam hal ini pemerintah membuat kebijaksanaan ekonomi yang mempromosikan ekspor dan mengurangi impor, mengakibatkan surplus perdagangan yang harus dibayar emas dan perak. Larangan-larangan impor dilakukan dengan meningkatkan bea masuk agar impor menurun, sementara pemerintah berupaya untuk meningkatkan subsidi kepada eksportir agar mereka termotivasi untuk meningkatkan ekspor. Tindakan-tindakan ini semata-mata dilakukan sebagai upaya untuk menciptakan surplus perdagangan.
Era kaum merkantilis berakhir pada tahun 1700-an, tetapi argumen-argumennya masih tetap hidup. Sebuah neraca perdagangan dinilai baik jika negara mengekspor lebih banyak barang dan jasa daripada yang diimpornya. Dalam akunting neraca pembayaran, ekspor yang membawa dolar ke negara ini disebut positif, tetapi impor yang menyebabkan dolar mengalir ke luar diberi nama negatif.
Sebuah contoh, merkantilisme modern yang dewasa ini masih banyak dianut oleh bangsa-bangsa, dimana mereka umumnya berupaya meningkatkan ekspor dan mengurangi impor. Kebijakan Indonesia untuk memberikan subsidi ekspor kepada para eksportir merupakan salah satu contoh realisasi dari paham merkantilisme.
Adanya penetapan tariff bea masuk barang impor yang diterapkan oleh berbagai negara di dunia juga merupakan realisasi dari paham merkantilisme. Selain itu, neraca perdagangan dikatakan positif (baik) jika nilai ekspor lebih tinggi daripada nilai impor. Konsep tersebut telah menjadi dasar dalam praktik perdagangan internasional hampir di seluruh belahan dunia, sehingga disadari atau tidak merkantilisme masih menjadi paham perdagangan dunia.
Jepang adalah satu negara yang mempraktikan paham merkantilisme dengan proteksi pasarnya yang begitu ketat.
Hambatan-hambatan perdagangan yang diciptakan Jepang menjadikan Jepang suatu pasar yang sulit ditembus. Para pelaku bisnis dunia memperhatikan hambatan-hambatan Jepang terhadap impor mereka adalah akibat dari etnosentrisme, semangat swasembada, dan mentalitas pertahanan budaya yang kuat.
2.2.2 Teori Keunggulan Absolut
Adam Smith mengemukakan bahwa masing-masing negara akan mengkhususkan diri dalam memproduksi barang-barang yang dapat diproduksinya dengan lebih efisien memiliki suatu keunggulan absolut, baik alamiah maupun yang dibuat/diproduksi. Sebagian
barang-barang tersebut akan diekspor untuk membayar impor barang-barang yang dapat diproduksi lebih efisien di tempat lain.
Sebagai Contoh. Misalkan ada persaingan sempurna dan tidak ada biaya-biaya transportasi di dunia dengan dua negara dan dua produk. Seandainya (1) satu unit masukan (kombinasi tanah, tenaga kerja dan modal) (2) masing-masing negara memiliki dua unit input yang dapat digunakannya untuk memproduksi baik beras maupun mobil, dan (3) masing-masing negara menggunakan satu unit masukan untuk memproduksi tiap-tiap produk. Apabila tidak ada negara yang mengimpor atau mengekspor, jumlah-jumlah yang ditunjukkan juga merupakan apa yang tersedia bagi konsumsi lokal keluaran total dari kedua negara adalah 4 ton beras dan 6 mobil.
Di Amerika Serikat, tiga ton beras atau dua mobil dapat diproduksi dengan satu unit keluaran. Karenanya, tiga ton beras harus mempunyai harga yang sama dengan dua mobil. Tetapi di Jepang, karena hanya satu ton beras yang dapat diproduksi dengan unit masukan yang dapat memproduksi empat mobil, maka satu ton beras seharusnya memiliki biaya sebanyak empat mobil.
Berdasarkan contoh tersebut Amerika Serikat mempunyai keunggulan absolut dalam produksi beras (tiga banding satu),
sementara keunggulan absolut Jepang berada dalam pembuatan
sementara keunggulan absolut Jepang berada dalam pembuatan