TINJAUAN UMUM TENTANG
C. Tipe Manusia dalam beramar Ma’ruf Nahy
3. Golongan yang memiliki prilaku golongan pertama dan kedua
Mereka pada umumnya beriman, namun dalam dirinya terdapat agama dan nafsu. Di dalam hati mereka terdapat agama dan nafsu yaitu keinginan untuk taat disamping keinginan berbuat maksiat, sehingga ia
melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar, menyeru kepada
kebajikan, tetapi juga melakukan perbuatan dosa, maksiat dan kezaliman. Padahal orang yang tahu bahwa suatu perbuatan adalah dosa, lalu tetap melakukannya, maka balasannya adalah kemurkaan Allah swt. Allah berfirman dalam QS.Al-Baqarah (2): 44 yang berbunyi:
َأ َن ْوَسنَت َو ِ رِبْلاِب َسا نلا َنوُرُمْأَتَأ
ُفن
ُكَس
َأَو ْم
َنوُلْتَت ْمُتن
﴿ َنوُلِقْعَت َلاَفَأ َباَتِكْلا
٤٤
﴾
Terjemahnya;
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut di atas berkaitan dengan kaum yahudi Madinah yang pada waktu itu berkata kepada mantunya dan kaum kerabatnya serta saudara sesusunya yang telah
masuk agama Islam:’ Tetaplah kamu pada agama yang
kamu anut (Islam) dan apa-apa yang diperintahkan oleh Muhammad, karena perintahnya benar”. Mereka
(penganutnya) menyuruh orang lain berbuat baik, tapi diri mereka sendiri tidak melakukannya.103 Ayat ini turun sebagai peringatan bagi orang yang memerintahkan sesuatu tapi ia sendiri tidak melakukannya.
Melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dapat
melalui ucapan atau perbuatan. Jikalau arah perbuatan berlawanan dengan ucapan, maka ia jelas tidak direstui oleh Allah swt. Bahkan ia telah mengundang murka-Nya. Disisi lain jika ucapan yang disampaikan oleh penyeru atau juru dakwah berbeda dengan pengamalan kesehariannya, maka keraguan bukan hanya tertuju kepada sang penyeru, tetapi juga dapat menyentuh ajaran yang disampaikannya. Sebagaimana sering didengar, hanya karena ulah umat Islam, sebagaimana Pernah di katakan oleh Muhammad
Abduh ”al-Islāmu mahjūbun bil muslimīn (keindahan Islam
ditutupi oleh ulah orang-orang Islam).
103 Abī al-Hasan ‘Ali bin Ahmad al-Wāhidiy, , Asbāb al -Nuzūl al-Qur’an, op.cit. h. 27
Ayat ini bukan berarti bahwa seseorang yang tidak mengajarkan kebajikan yang diperintahkannya otomatis dikecam oleh Allah. Ia baru akan dikecam apabila melakukan sesuatu yang bertentangan dengan anjurannya, sebagaimana bunyi ayat. Ia juga dikecam jikalau tidak mengingatkan dirinya sendiri tentang perlunya melaksanakan apa yang diperintahkannya itu dan menghindari apa yang dilarangnya sendiri. Namun menurut Quraish Shihab, Jika ia telah berusaha mengingatkan dirinya, dan ada pula keinginan untuk melaksanakannya, maka tidaklah wajar ia dikecam, walau seandainya ia belum melaksanakan tuntunan-tuntunan yang disampaikan.104
Memang mengerjakan kebajikan tidak semudah mengucapkannya, demikian halnya menghindari larangan banyak hambatannya, olehnya itu lanjutan ayat berikutnya memerintahkan seluruh uamt manusia agar membekali diri dengan kesabaran dan disertai dengan doa. Karena nafsu yang terdapat pada diri manusia yang begitu besar pengaruh hanya dapat ditolerir dengan agama dan kesabaran.
Nafsu yang dimiliki oleh manusia terdapat tiga jenis, yaitu nafsu ammarah, nafsu lawwamah dan nafsu mutmainnah. Nafsu ammarah adalah jiwa (nafsu) yang selalu menyuruh kepada kejahatan. Jenis ini terdapat pada golongan yang disebutkan pertama di atas. Sementara golongan kedua adalah pengikut atau pemilik nafsu mutmainnah. Sebagimana disinggung dalam QS.Al- Fajr ( 89 ): 27-30 yang berbunyi :
ُة نِئَمْطُمْلا ُسْف نلا اَهُت يَأ اَي
ِج ْرا
ىَلِإ يِع
ًةَي ِضا َر ِكِ بَر
ًة ي ِض ْر م
يِداَبِع يِف يِلُخْداَف
ُخْدا َو
يِت نَج يِل
Terjemahnya:
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaku, dan masuklah ke dalam surga-Ku
Adapun nafsu lawwamah (yang selalu menyesali dirinya), berbuat dosa, lalu menyesalinya. Terkadang ia berubah, suatu ketika melakukan amal shaleh dan saat lain berbuat maksiat. Mereka ini masuk dalam kelompok tipe ke tiga. Hal ini disebutkan dalam QS.Al-Taubah (9): 102 yang berbunyi:
ْاوُطَلَخ ْمِهِبوُنُذِب ْاوُفَرَتْعا َنوُرَخآ َو
َع
ًلاَم
حِلاَص
َرَخآ َو ًا
ِإ ْمِهْيَلَع َبوُتَي نَأ ُ اللّ ىَسَع ًائِ يَس
ن
َ اللّ
ُفَغ
ٌمي ِح ر ٌرو
Terjemahnya:
Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur baurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ayat tersebut di atas menjelaskan keadaan orang-orang yang berbuat dosa dan mereka mencampuradukkan antara perbuatan baik dengan perbuatan yang buruk. Namun demikian disertai dengan penyesalan, sehingga ada harapan taubatnya akan diampuni oleh Allah. Menurut Ibnu Katsir mereka ini termasuk golongan yang berada di bawah pengampunan Allah swt. Meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang tertentu, namun ia berlaku umum bagi semua orang yang berbuat dosa dan yang
mencampur adukkan antara perbuatan baik dan perbuatan buruk.105
Setelah wafatnya Rasulullah saw, yaitu pada zaman Abu Bakar ra dan Umar bin Khattab ra. Rasulullah berpesan untuk mengikuti kedua pemimpin itu. Keduanya masih dekat dengan masa kerasulan, memiliki iman yang jauh lebih baik dan amalan-amalan yang shaleh, iman mereka sangat teguh menegakkan kebenaran dan kewajiban, dan
lebih tuma’ninah, mereka jauh dari ajang fitnah. Mereka itu
masuk dalam kelompok kedua.106 Akan tetapi di akhir pemerintahan Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ra, langkah manusia lebih dekat dengan model ketiga. Kehidupan mereka banyak diwarnai oleh nafsu syahwat dan syubhat, disamping mereka beriman dan menegakkan syariat. Hal seperti ini banyak terjadi pada sebahagian pemimpin dan rakyat.
Dan demikian seterusnya hingga tumbuh subur. Sehingga pada gilirannya nanti timbullah fitnah. Karena percampurbauran antara ketakwaan, ketaatan, nafsu serta syahwat dan maksiat. Masing-masing merasa benar dalam
melakukan amar ma’ruf nahi munkar, merasa di pihak yang
benar dan adil. Padahal dalih itu hanyalah sangkaan belaka yang merupakan sejenis nafsu, dan keinginan jiwa, walau sebenarnya salah satu golongan itu lebih dekat pada kebenaran ketimbang yang lain.
105 Abdullah bin Muhammad bin Abd Rahman bin Ishaq Alu Syaikh, AL-Tafsir Ibn Katsir, Jilid II, h. 369