• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN UMUM TENTANG

D. Etika beramar Ma’ruf Nahi Munkar

1. Memiliki Ilmu tentang hakikat kebaikan dan kemunkaran

Seseorang yang hendak memerintahkan berbuat

ma’ruf dan melarang berbuat munkar, maka sebelumnya

seharusnya memiliki ilmu tentang hakikat kebajikan dan kemunkaran serta mengetahui apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larang. 107 Dengan maksud agar tidak menyuruh

perbuatan yang tidak ma’ruf dan melarang perbuatan yang

tidak munkar. Demikian halnya agar ia mengetahui kapan saat yang tepat ia harus menyeruh dan kapan saatnya ia harus melarang serta kapan pula ia sebaiknya diam.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan secara marfu’

diceritakan oleh Al-Qādhi Abu Ya’la dala kitab al-Mu’tamad

yang berbunyi:

ْلا ِنَع ىَهْنَي َو ِف ْوُرْعَمْلاِب ُرُمْاَي َلا

ُم

َكْن

لاِإ ِر

َناَك ْنَم

ِف اًهْيِقَف َو ، ِهِب ُرُمْأَي اَمْيِف اًهْيِقَف

ْي

اَم

َي ْن

ِب ىَه

. ِه

Artinya:

Tidak boleh melakukan amar ma’ruf bahi munkar kecuali orang yang paham (punya ilmu) tentang apa yang ia serukan, dan paham tentang apa yang ia cegah.

Larangan memerintahkan dan atau melarang sesuatu yang tidak diketahui, karena dikhawatirkan penyeru itu menyerukan sesuatu yang tidak disyariatkan dan mewajibkan sesuatu kepada seseorang yang sesungguhnya tidak diwajibkan Allah swt. Atau sebaliknya ia melarang sesuatu yang tidak dilarang oleh syariat sehingga mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oelh Allah swt. Akibatnya ia menjadi orang yang sesat dan mengajak pula yang lain kepada kesesatan. Pelaku amar ma’ruf nahy

munkar tidak diperkenankan mengeluarkan perintah atau larangan jika tidak mengetahui sumbernya. Inilah suatu kaidah yang harus diketahui oleh siapapun yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran, dan bagi mereka yang memikirkan persoalan umat Islam, sehingga mereka menyadari mana langkah yang salah dan mana langkah yang benar.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah ibadah yang sangat mulia, dan sebagaimana dipahami bahwa suatu ibadah tidak akan diterima disisi Allah kecuali jika disertai dengan keikhlasan kepadaNya. Dan sebagai amal shaleh, suatu amalan tidak akan mungkin menjadi amal shaleh kecuali apabila berlandaskan ilmu yang benar. Karena seseorang yang beribadah tanpa ilmu maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, karena ilmu adalah imam amalan dan amalan mengikutinya.

Syaikh al-islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa jika ini merupakan definisi amal shaleh (yang memenuhi

persyaratan ikhlas dan ittiba’) maka seseorang yang beramar ma’ruf nahi munkar wajib menjadi seperti ini juga terhadap

dirinya, dan tidak akan mungkin amalannya menjadi amal shaleh jika ia tidak berilmu dan paham. Karena sesungguhnya niat dan amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka ia adalah kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu.108

Seseorang yang menyeruh kepada kebaikan harus mengetahui dalil yang mewajibkannya, demikian halnya ketika melarang sesuatu maka ia harus mampu memberikan dalil pengharamannya, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya menyuruh melaksanakan amalan sunnah, akan tetapi justru yang wajib diabaikan. Demikian pula melarang perbuatan makruh, sementara yang haram dilupakan.

Amalan seseorang tidak dapat dikatakan shaleh jika dilakukan tanpa ilmu dan pemahaman, seperti yang dikatakan oleh Umar bin Abd Aziz ra yang dikutip oleh

108Ibnu Taimiyah, Amar ma’ruf Nahi munkar, Wizarah syu’un al-Islamiyah, h.19

Ibnu Taimiyyah: ”Siapa yang mengabdi kepada Allah tanpa

ilmu, maka kerusakannya akan lebih banyak dari pada kebaikannya.109 Maksud pernyataan tersebut adalah bahwa amalan yang dilakukan tanpa ilmu adalah suatu kejahilan dan kesesatan.

Pernyataan tersebut di atas menunjukkan bahwa inilah yang membedakan antara orang jahiliyah dengan orang Islam dalam melakukan sesuatu. Seorang muslim

dapat membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang

munkar, sehingga dalam beramal sesuai dengan perintah dan larangan Allah swt. Seseorang yang hendak beramar

ma’ruf nahi munkar, apalagi yang ingin menyandang gelar

da’i (juru dakwah), maka ia harus mampu menunjukkan

intelektualitasnya dalam melakukan kegiatan tersebut. Karena sangat sulit untuk meyakinkan objek dakwah. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah pemahaman tentang Islam secara komprehensif, serta kemampuan dan kepiawaian dalam menarik simpati sasaran dakwah.

Allah memberikan ketentuan-ketentuan yang berupa perintah dan larangan yang kesemuanya ditetapkan dalam

al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya. Oleh karena itu tidak

diperkenankan lagi bagi siapapun untuk menetapkan suatu kewajiban dan melarang suatu hal tanpa didasarkan kepada kedua sumber hukum tersebut. Seyogyanya orang yang

hendak melaksanakan tugas amar ma’ruf nahy munkar itu,

adalah mereka yang telah mengetahui perintah dan larangan Allah, serta memahami persoalan yang diperintahkan dan yang dilarang secara pasti, sehingga mereka tidak mendahulukan perasaan serta nafsunya sebagai pijakan untuk melarang dan memerintah. Dalam hal ini tidak

diperkenankan menetapkan keputusan perintah terhadap sesuatu jika hanya didasarkan pada pikiran dan praduga semata, kalaupun akan diterapkan harus dititikberatkan pada kemaslahatannya.

Ilmu pengetahuan yang harus dimiliki oleh penegak amar maruf nahi munkar adalah merupakan suatu keharusan, karena tanpa ilmu tidak bisa mengajak seseorang atau mencegah dari hal yang munkar, namun tidak beramar

ma’ruf nahi munkar adalah suatu musibah, namun tidak memiliki ilmunya (mana yang ma’ruf dan mana yang

munkar) sesuai syariat adalah musibah yang lebih besar lagi. Karena boleh jadi ia menyampaikan suatu perkara yang

disangkanya ma’ruf ternyata hakikatnya adalah munkar

sementara ia tidak tahu, sehingga ia bukannya kemaslahatan yang dicapai, namun justru kemurkaan Allah yang didapat. Sebagaimana firman Allah dalam QS.Al-Kahfi (18): 103-104 yang berbunyi:

َمْعَأ َني ِرَسْخَ ْلاِب ْمُكُئِ بَنُن ْلَه ْلُق

ًلاا

﴿

١٠٣

لَض َنيِذ لا﴾

ْحَي ْمُه َو اَيْنُّدلا ِةاَيَحْلا يِف ْمُهُيْعَس

َس

َنوُب

ُه نَأ

َنوُنِسْحُي ْم

﴿ ًاعْنُص

١٠٤

Terjemahnya:

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Ayat di atas mengandung pengertian bahwa segala usaha yang dilakukan, sejatinya mendapatkan

minimal keuntungan duniawi, dan jika disertai dengan keuntungan atau manfaat ukhrawi, tentu lebih baik. Namun jika target duniawi saja tidak dapat diraih terlebih target ukrawi, maka kerugianlah yang akan dialami. Namun selama yang bersangkutan masih sadar akan kekeliruan dan kekurangan yang mengakibatkan kerugian tersebut, maka ini diharapkan masih dapat diperbaiki. Namun jika yang bersangkutan tidak menyadari kerugiannya, bahkan merasa diri telah berbuat sebaik mungkin, atau merasa diri telah beruntung, maka ia bukanlah hanya sekedar merugi tetapi orang yang paling rugi. Bukan manfaat yang diperoleh tapi justru kecelakaan dan kerugian.