• Tidak ada hasil yang ditemukan

Golongan yang Tidak Berhak Menerima Zakat

Dalam dokumen Makalah Zakat - Makalah (Halaman 37-42)

Adapun orang-orang yang tidak berhak menerima zakat secara umum adalah :35 1. Orang kaya

Sesuai dengan tujuan zakat adalah memberi kecukupan bagi fakir dan miskin, maka pemberian zakat terhadap orang kaya akan merusak tujuan zakat itu sendiri. Orang kaya itu tidak boleh diberi dari bagian orang fakir dan orang-orang miskin, berdasarkan Sabda Rasulullah SAW yang artinya:

“Tidak halal sedekah-sedekah bagi orang kaya” dan ucapannya pada Mu’az bin Jabal “Zakat itu diambil dari orang kaya, diantara mereka dan diberikan pada orang fakirnya.”

Bahwa setiap orang seperti anak, istri atau kerabat yang kewajiban nafkahnya dibebankan pada orang kaya, maka diharamkan kepada mereka menerima zakat, karena sesungguhnya mereka itu dianggap cukup dengan nafkah itu, orang kaya itulah yang memberi kecukupan.

35 Qardhawi. Op.cit. hal, 274.

2. Orang yang mampu bekerja

Golongan ini tidak boleh menerima zakat karena dianggap mampu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan tidak boleh menunggu dan mengharapkan zakat atau sedekah.

Apabila orang itu kuat tetapi tidak mempunyai pekerjaan, maka hal ini dapat dikecualikan, dan ia dapat ditolong dari harta zakat yang layak. Dalam hadist dikemukakan adalah :

“Tidak ada bagian dalam zakat buat orang kaya yang mampu bekerja.” 3. Orang yang tidak beragama dan orang kafir yang memerangi Islam

Ini adalah kesepakatan kaum muslimin berdasarkan firman Allah dalm Q.S. 60 ayat 9 yang artinya :

“Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu, karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu untuk mengusir kamu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka merekalah orang-orang yang zalim.”

Tidak mengapa bagi seorang muslim memberi kapada orang yang bukan muslim, sekedar untuk memelihara hubungan kemanusiaan, selama mereka tidak memerangi kaum muslimin.

4. Anak-anak yang mengeluarkan zakat kepada kedua orangtua dan istri Hal ini disimpulkan dari hadist dan ayat al-Qur’an yang artinya :

“Dan dari Abbas, ia berkata : Apabila kerabat itu orang yang tidak engkau tanggung, maka berikanlah mereka itu sebagian dari zakat hartamu, tetapi jika

engkau tanggung mereka, maka janganlah engkau berikan harta zakat itu kepada orang yang menjadi tanggunganmu.”(HR.Astram, dalam sunnahnya).

Dalam al-Qur’an surat 65 ayat 1 yang artinya :

“janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka.” (Q.S. 65 :1). 5. Keluarga Nabi SAW.

Hal ini juga dapat disimpulkan dari hadist dan al-Qur’an yang artinya sebagai berikut :

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dari mereka.”(Q..S.9 ayat 103).

Hadis, artinya :

“Dari Abu Hurairah, ia berkata : Hasan bin Ali pernah mengambil sebutir kurma shadaqah, lalu dimakannya. Kemudian bersabdalah Rasulullah SAW :”Buang, bung, lempar dia, tidakkah engkau tahu, bahwa kita tidak boleh makan barang shadaqah!.”

I. Tata Cara Pembagian Zakat

1. Pembayaran zakat kepada Imam dan pemberian zakat yang dilakukan oleh pemiliknya sendiri.

Dalam firman Allah SWT :

ﺎﮭﯿﻠﻋ نﯿﻠﻤﺎﻌﻠاﻮ

Artinya : pengurus-pengurus zakat

Menunjukan bahwa pengambilan zakat dilakukan oleh imam karena jika pemilik harta kekayaan diperbolehkan mengeluarkan zakatnya sendiri-sendiri,

tidak diperlukan lagi adanya pengurus atau panitia pemungut zakat. Pendapat ini didukung oleh frman-Nya yang lain,

ﺔﻗﺪﺻ ﻢﮭﻠاﻮﻤا نﻤ ذﺨ

Artinya : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka (Q.S.at-Taubah ayat 103) Imam wajib membentuk dan mengutus panitia pemungut zakat karena dahulu Nabi SAW. Dan para khalifah sesudahnya pernah mengutus para pemungut zakat mereka. Disamping itu, ada orang yang memiliki harta kekayan yang tidak mengetahui kewajiban yang dibebankan atas mereka dan ada pula diantara mereka yang bakhil sehingga sangat diperlukan orang yang memungut zakat dari mereka. Tetapi ada pula ayat yang menyebutkan bahwa pemilik harta kekayaan dapat membagikan sendiri zakatnya kepada orang-orang yang berhak menerimanya, yaitu

ﻢﻮﺮﺤﻤﻠاﻮ ﻞﺀﺎﺴﻠﻠ ﻢﻮﻠﻌﻤ ﻖﺤ ﻢﮭﻠاﻮﻤا ﻲﻓ نﯿذﻠاﻮ

Artinya : “Dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak memiliki apa-apa (yang tidak meminta) (Q.S. al-Ma’rij ayat 24-25).

Ayat tersebut menyebutkan bahwa di dalam harta kekayaan seseorang terdapat hak orang-orang miskin yang meminta dan yang tidak mau maminta. Oleh karena itu, pemilik harta kekayaan tersebut diperbolehkan memberikan hak mereka secara langsung.

Berdasarkan ayat-ayat di atas tersebut, para ulama memberikan rincian penjelasan mengenai pembagian zakat :36

a. Jika harta kekayaan hendak dizakati itu tersembunyi dan tidak terlihat, seperti emas, perak, dan barang dagangan yang disimpan di gudang, sang pemilik diperbolehkan membagikan zakatnya sendiri atau membayarkannya sendiri kepada imam.

b. Jika harta kekayaannya kelihatan, seperti binatang ternak, tanaman, buah-buahan. Pembayaran zakatnya melalui Imam, dan jika pemilik harta kekayaan itu mengeluarkan zakatnya sendiri, tindakannya dianggap tidak sah.

2. Membagikan zakat pada semua sasaran

Berdasarkan beberapa pendapat, penegasan, dan pentarjihan para mazhab Fuqaha adalah sebagai berikut :37

a. Mestilah dibagikan kepada semua mustahiq, apabila harta zakat itu banyak dan semua sasaran ada, kebutuhannya sama atau hampir sama.

b. Ketika diperkirakan ada dalam kenyataannya semua mustahik itu , maka wajib tidak wajib mempersamakan antara semua sasaran pemberiannya. c. Diperbolehkan memberikan semua zakat, tertuju pada sebagian sasaran

tertentu saja, untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syara. d. Hendaknya golongan fakir dan miskin adalah sasaran pertama yang harus

menerima zakat, karena memberi kecukupan kepada mereka merupakan tujuan utama dari zakat.

36 AL-Zuhayly. Op. cit, hal 310-311. 37 Qardhawi, op. cit, hal. 670-672.

e. Hendaknya mengambil pendapat mazhab Syafi’I dalam menentukan batas paling tinggi yang diberikan kepada petugas yang menerima zakat dan memebagikan zakat itu, yaitu 1/8 dari hasil zakat.

f. Apabila harta zakat itu sedikit, seperti harta perorangan yang tidak begitu besar, maka dalam keadaan demikian itu diberikan kepada satu sasaran saja.

Dalam dokumen Makalah Zakat - Makalah (Halaman 37-42)

Dokumen terkait