• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Kerangka Teori

2. Good Corporate Governance (GCG)

Menurut Indroes (2011) Tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance / GCG) di industri perbankan dideskripsikan sebagai suatu hubungan antara dewan komisaris, dewan direktur eksekutif, pemangku kepentingan (stakeholder) dan pemegang saham. GCG menciptakan struktur yang membantu bank dalam :

a. Menetapkan tujuan.

b. Mejalankan operasi harian.

c. Mempertimbangkan kepentingan pemangku kepentingan (stakeholder) bank dengan beroperasi secara sehat dan baik.

d. Menyesuaikan dengan hukum dan aturan yang berlaku. e. Memproteksi kepentingan nasabah kreditor.

Good Corporate Governance (GCG) menurut World Bank, merupakan kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan, bagi para pemegang saham maupun masyarakat sekitar secara keseluruhan (Muhammad, 2013).

Praktik tata kelola yang efektif merupakan salah satu prasyarat utama untuk meraih dan menjaga kepercayaan publik serta dalam arti lebih luas, kepercayaan terhadap sistem perbankan. Tata kelola yang buruk dapat meningkatkan kemungkinan kegagalan sebuah bank. Kegagalan bank dapat menimbulkan biaya publik yang signifikan,

mempengaruhi skema jaminan simpanan, dan meningkatkan pengaruh negatif terhadap risiko (Greuning, 2011: 37).

Perbankan dapat mempengaruhi kesejahteraan sebagian besar penduduk dunia. Pengaturan tata kelola perusahaan, bagaimanapun dapat mempengaruhi perkembangan ekonomi. Tata kelola perusahaan yang sehat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung antara lain dalam bentuk efisiensi perbankan, meringankan risiko keuangan, dan meningkatkan stabilitas sistemik. Pemberi pinjaman dan penyedia dana lain lebih mungkin untuk memberikan pembiayaan ketika mereka merasa nyaman dengan pengaturan tata kelola perusahaan yang sehat. Tata kelola perusahaan yang baik juga meningkatkan ketahanan perusahaan dan ketahanan terhadap guncangan eksternal (Greuning, 2011: 38).

Menurut Greuning (2011) elemen-elemen kunci dari kerangka tata kelola perusahaan yang sehat di bank adalah sebagai berikut :

a. Strategi perusahaan yang diartikulasikan dengan baik dapat menjadi standar ukuran keberhasilan secara keseluruhan dan kontribusi individu.

b. Menetapkan dan menegakkan tanggung jawab terhadap kejelasan tugas, wewenang pengambilan keputusan, dan akuntabilitas yang sesuai untuk profil risiko bank terpilih.

c. Fungsi manajemen risiko keuangan yang kuat (terlepas dari lini usahanya), sistem pengendalian internal (termasuk fungsi audit internal dan eksternal) dan desain proses fungsional dengan pemeriksaan checks and balances yang diperlukan.

d. Nilai-nilai perusahaan, kode etik, dan standar perilaku lainnya yang memadai, sesuai dan efektif dalam sistem yang digunakan untuk memastikan pencapaian. Ini mencakup pengawasan khusus terhadap pemaparan risiko bank dimana konflik kepentingan diperkirakan akan muncul (misalnya, hubungan dengan pihak terafiliasi).

e. Insentif keuangan dan manajerial untuk bertindak dengan cara yang sesuai ditawarkan kepada dewan, manajemen dan karyawan, termasuk kompensasi, promosi dan denda penalti (kompensasi harus konsiten dengan tujuan bank, kinerja, dan nilai-nilai etika). f. Transparasi dan arus informasi yang tepat ke dalam dan ke luar.

Corporate Governance juga meliputi ketentuan-ketentuan hukum dan kelaziman-kelaziman yang mempengaruhi arah dan tujuan-tujuan yang menggerakkan perusahaan. Selain itu juga diartikan sebagai proses pemantauan kinerja perusahaan dengan menetapkan langkah-langkah pencegahan yang terkait dengan konsep seperti : transparasi, integrasi dan akuntabilitas. Mekanisme dan pengawasan pada corporate governance disusun untuk mengurangi inefisiensi akibat moral hazard dan adverse selection (Muhammad, 2013).

Berdasarkan pada ketentuan PBI No.8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan Good Corporate Governance bagi bank umum disebutkan beberapa prinsip GCG, yaitu :

1. Transparasi (transparency)

Transparasi diartikan sebagai keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam melaksanakan pengambilan keputusan.

Berdasarkan PBI No.3/22/PBI/2001 pada tanggal 31 Desember 2001 tentang transparasi kondisi keuangan bank yang mensyaratkan bank untuk menyampaikan kepada publik. Tentang pinjaman bermasalah, pemegang saham pengendali, hubungan istimewa dengan pihak terafiliasi, praktik manajemen risiko dalam laporan keuangan bank, baik secara triwulan, semesteran maupun tahunan (Indroes, 2011 : 262).

2. Akuntabilitas (accounttability)

Akuntabilitas yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif.

Dalam akuntabilitas lebih mengacu pada kebutuhan pelaku pasar, termasuk pihak berwenang relevan untuk membenarkan tindakan dan kebijakan serta menerima tanggung jawab atau keputusan maupun hasilnya (Indroes, 2011 : 253).

3. Tanggung jawab (responsibility)

Tanggung jawab yang dimaksud yaitu pada kesesuaian pengelolaan bank dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip pengelolaan bank yang sehat.

4. Independensi (independency)

Pengelolaan bank secara professional tanpa pengaruh tekanan dari pihak tertentu.

5. Kewajaran (fairness)

Keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam menganalisis penerapan kelima prinsip GCG di atas, bank perlu melakukan penilaian secara self assesment. Menurut Tjondro (2011) Self assessment GCG merupakan penilaian terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip GCG, yang berisikan sebelas faktor penilaian pelaksanaan GCG :

1. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris. 2. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi.

3. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas Komite.

4. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah.

5. Pelaksanaan prinsip syariah dalam kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa.

6. Penanganan benturan kepentingan. 7. Penerapan fungsi kepatuhan bank. 8. Penerapan fungsi audit intern. 9. Penerapan fungsi audit ekstern. 10.Batas maksimum penyaluran dana.

11.Transparasi kondisi keuangan dan non keuangan, laporan pelaksanaan GCG dan pelaporan internal.

Dalam pelaporan Self Assesment GCG ada beberapa tahapan sampai pada hasil akhir penilaian komposit serta bagaimana perlakuan terhadap hasil pelaksanaan self assessment GCG bank yang berbeda dengan hasil pemeriksaan/pengawasan Bank Indonesia (Desiana, 2016). Berikut merupakan tahapan pelaporan

self assessment GCG :

1. Menetapkan nilai peringkat per faktor, dengan melakukan analisis self assessment dengan cara membandingkan tujuan dan kriteria yang telah ditetapkan dengan kondisi bank yang sebenarnya.

2. Menetapkan nilai komposit hasil self assessment, dengan cara membobot seluruh faktor, menjumlahkannya dan selanjutnya memberikan predikat kompositnya.

3. Dalam penetapan predikat, perlu diperhatikan batasan berikut : a. Apabila dalam penilaian seluruh faktor terdapat faktor

dengan nilai peringkat 5, maka predikat komposit tertinggi

yang dapat dicapai bank adalah “cukup baik”.

b. Apabila dalam penilaian seluruh faktor terdapat faktor dengan nilai peringkat 4, maka predikat komposit tertinggi

yang dapat dicapai bank adalah “baik”.

4. Apabila hasil pelaksanaan self assessment GCG bank menunjukkan perbedaan yang material yakni mengakibatkan hasil predikat komposit yang berbeda, maka bank wajib menyampaikan revisi hasil pelaksaan self assessment GCG bank tersebut secara lengkap kepada Bank Indonesia.

5. Revisi hasil self assessment pelaksanaan GCG bank tersebut, harus dipublikasikan dalam laporan keuangan publikasi bank pada periode terdekat, meliputi nilai 5 komposit dan predikatnya.

6. Hasil penilaian self assessment GCG sebagaimana yang dimaksud merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan pelaksanaan GCG. Satuan pengukuran dalam self assessment GCG adalah nilai absolut yang sudah ditentukan yang disebut nilai komposit.

Berikut ini merupakan nilai komposit GCG :

Tabel 2. 2

Komposit predikat kualitas penerapan setiap faktor GCG No Nilai Komposit Predikat (Kualitas)

1. < 1,5 Sangat Baik

2. 1,5 sampai dengan 2,4 Baik

3. 2,5 sampai dengan 3,4 Cukup Baik 4. 3,5 sampai dengan 4,4 Buruk

5. 4,5 sampai dengan 5 Sangat Buruk

Sumber: Surat Edaran Bank Indonesia Nomor : 12/13/DPbS Tahun 2010

Menurut Azis (2016) indikator pengukuran GCG adalah sebagai berikut :

1. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial adalah situasi dimana manajer memiliki saham perusahaan dengan kata lain manajer tersebut sekaligus pemegang saham perusahaan. Dalam laporan keuangan, keberadaan ini ditunjukkan dengan besarnya presentase kepemilikan saham perusahaan oleh manajer, karena hal ini merupakan informasi penting bagi pengguna laporan keuangan maka informasi ini akan diungkapkan dalam catatan atas kaporan keuangan.

2. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum,

institusi luar negeri, dana perwalian serta institusi lainnya pada akhir tahun.

3. Komisaris Independen

Komisaris yang bersifat independen memiliki arti bahwa komisaris tersebut diharapkan mampu melaksankan tugas-tugas yang diembannya, baik itu tugas pengawasan dan lainnya dengan independen. Independen sendiri memiliki maksud bahwa tugas tersebut semata-mata untuk kepentingan dari perusahaan dan tidak terkait pengaruh pihak-pihak yang memiliki kepentingan yang bisa jadi berbeda dengan kepentingan perusahaan.

Keberadaan komisaris independen memiliki tujuan untuk mewujudkan objektivitas, independen, fair-ness, serta dapat memberikan keseimbangan antara perlindungan terhadap kepentingan pemegang saham minoritas, bahkan sampai pada kepentingan stakeholder lainnya. Komisaris independen memiliki peran dan fungsi yang sangat penting sebagai motor penggerak good corporate governance.

Dengan adanya komisaris independen, semua pihak yang berkepentingan (stakeholder) akan memndapatkan manfaat yang sangat besar dimana akan terbentuk situasi yang suitable

meningkatkan kemampuan dan kapabilitas komisaris sehingga efektif dalam kerja mereka.

4. Komite Audit

Komite audit adalah yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Selain itu, komite audit dianggap sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris dengan pihak manajemen guna mengatasi masalah pengendalian ataupun kemungkinan timbulnya agensi.

Dari berbagai unsur Corporate Governance yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini akan terfokus pada Dewan Komisaris Independen. Dewan Komisaris Independen menurut Undang-Undang N0.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dewan komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi. Dewan komisaris bertugas untuk mengawasi jalannya perusahaan berdasarkan prinsip-prinsip GCG. Selain itu, dewan komisaris memiliki kewajiban untuk mengawasi kinerja dewan direksi dan mengawasi pelaksanaan kebijakan dewan direksi.

Dalam peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 disebutkan bahwa jumlah anggota dewan komisaris minimal 3 orang atau paling banyak sama dengan jumlah dewan direksi.

Dewan komisaris terdiri dari komisaris dan komisaris independen. Minimal 50% dari jumlah anggota komisaris adalah komisaris independen.

Dewan komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan perseroan. Dewan komisaris independen berperan sebagai penyeimbang dalam pengambilan keputusan dewan komisaris (Aprianingsih, 2016).

Dokumen terkait