• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. TEORI DAN KONSEP 1. Good Governance

2. Good Corporate Governance

a. Pengertian Good Corporate Governance

Menurut (Mangkusuryo & Jati, 2017) Istilah Corporate Governance pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee dalam laporannya yang dikenal sebagai Cadbury Report. Terdapat banyak definisi terkait dengan Corporate Governance. Corporate Governance didefinisikan dengan luas sesuai dengan kepentingan institusi, penulis, Negara, dan tradisi yang menggunakan istilah tersebut. IFC mendefinisikan Corporate Governance sebagai sebuah struktur dan proses dalam menentukan arah dan pengawasan terhadap perusahaan.

Good corporate governonce adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha. Sedangkan

Good Corporate Governance yang baik merupakan dasar dari proses dan mekanisme manajemen perusahaan berdasarkan hukum, peraturan dan etika bisnis, sedangkan Good Corprate Governance yang baik Menurut Adrian (Novrianti & Armas, 2012) sistem dapat mengatur dan mengendalikan perusahaan serta menciptakan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan. Dua hal yang ditekankan dalam konsep ini, pertama, pentingnya hak pemegang saham (benar) untuk memperoleh informasi secara benar dan hak memperoleh informasi secara tepat waktu, dan kedua, perusahaan berkewajiban untuk mengungkapkan seluruh informasi tentang kinerja perusahaan dalam suatu akurat, tepat waktu dan transparan kepemilikan dan stakeholder.

Melalui praktik GCG, dengan senantiasa memusatkan perhatian pada tujuan perusahaan dan memperhatikan kepentingan stakeholders secara seimbang diharapkan pengelolaan sumber daya perusahaan menjadi efisien, efektif, ekonomis dan efisien. (Pedoman GCG PLN). Dari berbagai definisi yang ditemukan, menurut Respati dan Yusniar (Novrianti & Armas, 2012) definisi GCG adalah menyimpulkan bahwa tata kelola perusahaan adalah: 1) struktur model hubungan harmonis komite regulator, direksi, RUPS dan pemangku kepentingan lainnya; 2) sistem check and balances meliputi pembatasan keseimbangan kekuasaan pada Pengendalian perusahaan Hal ini

dapat membatasi munculnya dua peluang: salah urus dan penyalahgunaan aset perusahaan, dan 3) proses yang transparan untuk menentukan tujuan perusahaan, pencapaian dan pengukuran kinerjanya.

Menurut (Siti Maryam, 2017) Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 mengatur tentang pengertian good governance yaitu pengembangan dan pelaksanaan profesionalisme, akuntabilitas, transparansi, kualitas pelayanan, demokrasi, efisiensi, efektivitas, asas supremasi hukum dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat.

Ada tiga hal pokok yang penting untuk menciptakan good corporate governance yaitu :

a) Pemberantasan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) b) Disiplin anggaran dan penghapusan dana nonbudgeter,serta c) Peningkatan fungsi pengawasan.

Good Corporate Governance yang baik mengacu pada sistem dan metode bagaimana suatu perusahaan dibimbing, diatur atau dikendalikan. Menurut (Wibowo, 2012) Good Corporate Governance adalah suatu konsep yang dapat meyakinkan investor bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan yang kaya dari dana investasinya, sehingga tata kelola perusahaan diharapkan dapat mengurangi biaya konflik antara manajemen perusahaan dan investor, sehingga mengurangi terjadinya biaya keagenan. Karena konflik.

Pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik, atau dikenal dengan Good Corporate Governance (GCG) adalah salah satu pilar sistem ekonomi pasar.

GCG mendorong terciptanya persaingan yang sehat dan lingkungan usaha

yang kondusif dan produktif, sehingga hal ini penting untuk mendukung pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.

Good Corporate Governance yang baik mengacu pada sistem dan metode bagaimana suatu perusahaan dibimbing, diatur atau dikendalikan.

Good Corporate Governance adalah suatu konsep yang dapat meyakinkan investor bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan yang kaya dari dana investasinya, sehingga Good Corporate Goernance diharapkan dapat mengurangi biaya konflik antara manajemen perusahaan dan investor, sehingga mengurangi terjadinya biaya keagenan. Penerapan Good Corporate Governance memberikan empat manfaat yaitu: meningkatkan kinerja perusahaan, mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih mudah, mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, dan meningkatkan stakholder’s value

Dari beberapa penjelasan defenisi diatas sehingga bisa di tarik kesimpulan Good Corporate Governance adalah pengatur dan pengendali perusahaan dalam menjalankan dan pengatur pola asset perusahaan serta penentu tujuan.

b. Penerapan Prinsip –Prinsip Good Corporate Governance 1. Prinsip –Prinsip Good Corporate Governance

Salah satu komponen terpenting dalam Good Corporate Governance yang baik di bank adalah bahwa manajemen bank di semua tingkatan mendukung penuh minimal pegawai untuk melaksanakan ketentuan tersebut, (Ferdyant, 2014) Oleh karena itu, seluruh karyawan harus berpegang

pada prinsip keterbukaan (transparency) dan memiliki indikator pengukuran kinerja di semua tingkatan bank berdasarkan standar pengukuran yang sesuai dengan nilai perusahaan, tujuan bisnis dan strategi bank untuk mencerminkan sistem akuntabilitas (accountability) bank agar sesuai dengan prinsip perusahaan yang baik pemerintahan dan menjamin terlaksananya ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank (responsibility), objektik dan bebas dari tekanan dari pihak manapun dalam pengambilan keputusan (indenpendency), serta senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (fairness) atau biasa disingkat TARIF.

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) (Kelvianto, 2018) ada lima prinsip dasar good corporate governance, yaitu:

1) Transparansi (Transparency), untuk menjaga objektivitas operasional bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi penting yang mudah diakses dan dipahami oleh stakeholders. Perusahaan harus secara proaktif mengungkapkan tidak hanya masalah yang diwajibkan oleh hukum dan peraturan, tetapi juga hal-hal yang penting untuk pengambilan keputusan pemegang saham, kreditor dan pemangku kepentingan lainnya.

2) Akuntabilitas (Accountability), Perusahaan harus dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya secara transparan dan adil. Oleh karena itu, kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya harus menjadi pertimbangan, dan perusahaan harus dikelola dengan baik untuk

mengukur dan menyesuaikan dengan kepentingan perusahaan.

Akuntabilitas merupakan prasyarat untuk mencapai kinerja yang berkelanjutan.

3) Responsibilitas (Responsibility), Perusahaan harus menaati peraturan perundang-undangan dan bertanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat menjaga kelangsungan bisnis dalam jangka waktu yang lama dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizine

4) Independensi (Independency), Dalam rangka memenuhi prinsip GCG, perusahaan harus dikelola secara independen agar setiap bagian dalam perusahaan tidak saling didominasi dan tidak dapat diganggu oleh pihak lain.

5) Kewajaran dan kesetaraan (fairness), Dalam menjalankan aktivitas, perusahaan harus selalu berpijak pada prinsip kewajaran dan kesetaraan serta memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya.

Pelaksaan prinsip Good Corporate Governance dimaksudkan untuk mencapai beberapa hal berikut :

a. Dengan meningkatkan prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, kewajaran dan independensi, kami memaksimalkan nilai perusahaan kepada pemegang saham, sehingga perusahaan memiliki daya saing yang kuat baik di dalam negeri maupun di luar negeri, serta menciptakan suasana investasi yang baik.

b. Mendorong pengelolaan perusahaan yang profesional, transparan, dan efektif, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan independensi direksi, direksi, dan rapat umum pemegang saham.

c. Mendorong agar pemegang saham, anggota dewan pengawas dan anggota direksi berdasarkan nilai-nilai etika yang luhur dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta memahami tanggung jawab sosial perusahaan kepada pemangku kepentingan, mengambil keputusan dan mengambil tindakan, serta kelestarian lingkungan. lingkungan perusahaan.

Konsep GCG (Njatrijani et al., 2019) adalah pekerjaan perbaikan terhadap sistem, proses dan seperangkat peraturan perundang-undangan dalam pengelolaan suatu organisasi. Organisasi pada dasarnya mengatur dan memperjelas hubungan, wewenang, hak dan kewajiban seluruh pemangku kepentingan, terutama organ organisasi. . Dalam arti sempit, rapat umum pemegang saham (RUPS), dewan pengawas dan dewan direksi. Betapapun baiknya sistem hukum dan dokumen yang ada, pada akhirnya pemicu utamanya adalah kualitas dan tingkat kesadaran moral dan spiritual pelaku usaha itu sendiri.

c. Tahap –Tahap Penerapan Good Corporate Governance

Dalam pelaksanaan penerapan GCG di perusahaan adalah penting bagi perusahaan untuk melakukan pentahanan yang cermat berdasarkan analisis atas situasi dan kondisi perusahaan, dan tingkat kesiapannya,

sehingga penerapan GCG dapat berjalan lancar dan mendapatkan dukungan dari seluruh unsur di dalam perusahaan (Dewi, 2017)

Pada umumnya perusahaan-perusahaan yang telah berhasil dalam menerapkan GCG menggunakan pentahapan berikut :

a. Tahap Persiapan. Dalam tahap pertama ini ada 3 langkah utamanya yaitu:

1. Awareness Buinding (Peningkatan kesadaran) merupakan langkah awal dalam membangun pemahaman tentang GCG dan membuat komitmen bersama dalam proses implementasi. Ini dapat dilakukan dengan mencari bantuan ahli independen di luar perusahaan. Kegiatan dapat dilakukan melalui seminar, workshop dan diskusi kelompok.

2. GCG diagnostic assessment (Tahap evaluasi) atau pemetaan diagnostik GCG merupakan upaya untuk mengukur atau lebih akuratnya memetakan situasi perusahaan dalam menentukan GCG saat ini. Penilaian GCG diperlukan untuk menentukan aspek mana yang perlu diperhatikan terlebih dahulu dan langkah apa yang dapat diambil untuk mencapainya.

3. Setelah evaluasi GCG, konstruksi manual GCG akan dilakukan.

Penyusunan manual dapat dilakukan dengan bantuan tenaga ahli independen di luar perusahaan.

a. Tahapan implementasi

Dalam tahap ini jga memiliki 3 langkah awal setelah tahap persiapan, yaitu:

1) Sosialisasi, Upaya sosialisasi perlu dilakukan dengan suatu tim khusus yang dibentuk untuk itu, langsung berada dibawah pengawasan direktur utama atau salah satu direktur yang ditunjuk sebagai GCG champion di perusahaan.

2) Implementasi, yaitu kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan pedoman GCG yang ada sesuai roadmap yang telah ditetapkan.

Penerapannya harus dengan pendekatan top-down, yang melibatkan dewan direksi dan direksi perusahaan.

3) Internalisasi, yaitu tahap implementasi jangka panjang, internalisasi meliputi upaya pengenalan GCG dalam semua proses bisnis perusahaan dan berbagai peraturan perusahaan.

b. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi adalah tahap yang perlu dilakukan secara teratur dari waktu ke waktu untuk mengukur sejauh mana efektifitas

penerapan GCG telah dilakukan dengan meminta pihak independen melakukan audit implementasi dan scoring atas praktik GCG yang ada.

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa tahap dalam penerapan prinsip-prinsip good corporate governance terbagai atas 3 tahap yaitu tahap persiapan, tahap implementasi dan tahap evaluasi yang masing-masing memiliki fungsi pendukungnya dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut.

Penerapan Prinsip-prinsip Good Coorporate Governance

Dokumen terkait