TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Literatur
3. Good Corporate Governance
Tata Kelola Perusahaan (corporate governance) adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas.
Tata kelola perusahaan adalah suatu subjek yang memiliki banyak aspek. Salah satu topik utama dalam tata kelola perusahaan adalah menyangkut masalah akuntabilitas dan tanggung jawab mandat, khususnya implementasi pedoman dan mekanisme untuk memastikan
23 perilaku yang baik dan melindungi kepentingan pemegang saham. Fokus utama lain adalah efisiensi ekonomi yang menyatakan bahwa sistem tata kelola perusahaan harus ditujukan untuk mengoptimalisasi hasil ekonomi, dengan penekanan kuat pada kesejahteraan para pemegang saham. Ada pula sisi lain yang merupakan subjek dari tata kelola perusahaan, seperti sudut pandang pemangku kepentingan, yang menuntut perhatian dan akuntabilitas lebih terhadap pihak-pihak lain selain pemegang saham, misalnya karyawan atau lingkungan.
Perhatian terhadap praktik tata kelola perusahaan di perusahaan modern telah meningkat akhir-akhir ini, terutama sejak keruntuhan perusahaan-perusahaan besar AS seperti Enron Corporation dan Worldcom. Di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap masalah ini diwujudkan dengan didirikannya Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada akhir tahun 2004.
Pengertian good governance dapat diartikan sebagai cara mengelola urusanurusan publik. Good governance dapat tercapai apabila beberapa hal dibawah ini dipedomani dalam pengelolaan APBD. Selanjutnya Mardiasmo (1999, 2006) mengemukakan elemen manajemen keuangan daerah yang diperlukan untuk mengontrol kebijakan keuangan daerah tersebut meliputi, akuntabil itas, value for money, kejujuran, transparansi dan pengawasan.
Konsep Good Governance, Good Financial Governance merupakan konsep baru yang di adopsi dari luar diperkenalkan di
24 Indonesia oleh lembaga-lembaga donor World Bank, Asian Developmen Bank (ADB) dan United Nation Developmen Program (UNDP). Good Governance sebagai suatu kesuksesan pemerintah dalam mengelola keuangan untuk pelayanan umum yang baik. World Bank dalam Maryono, Warella, Kismartini (2007) mengusung tiga indikator yang perlu diperhatikan dalam good governance yaitu: (1) bentuk rejim politik, (2) proses dimana kekuasaan digunakan dalam manajemen-manajemen sumber daya sosial dan ekonomi bagi kepentingan pembangunan, (3) kemampuan pemerintah untuk mendesain, mempormulasikan, melaksanakan kebijakan, dan melaksanakan fungsi-fungsinya.
Asian Development Bank (ADB) mengartikulasikan empat elemen penting dari good governance yaitu: (1) akuntabilitas, (2) partisipasi, (3) terprediksi, (4) transparansi. UNDP menyebutkan enam indikator kesuksesan good governance yaitu: (1) mengikut sertakan semua, (2) transparan dan bertanggung jawab, (3) efektif dan adil (4) menjamin adanya supremasi hukum, (5) menjamin bahwa priortas-prioritas politik, sosial ekonomi didasarkan pada konsensus masyarakat, (6) memperhatikan kepentingan mereka yang paling miskin dan lemah dalam proses pengambilan keputusan menyangkut alokasi sumber daya pembangunan. Saragih (2003) dalam Maryono, Warella, Kismartini (2007) mengatakan terdapat lima prinsip dasar dalam mengelola
25 keuangan publik yaitu : (1) transparansi, (2) efisisen, (3) efektif, (4) akuntabilitas, (5) partisipasi.
World Bank dalam Mardiasmo (2002) menetapkan prinsip-prinsip pokok dalam penganggaran dan manajemen keuangan daerah antara lain : (1) Komprehensip dan displin, (2) fleksibilitas, (3) terperediksi, (4) kejujuran (5) informasi, (6) Transparansi dan akuntabilitas. ADB memberikan indikator ataupun prinsip-prinsip good financial governance yaitu : (1) transparansi of financial reporting, (2) Reliability of financial reporting, (3) accounting and auditing standards, (4) strength of the accounting and auditing profesinal, (5) legal and regulatory framework. Karakteristik Good Governace menurut UNDP dalam Mardiasmo (2002) (1) participation, (2) rule of law, (3) trans parency, (4) responsiveness, (5) consensus orientation, (6) equity, (7) efficiency and effectiveness, (8) Accountability, (9) strategic vision. Dari berbagai elemen manajemen keuangan daerah dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas, transparansi, pengawasan dan akuntansi diperlukan untuk mengontrol kebjikan keuangan daerah tersebut. Pencapaian good governance, good financial governance juga tidak terlepas dari hal tersebut diatas.
Komponen mekanisme Corporate Governance yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Komite Audit, dan Komisaris Independen. Komponen ini digunakan untuk mengurangi konflik keagenan.
26 a. Komite Audit
Keberadaan komite audit diatur melalui Surat Edaran Bapepam Nomor Kep-29/PM/2004 (bagi perusahaan public) dan Keputusan Mentri BUMN Nomor KEP-103/MBU/2002 (bagi BUMN). Komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam rangka membantu melaksanakan tugas dan fungsinya. Komite audit terdiri dari sekurang-kurangnya satu orang Komisaris Independen dan sekurang-kurangnya dua orang anggota lainnya berasal dari luar emiten atau perusahaan publik. Anggota komite audit berasal dari kalangan luar dan berbagai keahlian, pengalaman dan kualitas lainnya yang dibutuhkan guna mencapai tujuan komite audit. Komite audit harus bebas dari pengaruh direksi dan eksternal auditor dan harus bertanggung jawab kepada dewan komisaris (Surya dan Yustiavanana, 2008).
Menurut Surya dan Yustiavanana (2008) pada umumnya komite audit mempunyai tanggung jawab pada tiga bidang yaitu :
1. Laporan Keuangan
Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan bahwa laporan yang dibuat manajemen telah memberikan gambaran yang sebenarnya tentang kondisi keuangannya, hasil usaha, rencana dan komitmen perusahaan dalam jangka panjang.
27 2. Tata kelola perusahaan
Komite audit bertanggung jawab untuk memastikan apakah perusahaan telah dijalankan sesuai undang-undang dan peraturan yang berlaku. Komite audit mengawasi secara efektif terhadap benturan kepentingan dan kecurangan yang dilakukan oleh karyawan perusahaan.
3. Pengawasan perusahaan
Komite audit bertanggung jawab untuk mengawasi perusahaan yang berpotensi mengandung resiko dan system pengendalian intern serta memonitor proses pengawasan yang dilakukan oleh auditor internal.
Komite audit mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam hal memelihara kredibilitas proses penyusunan laporan keuangan seperti halnya menjaga terciptanya sistem pengawasan perusahaan yang memadai serta dilaksanakannya good corporate governance. Hal ini dikarenakan komite audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas laporan keuangan.(Bradbury et al 2005).
Tugas komite audit meliputi penelaahan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, penilaian pengendalian internal, dan penelaahan sistem pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan (Suaryana,2005).
Dengan berjalannya fungsi komite audit secara efektif, maka control terhadap perusahaan akan lebi baik, sehingga keagenan yang
28 terjadi akibat keinginan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraannya sendiri dapat diminimalisasi. Keberadaan komite audit independen yang memiliki keahlian dibidang akuntansi dan keuangan merupakan sinyal persepsi kredibilitas dan kualitas laba perusahaan yang lebih baik (Suaryana, 2005).
b. Komisaris Independen
Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya, dann pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance, 2006).
Menurut Surya dan Yustiviana, 2008 keberadaan komisaris independen berhubungan dengan ketentuan penyelenggara tata kelola peruahaan yang baik yaitu jumlah komisaris independen adalah sekurang-kurangnya 30% dari seluruh jumlah anggota komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris serta mengidentifikasi hal hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris yang mencakup:
1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan.
29 3. Melakukan penelaahan atas kecukupan pemeriksaan yang dilakukan akuntan publik untuk memastikan semua resiko yang perlu dipertimbangkan.
4. Melakukan penelaahan atas efektifitas pengendalian internal perusahaan.
5. Menelaah tingkat kepatuhan perusahaan.
6. Komisaris independen wajib juga menyampaikan peristiwa atau kejadian penting yang diketahuinya kepada dewan komisaris perusahaan yang tercatat.
Dewan komisaris mempunyai peranan penting dalam implementasi good corporate governance oleh karena itu diperlukan komisaris independen yang integritas tidak cacat hukum, tidak memiliki hubungan kontrak bisnis dengan pemegang saham baik secara langsung maupun tidak langsung. Komisaris diusulkan dan dipilih oleh pemegang saham minoritas yang bukan merupakan pemegang saham pengendali dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Komisaris diharapkan mampu meningkatkan peran dewan komisaris yang bertugas menjalankan fungsi pengawasan (monitoring) sehingga dapat mempengaruhi pihak manajemen dalam pembuatan laporan keuangan agar memiliki laporan laba yang berkualitas (Boediono, 2005)
30 4. Kualitas Laba
Informasi keuangan yang berkualitas merupakan informasi penting dalam pengambilan keputusan ekonomi atau investasi yang dapat mempengaruhi keputusan bagi pihak-pihak berkepentingan. Dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan Ikatan Akuntansi Indonesia (2012) dinyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan keuangan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Agar bermanfaat laporan keuangan perlu memiliki karakteristik sebagai laporan keuangan berkualitas.
Melakukan analisis terhadap laba tidak hanya dapat dilakukan dengan hanya sekedar melihat angka dari laba yang dilaporkan. Proses pelaporan angka tersebut merupakan proses yang panjang, melibatkan berbagai metode, asumsi dan estimasi dalam sebuah pemisahan batas (cut-off) periode akuntansi yang lazim disebut dengan tahun takwim (financial year).
Menurut White, Sondhi dan Fried (1998, 956), Indikator Kualitas Laba yang baik adalah:
1. Pengakuan pendapatan dengan metode yang konservatif.
2. Menggunakan metode persediaan LIFO (jika diasumsikan harga-harga mengalami peningkatan).
31 3. Cadangan Piutang Tak Tertagih (Bad Debts) relatif tinggi
terhadap piutang dan kerugian kredit dimasa lalu.
4. Menggunakan metode penyusutan dipercepat (accelerated methods) dan umur yang singkat.
5. Penghapusan yang cepat terhadap Goodwill dan Aktiva tidak berwujud lainnya.
6. Kapitalisasi yang minimal terhadap bunga dan biaya overhead.(Wajib dihapuskan konsep bunga)
7. Kapitalisasi yang minimal terhadap biaya piranti lunak komputer (Computer Shofware)
8. Membebankan langsung biaya awal (start-up costs) untuk operasi-operasi baru.
9. Menggunakan metode kontrak penuh (completed contract method) dalam akuntansi pekerjaan dalam jangka panjang. 10.Menggunakan asumsi-asumsi yang konservatif dalam rencana
manfaat untuk karyawan (employee benefit plans)
11.Menyediakan provisi yang memadai terhadap tuntutan hukum dan kerugian kontijensi (Contingency Losses).
12.Meminimalkan penggunaan tehnik-tehnik pembiayaan off- balance sheet.
13.Tidak memperhitungkan keuntungan yang tidak berulang (non- recurring gains).
32 14.Tidak memperhitungkan laba yang bukan kas (non-cash
earenings).
15.Pengungkapan (disclosure) yang jelas dan memadai.
Kualitas Laba tidak mempunyai ukuran yang mutlak, maka penilaian kualitas laba yang dapat dilakukan sesuai Hawkins (1998, 178) adalah:
1. Mengukur dengan menggunakan skala, baik atau tinggi dan buruk atau rendah, yang perlu diingat bahwa seberapa baik dan seberapa buruk adalah hal yang sulit dilakukan, apalagi jika harus dikuantifikasi dalam angka-angka.
2. Perubahan kualitas laba dari waktu ke waktu,lebih baik atau lebih buruk, dimana juga perlu diingat bahwa seberapa banyak menjadi lebih baik atau buruk tidak dapat ditentukan dengan pasti.
33 B. Table 2.1 Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan 1 Hafiza Aishah Hasyim (2007) Corporate Governance, Ownership Structure and Earning Quality: Malaysian Evidence Regresi Berganda, variable corporate governance, and earning quality Variable ownership structure
Studi ini menemukan hubungan yang signifikan positif antara proporsi anggota keluarga dan pendapatan kualitas yang menunjukkan bahwa kepemilikan saham terkonsentrasi dalam kepemilikan keluarga memiliki insentif untuk mengurangi biaya agensi melalui penyelarasan yang lebih baik dari pemegang saham dan kepentingan manajerial. Penelitian ini menemukan bukti signifikan positif pada hubungan antara kepemilikan institusional dan kualitas laba . Kepemilikan saham terkonsentrasi oleh investor institusi memberikan insentif untuk memantau rajin karena mereka memiliki sumber daya , keahlian dan insentif kuat untuk secara aktif memantau tindakan manajemen dan meningkatkan laba yang dilaporkan keuangan.
34 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
2 Putu Tuwentina dan Dewa Gede Wirama (2014)
Pengaruh Konservatisme
Akuntansi dan Good Corporate Governance pada Kualitas Laba Analisis regresi berganda, variable independen: variable konservatisme akuntansi, good corporate governance variable dependen: Kualitas Laba
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konservatisme akuntansi berpengaruh positif pada kualitas laba. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan konservatisme akuntansi berpengaruh positif pada kualitas laba. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan konservatisme akuntansi mendapatkan respon yang positif dari investor berdasarkan laba yang disajikan. Variable lain yaitu good corporate governance tidak berpengaruh pada kualitas laba.
35 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan 3 Salami Suleiman (2014) Corporate Governance Mechanisms and accounting Conservatisme Regresi berganda variable corporate governance and variable accounting conservatism
Penelitian ini menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan dan pengaruh positif yang signifikan dari direktur independen di atas pelaporan konservatif.
36 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan 4 Robertus M Bambang Gunawan, Effendie, Djoni Budiarjo (2014) The Influence of Good Corporate Governance, Ownership
Structure and Bank Size to the Bank Performance and Company Value in Banking Industry in Indonesia Variable good corporate governance, Variable ownership
structure and bank size to the bank performance, and company value
Hasil penelitian ini menunjukkan gcg memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja bank , struktur kepemilikan tidak ada efek positif pada kinerja bank , ukuran Bank memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja bank , tata kelola perusahaan yang baik memiliki
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan , struktur kepemilikan memiliki efek signifikan terhadap nilai perusahaan , ukuran Bank memiliki efek signifikan terhadap nilai perusahaan , dan kinerja bank memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai perusahaan .
37 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan 5 *Kyong Soo Choi, Keimyung University, South Korea *Se Joong Lee, Ph.D student, The University of Hong Kong, Hong Kong *Soo Yeon Park, Korea University, South Korea *Yong Keun Yoo, Korea University, South Korea (2015) Accounting Conservatism, Changes In Real Investment, And Analysts’ Earnings Forecasts Regresi berganda Variable accounting conservatisme Variable change in real investmen and analysts’ earning forecast, sell side analist
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sell- side
analis tidak mengakui sepenuhnya efek patungan antara konservatisme akuntansi dan kegiatan nyata
pada kualitas laba dan bahwa mereka perlu mengurangi bias untuk meningkatkan efisiensi pasar dengan menyediakan investor dengan tolok ukur yang baik untuk harapan pendapatan mereka
38 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan 6 Pedi Riswandi (2013) Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Proporsi Komisaris Independen terhadap Kualitas Laba. Regresi berganda, Variable kepemilikan manajerial, komisaris independen dan kualitas laba
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepemilikan
manajerial berpengaruh negatif terhadap kualitas laba,proporsi komisaris dependen
berpengaruh positif terhadap kualitas laba
39 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan 7 Erna Hadian Ningsih (2013) Pengaruh Tenure Kantor Akuntan Publik, Mekanisme GCG terhadap Kualitas Laba Regresi Berganda, Variable GCG dan Kualitas Laba Pengaruh Tenur Akuntan Publik
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kualitas Laba dipengaruhi secara signifikan oleh tenur kantor akuntan public dan dewan komisaris independen sedangkan komite audit, kepemilikan konstitusional, dan kepemilikan manajerial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas laba
40 Table 2.1 (lanjutan)
No Peneliti Judul Metode Penelitian Hasil Penelitian
Persamaan Perbedaan
8 Soleh Agus (2012)
Pengaruh Peran Komite Audit dan Pertumbuhan Investasi terhadap Kualitas Laba Regresi berganda, Variable dependen Kualitas laba Peran komite Audit
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran komite audit dan pertumbuhan investasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas laba baik secara parsial maupun simultan.
41 A. Kerangka Pemikiran
Kerangka penelitian pemikiran pada penelitian ini yaitu menganalisis apakah ada hubungan antara Konservatisme Akuntansi, Good Corporate Governance dan kepemilikan manajerial terhadap kualitas laba. Yang mana digambarkan pada bagan berikut:
Gambar 2.1 Skema Kerangka Pemikiran
Bersambung ke halaman berikutnya
Adanya skandal keuangan mengenai kualitas Laba
Faktor penyebab terjadinya Skandal Laporan Keuangan mengenai Kualitas Laba
42 Gambar 2.2: Skema Kerangka Pemikiran (lanjutan)
Konservatisme Akuntansi (X1)
Good Corporate Governance Dengan perspektif Komite Audit (X2) dan Komite Audit (X3) Komisaris Independen
Kualitas Laba (Y)
Metode Analisis: Analisis Regresi
Kesimpulan, Implikasi, dan Saran Hasil Pengujian dan Pembahasan
43 B. Keterkaitan Antara Variable dan Perumusan Hipotesa
1. Konservatisme Akuntansi
Konservatisme akuntansi adalah konsep yang mengakui beban dan kewajiban sesegera mungkin meskipun ada ketidakpastian tentang hasilnya, namun hanya mengakui pendapatan dan aset ketika sudah yakin akan diterima. Berdasarkan prinsip konservatisme, jika ada ketidakpastian tentang kerugian, Anda harus cenderung mencatat kerugian. Sebaliknya, jika ada ketidakpastian tentang keuntungan, Anda tidak harus mencatat keuntungan. Dengan demikian, laporan keuntungan cenderung menghasilkan jumlah keuntungan dan nilai aset yang lebih rendah demi untuk berjaga-jaga. Dari penelitian sebelumnya yaitu penelitian Putu Tuwentina dan Dewa Gede Wirama (2014) yang dalam hasil penelitiannya mengatakan bahwa konservatisme akuntansi berpengaruh positif pada kualitas laba. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan konservatisme akuntansi mendapatkan respon yang positif dari investor berdasarkan laba yang disajikan. Maka penulis menyimpulkan hipotesis dari penelitian ini untuk prinsip konservatisme adalah:
H1: Prinsip konservatisme berpengaruh positif terhadap kualitas laba
44 2. Good Corporate Governance
Tata kelola perusahaan yang baik tentunya akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan maupun dalam segi laporan keuangan yang disajikan tentu akan baik dan laba yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut juga akan tersaji sebagaimana adanya dengan arti lain laba yang berkualitas. Proporsi good corporate governance yang digunakan dalam penelitian ini yaitu proporsi komite audit dan komisaris independen Berdasarkan penelitian sebelumnya Pedi Riswandi (2013) good corporate governance berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas laba. Yang mana peran komite audit dan komisaris independen itu sangat penting bagi suatu perusahaan. Jadi dalam penelitian ini penulis menyimpulkan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance berpengaruh secara signifikan terhadap penyajian kualitas laba yang terkandung dalam laporan keuangan.
a. Komite Audit
Menurut Soleh Agus (2012) peran komite audit berpengaruh signifikan terhadap terhadap kualitas laba baik secara parsial maupun simultan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh soleh agus tersebut maka hipotesis untuk penelitian ini yaitu:
45 H2: Komite Audit berpengaruh secara signifikan terhadap Kualitas Laba
b. Komisaris Independen
Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya, dann pemegang saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata untuk kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance, 2006).
Berdasarkan penelitian Pedi Riswandi (2013) hasil penelitiannya menunjukkan bahwa komisaris independen berpengaruh positif terhadap kualitas laba. Maka hipotesis untuk komisaris independen pada penelitian ini yaitu:
H3: Komisaris Independen berpengaruh secara positif terhadap Kualitas Laba
46 BAB III
Metodologi Penelitian A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara variabel independen yaitu konservatisme akuntansi, good corporate governance, dengan variabel dependen yaitu kualitas laba. Objek dari penelitian ini adalah annual report dan laporan audit perusahaan Real Estate dan property yang terdaftar di bursa efek Indonesia (BEI) periode 2010-2014