TINJAUAN PUSTAKA
B. Good Corporate Governance
Topik Gorporate governance bukanlah suatu topik yang baru, banyak penelitian yang mengapus tentang tropik ini, telah dilakukan sejak tahun sejak tahun 1940an. Coases (1973), dan banyak penelitian lagi, telah menunjukan interaksi antara hak kepemilikan dengan peraturan institusi dalam membentuk perilaku ekonomi. La Porta et al (1999) merupakan orang-orang pertama yang menyoroti masalah corporategovernance secara khusus. La Porta et al (1999) menekankan pentingnya penegakan hukum
23
atas pengelolahan sebuah perusahaan, pengembangan pasar dan pertumbuhan ekonomi (Thomas Kaihatu, 2006:4).
Kata “Governance” berasal dari bahasa perancis “Gubernance” yang berarti pengendalian. Selanjutnya kata tersebut di pergunakan dalam konteks kegiatan perusahaan atau jenis organisasi yang lain. Dalam bahasa Indonesia ini sering diterjemahkan secara harfiah sebagai tata kelola atau tata pemerintahan perusahaan.
Sedangkan forum corporate governance in Indonesia (FCGI) Mendefinisikan sebagai perangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta pemegang saham, kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan.
Menurut sulistyanto (2003), mendefinisikan Good Corporate Governance dalam jurnal ekonomi bisnis adalah konsep yang menekankan pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi yang benar, akurat dan tepat waktu serta kewajiban perusahaan untuk mengungkapkan secara akurat, tepat waktu dan transparan mengenai semua informasi kinerja perusahaan, kepemilikan dan stakeholder.
24
Good Corporate Governance terdiri dari sekumpulan perangkat hukum yang menjelaskan hubungan antara pemegang saham, manajer kreditor, pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan.
Menurut wikipedia (2007: 4), mendefinisikan corporate governance adalah :
Corporate governance is used to monitor whether outcomes are in accordance whit plans and to motivate the organization to before funn informed in order to maintain or alter organization activity, Corporate governance is the mechanism by which individuals are mitivate to aligh
behaviors whit the overall perticipants”.
O’D enovan mengartikan corporte governance yang kutip oleh
wikipedia (2007:4) sebagai berikut :
“An internal system encompassing and other stakeholders, by directing and ontroling managment activities whit good business savy, objectivity and integrity sound corporate governance is reliant on eksternal market place comitmentand legislation, plus a healty board culture which safeguards policies and prosses”.
untuk menciptakan kesamaan akan penerapan good corporate governance di Indonesia selaku bank sentral pemerintah telah menetapkan sejumlah aturan-aturan mengenai pelaksanaan good corporate governance
bagi bank umum.
Terdapat enam standar good corporate governance yang efektif pada industri perbankan sesuai dengan Basle Committee on BankingSupervision, (Stabilitas, 2006: 5 )yaitu :
25
1. Bank harus menetapkan sasaran strategi dan serangkaian nilai-nilai perusahaan yang dikonsumsikan kepada setiap jenjang pada organisasi.
2. Bank harus menetapkan wewenang dan tanggung jawab yang jelas pada setiap jenjang jabatan pada organisasi.
3. Bank harus memastikan bahwa pengurus bank telah memiliki kompetensi yang memadai dan integritas yang tinggi serta memahami peranannya dalam pengelolahan bank yang sehat dan independen terhadap pengaruh atau pengendalian dari pihak
eksternal.
4. Bank harus memastikan tersedianya mekanisme pengawasan direksi terhadap kegiatan operasional.
5. Bank harus memastikan bahwa kebijakan renumarasi telah konsisten dengan nilai etik, sasaran, strategi, dan lingkungan pengendalian bank.
6. Bank harus menetapkan praktek-praktek transparansi kondisi keuangan kepada publik
Tata kelola yang baik merupakan bagian integral dari tanggung jawab perusahaan secara sosial terhadap pihak-pihak yang berkepentingan seperti para pemegang saham, pegawai pengelola, dan masyarakat (whelen and Hunger, 2002). Kepemilikan perusahaan yang terdaftar di bursa saham sangat terpusat, dan presentase manajer yang termasuk dalam kelompok
26
pengendali yang sangat terpusat, dan persentase manajer yang termasuk dalam kelompok pengendali juga sangat tinggi, hal ini sebenarnya merupakan ciri khas suatu sektor usahanya yang sangat berkembang.
Mekanisme pengelolahan good corporate governance. memastikan bahwa tindakan manajemen akan selalu diarahkan pada peningkatan nilai perusahaan. Sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholders, karyawan, kreditor dan masyarakat sekitar.
1. Prinsip Good Corporate Governance
Sebagai lembaga intermediasi dan lembaga kepercayaan, dalam melaksanakan kegiatan usahanya bank harus menganut prinsip keterbukaan, memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values, sasaran usaha dan strategi sebagai pencerminan akuntabilitas bank, berpegang pada prudential banking practicea dan menjamin dilaksanakan ketentuan yang berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank, objektif dan bebas dari tekanan pihak manapun dalam pengambilan keputusan, serta senantiasa memperhatikan kepentingan stakeholders berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran.
Dalam hubungan dengan prinsip tersebut bank perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
27
Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.
Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat penting dalam penerapan good corporate governance. Keterbukaan dalam pengambilan keputusan berarti seluruh pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan mengetahui dengan jelas pertimbangan dan alasan-alasan untuk pengambilan keputusan dan untuk apa keputusan akan diambil.
Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan keberatan ataupun pertimbangan lain sebelum proses tersebut dilaksanakan. Begitu pula dampak positif maupun negatif dari pengambilan keputusan tersebut terinformasikan dengan jelas kepada pihak-pihak yang terlibat. Transparansi merupakan landasan terciptanya kondisi fairness dalam bertransaksi. Aplikasi dari prinsip ini terutama dalam proses pengadaan barang dan jasa, hubungan industrial dan transaksi bisnis dengan pelanggan, seperti pembelian surat berharga, ketentuan penempatan deposito berjangka, dan lain sebagainya. Keterbukaan dalam mengemukakan informasi yamg materiil dan relevan tentang perusahaan merupakan akuntabilitas perusahaan terhadap publik dan para pemangku kepentingan. Dengan adanya keterbukaan ini para pemangku kepentingan dapat menimbang
28
manfaat dan resiko dalam berhubungan dengan perusahaan. Praktek keterbukaan informasi ini dilakukan secara optimal dalam publikasi laporan tahunan dan publikasi rencana bisnis perseroan, serta publikasi berkala perusahaan lainnya. Dalam menghadapi persaingan atau kompetisi usaha antar bank, Bank Indonesia menyadari diperlukannya suatu peraturan yang nantinya akan digunakan sebagai tolak ukur atau alat untuk menilai suatu keadaan bank. (Achmad Daniri, 2005: 4) b) Accountability (Akuntabilitas)
Merupakan kejelasan fungsi, stuktur, system dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehinga pengelolahan perusahaan terlaksana secara efektif. Berarti, bank harus menetapkan tanggungjawab yang jelas dari setiap komponen organisasi selaras dengan visi, misi, sasaran usaha, dan strategi perusahaan. Setiap komponen organisasi mempunyai kompetensi sesuai dengan tanggungjawab masing-masing. Mereka harus dapat memahami perannya dalam pelaksanaan good corporate governance. Selain itu, bank harus memastikan ada tidaknya check and balance dalam pengelolahan bank.
Prinsip ini juga merupakan prinsip yang sangat penting dalam penerapan good corporate governance. Dari arti kata accountability
yang mempunyai makna answerability, liability dan responsibility
29
segala pertanyaan atas pelaksanaan tugas yang dibebankan pada suatu fungsi. Mulai dari apa sajakah tugas pokok dan fungsi dari jabatan tersebut, apa sajakah hasil-hasil yang diharapkan dan bagaimana hasil pelaksanaanya.
c) Responsibility (Pertanggung-jawaban)
Adanya kesesuaian didalam pengelolahan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan perundangan yang berlaku. Bank harus memegang prinsip prudential banking practices. Prinsip tersebut harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tetap terjaga kelangsungannya usahanya. Bank pun harus mampu bertindak sebagai good corporate citizen.
Sebagaimana diuraikan diatas, prinsip pertanggungjawaban ini sangat erat terkait dengan prinsip akuntabilitas, karena akuntabilitas
merupakan ekspresi dari prinsip pertanggungjawaban. Apabila suatu fungsi dan tugas dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan norma-norma etika, hasil kerja tersebut dengan mudah dipertangung jawabkan hasilnya.
d) Indepedency (Kemandirian)
Merupakan suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara professional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan. Bank harus mampu menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar
30
oleh stakeholders. Pengelolahan bank tidak boleh terpengaruh oleh kepentingan sepihak, ia harus bisa menghindari segala bentuk benturan kepentingan (Conflict of Interst).
Sebagaimana telah dikemukakan di atas penerapan prinsip ini erat kaitannya dengan prinsip akuntabilitas. Dapat dikatakan prinsip akuntabilitas adalah muara dari penerapan prinsip pertanggungjawaban dan prinsip kemandirian. Melalui prinsip kemandirian, maka prinsip pertanggungjawaban dapat dilaksanakan dengan baik, terbebas dari benturan kepentingan yang mungkin ada, baik karena kepentingan diri sendiri, kepentingan golongan ataupu kepentingan karena “balas budi”.
Penerapan prinsip kemandirian ini sebetulnya menegaskan kembali bahwa direksi dan komisaris dalamn menjalankan tugasnya haruslah mendahulukan kepentingan dan usaha perseroan, sebagaimana tel;ah diatur dalam UUPT. Dalam hal ini terjadi benturan kepentingan, anggota direksiuang terkait tidak berhak lagi untuk bertindak mewakili perseroan. Dalam pengertian yang sama hal ini diperluas kepada seluruh pejabat stuktural dalam perseroan.
e) Fairnes (kesetaran dan kewajaran)
Suatu bentuk perlakuan yang adil dan setara didalam memenuhi hak hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian secara peraturan perundangan yang berlaku. Bank harus memperhatikan kepentingan stakeholders berdasarkan asas kesetaraan dan kewajaran
31
(Equal Treatment). Namun, bank juga perlu memberikan kesempatan kepada stakeholders untuk memberikan masukan bagi kepentingan bank sendiri memiliki akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip keterbukaan.
Penerapan prinsip kewajaran ini erat kaitannya dengan prinsip transparansi. Tanpa transparansi akan sulit bahkan hampir tidak mungkin diperoleh fairness. Secara filosofis Jeremy Bentham, seorang
filsuf dan ahli hukum Inggris menyatakan “Dalam gelapnya
ketertutupan, segala jenis kepentingan jahat berada dipuncak kekuasaannya. Hanya dengan keterbukaanlah pengawasan terhadap segala ketidakadilan dilembaga peradilan dapat dilakukan. Selama tidak ada keterbukaan, tidak akan ada keadilan. Keterbukaan adalah alat untuk melawan serta penjaga utama ketidakjujuran. Keterbukaan membuat hakim „ diadili‟ saat ia mengadili”.
Hal lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah pewnyelarasan dari prinsip-prinsip yang dituangkan dalam pedoman-pedoman Good Corporate Gocernance dengan kebijakan manajemen dan pedoman operasional lain, sehingga spirit dari prinsip-prinsip Good Corporate Governance memang tercemin dalm setiap proses bisnis. Melalui penyelarasan ini maka keterlibatan seluruh jajaran dalam penerapan
Good Corporate Governance, menjadi lebih terarah dan terpadu.
32
2. Tujuan Good Corporate Governance
Tujuan good corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (Stakeholders) sebagai bentuk pelaksanaan dalam mewujudkan perbankan yang sehat, pemerintah menerapkan blue print berbentuk arsitektur perbankan Indonesia yang merupakan perwujudan visi perbankan nasional. Adapun untuk mewujudkan program tersebut pemerintah telah membuat fondasi yang berlandaskan pada 6 pilar, antara lain :
a) Menciptakan stuktur perbankan domestik yang sehat yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan mendorong pembangunan ekonomi nasional yang berkesinambungan.
b) Menciptakan sistem pengaturan dan pengawasan bank yang efektif dan mengacu pada standar internasional.
c) Menciptakan industri perbankan yang kuat memiliki daya saing yang tinggi serta memiliki ketahanan dalam menghadapi resiko. d) Menciptakan good corporate governance dalam rangka
memperkuat kondisi internal perbankan internasional
e) Mewujudkan infrasuktur yang lengkap untuk mendukung terciptanya industri perbankan yang sehat.
f) Mewujudkan pemberdayaan dan perlindungan konsumen jasa perbankan
33
Dalam menindak lanjuti pelaksanaan arsitektur perbankan Indonesia, salah satu pilar yang mendapat perhatian adalah pilar ke 4 (Empat) tentang: “Menciptakan Good Corporate Governance dalam
rangka memperkuat kondisi internal perbankan nasional”. Untuk itu
tanggal 30 Januari 2006 Bank Indonesia mengeluarkan paket kebijakan perbankan yang dikenal dengan istilah pakjen 2006, isinya mengenai peraturan baru bidang prudential banking, yang isi dari kebijakan berupa peraturan Indonesia Nomer 8/4/2006 tentang pelaksanaan good corporate governance bagi bank umum dalam program peningkatan kualitas manajemen dan operasional yang baik.
3 Manfaat Penerapan Good Corporate Governance
Pelaksanaan good corporate governance diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat berikut ini (FCGI, 2001: 7)
a). Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
b). Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih meningkatkan corporate value.
c) Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
34
d). Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen. Pelaksanaan good corporate governance dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku secara internasional (FCGI, 2001: 5)
1) Hak-hak para pemegang saham, yang harus diberi informasi dengan benar dan tepat pada waktunya mengenai perusahaan, dapat ikut berperan serta dalam pengambilan keputusan atas perusahaan, dan turut memperoleh bagian dari keuntungan perusahaan,
2) Perlakuan sama terhadap pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing, dengan keterbukaan informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam
3) Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerjasama yang aktif antara perusahaan serta para pemegang kepentingan dalam menciptakan kesejahteraan, lapangan kerja dan perusahaan yang sehat dari aspek keuangan
4) Pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparasi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja
35
perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang kepentingan (stakeholders),
5) Tanggungjawab pengurus dalam manajemen, pengawasan manajemen serta pertanggungjawaban kepada perusahaan dan para pemegang saham.
4. Agenda Bank Indonesia untuk memperkuat praktek Good Corporate
Governance pada Industri Perbankan Indonesia
Agenda terciptanya kondisi yang mendukung implementasi good corporate governance, salah satu tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan otoritas terkait adalah penerbitan peraturan perundang-undangan yang memungkinkan dilaksanakannya good corporate governance secara efektif. Selain itu, pemerintahan dan otoritas terkait harus mampu menjamin dan membuktikan bahwa penegakan hukum (law enforcement) dilakukan secara serius. Disisi lain, sebagai subjek good corporate governance, bank perlu menerapkan standar akuntansi dan standar audit yang sama dengan yang berlaku umum. Bank Indonesia menetapkan Peraturan Bank Indonesia mengenai penerapan prinsip-prinsip good corporate governance, bagi bank umum, yang mengatur ketentuan-ketentuan dan prosedur yang harus dilakukan bank umum, serta tanggung jawab dari dewan komisaris dan dewan direksi.
36
Terdapat dua faktor yang mendorong kesuksesan pelaksanaan
good corporate governance : 1) Faktor Internal.
Faktor pendorong keberhasilan good corporate governance yang berasal dari dalam perusahaan, antara lain adanya budaya dan nilai perusahaan yang mendukung penerapan good corporate governance. Kultur dan nilai-nilai yang nyaman ini akan memberikan ruang gerak yang besar dan positif bagi direksi dan karyawan bank untuk memenej bank dengan tata kelola yang benar. Jika implementasinya selaras maka akan memberikan andil terbaik bagi bank yang dikelolanya.
2) Faktor eksternal.
Faktor-faktor yang berasal dari luar perusahaan yang memiliki pengaruh yang besar bagi perusahaan, antara lain sistem hukum yang baik, adanya dukungan dari sektor publik, lembaga, pemerintah, dukungan dari masyarakat, semangat anti korupsi pada lingkungan publik. Berbagai variabel eksternal ini tidak dapat dikendalikan (uncontrollable) sehingga yang perlu dilakukan adalah mendorong pemerintah Bank Indonesia menelurkan kebijakan yang pro bank. Sementara lembaga-lembaga semacam komisi pemberantasan korupsi diharapkan
37
dapat terus membantu operasional bank dalam mengunakan prinsip transparansi.
5. Dewan Direksi
Menurut Nation Committee For Corporate Governance
(NCGG), kriteria kerangka kerja good corporate governance salah satunya adalah dewan direksi, yang dalam pemenuhan fungsinya ditugaskan dengan seluruh manajemen perusahaan. Untuk membantunya, dewan direksi dapat mengunakan prosedur yang telah digunakan, mengunakan professional independen atau komite khusus yang ada.
Komposisi dewan direksi harus mempertimbangkan efektivitas dan kecepatan dalam pengambilan keputusan. Paling sedikit 20% anggota direksi harus direktur dari luar agar meningkatkan efektivitas peranan manajemen dan transparansi keputusan yang diambil jumlah direksi dari luar harus dapat menjamin bahwa suara mereka akan ikut menentukan keputusan penting dalam rapat direksi.
Allen dan Galce (2000) dalam beiner et al (2003:4) mengatakan bahwa dewan direksi merupakan mekanisme corporate governance
yang penting karena dewan direksi dapat memastikan bahwa manajer mengikuti kepentingan dewan mereka juga menyarankan bahwa dewan direksi yang jumlahnya besar kurang efektif dari pada dewan yang jumlahnya. Hal ini karena jumlah dewan direksi yang besar
38
akan memperbesar permasalahan agensi. Perusahaan dengan jumlah dewan direksi yang besar akan membuat kinerja perusahaan semakin rendah. Mahmoud (2006:106) menyatakan bahwa dewan direksi perusahaan yang melakukan pemantauan perusahaan pada akhirnya aliran meningkatkan perusahaan.
Direksi sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggung jawab secara kolegial dalam mengelola perusahaan. Masing-masing anggota direksi dapat melaksanakan tugas dan mengambil keputusan sesuai dengan pembagian tugas dan wewenangnya. Namun, pelaksanaan tugas oleh masing-masing anggota direksi tetap merupakan tanggung jawab bersama. Kedudukan masing-masing anggota direksi termasuk direktur utama adalah setara.
Dalam kapasitas ini maka tugas pelaksanaan kepengurusan direksi adalah:
a) Melaksanakan kepatuhan bank terhadap peraturan perundang- undang yang berlaku bagi bank
b) Melaksanakan prinsip-prinsip good corporate governance pada semua lini organisasi bank
c) Melaksanakan penerapan prinsip mengenal nasabah sebagai tindakan untuk mencegah terjadinya tindak pidana pencucian uang.
39
Agar pelaksanaan tugas direksi dapat berjalan secara efektif, perlu dipenuhi prinsip-prinsip berikut:
a) Komposisi direksi harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengambilan keputusan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak independen.
b) Direksi harus profesional yaitu berintegritas dan memiliki pengalaman yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. c) Direksi bertanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan
agar dapat menghasilkan keuntungan (profitability) dan memastikan kesinambungan usaha perusahaan.
d) Direksi mempertanggung jawabkan kepengurusannya dalam Rapat Umum Pemegang Saham sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6. Dewan Komisaris
Dewan komisaris memegang peranan penting dalam implementasi
good corporate governance. Karena dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance yang bertugas untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Dalam prakteknya, di Indonesia sering terjadi anggota dewan komisaris sama sekali tidak menjalankan peran pengawasannya yang sangat mendasar terhadap dewan direksi. Dewan komisaris seringkali dianggap tidak
40
memiliki manfaat, hal ini dapat dilihat dalam fakta bahwa banyak anggota dewan komisaris tidak memiliki kemampuan dan tidak menunjukan indepedensinya. Dalam banyak kasus komisaris juga gagal untuk mewakili kepentingan stakeholders lainnya selain daripada kepentingan pemegang saham mayoritas (Moh Wahyudin Zarkasih, 2008: 115).
Komisaris adalah wakil pemegang saham yang diangkat oleh pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham. Dewan komisaris sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggungjawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada direksi serta memastikan bahwa perusahaan melaksanakan
good corporate governance. Namun demikian, dewan komisaris tidak boleh turut serta dalam mengambil keputusan operasional.
Pelaksanaan good corporate governance sangat dipengaruhi oleh dewan komisaris. Dewan komisaris merupakan inti dari corporate governance yang ditugaskan untuk menjamin pelaksanaan strategi perusahaan, mengawasi manajemen dalam mengelola perusahaan, serta mewajibkan terlaksananya akuntabilitas. Pada intinya, dewan komisaris merupakan suatu mekanisme untuk memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan. Manajemen bertanggungjawab untuk meningkatkan efesiensi dan daya saing perusahaan sedangkan dewan komisaris bertanggungjawab untuk mengawasi manajemen
41
maka dewan komisaris merupakan pusat ketahanan dan kesuksesan perusahaan. (Moh Wahyudin Zarkasih, 2008: 116)
Dewan komisaris memantau dan mengamati pengelolaan bank agar sejalan dengan strategi, tujuan serta kode etik dan pedoman tingkah laku. Selain mengevaluasi rencana kerja tahunan dan memandingkan kinerja bank dengan rencana kerja tersebut, dewan komisaris menelaah kebijakan-kebijakan, standar prosedur operasional produk-produk derivatif dan produk struktur serta perusahaan struktur organisasi bank. Dewan komisaris juga bertanggungjawab kepada seluruh pemegang saham atas cakupan dan aktivitas komite audit dalam mengevaluasi auditor independen. Dewan komisaris memiliki perwakilan pada beberapa komite internal dan empat anggotanya adalah komisaris independen yang bertugas memastikan diperhatikannya kepentingan seluruh pemegang saham.
Kedudukan masing-masing anggota dewan komisaris termasuk komisaris utama adalah setara. Tugas komisaris utama sebagai
primus inter pares adalah mengkoordinasikan kegiatan dewan komisaris. Agar pelaksanaan tugas dewan komisaris dapat berjalan secara efektif, perlu dipenuhi prinsip-prinsip yaitu Komposisi dewan komisaris harus memungkinkan keputusan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak independen
42
Tugas-tugas utama dewan komisaris (OECD Principle of Corporate Governance)
a. Menilai dan mengarahkan strategi perusahaan, garis-garis besar rencana kerja kebijakan penggendalian risiko, anggaran tahunan dan rencana usaha, menetapkan sasaran kerja, mengawasi pelaksanaan dan kinerja perusahaan, serta memonitor penggunaan modal perusahaaan, investasi dan penjualan asset.
b. Menilai sistem penetapan penggajian pejabat pada posisi kunci dan pengkajian anggota dewan direksi
c. Memonitor dan mengatasi masalah benturan kepentingan pada tingkat manajemen, anggota dewan direksi dan anggota dewan komisaris termasuk penyalahgunaan asset perusahaan dan memanipulasi transaksi perusahaan. d. Memonitor pelaksanaan governance dan mengadakan
perubahan dimana yang dianggap perlu.
e. Memantau proses keterbukaan dan efektivitas komunikasi dalam perusaahaan.
7. Komisaris Independen
Menurut Indonesian Society of Independent Commissioner
(ISICOM) komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota dewan
43
komisaris lainnya lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan.
Di Indonesia saat ini, keberadaan komisaris independen sudah