• Tidak ada hasil yang ditemukan

Good Corporate Governance

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH AGUSTINA BERLIANA TAMPUBOLON (Halaman 27-34)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Good Corporate Governance

Pemisahan tugas-tugas dan kewajiban yang dilakukan pihak prinsipal dan agen dalam teori keagenan akan memicu timbulnya konflik yang akan merugikan prinsipal. Dalam kondisi ini, diperlukan sebuah mekanisme yang berfungsi untuk menyetarakan perbedaan kepentingan antara pihak agen dan prinsipal. Perspektif tentang hubungan keagenan merupakan dasar yang digunakan untuk memahami good corporate governance. Konsep good corporate governance adalah konsep

yang memperhatikan dan mengatur segala kepentingan antara pihak prinsipal dan agen dalam sebuah perusahaan.

Konsep good corporate governance pertama kali dikemukakan oleh Cadbury Committee pada tahun 1992 dalam laporan yang dikenal dengan Cadbury Report bahwa :

Corporate governance is the system by which companies are directed and controlled. Boards of directors are responsible for the governance of their companies. The shareholders role in governance is to appoint the directors and the auditors and to satisfy themselves that an appropriate governance structure in place.

Menurut Forum For Corporate Governance (dalam Ujiantho dan Pramuka, 2007) menyatakan bahwa :

good corporate governance juga didefinisikan sebagai seperangkat aturan yang mendefinisikan hubungan antara pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan stakeholder internal maupun eksternal, mengenai hak dan kewajiban mereka, atau sistem dimana perusahaan diatur dan dikendalikan, tujuan good corporate governance adalah menciptakan nilai tambah bagi stakeholder.

Dalam fungsinya sebagai penyeimbang dalam perusahaan, ada dua hal yang harus diperhatikan dalam good corporate governance. Pertama, pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar, akurat, dan tepat waktu. Kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan secara akurat, tepat waktu, dan transparan mengenai semua kinerja perusahaan (Darmawati, 2003).

Penerapan good corporate governance merupakan sebuah konsep yang menekankan seberapa pentingnya hak prinsipal untuk mengetahui informasi tentang kinerja keuangan perusahaan secara benar, akurat, dan tepat waktu.

Good Corporate governance merupakan mekanisme yang dikembangkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan perilaku manajemen. Beberapa mekanisme good corporate governance adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan direksi, ukuran dewan komisaris, dan ukuran komite audit.

Penerapan good corporate governance memiliki tujuan yaitu untuk meningkatkan nilai tambah bagi prinsipal atau pemegang saham. Bila good corporate governance dalam perusahaan berjalan dengan baik maka perusahaan tersebut dapat meningkatkan nilai tambah baik dari segi material maupun non material. Prinsipal dan agen akan mendapatkan keuntungan. Prinsipal akan mendapatkan deviden yang besar sementara agen akan mendapat bonus yang lebih besar juga. Good corporate governance diharapkan mampu menghadapi kensenjangan yang terjadi sehingga biaya keagenan (agency cost) dapat berkurang dan kedua belah pihak mendapat keuntungan masing-masing.

Hubungan antara good corporate governance dengan kinerja keuangan perusahaan sebagaimana disebutkan oleh FCGI (Forum for Corporate Governance in Indonesia) adalah bahwa good corporate governance memudahkan memperoleh modal, cost of capital jadi lebih rendah, sehingga meningkatkan efisiensi, berpengaruh baik terhadap kinerja keuangan.

Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance tahun 2006 menyebutkan bahwa organ perusahaan terdiri dari kepemilikan perusahaan yang dibiasanya disebut

rapat umum pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi. Dalam penelitian ini digunakan lima mekanisme good corporate governance yang biasanya persentase keberadaannya lebih banyak serta sering digunakan untuk diteliti. Kelima mekanisme tersebut adalah kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, ukuran dewan direksi, ukuran dewan komisaris, dan ukuran komite audit.

Menurut Jensen dan Meckling (1976), “bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional adalah dua mekanisme good corporate governance utama yang membantu mengendalikan masalah keagenan.”

2.4.1 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial diartikan sebagai persentase kekuasaan atau kepemilikan dalam suatu perusahaan. Kepemilikan manajerial diukur dengan jumlah persentase saham yang dimiliki manajemen dari seluruh modal saham perusahaan yang beredar.

Salah satu cara untuk mengurangi agency cost adalah dengan meningkatkan kepemilikan saham manajerial. Agency cost timbul karena adanya perbedaan informasi antara agen dan prinsipal. Agency cost sendiri bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan jumlah saham yang dimiliki manajemen. Semakin besar jumlah saham kepemilikan manajemen maka manajemen akan cenderung berusaha untuk meningkatkan kinerjanya untuk kepentingan dirinya sendiri yang sebagai pemegang saham juga.

2.4.2 Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian dan institusi lainnya. Menurut Gideon (2005),

“kepemilikan institusional akan mendorong peningkatan pengawasan terhadap kinerja manajemen. Persentase saham tersebut akan mempengaruhi proses penyusunan laporan keuangan yang memungkinkan terjadinya akrualisasi sesuai keinginan manajemen.” Semakin besar kekuatan suara dari institusi tersebut untuk mengawasi manajemen akan memberikan dorongan lebih besar untuk mengoptimalkan kinerja perusahaan dan menyamakan kepentingan manajemen dengan pemegang saham.

Pemegang saham institusional cenderung memiliki informasi lebih banyak dari pada pemegang saham individu. Bila tingkat kepemilikan institusional tinggi maka akan menimbulkan pengawasan yang lebih besar oleh pemegang saham institusional. Karena pengawasan yang dilakukan oleh sebuah institusi pasti lebih efektif dari pada pengawasan yang dilakukan oleh pemegang saham individu.

Pengawasan yang dilakukan oleh institusi akan membatasi ruang gerak manajemen. Dengan adanya pemegang saham institusional maka akan membuat perhatian manajer lebih tertuju pada kinerja perusahaan.

2.4.3 Ukuran Dewan Direksi

Menurut Bodroastuti (2009), “dewan direksi merupakan pimpinan perusahaan yang dipilih oleh para pemegang saham untuk mewakili kepentingan mereka dalam mengelola perusahaan. Kemungkinan jumlah dewan direksi yang kecil tidak mampu menjalankan perusahaan dengan optimal sedangkan jumlah dewan direksi yang besar memberikan manfaat yang besar bagi perusahaan karena terciptanya network dengan pihak luar dalam menjamin ketersediaan sumber daya.” Dengan demikian jumlah dewan direksi yang besar dapat membantu perusahaan dalam mengambil kebijakan–kebijakan yang bermanfaat bagi perusahaan sehingga dapat menguntungkan perusahaan tersebut dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.

Dewan direksi merupakan salah satu mekanisme good corporate governance yang diperlukan untuk mengurangi agency problem antara pemilik dan manajer sehingga timbul keselarasan kepentingan antara pemilik perusahaan dan manajer. Dewan direksi dalam suatu perusahaan akan menentukan kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun jangka panjang.

2.4.4 Ukuran Dewan Komisaris

Dewan komisaris adalah dewan yang bertugas untuk melakukan pengawasan dan memberikan masukan ataupun nasihat kepada manajemen.

Dewan komisaris mempunyai tugas untuk memonitor dan mengendalikan

manajemen. Secara umum dewan komisaris ditugaskan dan diberi tanggung jawab atas pengawasan kualitas informasi yang terkandung dalam laporan keuangan.

Ukuran dewan komisaris adalah jumlah anggota dewan komisaris dalam sebuah perusahaan baik yang berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia, pelaksanaan dewan komisaris perlu memenuhi prinsip-prinsip berikut:

1. Komposisi dewan komisaris harus memungkinkan pengambilan keputusan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak independen.

2. Anggota dewan komisaris harus professional, yaitu berintegritas dan memiliki kemampuan sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik termasuk memastikan bahwa direksi telah memperhatikan kepentingan semua pemangku kepentingan.

3. Fungsi pengawasan dan pemberian nasihat dewan komisaris mencakup tindakan pencegahan, perbaikan, sampai kepada pemberhentian sementara.

Pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap kinerja perusahaan memiliki hasil yang beragam. Semakin banyaknya jumlah dewan komisaris akan semakin mudah untuk mengendalikan manajemen dan semakin efektif pengawasan yang dilakukan. Dan sebaliknya semakin sedikit jumlah dewan komisaris maka akan semakin sulit untuk melakukan pengendalian dan pengawasan manajemen.

2.4.5 Ukuran Komite Audit

Komite audit sesuai dengan Keputusan Bapepam Nomor Kep.

29/PM/2004 menyebutkan bahwa komite audit adalah komite yang dibentuk

oleh dewan komisaris untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap pengelolaan perusahaan. Komite audit berperan dalam hal memelihara kredibilitas laporan keuangan, menjaga sistem pengawasan serta pengawasan terlaksananya good corporate governance.

Ukuran komite audit adalah jumlah anggota komite audit yang ada di perusahaan. Ukuran komite audit diatur dalam surat edaran ketua Bapepam yang menyatakan bahwa ukuran komite audit adalah sekurang-kurangnya 3 orang.

Tugas komite audit yang diatur dalam Kep. 29/PM/2004 adalah sebagai berikut :

1. Melakukan penelaahan atas informasi keuangan yang akan dikeluarkan perusahaan seperti laporan keuangan, proyeksi dan informasi keuangan lainnya.

2. Melakukan penelaahan atas ketaatan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal dan peraturan perundangan lainnya yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan.

3. Melakukan penelaahan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh auditor internal..

4. Melaporkan kepada komisaris berbagai risiko yang dihadapi perusahaan dan pelaksanaan manajemen risiko oleh direksi.

5. Melakukan penelaahan dan melaporkan kepada dewan komisaris atas pengaduan yang berkaitan dengan emiten.

6. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan rahasia perusahaan.

Dalam dokumen SKRIPSI OLEH AGUSTINA BERLIANA TAMPUBOLON (Halaman 27-34)

Dokumen terkait