KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Karakter
5. Gotong Royong
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan murid dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.
Hasan, S. H., et al (2010 : 4) menyatakan bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada peserta didik agar memiliki dan mampu menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa tersebut dirumuskan sebanyak 18 nilai karakter (Permen Diknas, 2011).
(1) Religius, yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. (2) Jujur, yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai
orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. (3) Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. (4) Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. (5) Kerja keras, yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. (6) Kreatif, yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. (7) Mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. (8) Demokratis, yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. (9) Rasa ingin tahu, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, di lihat dan di dengar. (10) Semangat kebangsaan, yaitu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. (11) Cinta tanah air, yaitu cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. (12) Menghargai prestasi, yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. (13) Bersahabat/komunikatif, yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. (14) Cinta damai, yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. (15) Gemar membaca, yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. (16) Peduli lingkungan, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan dalam lingkungan alam dan sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk, memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. (17) Peduli sosial, yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. (18) Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan 18 nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa, setiap satuan pendidikan dapat memodifikasi nilai-nilai sesuai kebutuhan. Hal tersebut menyesuaikan terhadap kondisi sosial budaya
17
masyarakat yang terlayani oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Selain itu, nilai-nilai yang dikembangkan juga terkait dengan kebutuhan materi pembelajaran di masing-masing satuan pendidikan. Sehingga setiap satuan pendidikan dapat menambah dan atau mengurangi nilai-nilai yang dikembangakan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai minimal yang harus dikembangkan.
Lickona (Sudrajat, A. 2011 : 49) menyatakan bahwa terdapat tujuh hal yang melatarbelakangi pentingnya pendidikan karakter, diantaranya yaitu :
1. Cara terbaik untuk menjamin anak-anak (murid) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;
2. Cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
3. Sebagian murid tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;
4. Persiapan murid untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;
5. Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran, kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah; 6. Persiapan yang terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja;
dan
7. Pembelajaran nilai-nilai budaya yang merupakan bagian dari kerja peradaban.
Adapun alur paradigma pembangunan karakter bangsa di gambarkan pada bagan berikut:
Gambar 2.1 Alur Pikir Pembangunan Karakter (Jalal, F., et al 2011 : 6)
Beradasarkan pada alur kebebijakan nasional pembangunan karakter bangsa di Indonesia menunjukkan bahwa salah satu strategi yang digunakan untuk membangun karakter bangsa yaitu melalui pendidikan. Lingkup implementasinya sendiri mencakup integrasi ke dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pembiasaan dalam kehidupan keseharian di satuan pendidikan, integrasi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah, dan penerapan pembiasaan kehidupan keseharian di rumah serta masyarakat yang sama dengan di satuan pendidikan.
Kupperman (Arthur, J., 2003 : 126) menyatakan bahwa:
Tahap-tahap dalam pendidikan karakter diantaranya yaitu melibatkan murid untuk memperoleh nilai-nilai karakter dasar yang harus tertanam kuat, melibatkan murid untuk siap dan mengadopsi nilai-nilai dalam berbagai kasus dalam perspektif kemandirian murid, dan melibatkan murid untuk turut serta membuat keputusan-keputusan tentang nilai-nilai karakter pada diri mereka.
Sedangkan tujuan dari pendidikan budaya dan karakter bangsa sendiri yaitu (Hasan, S. H., et al, 2010 : 7):
19
1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4. Mengembakan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.