SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
St. Marwah Abd. Hamid 10540 1110 116
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Kantor: Jl. Sultan Alauddin No. 259, Telp. (0411)-866132, Fax. (0411)-860132
\
iv
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : St. Marwah Abd. Hamid NIM : 10540 11100 16
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan Tim Penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, 16 Oktober 2020 Yang Membuat Pernyataan
v
SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : St. Marwah Abd. Hamid NIM : 10540 11100 16
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakkan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia
menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, 16 Oktober 2020 Yang Membuat Pernyataan
St. Marwah Abd. Hamid Mengetahui,
Ketua Jurusan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Aliem Bahri, S.Pd.,M.Pd NBM. 1148 913
vii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Apa yang kelihatan mustahil
bagi manusia tidak mustahil bagi Allah.
Kupersembahkan karya ini buat: Kedua orang tuaku, saudaraku, sahabatku, atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis mewujudkan harapan menjadi kenyataan.
viii
Kultur Sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Idawati dan pembimbing II Muliani Azis.
Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terkait dengan perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang terdiri dari tahap perencanaan, pengumpulan data awal, data utama, dan data akhir, serta penyelesaian. Subjek penelitiannya yaitu kepala sekolah, guru, murid, orang tua murid, dan warga di sekitar sekolah. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui proses triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros terimplementasi pada lapisan artifak serta nilai dan keyakinan. Perencanaannya terdiri dari penetapan nilai-nilai karakter yaitu religius, disiplin, semangat kebangsaan, dan menghargai prestasi; penyusunan program; sosialisasi kebijakan; dan perencanaan kondisi. Pelaksanaannya yaitu melalui penyediaan fasilitas-fasilitas berbagai program yang didesain untuk membentuk karakter murid melalui aktivitas-aktivitas pembiasaan. Secara umum, SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros telah mencapai indikator keberhasilan sekolah dalam mengimplementasikan empat nilai karakter utama dan nilai peduli lingkungan yang menjadi fokus implementasi.
ix
KATA PENGANTAR
Allah Maha Penyayang dan Pengasih, demikian kata untuk mewakili atas segala karunia dan nikmat-Nya. Jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederatan berkah-Mu
Setiap orang dalam berkarya selalu mencari kesempurnaan, tetapi terkadang kesempurnaan itu terasa jauh dari kehidupan seseorang. Kesempurnaan bagaikan fatamorgana yang semakin di kejar semakin menghilang dari pandangan, bagai pelangi yang terlihat indah dari kejauhan, tetapi menghilang jika didekati. Demikian juga tulisan ini, kehendak hati ingin mencapai kesempurnaan, tetapi kapasitas penulis dalam keterbatasan. Segala daya dan upaya telah penulis kerahkan untuk membuat tulisan ini selesai dengan baik dan bermanfaat dalam dunia pendidikan, khususnya dalam ruang lingkup Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalan perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Abd. Hamid dan Sitti Maemuna yang telah berjuang, berdo’a, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Demikian pula, penulis mengucapkan kepada keluarga yang tak hentinya memberikan motivasi dan selalu menemani penulis dengan candanya. Kepada Dr. Idawati, M.Pd dan Dra. Hj. Muliani Azis, M.Si., pembimbing I dan pembimbing
x
Ambo Asse, M.Ag., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta seluruh dosen dan staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.
Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah dan Guru SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman dan sahabat terkasih serta seluruh rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2016 atas segala kebersamaan, motivasi, saran dan bantuannya kepada penulis.
Skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih kepada semua pihak dalam kaitannya dengan pendidikan karakter. Sekalipun demikian, penulis menyadari kemungkinan adanya kekurangan maupun kesalahan baik dalam hal teknik penulisan, tata bahasa, maupun isinya.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan
xi
tersebut sefatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Semoga dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin.
Makassar, September 2020
xi
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv BAB I PENDAHULAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 6 C. Tujuan Penelitian ... 6 D. Manfaat Penelitiann ... 7 E. Deskripsi Fokus ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9
A. Pendidikan Karakter ... 9
B. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar ... 19
C. Kultur Sekolah ... 22
D. Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah ... 26
E. Kerangka Konsep ... 30
BAB III METODE PENELITIAN ... 33
A. Jenis Penelitian ... 33
B. Lokasi Penelitian ... 33
xii
D. Teknik Pengumpulan Data ... 35
E. Instrumen Penelitian ... 37
F. Teknik Analisis Data ... 39
G. Keabsahan Data ... 42
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 43
A. Hasil Penelitian ... 43
B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 72
C. Keterbatasan Penelitian ... 93
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 95
A. Simpulan ... 95
B. Saran ... 96
DAFTAR PUSTAKA ... 98 LAMPIRAN
xiii
Halaman 2.1 Lapisan-Lapisan Kultur Sekolah ... 26 3.1 Kisi-Kisi Pedoman Wawancara ... 41 3.2 Kisi-Kisi Lembar Observasi ... 42 4.1 Data Mobiler di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe
Kabupaten Maros ... 49 4.2 . Akumulasi Poin dan Sanksi Pelanggaran Tata Tertib ... 66 4.3 . Implementasi Nilai Karakter dalam Kultur SD Negeri 70 Manjalling
Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros ... 74 4.4 Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah di SD Negeri 70
xiv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
2.1 Alur Pikir Pembangunan Karakter ... 19
2.2 Pengembangan Kultur Sekolah ... 28
2.3 Konfigurasi Pendidikan Karakter ... 30
2.4 Kerangka Konsep Penelitian... 34
4.1 Format Catatan Pelanggaran Tata Tertib ... 62
4.2 Format Sertifikat Penghargaan Kepada Siswa ... 67
4.3 Gambaran Umum Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah SD Negeri 70 Manjalling ... 82
4.4 Implementasi Nilai Religius dalam Kultur Sekolah ... 83
4.5 Implementasi Nilai Disiplin dalam Kultur Sekolah ... 86
4.6 Implementasi Nilai Semangat Kebangsaan dalam Kultur Sekolah ... 88
xv
Halaman
Lampiran 1 ... 100
1. Pedoman Wawancara Penelitian ... 101
2. Lembar Observasi Penelitian ... 108
3. Hasil Wawancara Penelitian ... 109
4. Hasil Observasi Penelitian ... 139
5. Dokumentasi Penelitian ... 148
Lampiran 2 ... 154
1. Pengantar Penelitian ... 155
2. Permohonan Izin Penelitian ... 156
3. Izin Penelitian Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Selawesi Selatan ... 157
4. Izin Penelitian Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Maros ... 158
5. Surat Keterangan Penelitian ... 159
6. Kontrol Pelaksanaan Penelitian ... 160
7. Kartu Kontrol Bimbingan Skripsi Pembimbing 1 ... 161
8. Kartu Kontrol Bimbingan Skripsi Pembimbing 2 ... 162
9. Surat Pernyataan Narasumber Penelitian ... 163 - 171 10. Riwayat Hidup ... 172
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini masyarakat Indonesia semakin banyak yang sikapnya menyimpang dari nilai-nilai, budaya, moral, dan agama. Faktanya di masyarakat sering kali terjadi perkelahian antar geng, perilaku kekerasan, perkelahian, tawuran, penggunaan narkoba, tindak asusila, serta perlakuan kriminal lainnya. Sebenarnya kita sangat miris sekali dengan kondisi tersebut karena mayoritas pelakunya adalah anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah yang seharusnya mereka bisa menempatkan pendidikan kepribadian yang mereka peroleh untuk hal-hal yang baik dan menerapkan sebagaimana mestinya. Bahkan anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah itu cenderung bermalas-malasan, terutama meraka malas dalam belajar, suka bertindak curang pada saat ulangan atau ujian berupa tindakan mencontek, mencontoh pekerjaan teman, atau mencontoh dari buku pelajaran, hal itu merupakan kejadian sehari-hari yang biasa dilakukan. Bahkan saat Ujian Akhir Nasional mereka malas untuk belajar dan sukanya mencari jalan pintas dengan mencari jawaban di internet pokoknya yang penting lulus dan dapat nilai bagus, mereka tidak mempunyai tanggung jawab moral, mengabaikan kejujuran. Hal itu disebabkan karena pendidikan di Indonesia masih dapat dikatakan tertinggal dibandingkan pendidikan di negara-negara maju sehingga sikap, tanggung
jawab, ilmu pengetahuan, dan perkembangan teknologi yang dimiliki juga masih tertinggal jauh.
Perkembangan teknologi dengan mudahnya mengakses di internet yang seharusnya akan menambah dampak positif, akan tetapi sebaliknya dampak negatiflah yang senantiasa masuk di kepribadian bangsa sehingga yang terjadi saat ini membawa bangsa Indonesia semakin lengah dalam pendidikan karakter. Padahal, pendidikan karakter merupakan suatu fondasi bangsa yang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.
Kenyataan di lapangan masih banyak proses pendidikan di sekolah lebih mengutamakan aspek kognitifnya daripada afektif dan psikomotriknya. Dari beberapa kasus pelaksanaan Ujian Akhir Nasional pun lebih mementingkan aspek intelektualnya daripada aspek kejujurannya, tingkat kejujuran Ujian Akhir Nasional itu hanyalah 20%, karena masih banyak peserta didik yang menyontek dalam mengerjakan Ujian Akhir Nasional itu. Saat ini belum banyak sekolah yang memberikan secara intens untuk moralitas. Kebanyakan sekolah berlomba-lomba meraih prestasi akademik seperti Ujian Akhir Nasional tertinggi dan prestasi akademik lainnya, namun kurang memperhatikan moralitas anak didiknya. Suasana sekolah tersebut sangat kering dengan nilai-nilai moral agama, akibatnya meskipun para murid lulus dengan nilai yang baik, namun moralitasnya rendah.
Semua itu menggambarkan kegagalan pendidikan kita dalam membangun karakter bangsa. Bahkan bila dicermati, ketakutan yang berlebihan terhadap pelaksanaan ujian nasional juga merupakan cermin kegagalan
3
pendidikan kita. Dengan berpijak pada kasus tersebut, perbaikan moral generasi bangsa lewat jalut pendidikan karakter yang tidak semata-mata hanya mementingkan aspek formal-kognitif terasa semakin dibutuhkan.
Tanda kehancuran bangsa tersebut merupakan permasalahan terbesar bangsa Indonesia saat ini. Permasalahan yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia seperti perkelahian antar pelajar, seks bebas, tindak pidana, sikap tidak etis terhadap guru, berbagai bentuk pelanggaran tata tertib sekolah, murid menyontek, masih minimnya prestasi yang dicapai para pelajar, sampai pada masalah komerisalisasi pendidikan mengakibatkan adanya ancaman penurunan nilai karakter dapat mempengaruhi kehancuran bangsa. Ketika karakter anak bangsa rusak, maka tujuan pendidikan nasionalpun tidak dapat terwujud.
Upaya yang perlu dilakukan dalam rangka untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan penguatan terhadap pendidikan karakter. Upaya ini juga sudah lama dilakukan pemerintah, diantaranya dengan melakukan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010 yang kemudian dilanjutkan dengan program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada tahun 2016. Program ini dimaksudkan untuk menanamkan kembali nilai-nilai karakter bangsa.
Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pendidikan karakter pada jenjang pendidikan dasar mendapatkan porsi yang lebih besar dibandingkan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan. Terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan PPK; yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian dan kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan
saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi.
Menyadari kondisi budaya dan karakter bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat tersebut, pemerintah Indonesia turut bertanggung jawab untuk berperan aktif dalam pembangunan karakter bangsa. Hal itu tercermin dalam Rencana Pembanguna Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025, yang menempatkan pendidikan karakter sebagai misi pertama dari delapan misi guna mewujudkan visi pembangunan nasional. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menyusun kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa sebagai pedoman dalam perancangan, pelaksanaan, dan pengembangan karakter bangsa. Pedoman ini di laksanakan dengan mendorong partisipasi aktif dari barbagai komponen bangsa baik dari pihak-pihak di lembaga pendidikan seperti kepala sekolah dan guru, maupun pihak orang tua, praktisi dan pengamat pendidikan, serta masyarakat pada umumnya.
Salah satu lingkup implementasi pendidikan karakter yang sangat mendukung kemajuan pendidikan karakter yaitu kultur sekolah. Sudrajat (Zuchdi, D., et al, 2011 : 152) menyatakan bahwa pembangunan karakter pada kultur sekolah dapat di organisasikan dan diterapkan dengan menggunakan strategi pemodelan (modeling), pengajaran (teaching), dan penguatan lingkungan (reinforcing). Kultur sekolah yang di bangun sedemikian rupa merupakan cermin dari usaha sekolah dalam menanamkan nilai-nilai karakter pada semua individu di sekolah, tidak terkecuali untuk peserta didik melalui fungsi atau peran masing-masing. Peran tersebut di antaranya yaitu membuat
5
program atau kebijakan pendidikan karakter, membentuk budaya sekolah dan mengkomunikasikannya kepada semua pihak sekolah, memelihara nilai-nilai karakter, serta menghargai pencapaian dari setiap pihak di sekolah.
Kultur sekolah yang baik sangat mendukung keberhasilan dari program pendidikan karakter. Namun, tidak semua kultur sekolah mendukung pencapaian pendidikan karakter yang maksimal. Kultur negatif pada kultur sekolah justru menghambat pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah seperti banyaknya jam kosong, inkonsistensi dalam pelaksanaan tata tertib, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa kultur sekolah mempunyai pengaruh besar terhadap proses implementasi pendidikan karakter. Dapat dimaknai bahwa pendidikan karakter juga memiliki peran untuk menjadi bagian dalam membentuk kultur sekolah yang positif. Oleh karena itu, implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah menjadi hal yang mutlak dibutuhkan oleh sekolah untuk menciptakan kultur sekolah yang kondusif dan memudahkan penanaman nilai-nilai karakter pada murid.
Proses implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah menjadi sangat urgen dalam membentuk karakter murid yang lebih kuat. Proses tersebut menjadi lebih efektif apabila terimplementasi pada individu-individu sejak usia dini. Demikian halnya pada satuan pendidikan, bahwa penanaman nilai-nilai karakter pada satuan pendidikan dasar seperti sekolah-sekolah dasar sangat mutlak dibutuhkan sebagai fondasi karakter peserta didik di masa yang akan datang. Hal ini sangat mendukung tujuan dari pendidikan di sekolah dasar dalam meletakkan dasar-dasar kecerdasan baik intelektual, sosial, emosional,
maupun spiritual guna mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan pada jenjang yang lebih lanjut.
Berdasarkan paparan di atas, sangat menarik untuk dilakukan penelitian yang menelaah tentang pendidikan karakter dalam kultur sekolah dasar, khususnya di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memperoleh gambaran komperhensif mengenai implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Dari hasil tersebut di harapkan dapat memberikan sumbangsih berupa pengembangan dalam implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dirumuskan beberapa rumusan pertanyaan penelitian, diantaranya yaitu :
1. Bagaimana perencanaan pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros?
2. Bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksanakannya penelitian ini yaitu :
1. Untuk mengetahui perencanaan pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros.
7
2. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan memiliki beberapa manfaat baik bagi berbagai pihak sebagai berikut:
1. Bagi Sekolah Dasar
SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros dapat merefleksikan hasil pelaksanaan pendidikan karakter, khususnya pada kultur sekolah melalui hasil penelitian ini. Selain itu juga dapat mengevaluasi pelaksanaan pendidikan karakter dalam kultur sekolah untuk lebih memantapkan lagi dalam implementasinya. Implementasi di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros tersebut diharapkan dapat menjadi motor penggerak berkembangnya pendidikan karakter dalam kultur SD yang dapat diimplementasikan secara praktis dalam kultur SD di Indonesia.
2. Bagi Pendidik
Memperoleh pengetahuan baru tentang implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah yang dapat dijadikan referensi implementasi kepada para peserta didiknya.
3. Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman bagi peneliti untuk menelaah secara kualitatif terhadap pendidikan karakter dalam kultur sekolah. Selain itu juga
terekomendasi beberapa saran untuk dilakukan penelitian selanjutnya yang lebih luas dan kompleks permasalahan penelitainnya.
E. Deskripsi Fokus
Deskripsi fokus dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pemahaman dan perbedaan penafsiran yang berkaitan dengan istilah-istilah dalam judul penelitian. Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros”, maka definisi operasional yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah hal yang positif apa saja yang dilakukan oleh guru dan berpengaruh kepada karakter murid yang diajarnya. Pendidikan karakter telah menjadi pergerakan yang mendukung pengembangan sosial, pengembangan emosional, dan pengembangan etik para murid.
2. Kultur Sekolah
Kultur sekolah memiliki cakupan yang sangat luas, umumnya mencakup kegiatan ritual, harapan, hubungan sosial-kultural, aspek demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan, kebijakan maupun interaksi sosial antarkomponen di sekolah (Hasan, S. H., et al, 2010 : 19). Kultur sekolah merupakan suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antar anggota kelompok masyarakat sekolah.
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pendidikan Karakter
Pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, yang mana memiliki peran penting dalam memperadabkan umat manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat mewariskan sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pewarisan tersebut pada umumnya bertujuan untuk menciptakan generasi madani yang memiliki karakter dan kepribadian luhur. Sistem yang diwariskan sedemikian rupa dan terinternalisasi dalam tatanan masyarakat akan membentuk karakter tertentu yang berkembang pada suatu masyarakat. Hal tersebut juga secara otomatis mempengaruhi kualitas karakter setiap individu di dalam masyarakat.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik, baik yang terpatri dalam diri dan terejawankan dalam perilaku.
Karakter dimaknai sebagai cara berpikir atau berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perkataan, perasaan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak (Rosidatun, 2018 : 19).
Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter secara teoritik sebenarnya telah ada sejak Islam diturunkan di dunia; seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak (karakter) manusia. Ajaran Islam sendiri mengandung sistematika ajaran yang tidak hanya menekankan pada aspek keimanan, ibadah dan mu’amalah, tetapi juga akhlak. Pengamalan ajaran Islam secara utuh (kaffah) merupakan model karakter seorang muslim, bahkan dipersonifikasikan dengan model karakter Nabi Muhammad Saw, yang memiliki sifat Shidiq, Tabligh, Amanah, Fathonah (Mulyasa, 2018 : 5). Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi sebagai uswah hasanah (contoh yang baik). Pada QS. Al-Ahzab [33] : 21 di jelaskan:
Tejemahnya:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengahrap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. Nabi Muhammad Saw di daulat
11
sebagai makhluk yang paling sempurna akhlaknya. Pada QS. Al-Qalam [68] : 4 di jelaskan:
Terjemahnya:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi pekerti yang luhur”.
Hal ini senada dengan hadist-hadist yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw ditugaskan untuk menyempurnakan akhlak umat manusia (HR. Baihaqi). Dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang mempunyai akhlak yang baik (karakter yang baik) dapat dijadikan sebagai uswah hasanah (teladan yang baik) (Hamid, 2017 : 1).
Misi utama Nabi Muhammad Saw dijelaskan oleh Al-Qur’an sebagai rahmat untuk semesta alam. Pada QS. Al-Anbiya [21] : 107 dijelaskan :
Terjemahnya:
“Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”.
Dan dijelaskan sendiri oleh Nabi dalam satu riwayat Hadist Sahih :
Terjemahnya :
“Sesungguhnya Aku (Muhammad) di utus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia (H.R Muslim)”.
Menebar rahmat dan memperbaiki akhlak itulah misi utama Nabi Muhammad Saw, bukan memaksa orang lain masuk Islam atau memaksa mengikuti fatwa dan tafsiran kita sendiri. Pemaksaan terhadap orang lain itu bukan rahmat dan bukan pula akhlak yang mulia.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan salah satu tempat yang strategis dalam pembentukan karakter selain di keluarga dan masyarakat. Melalui sekolah proses penanaman nilai-nilai karakter murid akan diaplikasikan baik melalui kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah, maupun kegiatan pengembangan diri. Menurut Marthin Luther King tujuan pendidikan yang benar adalah membentuk peserta didik yang cerdas secara intelektual dan berkarakter “Intellegence plus character, that is the true education” (Lickona, 2004 : xi).
Dalam pengertian yang sederhana pendidikan karakter adalah hal yang positif apa saja yang dilakukan oleh guru dan berpengaruh kepada karakter murid yang diajarnya. Pendidikan karakter telah menjadi pergerakan yang mendukung pengembangan sosial, pengembangan emosional, dan pengembangan etik para murid. Merupakan suatu upaya proaktif yang
13
dilakukan baik oleh sekolah maupun pemerintah untuk membantu murid mengembangkan inti pokok sekolah maupun pemerintah untuk membantu murid mengembangkan inti pokok dari nilai-nilai etik dan nilai-nilai kinerja, seperti kepedulian, kejujuran, kerajinan, keuletan, dan ketabahan, tanggung jawab, menghargai diri sendiri, dan orang lain (Rosidatun, 2018 : 20)
Pendidikan karakter juga dapat didefenisikan sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter yang mulia (good character) dari peserta didik dengan mempraktikkan dan mengajarkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan yang beradab dalam hubungan dengan sesama manusia maupun dalam hubungannya dengan Tuhannya (Rosidatun, 2018 : 20).
Effendi (2016), terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Kelima nilai karakter tersebut adalah sebagai berikut:
1. Religius
Nilai karakter religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi,
menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.
2. Nasionalis
Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.
3. Integritas
Adapun nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.
15
4. Mandiri
Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Murid yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
5. Gotong Royong
Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan. Diharapkan murid dapat menunjukkan sikap menghargai sesama, dapat bekerja sama, inklusif, mampu berkomitmen atas keputusan bersama, musyawarah mufakat, tolong menolong, memiliki empati dan rasa solidaritas, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.
Hasan, S. H., et al (2010 : 4) menyatakan bahwa pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada peserta didik agar memiliki dan mampu menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan. Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa tersebut dirumuskan sebanyak 18 nilai karakter (Permen Diknas, 2011).
(1) Religius, yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. (2) Jujur, yaitu perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai
orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. (3) Toleransi, yaitu sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya. (4) Disiplin, yaitu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. (5) Kerja keras, yaitu perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. (6) Kreatif, yaitu berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. (7) Mandiri, yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. (8) Demokratis, yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. (9) Rasa ingin tahu, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, di lihat dan di dengar. (10) Semangat kebangsaan, yaitu cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. (11) Cinta tanah air, yaitu cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. (12) Menghargai prestasi, yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain. (13) Bersahabat/komunikatif, yaitu tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. (14) Cinta damai, yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. (15) Gemar membaca, yaitu kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. (16) Peduli lingkungan, yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan dalam lingkungan alam dan sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk, memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. (17) Peduli sosial, yaitu sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. (18) Tanggung jawab, yaitu sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), Negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Berdasarkan 18 nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa, setiap satuan pendidikan dapat memodifikasi nilai-nilai sesuai kebutuhan. Hal tersebut menyesuaikan terhadap kondisi sosial budaya
17
masyarakat yang terlayani oleh satuan pendidikan yang bersangkutan. Selain itu, nilai-nilai yang dikembangkan juga terkait dengan kebutuhan materi pembelajaran di masing-masing satuan pendidikan. Sehingga setiap satuan pendidikan dapat menambah dan atau mengurangi nilai-nilai yang dikembangakan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai minimal yang harus dikembangkan.
Lickona (Sudrajat, A. 2011 : 49) menyatakan bahwa terdapat tujuh hal yang melatarbelakangi pentingnya pendidikan karakter, diantaranya yaitu :
1. Cara terbaik untuk menjamin anak-anak (murid) memiliki kepribadian yang baik dalam kehidupannya;
2. Cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
3. Sebagian murid tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat lain;
4. Persiapan murid untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam masyarakat yang beragam;
5. Berangkat dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral sosial, seperti ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran, kegiatan seksual, dan etos kerja (belajar) yang rendah; 6. Persiapan yang terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja;
dan
7. Pembelajaran nilai-nilai budaya yang merupakan bagian dari kerja peradaban.
Adapun alur paradigma pembangunan karakter bangsa di gambarkan pada bagan berikut:
Gambar 2.1 Alur Pikir Pembangunan Karakter (Jalal, F., et al 2011 : 6)
Beradasarkan pada alur kebebijakan nasional pembangunan karakter bangsa di Indonesia menunjukkan bahwa salah satu strategi yang digunakan untuk membangun karakter bangsa yaitu melalui pendidikan. Lingkup implementasinya sendiri mencakup integrasi ke dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pembiasaan dalam kehidupan keseharian di satuan pendidikan, integrasi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolah, dan penerapan pembiasaan kehidupan keseharian di rumah serta masyarakat yang sama dengan di satuan pendidikan.
Kupperman (Arthur, J., 2003 : 126) menyatakan bahwa:
Tahap-tahap dalam pendidikan karakter diantaranya yaitu melibatkan murid untuk memperoleh nilai-nilai karakter dasar yang harus tertanam kuat, melibatkan murid untuk siap dan mengadopsi nilai-nilai dalam berbagai kasus dalam perspektif kemandirian murid, dan melibatkan murid untuk turut serta membuat keputusan-keputusan tentang nilai-nilai karakter pada diri mereka.
Sedangkan tujuan dari pendidikan budaya dan karakter bangsa sendiri yaitu (Hasan, S. H., et al, 2010 : 7):
19
1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warga Negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa;
2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa;
4. Mengembakan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan.
B. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
Sekolah dasar merupakan satuan pendidikan yang menjadi salah satu lingkungan pendidikan dalam membangun fondasi kecerdasan anak. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh Akbar, S sejak tahun 2002 – 2011, ditemukan beberapa masalah yang terkait dengan pendidikan karakter di sekolah dasar (Akbar, S., 2011 : 12 - 13). Pertama, pendidikan karakter di sekolah dasar cenderung belum di bangun berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan nilai yang benar. Kedua, hampir di seluruh sekolah dasar yang di teliti belum mempunyai grand design pendidikan karakter di sekolah dasar masing-masing. Ketiga, pelaksanaan pendidikan nilai dan karakter di sekolah-sekolah dasar yang di teliti kurang mengembangkan dan peduli pada nilai-nilai kehidupan seperti kecintaan, penghargaan, kedamaian, kerjasama, kepatuhan, demokrasi dalam praktik pendidikan di sekolah dasar. Keempat, visi, misi, dan tujuan pendidikan karakter di sekolah-sekolah dasar yang di teliti cenderung kurang tersosialisasikan ke seluruh warga sekolah, serta kurang adanya komitmen bersama untuk mewujudkannya. Kelima,
berbagai tatanan yang diciptakan untuk pendidikan karakter di sekolah dasar masih di dominasi oleh guru dan kepala sekolah. Keenam, ditemukan perilaku murid, guru, dan kepala sekolah yang kurang sesuai dengan nilai-nilai kehidupan ideal di sekolah dasar. Ketujuh, banyak sekolah yang melakukan hukuman secara mekanik. Oleh karena itu, pendidikan karakter pada anak usia sekolah dasar membutuhkan perhatian yang serius oleh semua pihak terkait, terutama pihak sekolah dasar yang menjadi pusat pendidikan untuk mengembangkan pendidikan karakter secara terus menerus.
Implementasi pendidikan karakter pada anak usia sekolah dasar mutlak dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang sesuai dengan yang dicita-citakan dalam tujuan pendidikan nasional. Selain kecerdasan intelektual, penanaman karakter pada murid sekolah dasar juga perlu di bangun pada ranah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya. Hal ini dimaksudkan agar keseimbangan olah pikir, rasa/karsa, hati, dan raga pada murid dapat dibiasakan sejak usia dini. Melalui keseimbangan tersebut, murid akan termotivasi secara internal untuk terbiasa menerapkan nilai-nilai karakter positif dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter di sekolah dasar turut berperan besar dalam menciptakan generasi Indonesia yang berkarakter dan berkepribadian Pancasila. Hal ini terkait dengan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia, sehingga setiap peraturan perundang-undangan dan aturan-aturan di bawahnya yang terkait dengan pendidikan juga dilandasi oleh Pancasila. Berdasarkan pada Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar (Akbar, S., 2011 : 17), pendidikan
21
karakter di SD yang berdasar atas Pancasila memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Mempromosikan nilai-nilai efektif yang berintikan dari nilai-nilai Pancasila;
2. Nilai-nilai yang diinternalisasikan dapat membantu peserta didik memahami dan menjadi manusia yang berkarakter baik;
3. Nilai-nilai yang diinternalisasikan eksplisit pada visi, misi, tujuan, dan harapan peran masa depan sekolah;
4. Nilai-nilai yang diinternalisasikan dapat di aplikasikan dalam praktik kehidupan komunitas sekolah secara konsisten;
5. Pengembangan nilai-nilai dan karakter terjadi dalam hubungan peserta didik dengan pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan lingkungan masyarakat sebagai bagian dari sistem pendekatan utuh pendidikan karakter;
6. Nilai utama diwujudkan dengan dukungan lingkungan belajar yang kondusif dimana peserta didik dapat menggali nilai-nilai dari dirinya sendiri dan dari lingkungan belajarnya;
7. Pengembangan karakter dilakukan oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang kompeten dan patut diteladani;
8. Memfungsikan seluruh warga sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama;
9. Kepala sekolah, guru-guru, dan pengelola kantin di sekolah menjalankan kepemimpinan moral, memberi dukungan dan jaringan secara luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter;
10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter dengan prinsip paling menghargai, setara, dan memberi manfaat;
11. Pengembangan budaya sekolah dilaksanakan dengan prinsip terpadu, konsisten, menyenangkan, dan berkelanjutan;
12. Pembelajaran nilai dalam rangka pendidikan karakter dilakukan melalui pembelajaran yang berorientasi pada PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan) baik melalui program intrakurikuler maupun ekstrakurikuler;
13. Mengevaluasi pendidikan karakter di sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan sebagai pendidik karakter, dan mewujudkan karakter positif dalam kehidupan peserta didik; dan
14. Menerapkan pendekatan menyeluruh dalam implementasi pendidikan karakter di sekolah dasar.
C. Kultur Sekolah
Kata culture datang dari bahasa Latin yaitu clore, yang memiliki arti pemanfaatan tanah dan tumbuh-tumbuhan. Kata ini muncul untuk pertama kali pada abad ke-17, sebagai lawan datang secara alami, secara otomatis. Artinya, culture mewakili segala sesusatu yang diciptakan oleh manusia sendiri, bukan datang dari alam. Terminologi kultur (pengindonesiaan dari culture) sebagaimana yang dikenal dewasa ini muncul pertama kali diucapkan oleh Sir Edward Taylor, seorang ahli antropologi kebangsaan Inggris, pada tahun 1871, dengan pernyataannya bahwa kultur merupakan pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, aturan dan kebiasaan dan kemampuan lain dan perilaku yang dipelajari oleh warga masyarakat (Zamroni, 2016 : 6).
Deal dan Peterson (1999), mengemukakan bahwa pola kultur sangat berpengaruh, memiliki dampak yang kuat untuk mengembangkan kinerja, dan membentuk bagaimana cara orang berpikir, bertindak, dan merasakan. Barth (2002) menyatakan bahwa kultur merupakan suatu pola yang kompleks dari norma-norma, sikap-sikap, keyakinan-keyakinan, perilaku-perilaku, nilai-nilai, tradisi-tradisi, kebiasaan-kebiasaan, dan mitos-mitos yang menyatu secara mendalam menjadi inti dari suatu organisasi.
Salah satu faktor penentu keberhasilan penyelenggaraan proses pendidikan adalah kultur yang di bangun dengan baik. Sebagaimana Hanum, F. (2008 : 1) menyatakan bahwa, terdapat tiga aspek yang berkaitan erat dengan mutu suatu sekolah, salah satunya yaitu kultur sekolah. Perbedaan kultur sekolah secara otomatis akan membedakan prestasi murid di setiap sekolah.
23
Sebagai penjelasannya yaitu sekolah yang berhasil membangun kultur sekolah yang baik akan menghasilkan prestasi tidak hanya akademik saja tetapi juga menghasilkan kultur sekolah dengan nilai-nilai kemanusiaan karakter yang baik dibandingkan dengan sekolah yang gagal membangun kultur sekolahnya.
Deal dan Kent (Moerdiyanto, 2012 : 3) mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan sebagai warga sekolah. Dengan demikian, suatu sekolah dapat memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah kultur subordinasi. Apabila kultur subordinasi tidak sesuai atau bertentangan dengan kultur dominan, maka akan menghambat upaya pengembangan untuk menjadi sekolah bermutu. Sedangkan Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 2012 : 3) menyatakan bahwa
Kultur sekolah merupakan suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan oleh suatu kelompok tertentu dalam mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Sehingga kultur sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sekolah.
Menurut Kotter (Moerdiyanto, 2012 : 6), kultur sekolah terdiri dari dua lapisan utama yaitu lapisan yang nyata atau dapat diamati dan lapisan yang tersembunyi. Lapisan-lapisan tersebut dirinci berikut ini:
Tabel 2.1 Lapisan-Lapisan Kultur Sekolah
Lapisan Kultur Bentuk Perwujudan Keterangan
Artifak Fisik 1. Taman dan halaman yang rapi 2. Gedung yang rapi dan bagus 3. Interior ruang yang selaras
4. Sarana ruang yang bersih dan tertata
Nyata dan dapat diamati Perilaku 1. Kegiatan olahraga yang maju
2. Kesenian yang berhasil 3. Pramuka yang tersohor 4. Lomba-lomba yang menang 5. Upacara bendera
6. Upacara keagamaan Nilai dan
Keyakinan
1. Lingkungan yang bersih, indah dan asri
2. Suasana ruang dan kelas yang nyaman untuk belajar
3. Slogan-slogan motivasi: rajin pangkal pandai
Abstrak dan tersembunyi Asumsi 1. Harmoni dalam hubungan
2. Kerja keras pasti berhasil 3. Sekolah bermutu adalah hasil
kerjasama
Kultur sekolah senantiasa berproses dengan dinamika perubahan yang terjadi di setiap sekolah. Moerdiyanto (2012 : 8) menyatakan bahwa, kultur baru di sekolah dapat dilakukan dengan melalui beberapa cara, diantaranya yaitu :
1. Menghilangkan nilai kultur negatif dengan mengehentikan praktik-praktiknya,
2. Memperkenalkan praktik kultur baru dan mengaitkannya dengan elemen kultur lama yang masih relevan,
3. Memperkenalkan kultur baru dan landasan nilai-nilai yang akan dikembangkan,
4. Mengaitkan praktik-praktik baru dengan hasil yang riil, dan
5. Mensosialisasikan praktik-praktik baru dengan nilai yang diharapkan. Kultur sekolah memiliki cakupan yang sangat luas, umumnya mencakup kegiatan ritual, harapan, hubungan sosial-kultural, aspek demografi, kegiatan kurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, proses mengambil keputusan,
25
kebijakan maupun interaksi sosial antarkomponen di sekolah (Hasan, S. H., et al, 2010 : 19). Kultur sekolah merupakan suasana kehidupan sekolah tempat peserta didik berinteraksi dengan sesamanya, guru dengan guru, pegawai administrasi dengan sesamanya, dan antar anggota kelompok masyarakat sekolah. Setiap sekolah memiliki keunikan berdasarkan pola interaksi komponen warga sekolah secara internal dan eksternal. Menurut Efianingrum, A (2008 : 5), setiap sekolah mempunyai kebudayaan sendiri yang bersifat unik, memiliki aturan tata tertib, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, mars/hymne sekolah, pakaian seragam dan lambang-lambang yang lain yang memberikan corak khas kepada sekolah yang bersangkutan. Oleh karena itu, dengan memahami ciri-ciri kultur sekolah akan dapat dilakukan tindakan nyata dalam perbaikan kualitas kultur sekolah.
Interaksi internal dan antar kelompok terikat oleh berbagai aturan dan norma yang berlaku di sekolah yang dikembangkan untuk mendukung strategi-strategi pengembangan kultur sekolah. Pengembangan kultur sekolah yang dikemukakan oleh Goodlad (Moerdiyanto, 2012 : 4) melalui strategi kultural digambarkan berikut :
Gambar 2.2 Pengembangan Kultur Sekolah
Wallace dan Engel (Moerdiyanto, 2012 : 5) mengemukakan lima hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan kultur di sekolah yaitu:
1. Personal Mastery
Setiap warga sekolah selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya yang dilakukan secara sadar untuk mendukung peningkatan kualitas sekolah termasuk dalam pembentukan karakter murid.
2. Shared Vision
Visi sekolah dipahami dan disepakati oleh semua warga sekolah, sehingga semua kegiatan yang dilaksanakan bertujuan untuk kualitas sekolah.
3. Mental Model
Asumsi-asumsi tidak tampak yang terkait dengan norma, nilai, dan keyakinan warga sekolah dalam melaksanakan tugasnya.
4. Team Learning
Setiap warga sekolah harus menyadari posisinya sebagai anggota tim yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing.
5. System Thinking
Warga sekolah sebagai bagian dari masyarakat belajar harus memiliki pola pikir dimana setiap individu merupakan bagian dari keseluruhan sistem persekolahan, karena kegiatan setiap unit saling mempengaruhi.
D. Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah
Fokus permasalahan dalam implementasi pendidikan karakter, terutama dalam kultur sekolah yaitu perilaku setiap individu dalam lingkungan sekolah. Jalal, F., et al (2011 : 9) menyatakan bahwa, pada hakekatnya pendidikan karakter merupakan perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosial-kultural dalam konteks interaksi (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat.
27
Pada aktivitas sehari-hari dalam kultur sekolah diperlukan fungsi keteladanan dan aktivitas yang secara sengaja diciptakan dalam bentuk pembiasaan dan penguatan secara continue (terus-menerus) dalam kultur sekolah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui proses penugasan, pembiasaan, pelatihan, pengajaran, penghargaan, dan keteladanan. Setiap aktivitas yang dilakukan oleh setiap individu di sekolah difokuskan pada pengembangan nilai-nilai karakter dalam kultur sekolah. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan interaksi yang tercipta antar individu di lingkungan sekolah yang terikat oleh berbagai aturan dan norma yang berlaku di sekolah tersebut. Sedangkan ruang lingkup pendidikan karakternya sendiri dalam fungsi totalitas psikologis dan sosial-kultural terdiri dari proses yang saling berkaitan antara olah hati, olah pikir, olah raga, serta olah rasa, dan karsa. Kondisi tersebut digambarkan pada bagan berikut ini:
Gambar 2.3 Konfigurasi Pendidikan Karakter (Jalal, F., et al, 2011 : 9)
Implementasi pendidikan karakter pada kultur sekolah dapat diorganisasikan dan di terapkan di lingkungan sekolah dengan menggunakan strategi pemodelan (modeling), pengajaran (teaching), dan penguatan lingkungan (reinforcing) (Zuchdi, D., et al, 2011 : 152). Pemodelan sendiri membutuhkan fungsi keteladanan dari setiap pihak sekolah, yang mana figur seorang individu akan mempengaruhi individu yang lainnya. Sedangkan untuk strategi pengajaran sendiri lebih menekankan pada pembelajaran nilai-nilai karakter yang di rancang sedemikian rupa untuk ditanamkan pada diri murid. Dari dua strategi tersebut, juga diperlukan strategi penguatan yaitu berupa proses komunikasi yang dilakukan secara terus-menerus dan konsisten terhadap implementasi nilai-nilai karakter. Melalui strategi penguatan yang secara continue, penerapan nilai-nilai karakter oleh murid akan lebih mudah terbudayakan dalam kehidupan sehari-hari.
Zuchdi, D., Prasetya, Z. K., dan Masruri, M. S. (2012 : 28), menyebutkan langkah-langkah pengembangan kultur sekolah pada pendidikan karakter yaitu:
1. Menentukan nilai-nilai target yang dikembangkan,
2. Menyusun rancangan langkah-langkah pengembangan kultur sekolah, 3. Melaksanakan pengembangan kultur sekolah,
4. Mengevaluasi hasil pengembangan kultur sekolah, dan 5. Merancang kembali pengembangan kultur sekolah.
Intinya implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah tidak terlepas dari peran semua pihak di sekolah. Seorang kepala sekolah
29
mempunyai posisi strategis dalam menentukan kebijakan pendidikan karakter di sekolah. Sedangkan guru sebagai pendidik, fungsi utamanya yaitu mengeksekusi kebijakan pendidikan karakter untuk diimplementasikan kepada murid. Demikian halnya dengan peran staf di lingkungan sekolah juga turut mendukung terciptanya kultur sekolah yang sesuai dengan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah. Namun yang sering terlupakan yaitu peran murid yang selama ini hanya dijadikan objek implementasi pendidikan karakter. Padahal, murid juga dapat dilibatkan sebagai subjek dalam mengimplementasikan pendidikan karakter, terutama pada kultur sekolah. Hal ini mengingat proses interaksi dalam kultur sekolah juga terjadi antar sesama murid. Oleh karena itu, murid dapat diberikan kesempatan untuk berperan aktif untuk mensosialisasikan serta memberikan contoh kepada murid yang lain untuk membiasakan diri mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah dan murid juga layak dilibatkan dalam setiap pengambilan kebijakan sekolah dalam pendidikan karakter.
Peran dari masing-masing pihak dalam pendidikan karakter perlu memperhatikan beberapa prinsip pelaksanaan. Lickona (Astuti, S.I., et al, 2010 : 7), dalam pendidikan karakter perlu memperhatikan beberapa prinsip, diantaranya yaitu:
1. Character education in holds, as starting philosophical principle, that there are widely shared pivotelly important, core, ethical values, such as caring, honesty, fairnesss, responsibility, and respect for self and other;
2. Character must be comprehensivelly defined to include thinking, felling, and behaviour;
3. Effective character education requires an intentional, proactive, and comprehensive approach that promotes the core values in all phases of life;
4. The program enviroment must be a carrying community;
5. To delevelop character children need opportunity for moral action; 6. Effective character education include a meaningfull and challenging curiculum that respects all learners and helps them succed;
7. Character education sholud strive to develop instrinsic motivation; 8. Staff must become a learning and moral community in which all
shared responsibility for character education and attempt to adhere to same core values that guide children;
9. Character education require moral leadership;
10. Program must recruit parent and community members as full patners;
11. Evaluation of chararter education sholud assess the character of the program, the staff’s functioning as character education and the extent to which the program is effecting children.
Berdasarkan prinsip-prinsip di atas, dapat dipahami bahwa dalam pengembangan pendidikan karakter keterlibatan setiap pihak dan langkah-langkah yang di ambil harus sesuai dengan konteks kebutuhan ataupun kondisi sekolah. Sehingga dapat dimaknai bahwa kondisi kultur sekolah dalam pendidikan karakter menjadi salah satu faktor terpenting dalam pengambilan kebijakan pendidikan karakter pada suatu sekolah.
E. Kerangka Konsep
Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa merupakan pendidikan yang membentuk peserta didik memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap satuan pendidikan, termasuk sekolah dasar wajib menyelenggarakan pendidikan karakter di sekolah. Peran dari setiap warga di lingkungan sekolah sangat dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan karakter. Peran-peran tersebut mencakup pengambilan kebijakan serta implementasinya di setiap sekolah.
31
Kultur sekolah merupakan salah satu ruang lingkup implementasi pendidikan karakter di satuan pendidikan. Pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam kultur sekolah diharapkan mampu membentuk kultur sekolah yang positif. Lapisan-lapisan kultur sekolah yang menjadi area implementasi yaitu lapisan nilai dan keyakinan serta lapisan artifak. Lapisan nilai dan keyakinan diwujudkan dalam bentuk nilai-nilai karakter yang menjadi fokus implementasi dalam pendidikan karakter. Lapisan artifak diwujudkan dalam bentuk fisik berupa fasilitas-fasilitas sekolah dan dokumen sekolah. Selain itu, perwujudan lapisan artifak juga diwujudkan dalam bentuk perilaku warga sekolah melalui program-program yang telah direncanakan atau dibiasakan di sekolah.
Pendidikan karakter dapat diimplementasikan berdasarkan 18 nilai karakter berdasarkan budaya bangsa. Kementrian Pendidikan Nasional Indonesia telah merumuskan 18 nilai-nilai yang ditanamkan dalam diri warga Indonesia, khususnya murid, dalam upaya membangun dan menguatkan karakter bangsa. 18 nilai-nilai dalam pendidikan karakter tersebut, diantaranya yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Setiap satuan pendidikan dapat memodifikasi nilai-nilai sesuai kebutuhan. Hal tersebut menyesuaikan terhadap kondisi sosial budaya masyarakat yang terlayani oleh satuan pendidikan yang bersangkutan.
Berdasarkan paparan di atas, kerangka konsep dalam penelitian digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.4 Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan bagan di atas, dapat dipahami bahwa implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah dimulai dari tahap perencanaan, perencanaan pendidikan karakter tersebut mencakup penentuan nilai-nilai karakter yang akan diimplementasikan. Adapun nilai-nilai karakter yang terdapat dalam pelaksanaan yaitu 18 nilai karakter berlandaskan budaya bangsa yang akan diurutkan berdasarkan poin mana yang paling dominan dilaksanakan di sekolah. Pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan dalam kultur sekolah malalui program-program sekolah yang telah direncanakan dan di dukung dengan fasilitas sekolah dan dokumen yang ada di sekolah.
33 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kultur Sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupeten Maros” ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini berupaya untuk memperoleh gambaran mengenai implementasi pendidikan karakter dalam kultur SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupeten Maros.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan SD Negeri 70 Manjalling yang beralamat di Dusun Manjalling, Desa Bonto Bunga, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan.
Penentuan lokasi tersebut dilakukan melalui pertimbangan dari hasil observasi pra penelitian. Pertimbangan tersebut yaitu SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros ini merupakan salah satu sekolah dasar yang berkomitmen menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik. Proses pembiasaan-pembiasaan murid terhadap nilai-nilai karakter di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros merupakan alasan utama dipilihnya lokasi penelitian ini. Melalui pemilihan lokasi penelitian ini, pertimbangan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan
best practice penyelenggaraan pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros.
C. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tentang implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupeten Maros. Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik purposive-sampling yang dimaksudkan untuk memperoleh data yang lebih fokus dan terarah dari setiap subjek yang relevan. Penggunaan teknik tersebut dalam menentukan subjek penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi seseorang yang memiliki kriteria sebagai key-informan (narasumber utama), dalam penelitian ini yaitu Kepala SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupeten Maros. Selain itu juga ditentukan informan utama dari pihak guru, dalam hal ini yaitu satu guru di kelas tinggi, satu guru di kelas rendah, dan satu guru Pendidikan Agama Islam. Penetuan subjek tersebut didasarkan pada kebutuhan data melalui variasi karakteristik pendidikan di sekolah dasar yang dapat dibedakan dalam kelas tinggi (IV, V, dan VI) dan kelas rendah (I, II, dan III). Untuk guru Pendidikan Agama Islam di pilih berdasarkan kelengkapan data yang ingin diperoleh secara mendalam mengenai kegiatan keagamaan terkait dengan nilai religius di sekolah.
Subjek penelitian yang menjadi informan pendukung yaitu murid, orang tua, dan warga di lingkungan sekitar sekolah. Subjek penelitian dari pihak murid sendiri terdiri dari dua murid berprestasi di kelas tinggi karena dianggap
35
peneliti lebih memahami kondisi sekolah terkait dengan lamanya mereka menempuh studi di sekolah. Disamping itu juga di pilih subjek penelitian dari murid yang telah memiliki akumulasi poin pelanggaran tata tertib paling banyak di sekolah. Dalam hal ini terpilih satu murid di kelas rendah. Penentuan subjek tersebut bertujuan untuk mendapatkan variasi data dari pihak murid yang dianggap susah untuk ditanamkan nilai-nilai karakter.
Informan pendukung yang lain yaitu orang tua murid dipilih satu orang tua yang memiliki dua anak yang kedua-duanya belajar di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupeten Maros. Untuk melengkapi data dari orang tua murid juga dilakukan wawancara dengan orang tua. Informan pendukung yang lain yaitu penjual makanan di kantin sekolah. Informan tersebut merupakan perwakilan dari pihak warga lingkungan sekitar sekolah yang dianggap memiliki pemahaman terhadap kondisi SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupeten Maros dalam kurun waktu yang sudah lama.
D. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui beberapa teknik pengumpulan data kualitatif. Teknik-teknik yang digunakan yaitu teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.
1. Teknik Wawancara Mendalam
Teknik wawancara mendalam dilakukan kepada para narasumber yang ditentukan melalui teknik purposive-sampling dalam hal ini yaitu kepala sekolah, guru, murid, orang tua murid, dan warga di lingkungan
sekitar SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Teknik wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data secara langsung dari narasumber tentang implementasi pendidikan karakter dalam kultur sekolah di SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Dalam pelaksanaan teknik wawancara ini diperlukan instrumen berupa pedoman wawancara sebagai pedoman dalam pengumpulan data. 2. Teknik Observasi
Teknik observasi pada penelitian ini dilakukan pada setting penerapan pendidikan karakter pada kultur SD Negeri 70 Manjalling Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Teknik tersebut dilakukan setelah melalui proses perekaman data awal yaitu data hasil wawancara dengan key-informan beserta rekomendasi objek-objek observasi. Observasi di lakukan untuk memperoleh data mengenai fasilitas dan dokumen pendukung pendidikan karakter dalam kultur sekolah serta proses pelaksanaan pembiasaan nilai-nilai karakter di sekolah. Pada penggunaan teknik observasi ini menggunakan instrumen berupa lembar observasi yang dikembangkan dari kisi-kisi instrumen.
3. Teknik Dokumentasi
Teknik dokumentasi ini berupa perekaman data berupa objek gambar atau peristiwa, maupun dokumen arsip. Untuk data berupa gambar dapat diperoleh dengan mengambil objek gambar pada berbagai situasi yang sesuai dengan data yang dikumpulkan. Demikian halnya dengan perekaman data berupa dokumen-dokumen sekolah untuk melengkapi dan memperkuat
37
data yang telah didapatkan dari teknik wawancara mendalam dan teknik observasi.
E. Instrumen Penelitian
Data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi digunakan beberapa instrumen pengumpulan data. Untuk teknik wawancara mendalam digunakan instrumen berupa pedoman wawancara, teknik observasi menggunakan lembar observasi, dan teknik dokumentasi mengunakan alat perekam data.
1. Pedoman Wawancara
Dalam pelaksanaan teknik wawancara diperlukan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara sebagai alat untuk mengumpulkan data melalui teknik tersebut. Pedoman wawancara yang disusun yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan wawancara yang bersifat unstructured-interview agar data dapat dikumpulkan secara komperhensif. Pedoman wawancara ini digunakan untuk memperoleh data dari narasumber diantaranya yaitu kepala sekolah, guru, murid, orang tua murid, dan warga di sekitar lingkungan sekolah. Pertanyaan-pertanyaan dalam teknik wawancara disusun berdasarkan kisi-kisi instrumen yang telah dibuat oleh peneliti. Kisi-kisi pedoman wawancara termasuk sumber informasi yang ditentukan yaitu sebagai berikut: