• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUGATAN PENGGUGAT MELAMPAUI TENGGANG WAKTU YANG DITENTUKAN UNDANG-UNDANG

GUGATAN PENGGUGAT MENYALAHI KEWENANGAN MENGADILI KOMPETENSI ABSOLUT

D. GUGATAN PENGGUGAT MELAMPAUI TENGGANG WAKTU YANG DITENTUKAN UNDANG-UNDANG

1. Bahwa gugatan yang diajukan oleh Penggugat dimaksud sudah

melampaui waktu 90 hari (daluwarsa) sebagaimana diatur pasal 55 UU PTUN, karena bahwa apa yang digugat dan dipermasalahkan oleh Penggugat terhadap Tergugat adalah berupa Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses.---

Halaman 37dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. 2. Bahwa berdasarkan posita Gugatan A quo, Bagian No. 1 pada halaman 3, Penggugat menginginkan Gugatan A quo diperlakukan sebagai “gugatan perwakilan” dan karenanya Penggugat menginginkan diperlakukan sebagai “organisasi yang merupakan wakil dari anggota kelompok masyarakat”, serta di tambah lagi dalil posita Gugatan A quo, Bagian No. 3 pada halaman 5, Penggugat mendalilkan bahwa Penggugat baru mengetahui infomasi mengenai obyek perkara A quo pada tanggal 1 Februari 2016 dari masyarakat. Namun terhadap hal ini dapat Tergugat tegaskan bahwa terkait dengan Gugatan Penggugat dalam Perkara A quo dengan obyek perkara berupa Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses adalah sudah dan Pernah diketahui oleh Masyarakat.--- 3. Bahwa masyarakat dimaksud adalah mereka-mereka yang ikut

dalam acara Sosialisasi Kegiatan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses di Kecamatan Muara Wis, Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara tanggal 24 Mei 2006. 4. Dengan demikian bahwa sesuai Fakta menunjukan bahwa sejak

tanggal 24 Mei 2006 Penggugat setidak-tidaknya sudah mengetahui keberadan Obyek Perkara A quo dalam acara Sosialisasi Kegiatan Perkebunan Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses di Kecamatan Muara Wis, Kecamatan Muara Muntai Kabupaten

Kutai Kartanegara tersebut yang dihadiri oleh masyarakat sekitar areal Perkebunan yang tidak bisa Tergugat sebutkan satu persatu dan Perangkat Desa setempat, dimana Ketua Badan Pengurus Harian LSM Badak yang menurut Gugatan A quo beralamat di Jakarta Selatan secara Logika tidaklah mungkin terkait Perijinan yang dimiliki oleh dan/ atau yang diterbitkan Tergugat kepada PT. Jaya Mandiri Sukses karena berasal dari masyarakat luar yang tidak ada kaitannya dengan keberadaan PT. Jaya Mandiri Sukses. Serta terkait dengan dalil posita Gugatan A quo, Bagian No. 3 pada halaman 5 yang menyatakan bahwa Penggugat mengetahui keberadaan Obyek Perkara A quo seakan-akan baru pada tanggal 1 Februari 2016 lewat Internet, hal itu adalah akal-akalan dari Penggugat dalam Penerobosan Hukum untuk menghindari persyaratan terkait Tenggang waktu 90 hari untuk bisa mengajukan Gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda sebagaimana diatur pasal 55 UU PTUN, sedangkan sesuai fakta di atas informasi mengenai obyek Perkara A quo sudah didapat dari masyarakat yang nota bene ikut dalam acara sosialisasi tersebut.--- 5. Bahwa dengan demikian gugatan Penggugat A quo sudah masuk kategori melampaui waktu 90 hari (kadaluwarsa), hal mana sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur pasal 55 UU PTUN, Vide Surat Edaran Mahkamah Agung R.I. No. 2 Tahun 1991 Bab.V angka 3.--- DALAM POKOK PERKARA ;--- 1. Bahwa TERGUGAT menolak semua dalil-dalil Para Penggugat

Halaman 39dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. 2. Bahwa hal-hal yang telah dikemukakan oleh TERGUGAT dalam bagian Eksepsi sekaligus Jawaban Tergugat mohon dianggap satu kesatuan yang tidak terpisahkan termasuk juga dalam pokok perkara ini;--- 3. Bahwa berdasarkan Asas Hukum Publik (Hukum Administrasi

Negara), yaitu ASAS PRAESUMPTIO IUSTAE CAUSA/VERMOEDEN VAN RECHTMATIG (Asas Keabsahan Keputusan Pemerintah), yang menegaskan bahwa suatu tindakan/ keputusan pemerintah harus tetap dianggap sah sebelum ada Pembatalan atau Pencabutan.--- 4. Bahwa memang benar bahwa apa yang diuraikan oleh Penggugat

dalam gugatannya sebatas dalil-dalil yang menyatakan bahwa Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses adalah Produk Tata Usaha Negara yang diterbitkan oleh Tergugat; 5. Bahwa terhadap Penerbitan Obyek perkara berupa Surat

Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses

adalah sudah Sah dan tidak melanggar Kepentingan Hukum Penggugat, dan diterbitkan sesuai dengan Prosedur yang berlaku; 6. Bahwa dengan demikian, maka kegiatan Usaha Budidaya

Perkebunan Kelapa Sawit atas nama PT. Jaya Mandiri Sukses yang terletak di Kecamatan Muara Wis, Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara adalah tetap sah menurut hukum dan peraturan perundang-undangan.--- 7. Bahwa dasar Hukum TERGUGAT dalam menerbitkan semua Ijin

Perkebunan kepada PT. Jaya Mandiri Sukses adalah berdasarkan atas ketentuan Perda Kabupaten Kutai Kartanegara No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha Perkebunan di Kabupaten Kutai dan Undang-undang No. 14 Tahun 2004 tentang Perkebunan.---

8. Bahwa oleh karena dalam penerbitkan Obyek perkara berupa Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses adalah sah, maka Tergugat memproses adanya Perijinan-perijinan lainnya yang meliputi diantaranya adalah diterbitkannya Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/39/SK-DISBUN KUKAR/XII/2006 tanggal 13 Desember 2006 tentang Ijin Pembukaan Lahan/ Land Clearing dan diterbitkannya Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/56/SK-DISBUN

Halaman 41dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. KUKAR/X/2007 tanggal 05 Oktober 2007 tentang Pemberian Perpanjangan Ijin Pembukaan Lahan/ Land Clearing Kepada PT. Jaya Mandiri Sukses;--- 9. Bahwa Penggugat dalam mendapatkan Informasi sebagaimana

dituangkan dalam formulasi Gugatan A quo adalah hanya berdasarkan Informasi dari Masyarakat pada tanggal 1 Februari 2016, yang mana setelah mendapatkan informasi dari masyarakat maka Penggugat berdasarkan Surat Tugas dari Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Barisan Anak Dayak tanggal 2 Februari 2016 langsung memerintahkan terhadap LSM BADAK untuk melakukan Investigasi dan juga melakukan pengecekan lapangan pada tanggal 6 Februari 2016 (vide dalil Penggugat dalam posita Gugatannya, Bagian No. 5 dan 6 pada halaman 7 sampai dengan 9. --- Bahwa Hasil Investigasi yang dilakukan oleh LSM BADAK dan hasil pengecekan di lapangan terhadap areal yang dikelola oleh PT. Jaya Mandiri Sukses merupakan hasil Investigasi dan pengecekan yang tidak Sah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan dimuka Hukum serta tidak dapat diterima, dengan alasan-alasan berikut:--- a. Bahwa Landasan Penggugat dalam hal ini sebagaimana didalilkan dalam Gugatan A quo adalah Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang dijadikan dasar bagi Penggugat dalam mengajukan Gugatan ini, namun tidak ada satu pasal dalam Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan yang memberikan

wewenang kepada masyarakat atau kelompok untuk melakukan tugas Investigasi atau pengecekan lapangan dimaksud, dan sesuai isi pasal 71 Undang-undang No. 41 tahun 1999, masyarakat hanya berhak mengajukan gugatan Perwakilan ke Pengadilan dan/ atau melaporkan ke PENEGAK HUKUM terhadap adanya Kerusakan Hutan yang merugikan masyarakat;--- b. Bahwa hasil investigasi sebagai tindak lanjut dari Perintah

yang didasarkan pada Surat Tugas Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Barisan Anak Dayak tanggal 2 Februari 2016 dan hasil pengecekan lapangan, yang mana kemudian hasil investigasi maupun pengecekan tersebut dijadikan alasan hukum adalah sungguh merupakan hal yang aneh atau luar biasa, karena sesuai Pasal 77 Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, tidak pernah ada kewenangan yang diberikan kepada Penggugat untuk memerintahkan atau melakukan investigasi ataupun pengecekan lapangan, dan jika investigasi ataupun pengecekan lapangan ini dapat diterima maka hal tersebut dapat dikualifikasikan sebagai Perambahan tugas PENYIDIKAN yang akan merusak Pranata Hukum dan tatanan Hukum Negara Republik Indonesia;--- c. Bahwa terkait dengan Pengrusakan dan Perambahan

Hutan, serta sesuai kewenangan yang diberikan Pasal 71 Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, Penggugat hanya dapat mengajukan gugatan perwakilan

Halaman 43dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. ke pengadilan terkait dengan pengelolaan hutan dan menunggu sampai adanya putusan pengadilan yang mengikat, dan/atau melaporkan pada penegak hukum sampai adanya putusan pengadilan yang mengikat.--- 10. Bahwa Tergugat menolak dengan tegas terhadap kegiatan

“investigasi” ataupun “pengecekan di lapangan” yang dilakukan oleh Penggugat terhadap keberadaan PT. Jaya Mandiri Sukses yang terletak di Kecamatan Muara Wis, Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara, yang mana kegiatan “investigasi” ataupun “pengecekan di lapangan” yang dilakukan oleh atau atas dasar perintah dari Penggugat sebagaimana dimaksud adalah tidak mempunyai dasar hukum, serta Penggugat tidak memiliki kewenangan untuk melakukan kegiatan tersebut, karena Tergugat dalam menerbitkan semua Perijinan telah sesuai Prosedur, lebih-lebih Penggugat dalam hal ini tidak mempunyai hubungan hukum dengan PT. Jaya Mandiri Sukses apalagi dengan Tergugat yang telah menerbitkan Obyek perkara A quo.--- 11. Bahwa tidak benar dengan diterbitkannya Keputusan Tata Usaha

berupa Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses oleh Tergugat yang dijadikan Obyek perkara A quo, serta juga tidak benar telah dilakukan Perambahan Hutan dan Pengrusakan

Kawasan Hutan oleh PT. Jaya Mandiri Sukses, yang pada akhirnya telah mengakibatkan Penggugat kehilangan peluang untuk memanfaatkan hasil hutan ataupun kehilangan kesempatan dalam memanfaatkan Kwalitas Hidup yang dihasilkan Hutan sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan Pasal 23.--- Bahwa, terkait dengan hal di atas tuduhan adanya Perambahan Hutan dan Pengrusakan Kawasan Hutan yang didalilkan oleh Penggugat dalam Gugatan A quo (vide dalil posita Bagian No. 5 sampai dengan 9) adalah perlu dilakukan pemeriksaan kebenarannya pada lingkungan Peradilan yang berbeda pula dan bukan di Pengadilan Tata Usaha Negara. Sedangkan Penggugat tidak memiliki kewenangan apapun untuk menentukan atau memutuskan ada atau tidaknya perambahan hutan atau pengrusakan kawasan hutan, terlebih lagi sampai menyimpulkan ada atau tidaknya pelanggaran atas Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. --- Bahwa, terlebih lagi Penggugat tidak dapat menyimpulkan mengenai ada atau tidaknya usaha perkebunan dalam “kawasan hutan” seperti yang didalilkan oleh Penggugat dalam Gugatan A quo (vide dalil posita Bagian No. 8), karena Penggugat tidak memiliki kewenangan untuk menentukan wilayah kawasan hutan sebagaimana sesuai dengan definisi “kawasan hutan” berdasarkan Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan jo. Undang-undang No. 19 tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999

Halaman 45dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. tentang Kehutanan Menjadi Undang-undang jo. Putusan Mahkamah Konstitusi Perkara No. 45/PUU-IX/2011 tanggal 21 Februari 2012.--- Bahwa, dengan tidak adanya kewenangan apapun bagi Penggugat untuk (i) menentukan atau memutuskan ada atau tidaknya perambahan hutan atau pengrusakan kawasan hutan, (ii) menyimpulkan ada atau tidaknya pelanggaran atas Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan (iii) menyimpulkan mengenai ada atau tidaknya usaha perkebunan dalam “kawasan hutan”, sebagaimana telah diuraikan di atas, maka alasan-alasan dan/ atau sandaran Bagi Penggugat untuk mendalilkan adanya kerugian atas kepentingannya yang didasarkan pada Pasal 53 Ayat (1) UU PTUN akibat terbitnya Obyek perkara berupa Surat Keputusan Bupati Kutai Kartanegara No. 503/11/SK-DISBUN KUKAR/XII/2005 tanggal 21 Desember 2005 tentang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan Komoditi Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses dan Surat Keputusan Bupati Kutai Kartangara No. 525/03/IUP-P/DPK.IV/2012 tanggal 5 Juni 2012 tentang Ijin Usaha Perkebunan untuk Pengolahan (IUP-P) PT. Jaya Mandiri Sukses adalah sangat tidak beralasan dan merupakan akal-akalan Penggugat yang ingin memutar-balikan fakta sebenarnya, karena terhadap terbitnya Obyek perkara dimaksud adalah tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku;--- 12. Bahwa terhadap Penerbitan Obyek perkara A quo telah memenuhi

Pasal 5 Ayat (1) Undang-undang No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang jo. Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang

Penataan Ruang, yang mana hal tersebut telah dibuktikan Tergugat dalam memproses dan menyetujui Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup Pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses yang terletak di Desa Lebak Cilong, Lebak Mantan, Sebemban (Kec. Muara Wis) dan Muara Leka, Perian, Kayu Batu, Muara Aloh (Kec. Muara Muntai) yang disetujui pada tanggal 24 April 2007 dengan registrasi No. 660.1/SK-XIII/B.1/BPDL/2007. --- 13. Bahwa dengan demikian dalil Penggugat adalah REKAYASA

SEMATA dan PENUH KEBOHONGAN, jelas-jelas tidak ada HAK Penggugat yang dilanggar sebagaimana dimaksud Pasal 53 UU PTUN yang “merasa Kepentingannya dirugikan oleh Suatu Keputusan Tata Usaha Negara …….. dst” . Kepentingan itu harus bersifat langsung adalah Kepentingan Penggugat sendiri.--- Bahwa jelas belum ada Kepentingan Penggugat yang terlanggar dalam Perkara A quo, sehingga Penggugat tidak dapat berbuat atas namanya kalau sesungguhnya hal itu mengenai Kepentingan Orang lain yang berarti Untuk dianggap sebagai orang yang berkepentingan Penggugat harus mempunyai Kepentingan Sendiri untuk mengajukan Gugatan.--- 14. Bahwa Gugatan Penggugat harus ditolak karena bahwa Obyek

perkara A quo yang diberikan kepada PT. Jaya Mandiri Sukses telah DITERBITKAN BERDASARKAN PROSEDUR dan SUBSTANSI YANG BENAR DAN TELAH MELALUI TAHAPAN URUTAN PERIJINAN YANG SESUAI DENGAN ketentuan Pasal 7

Halaman 47dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. Ayat (1), Pasal 25 Ayat (3), Undang-Undang No.18 Tahun 2004 tentang Perkebunan jo. Pasal 3, Pasal 4, Pasal 7 Ayat (3) Pasal 9 Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha Perkebunan di Kabupaten Kutai serta telah sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 26/Permentan/OT.140/2/2007 tentang Pedoman Perijinan Usaha Perkebunan.--- Berdasarkan uraian-uraian sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka jelas terbitnya Perijinan yang diberikan Kepada PT. Jaya Mandiri Sukses yang dipersoalkan oleh PENGGUGAT dalam Gugatannya TELAH SESUAI DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN, BAIK DARI SEGI KEWENANGAN, PROSEDUR ATAU PERSYARATAN, MAUPUN DARI SEGI SUBSTANSINYA BERDASARKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN PERKEBUNAN, KHUSUSNYA DALAM KETENTUAN UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2004 JO. PERATURAN DAERAH KUTAI KARTANEGARA NOMOR 35 TAHUN 2000 SEBAGAIMANA TELAH DISEBUTKAN DI ATAS;--- Dengan demikian apa yang telah Bupati Kutai Kartanegara/ Tergugat Pedomani, tidak ada perbuatan melawan Hukum dan semua sudah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan tidak melanggar asas-asas umum pemerintahan yang baik dan benar;--- Bahwa sebagai warga negara yang baik tentu kita semua selalu taat dan patuh terhadap Peraturan Perundang-undangan yang berlaku serta memiliki hak yang sama di muka Hukum, sehingga tidak ada yang dibeda-bedakan antara yang satu dengan yang

lainnya, dengan demikian kita memiliki kedudukan yang sama dimuka hukum;--- Bahwa demikian pula dengan apa yang didalilkan Penggugat pada halaman 15 Bagian No. 12 perlu Tergugat menolaknya, karena bahwa “Tergugat tidak ada dasar Hukum untuk melakukan Pencabutan terhadap Perijinan PT. Jaya Mandiri Sukses di Kecamatan Muara Wis, Kecamatan Muara Muntai Kabupaten Kutai Kartanegara”, mengingat tidak adanya Pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Jaya Mandiri Sukses dalam menjalankan ussahanya dibidang Perkebunan Kelapa Sawit;--- Bahwa terhadap Pencabutan suatu Perijinan dalam Perkara A quo tentu wajib mempedomani Peraturan yang ada diantaranya yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha Perkebunan di Kabupaten Kutai Pasal 10 Ayat (1) dan Ayat (2).--

Ayat (1) Ijin Usaha Perkebunan berakhir apabila :--- a. Telah habis masa berlakunya dan

Perusahaan tidak mengajukan Permohonan Perpanjangan;--- b. Dicabut dengan alasan Hukum yang telah

memperoleh kekuatan Hukum tetap;--- c. Tidak melaksanakan/ memenuhi persyaratan

seperti tercantum dalam Pasal 8 Ayat (1) huruf a sampai dengan d;--- Ayat (2) Pencabutan sebagaimana Pasal 10 Ayat (1)

Halaman 49dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. Peringatan sebanyak 3 ( tiga) kali berturut-turut dengan selang waktu 3 (tiga) bulan.--- Oleh karena dengan mempedomani dari ketentuan tersebut diatas yang nyata-nyata PT. Jaya Mandiri Sukses tidak terdapat adanya pelanggaran terhadap pengurusan perijinan dan pelaksanaan di lapangan, dengan demikian Tergugat selaku Pemberi Ijin Perkebunan tidak ada kewajiban Hukum untuk mencabut terkait Perijinan PT. Jaya Mandiri Sukses malahan Tergugat justru berterimakasih Kepada PT. Jaya Mandiri Sukses yang telah berkenan menanamkan investasinya di Kabupaten Kutai Kartanegara serta bisa mengurangi adanya pengangguran yang pada akhirnya dapat memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar areal Perkebunan serta telah terlaksananya Program Plasma di PT. Jaya Mandiri Sukses. ----

Bahwa disamping itu juga dapat meningkatkan Penerimaan Daerah berdasarkan Pasal 33 Ayat (1) dan Ayat (2) Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha Perkebunan di Kabupaten Kutai:--- Ayat (1) “Setiap Pemegang Ijin Usaha Budidaya Perkebunan dan Ijin Usaha Industri Perkebunan wajib menyetor sebesar 5 % (lima persen) setiap tahun dari laba bersih hasil usaha Kepada Pemerintah Daerah”;--- Ayat (2) “Penerimaan daerah sebagaimana tersebut dalam

digunakan untuk biaya Pembinaan dan Pengawasan

kegiatan Sub. Sektor Perkebunan setiap tahun”.--- Bahwa berkaitan dengan Gugatan Penggugat hanyalah

merupakan dalil yang tidak ada dasar hukum yang ditujukan kepada Tergugat, dalam hal ini Bupati Kutai Kartanegara selaku Pemberi Ijin Perkebunan berdasarkan kewenangan yang ada padanya yang sudah dan telah sesuai Prosedur, bahkan sebelum Ijin Perkebunan itu terbit terlebih dahulu perlu adanya pertimbangan teknis dari instansi terkait, baik itu dari sisi prosedur, substansi dan kewenangan, sehingga sampai terbitnya suatu Produk Tata Usaha Negara seperti Obyek Perkara A quo.--- Bahwa Tergugat dalam memberikan suatu Perijinan kepada semua Badan Hukum Perdata yang bergerak dibidang Usaha Komoditi Perkebunan Kelapa Sawit, selalu melakukan Pengawasan dan Perlunya Pembinaan kepada Para Pengusaha Perkebunan yang pada khususnya Perkebunan Kelapa Sawit (vide Pasal 33 Ayat (2) Perda No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha Perkebunan di Kabupaten Kutai.--- 15. Bahwa tidak benar apa yang didalilkan oleh Penggugat

sebagaimana tersebut pada Bagian No. 13 dalam gugatan A quo, mengingat Tergugat dalam hal melaksanakan tugas dibidang Pemerintahan khususnya yang berkaitan dengan terbitnya Keputusan Ijin Perkebunan selalu berpedoman serta mengacu kepada ketentuan hukum yang terdapat dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan Jo. Perda No. 35 Tahun 2000 tentang Pelaksanaan dan Prosedur Pemberian Ijin Usaha

Halaman 51dari 92 halaman perkara No.04/G/LH/2016/PTUN.SMD. Perkebunan di Kabupaten Kutai, sehingga dengan demikian apa yang telah dilakukan oleh Tergugat dengan menerbitkan Surat Keputusan Obyek Perkara A Quo adalah sudah berdasarkan Prosedur dan Substansi yang benar dan telah melalui tahapan urutan perijinan yang sesuai dengan peraturan dan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku, dan juga Keputusan telah sesuai dengan asas yang dianut yaitu adanya, kepastian hukum, Tertib Penyelenggaraan Negara, Keterbukaan, proporsionalitas, profesionalitas dan akuntabilitas;--- Bahwa terbitnya Obyek perkara A quo terkait dengan Perijinan yang diberikan Kepada PT. Jaya Mandiri Sukses yang dipersoalkan oleh PENGGUGAT dalam Gugatannya TELAH SESUAI DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN, BAIK DARI SEGI KEWENANGAN, PROSEDUR ATAU PERSYARATAN, MAUPUN DARI SEGI SUBSTANSINYA SEBAGAIMANA TELAH DISEBUTKAN DI ATAS;---

Dengan demikian apa yang telah dijalankan oleh Bupati Kutai Kartanegara/ Tergugat pedomani, tidak ada pelanggaran terhadap Undang-undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme serta Azas-Azas Umum Pemerintahan Yang Baik (AUPPB) dan memang Benar semua sudah sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku dan tidak melanggar Asas-asas Umum Pemerintahan yang baik dan Benar; Bahwa dapat disimpulkan: Pertama: terhadap terbitnya obyek perkara A quo telah melalui pertimbangan yang cukup dan kajian

teknis dari Instansi terkait, Kedua: terbitnya obyek perkara A quo sudah mempertimbangkan dari beberapa aspek baik itu aspek ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan, sehingga akan mengedepankan kepentingan masyarakat khususnya penduduk sekitar area Perkebunan Kelapa Sawit PT. Jaya Mandiri Sukses tanpa mengesampingkan fungsi aspek-aspek lainnya, Ketiga: semua elemen masyarakat wajib berpartisipasi dalam melangsungkan kelestarian hutan demi untuk kepentingan umum.

Berdasarkan apa yang Tergugat uraikan tersebut diatas, maka sangat beralasan hukum apabila Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini berkenan kiranya memberikan putusan sebagai berikut :--- DALAM EKSEPSI :---

1. Mengabulkan Eksepsi TERGUGAT untuk seluruhnya;--- 2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima seluruhnya

(Niet Onvanklijke Verklaard);---

Dokumen terkait