• Tidak ada hasil yang ditemukan

GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK DI INDONESIA

Actions) dan bagaimana pengaturannya berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 Tahun 2002.

BAB IV : PENERAPAN GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK DI INDONESIA

menguraikan penerapan Gugatan Perwakilan Kelompok dalam praktek peradilan Indonesia berupa analisis kasus.

BAB V : KESIMPULAN SARAN

sebagai bab penutup berisi kesimpulan dan saran. Perlu pembaharuan Peraturan Perundang-Undangan seperti hukum acara perdata yang dapat mengatur tentang mekanisme Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) dalam penerapan di Peradilan Indonesia.

BAB II

PERKEMBANGAN GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK (CLASS ACTIONS)

1. Definisi Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions)

Beberapa definisi yang mencoba menjelaskan istilah Class Actions, baik menurut kamus hukum, peraturan perundang-undangan maupun dari ahli hukum antara lain sebagai berikut :

a. Black’s Law Dictionary :

Class actions adalah sekelompok besar orang yang berkepentingan dalam suatu perkara, satu atau lebih dapat menuntut atau dituntut mewakili kelompok besar orang tersebut tanpa perlu menyebut satu peristiwa satu anggota yang diwakili.14

Class Actions adalah gugatan yang diajukan oleh seseorang atau lebih anggota kelompok masyarakat mewakili seluruh anggota kelompok masyarakat.

b. Gloritier Multi Media Encyclopedia :

15

c. Menurut Undang-Undang Nomor : 23 Tahun 1997 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang telah diubah menjadi Undang – Undang Nomor : 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

14

Emerson Yuntho, Class Actions suatu pengantar, seri bahan bacaan untuk pengacara X Tahun 2005. Hal. 1.

15 Ibid.

Class Actions adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan, fakta hukum dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

d. Menurut Mas Acmad Santosa

Class Actions atau Gugatan Perwakilan (kelompok) merupakan prosedur beracara dalam perkara perdata yang memberikan hak prosedural terhadap satu atau sejumlah orang (jumlah yang tidak banyak) bertindak sebagai penggugat untuk memperjuangkan kepentingan para penggugat itu sendiri dan sekaligus mewakili kepentingan ratusan, ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan orang lainnya yang mengalami kesamaan penderitaan atau kerugian. Orang (tunggal) atau orang-orang yang lebih dari satu (jamak) yang tampil sebagai penggugat disebut sebagai wakil kelas (Class Representative), sedangkan sejumlah orang banyak yang diwakilinya disebut sebagai Class Members.16

Di Indonesia terminologi Class Actions diubah menjadi gugatan perwakilan kelompok. PERMA RI Nomor : 1 Tahun 2002 merumuskan gugatan perwakilan kelompok sebagai suatu tata cara pengajuan gugatan dalam mana satu orang atau lebih yang mewakili kelompok mengajukan gugatan untuk diri atau diri-diri mereka sendiri dan sekaligus mewakili e. PERMA RI Nomor : 1 Tahun 2002 Tentang Acara Gugatan Perwakilan

Kelompok

16

Mas Acmad Santosa, Amanda Cornwall, Slaeman N Sembiring, Boedi. Wijardjo,

sekelompok orang yang jumlahnya banyak, yang memiliki kesamaan fakta atau dasar hukum antara kelompok dan anggota kelompok dimaksud.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan pada prinsipnya gugatan Class Actions adalah suatu gugatan perdata yang diajukan oleh satu orang atau lebih yang mewakili kelompok yang dirugikan untuk mengajukan gugatan ke pengadilan karena adanya kesamaan fakta dan dasar hukum antara satu orang atau lebih yang mewakili kelompok dengan kelompok yang diwakili.17

17

Emerson Yuntho, Op. Cit, Hal. 1

Masih banyak kalangan praktisi hukum yang mencampur adukkan antara pengertian gugatan perwakilan kelompok (Class Actions) dan konsep hak gugat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sebenarnya gugatan perwakilan kelompok dan hak gugat organisasi (Legal Standing) memiliki perbedaan konseptual. Perbedaan yang paling prinsip adalah terletak pada subjek hukum yaitu pihak yang mengajukan gugatan ke pengadilan.

Pada gugatan perwakilan kelompok (Class Actions) penggugat (subjek hukum) adalah orang-orang atau manusia yang berjumlah 1 (satu) orang atau lebih sebagai unsur wakil kelas atau wakil kelompok (Class Representative) dan anggota kelas atau anggota kelompok yang pada umumnya berjumlah besar (Class Members). Baik wakil kelompok maupun anggota kelompok pada umumnya merupakan pihak korban atau yang mengalami kerugian nyata.

Sedangkan dalam konsep Legal Standing, lembaga swadaya masyarakat sebagai penggugat bukan sebagai pihak korban atau yang mengalami kerugian nyata. Namun karena kepentingannya ia mengajukan gugatannya, misalnya lembaga swadaya masyarakat sebagai penggugat mewakili kepentingan perlindungan lingkungan hidup yang perlu diperjuangkan karena posisi lingkungan hidup sebagai ekosistem sangat penting. Karena lingkungan hidup tidak dapat memperjuangkan kepentingannya sendiri karena tidak dapat berbicara sehingga perlu pihak yang memperjuangkan. Jadi pihak yang dapat mengajukan Legal Standing

hanyalah Lembaga Swadaya Masyarakat atau kelompok organisasi yang memiliki syarat-syarat tertentu.

Perbedaan lain antara Class Actions dengan Legal Standing adalah perihal tuntutan ganti rugi dalam Class Actions pada umumnya adalah ganti rugi berupa uang sedangkan dalam Legal Standing tidak dikenal tuntutan ganti kerugian uang, tuntutannya hanya berupa permintaan pemulihan atau tuntutan berupa perintah pengadilan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bersifat deklaratif. Ganti rugi hanya dapat dimungkinkan sepanjang atau terbatas pada biaya yang dikeluarkan oleh organisasi tersebut.

Dalam hukum di Indonesia tidak ditemukan definisi secara jelas dan rinci mengenai pengertian Legal Standing. Definisi secara bebas dari Legal Standing adalah suatu tata cara pengajuan gugatan secara perdata yang dilakukan oleh satu atau lebih lembaga swadaya masyarakat yang memenuhi

syarat atau suatu tindakan atau perbuatan atau keputusan orang-perorangan atau lembaga atau pemerintah yang telah menimbulkan kerugian bagi masyarakat.18

Tidak semua organisasi atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang dapat mengajukan Hak Gugat (Legal Standing). Untuk bidang lingkungan hidup menyebutkan bahwa hanya organisasi lingkungan hidup / Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan hidup yang memenuhi beberapa persyaratan yang dapat mengajukan gugatan Legal Standing

yaitu

Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan, organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Hak mengajukan gugatan tersebut terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan gugatan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi kecuali biaya atau pengeluaran riil.

19

18

Emerson Yuntho, Class Actions suatu pengantar, seri bahan bacaan untuk pengacara X Tahun 2005, Hal. 8.

19

Ibid. Hal. 9.

:

a. Berbentuk badan hukum atau yayasan.

b. Dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. c. Telah melaksanakan kegiatan susuai dengan anggaran dasar.

2. Unsur-Unsur dan Persyaratan Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions)

A. Unsur-unsur Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions)

Dari definisi gugatan perwakilan kelompok maka didapatkan unsur-unsur Class Actions sebagai berikut :

a. Ada gugatan secara perdata

Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) masuk dalam lapangan hukum perdata. Istilah gugatan dikenal dalam hukum acara perdata sebagai suatu tindakan yang bertujuan untuk memperoleh perlindungan hak yang diberikan oleh pengadilan untuk menghindari adanya upaya main hakim sendiri. Gugatan yang merupakan bentuk tuntutan hak yang mengandung sengketa, pihak-pihaknya adalah penggugat dan tergugat. Pihak disini dapat berupa orang perorangan maupun badan hukum. Umumnya tuntutan dalam gugatan perdata adalah ganti rugi berupa uang.

b. Ada wakil kelompok (Class Representative)

Adalah satu orang atau lebih yang menderita kerugian yang mengajukan gugatan sekaligus mewakili kelompok orang yang lebih banyak jumlahnya. Untuk menjadi wakil kelompok tidak disyaratkan adanya suatu surat kuasa khusus dari anggota kelompok. Sejak saat gugatan perwakilan kelompok (Class Actions) didaftarkan di pengadilan maka kedudukan dari wakil kelompok menjadi sebagai penggugat aktif.

c. Ada Anggota Kelompok (Class Members)

Adalah sekelompok orang dalam jumlah yang banyak yang menderita kerugian yang kepentingannya telah diwakili oleh wakil kelompok untuk memperoleh perlindungan hak di pengadilan. Apabila gugatan perwakilan kelompok (Class Actions) diajukan oleh wakil kelompok di pengadilan maka kedudukan dari semua anggota kelompok adalah sebagai penggugat passif.20

salah satu unsur penting dalam gugatan perwakilan kelompok harus terdapat persamaan fakta (peristiwa) dan persamaan dasar hukum antara pihak yang mewakili yakni Wakil Kelompok (Class

d. Adanya kerugian

Untuk dapat mengajukan gugatan perwakilan kelompok baik pihak wakil kelompok maupun anggota kelompok harus benar-benar atau secara nyata mengalami kerugian. Didalam posita maupun petitum gugatan, tuntutan ganti kerugian harus dikemukakan secara jelas dan terinci, tentang jumlah ganti rugi yang dituntut, tidak dapat dikira-kira atau berdasarkan asumsi saja. Hakim berhak untuk menolak jumlah ganti rugi yang tidak dirinci. Dalam praktek biasanya diajukan jumlah kerugian yang jumlahnya sangat besar tanpa merinci dari mana datangnya jumlah tuntutan tersebut.

e. Ada kesamaan peristiwa atau fakta dan dasar hukum

20

Representative) dengan pihak yang diwakili yakni Angggota Kelompok (Class Members).21

Untuk menentukan apakah suatu gugatan dapat diajukan dengan menggunakan prosedur gugatan perwakilan kelompok (Class Actions), atau diajukan sebagai gugatan perdata biasa, ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi, karena tidak terpenuhi persyaratan tersebut dapat mengakibatkan gugatan yang diajukan tidak dapat diterima, adapun persyaratan-persyaratan tersebut adalah sebagai berikut

B. Persyaratan Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions)

22

Wakil kelas dituntut untuk menjelaskan adanya kesamaan antara wakil kelas dan anggota kelasnya. Dan lebih praktis kalau kesamaan

: a. Adanya jumlah anggota yang banyak (Nomerousity).

Untuk dapat diperiksa berdasarkan Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) harus sedemikian banyak sehingga tidaklah praktis dan efisien apabila pengajuan gugatan dilakukan secara sendiri-sendiri.

b. Adanya kesamaan (Commonality).

Persyaratan lain untuk sahnya suatu Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) adalah adanya kesamaan fakta (Questions of Fact) maupun kesamaan dasar hukum (Questions of Law) antara wakil kelas (Class Representative) dan anggota kelas (Class Members).

21 Ibid. 22

masalah hukum dan kesamaan fakta diuraikan sendiri-sendiri dalam gugatan. Dalam menentukan kesamaan fakta tidak berarti dalam gugatan Class Actions tidak diperkenankan adanya perbedaan. Perbedaan tetap dapat diterima sepanjang perbedaan tersebut bukan merupakan perbedaan yang substansial.

c. Sejenis (Typicality).

Perlu pembuktiaan adanya keadaan yang sama, serupa atau saling berkaitan dan ada kaitan keadaan yang menimbulkan tuntutan. Dalam Gugatan Perwakilan Kelompok harus mempunyai persamaan jenis tuntutan, dan pada umumnya jenis tuntutan yang dituntut adalah pembayaran ganti rugi berupa uang.

d. Adequacy of Representation, yaitu perwakilan kelompok merupakan perwakilan kelompok yang layak, dengan memenuhi beberapa persyaratan:

a. harus memiliki kesamaan fakta dan atau dasar hukum dengan anggota kelompok yang diwakilinya;

b. memiliki bukti-bukti yang kuat; c. jujur;

d. memiliki kesungguhan untuk melindungi kepentingan dari anggota kelompoknya;

e. mempunyai sikap yang tidak mendahulukan kepentingannya sendiri disbanding kepentingan anggota kelompoknya; dan

f. sanggup untuk menanggulangi membayar biaya-biaya perkara di pengadilan.

3. Manfaat dan Kelemahan Gugatan Perwakilan Kelompok

Gugatan perwakilan kelompok merupakan suatu cara untuk memudahkan pencari keadilan untuk mendapatkan pemulihan hak hukum yang dilanggar melalui jalur keperdataan. Bahwa sangatlah tidak praktis kasus yang melibatkan ratusan, ribuan bahkan jutaan orang yang menderita kerugian, memiliki fakta atau dasar hukum serta tergugat yang sama diajukan secara sendiri-sendiri melalui gugatan biasa, maka proses beracara akan menghabiskan banyak biaya dan tidak efisien. Berdasarkan hal tersebut maka Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) memiliki manfaat sebagai berikut :

a. Proses berperkara lebih ekonomis dan biaya lebih efisien23

23

. Tidaklah ekonomis bagi pengadilan jika harus melayani gugatan yang sejenis secara satu persatu. Bagi pihak penggugat dengan melalui mekanisme

Class Actions maka biaya perkara dan biaya untuk pengacara menjadi lebih murah dibandingkan dengan dilakukan gugatan biasa (secara individu), yang kadang-kadang tidak sesuai dengan besarnya ganti kerugian yang akan diterima. Tidak sedikit pihak yang mengurungkan niatnya untuk menyelesaikan perkaranya dengan mengajukan gugatan ke Pengadilan disebabkan karena mahalnya biaya berperkara (pengacara).

Manfaat ekonomi ini tidak saja dirasakan oleh penggugat, akan tetapi juga oleh tergugat, sebab dengan pengajuan gugatan secara Class Actions, tergugat hanya satu kali mengeluarkan biaya untuk melayani pihak-pihak yang dirugikan.

b. Mencegah adanya gugatan-gugatan individual yang bersifat pengulangan terhadap permasalahan, fakta hukum dan tuntutan yang sama juga untuk mencegah putusan-putusan yang berbeda atau putusan yang tidak konsisten.

c. Memberi akses pada keadilan dan mengurangi hambatan-hambatan bagi penggugat individual yang pada umumnya berposisi lebih lemah, apabila biaya gugatan yang akan ditanggung atau dikeluarkan tidak sebanding dengan nilai tuntutan yang digugat, maka melalui Class Actions kendala-kendala ini dapat diatasi karena biaya ditanggung bersama untuk mengajukan gugatan ke pengadilan dalam rangka memperjuangkan hak kelompok masyarakat atas keadilan untuk memperoleh ganti kerugian, dan menjadi lebih diperhatikan dan diprioritaskan penanganannya oleh pengadilan.

d. Merubah sikap pelaku pelanggaran dengan diterapkannya prosedur Class Actions berarti memberikan akses yang lebih luas bagi pencari keadilan untuk mengajukan gugatan dengan biaya lebih efisien dan kemudian akan berpeluang untuk menumbuhkan sikap jera bagi mereka yang berpotensi untuk merugikan kepentingan masyarakat luas.24

24

Bahwa selain manfaat yang dapat diperoleh dalam mengajukan gugatan secara Class Actions juga memiliki kelemahan. Beberapa kelemahan-kelemahan dari Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) adalah sebagai berikut :

a) Kesulitan dalam mengelola.

Semakin banyak jumlah anggota kelompok, semakin sulit mengelola gugatan perwakilan kelompok. Mewakili dan mengkoordinasikan kepentingan orang banyak bukanlah sesuatu yang mudah. Apalagi sangat dimungkinkan para penggugat tidak tinggal berdiam pada suatu wilayah melainkan menyebar diwilayah-wilayah yang menyulitkan wakil kelompok untuk menyampaikan informasi-informasi penting yang berkaitan dengan kasus yang diajukan. Penyampaian informasi terhadap anggota kelompok yang jauh tempat tinggalnya memerlukan biaya yang cukup besar dan akan ditanggung oleh wakil kelompok (wakil kelas). Apabila gugatan dimenangkan dan ganti rugi diberikan juga mengalami kesulitan untuk pemberitahuan dan pendistribusian dan bukan tidak mungkin jumlah ganti kerugian tidak sebanding dengan biaya pendistribusian.

b) Dapat menyebabkan ketidak adilan.

Ketidak adilan yang mungkin terjadi berkaitan dengan masalah penentuan keanggotaan kelompok dan keterikatan dengan putusan hakim. Apabila prosedur yang dipilih untuk menentukan

keanggotaan kelompok adalah opt-in, maka tidak adanya persyaratan masuk dari anggota kelompok yang mempunyai kesamaan kepentingan hanya karena tidak mengetahui adanya pemberitahuan mengakibatkan hak mereka tidak ikut sebagai pihak penggugat Class Actions, karena putusan hakim hanya mempunyai akibat bagi mereka yang masuk sebagai anggota kelompok. Sedangkan apabila prosedur yang dipilih untuk menentukan keanggotaan adalah dengan prosedur

opt-out, maka apabila tidak ada pernyataan opt-out dari orang yang menjadi anggota kelompok hanya karena tidak tahu adanya pemberitahuan akan mengakibatkan mereka menjadi anggota kelompok dengan segala konsekuensi dari putusan hakim.

c) Dapat menyebabkan kebangkrutan terhadap tergugat.

Apabila dalam putusan gugatan perwakilan kelompok dikabulkan dengan memberikan ganti rugi atau melakukan tindakan tertentu kepada seluruh anggota kelompok yang jumlahnya sangat banyak dapat mengakibatkan tergugat bangkrut.

d) Publikasi Class Actions dapat menyudutkan pihak tergugat.

Pemberitaan media massa dan adanya pemberitahuan tentang gugatan perwakilan kelompok di media massa dapat menimbulkan prasangka yang tidak baik bagi kedudukan dari pihak tergugat, meskipun gugatan belum dibuktikan atau diputus oleh pengadilan. 25

25

BAB III

GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK DI INDONESIA

1. Sejarah Perkembangan Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) Konsep Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) pada mulanya hanya dikenal di negara-negara yang menganut Sistem Hukum Anglo Saxon

atau Sistem Hukum Common Law daripada di negara-negara yang menganut

Civil Law. Hal ini karena dalam sejarah, Konsep Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) untuk pertama kalinya diperkenalkan di Inggris. Kemudian pada perkembangannya negara-negara persemakmuran Inggris juga menganut Konsep Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions),26

Gugatan Perwakilan Kelompok (Class Actions) pertama kali dikenal di Inggris yang diatur dalam Supreme Court of Judicature Act pada tahun 1873. Sebelum tahun 1873 Gugatan Class Actions hanya dapat disidangkan pada

Court of Chancery. Saat itu Court of Chancery mengadili suatu perkara yang melibatkan pihak penggugat yang jumlahnya ratusan orang. Pengadilan mengalami kesulitan secara administrasi untuk melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap gugatan tersebut.

sebagaimana akan diuraikan dibawah ini :

a. Inggris

Maka mulailah pengadilan menciptakan prosedur Class Actions

89

tidak semuanya maju ke pengadilan melainkan cukup diwakili satu atau beberapa orang27

Pada awal diperkenalkannya prosedur Class Actions di Court of Chancery tuntutan yang diajukan hanyalah tuntutan yang didasarkan atas keadilan saja seperti

.

28

Setelah adanya penggabungan antara Law and Equity di Inggris, prosedur Class Actions kemudian dapat dipergunakan untuk perkara-perkara baik yang didasarkan pada Equity maupun Law, misalnya tuntutan ganti rugi yang diatur dalam Supreme Court of Judicature Act, 1873 kemudian dirubah dan diatur kembali dalam The English Rules of The Supreme Court (ERCS) pada tahun 1965.

:

- Tuntutan Accounting yakni tuntutan permintaan pertanggungjawaban berdasarkan suatu hubungan yang bersifat fiduciary.

- Tuntutan Declaration yakni tuntuan yang berupa pernyataan atau pengakuan seperti pengakuan hak-hak para penggugat, pengakuan adanya tanggunggjawab dari tergugat dan sebagainya.

- Tuntutan Injuction adalah tuntutan yang berupa perintah bagi tergugat untuk tidak melakukan sesuatu dan bersifat preventif.

29

Class Actions pertama kali dikenal di Propinsi Ontario dengan dikeluarkannya The Ontario Judicature Act 1881 yang kemudian

b. Kanada

27

90

diperbaharui pada tahun 1980 dengan Supreme Court of Ontario Rules of Practice (SCORP). Ketentuan dalam Class Actions di Ontario banyak meniru ketentuan Class Actions di Inggris.

Pada tahun 1992, ketentuan tentang Class Actions kemudian diatur secara lebih lengkap dalam Ontario Class Proccedings Act (OCPA). Kemudian dibentuk Ontario Law Reform Commission yang bertujuan untuk mengembangkan Class Actions di negara tersebut. Komisi ini secara rutin membuat buku pelaporan mengenai perkembangan Class Actions

serta merekomendasikan perubahan-perubahan yang diperlukan.

Pada tahun 1996, telah dibentuk Class Procceding Act dalam rangka mewujudkan prosedur Class Actions yang seragam untuk seluruh Propinsi di Kanada yang diharapkan dapat diberlakukan diseluruh Propinsi di Kanada.30

c. India

Pada tahun 1908, India mengakui prosedur Class Actions dan diatur dalam Rule 8 of Order 1 of Civil Procedure 1908 sebagaimana diubah dan disempurnakan pada tahun 1976. Menurut ketentuan tersebut yang dimaksud dengan Class Actions adalah gugatan yang diajukan oleh atau terhadap seseorang yang merupakan anggota dari suatu kelompok untuk mewakili seluruh kepentingan kelompok tersebut dengan syarat-syarat sebagai berikut :

91

- Mempunyai kepentingan yang sama;

- Pengadilan mengijinkan orang tersebut untuk menjadi wakil kelompok;

- Ada kewajiban memberitahukan kepada seluruh anggota kelompok.31

Tahun 1938, Amerika Serikat sudah mengatur prosedur Class Actions yakni diatur dalam The United State of Federal Rules of Civil Procedure. Awalnya peradilan federal menganut 3 (tiga) jenis Class Actions yaitu True Class Action, Hybrid Class Action serta Spurious Class Action. Kemudian pada tahun 1966, terjadi reformasi hukum untuk memasukkan konsep Gugatan Class Actions, dengan melakukan perubahan dan penambahan Pasal 23 mengenai Gugatan Class Actions

dalam Hukum Acara Perdata dalam tingkat Federal, sehingga hanya dikenal 1 (satu) jenis gugatan Class Actions sebagaimana diatur didalam

Rule 23 the United State of Federal Rules of Civil Procedure 1966. Pada tahun 1975 prosedur gugatan Class Actions diadopsi dan diatur dalam New York Civil Procedure Law and Rules. Dalam United State Uniform Class Actions, sebuah Undang-undang mengenai pengaturan gugatan Class Actions yang diadopsi oleh The National Confrence of Commissioners on Uniform State Laws mensyaratkan bahwa prosedur sertifikasi awal dan pemberitahuan (Notice) merupakan syarat yang wajib dipenuhi agar suatu gugatan yang diajukan kelompok masyarakat menjadi gugatan Class

92

Actions. Kasus-kasus gugatan Class Actions yang menarik perhatian publik di Amerika Serikat antara lain kasus Agent Orange (1987), kasus Dalkon Shield (1989) dan kasus The Smokers versus Tobacco Companies (1997).32

Pada tahun 1970, Australia tepatnya di negara bagian New South Wales mengakui prosedur Class Actions yang diatur dalam New South Wales Supreme Court Rules. Kemudian pada tahun 1976 Peradilan Federal Australia mengatur Class Actions dalam Federal Court of Australia Act. Seluruh yuridiksi negara bagian Australia mengenal prosedur Class Actions dan umumnya diatur sebagai salah satu ketentuan prosedur berperkara didalam Undang-undang yang mengatur Hukum Acara Perdata mereka.

e. Australia

33

32

Nyoman Nurjana, Gugatan Perwakilan Kelompok Masyarakat (Class Actions) 2. Perkembangan Gugatan Perwakilan Kelompok di Indonesia

Perkembangan Gugatan Perwakilan Kelompok di Indonesia dibagi menjadi 2 (dua) periode yakni periode sebelum adanya pengakuan gugatan perwakilan kelompok dan periode setelah adanya pengakuan gugatan perwakilan kelompok seperti akan dibahas berikut ini.

93

A. Periode sebelum adanya pengakuan gugatan perwakilan kelompok. Bahwa yang menjadi tolak ukur dari pengakuan gugatan perwakilan kelompok di Indonesia adalah dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, didalam salah satu pasalnya menyebutkan “masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan”.

Bahwa sebelum tahun 1977, meskipun belum ada aturan hukum yang mengatur mengenai gugatan perwakilan kelompok, namun gugatan perwakilan kelompok sudah pernah dipraktekkan dalam peradilan di Indonesia, seperti :

- Sebagai penggagas gugatan perwakilan kelompok di Indonesia adalah R.O. Tambunan, yang mengajukan gugatan perwakilan kelompok pada tahun 1987, sebagai tergugat Bentoel Remaja, perusahaan iklan dan Radio Swasta Niaga Prambors. Dalam gugatannya Tambunan mendalilkan bahwa gugatannya bukan hanya mewakili dirinya sebagai orang tua dari anaknya, namun juga mewakili seluruh generasi muda

Dokumen terkait